Kalimat Ketiga Belas
Al-Kalimat · hlm. 137
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْاٰنِ مَا هُوَ شِفَٓاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِن۪ينَ ❊ وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغ۪ى لَهُ
Jika engkau ingin membandingkan hasil hikmah, pelajaran ibrah, dan derajat ilmu antara Al-Qur'an Al-Hakîm dengan ilmu-ilmu filsafat, perhatikanlah perkataan-perkataan berikut!
Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân, dengan penjelasan-penjelasannya yang tajam, merobek tirai kebiasaan dan rasa terbiasa (ulfah) yang menutupi para makhluk di seluruh alam — yang disebut dengan nama "perkara-perkara biasa" padahal masing-masing luar biasa dan merupakan mukjizat kudrat — lalu membuka hakikat-hakikat menakjubkan itu bagi makhluk berkesadaran, menarik pandangan ibrah mereka, dan membuka bagi akal-akal sebuah khazanah ilmu yang tak terkuras.
Adapun hikmah filsafat: seluruh mukjizat kudrat yang luar biasa itu ia sembunyikan di dalam tirai kebiasaan, lalu melewatinya dengan bodoh dan acuh. Ia hanya menyodorkan kepada pandangan individu-individu langka yang jatuh dari keluarbiasaan, keluar dari keteraturan penciptaan, dan gugur dari kesempurnaan fitrah; individu-individu itulah yang ia persembahkan kepada makhluk berkesadaran sebagai hikmah penuh ibrah. Misalnya: penciptaan manusia — mukjizat kudrat yang paling menghimpun — ia sebut biasa dan ia pandang dengan acuh. Namun manusia yang keluar dari kesempurnaan penciptaan — berkaki tiga atau berkepala dua — ia pamerkan kepada pandangan ibrah dengan hiruk-pikuk keheranan. Misalnya: pemberian makan yang teratur bagi seluruh anak hewan dari khazanah gaib — mukjizat rahmat yang paling lembut dan umum — ia anggap biasa dan ia tutupi dengan tirai pengingkaran nikmat. Namun ketika melihat seekor serangga di bawah laut — yang menyimpang dari keteraturan, terpisah dari sukunya, jatuh sebatang kara di perantauan — diberi makan dengan sehelai daun hijau, ia hendak membuat para nelayan yang hadir menangis oleh kelembutan dan kemurahan yang bertajali darinya. {(Hasyiyah): Peristiwa ini benar-benar terjadi di Amerika.}
Maka lihatlah kekayaan dan kecukupan Al-Qur'an Al-Karîm dari sisi ilmu, hikmah, dan makrifat Ilahi; dan kefakiran serta kebangkrutan filsafat dari sisi ilmu, ibrah, dan makrifat akan Sang Shâni' — lihatlah dan ambillah ibrah!
Dari rahasia inilah: Al-Qur'an Al-Hakîm, karena menghimpun hakikat-hakikat yang tanpa batas cemerlang dan tingginya, berkecukupan tanpa khayalan-khayalan syair. Ya, meski keteraturan dan tatanan sempurna Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân yang mencapai derajat kemukjizatan, dan keteraturan-keteraturan seni di dalam kitab alam, ia tafsirkan dengan uslub-uslubnya yang teratur; sebab lain mengapa ia tidak digubah bersajak ialah: agar setiap najm (penggalan-bintang) ayat-ayatnya tidak masuk ke bawah ikatan wazan, sehingga dapat menjadi semacam pusat bagi kebanyakan ayat, menjadi saudaranya, dan — agar menjadi pengikat bagi hubungan maknawi yang ada di antara mereka — membentuk garis hubungan kepada ayat-ayat di dalam lingkaran yang meliputinya itu. Seakan-akan setiap ayat yang bebas itu memiliki sebuah mata yang memandang kebanyakan ayat, sebuah wajah yang menghadap kepadanya. Di dalam Al-Qur'an terdapat ribuan Al-Qur'an: kepada setiap pemilik masyrab ia memberikan salah satunya. Sebagaimana diterangkan dalam Kalimat Kedua Puluh Lima: di dalam Surah Al-Ikhlash terdapat — dan ia memuatnya — sebuah khazanah ilmu tauhid yang tersusun dari rangkaian enam kalimat, masing-masing bersayap-sayap, sebanyak tiga puluh enam Surah Al-Ikhlash. Ya, sebagaimana bintang-bintang yang tampak tak teratur di langit: dari sisi ketiadaan keteraturan lahiriahnya itu, setiap bintang tidak masuk ke bawah ikatan, dan masing-masing — sebagai semacam pusat bagi kebanyakan bintang — mengulurkan sebuah garis hubungan kepada setiap bintang di lingkaran sekelilingnya satu demi satu, sebagai isyarat kepada hubungan tersembunyi antar-makhluk. Seakan-akan setiap satu bintang, laksana najm ayat, memiliki sebuah mata yang memandang segenap bintang, sebuah wajah yang menghadap kepadanya. Maka lihatlah keteraturan sempurna di dalam ketidakteraturan, dan ambillah ibrah! Ketahuilah satu rahasia dari وَمَا عَلَّمْنَاهُ الشِّعْرَ وَمَا يَنْبَغ۪ى لَهُ !
