Kalimat Ketujuh Belas
Al-Kalimat · hlm. 204
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
اِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى اْلاَرْضِ ز۪ينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ اَيُّهُمْ اَحْسَنُ عَمَلاً ❊ وَاِنَّا لَجَاعِلُونَ مَا عَلَيْهَا صَع۪يدًا جُرُزًا ❊ وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَٓا اِلاَّ لَعِبٌ وَلَهْوٌ
(Kalimat ini terdiri dari dua maqam yang luhur dan satu lampiran yang cemerlang.)
Sang Khâliq Rahîm, Sang Razzâq Karîm, dan Sang Shâni' Hakîm menjadikan dunia ini, bagi alam arwah dan para makhluk ruhani, dalam rupa sebuah hari raya, sebuah pesta cahaya yang semarak; Dia menghiasinya dengan ukiran-ukiran menakjubkan dari seluruh asma-Nya; lalu kepada setiap ruh — kecil maupun besar, yang tinggi maupun yang rendah — Dia kenakan sebuah jasad yang sesuai dengannya, yang cocok untuk mengambil manfaat dari keindahan-keindahan dan karunia-karunia yang tak terhitung dan beraneka ragam di hari raya itu, serta diperlengkapi dengan indra-indra; Dia beri ia sebuah wujud jasmani, dan sekali saja Dia kirim ia ke tempat penyaksian itu. Kemudian hari raya yang amat luas dari segi zaman dan tempat itu Dia bagi atas abad-abad, tahun-tahun, musim-musim, bahkan hari-hari dan bentangan-bentangan bumi; setiap abad, setiap tahun, setiap musim, bahkan dari satu segi setiap hari dan setiap bentangan bumi Dia jadikan sebuah hari raya yang luhur, dalam bentuk sebuah pawai, bagi tiap-tiap kelompok makhluk-Nya yang beruh dan bagi ciptaan-ciptaan-Nya dari kalangan tumbuhan. Dan terutama muka bumi, khususnya pada musim semi dan musim panas, merupakan hari raya demi hari raya yang begitu semarak dan silih berganti bagi kelompok-kelompok ciptaan yang kecil-kecil, sehingga tampaklah suatu daya pikat yang menarik para makhluk ruhani, para malaikat, dan para penghuni langit di lapisan-lapisan yang tinggi untuk turun menyaksikannya; dan bagi ahli tafakkur ia menjadi tempat penelaahan yang begitu manis sehingga akal tak sanggup melukiskannya. Akan tetapi, berhadapan dengan tajali-tajali Ism Ar-Rahmân dan Al-Muhyî pada jamuan Ilahi dan hari raya Rabbani ini, Ism Al-Qahhâr dan Al-Mumît tampil di hadapan mereka dengan perpisahan dan kematian. Hal ini secara lahiriah tampak tidak sesuai dengan keluasan cakupan rahmat-Nya:
وَسِعَتْ رَحْمَت۪ى كُلَّ شَيْءٍ
Namun pada hakikatnya terdapat beberapa segi kesesuaian. Salah satu seginya ialah:
Sang Shâni' Karîm, Sang Fâthir Rahîm, setelah giliran pawai setiap kelompok usai dan hasil-hasil yang dimaksudkan dari pawai itu telah diperoleh, pada umumnya dengan cara yang penuh kasih membuat mereka jemu dan enggan terhadap dunia; Dia anugerahkan kecenderungan kepada istirahat dan kerinduan untuk berpindah ke alam yang lain; dan tatkala mereka dibebastugaskan dari tugas kehidupan, Dia bangkitkan dalam ruh-ruh mereka suatu kecondongan penuh rindu kepada tanah air asal mereka. Lagi pula tidaklah jauh dari rahmat Ar-Rahmân yang tiada berhingga itu bahwa — sebagaimana Dia menganugerahkan pangkat syahid kepada seorang prajurit yang gugur di jalan tugas, dalam pekerjaan jihad, dan memberi ganjaran kepada seekor domba yang disembelih sebagai kurban dengan menganugerahinya di akhirat sebuah wujud jasmani yang kekal serta martabat menjadi tunggangan bagaikan buraq bagi pemiliknya di atas Shirâth — demikian pula bagi makhluk-makhluk beruh dan hewan-hewan lainnya, yang binasa dalam tugas fitri Rabbani yang khusus bagi mereka dan dalam ketaatan kepada perintah-perintah Subhani serta menanggung kepayahan yang berat, tersedia semacam ganjaran ruhani dan sejenis upah maknawi menurut kadar istidad mereka dari khazanah rahmat-Nya yang tak pernah habis itu; sehingga mereka tidak terlalu bersedih karena pergi dari dunia, bahkan merasa senang.
لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ
Akan tetapi manusia — makhluk beruh yang paling mulia dan yang paling banyak mengambil manfaat dari hari raya-hari raya ini dari segi kuantitas maupun kualitas — meskipun sangat tergila-gila dan terpaut pada dunia, kepadanya Dia berikan, sebagai jejak rahmat, suatu keadaan yang membangkitkan kerinduan: rasa jemu terhadap dunia dan hasrat untuk berpindah ke alam yang kekal. Manusia yang kemanusiaannya tidak tenggelam dalam kesesatan akan mengambil manfaat dari keadaan itu; ia pergi dengan hati yang tenang. Sekarang, sebagai contoh, akan kami jelaskan lima dari segi-segi yang melahirkan keadaan itu.
