Persoalan Keenam dari Meyve (Risalah Buah)
Al-Kalimat · hlm. 156
[Sebuah isyarat singkat kepada satu burhan saja dari ribuan burhan menyeluruh bagi rukun iman kepada Allah (îmân billâh), yang penjelasannya dan hujjah-hujjahnya yang pasti lagi tanpa batas terdapat di banyak tempat dalam Risale-i Nur.]
Di Kastamonu, sebagian pelajar sekolah menengah datang kepadaku. "Perkenalkanlah Khâliq kami kepada kami; guru-guru kami tidak membicarakan Allah," kata mereka. Aku berkata: Setiap bidang ilmu dari ilmu-ilmu yang kalian pelajari, dengan lisan khasnya masing-masing, terus-menerus membicarakan Allah dan memperkenalkan Sang Khâliq. Dengarkanlah ilmu-ilmu itu, bukan guru-gurunya.
Misalnya: sebagaimana sebuah apotek yang sempurna, yang di setiap stoplesnya terdapat ramuan-ramuan hidup dan penawar-penawar yang ditakar dengan timbangan-timbangan menakjubkan lagi peka, tanpa keraguan menunjukkan seorang apoteker yang amat mahir, ahli kimia, lagi bijaksana. Demikian pula, dari sisi ramuan-ramuan hidup dan penawar-penawar di dalam stoples-stoples empat ratus ribu jenis tumbuhan dan hewan yang berada di apotek bola bumi — sebesar dan sesempurna apa apotek itu melebihi apotek di pasar ini — apotek kubrâ bumi itu, dengan ukuran ilmu kedokteran yang kalian pelajari, memperlihatkan dan memperkenalkan Sang Hakîm Dzul-Jalâl, apoteker apotek kubrâ bumi itu, bahkan kepada mata yang buta sekalipun.
Misalnya pula: sebagaimana sebuah pabrik menakjubkan yang menenun ribuan jenis kain dari satu bahan sederhana, tanpa keraguan memperkenalkan seorang pemilik pabrik dan seorang masinis yang mahir. Demikian pula, mesin Rabbani berjalan yang disebut bola bumi ini — yang berkepala ratusan ribu, dan pada setiap kepalanya terdapat ratusan ribu pabrik yang sempurna — sebesar dan sesempurna apa ia melebihi pabrik manusia itu, sebesar itu pula, dengan ukuran ilmu permesinan yang kalian pelajari, ia memberitahukan dan memperkenalkan ahli pembuat bola bumi dan pemiliknya.
Misalnya pula: sebagaimana sebuah depo, gudang pangan, dan kedai yang menarik dari sekelilingnya seribu satu jenis perbekalan yang amat sempurna, tertata dan tersiapkan rapi di dalamnya, tanpa keraguan memberitahukan seorang pemilik, empunya, dan petugas perbekalan dan pangan yang luar biasa. Demikian pula, gudang pangan Rahmani yang disebut bola bumi ini — yang dalam satu tahun berkelana secara teratur di sebuah lingkaran perjalanan dua puluh empat ribu tahun; yang memuat golongan-golongan yang menuntut rezeki ratusan ribu macam dan berbeda-beda; yang dalam perjalanannya menyinggahi musim-musim, memenuhi musim semi laksana sebuah gerbong besar dengan ribuan makanan yang berbeda-beda, lalu membawanya kepada para makhluk hidup malang yang perbekalannya habis di musim dingin — kapal Subhani, depo dan kedai Rabbani yang membawa seribu satu jenis perangkat, barang, dan paket-paket makanan kaleng ini: sebesar dan sesempurna apa ia melebihi pabrik itu, dengan kepastian dan kadar itu pula, menurut ukuran ilmu perbekalan pangan yang kalian pelajari dan akan kalian pelajari, ia memberitahukan, memperkenalkan, dan menjadikan dicintai pemilik depo bola bumi itu, pengaturnya, dan pengurusnya.