Pahamilah pula rahasia ayat وَمَا يَنْبَغ۪ى لَهُ dengan ini: watak syair ialah menghendaki menghias hakikat-hakikat yang kecil dan redup dengan khayalan-khayalan yang besar dan cemerlang agar disukai. Padahal hakikat-hakikat Al-Qur'an sedemikian besar, tinggi, cemerlang, dan berkilau, hingga khayalan terbesar dan tercemerlang pun, bila dibandingkan dengan hakikat-hakikat itu, menjadi amat kecil dan redup. Misalnya, hakikat-hakikat tanpa batas seperti ini menjadi saksinya: يَوْمَ نَطْوِى السَّمَٓاءَ كَطَىِّ السِّجِلِّ لِلْكُتُبِ ❊ يُغْشِى الَّيْلَ النَّهَارَ يَطْلُبُهُ حَث۪يثًا ❊ اِنْ كَانَتْ اِلاَّ صَيْحَةً وَاحِدَةً فَاِذَاهُمْ جَم۪يعٌ لَدَيْنَا مُحْضَرُونَ
Jika engkau ingin melihat dan merasakan bagaimana setiap ayat Al-Qur'an, laksana najm tsâqib (bintang menembus-cemerlang), menebarkan cahaya kemukjizatan dan hidayah lalu mencerai-beraikan kegelapan kekufuran; andaikanlah dirimu berada di abad jahiliah itu dan di sahara kebaduian itu: pada saat segala sesuatu terbungkus tirai kebekuan dan tabiat di bawah kegelapan kebodohan dan kelalaian, tiba-tiba dari lisan luhur Al-Qur'an dengarlah ayat-ayat seperti: يُسَبِّحُ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَمَا فِى اْلاَرْضِ الْمَلِكِ الْقُدُّوسِ الْعَز۪يزِ الْحَك۪يمِ — dan pandanglah. Para makhluk alam yang mati atau tertidur itu, dengan seruan يُسَبِّحُ, bangkit hidup di benak para pendengar, terjaga, berdiri dan berzikir. Bintang-bintang — bongkahan api beku di langit gelap itu — dan makhluk-makhluk berantakan di bumi, dengan pekikan تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوَاتُ السَّبْعُ وَاْلاَرْضُ, di dalam pandangan para pendengar menampakkan wajah: langit sebagai sebuah mulut, seluruh bintang sebagai kata-kata yang memperlihatkan hikmah, cahaya-cahaya yang menuturkan hakikat; bumi sebagai sebuah kepala; darat dan laut sebagai lisan-lisan; dan seluruh hewan serta tumbuhan sebagai kata-kata penebar tasbih. Jika tidak, dengan memandang dari zaman ini ke zaman itu, engkau tidak akan melihat kehalusan-kehalusan kenikmatan tersebut. Ya, jika engkau memandang dengan keadaan yang telah menebarkan cahayanya sejak zaman itu — yang seiring berjalannya waktu telah menjadi ilmu-ilmu maklum-umum, yang berkilau bersama cahaya-cahaya Islam yang lain dan mengambil warna siang dari matahari Al-Qur'an — atau dengan tirai keterbiasaan yang dangkal dan sederhana, tentu engkau tidak akan melihat dengan sebenarnya kegelapan macam apa yang dicerai-beraikan setiap ayat di dalam senandung kemukjizatan yang manis itu, dan engkau tidak akan merasakan jenis kemukjizatan ini di antara sekian banyak jenis kemukjizatannya. Jika engkau ingin memandang salah satu derajat kemukjizatan tertinggi Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân, dengarkanlah tamsil berikut, pandanglah. Yaitu:
Andaikanlah sebuah pohon yang amat tinggi, ajaib, dan amat luas menjulur — pohon menakjubkan yang tersembunyi di bawah tirai gaib, di dalam lapisan ketertutupan. Telah maklum: sebagaimana anggota tubuh manusia, antara seluruh organ sebuah pohon — dahan-dahannya, buah-buahnya, daun-daunnya, bunga-bunganya — diperlukan hubungan, keserasian, dan keseimbangan. Setiap bagiannya mengambil bentuk dan diberi rupa menurut hakikat-diri pohon itu. Maka jika mengenai pohon yang sama sekali tak terlihat itu (dan kini pun tak terlihat) seseorang tampil, lalu di atas sebuah tirai ia menggambar satu gambar untuk setiap organnya, menarik satu garis batas untuknya; dari dahan ke buah, dari buah ke daun, ia melukis sebuah rupa dengan keserasian; dan ruang antara titik awal dan titik akhirnya yang tanpa batas saling berjauhan itu ia penuhi dengan lukisan-lukisan tepat yang memperlihatkan bentuk dan rupa organ-organnya persis — tentu tak tersisa keraguan bahwa pelukis itu melihat pohon gaib itu dengan pandangan yang akrab dengan gaib, meliputinya, kemudian menggambarkannya.
Persis seperti itu pula: penjelasan-penjelasan Furqani dari Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân mengenai hakikat para makhluk-mumkin (yakni mengenai hakikat pohon penciptaan yang terbentang dari permulaan dunia hingga penghujung akhirat, dan terhampar dari hamparan bumi hingga 'Arasy, dari zarah hingga matahari) telah sedemikian memelihara keserasian dan memberikan rupa yang layak bagi setiap organ dan buah, hingga seluruh muhaqqiq, di penghujung penelitian mereka, terhadap penggambaran Al-Qur'an berkata "Mâsyâ Allah, bârakallâh", dan berkata: "Yang menyingkap dan membuka rahasia pelik alam dan teka-teki penciptaan hanyalah engkau, wahai Al-Qur'an Al-Hakîm!"
وَ لِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلٰى — tiada cela dalam tamsil — mari kita tamsilkan asma dan sifat Ilahi serta urusan dan perbuatan Rabbani sebagai sebuah pohon Thûbâ cahaya: lingkaran keagungan pohon bercahaya itu terbentang dari azal hingga abad. Batas kebesarannya terhampar meliputi angkasa kemutlakan yang tanpa ujung. Batas pelaksanaannya terbentang dari batas يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِه۪ ❊ فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوٰى ❊ هُوَ الَّذ۪ى يُصَوِّرُكُمْ فِى اْلاَرْحَامِ كَيْفَ يَشَٓاءُ hingga batas وَالسَّمٰوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَم۪ينِه۪ ❊ خَلَقَ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضَ ف۪ى سِتَّةِ اَيَّامٍ ❊ وَ سَخَّرَ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ. Hakikat bercahaya itu, dengan seluruh dahan dan rantingnya, dengan tujuan-tujuan dan buah-buahnya, telah ia terangkan — hakikat-hakikat asma dan sifat serta urusan dan perbuatan itu — dengan sedemikian serasi, saling sesuai, saling layak, tidak saling mematahkan, tidak saling merusak hukum, tidak saling menjauh ketakutan; hingga seluruh ahli kasyf dan hakikat serta seluruh empunya irfan dan hikmah yang berkelana di lingkaran malakût, terhadap penjelasan-penjelasan Furqani itu berkata "Subhânallâh", dan membenarkannya seraya berkata: "Alangkah benar, alangkah sesuai, alangkah indah, alangkah layak."
Misalnya: enam rukun iman — yang memandang seluruh lingkaran imkân dan lingkaran wujûb, dan yang berkedudukan sebagai satu dahan dari kedua pohon agung itu — beserta seluruh dahan dan ranting rukun-rukun itu, hingga buah dan bunga yang terhalus: Al-Qur'an menggambarkannya dengan memperhatikan keserasian sedemikian rupa di antara mereka, memperkenalkannya dalam bentuk keseimbangan sedemikian rupa, dan menampakkannya dalam corak keserasian sedemikian rupa, hingga akal manusia tak berdaya memahaminya dan terpana di hadapan keindahannya. Dan bukti bahwa antara lima rukun Islam — yang berkedudukan sebagai satu ranting dari dahan iman itu — hingga perincian terhalusnya, adab terkecilnya, tujuan terjauhnya, hikmah terdalamnya, dan buah ter-juz'i-nya, terpelihara keindahan keserasian, kesempurnaan hubungan, dan keseimbangan yang utuh — ialah: kesempurnaan keteraturan, keseimbangan, keindahan keserasian, dan kekokohan syariat kubrâ Islam yang lahir dari nash-nash dan sisi-sisi Al-Qur'an yang menghimpun itu, dari isyarat dan rumus-rumusnya — sebagai seorang saksi adil yang tak terbantahkan, sebuah burhan pasti yang tak menyisakan keraguan. Berarti: penjelasan-penjelasan Al-Qur'an tidak mungkin bersandar pada ilmu juz'i manusia — terlebih ilmu seorang ummi. Melainkan ia bersandar pada sebuah ilmu yang meliputi; ia adalah kalam sebuah Zat yang dapat melihat segala sesuatu sekaligus dan menyaksikan seluruh hakikat dalam sekejap di antara azal dan abad. Ayat اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذ۪ٓى اَنْزَلَ عَلٰى عَبْدِهِ الْكِتَابَ وَلَمْ يَجْعَلْ لَهُ عِوَجًا mengisyaratkan hakikat ini.
