Kalimat Kelima Belas
Al-Kalimat · hlm. 176
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَٓاءَ الدُّنْيَا بِمَصَاب۪يحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاط۪ينِ
Wahai tuan sekolahan yang benaknya menyempit oleh persoalan-persoalan kosmografi yang tak beruh, yang akalnya turun ke matanya, dan yang tak mampu menempatkan rahasia agung ayat ini di benaknya yang terhimpit itu! Langit ayat ini dapat didaki dengan sebuah tangga bertujuh anak tangga. Mari, kita akan naik bersama!
Anak Tangga Pertama:
Hakikat dan hikmah menghendaki: seperti bumi, langit pun memiliki para penghuni yang sesuai dengannya. Dalam lisan syariat, jenis-jenis yang beraneka itu dinamai malaikat dan makhluk-makhluk ruhani. Ya, hakikat menghendaki demikian. Sebab bumi — bersama kekecilan dan kehinaannya — dipenuhi makhluk-makhluk hidup dan berkesadaran, dan sesekali dikosongkan lalu diramaikan kembali dengan makhluk-makhluk berkesadaran yang baru: ini mengisyaratkan, bahkan menegaskan, bahwa langit — pemilik gugusan-gugusan megah, yang berkedudukan sebagai istana-istana terhias itu — pun penuh dengan makhluk-makhluk berkesadaran dan berpemahaman. Mereka pun, seperti manusia dan jin, adalah para penonton istana alam ini, para penelaah kitab alam ini, dan para penyeru kerajaan rububiyah ini. Sebab dihiasinya alam dengan perhiasan, keindahan, dan ukiran yang tiada terhitung dan tiada terhingga, secara terang-benderang menghendaki pandangan para pengagum yang bertafakur dan para penghargai yang penuh takjub. Ya, keelokan tentu menghendaki seorang pencinta; dan makanan diberikan kepada yang lapar. Padahal manusia dan jin hanya mampu menunaikan sepersejuta dari tugas tanpa batas itu, dari pengawasan penuh kemegahan itu, dan dari ubudiyah yang luas itu. Berarti, untuk tugas-tugas dan ibadah-ibadah yang tanpa batas dan beraneka ragam ini, diperlukan jenis-jenis malaikat dan golongan-golongan makhluk ruhani yang tanpa batas.
Dengan isyarat sebagian riwayat dan dengan hikmah keteraturan alam dapat dikatakan: sebagian benda-benda yang beredar — dari planet-planet hingga tetesan-tetesan air — adalah kendaraan-kendaraan sebagian malaikat. Dengan izin Ilahi mereka menaikinya, menyaksikan dan menjelajahi alam kesaksian. Dapat pula dikatakan: sebagian jasad hewani — dari burung-burung surga yang dalam hadis dinamai "Thuyûrun Khudhrun" (burung-burung hijau) hingga lalat-lalat — adalah pesawat-pesawat bagi sejenis arwah. Dengan perintah Allah Yang Haq mereka masuk ke dalamnya, menjelajahi alam jasmani, dan melalui jendela-jendela indra pada jasad-jasad itu menyaksikan mukjizat-mukjizat fitrah yang jasmani. Tentulah Khâliq yang terus-menerus menciptakan kehidupan yang lembut dan pemilik-pemilik kesadaran yang bercahaya dari tanah yang pekat dan air yang keruh — tentu memiliki sebagian makhluk berkesadaran dari lautan cahaya yang sesuai bagi ruh dan kehidupan ini, bahkan dari lautan kegelapan. Dan jumlahnya amat melimpah. Mengenai wujud malaikat dan makhluk ruhani, dalam risalahku yang bernama "Nokta" dan dalam Kalimat Kedua Puluh Sembilan telah dibuktikan dengan kepastian setingkat dua kali dua sama dengan empat. Jika engkau mau, rujuklah ke sana.