Sebagaimana pula sebuah pasukan yang di dalamnya terdapat empat ratus ribu bangsa — setiap bangsa rezeki yang dimintanya berbeda, senjata yang digunakannya berbeda, pakaian yang dikenakannya berbeda, pelatihannya berbeda, pembebastugasannya berbeda — lalu seorang komandan pembuat keajaiban, seorang diri, memberikan seluruh rezeki yang berbeda-beda itu, senjata-senjata, pakaian-pakaian, dan perangkat-perangkat yang beraneka macam itu tanpa melupakan satu pun dan tanpa keliru; maka pasukan dan perkemahan yang menakjubkan itu, tanpa keraguan, secara terang-benderang memperlihatkan komandan luar biasa itu dan menjadikannya dicintai penuh penghargaan. Persis seperti itu pula: di perkemahan muka bumi, dalam sebuah pasukan Subhani baru yang direkrut kembali setiap musim semi — pakaian, rezeki, senjata, pelatihan, dan pembebastugasan yang beraneka macam bagi empat ratus ribu jenis dari bangsa-bangsa tumbuhan dan hewan, diberikan dengan amat sempurna dan teratur, tanpa melupakan satu pun dan tanpa keliru, oleh satu Komandan teragung — perkemahan musim semi bola bumi itu: sebesar dan sesempurna apa ia melebihi pasukan dan perkemahan manusia tersebut, dengan ukuran ilmu kemiliteran yang akan kalian pelajari, ia memberitahukan — kepada orang-orang yang cermat dan berakal waras — Penguasa bola bumi, Rabbnya, Pengaturnya, dan Komandannya Yang Aqdas, dengan penuh ketakjuban dan pengudusan, serta menjadikan-Nya dicintai dengan tahmid dan tasbih.
Sebagaimana pula di sebuah kota menakjubkan, jutaan lampu listrik yang bergerak berkeliling ke segala tempat, dengan bahan bakar yang tak kunjung habis — lampu-lampu listrik dan pabriknya itu, tanpa keraguan, secara terang-benderang memperkenalkan seorang ahli pembuat keajaiban dan tukang listrik yang luar biasa berkemampuan, yang mengelola listrik itu, membuat lampu-lampu berjalan itu, mendirikan pabriknya, dan mendatangkan bahan-bahan bakarnya — dengan ketakjuban dan ucapan selamat, serta menjadikannya dicintai dengan sorak "hidup ia!". Persis seperti itu pula: lampu-lampu bintang di atap istana dunia di kota alam ini — yang sebagiannya, bila mengikuti perkataan kosmografi, seribu kali lebih besar dari bola bumi dan bergerak tujuh puluh kali lebih cepat dari peluru meriam — tidak merusak keteraturannya, tidak saling bertabrakan, tidak padam, bahan bakarnya tak kunjung habis. Menurut kosmografi yang kalian baca, agar matahari kita — yang sejuta kali lebih besar dari bola bumi dan berumur lebih dari sejuta tahun, sebuah lampu dan tungku-penghangat di sebuah penginapan Rahmani — terus menyala dan tidak padam, setiap hari diperlukan minyak tanah sebanyak lautan bumi, batu bara sebanyak gunung-gunungnya, atau tumpukan kayu sebanyak seribu bumi. Maka lampu-lampu listrik istana dunia di kota megah alam ini beserta pengelolaannya — yang memperlihatkan dengan jari-jari cahaya sebuah kudrat dan kerajaan tanpa batas, yang menyalakan matahari itu dan bintang-bintang luhur sepertinya tanpa minyak tanah, tanpa kayu, tanpa batu bara, tanpa memadamkannya, menjalankannya bersama-sama dengan cepat tanpa saling menabrakkan — sebesar dan sesempurna apa melebihi misal tadi: dengan ukuran ilmu listrik yang kalian pelajari atau akan kalian pelajari, sebesar itu pula ia memperkenalkan Sultan galeri pameran teragung alam ini, Pemberi Cahayanya, Pengaturnya, Shâni'-nya — dengan menjadikan bintang-bintang bercahaya itu saksi. Dengan tasbih dan taqdis ia menjadikan-Nya dicintai, menjadikan-Nya disembah-puja.