اَللّٰهُمَّ يَا مُنْزِلَ الْقُرْاٰنِ بِحَقِّ الْقُرْاٰنِ وَ بِحَقِّ مَنْ اُنْزِلَ عَلَيْهِ الْقُرْاٰنُ نَوِّرْ قُلُوبَنَا وَ قُبُورَنَا بِنُورِ اْلا۪يمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اٰم۪ينَ يَا مُسْتَعَانُ
Maqam Kedua Kalimat Ketiga Belas
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ
(Sebuah percakapan dengan beberapa pemuda yang berada di dalam fitnah yang memikat namun belum kehilangan akalnya.)
Sekelompok pemuda, di hadapan serangan hiburan-hiburan melalaikan dan hawa-hawa keinginan masa kini yang menipu dan memikat, bertanya, "Dengan cara apa kami menyelamatkan akhirat kami?" — mereka meminta pertolongan dari Risale-i Nur. Aku pun, atas nama pribadi maknawi (syakhsh ma'nawi) Risale-i Nur, berkata kepada mereka: Kubur itu ada; tak seorang pun dapat mengingkarinya. Setiap orang, mau tak mau, akan masuk ke sana. Dan untuk masuk ke sana tidak ada jalan selain tiga corak, tiga jalan:
Jalan pertama:
Kubur itu, bagi ahli iman, adalah pintu sebuah alam yang lebih indah daripada dunia ini.
Jalan kedua:
Bagi mereka yang membenarkan akhirat namun berjalan dalam foya-foya dan kesesatan, ia adalah pintu sebuah penjara abadi dan sebuah penjara pengasingan seorang diri, dalam keterpisahan dari seluruh kekasihnya. Karena ia tidak beramal sebagaimana yang ia lihat, ia yakini, dan ia imani, ia akan diperlakukan demikian.
Jalan ketiga:
Bagi ahli pengingkaran dan kesesatan yang tidak beriman kepada akhirat, ia adalah pintu kemusnahan abadi... Yakni sebuah tiang gantungan yang akan memusnahkan dirinya dan seluruh yang dicintainya. Karena demikianlah yang ia yakini, sebagai balasannya ia akan melihat persis seperti itu. Dua pilihan ini terang-benderang, tidak memerlukan dalil, terlihat dengan mata.
Madem ajal tersembunyi; maut setiap waktu dapat datang memenggal kepala, dan tidak ada beda muda ataupun tua. Tentu, di hadapan persoalan besar nan mengerikan yang senantiasa berada di depan matanya itu, manusia yang malang mencari jalan selamat dari kemusnahan abadi itu, dari penjara pengasingan yang tak berdasar dan tak berujung itu; dan peristiwa mengubah pintu kubur — bagi dirinya — menjadi sebuah pintu yang terbuka menuju alam yang kekal, kebahagiaan abadi, dan alam cahaya: itulah persoalan sebesar dunia bagi manusia itu.
Hakikat pasti ini hanya ada melalui tiga jalan itu; dan bahwa ketiga jalan itu akan terjadi dengan tiga hakikat yang telah disebut — dikabarkan oleh seratus dua puluh empat ribu pengabar jujur, para nabi yang di tangan mereka terdapat mukjizat sebagai tanda pembenaran; dan oleh seratus dua puluh empat juta wali yang membenarkan dan membubuhkan tanda tangan — dengan kasyf, dzauq, dan penyaksian — atas kabar yang sama yang diberitakan para nabi itu; dan oleh para muhaqqiq yang tak terhitung jumlahnya, yang dengan dalil-dalil pasti membuktikan secara akal, pada derajat 'ilmul-yaqîn, kabar yang sama yang diberikan para nabi dan para wali itu {(Hasyiyah): Salah satunya adalah Risale-i Nur. Ia ada di tengah medan.}; dan mereka semua, dengan kemungkinan pasti sembilan puluh sembilan persen, secara sepakat memberitakan: "Selamat dari kemusnahan dan penjara abadi, serta mengubah jalan itu menjadi kebahagiaan abadi, hanyalah dengan iman dan ketaatan."
Gerangan: jika perkataan satu orang pengabar saja diperhitungkan agar orang tidak menempuh jalan berbahaya yang mengandung satu persen kemungkinan binasa — dan derita batin dari kekhawatiran binasa itu membuat orang yang tetap menempuh jalan itu kehilangan selera makannya; maka ratusan ribu pengabar yang jujur dan dibenarkan itu memberitakan dengan kepastian seratus persen bahwa kesesatan dan foya-foya adalah sebab pasti menuju tiang gantungan kubur yang ada di depan mata itu dan penjara pengasingan abadi, sedangkan iman dan ubudiyah — dengan kepastian seratus persen — mengangkat tiang gantungan itu, menutup penjara pengasingan itu, dan mengubah kubur yang di depan mata ini menjadi pintu yang terbuka menuju khazanah abadi dan istana kebahagiaan; dan mereka menunjukkan tanda-tanda dan jejak-jejaknya. Maka di hadapan persoalan yang menakjubkan, aneh, mengerikan, dan agung ini: manusia malang itu — terlebih seorang muslim — jika tidak memiliki iman dan ubudiyah, seandainya seluruh kekuasaan dan kelezatan dunia diberikan kepada satu orang itu; gerangan dapatkah semua itu menghilangkan derita pedih yang lahir dari kekhawatiran itu, pada seseorang yang menunggu gilirannya dipanggil ke tempat yang di depan mata itu setiap waktu? Aku bertanya kepada kalian.
Madem ketuaan, penyakit, musibah, dan kematian-kematian di segala penjuru mengorek derita yang mengerikan itu dan mengingatkannya. Tentu ahli kesesatan dan foya-foya itu, meski meraih ratusan ribu kelezatan dan kenikmatan, tetap hidup dan terbakar di kalbunya sebuah jahannam maknawi. Namun kelinglungan kelalaian yang amat tebal membuatnya tak terasa untuk sementara.
