Kalimat Keempat Belas
Al-Kalimat · hlm. 164
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
الٓرٰ ❊ كِتَابٌ اُحْكِمَتْ اٰيَاتُهُ ثُمَّ فُصِّلَتْ مِنْ لَدُنْ حَك۪يمٍ خَب۪يرٍ
[Kami akan mengisyaratkan sebagian padanan dari hakikat-hakikat tinggi nan luhur Al-Qur'an Al-Hakîm dan hadis — penafsir sejati Al-Qur'an — sebagai anak-anak tangga yang akan menolong kalbu-kalbu yang kurang berserah dan tunduk untuk naik kepada hakikat-hakikat itu; dan di penutupnya akan diterangkan sebuah pelajaran ibrah dan sebuah rahasia inayah. Karena padanan-padanan Kebangkitan dan Kiamat dari hakikat-hakikat itu telah disebut dalam Kalimat Kesepuluh — khususnya pada Hakikat Kesembilan-nya — tidak perlu diulang. Hanya, sebagai contoh dari hakikat-hakikat yang lain, kami sebutkan "Lima Persoalan".]
Pertama:
Misalnya: untuk meyakini hakikat luhur ayat خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ ف۪ى سِتَّةِ اَيَّامٍ — yang berarti "Kami ciptakan langit dan bumi dalam enam hari", dan yang mengisyaratkan bahwa dunia manusia dan alam hewan akan hidup selama enam hari dengan hari-hari Qur'ani yang berupa masa panjang seperti seribu dan lima puluh ribu tahun — kami perlihatkan kepada pandangan penyaksian: alam-alam yang mengalir, semesta-semesta yang berjalan, dan dunia-dunia yang berlalu, yang diciptakan Sang Fâthir Dzul-Jalâl pada setiap abad, setiap tahun, setiap hari — yang masing-masing berkedudukan sebagai satu hari. Ya, seakan-akan dunia-dunia pun, seperti manusia, adalah tamu-tamu. Pada setiap musim, dengan perintah Sang Dzât Dzul-Jalâl, alam terisi dan terkosongkan.
Kedua:
Misalnya: untuk meyakini hakikat tinggi yang diungkapkan ayat-ayat seperti وَلاَ رَطْبٍ وَلاَ يَابِسٍ اِلاَّ ف۪ى كِتَابٍ مُب۪ينٍ ❊ وَكُلَّ شَيْءٍ اَحْصَيْنَاهُ ف۪ٓى اِمَامٍ مُب۪ينٍ ❊ لاَ يَعْزُبُ عَنْهُ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ فِى السَّمٰوَاتِ وَلاَ فِى اْلاَرْضِ وَلآَ اَصْغَرُ مِنْ ذٰلِكَ وَلآَ اَكْبَرُ اِلاَّ ف۪ى كِتَابٍ مُب۪ينٍ — yakni: "Segala sesuatu, dengan seluruh keadaannya, sebelum mewujud, setelah mewujud, dan setelah pergi: telah tertulis, akan dituliskan, dan sedang dituliskan" — kami perlihatkan kepada pandangan penyaksian: Sang Pengukir Dzul-Jalâl menyisipkan dan memelihara secara maknawi — di dalam biji-biji, benih-benih, dan akar-akar — daftar isi wujud, riwayat hidup, dan kaidah-kaidah gerak dari makhluk-makhluk teratur tanpa batas yang diganti-Nya pada halaman muka bumi di setiap musim, terlebih di musim semi; dan setelah kelenyapannya, Dia menuliskannya persis — dengan pena takdir, secara maknawi — di dalam benih-benih kecilnya yang sederhana, pada buah-buahnya; bahkan pada setiap musim semi yang berlalu, apa pun yang basah dan kering dipelihara-Nya dengan keteraturan sempurna di dalam benih-benih dan kayu-kayu mati yang berkedudukan sebagai zarah-zarah dan tulang-tulang yang terbatas. Seakan-akan setiap musim semi, laksana sekuntum bunga, dengan amat teratur dan berirama, dipasang dan dipetik, diletakkan dan diangkat pada muka bumi oleh tangan seorang Jamîl dan Jalîl. Padahal hakikatnya demikian, kesesatan manusia yang paling mencengangkan ialah ini: penulisan fitri ini — yang hanyalah sebuah manifestasi pantulan dari Lauh Mahfûzh, halaman pena takdir, dan merupakan daftar isi seni Rabbani, yang di lisan ahli kelalaian disebut "tabiat" — ukiran seni ini, misthar hikmah yang pasif ini, mereka anggap "tabiat yang berpengaruh", mereka pandang sebagai sumber dan pelaku. اَيْنَ الثَّرَا مِنَ الثُّرَيَّا — Di mana hakikat? Di mana anggapan-anggapan ahli kelalaian?
