[Pembahasan Pertama dari Surat Kedua Puluh Enam]
Al-Kalimat · hlm. 183
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
وَاِمَّا يَنْزَغَنَّكَ مِنَ الشَّيْطَانِ نَزْغٌ فَاسْتَعِذْ بِاللّٰهِ اِنَّهُ هُوَ السَّم۪يعُ الْعَل۪يمُ
Hujjatul-Qur'ân 'alasy-syaithân wa hizbihi (Hujjah Al-Qur'an atas setan dan golongannya)... "Pembahasan Pertama" yang membungkam Iblis dengan hujjah, memahamkan-mendiamkan setan, dan mendiamkan ahli thughyân: sebuah peristiwa yang menolak secara pasti sebuah tipu daya setan yang dahsyat di dalam "penalaran netral". Sebagian ringkas peristiwa itu telah kutulis sepuluh tahun lalu dalam Lemaat. Yaitu:
Sebelas tahun sebelum penulisan risalah ini, pada Ramadhan yang mulia, aku sedang mendengarkan para hafiz di masjid mulia Bayezid di İstanbul. Tiba-tiba — aku tidak melihat sosoknya, namun seakan mendengar sebuah suara maknawi. Ia memalingkan benakku kepada dirinya. Aku mendengarkan secara khayali. Kulihat ia berkata kepadaku:
"Engkau memandang Al-Qur'an amat tinggi, amat cemerlang. Lakukanlah penalaran netral, pandanglah demikian. Yakni: andaikan ia perkataan manusia, lalu pandanglah... Gerangan masihkah akan kaulihat keistimewaan-keistimewaan dan perhiasan-perhiasan itu?" katanya. Sungguh aku pun tertipu olehnya. Kuandaikan ia perkataan manusia, kupandang demikian. Kulihat: sebagaimana ketika tombol listrik Bayezid diputar dan dipadamkan, sekeliling jatuh ke dalam gelap; demikian pula dengan pengandaian itu cahaya-cahaya cemerlang Al-Qur'an mulai tersembunyi. Saat itu aku paham bahwa yang berbicara denganku adalah setan. Ia menggulingkanku ke jurang bahaya. Aku memohon pertolongan dari Al-Qur'an. Tiba-tiba sebuah cahaya datang ke kalbuku. Ia memberikan kekuatan yang pasti untuk pembelaan. Saat itu mulailah perdebatan menghadapi setan sebagai berikut:
Kukatakan: Wahai setan! Penalaran netral adalah sebuah kedudukan di tengah antara dua pihak. Padahal yang kalian — engkau dan murid-muridmu di kalangan manusia — sebut "penalaran netral" adalah keberpihakan kepada pihak yang menentang. Bukan kenetralan; melainkan ketidakberagamaan sementara. Sebab memandang Al-Qur'an sebagai perkataan manusia dan menalarnya demikian adalah menjadikan pilihan pihak penentang sebagai dasar. Ia keberpihakan kepada yang batil, bukan penalaran netral. Bahkan, keberpihakan kepada kebatilan.
Setan berkata: Kalau begitu, jangan katakan kalam Allah, jangan pula perkataan manusia. Andaikan di tengah-tengah, lalu pandang.
Aku berkata: Itu pun tidak mungkin. Sebab bila ada harta yang dipersengketakan: jika kedua penuntut saling berdekatan dan ada kedekatan tempat, harta itu diletakkan di tangan seseorang selain keduanya, atau di suatu tempat yang terjangkau tangan keduanya. Siapa yang membuktikan, dialah yang mengambil. Namun jika kedua penuntut itu amat berjauhan — yang satu di timur, yang satu di barat — maka menurut kaidah, harta itu dibiarkan di tangan shâhibul-yad (pihak yang tengah menguasainya). Sebab meletakkannya di tengah tidak mungkin. Maka Al-Qur'an adalah harta yang berharga. Sejauh apa perkataan manusia dari kalam Allah Yang Haq, sejauh itu pula — bahkan tanpa batas — kedua pihak itu saling berjauhan. Maka meletakkannya di tengah antara dua pihak yang berjauhan dari tsarâ hingga Tsurayya itu tidaklah mungkin. Lagi pula tengahnya tidak ada. Sebab keduanya berlawanan laksana wujud dan ketiadaan, laksana dua hal yang saling menafikan (naqîdhain). Tidak ada tengahnya. Kalau begitu, shâhibul-yad bagi Al-Qur'an adalah pihak Ilahi. Kalau begitu, ia diterima di tangan-Nya, dan dalil-dalil pembuktian dipandang atas dasar itu. Jika pihak lain dapat meruntuhkan satu demi satu seluruh burhan bahwa ia Kalâmullâh, barulah ia dapat mengulurkan tangan kepadanya. Jika tidak, ia tak dapat mengulurkan tangan. Aduhai! Berlian agung yang terpaku ke 'Arasy Teragung dengan paku-paku ribuan burhan pasti ini — tangan mana yang dapat mencabut seluruh paku itu, memotong tiang-tiang itu, dan menjatuhkannya?