Madem ahli iman dan ketaatan melihat kubur di depan matanya sebagai pintu — bagi dirinya — menuju khazanah abadi dan kebahagiaan yang tak kunjung lenyap; dan dari undian mukadarat azali itu sebuah tiket yang akan memenangkan miliaran emas dan intan pun telah keluar baginya berkat dokumen iman. Menunggu setiap waktu seruan "Mari, ambillah tiketmu!" memberikan kelezatan yang dalam, mendasar, hakiki, dan kenikmatan maknawi yang sedemikian rupa: seandainya ia menjelma dan benih itu menjadi pohon, ia menjadi surga khusus bagi orang itu. Padahal siapa yang meninggalkan kenikmatan dan kelezatan agung itu, lalu — atas dorongan masa muda — memilih kelezatan tidak masyru' yang sementara, yang penuh dengan derita tanpa batas, yang laksana madu beracun, dengan cara foya-foya dan menuruti hawa; ia jatuh seratus derajat lebih rendah daripada hewan. Ia pun tidak dapat menjadi seperti orang-orang asing yang tak beragama. Sebab mereka, jika mengingkari nabi mereka, dapat mengenal nabi-nabi yang lain. Jika tidak mengenal para nabi, mereka dapat mengenal Allah. Jika tidak mengenal Allah, pada diri mereka dapat terdapat sebagian perangai baik yang menjadi tumpuan kesempurnaan. Namun seorang muslim mengenal para nabi, Rabbnya, dan seluruh kesempurnaan melalui Muhammad Al-'Arabî صلى الله عليه وسلم. Siapa yang meninggalkan tarbiyahnya dan keluar dari rantainya, ia tidak lagi mengenal nabi mana pun ('alaihissalâm), tidak pula mengenal Allah. Ia pun tidak dapat mengetahui satu asas pun yang akan memelihara kesempurnaan di dalam ruhnya. Sebab: siapa yang meninggalkan tarbiyah asasi dan pokok-pokok agama dari zat yang merupakan nabi paling akhir dan paling agung, yang agama dan dakwahnya memandang seluruh jenis manusia, yang unggul atas semua dari segi mukjizat dan agama, yang menjadi guru seluruh jenis manusia dalam seluruh hakikat dan membuktikannya secara cemerlang selama empat belas abad, dan yang menjadi kebanggaan jenis manusia — tentu ia tidak akan menemukan satu cahaya pun, satu kesempurnaan pun dari sisi mana pun. Ia terpidana pada kejatuhan mutlak.
Maka wahai orang-orang malang yang tergila-gila pada kenikmatan kehidupan duniawi dan yang berjuang demi menjamin masa depan dan hidupnya dengan kekhawatiran akan masa depan! Jika kalian menghendaki kelezatan, kenikmatan, kebahagiaan, dan ketenangan dunia; cukupkanlah diri dengan kesenangan di dalam lingkaran yang masyru' (dibenarkan syariat). Itu cukup bagi kesenangan kalian. Bahwa di dalam satu kelezatan di luar itu, di lingkaran yang tidak masyru', terdapat seribu derita — tentu telah kalian pahami dari penjelasan-penjelasan yang lalu. Seandainya keadaan-keadaan masa depan — misalnya keadaan lima puluh tahun kemudian — diperlihatkan dengan sinema, sebagaimana kini mereka memperlihatkan peristiwa-peristiwa masa lalu dengan sinema; niscaya ahli foya-foya akan menangis dengan ratusan ribu kutukan dan kebencian atas apa yang kini mereka tertawakan. Siapa yang menghendaki kegembiraan yang abadi dan kekal di dunia dan akhirat, hendaklah menjadikan tarbiyah Muhammad صلى الله عليه وسلم di dalam lingkaran iman sebagai penuntunnya.
Sebuah peringatan, sebuah pelajaran, sebuah teguran yang diberikan kepada beberapa pemuda malang
Suatu hari beberapa pemuda cemerlang datang kepadaku. Kepada para pemuda yang ingin mendapatkan teguran berkesan agar terjaga dari bahaya-bahaya yang datang dari sisi kehidupan, kemudaan, dan hawa keinginan ini, aku pun berkata sebagaimana dahulu kukatakan kepada para pemuda yang meminta pertolongan Risale-i Nur: Kemudaan yang ada pada kalian pasti akan pergi. Jika kalian tidak tinggal di dalam lingkaran yang masyru', kemudaan itu akan tersia-sia dan mendatangkan ke atas kepala kalian — di dunia, di kubur, dan di akhirat — bencana dan derita yang jauh melebihi kelezatannya. Namun jika, dengan tarbiyah Islam, kalian membelanjakan nikmat kemudaan itu — sebagai syukur atasnya — dalam kesucian diri, kehormatan, dan ketaatan, kemudaan itu akan kekal secara maknawi dan menjadi sebab diraihnya kemudaan yang abadi.
Adapun kehidupan: jika tanpa iman, atau iman itu tak berpengaruh karena kedurhakaan; bersama kenikmatan dan kelezatan lahiriah yang amat singkat, kehidupan memberikan derita, kesedihan, dan kepiluan ribuan derajat melebihi kenikmatan itu. Sebab, karena pada manusia ada akal dan pikiran, berbeda dengan hewan, ia secara fitrah terikat dengan masa lalu dan masa depan di samping masa kini. Dari zaman-zaman itu ia dapat memperoleh derita maupun kelezatan. Sedangkan hewan, karena tidak berpikir, kelezatannya yang hadir tidak dirusak oleh kesedihan yang datang dari masa lalu dan ketakutan serta kekhawatiran yang datang dari masa depan. Manusia, jika jatuh ke dalam kesesatan dan kelalaian, kelezatan hadirnya menjadi benar-benar pahit dan rusak oleh kesedihan dari masa lalu dan kekhawatiran dari masa depan. Terlebih jika tidak masyru': ia sepenuhnya laksana madu beracun. Berarti, dari titik kelezatan hidup, ia jatuh seratus derajat di bawah hewan. Bahkan kehidupan ahli kesesatan dan kelalaian — bahkan wujudnya, bahkan alamnya — hanyalah hari yang sedang ia jalani. Seluruh zaman lampau dan alam-alamnya, dari titik kesesatannya, adalah tiada, telah mati. Keterikatan akalnya memberinya kegelapan-kegelapan dari sana. Zaman-zaman mendatang pun, dari sisi ketiadaan iktikadnya, adalah tiada. Dan perpisahan-perpisahan abadi yang lahir dari ketiadaan itu terus-menerus memberikan kegelapan kepada hidupnya melalui jalan pikirannya. Namun jika iman menjadi kehidupan bagi kehidupan; saat itu masa lalu maupun masa depan bercahaya dengan cahaya iman dan memperoleh wujud. Seperti masa kini, keduanya memberikan kepada ruh dan kalbunya — dari titik iman — kenikmatan-kenikmatan luhur nan maknawi dan cahaya-cahaya wujud. Penjelasan hakikat ini ada di dalam Risalah Orang Tua (İhtiyar Risalesi), pada Harapan Ketujuh. Hendaklah kalian merujuknya.
