Risale-i NurKata-Kata Kecil

Kalimat Ketiga (Üçüncü Söz)

Kata-Kata Kecil · hlm. 6

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

يَٓا اَيُّهَا النَّاسُ اعْبُدُوا

Kalau kamu ingin memahami betapa ibadah adalah sebuah perniagaan dan kebahagiaan yang begitu besar, dan kefasikan serta foya-foya adalah sebuah kerugian dan kebinasaan yang begitu besar; lihat dan dengarkanlah kisah perumpamaan kecil ini...

Suatu waktu, dua orang prajurit menerima perintah untuk pergi ke sebuah kota yang jauh. Mereka berangkat bersama; sampai jalan itu bercabang dua. Di sana ada seorang lelaki. Ia berkata kepada mereka: "Jalan yang di kanan ini, selain tidak ada bahayanya sama sekali, sembilan dari sepuluh orang yang menempuhnya memperoleh keuntungan besar dan ketenangan. Sedangkan jalan yang di kiri, selain tidak ada manfaatnya, sembilan dari sepuluh penempuhnya menderita kerugian. Soal jarak, kedua jalan itu sama panjangnya. Hanya ada satu perbedaan: penempuh jalan kiri yang tanpa aturan dan tanpa pemerintahan itu berjalan tanpa tas dan tanpa senjata. Ia merasakan keringanan yang lahiriah dan ketenangan yang palsu. Sedangkan penempuh jalan kanan yang berada di bawah aturan militer wajib membawa sebuah tas seberat empat okka* yang penuh sari-sari makanan bergizi, dan sebuah senjata dinas milik negara yang sempurna, seberat dua kıyye, yang akan menundukkan dan mengalahkan setiap musuh."

Setelah mendengarkan perkataan si pemberi penjelasan itu, prajurit yang beruntung pergi ke kanan. Ia memikul beban seberat satu batman di pundak dan pinggangnya. Tapi kalbu dan ruhnya terbebas dari ribuan batman beban kehinaan mengharap kepada makhluk, dan dari ketakutan. Sedangkan prajurit celaka yang satunya meninggalkan kemiliteran. Ia tidak mau tunduk pada aturan, lalu pergi ke kiri. Tubuhnya terbebas dari beban seberat satu batman, tapi kalbunya tertindih di bawah ribuan batman beban kehinaan bergantung kepada makhluk, dan ruhnya remuk di bawah ketakutan yang tak berhingga. Ia berjalan sambil mengemis kepada semua orang, sambil gemetar menghadapi segala sesuatu dan setiap kejadian. Sampai ia tiba di tempat tujuan. Di sana ia menerima hukuman sebagai pembangkang dan pelarian. Sedangkan prajurit yang mencintai aturan kemiliteran, menjaga tas dan senjatanya, lalu pergi ke kanan itu berjalan dengan ketenangan kalbu dan nurani, tanpa merendahkan diri mengharap kepada siapa pun, tanpa takut kepada siapa pun. Sampai ia tiba di kota yang dituju. Di sana ia menerima ganjaran yang layak bagi seorang prajurit terhormat yang menunaikan tugasnya dengan baik.

Nah, wahai nefs-i serkeş (diriku yang liar membangkang)! Ketahuilah: kedua penempuh jalan itu adalah, yang satu, manusia yang mutî'-i kanun-u İlahî (patuh pada undang-undang Ilahi), dan yang satunya, manusia pembangkang yang mengikuti hawa nafsu. Jalan itu adalah jalan kehidupan: datang dari alam ruh, melewati kubur, dan pergi menuju akhirat. Tas dan senjata itu adalah ibadah dan takwa. Ibadah memang punya beban yang lahiriah. Tapi dalam maknanya ada sebuah ketenangan dan keringanan yang tak terlukiskan. Sebab orang yang beribadah berkata dalam salatnya: اَشْهَدُ اَنْ لَٓا اِلٰهَ اِلَّا اللّٰهُ Yakni ia beritikad: "Tidak ada Khalik dan Rezzak selain Dia. Bahaya dan manfaat ada di tangan-Nya. Dia itu Hakîm (Mahabijaksana), tidak berbuat sia-sia. Dan Dia itu Rahîm (Maha Penyayang); ihsan dan rahmat-Nya banyak." Karena itu, pada segala sesuatu ia menemukan sebuah pintu khazanah rahmat. Ia mengetuknya dengan doa. Dan ia melihat segala sesuatu tunduk pada perintah Rabbnya, maka ia berlindung kepada Rabbnya. Ia bersandar dengan tawakal dan berbenteng menghadapi setiap musibah. Imannya memberinya sebuah rasa aman yang sempurna.