Maka wahai setan! Meski engkau tak sudi, ahli hak dan keadilan menalar dengan penalaran hakiki bentuk ini. Bahkan pada dalil terkecil sekalipun mereka menambah iman mereka kepada Al-Qur'an. Adapun jalan yang engkau dan murid-muridmu tunjukkan: sekali saja diandaikan perkataan manusia — yakni berlian agung yang terikat ke 'Arasy itu dicampakkan ke tanah — diperlukan satu burhan sekuat seluruh paku itu dan sekokoh sekian banyak burhan, agar berlian itu terangkat dari tanah dan terpaku ke 'Arasy maknawi; agar orang selamat dari kegelapan kekufuran dan sampai kepada cahaya-cahaya iman. Padahal berhasil melakukannya amat sulit. Karena itulah, dengan tipu dayamu, pada zaman ini banyak orang kehilangan imannya di bawah rupa "penalaran netral"...
Setan berbalik dan berkata: Al-Qur'an menyerupai perkataan manusia; ia dalam corak percakapan mereka. Berarti ia perkataan manusia. Seandainya ia kalam Allah, ia akan memiliki corak luar biasa yang pantas bagi-Nya dari segala sisi. Sebagaimana seni-Nya tidak menyerupai seni manusia, kalam-Nya pun semestinya tidak menyerupai?
Sebagai jawaban kukatakan: Sebagaimana Nabi kita صلى الله عليه وسلم — selain mukjizat-mukjizat dan kekhususan-kekhususannya — dalam perbuatan, keadaan, dan perilakunya tetap dalam kemanusiaan; seperti manusia ia tunduk dan taat kepada kebiasaan Ilahi (âdatullâh) dan perintah-perintah takwîniyah-Nya. Ia pun menderita dingin, menanggung derita, dan seterusnya... Pada setiap keadaan dan perilakunya tidak diberikan kedudukan luar biasa. Agar dengan perbuatan-perbuatannya ia menjadi imam bagi umatnya, dengan perilakunya menjadi penuntun, dengan seluruh geraknya memberi pelajaran. Seandainya pada setiap perilakunya ia luar biasa, ia tak dapat menjadi imam dari segala sisi secara langsung. Ia tak dapat menjadi mursyid mutlak bagi semua. Ia tak dapat, dengan seluruh keadaannya, menjadi Rahmatan lil-'âlamîn. Persis seperti itu pula:
Al-Qur'an Al-Hakîm adalah imam bagi ahli kesadaran, mursyid bagi jin dan manusia, penuntun bagi ahli kesempurnaan, pengajar bagi ahli hakikat. Kalau begitu, keberadaannya dalam corak percakapan dan uslub manusia adalah keharusan yang pasti. Sebab jin dan manusia mengambil munajatnya darinya, mempelajari doanya darinya, menyebut persoalan-persoalannya dengan lisannya, menimba adab pergaulannya darinya, dan seterusnya... Semua orang menjadikannya rujukan. Kalau begitu, seandainya ia dalam corak Kalâmullâh yang didengar Nabi Musa 'alaihissalâm di Thûr Sinai, manusia tidak akan sanggup mendengarkannya, menyimaknya, dan menjadikannya rujukan. Seorang ulul-'azm seperti Nabi Musa pun hanya sanggup mendengar beberapa kalam. Musa 'alaihissalâm berkata: اَهٰكَذَا كَلاَمُكَ قَالَ اللّٰهُ ل۪ى قُوَّةُ جَم۪يعِ اْلاَلْسِنَةِ
Setan berbalik, berkata lagi: Banyak orang membicarakan persoalan-persoalan seperti persoalan Al-Qur'an atas nama agama. Karena itu, tidakkah mungkin seorang manusia berbuat semacam ini atas nama agama?
