Risale-i NurAl-Kalimat

Sebuah munajat yang terlintas dalam kalbu dalam bahasa Persia

Al-Kalimat · hlm. 210

هٰذِهِ الْمُنَاجَاةُ تَخَطَّرَتْ فِى الْقَلْبِ هٰكَذَا بِالْبَيَانِ الْفَارِس۪ى

[Yakni: karena munajat ini terlintas dalam kalbu dalam bahasa Persia, ia ditulis dalam bahasa Persia. Sebelumnya ia telah dimuat dalam "Hubab Risalesi" yang pernah dicetak.]

يَارَبْ بَشَشْ جِهَتْ نَظَرْ م۪يكَرْدَمْ دَرْدِ خُودْرَا دَرْمَانْ نَم۪ى د۪يدَمْ

Ya Rabb! Tanpa tawakal, dalam kelalaian, dengan bersandar pada kekuatan dan ikhtiarku, aku mengedarkan pandangan ke enam arah yang disebut jihât sittah untuk mencari obat bagi deritaku. Sayang seribu sayang, aku tidak menemukan obat bagi deritaku. Secara maknawi dikatakan kepadaku: "Tidak cukupkah derita itu sendiri sebagai obat bagimu?"

دَرْرَاسْتْ م۪ى د۪يدَمْ كِه د۪ى رُوزْ مَزَارِ پَدَرِ مَنَسْتْ

Benar; dalam kelalaian aku memandang ke masa lampau di sebelah kananku untuk mengambil hiburan. Tetapi kulihat: hari kemarin tampak dalam rupa kubur ayahku, dan masa lampau dalam rupa sebuah kuburan raksasa nenek moyangku. Alih-alih menghibur, ia memberi rasa sunyi yang meliarkan. (Iman memperlihatkan kuburan raksasa yang meliarkan itu sebagai sebuah majelis bercahaya yang penuh keakraban dan tempat berkumpulnya para kekasih.)

وَ دَرْ چَپْ د۪يدَمْ كِه فَرْدَا قَبْرِ مَنَسْتْ

Kemudian aku memandang ke masa depan di sebelah kiri. Aku tidak menemukan obat. Bahkan hari esok tampak dalam rupa kuburku, dan masa depan dalam rupa sebuah kubur raksasa bagi orang-orang yang seumpamaku dan bagi generasi mendatang; ia tidak memberi keakraban, melainkan rasa sunyi yang meliarkan. (Iman dan ketenteraman iman memperlihatkan kubur raksasa yang mengerikan itu sebagai sebuah undangan Rahmani ke istana-istana kebahagiaan yang tercinta.)

وَ ا۪يمْرُوزْ تَابُوتِ جِسْمِ پُرْ اِضْطِرَابِ مَنَسْتْ

Karena dari sebelah kiri pun tidak tampak kebaikan, aku memandang hari yang sekarang. Kulihat: hari ini seakan-akan sebuah keranda; ia mengusung jenazah tubuhku yang sedang menggeliat dalam gerak sekaratnya. (Iman memperlihatkan keranda itu sebagai sebuah tempat perniagaan dan penginapan yang semarak.)

بَرْ سَرِ عُمْرْ جَنَازَهءِ مَنْ ا۪يسْتَادَه اَسْتْ

Dari arah ini pun aku tidak menemukan penawar. Kemudian aku mengangkat kepala dan memandang ke puncak pohon umurku. Kulihat: satu-satunya buah pohon itu adalah jenazahku, yang berdiri di atas pohon itu sambil memandangku. (Iman memperlihatkan bahwa buah pohon itu bukanlah jenazah, melainkan ruhku — yang beroleh kehidupan abadi dan menjadi calon kebahagiaan abadi — sedang keluar dari sarangnya yang telah usang untuk berjalan-jalan di bintang-bintang.)

