Sebuah Buah dari Murbei Hitam
Al-Kalimat · hlm. 209
[Di puncak pohon murbei yang penuh berkah itu, Said Lama mengucapkannya dengan lisan Said Baru.]
Lawan bicaraku bukanlah Ziya Paşa, melainkan orang-orang yang tergila-g...ila pada Eropa. Yang berbicara bukanlah nafsuku, melainkan kalbuku atas nama murid Al-Qur'an.
Kalimat-kalimat yang lalu adalah hakikat; awas, jangan tersesat bingung, jangan berani melampaui batasnya, jangan menyimpang kepada pikiran orang-orang asing — itu kesesatan, jangan dihiraukan; niscaya ia membuatmu menyesal.
Engkau lihat yang paling bercahaya di antara mereka, sang pembawa panji dalam kecerdasan, karena kebingungan itu senantiasa berkata: "Aduhai, kepada siapa dan tentang siapa aku harus mengadu? Aku sendiri pun bingung!"
Al-Qur'an membuatku berkata, maka aku pun berkata, tanpa segan sedikit pun: aku mengadukan dari-Nya kepada-Nya; aku tidak bingung sepertimu.
Dari Al-Haq kepada Al-Haq aku berseru; aku tidak melampaui batas sepertimu. Dari bumi ke langit aku mengajukan perkara; aku tidak lari sepertimu.
Sebab dalam Al-Qur'an segala perkara berjalan dari cahaya menuju cahaya; aku tidak berpaling sepertimu. Dalam Al-Qur'anlah hikmah yang haq; aku buktikan — filsafat yang menentangnya tidak kuhargai sepeser pun.
Dalam Al-Furqânlah hakikat intan berlian; kudekap ia dalam jiwaku, tidak kujual sepertimu. Dari makhluk menuju Al-Haq aku bertamasya; aku tidak menyimpang sepertimu.
Di jalan berduri aku terbang; aku tidak menginjaknya sepertimu. Dari hamparan bumi hingga 'Arsy aku bersyukur; aku tidak mengabaikannya sepertimu.
Kepada maut dan ajal aku memandang sebagai sahabat; aku tidak takut sepertimu. Ke dalam kubur aku masuk sambil tersenyum; aku tidak gentar sepertimu.
Mulut naga, sarang keliaran, kerongkongan ketiadaan — aku tidak memandangnya demikian sepertimu. Ia mempertemukanku dengan para kekasih; aku tidak berkecil hati terhadap kubur, tidak marah sepertimu.
Pintu rahmat, pintu Cahaya, pintu Al-Haq — aku tidak sesak karenanya, tidak mundur.
Sambil mengucap Bismillah aku mengetuknya;{(Hâsyiyah 1): Aku tidak lari sambil berkata "aduhai".} aku tidak menoleh ke belakang, tidak pula diliputi kengerian.
Sambil mengucap Alhamdulillah aku akan menemukan ketenangan dan berbaring; aku tidak menanggung kepayahan, tidak tinggal dalam keliaran.
Sambil mengucap Allahu Akbar aku akan mendengar azan hasyr dan bangkit;{(Hâsyiyah 2): Aku akan mendengar azan Isrâfîl pada fajar kebangkitan dan bangkit sambil mengucap Allahu Akbar. Aku tidak mengundurkan diri dari shalat kubrâ, tidak menghindar dari himpunan akbar.} aku tidak menghindar dari mahsyar akbar, tidak mundur dari masjid teragung.
Berkat kemurahan Allah, cahaya Al-Qur'an, dan limpahan iman, aku tidak bersedih sedikit pun. Tanpa henti aku akan berlari, akan terbang menuju naungan 'Arsy Ar-Rahmân; aku tidak akan bingung sepertimu, insya Allah.