Misalnya pula: sebagaimana andaikan ada sebuah kitab yang di satu barisnya tertulis halus sebuah kitab, dan di setiap katanya tertulis dengan pena halus sebuah surah Al-Qur'an — sebuah himpunan menakjubkan yang amat penuh makna, yang seluruh persoalannya saling menguatkan, dan yang memperlihatkan penulis dan pengarangnya luar biasa mahir dan berkemampuan — tanpa keraguan, seterang siang, ia memberitahukan dan memperkenalkan penulis dan penyusunnya beserta kesempurnaan dan keahliannya; ia membuat orang menghargainya dengan kalimat "Mâsyâ Allah, bârakallâh". Persis seperti itu pula: kitab besar alam ini — yang pada satu halamannya saja, yaitu muka bumi, dan pada satu lembar cetaknya saja, yaitu musim semi, kita melihat dengan mata kepala sendiri sebuah pena bekerja menuliskan tiga ratus ribu golongan tumbuhan dan hewan — yang masing-masing laksana tiga ratus ribu kitab yang berbeda-beda — bersama-sama, satu di dalam yang lain, tanpa salah, tanpa keliru, tanpa bercampur, tanpa kacau, secara sempurna dan teratur; dan terkadang menulis sebuah kasidah di dalam satu kata seperti pohon, dan seluruh daftar isi sebuah kitab di dalam satu titik seperti biji — himpunan alam yang tanpa batas penuh makna ini, yang pada setiap katanya terdapat banyak hikmah, Al-Qur'an Akbar Alam yang berjasad ini: sebesar, sesempurna, dan sepenuh makna apa ia melebihi kitab dalam misal tadi, sebesar itu pula ilmu hikmah-benda yang kalian pelajari serta ilmu membaca dan ilmu menulis yang kalian tekuni langsung di sekolah, dengan ukuran-ukurannya yang luas dan mata teropongnya, memperkenalkan pengukir dan penulis kitab alam ini beserta kesempurnaan-Nya yang tanpa batas. Dengan kalimat "Allâhu Akbar" ia memberitahukan-Nya, dengan taqdis "Subhânallâh" ia memperkenalkan-Nya, dengan sanjungan "Alhamdulillâh" ia menjadikan-Nya dicintai. Maka, dengan mengiaskan kepada ilmu-ilmu ini: dari ratusan bidang ilmu, setiap ilmu, dengan ukurannya yang luas, cerminnya yang khusus, mata teropongnya, dan pandangan-pandangan ibrahnya, memberitahukan Sang Khâliq Dzul-Jalâl alam ini dengan asma-Nya, memperkenalkan sifat-sifat-Nya dan kesempurnaan-kesempurnaan-Nya.
Maka, demi mengajarkan hujjah tersebut — burhan wahdaniyah yang megah dan cemerlang ini — Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân dengan banyak pengulangan, paling sering dengan ayat-ayat رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ ❊ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ memperkenalkan Khâliq kita kepada kita — demikian kukatakan kepada para pemuda sekolahan itu. Mereka pun menerimanya sepenuhnya dan membenarkannya: "Syukur tanpa batas bagi Rabb kami: kami telah menerima sebuah pelajaran yang sepenuhnya kudus dan merupakan hakikat itu sendiri. Semoga Allah meridhaimu," kata mereka. Aku pun berkata:
"Manusia adalah sebuah mesin hidup yang menderita oleh ribuan macam derita dan menikmat dengan ribuan jenis kelezatan; sebuah makhluk malang yang — bersama ketidakberdayaannya yang amat sangat — memiliki musuh lahir dan batin tanpa batas, dan — bersama kefakirannya yang tanpa akhir — memiliki kebutuhan lahiriah dan batiniah tanpa batas, serta terus-menerus menerima tamparan kelenyapan dan perpisahan. Padahal, bila dengan iman dan ubudiyah ia seketika menisbatkan diri kepada Raja Dzul-Jalâl semacam itu, menemukan sebuah titik sandaran menghadapi seluruh musuhnya dan sebuah titik permohonan-pertolongan bagi seluruh kebutuhannya — sebagaimana setiap orang berbangga dengan kemuliaan dan kedudukan tuan tempat ia bernisbat — maka kiaskanlah: bila ia bernisbat dengan iman kepada Raja Yang Qadîr dan Rahîm tanpa batas itu, masuk ke dalam khidmah-Nya dengan ubudiyah, dan mengubah maklumat kemusnahan ajal — bagi dirinya — menjadi surat pembebastugasan; betapa senang dan penuh terima kasihnya ia, betapa penuh syukurnya ia dapat berbangga."