دَرْ قَدَمْ آبِ خَاكِ خِلْقَتِ مَنْ وَ خَاكِسْتَرِ عِظَامِ مَنَسْتْ

Dari arah itu pun aku berputus asa, lalu menundukkan kepala ke bawah. Kulihat: di bawah, di bawah telapak kaki, tanah tulang-belulangku telah bercampur dengan tanah awal penciptaanku. Ia bukan memberi obat, malah menambah derita di atas deritaku. (Iman memperlihatkan bahwa tanah itu adalah pintu rahmat dan tirai serambi surga.)

چُونْ دَرْ پَسْ م۪ينِگَرَمْ ب۪ينَمْ ا۪ينْ دُنْيَاءِ ب۪ى بُنْيَادْ ه۪يچْ دَرْ ه۪يچَسْتْ

Dari situ pun aku memalingkan pandangan dan menoleh ke belakangku. Kulihat: sebuah dunia yang fana dan tak berdasar sedang bergulir jatuh di lembah-lembah kehampaan dan dalam kegelapan ketiadaan. Ia bukan menjadi salep bagi deritaku, malah menambahkan racun keliaran dan kengerian. (Iman memperlihatkan bahwa dunia yang bergulir dalam kegelapan itu adalah surat-surat Shamadâniyah dan lembaran-lembaran ukiran Subhâniyah yang telah usai tugasnya, telah menyatakan maknanya, dan telah meninggalkan hasil-hasilnya di alam wujud sebagai penggantinya.)

وَ دَرْ پ۪يشْ اَنْدَازَهءِ نَظَرْ م۪يكُنَمْ دَرِ قَبِرْ كُشَادَه اَسْتْوَ رَاهِ اَبَدْ بَدُورِ دِرَازْ بَد۪يدَارَسْتْ

Karena pada arah itu pun aku tidak melihat kebaikan, kukirimkan pandanganku ke arah depan, ke muka. Kulihat: pintu kubur tampak terbuka di pangkal jalanku; di belakangnya, jalan raya yang menuju keabadian terlihat dari kejauhan. (Karena iman memperlihatkan bahwa pintu kubur itu adalah pintu alam cahaya dan jalan itu pun jalan kebahagiaan abadi, maka ia menjadi obat sekaligus salep bagi derita-deritaku.)

مَرَا جُزْ جُزْءِ اِخْتِيَار۪ى چ۪يز۪ى ن۪يسْتْ دَرْ دَسْتْ

Demikianlah, dari enam arah ini aku menerima bukan keakraban dan hiburan, melainkan kengerian dan keliaran; dan untuk menghadapi semuanya itu, di tanganku tidak ada apa-apa selain sebuah juz' ikhtiyârî (kehendak parsial) yang dapat kujadikan sandaran dan kupergunakan untuk melawan. (Iman memberikan, sebagai ganti juz' ikhtiyârî yang laksana juz' lâ-yatajazzâ — zarah yang tak terbagi — itu, sebuah surat kepercayaan untuk bersandar kepada kudrat yang tiada berhingga; bahkan iman itu sendiri adalah sebuah surat kepercayaan.)

كِه اُو جُزْءْ هَمْ عَاجِزْ هَمْ كُوتَاه و هَمْ كَمْ عَيَارَسْتْ

Padahal senjata manusiawi yang disebut juz' ikhtiyârî itu lemah lagi pendek; kadarnya pun kurang. Ia tidak dapat mencipta; selain kasb, tidak ada apa pun yang mampu dilakukannya. (Iman membuat juz' ikhtiyârî itu dipergunakan atas nama Allah dan menjadikannya cukup untuk menghadapi segala sesuatu; seperti seorang prajurit yang, tatkala mempergunakan kekuatan kecilnya atas perhitungan negara, mampu mengerjakan pekerjaan yang seribu kali melebihi kekuatannya sendiri.)