Demikianlah kehidupan. Jika kalian menghendaki kelezatan dan kenikmatan hidup, hidupkanlah hidup kalian dengan iman, hiaslah dengan farâidh (kewajiban-kewajiban fardhu), dan peliharalah dengan menjauhi dosa-dosa. Adapun hakikat maut yang mengerikan, yang diperlihatkan kematian-kematian setiap hari, di setiap tempat, dan setiap waktu — akan kuterangkan kepada kalian dengan sebuah tamsil, sebagaimana kukatakan kepada pemuda-pemuda lain:
Misalnya, di sini, di depan mata kalian, sebuah tiang gantungan telah ditegakkan. Di sampingnya ada sebuah kantor undian — yang memberikan tiket-tiket hadiah amat besar. Kita yang sepuluh orang di sini, mau tak mau, tanpa jalan lain sama sekali, akan diundang ke sana; mereka akan memanggil kita. Dan karena waktu pemanggilan tersembunyi, setiap menit kita menunggu ucapan: "Mari, ambillah tiket kemusnahanmu, naiklah ke tiang gantungan!" atau: "Mari, sebuah tiket hadiah yang memenangkan jutaan emas telah keluar untukmu; mari, ambillah!" Ketika itu, tiba-tiba dua orang datang ke pintu. Yang satu, seorang perempuan setengah telanjang, cantik dan menipu, membawa di tangannya halwa (manisan) yang lahirnya amat manis namun beracun, hendak menyuapkannya. Yang satu lagi, seorang lelaki serius yang tidak menipu dan tidak tertipu, masuk di belakang perempuan itu. Ia berkata: "Aku membawakan kalian sebuah tilsim (kunci-rahasia), sebuah pelajaran. Jika kalian membacanya dan tidak memakan halwa itu, kalian selamat dari tiang gantungan itu. Dengan tilsim ini kalian menerima tiket hadiah yang tiada bandingnya itu. Lihatlah, di tiang gantungan ini kalian sudah melihat dengan mata kepala sendiri: para pemakan madu itu masuk ke sana; dan hingga masuk ke sana mereka menanggung sakit perut yang mengerikan dari racun halwa itu. Dan para penerima tiket hadiah besar itu memang tak terlihat, dan secara lahiriah tampak mereka pun naik ke tiang gantungan itu. Namun jutaan saksi memberitakan bahwa mereka tidak digantung, melainkan menjadikan tempat itu anak tangga untuk masuk dengan mudah ke kantor hadiah. Lihatlah dari jendela-jendela. Para pejabat terbesar dan tokoh-tokoh besar yang mengurusi perkara ini memaklumkan dengan suara lantang dan memberitakan: sebagaimana kalian melihat dengan mata 'ainul-yaqîn orang-orang yang pergi ke tiang gantungan itu, ketahuilah dengan pasti — tanpa syak dan keraguan sedikit pun, seterang siang — bahwa para pemegang tilsim itu menerima tiket hadiah tersebut."
Maka, seperti tamsil ini: kenikmatan penuh foya-foya dari kemudaan di lingkaran yang tidak masyru' — yang berkedudukan sebagai madu beracun — karena menghilangkan iman, yaitu tiket dan dokumen bagi khazanah abadi dan kebahagiaan sarmadi, membuat orang jatuh ke dalam musibah kubur — pintu kegelapan abadi — dan maut yang berkedudukan sebagai tiang gantungan, persis seperti yang tampak secara lahiriah. Dan karena ajal tersembunyi, algojo ajal — tanpa membedakan muda dan tua — setiap waktu dapat datang memenggal kepala. Namun jika manusia meninggalkan hawa-hawa keinginan tidak masyru' yang laksana madu beracun itu, lalu meraih tilsim Qur'ani — iman dan farâidh — maka ia akan menerima tiket khazanah kebahagiaan abadi yang keluar dari undian mukadarat manusia yang luar biasa itu: hal ini dikabarkan secara sepakat oleh seratus dua puluh empat ribu nabi 'alaihimussalâm bersama para ahli kewalian dan ahli hakikat yang tak terhitung dan tak terhingga, dan mereka menunjukkan jejak-jejaknya.
Walhasil: kemudaan akan pergi. Jika ia pergi dalam foya-foya, ia menghasilkan ribuan bencana dan derita di dunia maupun di akhirat; dan jika kalian ingin memahami bahwa pemuda-pemuda semacam itu kebanyakan akan jatuh ke rumah-rumah sakit dengan penyakit-penyakit penuh waham yang datang dari penyalahgunaan dan pemborosan, ke penjara-penjara atau rumah-rumah kemelaratan karena keliaran mereka, dan ke kedai-kedai minuman karena himpitan derita-derita batin — tanyakanlah kepada rumah-rumah sakit, penjara-penjara, dan pekuburan. Tentu, sebagaimana dari lisan hal rumah-rumah sakit kalian kebanyakan akan mendengar rintihan dan keluhan akibat penyakit yang datang dari pemborosan dan penyalahgunaan atas dorongan kemudaan; dari penjara-penjara pun kalian kebanyakan akan mendengar penyesalan pemuda-pemuda malang yang menerima tamparan atas tindakan-tindakan di lingkaran tidak masyru' karena keliaran kemudaan. Dan di pekuburan, dan di alam barzakh yang pintu-pintunya terus terbuka dan tertutup bagi mereka yang masuk ke sana — dengan penyaksian para ahli kasyful-qubûr (penyingkap keadaan kubur) dan dengan pembenaran serta kesaksian seluruh ahli hakikat — kalian akan mengetahui bahwa kebanyakan azab adalah akibat penyalahgunaan masa muda. Tanyakan pula kepada para orang tua dan orang-orang sakit, yang membentuk mayoritas jenis manusia. Tentu mayoritas mutlak dari mereka, dengan sesal dan pilu, akan berkata: "Aduhai, kemudaan kami telah kami sia-siakan dengan percuma — bahkan dengan merugikan. Janganlah sekali-kali berbuat seperti kami." Sebab orang yang, demi kenikmatan tidak masyru' selama lima-sepuluh tahun kemudaan, menanggung bertahun-tahun kesedihan dan kepiluan di dunia, azab dan kerugian di barzakh, serta bencana Jahannam dan Saqar di akhirat — meski berada dalam keadaan paling patut dikasihani — dengan rahasia اَلرَّاض۪ى بِالضَّرَرِ لاَ يُنْظَرُ لَهُ ia sama sekali tidak berhak dikasihani. Sebab siapa yang masuk ke dalam mudarat dengan kerelaannya, ia tidak dikasihani dan tidak layak dikasihani. Semoga Allah Yang Haq menyelamatkan dan memelihara kita dan kalian dari fitnah zaman ini yang memikat, âmîn...
Dari timbangan-timbangan Risale-i Nur: Hasyiyah bagi Maqam Kedua Kalimat Ketiga Belas
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ
Para tahanan amat membutuhkan penghiburan hakiki yang ada di dalam Risale-i Nur. Terlebih mereka yang terpukul hantaman masa muda dan melewatkan umurnya yang segar dan manis di penjara: kebutuhan mereka kepada Nur seperti kebutuhan kepada roti. Ya, urat kemudaan lebih mendengarkan perasaan daripada akal... Sedangkan perasaan dan hawa itu buta, tidak melihat akibat. Ia mengutamakan satu dirham kelezatan hadir atas satu batman kelezatan di kemudian hari. Dengan kelezatan balas dendam satu menit, ia membunuh — lalu menanggung derita penjara delapan puluh ribu jam. Dan dengan kesenangan foya-foya satu jam dalam suatu perkara kehormatan, kebahagiaan umurnya hancur oleh himpitan ribuan hari kekhawatiran penjara sekaligus musuh. Dengan mengiaskan kepada ini, para pemuda malang memiliki banyak jurang bahaya: mereka mengubah hidupnya yang termanis menjadi hidup yang paling pahit dan paling patut ditangisi. Dan khususnya di utara, sebuah negara besar, dengan menguasai hawa keinginan kaum muda, mengguncang abad ini dengan badai-badainya. Sebab kepada para pemuda yang bergerak dengan perasaan buta yang tak melihat akibat, ia membolehkan gadis-gadis cantik dan istri-istri orang-orang terhormat. Bahkan, dengan mengizinkan lelaki dan perempuan masuk bersama-sama dalam keadaan telanjang di pemandian-pemandiannya, ia mendorong kekejian ini. Ia pun menghalalkan harta orang-orang kaya bagi para gelandangan dan kaum fakir; seluruh umat manusia gemetar menghadapi musibah ini.