Dengan cahaya Al-Qur'an kujawab:
Pertama: Orang yang beragama, karena cinta agama, berkata "Kebenaran begini. Hakikatnya begini. Perintah Allah begini." Ia tidak membuat Allah berbicara menurut seleranya sendiri. Ia tidak melampaui batasnya tanpa batas, tidak menirukan Allah dan berbicara menggantikan-Nya. Ia gemetar oleh kaidah فَمَنْ اَظْلَمُ مِمَّنْ كَذَبَ عَلَى اللّٰهِ
Dan kedua: Seorang manusia melakukan hal itu seorang diri dan berhasil — sama sekali tidak mungkin dari sisi mana pun. Bahkan seratus derajat mustahil. Sebab pribadi-pribadi yang saling berdekatan dapat saling meniru. Yang satu jenis dapat masuk ke rupa satu sama lain. Yang berdekatan derajat dapat meniru kedudukan satu sama lain. Untuk sementara mereka dapat memperdaya manusia; namun tidak dapat memperdaya selamanya. Sebab di mata orang-orang cermat, kepura-puraan dan kepaksaan di dalam perilaku dan keadaannya bagaimanapun akan memperlihatkan kepalsuannya. Tipuannya tidak akan berlanjut. Jika yang berusaha meniru dengan kepalsuan itu amat jauh dari yang ditiru — misalnya orang biasa hendak meniru seorang jenius seperti Ibnu Sina dalam ilmu, atau seorang gembala memasang sikap seorang raja — tentu ia tidak akan memperdaya siapa pun. Bahkan ia sendiri menjadi bahan tertawaan. Setiap keadaannya akan berteriak: "Ini penipu." Maka — hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ! — ketika Al-Qur'an diandaikan perkataan manusia: bagaimana mungkin seekor kunang-kunang selama seribu tahun tampak bagi para pengamat sebagai bintang hakiki tanpa kepura-puraan; dan seekor lalat selama setahun penuh memperlihatkan rupa merak kepada para penonton tanpa dibuat-buat; dan seorang prajurit biasa yang penipu memasang sikap seorang musyir (marsekal) tinggi nan ternama, duduk di kedudukannya, bertahan lama demikian tanpa membuat tipuannya terasa; dan seorang pemfitnah, pendusta, tak beriman, sepanjang umurnya menampilkan keadaan dan sikap seorang yang paling jujur, paling tepercaya, paling teguh iman — di hadapan pandangan-pandangan paling cermat — tanpa gugup, dan kepura-puraannya tersembunyi dari pandangan para jenius!? Ini seratus derajat mustahil. Tak satu pun pemilik akal dapat mengatakannya mungkin. Mengandaikannya pun adalah igauan seperti mengandaikan kemustahilan yang terang-benderang sebagai kenyataan.
Persis seperti itu pula: mengandaikan Al-Qur'an perkataan manusia meniscayakan: hakikat "Kitâb Mubîn" — yang di langit alam Islam secara tersaksikan amat cemerlang, senantiasa menebarkan cahaya-cahaya hakikat, dan diterima sebagai bintang hakikat, bahkan matahari kesempurnaan — hâsyâ — menjadi gubahan-palsu penuh khurafat dari seorang manusia pembuat kepura-puraan yang berkedudukan kunang-kunang; dan orang-orang terdekatnya serta para pengamat cermatnya tidak menyadarinya, dan senantiasa mengenalnya sebagai bintang yang tinggi, sumber hakikat-hakikat. Ini seratus derajat mustahil; dan wahai setan, meski engkau maju seratus derajat dalam kesetananmu, engkau tak dapat membuatnya mungkin! Engkau tak dapat memperdaya satu pun akal yang belum rusak! Engkau hanya menipu dengan membuat orang memandang dari amat jauh secara maknawi: engkau memperlihatkan bintang kecil seperti kunang-kunang.