Ketiga:
Misalnya: untuk naik kepada hakikat yang digambarkan Sang Pengabar Jujur صلى الله عليه وسلم mengenai para pemikul 'Arasy, malaikat-malaikat yang diserahi tugas atas bumi dan langit, dan sebagian malaikat lainnya — misalnya bahwa mereka berkepala empat puluh ribu, pada setiap kepala empat puluh ribu lisan, dan pada setiap lisan bertasbih dalam empat puluh ribu cara — hakikat yang mengungkapkan keteraturan, kemenyeluruhan, dan keluasan ubudiyah mereka, perhatikanlah ini: Sang Dzât Dzul-Jalâl menegaskan dengan ayat-ayat seperti تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوَاتُ السَّبْعُ وَاْلاَرْضُ وَمَنْ ف۪يهِنَّ ❊ وَ سَخَّرْنَا الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ مَعَهُ ❊ اِنَّا عَرَضْنَا اْلاَمَانَةَ عَلَى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَالْجِبَالِ bahwa: makhluk yang terbesar dan paling menyeluruh pun bertasbih menurut kemenyeluruhannya dan dengan cara yang sesuai keagungannya — dan memang demikianlah tampaknya. Ya, sebagaimana kata-kata tasbih dari langit — sebuah lautan yang bertasbih ini — ialah matahari-matahari, bulan-bulan, dan bintang-bintang; lafaz-lafaz tahmid dari bumi — seekor burung yang bertasbih dan memuji ini — pun ialah hewan-hewan, tumbuh-tumbuhan, dan pepohonan. Berarti, sebagaimana setiap pohon dan setiap bintang memiliki tasbih juz'inya masing-masing; bumi pun, dan setiap benua bumi, dan setiap gunung dan lembah, dan darat dan lautnya, dan setiap falak langit, dan setiap gugusannya, memiliki sebuah tasbih menyeluruh. Maka bumi yang berkepala ribuan ini — yang pada setiap kepalanya terdapat ratusan ribu lisan, dan pada setiap lisan ratusan ribu cara tasbih — tentu memiliki seorang malaikat yang diserahi tugas atasnya, yang akan menerjemahkan dan memperlihatkan bunga-bunga tasbihnya dan buah-buah tahmidnya di alam mitsal, serta mewakilinya dan memaklumkannya di alam arwah.
Ya, bila benda-benda yang berbilang masuk ke dalam bentuk sebuah jamaah, ia akan memiliki sebuah pribadi maknawi. Jika perhimpunan itu berbaur dan mengambil bentuk persatuan, akan ada sebuah pribadi maknawi yang mewakilinya, semacam ruh maknawi, dan seorang malaikat yang diserahi tugas yang akan menjalankan tugas tasbihnya. Maka lihatlah, sebagai misal, pohon cinar (platanus) di depan kamar kami ini — sebuah kata agung dari mulut Barla ini, dari lisan gunung ini — lihatlah: pada setiap kepala dari tiga kepala pohon itu, berapa ratus lisan dahan; dan pada setiap lisan, lihatlah, berapa ratus kata buah yang berirama dan teratur; dan pada setiap buah, cermatilah, berapa ratus huruf benih bersayap yang berirama. Sebagaimana engkau mendengar dan melihat betapa fasih-mengenanya pujian dan betapa fasihnya tasbih yang ia haturkan kepada Sang Shâni' Dzul-Jalâl-nya, pemilik perintah كُنْ فَيَكُونُ; malaikat yang diserahi tugas atasnya pun mewakili tasbihnya di alam makna dengan lisan-lisan yang berbilang menurut kadar itu — dan secara hikmah memang harus demikian.
Keempat:
Misalnya: hakikat luhur yang diungkapkan ayat-ayat seperti اِنَّمَٓا اَمْرُهُٓ اِذَٓا اَرَادَ شَيْئًا اَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ ❊ وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ ❊ وَ نَحْنُ اَقْرَبُ اِلَيْهِ مِنْ حَبْلِ الْوَر۪يدِ ❊ تَعْرُجُ الْمَلٰٓئِكَةُ وَالرُّوحُ اِلَيْهِ ف۪ى يَوْمٍ كَانَ مِقْدَارُهُ خَمْس۪ينَ اَلْفَ سَنَةٍ — bahwa Sang Qadîr Mutlak menciptakan benda-benda dengan kemudahan dan kecepatan sedemikian rupa, tanpa pengolahan dan tanpa sentuhan langsung, hingga tampak dan terpahami seakan Dia mencipta semata-mata dengan sebuah perintah. Lagi pula Sang Shâni' Qadîr itu, meski amat dekat kepada ciptaan, ciptaan amat jauh dari-Nya. Lagi pula, bersama kebesaran-Nya yang tanpa batas, urusan yang paling juz'i dan hina pun tidak Dia biarkan di luar penataan yang penuh perhatian dan keelokan seni. Maka, sebagaimana keteraturan tersempurna di dalam kemudahan mutlak yang tersaksikan pada para makhluk bersaksi bagi keberadaan hakikat Qur'ani ini; tamsil berikut pun memperlihatkan rahasia hikmahnya. Misalnya: وَ لِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى — tugas-tugas yang diperoleh matahari — yang berkedudukan sebagai sebuah cermin pekat bagi nama "Nûr" dari Asmaul Husna Sang Shâni' Dzul-Jalâl — melalui perintah Rabbani dan penundukan Ilahi, mendekatkan hakikat ini kepada pemahaman. Yaitu:
