ISYARAT PERTAMA:
Kalimat Kesepuluh · hlm. 13
Si dungu dalam hikayat itu bersama kawannya yang tepercaya memiliki tiga hakikat.
Pertama:
Nafsu ammârahku dengan kalbuku.
Kedua:
Para pelajar filsafat dengan para murid Al-Qur'an Al-Hakîm.
Ketiga:
Umat Islam dengan bangsa kekufuran.
Kesesatan paling dahsyat dari para pelajar filsafat, bangsa kekufuran, dan nafsu ammârah ialah tidak mengenal Allah Yang Haq. Sebagaimana dalam hikayat lelaki tepercaya itu berkata: "Sebuah huruf tidak mungkin tanpa penulis, sebuah undang-undang tidak mungkin tanpa penguasa." Kami pun berkata:
Sebagaimana sebuah kitab — terlebih kitab yang sedemikian rupa: di dalam setiap katanya tertulis sebuah kitab dengan pena kecil, di dalam setiap hurufnya tertulis sebuah kasidah yang teratur dengan pena halus — mustahil pada derajat tertinggi tanpa penulis. Demikian pula alam ini tanpa Sang Pengukirnya adalah kemustahilan di dalam kemustahilan pada derajat tertinggi. Sebab alam ini adalah sebuah kitab yang setiap halamannya memuat banyak kitab. Bahkan di dalam setiap katanya ada sebuah kitab. Di dalam setiap hurufnya ada sebuah kasidah. Muka bumi adalah satu halaman — betapa banyak kitab di dalamnya. Sebatang pohon adalah satu kata — betapa banyak halamannya. Sebuah buah adalah satu huruf; sebutir biji adalah satu titik. Di dalam titik itu terdapat program dan daftar isi sebatang pohon yang besar. Maka kitab semacam ini hanya mungkin merupakan ukiran pena kudrat sebuah Dzât Dzul-Jalâl yang memiliki sifat-sifat jalâl dan jamâl serta kudrat dan hikmah yang tiada terhingga. Berarti, dengan penyaksian alam, iman ini menjadi niscaya. Kecuali orang yang telah mabuk oleh kesesatan...
Demikian pula sebuah rumah tidak mungkin tanpa ahli pembangunnya. Terlebih rumah yang sedemikian rupa: dihiasi dengan seni-seni yang menakjubkan, ukiran-ukiran yang mencengangkan, dan perhiasan-perhiasan yang langka. Bahkan di dalam setiap batunya tersisip seni sebanyak sebuah istana. Tak satu akal pun dapat menerima ia tanpa ahli pembangun; ia menghendaki seorang ahli seni yang amat mahir. Terlebih lagi, di dalam istana itu, bagaikan layar-layar sinema, setiap jam dibentuk tempat-tempat tinggal yang hakiki, dan semuanya diganti dengan keteraturan yang sempurna laksana orang berganti pakaian. Bahkan di dalam setiap layar hakiki diciptakan berbagai tempat tinggal kecil-kecil. Demikian pula alam ini menghendaki seorang Pembuat (shâni') yang hakîm, 'alîm, dan qadîr tanpa batas. Sebab alam nan megah ini adalah sebuah istana yang sedemikian rupa: bulan dan matahari adalah lampu-lampunya; bintang-bintang adalah lilin-lilinnya; waktu adalah seutas tali, sehelai pita, yang padanya Sang Shâni' Dzul-Jalâl menggantungkan sebuah alam yang lain setiap tahun dan memperlihatkannya. Di dalam alam yang digantungkan-Nya itu, Dia memperbarui bentuk-bentuknya yang teratur dalam tiga ratus enam puluh corak. Dia menggantinya dengan keteraturan yang sempurna dan dengan hikmah. Dia telah menjadikan muka bumi sebuah hidangan nikmat, yang pada setiap musim semi Dia hiasi dengan tiga ratus ribu jenis ciptaan-Nya. Dia memenuhinya dengan jenis-jenis karunia-Nya yang tiada terhitung dan tiada terhingga. Dengan cara yang sedemikian rupa: meski berada dalam percampuran yang paling jauh dan saling berbaur, semuanya terpisah satu sama lain dengan keistimewaan dan perbedaan pada derajat tertinggi. Kiaskanlah sisi-sisi yang lain kepada hal ini... Bagaimana mungkin orang lalai dari Shâni' istana semacam ini?
Demikian pula, di tengah siang tanpa awan, ketika manifestasi matahari tampak dan pantulannya disaksikan di permukaan laut pada seluruh gelembung, di daratan pada seluruh benda yang berkilau, dan pada seluruh butiran salju — mengingkari matahari adalah igauan kegilaan yang betapa mencengangkan. Sebab pada saat itu, dengan mengingkari dan tidak menerima satu matahari, haruslah menerima matahari-matahari kecil yang hakiki dan berdiri sendiri sebanyak bilangan tetesan, sejumlah gelembung, dan sebanyak butiran. Sebagaimana haruslah menerima hakikat sebuah matahari yang besar di dalam setiap zarah kecil (padahal zarah itu hanya cukup memuat sebutir zarah), persis seperti itu pula: melihat alam teratur ini — yang senantiasa berubah dengan hikmah dalam keberurutan dan setiap waktu diperbarui dalam kerapian — lalu tidak membenarkan Sang Khâliq Dzul-Jalâl dengan sifat-sifat kesempurnaan-Nya, adalah kegilaan kesesatan yang lebih buruk daripada itu, suatu igauan kegilaan. Karena haruslah menerima suatu uluhiyah mutlak pada segala sesuatu, bahkan pada setiap zarah. Sebab, misalnya, setiap zarah udara dapat masuk dan bekerja pada setiap bunga, setiap buah, dan setiap daun. Maka zarah ini, jika ia bukan petugas yang diperintah, haruslah mengetahui tata bentukan, bentuk-bentuk, dan susunan-susunan seluruh ciptaan yang dapat ia masuki dan ia kerjakan, agar dapat bekerja di dalamnya. Berarti ia harus memiliki ilmu dan kudrat yang meliputi segala, agar dapat berbuat demikian.
Misalnya, setiap zarah tanah berkemampuan menjadi tumpuan dan sumber asal bagi seluruh benih dan biji yang beraneka ragam. Jika ia bukan petugas yang diperintah, niscayalah ia memuat perangkat-perangkat dan mesin-mesin maknawi sebanyak bilangan rerumputan dan pepohonan. Atau haruslah diberikan kepadanya suatu seni dan kudrat yang mengetahui dan membuat seluruh tata bentukan mereka, serta mengenali dan mampu menjahit seluruh bentuk yang dikenakan kepada mereka. Kiaskanlah pula makhluk-makhluk yang lain. Hingga engkau akan memahami bahwa: pada segala sesuatu terdapat banyak dalil wahdaniyah secara terang-benderang. Ya, membuat segala sesuatu dari satu hal dan menjadikan segala sesuatu satu hal adalah pekerjaan yang khusus bagi Khâliq segala sesuatu. Perhatikanlah firman-Nya yang penuh kemuliaan:
وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Berarti, dengan tidak menerima Sang Wâhid Ahad, haruslah menerima ilah-ilah sebanyak bilangan makhluk.