Risale-i NurAl-Kalimat

SINAR KEEMPAT:

Al-Kalimat · hlm. 201

Maka wahai nafsuku yang malas! Hakikat shalat — yang berkedudukan semacam Mi'raj — adalah, seperti diterimanya seorang prajurit ke hadirat raja semata-mata sebagai karunia dalam tamsil yang lalu: diterimanya engkau, semata-mata sebagai rahmat, ke hadirat Sang Dzât Jalîl Dzul-Jamâl dan Sang Ma'bûd Jamîl Dzul-Jalâl. Dengan berkata "Allâhu Akbar", secara maknawi dan khayali atau secara niat melintasi dua dunia, terlepas dari ikatan materi, naik ke sebuah tingkat ubudiyah yang menyeluruh — atau kepada bayangan atau rupa dari yang menyeluruh itu — memperoleh kemuliaan semacam kehadiran, dan memperoleh — menurut kemampuan masing-masing — keberuntungan agung menerima seruan اِيَّاكَ نَعْبُدُ. Seakan-akan pengulangan "Allâhu Akbar, Allâhu Akbar" dalam gerakan-gerakan shalat adalah isyarat kepada penempuhan tingkat-tingkat, kepada kenaikan-kenaikan maknawi, dan kepada naiknya dari perkara-perkara juz'i ke lingkaran-lingkaran menyeluruh; dan sebuah gelar ringkas bagi kesempurnaan-kesempurnaan kebesaran-Nya yang di luar makrifat kita. Seakan setiap "Allâhu Akbar" adalah isyarat penempuhan satu anak tangga mi'raj. Memperoleh — secara maknawi, atau niat, atau tasawur, atau khayal — sebuah bayangan, sebuah sinar dari hakikat shalat ini pun adalah kebahagiaan yang besar.

Maka banyaknya ucapan "Allâhu Akbar" dalam haji adalah dari rahasia ini. Sebab haji yang mulia adalah, secara asali, ubudiyah pada sebuah tingkat menyeluruh bagi setiap orang. Sebagaimana seorang prajurit, pada hari khusus seperti hari raya, pergi ke perayaan raja di lingkaran ferik laksana seorang ferik, dan memperoleh karunianya. Demikian pula: seorang haji, betapa pun awam, laksana seorang wali yang telah menempuh tingkat-tingkat, menghadap Rabbnya dengan gelar "Rabb Yang Agung bagi segenap penjuru bumi". Ia dimuliakan dengan sebuah ubudiyah yang menyeluruh. Tentu, tingkat-tingkat rububiyah menyeluruh yang terbuka dengan kunci haji; dan cakrawala keagungan uluhiyah yang tampak pada pandangannya melalui teropongnya; dan lingkaran-lingkaran ubudiyah yang kian meluas di kalbu dan khayalnya melalui syiar-syiarnya; dan panas, takjub, gentar, dan wibawa rububiyah yang diberikan tingkat-tingkat kebesaran dan ufuk tajalli itu — hanya dapat ditenangkan dengan "Allâhu Akbar, Allâhu Akbar"; dan dengannya tingkat-tingkat yang tersingkap, tersaksikan atau terbayangkan itu dapat dimaklumkan. Setelah haji, makna ini — dalam derajat yang luhur dan menyeluruh yang beraneka — terdapat pada shalat Id, shalat istisqa (minta hujan), shalat gerhana bulan dan matahari, dan shalat yang dikerjakan berjamaah. Maka pentingnya syiar-syiar Islam — meski termasuk jenis sunnah sekalipun — adalah dari rahasia ini.

سُبْحَانَ مَنْ جَعَلَ خَزَائِنُهُ بَيْنَ الْكَافِ وَ النُّونِ

فَسُبْحَانَ الَّذ۪ى بِيَدِه۪ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُونَ

سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ

رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَا ❊ رَبَّنَا لاَ تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

وَصَلِّ وَ سَلِّمْ عَلٰى رَسُولِكَ اْلاَكْرَمِ مَظْهَرِ اِسْمِكَ اْلاَعْظَمِ وَ عَلٰٓى اٰلِه۪ وَ اَصْحَابِه۪ وَ اِخْوَانِه۪ وَ اَتْبَاعِه۪ اٰم۪ينَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِم۪ينَ

Sebuah zail kecil

Sang Qadîr 'Alîm dan Sang Shâni' Hakîm, sebagaimana menampakkan kudrat dan hikmah-Nya — dan bahwa tak satu kebetulan pun mencampuri pekerjaan-Nya — melalui tatanan dan keteraturan yang diperlihatkan kebiasaan-kebiasaan-Nya yang berbentuk undang-undang; demikian pula, melalui penyimpangan-penyimpangan dari undang-undang, keajaiban-keajaiban kebiasaan-Nya, perubahan-perubahan rupa, perbedaan pembentukan-pribadi, dan bergantinya waktu muncul dan turun — Dia menampakkan kehendak-Nya (masyî'ah), iradah-Nya, bahwa Dia pelaku yang berikhtiar bebas, ikhtiar-Nya, dan bahwa Dia tidak berada di bawah satu ikatan pun; Dia merobek tirai keseragaman; dan dengan memaklumkan bahwa segala sesuatu, pada setiap saat, dalam setiap urusan, dalam segala hal miliknya, membutuhkan Dia dan tunduk kepada rububiyah-Nya — Dia mencerai-beraikan kelalaian dan memalingkan pandangan manusia dan jin dari sebab-sebab kepada Musabbibul-Asbâb (Pengada segala sebab). Penjelasan-penjelasan Al-Qur'an memandang asas ini.

Misalnya: di kebanyakan tempat, sebagian pohon berbuah memberi buah satu tahun — yakni diberikan ke tangannya dari khazanah rahmat, ia pun memberi. Tahun berikutnya, padahal seluruh sebab lahiriah hadir, ia tidak mengambil dan tidak memberi buah. Misalnya pula: berbeda dengan urusan-urusan wajib lainnya, waktu-waktu turunnya hujan sedemikian berubah-ubah, hingga termasuk ke dalam lima perkara gaib (mughayyabât khamsah). Sebab kedudukan terpenting di dalam wujud adalah milik kehidupan dan rahmat. Sedangkan hujan adalah sumber kehidupan dan rahmat semata; maka tentu air kehidupan itu, air rahmat itu, tidak akan masuk ke dalam kaidah keseragaman yang memberikan kelalaian dan menjadi hijab. Melainkan Sang Dzât Dzul-Jalâl — Allah Sang Pemberi Nikmat, Sang Penghidup, Ar-Rahmân, Ar-Rahîm — akan memegangnya langsung di tangan-Nya tanpa tirai, agar pintu-pintu doa dan syukur setiap waktu tetap terbuka. Misalnya pula: pemberian rezeki dan pemberian rupa wajah yang tertentu — terjadinya dengan cara tak disangka, laksana jejak sebuah karunia yang khusus — betapa indah memperlihatkan kehendak dan ikhtiar Rabbani. Kiaskanlah kepada ini urusan-urusan Ilahi lainnya seperti pengaturan angin dan penundukan awan...