SINAR KEDUA:
Al-Kalimat · hlm. 198
Wahai nafsu yang hilang kesadaran! Engkau berkata: Ayat-ayat seperti اِنَّمَٓا اَمْرُهُٓ اِذَٓا اَرَادَ شَيْئًا اَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ dan اِنْ كَانَتْ اِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَاِذَاهُمْ جَم۪يعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ menunjukkan bahwa wujud benda-benda terjadi semata-mata dengan sebuah perintah dan seketika; sedangkan ayat-ayat seperti اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ dan صُنْعَ اللّٰهِ الَّذ۪ٓى اَتْقَنَ كُلَّ شَيْءٍ menunjukkan bahwa wujud benda-benda terjadi berangsur-angsur, dengan kudrat agung di dalam ilmu, dengan seni cermat di dalam hikmah. Bagaimana sisi penyelarasannya?
Jawaban: Bersandar pada limpahan Al-Qur'an kami berkata: Pertama, tidak ada pertentangan. Sebagian demikian: seperti penciptaan pada permulaan. Sebagian begini: seperti pengembalian semisalnya...
Kedua: Keteraturan puncak, kerapian sempurna, keelokan seni, dan kesempurnaan penciptaan — di dalam kemudahan, kecepatan, kelimpahan, dan keluasan yang tersaksikan pada para makhluk — bersaksi secara pasti atas keberadaan hakikat kedua kelompok ayat ini. Kalau begitu, menjadikan terwujudnya keduanya di luar sebagai bahan perdebatan tidaklah perlu. Yang dapat dikatakan hanyalah: "apakah rahasia hikmahnya?" Kalau begitu, kami pun mengisyaratkan hikmah itu dengan sebuah qiyas tamsili.
Misalnya: sebagaimana seorang ahli seni seperti penjahit menciptakan sesuatu yang penuh seni dengan banyak kepayahan dan kemahiran, lalu membuatkan baginya sebuah model. Kemudian ia dapat membuat padanan-padanannya dengan cepat, tanpa kepayahan. Bahkan terkadang mencapai derajat kemudahan sedemikian rupa, hingga seakan ia memerintah, maka jadilah; dan memperoleh keteraturan yang begitu kuat — laksana jam — hingga seakan dikerjakan dan bekerja dengan sentuhan sebuah perintah.
Demikian pula: Sang Shâni' Hakîm dan Sang Pengukir 'Alîm, setelah membangun istana alam ini beserta isinya dalam bentuk yang menakjubkan, memberikan kepada segala sesuatu — juz'i maupun kulli, bagian maupun keseluruhan — sebuah kadar tertentu melalui sebuah tatanan takdir, laksana sebuah model. Maka pandanglah: Sang Pengukir Azali menjadikan setiap abad sebuah model, lalu mengenakan padanya alam segar yang bertatah mukjizat-mukjizat kudrat-Nya. Menjadikan setiap tahun sebuah ukuran, lalu menjahit — sesuai postur itu — semesta segar yang penuh seni dengan keajaiban-keajaiban rahmat-Nya. Menjadikan setiap hari sebuah baris, lalu menuliskan padanya para makhluk yang diperbarui, terhias dengan kehalusan-kehalusan hikmah-Nya. Lagi pula, sebagaimana Sang Qadîr Mutlak menjadikan setiap abad, setiap tahun, setiap hari sebuah model; Dia pun menjadikan muka bumi, setiap gunung dan padang, setiap kebun dan taman, setiap pohon sebuah model. Dari waktu ke waktu Dia mendirikan di bumi semesta yang senantiasa segar, menciptakan dunia yang senantiasa baru. Dia mengambil satu alam dan mendatangkan alam teratur yang lain. Musim demi musim, di setiap kebun dan taman Dia memperlihatkan mukjizat-mukjizat kudrat-Nya dan hadiah-hadiah rahmat-Nya yang senantiasa segar. Dia menulis kitab baru yang memperlihatkan hikmah. Dia mendirikan dapur-dapur rahmat-Nya yang senantiasa segar. Dia mengenakan jubah yang memperlihatkan seni, yang diperbarui. Pada setiap musim semi, Dia mengenakan kepada setiap pohon selembar kain segar laksana sundus. Menghiasinya dengan permata baru laksana lu'lu'. Memenuhi tangan-tangannya dengan hadiah-hadiah rahmat laksana bintang-bintang.
Maka Zat yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan ini dengan keelokan seni tertinggi dan keteraturan sempurna; yang mengganti alam-alam berjalan yang datang silih berganti dan tergantung pada pita zaman ini dengan hikmah dan inayah tertinggi serta kesempurnaan kudrat dan seni — tentulah Dia amat Qadîr dan Hakîm. Amat Bashîr dan 'Alîm pada derajat tertinggi. Kebetulan tidak dapat mencampuri pekerjaan-Nya. Dialah Sang Dzât Dzul-Jalâl yang berfirman: اِنَّمَٓا اَمْرُهُٓ اِذَٓا اَرَادَ شَيْئًا اَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ❊ وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ — dengan itu Dia memaklumkan kesempurnaan kudrat-Nya, sekaligus menerangkan bahwa Kebangkitan dan Kiamat, dibanding kudrat-Nya, amat mudah dan tanpa kepayahan. Perintah takwini-Nya memuat kudrat dan iradah; segala sesuatu amat tunduk dan patuh kepada perintah-perintah-Nya; dan karena Dia mencipta tanpa sentuhan langsung, tanpa pengolahan — demi mengungkapkan kemudahan mutlak dalam penciptaan-Nya — Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân memfirmankan bahwa Dia mengerjakan pekerjaan-pekerjaan semata-mata dengan sebuah perintah.
Kesimpulan pembicaraan: Sekelompok ayat memaklumkan keelokan seni pada derajat tertinggi dan kesempurnaan hikmah pada derajat tertinggi pada benda-benda — khususnya pada permulaan penciptaannya. Kelompok yang lain menerangkan kemudahan dan kecepatan pada derajat tertinggi, ketundukan dan ketiadaan-kepayahan pada derajat tertinggi pada benda-benda — khususnya pada penciptaan ulangnya dan pengembaliannya.