Matahari, bersama ketinggiannya, amat dekat — tanpa batas — kepada segala yang bening dan berkilau; bahkan lebih dekat kepada mereka daripada diri mereka sendiri; ia memengaruhi mereka dengan manifestasinya, dengan bayangannya, dan dengan banyak sisi yang menyerupai pengaturan. Padahal benda-benda bening itu beribu-ribu tahun jauhnya darinya. Mereka sama sekali tidak dapat memengaruhinya, tidak dapat mendakwakan kedekatan. Lagi pula, bahwa matahari itu seakan hadir dan mengawasi di setiap zarah yang bening — bahkan di mana pun cahayanya masuk — dipahami dari tampaknya pantulan dan semacam bayangan matahari menurut kemampuan dan warna zarah itu. Lagi pula, sekadar keagungan sifat-cahaya (nûrâniyah) matahari, liputan dan penetrasinya bertambah. Dari keagungan nûrâniyah-lah benda-benda terkecil dan terhalus tidak dapat bersembunyi dan lari darinya. Berarti keagungan kebesarannya, dengan rahasia nûrâniyah, bukan melemparkan benda-benda juz'i dan kecil keluar; sebaliknya, mengambil mereka ke dalam lingkaran liputannya. Lagi pula, seandainya — sebagai pengandaian yang mustahil — kita andaikan matahari sebagai pelaku yang berikhtiar bebas dalam manifestasi dan tugas-tugas yang diperolehnya: ia bekerja dengan izin Ilahi dalam kemudahan, kecepatan, dan keluasan sedemikian rupa — dari zarah, dari tetesan, dari permukaan laut hingga planet-planet — hingga dapat dibayangkan bahwa pengaturan-pengaturan agung itu ia lakukan hanya dengan semata-mata perintah. Zarah dan planet setara di hadapan perintahnya. Limpahan yang ia berikan ke permukaan laut, ia berikan pula kepada zarah menurut kemampuannya, dengan keteraturan sempurna. Maka kita melihat: matahari ini — sebuah gelembung bercahaya di permukaan lautan langit, sebuah cermin kecil yang pekat bagi manifestasi nama "Nûr" Sang Qadîr Mutlak — secara tersaksikan memperoleh contoh-contoh dari tiga asas hakikat ini. Tentulah — sedangkan cahaya dan panas matahari, dibanding ilmu dan kudrat-Nya, laksana tanah yang pekat — Sang Dzât Dzul-Jalâl, "Nûrun-Nûr, Munawwirun-Nûr, Muqaddirun-Nûr": kami beriman dengan keyakinan imani pada derajat penyaksian — dan wajib beriman — bahwa Dia, dengan ilmu dan kudrat-Nya, tanpa batas dekat kepada segala sesuatu, hadir dan mengawasi, sedangkan benda-benda amat jauh dari-Nya; dan bahwa Dia mengerjakan segala pekerjaan tanpa beban, tanpa pengolahan, dengan kemudahan sedemikian rupa hingga dipahami seakan Dia mencipta hanya dengan kecepatan dan kemudahan semata-mata perintah; dan bahwa tak satu pun benda — juz'i maupun kulli, kecil maupun besar — keluar dari lingkaran kudrat-Nya, dan kebesaran-Nya meliputi segala.
Kelima:
Dari وَمَا قَدَرُوا اللّٰهَ حَقَّ قَدْرِه۪ وَاْلاَرْضُ جَم۪يعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَالسَّمٰوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَم۪ينِه۪ hingga وَاعْلَمُٓوا اَنَّ اللّٰهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِه۪.. dan dari اَللّٰهُ خَالِقُ كُلِّ شَيْءٍ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ وَك۪يلٌ hingga يَعْلَمُ مَا يُسِرُّونَ وَمَا يُعْلِنُونَ.. dan dari خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ hingga خَلَقَكُمْ وَمَا تَعْمَلُونَ.. dan dari مَا شَٓاءَ اللّٰهُ لاَ قُوَّةَ اِلاَّ بِاللّٰهِ hingga وَمَا تَشَٓاؤُنَ اِلآَّ اَنْ يَشَٓاءَ اللّٰهُ — Sang Sultan Azal dan Abad, yang memegang batas-batas keagungan rububiyah dan kebesaran uluhiyah itu, terhadap anak Adam — yang tak berdaya ini, yang tanpa batas lemah, tanpa batas fakir, tanpa batas membutuhkan, dan hanya diperlengkapi sebuah ikhtiar juz'i serta sebuah usaha (kasb) yang lemah tanpa kemampuan mencipta — mengapakah pengaduan-pengaduan Qur'ani-Nya yang keras, ancaman-ancaman-Nya yang agung, dan peringatan-ancaman-Nya yang dahsyat itu; atas hikmah apakah ia berdiri; dengan sisi apa diselaraskan; dengan bentuk apa menjadi sesuai? Untuk meyakini hakikat yang dalam dan tinggi ini, pandanglah dua tamsil berikut:
Tamsil Pertama:
Misalnya ada sebuah kebun nan megah, yang di dalamnya terdapat ciptaan-ciptaan berbuah dan berbunga tanpa batas. Untuk mengawasinya ditetapkan amat banyak pelayan. Tugas salah seorang pelayan hanyalah membuka tutup lubang pada saluran air yang akan dialirkan dan diminum di kebun itu. Lalu pelayan itu bermalas-malasan, tidak membuka tutup lubang itu. Kesempurnaan kebun itu terganggu, atau ia mengering. Ketika itu, selain seni Rabbani Sang Khâliq, pengawasan agung Sang Sultan, dan khidmah penghambaan cahaya, udara, dan tanah — seluruh pelayan yang lain berhak mengadu atas si dungu itu. Sebab ia menjadikan khidmah mereka mandul atau merugikannya.
