Risale-i NurAl-Kalimat

Maqam Kedua dari Kalimat Ketujuh Belas

Al-Kalimat · hlm. 208

{(Hâsyiyah): Bagian-bagian dalam maqam kedua ini menyerupai syair, tetapi bukan syair. Ia tidak digubah dengan sengaja sebagai nazham; melainkan, karena kesempurnaan keteraturan hakikat-hakikatnya, ia mengambil rupa nazham sampai kadar tertentu.}

Tinggalkanlah jeritan yang malang itu; datanglah, bertawakallah dalam bala! Sebab ketahuilah: jeritan adalah bala di dalam bala, kesalahan di dalam bala!

Jika engkau telah menemukan Dia yang memberi bala, ketahuilah: bala itu karunia di dalam bala, kejernihan di dalam bala! Tinggalkanlah jeritan, bersyukurlah bagaikan burung-burung bulbul; niscaya mawar-mawar pun tertawa riang karena sukacitanya.

Jika engkau tidak menemukan-Nya, ketahuilah: seluruh dunia adalah kesia-siaan yang penuh derita, penuh kefanaan! Sementara bala sepenuh jagat menimpa kepalamu, mengapa engkau berteriak karena satu bala yang kecil? Datanglah, bertawakallah!

Dengan tawakal, tersenyumlah di hadapan wajah bala, agar ia pun tersenyum. Semakin ia tersenyum, semakin ia mengecil, berubah rupa.

Ketahuilah, wahai engkau yang mementingkan dirimu sendiri! Kebahagiaan di dunia ini terletak pada meninggalkan dunia. Jika engkau memandang Allah, Dia-lah yang mencukupi — sekalipun engkau tinggalkan segala sesuatu, semuanya berpihak kepadamu.

Jika engkau memandang dirimu sendiri, itulah kebinasaan — apa pun yang kaulakukan, segala sesuatu melawanmu. Berarti dalam kedua keadaan itu dunia ini harus ditinggalkan.

Meninggalkannya berarti: memandang bahwa ia milik Allah, dengan izin-Nya, atas nama-Nya. Jika engkau menghendaki perniagaan, ia terletak pada menukar umurmu yang fana ini dengan yang kekal.

Jika engkau menghendaki nafsumu, ia rapuh lagi tanpa dasar. Jika engkau menghendaki dunia luar, di atasnya tertera cap kefanaan.

Berarti tak layak ia dibeli — di pasar ini semuanya barang rapuh. Karena itu lewatlah; barang-barang yang baik tersusun di belakangnya...