Risale-i NurAl-Kalimat

SINAR PERTAMA:

Al-Kalimat · hlm. 194

Wahai nafsu yang jahil! Engkau berkata: "Keahadan Dzat Ilahi bersama kemenyeluruhan perbuatan-perbuatan-Nya; kesatuan pribadi-Nya bersama keumuman rububiyah-Nya tanpa penolong; keesaan-tunggal-Nya bersama cakupan pengaturan-Nya tanpa sekutu; kesucian-Nya dari tempat bersama kehadiran-Nya di setiap tempat; ketinggian-Nya yang tanpa batas bersama kedekatan-Nya kepada segala sesuatu; dan keesaan-Nya bersama dipegang-Nya segala urusan langsung di tangan-Nya — semuanya termasuk hakikat-hakikat Qur'ani. Sedangkan Al-Qur'an itu hakîm. Yang hakîm tidak membebankan kepada akal hal-hal yang tak diterima akal. Sedangkan akal melihat sebuah pertentangan lahiriah. Aku menghendaki sebuah penjelasan yang akan menggiring akal kepada penyerahan."

Jawaban: Madem demikian, jika engkau menghendakinya demi ketenteraman, kami pun — bersandar pada limpahan Al-Qur'an — berkata: Nama "Nûr" telah memecahkan banyak kesulitan kami; insyâ Allah ia memecahkan ini pula. Dengan memilih jalan tamsil yang jelas bagi akal dan bercahaya bagi kalbu, kami berkata seperti Imam Rabbani (radhiyallâhu 'anh):

نَه شَبَمْ نَه شَبْ پَرَسْتَمْ مَنْ ❊ غُلاَمِ شَمْسَمْ اَزْ شَمْسْ مِى گُويَمْ خَبَرْ

Karena tamsil adalah cermin tercemerlang bagi i'jâz Al-Qur'an, kami pun akan memandang rahasia ini dengan sebuah tamsil. Yaitu:

Satu zat tunggal, melalui cermin-cermin yang beraneka, memperoleh kemenyeluruhan. Padahal ia juz'i yang hakiki, ia berubah berkedudukan sebagai kulli yang memiliki urusan-urusan umum. Misalnya: matahari adalah sesuatu juz'i yang berpribadi-nyata; namun melalui benda-benda bening ia berubah menjadi sedemikian kulli, hingga memenuhi muka bumi dengan bayangan-bayangan dan pantulan-pantulannya. Bahkan manifestasinya ada sebanyak tetesan-tetesan dan zarah-zarah yang berkilau. Panas matahari, cahayanya, dan tujuh warna di dalam cahayanya — meski masing-masing meliputi, umum, dan mencakup segala benda di hadapannya — setiap benda bening pun menyimpan di pupil matanya bayangan matahari beserta panasnya, cahayanya, dan tujuh warnanya; dan menjadikan kalbunya yang bening sebuah takhta baginya. Berarti, sebagaimana matahari dari segi wâhidiyah meliputi seluruh benda yang menghadapnya; dari sisi ahadiyah pula, pada setiap benda, matahari — bersama banyak sifatnya — hadir dengan semacam manifestasi zatnya. Madem kita telah berpindah dari tamsil kepada pembahasan tamatstsul (penjelmaan-pantulan), kami akan mengisyaratkan tiga jenis tamatstsul — dari sekian banyak jenisnya — yang menjadi tumpuan persoalan ini:

Pertama:

Pantulan benda-benda pekat dan materi. Pantulan itu adalah yang-lain (ghair), bukan ia-sendiri ('ain). Ia pun benda mati, mayat. Selain identitas rupanya, ia tidak memiliki satu pun ciri khas. Misalnya bila engkau masuk ke gudang cermin-cermin, satu Said menjadi ribuan Said. Namun yang hidup hanyalah engkau; yang lain mati. Ciri-ciri kehidupan tidak ada pada mereka.

Kedua:

Pantulan benda bercahaya yang materi. Pantulan ini bukan ia-sendiri, namun bukan pula yang-lain. Ia tidak memuat hakikat-dirinya, namun memiliki kebanyakan ciri khas benda bercahaya itu. Ia terhitung hidup sepertinya. Misalnya: matahari masuk ke dunia, memperlihatkan pantulannya di setiap cermin. Pada setiap pantulan itu terdapat cahaya dan tujuh warna di dalam cahaya — yang berkedudukan sebagai ciri-ciri khas matahari. Seandainya matahari berkesadaran — panasnya adalah kudratnya itu sendiri, cahayanya ilmunya itu sendiri, tujuh warnanya tujuh sifatnya — maka matahari yang esa dan tunggal itu, dalam sekejap, hadir di setiap cermin; dapat menjadikan masing-masing sebuah 'arasy bagi dirinya dan semacam telepon. Satu tidak menghalangi yang lain. Ia dapat berjumpa dengan kita masing-masing melalui cermin kita. Ketika kita jauh darinya, ia lebih dekat kepada kita daripada diri kita.