Tamsil Kedua:
Misalnya di sebuah kapal kerajaan yang besar: karena seorang biasa meninggalkan tugas juz'inya, hasil-hasil khidmah seluruh petugas kapal terganggu dan sebagiannya hancur; maka atas nama seluruh petugas itu, pemilik kapal mengadukan dia dengan keras. Si pemilik kesalahan tidak dapat berkata: "Aku hanyalah orang biasa; aku tak pantas menerima kekerasan ini karena kelalaianku yang tak berarti." Sebab satu ketiadaan menghasilkan ketiadaan-ketiadaan tanpa batas. Sedangkan wujud memberikan buah menurut dirinya sendiri. Sebab wujud sesuatu bergantung pada wujud seluruh syarat dan sebabnya; sedangkan ketiadaannya, padamnya, terjadi — dari segi hasil — dengan padamnya satu syarat saja dan tiadanya satu bagian saja. Dari sinilah "menghancurkan jauh berkali-kali lebih mudah daripada memperbaiki" telah menjadi kaidah yang maklum-umum. Madem asas-asas kekufuran dan kesesatan, thughyân dan kemaksiatan, adalah pengingkaran dan penolakan, peninggalan dan ketidakmenerimaan. Betapa pun dalam rupa lahiriahnya tampak positif dan berwujud, pada hakikatnya ia adalah pemadaman, ketiadaan. Kalau begitu, ia adalah kejahatan yang menjalar. Sebagaimana ia merusak hasil-hasil amal para makhluk yang lain, ia pun menutupkan tirai atas manifestasi keindahan asma Ilahi.
Maka atas nama para makhluk yang berhak mengadu tanpa batas ini, Sultan para makhluk itu mengadukan dengan agung manusia yang durhaka ini — dan pengaduan-Nya adalah hikmah itu sendiri; dan si durhaka itu tentu berhak atas ancaman-ancaman yang keras, dan tanpa keraguan layak atas peringatan-peringatan yang dahsyat.
Hâtime
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
وَمَا الْحَيٰوةُ الدُّنْيَٓا اِلاَّ مَتَاعُ الْغُرُورِ
[Sebuah palu godam bagi kepala yang lalai dan sebuah pelajaran ibrah.]
Wahai nafsuku yang malang, yang tenggelam dalam kelalaian, memandang manis hidup ini, melupakan akhirat, dan menghendaki dunia! Tahukah engkau menyerupai apa? Burung unta... Ia melihat pemburu, tak dapat terbang; ia membenamkan kepalanya ke pasir, agar pemburu tidak melihatnya. Tubuhnya yang besar tetap di luar. Pemburu melihatnya. Hanya ia sendiri yang memejamkan matanya di dalam pasir, tidak melihat.
Wahai nafsu! Pandanglah tamsil ini, lihatlah: betapa memusatkan pandangan hanya pada dunia mengubah sebuah kelezatan yang mulia menjadi derita yang pedih.
Misalnya: di kampung ini (yakni di Barla) ada dua orang. Sembilan puluh sembilan persen sahabat orang pertama telah pergi ke İstanbul. Mereka hidup dengan baik. Hanya satu yang tersisa di sini; ia pun akan pergi ke sana. Karena itu orang ini merindukan İstanbul, memikirkannya. Ia ingin berjumpa para sahabat. Kapan pun dikatakan kepadanya "Pergilah ke sana", ia pergi dengan gembira dan tertawa. Adapun orang kedua: sembilan puluh sembilan persen kawannya telah pergi dari sini. Sebagiannya, ia sangka, telah binasa. Sebagiannya dijebloskan ke tempat-tempat yang tak melihat dan tak terlihat. Mereka pergi berantakan — demikian sangkanya. Orang malang ini, sebagai ganti mereka semua, hendak mencari keakraban dengan satu tamu saja untuk mendapatkan penghiburan. Dengannya ia hendak menutupi derita-derita perpisahan yang pedih itu.