Sebagaimana kukatakan kepada para pemuda sekolahan itu, kepada para tahanan yang tertimpa musibah pun berulang kali kukatakan: Siapa yang mengenal-Nya dan menaati-Nya, meski berada di penjara bawah tanah, ia beruntung. Siapa yang melupakan-Nya, meski berada di istana-istana, ia berada di penjara, ia malang. Bahkan seorang teraniaya yang beruntung, ketika hendak dihukum mati, berkata kepada orang-orang zalim yang malang: "Aku tidak sedang dimusnahkan. Melainkan aku pergi menuju kebahagiaan dengan pembebastugasan. Namun, karena aku melihat kalian tervonis dengan kemusnahan abadi, aku pun mengambil balas dendamku dari kalian dengan sepenuhnya." Lalu dengan mengucap لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اللّٰهُ ia menyerahkan ruhnya dengan sukacita.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
Nuktah "Huwa" (Hüve Nüktesi)
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَٓائِمًا
Saudara-saudaraku yang amat mulia dan shiddîq!
Saudara-saudaraku, di dalam sebuah nuktah tauhid halus yang tampak seketika melalui penelaahan halaman udara — dalam sebuah perjalanan khayali-pikiran hanya dari sisi materi — pada lafaz هُوَ di dalam لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ dan قُلْ هُوَ اللّٰهُ, aku menyaksikan: jalan iman itu mudah tanpa batas — mudah hingga derajat keniscayaan (wujûb); sedangkan di jalan syirik dan kesesatan terdapat kesulitan tanpa batas, keterhalangan-mustahil, dan ribuan kemustahilan. Aku akan menerangkan nuktah yang luas dan panjang itu dengan isyarat yang amat singkat.
Ya, sebagaimana segenggam tanah di dalam sebuah pot yang bergiliran menjadi wadah bagi ratusan bunga: jika diserahkan kepada tabiat dan sebab-sebab, niscayalah di dalam pot itu terdapat — dalam skala kecil — ratusan, bahkan sebanyak bunga-bunga itu, mesin dan pabrik maknawi; atau setiap zarah dari tanah secuil itu harus mengetahui cara membuat seluruh bunga yang berbeda-beda itu beserta ciri khasnya yang beraneka dan perangkat hidupnya; laksana seorang ilah, ia harus memiliki ilmu tanpa batas dan kemampuan tanpa akhir. Persis seperti itu pula pada udara — sebuah 'Arasy bagi perintah dan iradah: pada setiap bagian angin dan pada udara di dalam lafaz هُوَ yang hanya sehembusan napas dan sebesar kuku, haruslah terdapat — dalam skala amat kecil — pusat-pusat, sentral-sentral, alat penerima dan pemancar dari seluruh telepon, telegraf, radio, dan percakapan-percakapan tanpa batas yang beraneka ragam di seluruh dunia, agar ia dapat melakukan pekerjaan tanpa batas itu bersama-sama dan dalam sekejap; atau setiap zarah dari setiap bagian udara di dalam هُوَ itu — bahkan dari unsur udara — harus memiliki kepribadian dan kemampuan maknawi sebanyak seluruh operator telepon, seluruh operator telegraf yang berbeda-beda, dan semua yang berbicara lewat radio; harus mengetahui bahasa mereka semua dan pada saat yang sama memberitahukannya dan menyebarkannya kepada zarah-zarah yang lain. Sebab keadaan itu secara nyata sebagiannya terlihat, dan pada seluruh bagian udara ada kemampuan itu. Maka di jalan ahli kekufuran, kaum thabî'iyyûn (naturalis), dan kaum mâddiyyûn (materialis), bukan satu kemustahilan, melainkan kemustahilan, keterhalangan, dan kesulitan sebanyak bilangan zarah terlihat dengan nyata. Namun jika diserahkan kepada Sang Shâni' Dzul-Jalâl, udara dengan seluruh zarahnya