Maka pada abad ini, pemuda-pemuda Islam dan Turki wajib bersikap kesatria dan menghadapi bahaya yang menyerang dari dua arah ini dengan pedang-pedang tajam Risale-i Nur seperti Meyve (Risalah Buah) dan Panduan Pemuda (Gençlik Rehberi). Jika tidak, pemuda malang itu akan menghancurkan masa depan dunianya, kehidupan bahagianya, kebahagiaan akhiratnya, dan kehidupan kekalnya — mengubahnya menjadi azab dan derita; dengan penyalahgunaan dan foya-foya ia jatuh ke rumah-rumah sakit, dan dengan keliaran perasaannya ke penjara-penjara. Di masa tuanya ia akan banyak menangis dengan keluh dan sesal. Namun jika ia memelihara dirinya dengan tarbiyah Qur'ani dan hakikat-hakikat Nur, ia akan menjadi pemuda yang benar-benar kesatria, manusia yang sempurna, muslim yang bahagia, dan semacam sultan bagi makhluk-makhluk hidup dan hewan-hewan yang lain.
Ya, seorang pemuda di penjara, jika dari dua puluh empat jam umur setiap harinya membelanjakan satu jam saja untuk shalat fardhu yang lima; dan — sebagaimana penjara menghalangi kebanyakan dosa — jika ia bertobat dari kesalahan yang menyebabkan musibah itu serta menjauhi dosa-dosa lain yang merugikan dan menyakitkan; sebagaimana hal itu memberi manfaat besar bagi hidupnya, masa depannya, tanah airnya, bangsanya, dan kerabatnya; ia pun akan memperoleh — dengan kemudaan fana sepuluh-lima belas tahun itu — kemudaan abadi yang cemerlang: hal ini dikabarkan secara pasti dan digembirakan oleh Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân di barisan terdepan, beserta seluruh Kitab dan Shuhuf Samawi.
Ya, jika ia mensyukuri nikmat kemudaan yang manis dan indah itu dengan istiqamah dan ketaatan, kemudaan itu bertambah, menjadi kekal, dan menjadi lezat. Jika tidak, ia menjadi penuh bencana, penuh derita, kesedihan, dan mimpi buruk, lalu pergi. Ia pun menyebabkan pemiliknya menjadi gelandangan yang merugikan kerabatnya, tanah airnya, dan bangsanya.
Jika sang tahanan divonis secara zalim, dengan syarat menunaikan shalat fardhu, setiap jamnya menjadi ibadah satu hari; dan penjara itu baginya menjadi tempat penempaan diri dalam uzlah; ia dapat terhitung di antara orang-orang saleh penyendiri zaman dahulu yang beribadah dengan memasuki gua-gua.
Jika ia fakir, tua, sakit, dan merindukan hakikat-hakikat iman; dengan syarat menunaikan fardhu dan bertobat, setiap jamnya menjadi dua puluh jam ibadah, dan penjara baginya menjadi rumah peristirahatan, dan bagi kawan-kawan yang memandangnya penuh kasih menjadi rumah kasih sayang, rumah pendidikan, dan rumah pelajaran. Dengan tinggal di penjara itu, ia dapat merasa lebih senang daripada kebebasan di luar yang kacau dan terpapar serangan dosa-dosa dari segala arah. Ia mengambil tarbiyah yang utuh dari penjara. Saat keluar, ia keluar bukan sebagai pembunuh atau pendendam, melainkan sebagai orang yang bertobat, berpengalaman, terdidik, dan bermanfaat bagi bangsanya. Bahkan sebagian tokoh yang menyaksikan para penghuni penjara Denizli mengambil pelajaran akhlak mulia yang luar biasa dari Nur dalam waktu singkat berkata: "Demi pendidikan, daripada memenjarakan mereka lima belas tahun, lima belas pekan pelajaran Risale-i Nur lebih memperbaiki mereka."
Madem maut tidak mati, dan ajal tersembunyi, setiap waktu dapat datang; dan madem kubur tidak tertutup, kafilah demi kafilah yang datang di belakang masuk ke sana dan menghilang; dan madem telah diperlihatkan dengan hakikat Qur'ani bahwa maut, bagi ahli iman, diubah dari kemusnahan abadi menjadi surat pembebastugasan; sedangkan bagi ahli kesesatan dan foya-foya, sebagaimana terlihat dengan mata, ia adalah kemusnahan abadi — sebuah perpisahan tanpa akhir dari seluruh kekasih dan makhluk. Tentu, dan tentu tak tersisa keraguan sedikit pun: yang paling beruntung ialah orang yang bersyukur di dalam sabar, memanfaatkan sepenuhnya masa penjaranya, mengambil pelajaran Nur, dan berusaha berkhidmah kepada imannya dan Al-Qur'an di dalam lingkaran istiqamah.
Wahai manusia yang tergila-gila pada kenikmatan dan kelezatan! Aku, pada usia tujuh puluh lima tahun, dengan ribuan pengalaman, hujjah, dan peristiwa, mengetahui secara 'ainul-yaqîn: kenikmatan hakiki, kelezatan tanpa derita, kegembiraan tanpa kepiluan, dan kebahagiaan di dalam hidup hanyalah ada di dalam iman dan di dalam lingkaran hakikat-hakikat iman. Jika tidak, di dalam satu kelezatan duniawi terdapat banyak derita. Ia menyuapkan sebutir anggur lalu memukul sepuluh tamparan: ia membuat kelezatan hidup lari.
Wahai orang-orang malang yang jatuh ke dalam musibah penjara! Madem dunia kalian menangis dan hidup kalian menjadi pahit; berusahalah agar akhirat kalian tidak ikut menangis, agar kehidupan kekal kalian tertawa dan menjadi manis; ambillah manfaat dari penjara. Sebagaimana terkadang, dalam keadaan berat di hadapan musuh, satu jam jaga dapat menjadi ibadah satu tahun. Demikian pula kesukaran ibadah satu jam kalian dalam keadaan berat ini menjadi berjam-jam banyaknya, dan mengubah kesukaran-kesukaran itu menjadi rahmat.
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ
Saudara-saudaraku yang mulia dan shiddîq!
Kepada mereka yang jatuh ke dalam musibah penjara, dan kepada mereka yang dengan penuh kasih dan kesetiaan mengawasi serta membantu rezeki mereka yang datang dari luar, akan kuterangkan sebuah penghiburan yang kuat dalam "Tiga Titik".