Wahai nafsu! Yang terdepan Habîbullâh صلى الله عليه وسلم — seluruh sahabatmu berada di sisi lain kubur. Satu-dua yang tersisa di sini pun sedang pergi. Janganlah lari ketakutan dari maut, jangan takut kepada kubur lalu memalingkan kepala. Pandanglah kubur dengan jantan, dengarkan apa yang ia minta. Tertawalah ke wajah maut dengan gagah laki-laki, lihatlah apa yang ia kehendaki. Janganlah sekali-kali lalai dan menyerupai orang kedua itu.
Wahai nafsuku! Janganlah berkata: "Zaman telah berubah, abad telah berganti rupa; semua orang tenggelam dalam dunia, memuja-nyembah kehidupan, mabuk oleh kepayahan mencari penghidupan." Sebab maut tidak berubah. Perpisahan tidak berganti rupa menjadi kekekalan. Ketidakberdayaan manusia, kefakiran insani tidak berubah — malah bertambah. Perjalanan manusia tidak terputus — malah bertambah cepat.
Jangan pula berkata: "Aku pun seperti semua orang." Sebab semua orang menemanimu hanya sampai pintu kubur. Penghiburan berupa "bersama semua orang di dalam musibah" amat tak berdasar di sisi lain kubur. Jangan pula menyangka dirimu tak berpengurus. Sebab jika engkau memandang penginapan dunia ini dengan pandangan hikmah, engkau tidak melihat satu pun yang tanpa tatanan, tanpa tujuan. Bagaimana mungkin engkau tinggal tanpa tatanan, tanpa tujuan? Peristiwa-peristiwa alam seperti gempa bukanlah mainan kebetulan. Misalnya: engkau melihat kemeja-kemeja amat teratur dan amat berukir dari jenis-jenis tumbuhan dan hewan yang dikenakan kepada bumi berlapis-lapis, satu di atas yang lain, satu di dalam yang lain — dari ujung ke ujung terhias dan terlengkapi dengan tujuan-tujuan dan hikmah-hikmah; dan engkau mengetahui bumi diputar berkeliling dengan keteraturan sempurna di dalam tujuan-tujuan amat tinggi, laksana seorang Maulawi yang majdzûb. Lalu bagaimana bisa peristiwa-peristiwa kehidupan bumi yang berlumur maut — seperti gempa {(Hasyiyah): Ditulis berkenaan dengan gempa İzmir.}, yang menyerupai pengedikan bahu bola bumi dari beban maknawi sebagian perilaku kelalaian yang tidak ia sukai dari anak Adam, khususnya dari ahli iman — disangka tanpa tujuan dan kebetulan, sebagaimana disiarkan seorang mulhid; sehingga menampilkan kehilangan pedih seluruh korban musibah sebagai tanpa imbalan, terhambur sia-sia, dan mencampakkan mereka ke dalam keputusasaan yang dahsyat? Mereka melakukan kesalahan besar sekaligus kezaliman besar. Bahkan peristiwa-peristiwa semacam itu, dengan perintah seorang Hakîm Yang Rahîm, mengubah harta fana ahli iman menjadi berkedudukan sedekah dan mengekalkannya; dan menjadi kafarat bagi dosa-dosa yang lahir dari pengingkaran nikmat. Sebagaimana akan datang suatu hari: bumi yang ditundukkan ini memandang karya-karya manusia — perhiasan wajahnya — bercampur syirik, tanpa syukur, lalu mendapatinya buruk. Dengan perintah Sang Khâliq, dengan sebuah gempa besar, ia menyapu seluruh wajahnya, membersihkannya. Dengan perintah Allah ia menumpahkan ahli syirik ke Jahannam. Kepada ahli syukur ia berkata: "Mari, silakan masuk Surga."
Zail Kalimat Keempat Belas
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
اِذَا زُلْزِلَتِ اْلاَرْضُ زِلْزَالَهَا ❊ وَاَخْرَجَتِ اْلاَرْضُ اَثْقَالَهَا ❊ وَ قَالَ اْلاِنْسَانُ مَالَهَا ❊ يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَارَهَا ❊ بِاَنَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَا ❊ الخ
Surah ini secara pasti mengungkapkan: bola bumi, dalam gerak dan gempanya, bergoncang di bawah perintah, memperoleh wahyu dan ilham. Terkadang ia pun gemetar.
[Dari sebuah arah maknawi yang penting, berkenaan dengan gempa saat ini, jawaban-jawaban atas enam-tujuh pertanyaan juz'i datang ke kalbu dengan pertolongan peringatan maknawi. Berkali-kali aku berniat menuliskannya secara terperinci, namun tidak diizinkan. Hanya akan dituliskan singkat secara ringkas.]
Pertanyaan Pertama:
Sebagai musibah maknawi yang lebih pedih daripada musibah materi gempa besar ini: ketakutan dan keputusasaan yang lahir dari berlanjutnya gempa ini merampas istirahat malam kebanyakan orang di kebanyakan negeri, memberikan azab yang mengerikan — mengapa demikian?
Jawaban secara maknawi pula, dikatakan begini: Pada waktu tarawih Ramadhan yang mulia, dengan kegembiraan dan sukacita penuh, secara mabuk-mabukan, lagu-lagu yang amat penuh hawa — terkadang dengan suara gadis-gadis — diperdengarkan secara memikat melalui mulut radio di setiap sudut pusat Islam yang berberkah ini: itulah yang menghasilkan azab ketakutan ini.