menjadi prajurit-Nya yang patuh perintah. Dengan izin dan kekuatan Khâliqnya, dengan penisbatan dan penyandaran kepada Khâliqnya, dan dengan manifestasi kudrat Shâni'-nya, tugas-tugas menyeluruhnya yang tanpa batas terlaksana — semudah satu tugas teratur dari satu zarah — dalam sekejap, dengan kecepatan kilat, semudah pengucapan هُوَ dan semudah bergelombangnya udara. Yakni: udara menjadi sehalaman bagi tulisan-tulisan pena kudrat yang tanpa batas, menakjubkan, lagi teratur; zarah-zarahnya menjadi ujung-ujung pena itu; dan tugas-tugas zarah pun menjadi titik-titik pena takdir. Ia bekerja semudah gerak satu zarah.
Maka ketika aku, dalam perjalananku dengan gerak pikiran pada لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ dan قُلْ هُوَ اللّٰهُ, menyaksikan alam udara dan menelaah halaman unsur itu, aku menyaksikan hakikat ringkas ini secara amat jelas dan terperinci, dengan 'ainul-yaqîn. Dan aku mengetahui dengan 'ilmul-yaqîn: sebagaimana di dalam lafaz هُوَ — di dalam udaranya — terdapat burhan secemerlang itu dan sebuah kilau wâhidiyah; di dalam maknanya dan isyaratnya pun terdapat manifestasi ahadiyah yang amat bercahaya dan hujjah tauhid yang amat kuat; dan karena di dalam hujjah itu terdapat qarînah (petunjuk) penentuan bagi isyarat mutlak dan samar dari kata ganti هُوَ — kepada Zat manakah ia menunjuk — maka baik Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân maupun para ahli zikir, pada maqam tauhid, banyak mengulang kata yang kudus ini.
Ya, misalnya: sebuah titik di kertas putih — bila diletakkan dua-tiga titik, ia menjadi kabur bercampur; dan seseorang menjadi bingung bila mengerjakan banyak tugas berbeda sekaligus; dan sebuah makhluk hidup kecil menjadi remuk bila dibebani banyak muatan; dan sebuah lisan dan sebuah telinga menjadi rusak tatanannya dan kacau bila banyak kata keluar dan masuk bersamaan pada saat yang sama. Padahal aku melihat dengan 'ainul-yaqîn: pada unsur udara yang kujelajahi secara pikiran dengan kunci dan kompas هُوَ, setiap bagiannya — bahkan setiap zarahnya — meski dimasuki atau dapat dimasuki ribuan titik, huruf, dan kata yang berbeda-beda, tidak bercampur dan tidak rusak tatanannya; meski melakukan amat banyak tugas yang berbeda-beda, semuanya dikerjakan tanpa kekeliruan sedikit pun; meski bagian dan zarah itu dibebani muatan-muatan yang amat berat, ia memikulnya dengan keteraturan tanpa menunjukkan kelemahan, tanpa tertinggal; dan ribuan kata yang berbeda-beda, dalam corak dan makna yang berbeda-beda, datang dan keluar pada telinga-telinga dan lisan-lisan kecil itu dengan keteraturan sempurna, tanpa bercampur sedikit pun, tanpa rusak, masuk ke telinga-telinga mungil itu dan keluar dari lisan-lisan yang amat halus itu; dan setiap zarah dan setiap bagian itu, sambil menjalankan tugas-tugas menakjubkan ini, dengan kebebasan sempurna, dengan lisan hal yang penuh jadzbah dan dengan kesaksian serta lisan hakikat tersebut, berkeliling seraya berkata لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ dan قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ; dan di tengah gelombang-gelombang yang membenturkan udara — seperti badai, kilat, halilintar, dan guruh — ia sama sekali tidak merusak tatanan dan tugas-tugasnya, tidak kacau; satu pekerjaan tidak menghalangi pekerjaan yang lain... Aku menyaksikannya dengan 'ainul-yaqîn.