نَه دَرْ مَاض۪ى مَجَالِ حُلُولْ نَه دَرْ مُسْتَقْبَلْ مَدَارِ نُفُوذْ اَسْتْ

Ia tidak dapat masuk ke masa lampau, tidak pula dapat menembus masa depan. Bagi harapan-harapanku dan derita-deritaku yang berkenaan dengan masa lampau dan masa depan, ia tidak berguna. (Karena iman mengambil kendalinya dari tangan tubuh hewani dan menyerahkannya kepada kalbu dan ruh, maka ia dapat menembus masa lampau dan masuk ke masa depan; sebab lingkaran kehidupan kalbu dan ruh itu luas.)

مَيْدَانِ اُو ا۪ينْ زَمَانِ حَالْ و يَكْ آنِ سَيَّالَسْتْ

Medan jelajah juz' ikhtiyârî itu hanyalah masa kini yang amat pendek ini dan satu detik yang mengalir.

بَا ا۪ينْ هَمَه فَقْرْهَا وَ ضَعْفْهَا قَلَمِ قُدْرَتِ تُو آشِكَارَهنُوِشْتَه اَسْتْ دَرْ فِطْرَتِ مَا مَيْلِ اَبَدْ وَ اَمَلِ سَرْمَدْ

Demikianlah, sementara aku berada dalam keadaan porak-poranda oleh segala kebutuhanku, kelemahanku, kefakiran dan ketidakberdayaanku, beserta kengerian-kengerian dan keliaran-keliaran yang datang dari enam arah — dengan pena kudrat telah tertulis secara nyata pada lembaran fitrahku keinginan-keinginan yang terentang hingga keabadian dan harapan-harapan yang terbentang hingga kekekalan; semuanya telah tercantum dalam mahiyahku.

بَلْكِه هَرْ چِه هَسْتْ ، هَسْتْ

Bahkan apa pun yang ada di dunia, contoh-contohnya ada dalam fitrahku. Aku terpaut dengan semuanya. Untuk semuanya itu aku dipekerjakan, dan aku bekerja.

دَٓائِرَهءِ اِحْتِيَاجْ مَانَنْدِ دَٓائِرَهءِ مَدِّ نَظَرْ بُزُرْگ۪ى دَارَسْتْ

Lingkaran kebutuhan itu sebesar dan seluas lingkaran pandangan.

خَيَالْ كُدَامْ رَسَدْ اِحْتِيَاجْ ن۪يزْ رَسَدْدَرْ دَسْتْ هَرْچِه ن۪يسْتْ دَرْ اِحْتِيَاجْ هَسْتْ

Bahkan ke mana pun khayal pergi, lingkaran kebutuhan pun pergi ke sana. Di sana pun ada hajat. Bahkan apa saja yang tidak ada di tangan, ada dalam kebutuhan. Yang tidak ada di tangan, ada dalam kebutuhan. Dan yang tidak terdapat di tangan itu tak terhingga.

دَٓائِرَهءِ اِقْتِدَارْ هَمْچُو دَٓائِرَهءِ دَسْتِ كُوتَاهْ كُوتَاهَسْتْ

Padahal lingkaran kemampuan hanyalah sependek dan sesempit lingkaran tanganku yang pendek.

پَسْ فَقْر و حَاجَاتِ مَا بَقَدْرِ جِهَانَسْتْ

Berarti kefakiran dan kebutuhan-kebutuhanku itu sebesar dunia.

وَ سَرْمَايَهءِ مَا هَمْ چُو جُزْءِ لاَيَتَجَزَّا اَسْتْ

Sedangkan modalku hanyalah sesuatu yang kecil bagaikan juz' lâ-yatajazzâ.

اِينْ جُزْءْ كُدَامْ وَ اِينْ كَٓائِنَاتِ حَاجَاتْ كُدَامَسْتْ

Maka, di manakah hajat yang sebesar jagat ini, yang hanya dapat diperoleh dengan milyaran — dan di manakah juz' ikhtiyârî yang hanya bernilai sepeser ini? Dengannya tak mungkin pergi membeli semuanya itu; dengannya semuanya itu tak dapat diraih. Karena itu, harus dicari jalan keluar yang lain.