Anak Tangga Kedua:
Bumi dan langit saling terhubung laksana dua negeri milik satu pemerintahan. Di antara keduanya terdapat hubungan penting dan muamalah-muamalah penting. Hal-hal yang diperlukan bumi — seperti cahaya, panas, keberkahan, dan rahmat — datang dari langit; yakni dikirim. Dengan ijma' seluruh agama samawi yang bersandar pada wahyu dan dengan tawâtur seluruh ahli kasyf yang bersandar pada penyaksian: malaikat dan arwah turun dari langit ke bumi. Dari sini diketahui — dengan intuisi pasti yang mendekati perasaan-langsung — bahwa bagi penghuni bumi ada sebuah jalan untuk naik ke langit. Ya, sebagaimana akal, khayal, dan pandangan setiap orang setiap waktu pergi ke langit. Demikian pula: arwah para nabi dan para wali yang telah meninggalkan beban-beban beratnya, atau arwah orang-orang mati yang telah menanggalkan jasadnya, dengan izin Ilahi pergi ke sana. Madem yang menemukan keringanan dan kelembutan pergi ke sana; tentu sebagian penghuni bumi dan udara yang mengenakan jasad mitsali dan yang ringan serta lembut seperti arwah, dapat pergi ke langit.
Anak Tangga Ketiga:
Diam dan tenangnya langit, keteraturan dan keajegannya, keluasan dan sifat-cahayanya menunjukkan: para penghuninya tidak seperti penghuni bumi; melainkan seluruh penduduknya taat. Apa pun yang diperintahkan, itulah yang mereka kerjakan. Tidak ada sebab yang mengharuskan berdesakan dan perselisihan. Sebab negerinya luas, fitrah mereka murni, diri mereka tak berdosa, kedudukan mereka tetap. Ya, di bumi hal-hal yang berlawanan telah berhimpun, orang-orang jahat bercampur dengan orang-orang baik, di tengah mereka mulai perselisihan; dari sebab itu jatuhlah pertikaian dan kegelisahan; dan darinya dibebankan ujian dan perlombaan; dan darinya lahir kenaikan-kenaikan dan kejatuhan-kejatuhan. Hikmah hakikat ini ialah:
Manusia adalah buah, bagian paling akhir dari pohon penciptaan. Telah maklum: buah sesuatu adalah bagiannya yang paling jauh, paling menghimpun, paling halus, dan paling penting. Karena itulah manusia — buah alam — adalah mukjizat kudrat yang paling menghimpun, paling menakjubkan, paling tak berdaya, paling lemah, dan paling lembut; maka bumi, buaian dan kediamannya — meski secara materi kecil dan hina dibanding langit — secara maknawi dan dari segi seni telah menjadi: kalbu dan pusat seluruh alam; galeri dan pameran seluruh mukjizat seni; tempat penampakan dan titik fokus seluruh tajalli asma-Nya; mahsyar dan cermin pemantul aktivitas Rabbani yang tanpa batas; tumpuan dan pasar penciptaan yang berlimpah-dermawan dari Khallâqiyah Ilahi yang tanpa batas — khususnya pada jenis-jenis kecil tumbuhan dan hewan yang melimpah; tempat percontohan berskala kecil bagi ciptaan-ciptaan di alam-alam akhirat yang amat luas; bengkel tenunan-tenunan abadi yang bekerja dengan cepat; tempat peniruan pemandangan-pemandangan sarmadi yang berganti dengan cepat; serta ladang dan tempat tarbiyah yang sempit dan sementara bagi benih-benih kebun-kebun yang kekal, yang bertunas dengan cepat. Maka dari keagungan maknawi bumi inilah {(Hasyiyah): Ya, bola bumi, bersama kekecilannya, dapat berimbang menghadapi langit. Sebab sebagaimana "sebuah mata air yang terus mengalir lebih besar daripada sebuah danau besar yang tak berpemasukan" dapat dikatakan. Lagi pula sebuah takaran yang menakar sesuatu lalu memindahkannya ke tempat lain — dengan hasil-hasil yang telah melewati tangannya, masuk dan keluar darinya — dapat naik timbangan menghadapi sebuah benda sebesar gunung yang secara lahiriah ribuan kali lebih besar dari takaran itu. Persis seperti itu pula: bola bumi telah diciptakan Allah Yang Haq sebagai galeri bagi seni-Nya, mahsyar bagi penciptaan-Nya, tumpuan bagi hikmah-Nya, tempat penampakan bagi kudrat-Nya, taman mekar bagi rahmat-Nya, ladang bagi Surga-Nya, takaran bagi alam raya yang tanpa batas dan alam-alam makhluk, dan sebuah mata air yang akan mengalir ke lautan masa lalu dan ke alam