Pertanyaan Kedua:
Mengapa tamparan samawi ini tidak menimpa kepala orang-orang kafir di negeri-negeri mereka? Mengapa ia turun kepada kaum muslimin yang malang ini?
Jawaban: Sebagaimana kesalahan-kesalahan dan kejahatan-kejahatan besar ditangguhkan dan diadili di pusat-pusat besar, sedangkan kejahatan-kejahatan kecil disegerakan di pusat-pusat kecil; berdasarkan sebuah hikmah yang penting, bagian terbesar kejahatan ahli kekufuran ditangguhkan kepada Mahkamah Kubrâ Kebangkitan, sedangkan kesalahan ahli iman sebagiannya dihukum di dunia ini. {(Hasyiyah): Lagi pula orang-orang seperti Rusia, karena meninggalkan agama yang telah mansûkh dan telah diubah-ubah, tidak menyentuh ghirah Allah hingga derajat pengkhianatan terhadap agama yang haq, abadi, dan tak dapat dihapus; maka bumi untuk saat ini membiarkan mereka, dan memurkai mereka ini.}
Pertanyaan Ketiga:
Apakah sebab musibah yang lahir dari kesalahan sebagian pribadi ini mengambil bentuk umum sampai derajat tertentu di negeri ini?
Jawaban: Karena musibah umum lahir dari kesalahan mayoritas: kebanyakan manusia, dengan menjadi pendukung gerak-gerik pribadi-pribadi zalim itu — secara perbuatan, atau keberpihakan, atau bergabung — turut serta secara maknawi dan menyebabkan musibah yang menyeluruh.
Pertanyaan Keempat:
Madem musibah gempa ini adalah hasil kesalahan-kesalahan dan kafarat dosa-dosa; mengapa orang-orang tak bersalah dan tak berdosa ikut terbakar di dalam musibah itu? Bagaimana keadilan Allah mengizinkannya?
Jawaban dari arah maknawi pula: Karena persoalan ini berkaitan dengan rahasia takdir, kami serahkan kepada Risale-i Kader (Risalah Qadar); di sini hanya dikatakan sekadar ini: وَاتَّقُوا فِتْنَةً لاَ تُص۪يبَنَّ الَّذ۪ينَ ظَلَمُوا مِنْكُمْ خَٓاصَّةً — Yakni: "Takutlah kalian terhadap bencana, musibah, yang bila datang tidak khusus menimpa orang-orang zalim saja, melainkan membakar pula orang-orang tak bersalah."
Rahasia ayat ini ialah: dunia ini adalah medan uji coba dan ujian, negeri pembebanan (taklîf) dan perjuangan. Ujian dan pembebanan menghendaki hakikat-hakikat tetap bertirai, agar dengan perlombaan dan perjuangan para Abû Bakr naik ke a'lâ 'illiyyîn dan para Abû Jahl masuk ke asfala sâfilîn. Seandainya orang-orang tak bersalah tetap selamat dalam musibah-musibah semacam ini, para Abû Jahl akan berserah persis seperti para Abû Bakr; pintu kenaikan maknawi melalui perjuangan akan tertutup dan rahasia taklîf akan rusak.
Madem secara hikmah Ilahi orang teraniaya harus jatuh ke dalam musibah bersama orang zalim; gerangan apakah bagian para teraniaya malang itu dari rahmat dan keadilan?
Sebagai jawaban atas pertanyaan ini dikatakan: Di dalam murka dan amarah pada musibah itu terdapat sebuah manifestasi rahmat bagi mereka. Sebab, sebagaimana harta fana orang-orang tak bersalah itu menjadi sedekah bagi mereka dan berubah menjadi berkedudukan harta yang kekal; hidup mereka yang fana pun — dengan berkedudukan sebagai semacam mati syahid — memperoleh kehidupan yang kekal; maka gempa yang memberikan keuntungan besar dan kekal dengan kepayahan dan azab yang relatif sedikit dan sementara ini, bagi mereka, adalah sebuah rahmat di dalam murka itu sendiri.
Pertanyaan Kelima:
Yang 'Âdil dan Rahîm, Qadîr dan Hakîm — mengapa Dia tidak memberikan hukuman khusus bagi kesalahan-kesalahan khusus, melainkan mengerahkan sebuah unsur raksasa? Bagaimana keadaan ini sesuai dengan keindahan rahmat-Nya dan keluasan-cakupan kudrat-Nya?
Jawaban: Sang Qadîr Dzul-Jalâl telah memberikan banyak tugas kepada setiap unsur, dan pada setiap tugas Dia menghasilkan banyak buah. Jika pada satu tugas sebuah unsur satu buahnya buruk, jahat, dan musibah; buah-buah baik yang lain menjadikan buah itu pun berkedudukan baik. Jika unsur yang murka kepada manusia itu dihalangi dari tugas itu agar satu buah buruk itu tidak mewujud; maka kebaikan sebanyak buah-buah baik itu ditinggalkan; dan karena tidak melakukan sebuah kebaikan yang wajib adalah keburukan, keburukan sebanyak kebaikan itu dilakukan — hanya agar satu keburukan tidak datang: ini adalah cacat yang amat buruk, bertentangan dengan hikmah, bertentangan dengan hakikat. Kudrat, hikmah, dan hakikat tersucikan dari cacat.