پَسْ دَرْ رَاهِ تُو َازْ ا۪ينْ جُزْءْ ن۪يزْ بَازْ م۪ى گُذَشْتَنْ چَارَهءِ مَنْ اَسْتْ

Jalan keluar itu ialah: melepaskan diri bahkan dari juz' ikhtiyârî itu, menyerahkan urusannya kepada iradah Ilahi, berlepas diri dari daya dan kekuatan sendiri, lalu berlindung kepada daya dan kekuatan Allah Yang Haq, dan berpegang teguh pada hakikat tawakal. Ya Rabb! Karena jalan keselamatan adalah ini, maka di jalan-Mu aku melepaskan juz' ikhtiyârî itu dan aku berlepas diri dari keakuanku.

تَا عِنَايَتِ تُو دَسْتْگ۪يرِ مَنْ شَوَدْ رَحْمَتِ ب۪ى نِهَايَتِ تُو پَنَاهِ مَنْ اَسْتْ

Agar inayah-Mu, karena kasihan kepada ketidakberdayaan dan kelemahanku, memegang tanganku; dan agar rahmat-Mu, karena iba kepada kefakiran dan kebutuhanku, dapat menjadi tempat sandaranku dan membukakan pintu-Nya bagiku.

آنْ كَسْ كِه بَحْرِ ب۪ى نِهَايَتِ رَحْمَتْ يَافْتْ اَسْتْ تَكْيَه نَه كُنَدْ بَرْ ا۪ينْ جُزْءِ اِخْتِيَار۪ى كِه يَكْ قَطْرَه سَرَابَسْتْ

Benar; siapa pun yang menemukan lautan rahmat yang tiada bertepi, tentu ia tidak akan bersandar pada juz' ikhtiyârînya yang laksana setetes fatamorgana; ia tidak akan meninggalkan rahmat lalu berpaling kepadanya...

اَيْوَاهْ ا۪ينْ زِنْدِگَان۪ى هَمْ چُو خَابَسْتْو۪ينْ عُمْرِ ب۪ى بُنْيَادْ هَمْ چُو بَادَسْتْ

Aduhai! Kita telah tertipu. Kehidupan duniawi ini kita sangka tetap. Karena sangkaan itu kita sia-siakan seluruhnya. Benar, perjalanan hidup ini sebuah tidur; ia berlalu bagaikan mimpi. Umur yang tak berdasar ini pun terbang lenyap bagaikan angin...

اِنْسَانْ بَزَوَالْ دُنْيَا بَفَنَا اَسْتْ آمَالْ ب۪ى بَقَا آلاَمْ بَبَقَا اَسْتْ

Manusia congkak yang percaya pada dirinya sendiri dan menyangka dirinya abadi, telah divonis untuk sirna; ia pergi dengan cepat. Dan dunia, rumah manusia itu, jatuh ke dalam kegelapan ketiadaan. Harapan-harapan tak berkekalan; derita-derita tinggal kekal dalam ruh.

بِيَا اَىْ نَفْسِ نَافَرْجَامْ وُجُودِ فَان۪ى خُودْرَا فَدَا كُنْخَالِقِ خُودْرَا كِه ا۪ينْ هَسْتِى وَد۪يعَه هَسْتْ

Karena hakikatnya demikian, marilah, wahai nafsuku yang malang — yang begitu merindukan kehidupan, begitu menginginkan umur, begitu mencintai dunia, dan tertimpa harapan-harapan serta derita-derita yang tak terhingga! Bangunlah, sadarkan akalmu! Sebagaimana kunang-kunang bersandar pada cahaya kecilnya sendiri sehingga ia tinggal dalam kegelapan malam yang tak bertepi, sedangkan lebah madu, karena tidak percaya pada dirinya sendiri, menemukan matahari siang dan menyaksikan seluruh sahabatnya, bunga-bunga, tersepuh keemasan oleh cahaya matahari — demikian pula: jika engkau bersandar pada dirimu, pada wujudmu, dan pada keakuanmu, engkau menjadi seperti kunang-kunang. Namun jika engkau mengorbankan wujudmu yang fana di jalan Sang Khâliq yang memberimu wujud itu, engkau menjadi seperti lebah madu; engkau akan menemukan cahaya wujud yang tak terhingga. Maka korbankanlah! Sebab wujud ini adalah titipan dan amanah padamu.