gaib. Perhatikanlah seluruh alam yang senantiasa diperbarui itu dan kemeja-kemeja bumi yang berbilang itu — yang setiap tahun, berlapis-lapis dan bersusun-susun, dalam ratusan ribu corak, ditenun dari ciptaan-ciptaan lalu diganti, dan berkali-kali dipenuhi lalu dikosongkan ke masa lalu, dicurahkan ke alam gaib; yakni andaikan seluruh masa lalunya hadir. Kemudian timbanglah menghadapi langit yang seragam dan pada derajat tertentu sederhana. Engkau akan melihat: bumi, kalaupun tidak lebih, tidak pula kurang. Maka pahamilah rahasia رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ.} dan dari kepentingannya dari segi seni: Al-Qur'an Al-Hakîm menjadikan bumi — yang dibanding langit berkedudukan sebagai buah kecil dari sebuah pohon besar — setara dengan seluruh langit. Ia meletakkan bumi di satu piring timbangan dan seluruh langit di piring yang lain. Berulang-ulang Dia berfirman: رَبُّ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ. Lagi pula, perubahan bumi yang cepat dan pergantiannya yang terus-menerus — yang lahir dari hikmah-hikmah tersebut — menghendaki para penghuninya pun memperoleh perubahan-perubahan menurut kadar itu. Lagi pula, karena bumi yang terbatas ini memperoleh mukjizat-mukjizat kudrat yang tanpa batas: maka pada daya-daya manusia dan jin — para penghuninya yang terpenting — tidak diletakkan batas fitri dan ikatan bawaan seperti pada makhluk-makhluk hidup yang lain; karena itu mereka memperoleh kenaikan tanpa batas dan kejatuhan tanpa batas. Dari para nabi dan para wali hingga para Namrud, hingga setan-setan, terbentanglah sebuah medan ujian yang panjang. Madem demikian, tentu setan-setan yang telah memfiraun akan melempari langit dan penghuninya dengan batu, dengan kejahatannya yang tanpa batas.
Anak Tangga Keempat:
Sang Dzât Dzul-Jalâl — Rabb, Pengatur, dan Khâliq seluruh alam — memiliki amat banyak nama, gelar, dan Asmaul Husna yang hukum-hukumnya berbeda-beda. Misalnya: nama dan gelar apa pun yang menghendaki dikirimnya para malaikat untuk berperang di barisan para sahabat Nabi menghadapi orang-orang kafir; nama dan gelar itu pula menghendaki adanya pertempuran antara malaikat dan setan-setan, dan adanya pertarungan antara orang-orang baik langit dan orang-orang jahat bumi. Ya, Sang Qadîr Dzul-Jalâl — yang jiwa dan napas orang-orang kafir berada di genggaman kudrat-Nya — tidak memusnahkan mereka dengan satu perintah, satu pekikan. Dengan gelar rububiyah menyeluruh, dengan nama Hakîm dan Mudabbir, Dia membuka sebuah medan ujian dan pertarungan. Semoga tak keliru dalam tamsil: kita melihat, sebagaimana seorang raja, menurut lingkungan-lingkungan pemerintahannya, memiliki amat banyak gelar dan nama yang berbeda-beda. Misalnya: lingkungan peradilan menyebutnya dengan nama "Penguasa Adil". Lingkungan kemiliteran mengenalnya dengan nama "Komandan Teragung". Lingkungan urusan keagamaan menyebutnya dengan nama "Khalifah". Lingkungan pemerintahan sipil mengenalnya dengan nama "Sultan". Rakyat yang taat menyebutnya "Raja Yang Pengasih". Orang-orang durhaka menyebutnya "Penguasa Kahhâr". Kiaskanlah yang lain kepada ini. Maka terkadang terjadi: raja tinggi yang seluruh rakyat berada di tangannya itu tidak menghukum mati seorang durhaka yang tak berdaya dan hina dengan satu perintah. Melainkan dengan nama "Penguasa Adil" ia mengirimnya ke pengadilan. Lagi pula ia mengetahui kelayakan seorang pegawainya yang cakap dan setia untuk dianugerahi. Namun ia tidak menganugerahinya dengan ilmu khususnya dan telepon khususnya. Melainkan, demi memaklumkan keberhakan pegawai itu atas ganjaran — dengan gelar kemegahan kerajaan dan pengaturan pemerintahan — ia membuka sebuah medan perlombaan; memerintahkan wazirnya, mengundang rakyat untuk menyaksikan; dengan sebuah penyambutan resmi, di penghujung sebuah ujian luhur nan megah, di sebuah majelis tinggi ia menganugerahinya, memaklumkan kelayakannya. Kiaskanlah sisi-sisi lain kepada ini.