Ketiga: Mengandaikan Al-Qur'an perkataan manusia pun meniscayakan: hakikat tersembunyi dari sebuah Furqân — yang dengan jejak-jejaknya, pengaruh-pengaruhnya, dan hasil-hasilnya, secara tersaksikan adalah yang paling beruh dan penebar-kehidupan, paling berhakikat dan pengantar-kebahagiaan, paling menghimpun dan penjelasannya mukjizat bagi alam kemanusiaan, tersepuh dengan keistimewaan-keistimewaan tinggi — hâsyâ — menjadi buatan pikiran biasa nan palsu dari satu orang manusia tanpa pertolongan, tanpa ilmu; dan kecerdasan-kecerdasan besar serta para genius luhur yang menyaksikannya dari dekat dan mencermatinya dengan penuh minat, tidak pernah sekali pun, dari sisi mana pun, melihat padanya jejak kepalsuan dan kepura-puraan; dan senantiasa menemukan padanya kesungguhan, ketulusan, keikhlasan! Ini seratus derajat mustahil; dan bersamaan dengan itu, mengandaikan seorang Zat — yang dengan seluruh keadaannya, perkataannya, dan geraknya, sepanjang hidupnya memperlihatkan dan mengajarkan amanah, iman, kepercayaan, keikhlasan, kesungguhan, dan istiqamah, serta mendidik para shiddîqîn; yang diterima dan diakui memiliki perangai tertinggi, tercemerlang, dan terluhur — sebagai yang paling tak dapat dipercaya, paling tak ikhlas, paling tak beriman: adalah melihat kemustahilan berlipat sebagai kenyataan — sebuah igauan kufur yang bahkan akan membuat setan malu. Sebab persoalan ini tidak ada tengahnya. Sebab seandainya — sebagai pengandaian mustahil — Al-Qur'an bukan Kalâmullâh, ia jatuh laksana jatuh dari 'Arasy ke bumi. Ia tidak tinggal di tengah. Padahal himpunan hakikat, ia menjadi sumber khurafat. Dan Zat yang memperlihatkan firman menakjubkan itu — hâsyâ tsumma hâsyâ — seandainya bukan Rasulullah, niscayalah ia jatuh dari a'lâ 'illiyyîn ke asfala sâfilîn, dan dari derajat sumber kesempurnaan jatuh ke kedudukan tambang tipu daya. Ia tidak tinggal di tengah. Sebab siapa yang memfitnah dan berdusta atas nama Allah, ia jatuh ke derajat yang paling rendah. Sebagaimana melihat seekor lalat secara terus-menerus sebagai merak, dan setiap waktu menyaksikan padanya sifat-sifat besar merak, adalah mustahil; persoalan ini pun mustahil seperti itu. Diperlukan seorang gila yang tanpa akal secara fitrah dan mabuk, untuk memberi kemungkinan kepadanya.