وَ مُلْكِ اُو وَ اُو دَادَه فَنَا كُنْ تَا بَقَا يَابَدْاَزْ آنْ سِرّ۪ى كِه ، نَفْىِ نَفْىْ اِثْبَاتْ اَسْتْ

Ia milik-Nya, dan Dia pula yang memberikannya. Karena itu, tanpa merasa berjasa dan tanpa segan, fanakanlah ia, korbankanlah ia, agar ia menemukan kekekalan. Sebab peniadaan atas peniadaan adalah penetapan. Yakni: jika "tiada" itu tiada, ia pun ada; jika yang tiada menjadi tiada, ia menjadi ada.

خُدَاىِ پُرْكَرَمْ خُودْ مُلْكِ خُودْرَا م۪ى خَرَدْ اَزْ تُوبَهَاىِ ب۪ى گِرَانْ دَادَه بَرَاىِ تُو نِگَاهْ دَارَسْتْ

Sang Khâliq Karîm membeli milik-Nya sendiri darimu. Dia memberikan harga yang besar seperti surga. Dia pun memelihara milik itu dengan baik untukmu dan meninggikan nilainya. Dan Dia akan mengembalikannya lagi kepadamu dalam keadaan kekal lagi sempurna. Karena itu, wahai nafsuku! Jangan berdiam sedikit pun. Lakukanlah perniagaan yang mengandung lima keuntungan berlapis-lapis ini, agar engkau selamat dari lima kerugian dan meraih lima laba sekaligus.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

فَلَمَّٓا اَفَلَ قَالَ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ

لَقَدْ اَبْكَانِى نَعْىُ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ مِنْ خَل۪يلِ اللّٰهِ

Ratapan

لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ

yang terbit dari Ibrâhîm 'alaihissalâm, yang memaklumkan kesirnaan dan kematian alam, telah membuatku menangis.

فَصَبَّتْ عَيْنُ قَلْب۪ى قَطَرَاتٍ بَاكِيَاتٍ مِنْ شُئُونِ اللّٰهِ

Karena itu mata kalbu menangis dan mencucurkan tetes-tetes tangisnya. Sebagaimana mata kalbu menangis, setiap tetes yang dicucurkannya pun begitu pilu, membuat menangis; seakan-akan tetes itu sendiri ikut menangis. Tetes-tetes itu ialah untaian-untaian Persia yang akan datang berikut ini.

لِتَفْس۪يرِ كَلاَمٍ مِنْ حَك۪يمٍ اَىْ نَبِىٍّ ف۪ى كَلاَمِ اللّٰهِ

Tetes-tetes itu adalah semacam tafsir atas sebuah kalam — kalam seorang hakim Ilahi yang juga seorang nabi — yang terdapat di dalam Kalâmullâh.

نَم۪ى زِيبَاسْتْ اُفُولْدَه گُمْ شُدَنْ مَحْبُوبْ

Tidaklah indah kekasih yang lenyap dengan terbenam. Sebab yang divonis untuk sirna tidak mungkin indah secara hakiki; ia tidak dicintai — dan tidak boleh dicintai — oleh kalbu yang diciptakan untuk cinta abadi dan yang merupakan cermin Ash-Shamad.