Ketiga:

Pantulan ruh-ruh yang bercahaya. Pantulan ini hidup sekaligus ia-sendiri. Namun karena menampak menurut kadar kemampuan cermin-cermin, ia tidak memuat sepenuhnya hakikat-diri ruh itu sebagaimana adanya. Misalnya: Malaikat Jibril 'alaihissalâm, pada saat yang sama ia berada di hadirat Nabi dalam rupa Dihyah, ia bersujud dengan sayap-sayapnya yang megah di hadirat Ilahi di depan 'Arasy Teragung. Pada saat itu pula ia hadir di tempat-tempat tak terhitung, menyampaikan perintah-perintah Ilahi. Satu pekerjaan tidak menghalangi pekerjaan yang lain. Maka dari rahasia inilah: Nabi صلى الله عليه وسلم — yang hakikat-dirinya cahaya dan identitasnya bercahaya — di dunia mendengar sekaligus seluruh shalawat umatnya, dan pada kiamat berjumpa dengan seluruh ashfiyâ' dalam sekejap. Satu tidak menghalangi yang lain. Bahkan sebagian wali yang memperoleh sifat-cahaya berlebih, yang disebut abdâl, konon disaksikan dalam sekejap di banyak tempat. Zat yang sama konon mengerjakan banyak pekerjaan yang berbeda-beda. Ya, sebagaimana kaca dan air menjadi cermin bagi benda-benda jasmani. Demikian pula bagi makhluk-makhluk ruhani: udara, atsîr, dan sebagian maujud alam mitsal berkedudukan sebagai cermin, dan berubah menjadi sarana perjalanan dan penjelajahan secepat kilat dan khayal; makhluk-makhluk ruhani itu berkelana dengan kecepatan khayal di cermin-cermin yang bersih itu, di tempat-tempat tinggal yang lembut itu. Dalam sekejap mereka masuk ke ribuan tempat.

Madem makhluk-makhluk yang tak berdaya dan ditundukkan seperti matahari, dan ciptaan-ciptaan setengah-bercahaya yang terikat materi seperti makhluk ruhani, dapat berada di banyak tempat sekaligus padahal berada di satu tempat — dengan rahasia sifat-cahaya (nûrâniyah). Padahal mereka juz'i yang terikat, mereka mengambil kedudukan kulli yang mutlak. Dalam sekejap, dengan ikhtiar juz'i, mereka dapat mengerjakan banyak pekerjaan. Maka gerangan: dari penghadapan ahadiyah Sang Dzât Aqdas — yang tersucikan dan terbebas dari materi lagi tinggi, suci dari ikatan pembatasan dan dari kegelapan kepekatan; yang segenap cahaya dan seluruh yang bercahaya ini hanyalah bayangan pekat dari cahaya-cahaya kudus asma-Nya; yang segenap wujud dan seluruh kehidupan, serta alam arwah dan alam mitsal, adalah cermin setengah-bening bagi keindahan-Nya; yang sifat-sifat-Nya meliputi dan urusan-urusan-Nya menyeluruh — di dalam tajalli sifat-Nya dan manifestasi perbuatan-Nya melalui iradah menyeluruh, kudrat mutlak, dan ilmu yang meliputi: benda apakah yang dapat tersembunyi dari-Nya, pekerjaan apakah yang dapat berat bagi-Nya, benda apakah yang dapat bersembunyi, individu apakah yang dapat tinggal jauh, pribadi apakah yang dapat mendekati-Nya tanpa memperoleh kemenyeluruhan?

Ya, sebagaimana matahari — melalui cahayanya yang tak terikat dan pantulannya yang tanpa materi — lebih dekat kepadamu daripada pupil matamu; namun karena engkau terikat, engkau amat jauh darinya. Untuk mendekatinya, engkau harus terlepas dari banyak ikatan dan melewati banyak tingkat kemenyeluruhan. Seakan-akan, secara maknawi, engkau harus membesar sebesar bumi, naik setinggi bulan, barulah engkau dapat sedikit mendekati tingkat asli matahari dan berjumpa tanpa tirai. Demikian pula: Sang Jalîl Dzul-Jamâl, Sang Jamîl Dzul-Kamâl amat dekat kepadamu; engkau amat jauh dari-Nya. Jika kalbumu kuat dan akalmu tinggi, berusahalah menerapkan titik-titik dalam tamsil itu kepada hakikat.