Maka وَ لِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى — Sultan azal dan abad memiliki amat banyak Asmaul Husna. Dengan tajalli-tajalli jalali dan penampakan-penampakan jamali, Dia memiliki amat banyak urusan dan gelar. Nama, gelar, dan urusan yang menghendaki wujud cahaya dan kegelapan, musim panas dan musim dingin, Surga dan Jahannam — sebagaimana banyak undang-undang umum seperti undang-undang perkembangbiakan, undang-undang perlombaan, undang-undang tolong-menolong — menghendaki pula diberlakukannya undang-undang pertarungan sampai derajat tertentu secara menyeluruh... Dari pertarungan ilham-ilham dan waswas-waswas di sekitar kalbu, hingga pertarungan malaikat dan setan-setan di cakrawala langit — undang-undang itu menghendaki cakupannya.
Anak Tangga Kelima:
Madem ada pergi-pulang dari bumi ke langit. Ada turun-naik dari langit ke bumi. Keperluan-keperluan bumi yang penting dikirim dari sana. Dan madem arwah yang baik pergi ke langit. Tentu arwah yang jahat pun, meniru orang-orang baik, akan mencoba pergi ke negeri langit. Sebab dari segi wujud mereka memiliki kelembutan dan keringanan. Dan tanpa keraguan mereka akan diusir dan ditolak. Sebab dari segi hakikat-diri mereka memiliki kejahatan dan kesialan. Dan tanpa syak dan tanpa keraguan, muamalah penting ini dan pertarungan maknawi ini pasti memiliki sebuah alamat, sebuah isyarat di alam kesaksian. Sebab hikmah kerajaan rububiyah menghendaki: bagi makhluk berkesadaran — terlebih bagi manusia, yang tugas terpentingnya adalah menyaksikan, bersaksi, menyeru, dan mengawasi — Dia meletakkan sebuah isyarat, meninggalkan alamat-alamat, atas pengaturan-pengaturan gaib yang penting. Sebagaimana Dia menjadikan hujan isyarat bagi mukjizat-mukjizat musim semi yang tanpa batas, dan menjadikan sebab-sebab lahiriah alamat bagi keajaiban-keajaiban seni-Nya. Agar Dia menjadikan penghuni alam kesaksian saksi. Bahkan agar Dia menarik pandangan penuh perhatian seluruh penghuni langit dan penghuni bumi kepada tontonan menakjubkan itu. Yakni Dia memperlihatkan langit yang besar itu dalam rupa sebuah benteng yang di sekelilingnya berjajar para penjaga, yang gugusan-gugusannya terhias — dalam rupa sebuah kota — dan membuat orang bertafakur atas kemegahan rububiyah-Nya. Madem pemakluman pertarungan luhur ini secara hikmah diperlukan. Tentu ada sebuah isyarat baginya. Padahal di antara peristiwa-peristiwa angkasa dan langit tidak tampak satu pun peristiwa yang sesuai dengan pemakluman ini — selain peristiwa-peristiwa bintang ini; tiada yang lebih sesuai darinya. Sebab betapa sesuainya peristiwa-peristiwa bintang ini — yang menyerupai manjanik-manjanik dan kembang api isyarat yang dilempar dari gugusan-gugusan kokoh benteng-benteng tinggi — dengan perajaman setan ini, dipahami secara terang-benderang. Padahal bagi peristiwa ini tidak diketahui hikmah lain yang sesuai dengannya selain hikmah dan tujuan ini. Peristiwa-peristiwa lain tidak demikian. Lagi pula hikmah ini masyhur sejak zaman Nabi Adam dan tersaksikan bagi ahli hakikat.