Ya, seperti semua kebaikan yang hakiki, sumber keberanian pun adalah iman dan ubudiyah. Dan seperti semua keburukan, sumber sifat pengecut pun adalah kesesatan. Ya, bagi seorang ahli ibadah yang münevverü'l-kalb (yang kalbunya bercahaya), andaikan bola bumi menjadi bom lalu meledak, mungkin sekali itu tidak membuatnya takut. Bahkan, ia justru akan menontonnya dengan rasa takjub yang penuh kelezatan — memandangnya sebagai sebuah kudrat Samadani (kekuasaan Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى, Tempat Bergantung segala sesuatu) yang menakjubkan. Tapi seorang filsuf fasik tak berkalbu yang termasyhur, yang disebut münevverü'l-akıl (yang akalnya bercahaya), kalau melihat sebuah bintang berekor di langit, gemetar di bumi. "Jangan-jangan bintang liar ini menabrak Bumi kita!" katanya; ia pun jatuh ke dalam waham-waham. (Suatu waktu, Amerika pernah gemetar karena sebuah bintang seperti ini. Banyak orang meninggalkan rumah mereka di malam hari.)

Ya, manusia membutuhkan hal-hal yang tak berhingga, padahal modalnya nyaris tidak ada... Ia pun terpapar musibah-musibah yang tak berhingga, padahal kemampuannya nyaris tidak ada... Boleh dikata, lingkaran modal dan kemampuannya hanya sejauh jangkauan tangannya. Tapi angan-angan, keinginan, derita, dan bencana-bencananya, lingkarannya seluas jangkauan mata dan khayalnya, sejauh keduanya bisa pergi. Bagi ruh manusia yang begini lemah dan tak berdaya, begini fakir dan penuh kebutuhan — betapa besar keuntungan, kebahagiaan, dan nikmat yang ada pada ibadah, tawakal, tauhid, dan penyerahan diri; siapa pun yang tidak buta sama sekali pasti melihat dan memahaminya.

Sudah maklum: jalan yang tanpa bahaya lebih dipilih daripada jalan yang berbahaya — meskipun kemungkinannya hanya satu dari sepuluh. Padahal jalan ubudiyah yang menjadi persoalan kita ini, selain tanpa bahaya, dengan kemungkinan sembilan dari sepuluh, di dalamnya ada sebuah khazanah kebahagiaan abadi. Sedangkan jalan kefasikan dan foya-foya — bahkan dengan pengakuan si fasik sendiri — selain tanpa manfaat, dengan kemungkinan sembilan dari sepuluh, di dalamnya ada kebinasaan berupa kesengsaraan abadi. Kebenaran ini telah ditetapkan secara pasti dengan kesaksian para ahli dan para penyaksi yang tak terhitung, pada derajat ijmak (kesepakatan bulat) dan tawatur (lewat jalur yang begitu banyak sehingga mustahil berdusta); dan telah diyakinkan oleh kabar-kabar dari ehl-i zevk (mereka yang telah mengecap hakikat) dan ehl-i keşf (mereka yang tersingkap mata batinnya).

Kesimpulannya: Seperti kebahagiaan akhirat, kebahagiaan dunia pun ada di dalam ibadah dan di dalam menjadi prajurit bagi Allah سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى. Kalau begitu, kita harus selalu mengucapkan:

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلَى الطَّاعَةِ وَالتَّوْف۪يقِ

Dan kita harus bersyukur karena kita telah dijadikan seorang Muslim.

* okka: satuan berat zaman Utsmani, kira-kira 1,28 kg; kıyye: sama dengan okka, kira-kira 1,28 kg; batman: kira-kira 8 kg.