نَم۪ى اَرْزَدْ غُرُوبْدَه غَيْبْ شُدَنْ مَطْلُوبْ

Sesuatu yang dicari yang divonis untuk menghilang dengan terbenam, tidaklah layak bagi keterikatan kalbu dan minat pikiran; ia tak dapat menjadi tempat kembali harapan-harapan; tak pantas disesali kepergiannya dengan duka dan nestapa. Apalagi sampai kalbu memujanya dan tinggal terpaut kepadanya!

نَم۪ى خَواهَمْ فَنَادَه مَحْوْ شُدَنْ مَقْصُودْ

Sesuatu yang dituju yang musnah dalam kefanaan — aku tidak menginginkan yang dituju semacam itu. Sebab aku fana; yang fana tidak kuinginkan — apalah gunanya bagiku?..

نَم۪ى خَوانَمْ زَوَالْدَه دَفْنْ شُدَنْ مَعْبُودْ

Sesembahan yang terkubur dalam kesirnaan — aku tidak akan menyerunya, tidak akan berlindung kepadanya. Sebab aku tak terhingga butuhnya dan tak berdaya; sedangkan yang tak berdaya tidak dapat menemukan penawar bagi derita-deritaku yang amat besar, tidak dapat mengoleskan salep pada luka-lukaku yang abadi. Bagaimana dapat menjadi sesembahan, sesuatu yang tak mampu menyelamatkan dirinya sendiri dari kesirnaan?

عَقْلْ فَرْيَادْ م۪ى دَارَدْ نِدَاءِ ﴿لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ﴾ م۪ى زَنَدْ رُوحَمْ

Benar; akal yang terpaut pada yang lahiriah, dengan menyaksikan sirnanya hal-hal yang dipujanya di alam yang kacau-balau ini, menjerit putus asa; dan ruh yang mencari kekasih yang kekal pun memaklumkan jeritan

لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ

نَم۪ى خَواهَمْ نَم۪ى خَوانَمْ نَم۪ى تَابَمْ فِرَاق۪ى

Aku tak menginginkannya, tak menghendakinya, tak sanggup menanggung perpisahan...

نَم۪ى اَرْزَدْ مَرَاقَه ا۪ينْ زَوَالْ دَرْ پَسْ تَلاَق۪ى

Pertemuan-pertemuan yang segera dipahitkan oleh kesirnaan tidaklah layak bagi duka dan kerisauan, sama sekali tak pantas dirindukan. Sebab sebagaimana hilangnya kelezatan adalah derita, membayangkan hilangnya kelezatan pun sebuah derita. Diwan-diwan seluruh pecinta majasi — yakni kitab-kitab bersyair mereka yang merupakan surat-surat cinta — adalah jeritan-jeritan yang lahir dari derita bayangan kesirnaan ini. Jika engkau peras ruh seluruh diwan syair mereka satu demi satu, dari masing-masing akan menetes sebuah jeritan yang penuh derita.

اَزْ آنْ دَرْد۪ى گِر۪ينِ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ م۪ى زَنَدْ قَلْبَمْ

Karena derita dan bencana pertemuan-pertemuan yang berlumur kesirnaan itu, karena cinta-cinta majasi yang pedih itulah, kalbuku menangis dan berseru dengan tangisan

لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ

sebagaimana Ibrâhîm.

دَرْ ا۪ينْ فَان۪ى بَقَا خَازِى بَقَا خِيزَدْ فَنَادَنْ

Jika engkau menginginkan kekekalan di dunia yang fana ini — kekekalan itu lahir dari kefanaan. Fanakanlah dirimu dari sisi nafsu ammârah, agar engkau menjadi kekal.

فَنَا شُدْ هَمْ فَدَا كُنْ هَمْ عَدَمْ ب۪ينْ كِه اَزْ دُنْيَا بَقَايَه رَاهْ فَنَادَنْ

Lepaskanlah dirimu dari akhlak-akhlak buruk yang menjadi dasar pemujaan dunia. Jadilah fana! Korbankanlah segala yang ada dalam lingkup milikmu dan hartamu di jalan Sang Kekasih Hakiki. Lihatlah kesudahan segala maujud yang menampakkan ketiadaan. Sebab jalan yang menuju kekekalan dari dunia ini melewati kefanaan.