Anak Tangga Keenam:
Karena manusia dan jin berkecakapan bagi kejahatan tanpa batas dan pengingkaran, mereka melakukan pembangkangan tanpa batas dan thughyân. Karena itulah Al-Qur'an Al-Karîm, dengan balaghah yang penuh i'jâz, dengan uslub-uslub yang tinggi dan gemilang, dengan tamsil-tamsil dan misal-misal yang berharga dan nyata, menghardik manusia dan jin dari kedurhakaan dan thughyân sedemikian rupa hingga menggetarkan alam. Misalnya:
Wahai manusia dan jin! Jika kalian tidak menaati perintah-perintah-Ku, silakan — bila kalian mampu — keluarlah dari batas-batas kerajaan-Ku! Perhatikanlah peringatan agung, ancaman dahsyat, dan hardikan keras dalam ayat yang mengisyaratkan misal ini: يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَاْلاِنْسِ اِنِ اسْتَطَعْتُمْ اَنْ تَنْفُذُوا مِنْ اَقْطَارِ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ فَانْفُذُوا لاَ تَنْفُذُونَ اِلاَّ بِسُلْطَانٍ ❊ فَبِاَىِّ اٰلآَءِ رَبِّكُمَا تُكَذِّبَانِ ❊ يُرْسَلُ عَلَيْكُمَا شُوَاظٌ مِنْ نَارٍ وَ نُحَاسٌ فَلاَ تَنْتَصِرَانِ. Betapa ia mematahkan pembangkangan manusia dan jin yang amat sombong itu dengan balaghah yang amat penuh mukjizat. Ia memaklumkan ketidakberdayaan mereka. Ia memperlihatkan betapa tak berdaya dan malangnya mereka dibanding keluasan dan keagungan kerajaan rububiyah. Seakan-akan dengan ayat ini dan dengan ayat وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاط۪ينِ Dia berfirman:
"Wahai jin dan manusia yang sombong dan membangkang di dalam kehinaannya, yang liar dan keras kepala di dalam kelemahan dan kefakirannya! Bagaimana kalian berani, dengan kedurhakaan kalian, menentang perintah-perintah seorang Sultan mulia yang bintang-bintang, bulan-bulan, dan matahari-matahari menaati perintah-perintah-Nya laksana prajurit-prajurit yang patuh perintah? Dengan thughyân kalian, kalian bertarung menghadapi seorang Penguasa Dzul-Jalâl yang memiliki tentara-tentara taat nan agung sedemikian rupa: seandainya setan-setan kalian mampu bertahan, mereka dapat merajam setan-setan itu dengan peluru-peluru sebesar gunung. Dengan pengingkaran nikmat kalian, kalian durhaka di negeri seorang Mâlik Dzul-Jalâl yang di antara hamba-hamba dan tentara-tentara-Nya ada yang — jangankan makhluk-makhluk kecil tak berdaya seperti kalian, bahkan seandainya (sebagai pengandaian mustahil) kalian menjadi musuh-musuh kafir sebesar gunung dan bumi — dapat melemparkan ke atas kalian bintang-bintang sebesar bumi dan gunung, besi-besi menyala, tembaga-tembaga bernyala; mencerai-beraikan kalian. Kalian pun mematahkan sebuah undang-undang yang dengannya terikat makhluk-makhluk sedemikian rupa: seandainya perlu, mereka dapat menghantamkan bumi kalian ke wajah kalian; menghujani kalian dengan bintang-bintang sebesar bola bumi kalian laksana peluru-peluru."