Madem sebagian kesalahan adalah kedurhakaan yang begitu menyeluruh hingga membuat unsur-unsur dan bumi murka, dan merupakan pelanggaran penuh penghinaan atas hak banyak makhluk. Tentu, demi memperlihatkan keburukan luar biasa kejahatan itu, diperintahkannya sebuah unsur raksasa — di dalam tugas menyeluruhnya — "Didiklah mereka" adalah hikmah itu sendiri, keadilan itu sendiri, dan bagi para teraniaya rahmat itu sendiri.
Pertanyaan Keenam:
Ahli kelalaian menyiarkan bahwa gempa adalah hasil pergolakan mineral di dalam bola bumi, memandangnya laksana kejadian kebetulan, alami, dan tanpa maksud. Mereka tidak melihat sebab-sebab dan hasil-hasil maknawi kejadian ini, agar mereka tersadar. Apakah ada hakikat pada materi yang mereka sandari?
Jawaban: Tidak ada hakikatnya selain kesesatan. Sebab: bola bumi setiap tahun mengenakan dan mengganti lima puluh juta lebih kemeja berukir nan teratur; dan pada satu jenis saja dari ribuan jenis di atasnya — misalnya golongan lalat — dari individu-individunya yang tanpa batas, satu individu saja, dari ratusan anggota tubuhnya, satu anggota saja — yaitu sayapnya — memperoleh manifestasi kesengajaan, iradah, masyî'ah, dan hikmah; ia tidak diacuhkan dan tidak dibiarkan begitu saja. Ini menunjukkan bahwa: jangankan perbuatan dan keadaan penting dari bola bumi raksasa — buaian, ibu, rujukan, dan pelindung makhluk berkesadaran yang tanpa batas itu — bahkan tak satu pun perkara, juz'i maupun kulli, berada di luar iradah, ikhtiar, dan kesengajaan Ilahi. Namun Sang Qadîr Mutlak, dengan tuntutan hikmah-Nya, menjadikan sebab-sebab lahiriah tirai bagi pengaturan-pengaturan-Nya. Ketika Dia menghendaki gempa, terkadang Dia pun memerintahkan sebuah lapisan mineral bergerak, menyalakannya. Andaipun terjadi melalui pergolakan mineral, ia tetap terjadi dengan perintah dan hikmah Ilahi; tidak bisa lain. Misalnya: seseorang menembak orang lain dengan sebuah senapan. Bila orang yang menembak sama sekali tak dipandang, dan pandangan hanya dipusatkan pada titik terbakarnya mesiu di dalam peluru, lalu hak si terbunuh yang malang disia-siakan sepenuhnya — betapa pandir dan gilanya. Persis seperti itu pula: melupakan perintah Rabbani "nyalakan" — yang ditujukan untuk membangunkan ahli kelalaian dan thughyân — atas sebuah bom yang disimpan dengan hikmah dan iradah di dalam bola bumi, petugas yang ditundukkan milik Sang Qadîr Dzul-Jalâl, bahkan sebuah kapal-Nya, sebuah pesawat-Nya; lalu menyimpang kepada tabiat — adalah kedunguan yang paling buruk.
Penyempurna dan Hasyiyah Pertanyaan Keenam:
Ahli kesesatan dan ilhad, demi mempertahankan jalan mereka serta melawan dan menghalangi tersadarnya ahli iman, menunjukkan pembangkangan yang begitu aneh dan kedunguan yang begitu ajaib, hingga membuat manusia menyesal atas kemanusiaannya. Misalnya: karena alam dan unsur-unsur menyeluruh murka oleh kedurhakaan manusia akhir zaman yang penuh kezaliman dan kegelapan, yang telah mengambil bentuk keumuman; dan karena Khâliq bumi dan langit — bukan dengan rububiyah yang khusus, melainkan selaku Rabb dan Penguasa seluruh alam, seluruh dunia — dengan tajalli yang menyeluruh dan luas, di dalam keseluruhan himpunan alam dan di lingkaran rububiyah yang menyeluruh, demi membangunkan jenis manusia, menghentikannya dari thughyân-nya yang dahsyat, dan memperkenalkan Sultan alam yang tidak mau mereka kenal — dari air, udara, dan listrik yang tiada banding dan tak terputus, hingga gempa, badai, dan bencana umum nan dahsyat seperti perang dunia, Dia hantamkan ke wajah jenis manusia; dan dengan itu Dia perlihatkan secara amat nyata hikmah-Nya, kudrat-Nya, keadilan-Nya, qayyûmiyah-Nya, iradah-Nya, dan kekuasaan-Nya. Meski demikian, sebagian setan dungu berupa manusia menjawab isyarat-isyarat Rabbani yang menyeluruh itu dan tarbiyah Ilahi itu dengan pembangkangan yang pandir; mereka berkata: "Ini tabiat; letusan sebuah lapisan mineral, kebetulan. Panas matahari yang bertumbukan dengan listrik: itulah yang menghentikan seluruh