Titik Pertama:
Hari-hari umur yang dilewatkan di penjara: setiap harinya dapat memberikan pahala ibadah sepuluh hari, dan dapat mengubah jam-jam yang fana — dari sisi buah-buahnya — menjadi jam-jam yang kekal secara maknawi, dan hukuman lima-sepuluh tahun dapat menjadi perantara selamat dari penjara abadi jutaan tahun. Maka syarat keuntungan yang amat besar dan amat berharga bagi ahli iman ini ialah: menunaikan shalat fardhu, bertobat dari dosa-dosa yang menyebabkan masuk penjara, dan bersyukur di dalam sabar. Lagi pula penjara menghalangi banyak dosa, tidak memberinya kesempatan.
Titik Kedua:
Sebagaimana lenyapnya kelezatan adalah penderitaan, lenyapnya penderitaan pun adalah kelezatan. Ya, setiap orang, bila mengenang hari-harinya yang lalu yang lezat dan senang, merasakan derita batin penyesalan dan kerinduan-pilu, lalu berkata "aduhai"; dan bila mengingat hari-harinya yang lalu yang penuh musibah dan derita, ia merasakan sebuah kelezatan maknawi dari lenyapnya, lalu berkata: "Alhamdulillah, syukur; bencana itu meninggalkan pahalanya dan pergi." Ia bernapas lega. Berarti derita sementara satu jam meninggalkan sebuah kelezatan maknawi di dalam ruh, dan jam yang lezat sebaliknya meninggalkan derita. Madem hakikatnya demikian; dan madem jam-jam musibah yang lalu beserta derita-deritanya telah ma'dûm dan tiada, dan hari-hari bencana yang akan datang kini ma'dûm dan tiada; dan dari tiada tidak ada derita, dari yang ma'dûm tidak datang derita. Misalnya: karena kemungkinan lapar dan haus beberapa hari kemudian, betapa gilanya bila hari ini — dengan niat itu — orang terus-menerus makan roti dan minum air. Persis seperti itu pula: memikirkan sekarang jam-jam penuh derita yang lalu dan yang akan datang — yang telah hampa, ma'dûm, dan tiada — lalu menunjukkan ketidaksabaran, dan mengabaikan nafsunya yang bersalah lalu mengadu kepada Allah dengan berkeluh "aduh, aduh" — adalah kegilaan. Jika ia tidak menghamburkan kekuatan sabarnya ke kanan-kiri — yakni ke masa lalu dan masa depan — dan menahannya untuk jam dan hari yang hadir, kekuatan itu benar-benar cukup. Kesempitan turun dari sepuluh menjadi satu. Bahkan — semoga bukan pengaduan — di Madrasah Yusufiyah ketiga ini, dalam beberapa hari, dalam musibahku yang penuh kesempitan lahir dan batin serta penyakit yang belum pernah kualami seumur hidupku, terlebih ketika keputusasaan dari terhalangnya aku dari khidmah Nur serta kesempitan kalbu dan ruh menghimpitku, inayah Ilahi memperlihatkan hakikat tersebut. Aku pun ridha dengan penyakitku yang penuh kesempitan dan dengan penjaraku. Sebab, bagi orang malang sepertiku yang berada di pintu kubur, menjadikan satu jam yang bisa berlalu dalam kelalaian sebagai sepuluh jam ibadah adalah keuntungan besar — demikian aku bersyukur.
Titik Ketiga:
Membantu para tahanan dengan khidmah penuh kasih, memberikan ke tangan mereka rezeki yang mereka butuhkan, dan membalurkan salep penghiburan pada luka-luka batin mereka: dalam amal yang sedikit ini ada keuntungan besar. Dan menyampaikan makanan mereka yang datang dari luar kepada mereka, dituliskan — senilai makanan itu, laksana sedekah — ke dalam buku catatan kebaikan sipir itu dan mereka yang bekerja bersamanya di dalam maupun di luar. Terlebih bila yang tertimpa musibah itu tua, atau sakit, atau fakir, atau terasing, pahala sedekah maknawi itu berlipat ganda.
Maka syarat keuntungan berharga ini ialah menunaikan shalat fardhu — agar khidmah itu menjadi karena Allah. Syarat lainnya pula: bersegera membantu mereka dengan kesetiaan, kasih sayang, dan sukacita, dengan cara tidak mengungkit-ungkit budi.
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَ رَحْمَةُ اللّٰهِ وَ بَرَكَاتُهُ اَبَدًا دَٓائِمًا
Wahai kawan-kawan penjaraku dan saudara-saudara seagamaku!
Terilhamkan ke kalbuku untuk menerangkan kepada kalian sebuah hakikat yang akan menyelamatkan kalian dari azab dunia maupun azab akhirat. Yaitu:
Misalnya: seseorang telah membunuh saudara atau kerabat seseorang. Sebuah pembunuhan dengan kelezatan balas dendam satu menit membuat orang menanggung jutaan menit kesempitan kalbu sekaligus azab penjara; dan kerabat yang terbunuh pun, dengan kekhawatiran balas dendam dan dengan membayangkan musuh di hadapannya, kehilangan kelezatan hidupnya dan kenikmatan umurnya. Ia menanggung azab ketakutan sekaligus azab kemarahan. Jalan keluarnya hanya satu. Yaitu yang diperintahkan Al-Qur'an dan yang dituntut serta didorong oleh hak, hakikat, maslahat, kemanusiaan, dan Islam: berdamai dan bermushalahah.
Ya, hakikat dan maslahat adalah damai. Sebab ajal itu satu, tidak berubah. Yang terbunuh itu, karena ajalnya memang telah tiba, tidak akan tinggal lebih lama. Sedangkan pembunuh itu menjadi perantara bagi qadhâ' Ilahi tersebut. Jika tidak berdamai, kedua pihak selamanya menanggung azab ketakutan dan balas dendam. Karena itulah Islam memerintahkan: "Seorang mukmin tidak mendiamkan mukmin yang lain lebih dari tiga hari." Jika pembunuhan itu tidak lahir dari permusuhan dan dendam kebencian, dan seorang munafik menjadi perantara fitnah itu, maka berdamai dengan segera adalah keharusan. Jika tidak, musibah juz'i itu menjadi besar dan berlanjut. Jika mereka berdamai, dan yang membunuh bertobat serta setiap waktu mendoakan yang terbunuh, saat itu kedua pihak beroleh banyak keuntungan dan menjadi seperti saudara. Sebagai ganti satu saudara yang pergi, ia memperoleh beberapa saudara yang taat beragama. Ia berserah kepada qadhâ' dan qadar Ilahi dan memaafkan musuhnya. Dan terlebih, madem mereka telah mendengarkan pelajaran Risale-i Nur; tentu maslahat serta ketenangan pribadi dan umum, juga ukhuwwah di dalam lingkaran Nur, menuntut ditinggalkannya seluruh pendiaman yang ada di antara mereka.