Keempat: Mengandaikan Al-Qur'an perkataan manusia pun meniscayakan: Al-Qur'an — komandan kudus dari umat Muhammad صلى الله عليه وسلم, pasukan terbesar dan termegah jenis manusia — yang secara tersaksikan, dengan undang-undangnya yang kuat, kaidah-kaidahnya yang mendasar, dan perintah-perintahnya yang menembus, memberi pasukan besar itu keteraturan setingkat menaklukkan dua dunia; memberinya ketertiban; memperlengkapinya lahir dan batin; mengajar akal seluruh individunya menurut derajat masing-masing, mendidik kalbunya, menundukkan ruhnya, menyucikan nuraninya, serta menggunakan dan mempekerjakan anggota dan organ tubuhnya — (hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ) diandaikan gubahan-palsu tanpa kekuatan, tanpa nilai, tanpa dasar: ini menerima seratus derajat kemustahilan. Dan bersamaan dengan itu, mengandaikan seorang Zat — yang sepanjang hidupnya dengan gerak sungguh-sungguhnya mengajarkan undang-undang Kebenaran kepada anak Adam; dengan perbuatan tulusnya mengajarkan kaidah-kaidah hakikat kepada manusia; dengan perkataannya yang murni dan masuk akal memperlihatkan dan menegakkan pokok-pokok istiqamah dan kebahagiaan; yang dengan kesaksian seluruh riwayat hidupnya amat takut kepada azab Allah, paling mengenal Allah dan memperkenalkan-Nya melebihi semua orang; yang selama seribu tiga ratus lima puluh tahun memimpin seperlima jenis manusia dan separuh bola bumi dengan kemegahan sempurna, dan dengan urusan-urusannya yang termasyhur menggemparkan dunia, dan yang benar-benar menjadi kebanggaan jenis manusia, bahkan alam — hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ — sebagai penipu, tak takut kepada Allah dan tak mengenal-Nya, tak mengenal kehormatannya sendiri, berada di derajat kemanusiaan yang rendah: adalah melakukan sekaligus seratus derajat kemustahilan. Sebab persoalan ini tidak ada tengahnya. Sebab, sebagai pengandaian mustahil, seandainya Al-Qur'an bukan Kalâmullâh: bila jatuh dari 'Arasy, ia tak dapat tinggal di tengah. Melainkan harus diterima sebagai milik seorang pendusta di bumi. Dan ini, wahai setan! Meski engkau menjadi setan berlipat seratus derajat, engkau tak dapat memperdaya satu pun akal yang belum rusak, dan tak dapat meyakinkan satu pun kalbu yang belum membusuk.
Setan berbalik, berkata: Bagaimana tak dapat memperdaya? Kepada kebanyakan manusia dan kepada para cerdik-pandai masyhur mereka, aku telah membuat mereka mengingkari Al-Qur'an dan Muhammad.
Jawaban:
Pertama: Bila dipandang dari jarak amat jauh, benda terbesar dapat tampak seperti benda terkecil. Sebuah bintang dapat dikatakan sebesar lilin.
Kedua: Bila dipandang dengan pandangan sambilan dan dangkal, sesuatu yang amat mustahil dapat tampak mungkin. Suatu ketika seorang tua memandang langit untuk melihat hilal Ramadhan. Sehelai rambut putih turun ke matanya. Ia menyangka rambut itu bulan sabit. "Aku telah melihat bulan," katanya. Mustahil hilal itu adalah rambut putih itu. Namun karena ia dengan sengaja dan langsung memandang bulan, sedangkan rambut itu tampak secara sambilan, tak langsung, dan pada derajat kedua, ia menganggap kemustahilan itu mungkin.
Ketiga: Tidak menerima adalah satu hal, mengingkari hal lain. Ketidakmenerimaan adalah sebuah keacuhan, sebuah pemejaman mata, sebuah ketiadaan-hukum yang bodoh. Dalam bentuk ini banyak hal mustahil dapat bersembunyi di dalamnya; akalnya tidak bergumul dengannya. Adapun pengingkaran: ia bukan ketidakmenerimaan, melainkan penerimaan-atas-ketiadaan. Ia sebuah hukum. Akalnya terpaksa bergerak. Maka setan sepertimu merampas akalnya dari tangannya, lalu menyuapkan pengingkaran kepadanya. Lagi pula wahai setan! Dengan tipu daya setani seperti kelalaian, kesesatan, safsata, keras kepala, silat-lidah (mughalathah), keangkuhan-menolak (mukâbarah), penipuan, dan ikut-ikutan kebiasaan — yang memperlihatkan yang batil sebagai hak dan yang mustahil sebagai mungkin — engkau telah menyuapkan pengingkaran dan kekufuran, yang menghasilkan banyak kemustahilan, kepada hewan-hewan berupa manusia yang malang itu!