mesin di Amerika selama lima jam, dan yang memerahkan langit di angkasa wilayah Kastamonu, memberinya rupa kebakaran" — mereka mengigau tanpa makna. Karena kebodohan tanpa batas yang lahir dari kesesatan dan pembangkangan buruk yang tumbuh dari zindiqah, mereka tidak tahu: sebab-sebab hanyalah dalih-dalih, tirai-tirai. Untuk menenun dan menumbuhkan perangkat sebatang pohon pinus sebesar gunung, diperlukan seratus pabrik dan bengkel sebesar sebuah kampung; namun ia menunjukkan biji kecil mungil itu dan berkata: "Pohon ini keluar dari ini" — laksana mengingkari seribu mukjizat yang diperlihatkan Shâni'-nya pada pohon pinus itu, dengan menampilkan sebagian sebab lahiriah. Ia meniadakan sebuah perbuatan rububiyah Sang Khâliq yang amat besar, yang bekerja dengan ikhtiar dan hikmah. Terkadang, kepada sebuah hakikat yang amat dalam, tak terketahui, dan amat penting, yang memiliki hikmah dari seribu sisi, mereka sematkan sebuah nama ilmiah. Seakan dengan nama itu hakikat-dirinya terpahami; ia menjadi biasa, tinggal tanpa hikmah, tanpa makna.
Maka datanglah! Lihatlah derajat-derajat kepandiran dan kedunguan yang tanpa batas itu: sebuah hakikat yang tak diketahui, dalam dan luas — yang baru terketahui sepenuhnya bila diuraikan dengan seratus halaman dan diterangkan hikmah-hikmahnya — mereka sematkan padanya sebuah nama; seakan sesuatu yang sudah maklum: "Ini adalah itu," katanya. Misalnya: "Ini adalah tumbukan sebuah materi matahari dengan listrik." Lagi pula, sebuah kejadian rububiyah yang khusus dan disengaja mereka kembalikan kepada salah satu undang-undang fitri — yang masing-masing merupakan gelar dari sebuah iradah menyeluruh, sebuah ikhtiar umum, dan sebuah kekuasaan atas jenis, dan yang disebut dengan nama "âdatullâh". Dengan pengembalian itu, mereka putuskan hubungannya dengan iradah yang berikhtiar; kemudian mereka serahkan kepada kebetulan, kepada tabiat. Mereka menunjukkan kebodohan berlipat melebihi Abû Jahl. Ia menjadi seorang gila yang durhaka — laksana menyandarkan perang kemenangan seorang prajurit atau sebuah batalyon kepada tatanan dan undang-undang kemiliteran, lalu memutuskan hubungannya dari komandannya, rajanya, pemerintahnya, dan dari gerakan yang disengaja. Lagi pula, sebagaimana penciptaan pohon berbuah dari sebuah biji: bila seorang ahli yang penuh mukjizat membuat dari sepotong kayu sebesar kuku seratus okka makanan yang beraneka dan seratus hasta kain yang beraneka, lalu seseorang menunjuk potongan kayu itu dan berkata: "Pekerjaan-pekerjaan ini terjadi darinya secara alami dan kebetulan," dan meniadakan seni-seni menakjubkan serta keahlian-keahlian sang ahli itu — betapa besar kedunguannya. Persis seperti itu pula...
Pertanyaan Ketujuh:
Dari mana dipahami bahwa peristiwa bumi ini memandang penduduk Islam negeri ini dan menjadikan mereka sasaran; dan mengapa ia lebih menyentuh wilayah Erzincan dan İzmir?
Jawaban: Peristiwa ini terjadi khusus pada musim dingin yang keras, pada malam yang gelap, dalam dingin yang mengerikan; khusus pada negeri yang tidak menjaga kehormatan Ramadhan; dan karena mereka tidak tersadar oleh penghancurannya, gempa itu berlanjut untuk membangunkan orang-orang lalai secara perlahan — dengan penunjukan banyak tanda seperti ini: peristiwa ini menjadikan ahli iman sasaran, memandang mereka, mengguncang mereka untuk membangunkan kepada shalat dan munajat; dan ia sendiri pun gemetar. Adapun lebih kerasnya guncangan di tempat-tempat seperti Erzincan yang malang, ada dua sisinya:
Pertama: Karena kesalahan mereka sedikit, disegerakan untuk membersihkan mereka.
Kedua: Karena di tempat-tempat semacam itu para penjaga iman yang kuat dan hakiki serta para pelindung Islam sedikit atau kalah sepenuhnya, ada kemungkinan kaum zindiqah — dengan kesempatan itu — mendirikan pusat kegiatan yang berpengaruh di sana; maka tempat-tempat itulah yang paling awal ditampar. Ada kemungkinannya.
لاَ يَعْلَمُ الْغَيْبَ اِلاَّ اللّٰهُ
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