Ya, di dalam Al-Qur'an terdapat beberapa pengerahan penting yang tidak lahir dari kuatnya musuh. Melainkan lahir dari sebab-sebab seperti penampakan kemegahan dan pemakluman keburukan musuh. Terkadang pula, demi memperlihatkan kesempurnaan keteraturan, puncak keadilan, puncak kesantunan, dan kekuatan hikmah, Dia mengerahkan sebab-sebab terbesar dan terkuat menghadapi sesuatu yang terkecil dan terlemah — dan menahannya di atasnya; tidak membiarkannya jatuh, tidak membiarkannya diserang. Misalnya, pandanglah ayat ini: وَاِنْ تَظَاهَرَا عَلَيْهِ فَاِنَّ اللّٰهَ هُوَ مَوْلٰيهُ وَجِبْر۪يلُ وَصَالِحُ الْمُؤْمِن۪ينَ وَالْمَلٰٓئِكَةُ بَعْدَ ذٰلِكَ ظَه۪يرٌ. Betapa hormat kepada hak Nabi dan betapa kasih kepada hak para istri. Pengerahan penting ini hanyalah untuk mengungkapkan — dengan penuh rahmat — keagungan kehormatan Nabi, pentingnya pengaduan dua wanita yang lemah, dan terpeliharanya hak mereka.
Anak Tangga Ketujuh:
Seperti malaikat-malaikat dan ikan-ikan, bintang-bintang pun memiliki individu-individu yang amat beraneka. Sebagian amat kecil, sebagian amat besar. Bahkan segala yang berkilau di langit disebut "bintang". Maka satu jenis dari jenis bintang ini: Sang Fâthir Dzul-Jalâl, Sang Shâni' Dzul-Jamâl menciptakan mereka sebagai perhiasan bertatah permata bagi wajah langit nan jelita, buah-buah bercahaya bagi pohon itu, dan ikan-ikan yang bertasbih bagi lautan itu; dan menjadikan mereka bagi para malaikat-Nya tempat-tempat tamasya, tunggangan-tunggangan, tempat-tempat tinggal. Dan satu jenis kecil dari bintang-bintang pun Dia jadikan alat perajaman setan-setan. Maka syihâb-syihâb yang dilemparkan untuk perajaman setan-setan ini dapat memiliki tiga makna:
Pertama:
Ia adalah rumus dan alamat bahwa undang-undang pertarungan berlaku bahkan di lingkaran yang terluas.
Kedua:
Ia adalah pemakluman dan isyarat bahwa di langit ada penjaga-penjaga yang terjaga, penghuni-penghuni yang taat; ada tentara-tentara Allah yang tidak menyukai percampuran dan penyadapan para jahat bumi.
Ketiga:
Ia adalah penolakan dan pengusiran setan-setan itu dari pintu-pintu langit dengan syihâb-syihâb itu — laksana manjanik-manjanik dan kembang api isyarat yang dilemparkan untuk menakut-nakuti mata-mata yang kurang ajar — agar setan-setan mata-mata, wakil-wakil jahat dari kotoran-kotoran bumi itu, tidak mengotori langit yang bersih dan menjadi kediaman para suci, dan tidak menyadap atas nama jiwa-jiwa yang jahat.
Maka wahai tuan ahli kosmografi yang bersandar pada lentera kepala yang berkedudukan sebagai kunang-kunang, dan yang memejamkan mata dari matahari Al-Qur'an! Pandanglah sekaligus hakikat-hakikat yang diisyaratkan pada tujuh anak tangga ini. Bukalah matamu, tinggalkan lentera kepalamu, lihatlah makna ayat ini di dalam cahaya i'jâz yang seterang siang! Ambillah sebuah bintang hakikat dari langit ayat itu, lemparkanlah kepada setan di kepalamu, rajamlah setanmu sendiri!.. Kita pun harus melakukannya, dan bersama-sama harus berkata: رَبِّ اَعُوذُ بِكَ مِنْ هَمَزَاتِ الشَّيَاط۪ينِ
فَلِلّٰهِ الْحُجَّةُ الْبَالِغَةُ وَ الْحِكْمَةُ الْقَاطِعَةُ
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
Zail Kalimat Kelima Belas