Berarti: entah setiap zarah dan setiap bagian udara harus memiliki hikmah tanpa batas, ilmu dan iradah tanpa batas, kekuatan dan kudrat tanpa batas, serta ciri khas yang berkuasa mutlak atas seluruh zarah — agar dapat menjadi tumpuan pekerjaan-pekerjaan ini. Dan ini mustahil dan batil sebanyak bilangan zarah. Setan mana pun tidak dapat membawanya ke dalam benak. Kalau begitu, halaman udara ini — dengan derajat haqqul-yaqîn, 'ainul-yaqîn, dan 'ilmul-yaqîn, secara terang-benderang — adalah halaman yang senantiasa berganti dari pena kudrat dan takdir yang digerakkan Sang Dzât Dzul-Jalâl dengan ilmu dan hikmah-Nya yang tanpa batas dan tanpa ujung; dan berkedudukan sebagai papan tulis-hapus dari Lauh Mahfûzh — di alam perubahan dan di dalam urusan-urusannya yang senantiasa berganti — yang bernama Lauh Mahw-Itsbât (lauh penghapusan dan penetapan).
Maka, sebagaimana unsur udara — hanya dalam tugas pemindahan suara-suara saja — memperlihatkan manifestasi wahdaniyah tersebut dan keajaiban-keajaiban tersebut, serta menampakkan kemustahilan kesesatan yang tanpa batas; salah satu tugas penting unsur udara lainnya pula ialah: pada saat yang sama ia menjalankan tugas pemindahan suara, pada saat yang sama pula — tanpa kekeliruan, secara teratur — ia memindahkan kelembutan-kelembutan lain seperti listrik, gaya tarik, gaya tolak, dan cahaya; dan pada saat yang sama pula ia menyampaikan dengan keteraturan sempurna keperluan-keperluan yang dibutuhkan bagi kehidupan — seperti pernapasan dan penyerbukan — kepada seluruh tumbuhan dan hewan. Ia membuktikan secara pasti bahwa udara adalah sebuah 'Arasy bagi perintah dan iradah Ilahi. Dan aku memperoleh keyakinan pasti bahwa: kebetulan yang gelandangan, kekuatan yang buta, tabiat yang tuli, sebab-sebab yang kacau tanpa sasaran, dan materi-materi yang tak berdaya, beku, lagi bodoh — sama sekali tidak ada kemungkinan dan peluangnya dari sisi mana pun untuk turut campur dalam penulisan halaman udara ini dan dalam tugas-tugasnya; hal itu terbukti pada derajat 'ainul-yaqîn. Dan aku mengetahui bahwa setiap zarah dan setiap bagian, dengan lisan hal, berkata لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ dan قُلْ هُوَ اللّٰهُ اَحَدٌ. Dan sebagaimana dengan kunci هُوَ ini aku melihat keajaiban-keajaiban sisi materi udara ini; unsur udara pun, sebagai sebuah هُوَ, menjadi kunci bagi alam mitsal dan alam makna. Selebihnya, untuk saat ini, tidak didiktekan. Ribuan salam untuk semua.