Keempat: Mengandaikan Al-Qur'an perkataan manusia pun meniscayakan: sebuah kitab — yang secara tersaksikan menjadi penuntun bagi para ashfiyâ', para shiddîqîn, dan para aqthâb yang berkilau laksana bintang-bintang di langit alam kemanusiaan; yang secara terang-benderang terus-menerus mengajarkan hak dan haqqaniyah, kejujuran dan kesetiaan, keamanan dan amanah kepada seluruh lapisan ahli kesempurnaan; dan yang dengan hakikat-hakikat rukun iman dan kaidah-kaidah rukun Islam menjamin kebahagiaan dua dunia; dan yang dengan kesaksian pelaksanaan-pelaksanaannya ini secara niscaya adalah hak dan murni dan hakikat yang bersih, amat benar dan amat sungguh-sungguh — dibayangkan tersifati dengan lawan-lawan dari sifat-sifatnya, pengaruh-pengaruhnya, dan cahaya-cahayanya; dan — hâsyâ tsumma hâsyâ — dipandang sebagai himpunan buatan dan fitnah seorang penipu: ini adalah igauan kufur yang keji, yang akan membuat kaum sofis dan setan-setan pun malu dan gemetar. Bersamaan dengan itu, mengandaikan seorang Zat — dengan kesaksian agama dan syariat Islam yang ia tampakkan; dengan penunjukan ketakwaannya yang luar biasa dan ubudiyahnya yang murni dan bersih, yang disepakati sepanjang hidupnya; dengan tuntutan akhlak baik yang tampak padanya secara sepakat; dan dengan pembenaran seluruh ahli hakikat dan pemilik kesempurnaan yang ia didik — sebagai yang paling teguh iman, paling kokoh, paling tepercaya, paling jujur, namun difarzkan — hâsyâ tsumma hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ — tak beriman, paling tak dapat dipercaya, tak takut kepada Allah: adalah melakukan bentuk kemustahilan yang paling buruk dan menjijikkan, dan corak kesesatan yang paling zalim dan gelap.
Walhasil: Sebagaimana dikatakan dalam Isyarat Kedelapan Belas dari Surat Kesembilan Belas: golongan awam yang bertelinga memahami i'jâz Al-Qur'an dengan berkata: "Al-Qur'an, bila dibandingkan dengan seluruh kitab yang kudengar dan yang ada di dunia, tidak menyerupai satu pun dan tidak sederajat dengan mereka. Kalau begitu, Al-Qur'an entah di bawah semuanya, atau memiliki derajat di atas semuanya. Pilihan 'di bawah semuanya' — selain mustahil — tak satu musuh pun, bahkan setan pun, dapat mengatakannya dan tak menerimanya. Kalau begitu Al-Qur'an di atas seluruh kitab. Kalau begitu ia mukjizat." Persis seperti itu pula, kami pun berkata dengan hujjah paling pasti yang dalam ilmu ushul dan ilmu mantik disebut "sabr dan taqsîm" (pemilahan tuntas): Wahai setan dan wahai murid-murid setan! Al-Qur'an entah Kalâmullâh yang datang dari 'Arasy Teragung, dari Ismul-A'zham; atau — hâsyâ tsumma hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ — gubahan-palsu seorang manusia di bumi yang penipu, tak takut kepada Allah dan tak mengenal-Nya, tak beriman. Dan yang ini, wahai setan: di hadapan hujjah-hujjah yang lalu, engkau tak dapat mengatakannya, tak akan dapat, dan tak akan pernah dapat. Kalau begitu, secara niscaya dan tanpa keraguan, Al-Qur'an adalah kalam Khâliq alam. Sebab tengahnya tidak ada, dan mustahil, dan tak mungkin ada. Sebagaimana telah kami buktikan secara pasti; engkau pun telah melihat dan mendengarnya.