فِكِرْ ف۪يزَارْ م۪ى دَارَدْ اَن۪ينِ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ م۪ى زَنَدْ وِجْدَانْ

Pikiran manusia yang tenggelam dalam sebab-sebab, terpana oleh gempa kesirnaan dunia ini dan meratap putus asa. Sedangkan hati nurani yang menginginkan wujud hakiki, dengan rintihan

لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ

sebagaimana Ibrâhîm, memutuskan keterikatan dari kekasih-kekasih majasi dan maujud-maujud yang sirna, lalu terpaut kepada Sang Maujûd Hakiki dan Sang Kekasih Sarmadi.

بِدَانْ اَىْ نَفْسِ نَادَانَمْ كِه دَرْ هَرْ فَرْدْ اَزْ فَان۪ى دُو رَاهْ هَسْتْ بَا بَاق۪ى دُو سِرِّ جَانِ جَانَان۪ى

Wahai nafsuku yang jahil! Ketahuilah: sekalipun dunia dan segala maujud itu fana, namun pada setiap yang fana engkau dapat menemukan dua jalan yang menyampaikan kepada Yang Kekal, dan engkau dapat melihat dua kilau, dua rahasia, dari tajali keindahan Sang Kekasih yang tidak pernah sirna, jiwa segala jiwa — dengan syarat: engkau mampu melampaui rupa yang fana dan melampaui dirimu sendiri...

كِه دَرْ نِعْمَتْهَا اِنْعَامْ هَسْتْ وَ پَسْ آثَارْهَا اَسْمَا بِگِيرْ مَغْزِى وَ مِيزَنْ دَرْ فَنَا آنْ قِشْرِ بِى مَعْنَا

Benar; di dalam nikmat tampak pemberian nikmat; terasa perhatian penuh kasih Ar-Rahmân. Jika dari nikmat engkau beralih kepada pemberian nikmat, engkau akan menemukan Sang Mun'im. Dan setiap karya Shamadânî, bagaikan sepucuk surat, memberitahukan asma Sang Shâni' Dzul-Jalâl. Jika dari ukiran engkau beralih kepada makna, melalui asma engkau akan menemukan Sang Musammâ (Pemilik asma). Karena engkau dapat menemukan inti dan isi ciptaan-ciptaan yang fana ini, raihlah ia; sedangkan kulitnya yang tak bermakna dapat kaulemparkan tanpa iba ke dalam arus kefanaan.

بَل۪ى آثَارْهَا گُويَنْدْ زِاَسْمَا لَفْظِ پُرْ مَعْنَا بِخَانْ مَعْنَا وَ م۪يزَنْ دَرْ هَوَا آنْ لَفْظِ ب۪ى سَوْدَا

Benar; dalam ciptaan-ciptaan itu tidak ada satu karya pun yang bukan lafal berjasad yang sarat makna, yang tidak membacakan banyak asma Sang Shâni' Dzul-Jalâl. Karena ciptaan-ciptaan ini adalah lafal-lafal, kalimat-kalimat kudrat, maka bacalah makna-maknanya dan taruhlah dalam kalbumu. Lafal-lafal yang tinggal tanpa makna, lemparkanlah tanpa gentar ke angin kesirnaan; jangan menoleh ke belakangnya dengan penuh keterpautan dan jangan menyibukkan diri dengannya.

