Risale-i NurKalimat Kesepuluh

ISYARAT KEDUA:

Kalimat Kesepuluh · hlm. 16

Dalam hikayat telah dibicarakan seorang ajudan termulia, dan telah dikatakan: setiap orang yang tidak buta, dengan melihat bintang-bintang jasanya, memahami bahwa: zat itu bergerak dengan perintah raja dan merupakan hamba khususnya. Maka sang ajudan termulia itu adalah Rasul Termulia صلى الله عليه وسلم. Ya, bagi Shâni' yang mahasuci dari alam yang sedemikian terhias ini, seorang Rasul Termulia semacam itu adalah keniscayaan setingkat keniscayaan cahaya bagi matahari. Sebab, sebagaimana matahari tidak mungkin ada tanpa memberikan cahaya. Demikian pula uluhiyah tidak mungkin ada tanpa memperlihatkan diri dengan mengutus para nabi.

Lagi pula, mungkinkah sama sekali sebuah keindahan yang berada pada puncak kesempurnaan tidak menghendaki memperlihatkan dirinya melalui perantara yang memperlihatkan dan memperkenalkan?

Dan mungkinkah sebuah kesempurnaan seni yang berada pada puncak keindahan tidak menghendaki pameran melalui seorang penyeru yang menarik pandangan-pandangan penuh perhatian kepadanya?

Dan mungkinkah sama sekali kekuasaan menyeluruh dari suatu rububiyah yang umum tidak menghendaki pemakluman wahdaniyah dan shamadaniyah-Nya pada lapisan-lapisan kemajemukan dan satuan-satuan juz'i, melalui seorang utusan yang memiliki dua sayap! Yakni: zat itu, dari sisi ubudiyah yang menyeluruh, adalah duta lapisan-lapisan kemajemukan kepada hadirat Ilahi; sebagaimana dari sisi kedekatan (qurbiyah) dan risalah, ia adalah petugas hadirat Ilahi kepada lapisan-lapisan kemajemukan.

Dan mungkinkah sama sekali pemilik keelokan zati pada derajat tertinggi tidak menghendaki melihat dan memperlihatkan di dalam cermin-cermin kebagusan-kebagusan keindahan-Nya dan kelembutan-kelembutan keelokan-Nya! Yakni: melalui seorang rasul yang habîb (kekasih); ia adalah habîb: dengan ubudiyahnya ia menjadikan dirinya dicintai oleh-Nya dan menjadi pemegang cermin bagi-Nya. Ia juga rasul: ia menjadikan Dia dicintai oleh makhluk-Nya dan memperlihatkan keindahan asma-Nya.

Dan mungkinkah sama sekali pemilik khazanah-khazanah yang penuh dengan mukjizat-mukjizat menakjubkan serta benda-benda langka dan berharga tidak berkehendak dan tidak menghendaki menerangkan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya yang tersembunyi — dengan menyuguhkannya ke pandangan khalayak dan menampakkannya di hadapan mereka melalui seorang pengenal yang ahli menaksir nilai dan seorang pemamer yang ahli menyifati?

Dan mungkinkah Dia menghiasi alam ini dengan ciptaan-ciptaan yang mengungkapkan kesempurnaan seluruh asma-Nya, menjadikannya laksana istana yang dihias dengan seni-seni langka nan halus untuk disaksikan, lalu tidak menetapkan seorang pengajar pembimbing?

Dan mungkinkah sama sekali pemilik alam ini tidak membukakan — melalui seorang utusan — rahasia pelik yang menunjukkan apa maksud dan tujuan perubahan-perubahan alam ini, serta teka-teki tiga pertanyaan sulit para makhluk: "Dari mana? Ke mana? Apakah gerangan engkau?"!

Dan mungkinkah sama sekali Sang Shâni' Dzul-Jalâl — yang memperkenalkan diri-Nya kepada makhluk berkesadaran dengan ciptaan-ciptaan yang indah ini dan menjadikan diri-Nya dicintai dengan nikmat-nikmat yang berharga — tidak memberitahukan, melalui seorang utusan, apa yang diridhai dan diinginkan-Nya dari makhluk berkesadaran sebagai imbalannya!

Dan mungkinkah sama sekali Dia menciptakan jenis manusia dalam rupa yang dari segi kesadaran terjerat dalam kemajemukan dan dari segi istidad disiapkan bagi ubudiyah yang menyeluruh, lalu tidak menghendaki memalingkan wajah mereka dari kemajemukan menuju ketauhidan melalui seorang pembimbing yang mengajar!

Masih banyak tugas-tugas kenabian seperti ini, yang masing-masingnya adalah sebuah burhan pasti bahwa: uluhiyah tidak mungkin ada tanpa risalah...

Sekarang, gerangan siapakah yang pernah muncul di alam ini yang lebih ahli dan lebih menghimpun bagi sifat-sifat dan tugas-tugas yang telah diterangkan itu daripada Muhammad Al-'Arabî صلى الله عليه وسلم? Dan pernahkah zaman memperlihatkan seseorang yang lebih pantas dan lebih sesuai bagi derajat risalah dan tugas tabligh daripada dirinya? Tidak, sekali-kali tidak dan sama sekali tidak! Bahkan ia adalah sayyid seluruh rasul, imam seluruh nabi, pemuka seluruh ashfiyâ', yang terdekat dari seluruh muqarrabîn, yang tersempurna dari seluruh makhluk, dan sultan seluruh mursyid. Ya, menurut kesepakatan para ahli tahqiq, selain dalil-dalil kenabiannya yang tiada terhitung dan tiada terhingga dari mukjizat-mukjizatnya yang mencapai seribu — seperti terbelahnya bulan (syaqqul-qamar) dan mengalirnya air dari jari-jarinya — mukjizat kubrâ semisal Al-Qur'an Al-'Azhîmusy-Syân, sebuah samudra hakikat yang menjadi mukjizat dari empat puluh sisi, cukuplah memperlihatkan risalahnya laksana matahari. Karena dalam risalah-risalah lain — khususnya dalam Kalimat Kedua Puluh Lima — kami telah membicarakan hampir empat puluh sisi kemukjizatan Al-Qur'an, di sini kami persingkat.