Lagi pula Muhammad 'alaihishshalâtu wassalâm entah Rasulullah — dan yang tersempurna dari seluruh rasul dan yang paling utama dari seluruh makhluk; atau — hâsyâ, seratus ribu kali hâsyâ — harus diandaikan seorang manusia yang jatuh ke asfala sâfilîn karena memfitnah atas nama Allah, tak mengenal Allah, dan tak percaya azab-Nya, tak beriman {(Hasyiyah): Bersandar pada penyebutan Al-Qur'an Al-Hakîm atas perkataan-perkataan kufur orang-orang kafir dan ungkapan-ungkapan kasar mereka demi membatalkannya; untuk memperlihatkan kemustahilan total dan kebusukan total pikiran kufur ahli kesesatan, aku terpaksa menggunakan ungkapan-ungkapan ini dalam bentuk pengandaian mustahil, dengan gemetar.} — dan ini, wahai Iblis: baik engkau maupun para filsuf Eropa dan orang-orang munafik Asia yang kauandalkan, tak dapat mengatakannya, tak pernah dapat mengatakannya, tak akan dapat mengatakannya, tak pernah mengatakannya, dan tak akan mengatakannya. Sebab di dunia tidak ada yang mau mendengarkan dan menerima pilihan itu. Karena itulah para filsuf paling merusak yang kauandalkan itu dan orang-orang munafik Asia yang paling tak bernurani itu pun berkata: "Muhammad Al-'Arabî صلى الله عليه وسلم sangat cerdas. Akhlaknya sangat indah." Madem persoalan ini terbatas pada dua pilihan; dan madem pilihan kedua mustahil dan tak seorang pun mengakuinya; dan madem dengan hujjah-hujjah pasti telah kami buktikan bahwa tengahnya tidak ada. Tentu, secara niscaya — meski engkau dan golongan setan tak sudi — secara terang-benderang dan dengan haqqul-yaqîn: Muhammad Al-'Arabî 'alaihishshalâtu wassalâm adalah Rasulullah, yang tersempurna dari seluruh rasul, dan yang paling utama dari seluruh makhluk.
عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ بِعَدَدِ الْمَلَكِ وَاْلاِنْسِ وَالْجَانِّ
SEBUAH KEBERATAN KECIL KEDUA DARI SETAN
Ketika membaca Surah قٓ وَ الْقُرْاٰنِ الْمَج۪يدِ:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ اِلاَّ لَدَيْهِ رَق۪يبٌ عَت۪يدٌ ❊ وَجَٓاءَتْ سَكْرَةُ الْمَوْتِ بِالْحَقِّ ذٰلِكَ مَا كُنْتَ مِنْهُ تَح۪يدُ ❊ وَ نُفِخَ فِى الصُّورِ ذٰلِكَ يَوْمُ الْوَع۪يدِ ❊ وَ جَٓاءَتْ كُلُّ نَفْسٍ مَعَهَا سَٓائِقٌ وَ شَه۪يدٌ ❊ لَقَدْ كُنْتَ ف۪ى غَفْلَةٍ مِنْ هٰذَا فَكَشَفْنَا عَنْكَ غِطَٓاءَكَ فَبَصَرُكَ الْيَوْمَ حَد۪يدٌ ❊ وَ قَالَ قَر۪ينُهُ هٰذَا مَا لَدَىَّ عَت۪يدٌ ❊ اَلْقِيَا ف۪ى جَهَنَّمَ كُلَّ كَفَّارٍ عَن۪يدٍ ❊
Ketika membaca ayat-ayat ini, setan berkata: "Kefasihan terpenting Al-Qur'an kalian temukan pada kelancaran dan kejelasannya. Padahal pada ayat ini, dari mana melompat ke mana? Ia melompat dari sakaratul-maut hingga kiamat. Dari peniupan Sûr berpindah ke selesainya hisab. Darinya menyebut pemasukan ke Jahannam. Di tengah lompatan-lompatan aneh ini, kelancaran mana yang tersisa? Di kebanyakan tempat, Al-Qur'an menyatukan persoalan-persoalan yang saling berjauhan seperti ini. Dengan keadaan tanpa kesesuaian seperti ini, di mana tinggal kelancaran dan kefasihan?"
Jawaban: Setelah balaghah, salah satu asas terpenting dari dasar i'jâz Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân adalah îjâz (kepadatan-ringkas). Îjâz adalah asas paling kokoh dan paling penting dari i'jâz Al-Qur'an. Di dalam Al-Qur'an Al-Hakîm, îjâz yang penuh mukjizat ini sedemikian banyak dan sedemikian indah, hingga para ahli penelitian terpana di hadapannya. Misalnya: وَ ق۪يلَ يَٓا اَرْضُ ابْلَع۪ى مَٓاءَكِ وَيَا سَمَٓاءُ اَقْلِع۪ى وَغ۪يضَ الْمَٓاءُ وَقُضِىَ اْلاَمْرُ وَاسْتَوَتْ عَلَى الْجُودِىِّ وَق۪يلَ بُعْدًا لِلْقَوْمِ الظَّالِم۪ينَ — Dengan beberapa kalimat pendek, peristiwa agung Topan (banjir Nuh) beserta hasil-hasilnya ia terangkan dengan begitu penuh îjâz dan mukjizat, hingga membuat banyak ahli balaghah bersujud kepada balaghahnya.