عَقْلْ فَرْيَادْ م۪ى دَارَدْ غِيَاثِ ﴿ لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ ﴾ م۪يزَنْ اَىْ نَفْسَمْ

Demikianlah, akal duniawi yang memuja yang lahiriah dan yang modalnya hanya pengetahuan-pengetahuan luaran, karena rangkaian pikirannya berujung pada kehampaan dan ketiadaan, menjerit putus asa dalam kebingungan dan kekecewaannya; ia mencari sebuah jalan lurus yang menuju hakikat. Karena ruh telah menarik tangannya dari segala yang terbenam dan yang sirna, kalbu pun telah melepaskan kekasih-kekasih majasi, dan hati nurani pun telah memalingkan wajahnya dari segala yang fana — maka engkau juga, wahai nafsuku yang malang, serukanlah seruan minta tolong

لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ

sebagaimana Ibrâhîm, dan selamatkanlah dirimu.

چِه خُوشْ گُويَدْ اُو شَيْدَا جَام۪ى عِشْقْ خُوىْ

Mevlâna Câmî — yang mabuk piala cinta, seakan fitrahnya diadon dengan cinta — untuk memalingkan wajah-wajah dari kemajemukan kepada kesatuan, lihatlah betapa indah ia berkata:

يَك۪ى خَواهْ يَك۪ى خَوانْ يَك۪ى جُوىْ يَك۪ى ب۪ينْ يَك۪ى دَانْ يَك۪ى گُوىْ

— demikianlah katanya. {(Hâsyiyah): Hanya baris ini yang merupakan perkataan Mevlâna Câmî.}

1 - Yakni: Inginkanlah hanya Yang Satu; selain-Nya tak layak diinginkan.

2 - Serulah Yang Satu; selain-Nya tak datang menolong.

3 - Tuntutlah Yang Satu; selain-Nya tidaklah pantas.

4 - Pandanglah Yang Satu; selain-Nya tidak selalu tampak — mereka bersembunyi di balik tirai kesirnaan.

5 - Kenalilah Yang Satu; pengetahuan-pengetahuan lain yang tidak menolong makrifat kepada-Nya tiada berguna.

6 - Ucapkanlah Yang Satu; kata-kata yang bukan mengenai-Nya dapat terhitung sia-sia.

نَعَمْ صَدَقْتَ اَىْ جَام۪ى ❊ هُوَ الْمَطْلُوبُ ❊ هُوَ الْمَحْبُوبُ ❊ هُوَ الْمَقْصُودُ ❊ هُوَ الْمَعْبُودُ

Benar, wahai Câmî, engkau berkata amat tepat. Kekasih hakiki, yang dicari hakiki, yang dituju hakiki, yang disembah hakiki — hanyalah Dia.

كِه لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُو بَرَابَرْ م۪يزَنَدْ عَالَمْ

Sebab alam ini, dengan seluruh maujudnya, dengan bahasa-bahasanya yang beraneka dan nada-nadanya yang berbeda-beda, dalam lingkaran kubrâ zikir Ilahi bersama-sama mengucap "Lâ ilâha illâ Hû" dan bersaksi atas keesaan-Nya; ia mengoleskan salep pada luka yang dibuka oleh

لآَ اُحِبُّ اْلاٰفِل۪ينَ

dan, sebagai ganti kekasih-kekasih majasi yang telah diputuskan keterikatannya, ia menunjukkan Sang Kekasih yang tidak pernah sirna.

[Kira-kira dua puluh lima tahun sebelum ini, di Bukit Yuşa di Selat Istanbul, pada suatu masa ketika aku telah memutuskan untuk meninggalkan dunia, sebagian sahabatku yang penting datang menemuiku untuk mengembalikanku kepada dunia, kepada keadaanku yang dahulu. Aku berkata: "Biarkanlah aku sampai besok; aku hendak beristikharah." Pagi harinya terlintaslah dua lauhah ini dalam kalbuku. Keduanya menyerupai syair, tetapi bukan syair. Demi kenangan yang penuh berkah itu aku tidak menyentuhnya; ia dipelihara sebagaimana datangnya. Ia pernah dilampirkan pada akhir Kalimat Kedua Puluh Tiga; karena kesesuaian maqam, ia dipindahkan ke sini.]