Pertama: Melalui musim ketuaan, Dia memperlihatkan cap kefanaan dan kesirnaan beserta makna pahitnya di atas segala hal duniawi yang indah dan memikat, sehingga manusia itu digentarkan dari dunia dan dibuat mencari, sebagai ganti yang fana itu, sesuatu yang dicari yang kekal.
Kedua: Karena sembilan puluh sembilan persen dari semua kekasih yang telah dijalin manusia dengan ikatan kasih telah pergi dari dunia dan menetap di alam yang lain, maka dengan dorongan cinta yang tulus itu Dia anugerahkan kerinduan kepada tempat yang dituju para kekasih itu, sehingga manusia menyambut maut dan ajal dengan sukacita.
Ketiga: Dengan beberapa hal Dia membuat manusia merasakan kelemahan dan ketidakberdayaannya yang tiada berhingga, memahamkan betapa beratnya beban kehidupan dan tuntutan-tuntutan hidup, lalu memberikan keinginan yang sungguh-sungguh kepada istirahat dan kerinduan yang tulus untuk pergi ke negeri yang lain.
Keempat: Kepada manusia mukmin Dia perlihatkan dengan cahaya iman bahwa maut bukanlah kemusnahan, melainkan perpindahan tempat; bahwa kubur bukanlah mulut sumur yang gelap gulita, melainkan pintu alam-alam yang bercahaya; dan bahwa dunia, dengan segala kemegahannya, dibanding akhirat hanyalah laksana sebuah penjara. Maka sudah tentu, keluar dari penjara dunia menuju taman-taman surga, berpindah dari hiruk-pikuk kehidupan jasmani yang menyesakkan menuju alam ketenangan dan medan terbangnya ruh-ruh, serta melepaskan diri dari kebisingan makhluk untuk pergi ke hadirat Ar-Rahmân, adalah perjalanan yang didambakan dengan seribu nyawa — bahkan suatu kebahagiaan.
Kelima: Dengan memberitahukan hakikat dunia kepada manusia yang mendengarkan Al-Qur'an — melalui ilmu hakikat dan cahaya hakikat yang ada di dalam Al-Qur'an — Dia menjelaskan bahwa cinta dan keterikatan kepada dunia sungguh tak bermakna. Yakni, Al-Qur'an berkata dan membuktikan kepada manusia:
"Dunia adalah sebuah kitab Shamadânî. Huruf-huruf dan kalimat-kalimatnya tidak menunjuk kepada diri mereka sendiri, melainkan kepada Dzât, sifat, dan asma Pihak yang lain. Karena itu, ketahuilah maknanya dan ambillah; tinggalkanlah ukiran-ukirannya, lalu pergilah.
Ia juga sebuah ladang: tanamlah dan ambillah hasilnya, peliharalah; buanglah sampah-sampahnya, jangan pedulikan.
Ia juga kumpulan cermin-cermin yang terus-menerus datang silih berganti. Karena itu, kenalilah Dia yang bertajali di dalamnya, lihatlah cahaya-cahaya-Nya, pahamilah tajali-tajali asma yang tampak padanya, dan cintailah Pemilik asma itu; putuskanlah keterikatanmu dari kepingan-kepingan kaca yang ditakdirkan akan sirna dan pecah itu.
Ia juga tempat perniagaan yang berpindah-pindah. Karena itu, lakukanlah jual-belimu lalu kembalilah; dan janganlah berlari sia-sia di belakang kafilah-kafilah yang lari darimu dan tidak menoleh kepadamu — jangan lelahkan dirimu.
Ia juga tempat tamasya yang sementara. Karena itu, pandanglah dengan pandangan ibrah; janganlah menatap wajah lahirnya yang buruk, melainkan perhatikanlah wajah tersembunyinya yang indah, yang menghadap kepada Sang Jamîl Bâqî; lakukanlah tamasya yang menyenangkan dan bermanfaat, lalu kembalilah. Dan dengan tertutupnya tirai-tirai yang memperlihatkan pemandangan-pemandangan indah dan menampakkan keindahan-keindahan itu, janganlah menangis seperti anak kecil yang tak berakal, dan jangan pula gelisah.
Ia juga sebuah penginapan. Karena itu, makanlah dan minumlah dalam lingkup izin Sang Penjamu Karîm yang membangunnya, dan bersyukurlah. Bekerjalah dan bertindaklah dalam lingkup hukum-Nya. Kemudian pergilah keluar tanpa menoleh ke belakang. Janganlah turut campur dengan lancang dan sia-sia. Janganlah menyibukkan diri tanpa makna dengan hal-hal yang berpisah darimu dan yang bukan milikmu, dan janganlah terikat pada urusan-urusannya yang sementara hingga engkau tenggelam."
Dengan hakikat-hakikat nyata seperti inilah Al-Qur'an memperlihatkan rahasia-rahasia pada batin dunia, sehingga perpisahan dari dunia menjadi sangat ringan — bahkan bagi orang-orang yang sadar, perpisahan itu menjadi sesuatu yang dicintai — dan ia menunjukkan bahwa pada segala sesuatu dan pada setiap keadaan-Nya terdapat jejak rahmat-Nya. Demikianlah Al-Qur'an mengisyaratkan lima segi ini, sebagaimana ayat-ayat Al-Qur'an juga mengisyaratkan segi-segi khusus yang lain.
Celakalah orang yang tidak mempunyai bagian sedikit pun dari lima segi ini...