Misalnya pula: كَذَّبَتْ ثَمُودُ بِطَغْوٰيهَا ❊ اِذِ انْبَعَثَ اَشْقٰيهَا ❊ فَقَالَ لَهُمْ رَسُولُ اللّٰهِ نَاقَةَ اللّٰهِ وَسُقْيٰيهَا ❊ فَكَذَّبُوهُ فَعَقَرُوهَا ❊ فَدَمْدَمَ عَلَيْهِمْ رَبُّهُمْ بِذَنْبِهِمْ فَسَوّٰيهَا ❊ وَلاَ يَخَافُ عُقْبٰيهَا ❊
Maka peristiwa-peristiwa kaum Tsamûd yang menakjubkan dan penting, hasil-hasilnya, dan akibat buruk mereka, ia terangkan dengan beberapa kalimat pendek seperti ini — sebuah i'jâz di dalam îjâz — dengan lancar, jelas, dan dalam corak yang tidak merusak pemahaman.
Misalnya pula: وَذَا النُّونِ اِذْ ذَهَبَ مُغَاضِبًا فَظَنَّ اَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ فَنَادٰى فِى الظُّلُمَاتِ اَنْ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ اَنْتَ سُبْحَانَكَ اِنّ۪ى كُنْتُ مِنَ الظَّالِم۪ينَ — Maka dari kalimat اَنْ لَنْ نَقْدِرَ عَلَيْهِ hingga kalimat فَنَادٰى فِى الظُّلُمَاتِ, banyak kalimat terlipat (mathwî). Kalimat-kalimat yang tak disebut itu tidak merusak pemahaman, tidak merugikan kelancarannya. Dalam kisah Nabi Yunus ia menyebut pokok-pokok yang penting, selebihnya diserahkan kepada akal.
Misalnya pula: dalam Surah Yusuf, antara kata اَرْسِلُونِ dan يُوسُفُ اَيُّهَا الصِّدّ۪يقُ, tujuh-delapan kalimat dilipat dengan îjâz. Sama sekali tidak merusak pemahaman, tidak merugikan kelancarannya. Îjâz-îjâz penuh mukjizat semacam ini amat banyak di dalam Al-Qur'an, dan amat indah.
Adapun ayat Surah Qâf: îjâz di dalamnya amat menakjubkan dan penuh mukjizat. Sebab ia menunjuk satu demi satu — dengan jari — masa depan orang-orang kafir yang amat mengerikan dan amat panjang, yang satu harinya lima puluh ribu tahun, dan peristiwa-peristiwa pedih nan penting yang akan menimpa kepala orang kafir dalam pergolakan-pergolakan dahsyat masa depan itu. Laksana kilat ia menjelajahkan pikiran di atas semuanya. Masa yang amat panjang itu ia perlihatkan kepada pandangan laksana sebuah halaman yang hadir. Peristiwa-peristiwa yang tak disebut ia serahkan kepada khayal, lalu menerangkannya dengan kelancaran yang tinggi. وَاِذَا قُرِئَ الْقُرْاٰنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَاَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
Maka wahai setan! Jika masih ada perkataanmu, katakanlah...
Setan berkata: Aku tak dapat melawan semua ini. Aku tak dapat membela diri. Namun banyak orang dungu mendengarkanku; dan banyak setan berupa manusia menolongku; dan dari kalangan filsuf banyak firaun yang mengambil pelajaran dariku dalam persoalan-persoalan yang membelai keakuan (enâniyah) mereka. Mereka membendung penyebaran perkataan-perkataanmu semacam ini. Karena itu aku tidak akan meletakkan senjata kepadamu!