Sebagaimana di penjara Denizli seluruh tahanan yang saling bermusuhan menjadi bersaudara melalui pelajaran-pelajaran Nur, dan hal itu menjadi salah satu sebab pembebasan kami, hingga membuat orang-orang tak beragama dan para gelandangan pun berkata tentang para tahanan itu: "Mâsyâ Allah, bârakallâh" — dan para tahanan itu benar-benar bernapas lega. Aku melihat di sini: karena satu orang saja, seratus orang menanggung kesempitan dan tidak keluar ke ruang udara bersama-sama. Itu menjadi kezaliman atas mereka. Seorang mukmin yang jantan dan bernurani tidak akan menimpakan ratusan kerugian kepada ahli iman karena sebuah kesalahan kecil dan juz'i atau sebuah keuntungan. Jika ia bersalah dan menimpakannya, ia wajib segera bertobat.
بِاسْمِهِ سُبْحَانَهُ وَاِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪
Saudara-saudara baruku yang mulia dan para tahanan lama!
Telah datang keyakinanku yang pasti bahwa: salah satu sebab penting masuknya kami ke sini, dari sisi inayah Ilahi, adalah kalian. Yakni: dengan penghiburan-penghiburan Nur dan hakikat-hakikat iman, menyelamatkan kalian dari kesempitan musibah penjara ini dan dari banyak kerugian duniawinya, menyelamatkan hidup kalian dari kesia-siaan — dari terbuangnya percuma dengan kesedihan dan kepiluan yang hampa — dan menyelamatkan akhirat kalian dari tangisan sebagaimana dunia kalian menangis, serta memberi kalian penghiburan yang utuh. Madem hakikatnya demikian. Tentu kalian pun harus menjadi saudara satu sama lain, seperti para tahanan Denizli dan para murid Nur. Kalian melihat: agar sebilah pisau tidak masuk ke tengah kalian dan kalian tidak saling menyerang, seluruh barang kalian yang datang dari luar — makanan, roti, dan sup kalian — mereka aduk-aduk. Para sipir yang berkhidmah kepada kalian dengan setia banyak menanggung kepayahan. Kalian pun tidak keluar bersama-sama ke ruang udara. Seakan-akan kalian akan saling menerkam laksana binatang buas dan liar. Maka sekarang, wahai kawan-kawan baru yang membawa urat keperwiraan fitri seperti kalian, dengan sebuah keperwiraan maknawi yang besar pada zaman ini, katakanlah kepada pengurus: "Jangankan pisau, bahkan bila senapan Mauser dan revolver pun diberikan ke tangan kami, dan perintah pun diberikan, kami tidak akan menyentuh kawan-kawan kami yang malang dan tertimpa musibah seperti kami ini. Meski dahulu ada seratus permusuhan dan kebencian di antara kami, kami telah berketetapan — atas perintah dan bimbingan Al-Qur'an, iman, ukhuwwah Islamiyah, dan maslahat kami — untuk menghalalkan hak kami atas mereka dan berusaha tidak melukai hati mereka." — dan ubahlah penjara ini menjadi sebuah rumah-pelajaran yang berberkah.
Sebuah persoalan penting yang diingatkan pada Lailatul Qadar
Zail bagi Maqam Kedua Kalimat Ketiga Belas
Kami akan mengisyaratkan secara amat singkat sebuah hakikat yang amat luas dan panjang, yang datang ke kalbu pada Lailatul Qadar. Yaitu:
Jenis manusia, oleh perang dunia terakhir ini — dengan kezaliman terkerasnya dan istibdâd (penindasan sewenang-wenang) terkerasnya, dengan penghancurannya yang tanpa belas kasihan, dengan dibinasakannya ratusan orang tak bersalah karena satu musuh, dengan keputusasaan mengerikan pihak-pihak yang kalah, dengan kegelisahan mengerikan pihak-pihak yang menang dalam mempertahankan kekuasaan mereka dan ketidakmampuan memperbaiki penghancuran besar mereka, dan dengan azab-azab nurani yang mengerikan yang lahir darinya; dengan tampaknya bagi semua bahwa kehidupan dunia sepenuhnya fana dan sementara, dan bahwa fantasi-fantasi peradaban itu menipu dan membius; dengan terlukanya secara mengerikan dan menyeluruh istidad-istidad tinggi dalam fitrah manusia dan hakikat kemanusiaannya; dengan hancur berkeping-kepingnya kelalaian dan kesesatan serta tabiat yang keras dan tuli di bawah pedang intan Al-Qur'an; dengan tampaknya rupa sejati politik muka bumi yang amat buruk dan amat bengis — tirai kelalaian dan kesesatan yang paling mencekik, paling menipu, dan paling luas itu — tentu dan tentu, tanpa keraguan sedikit pun: sebagaimana tanda-tandanya telah tampak di utara, di barat, dan di Amerika, karena kehidupan duniawi — kekasih majasi jenis manusia itu — sedemikian buruk dan sepintas, jenis manusia akan mencari dengan segenap kekuatannya kehidupan kekal yang sungguh dicintai dan dicari fitrah manusia. Dan tentu, tanpa keraguan sedikit pun: Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân — yang dalam seribu tiga ratus enam puluh tahun, pada setiap abadnya, memiliki tiga ratus lima puluh juta murid; yang setiap hukum dan setiap dakwaannya dibubuhi tanda tangan pembenaran oleh jutaan ahli hakikat; yang setiap menit berada dengan kekudusan di dalam kalbu jutaan hafiz dan mengajar umat manusia melalui lisan mereka; yang — dengan cara yang tiada bandingnya di kitab mana pun — menggembirakan manusia dengan kehidupan kekal dan kebahagiaan abadi serta mengobati seluruh luka manusia — dengan ribuan ayatnya yang kuat dan berulang-ulang, secara tersurat maupun tersirat, berpuluh ribu kali mendakwakan dan memberitakan kehidupan kekal, dan dengan dalil-dalil pasti yang tak tergoyahkan serta hujjah-hujjah tanpa batas yang tak menyisakan keraguan, memberi kabar gembira kehidupan kekal secara pasti dan mengajarkan kebahagiaan abadi — maka, jika jenis manusia tidak kehilangan akalnya sama sekali dan kiamat lahir atau maknawi tidak meletus di atas kepala mereka, sebagaimana para penceramah masyhur di Swedia, Norwegia, Finlandia, dan Inggris yang berupaya menerima Al-Qur'an, dan perhimpunan penting di Amerika yang mencari agama yang haq: benua-benua luas dan pemerintahan-pemerintahan besar muka bumi akan mencari Al-Qur'an Mu'jizul-Bayân, dan setelah memahami hakikat-hakikatnya akan memeluknya dengan segenap ruh dan jiwa. Sebab, dari titik hakikat ini, Al-Qur'an sama sekali tiada bandingnya dan tidak mungkin ada; dan tak satu pun dapat menggantikan mukjizat terbesar ini.
Kedua:
Madem Risale-i Nur telah memperlihatkan khidmahnya di tangan mukjizat kubrâ ini laksana sebilah pedang intan dan telah memaksa musuh-musuhnya yang keras kepala untuk menyerah. Ia pun — dengan cara yang akan menerangi sepenuhnya kalbu, ruh, dan perasaan serta memberikan obat-obatnya — menjalankan tugas penyeru khazanah Al-Qur'an; tidak memiliki sumber dan rujukan selain Al-Qur'an; dan memiliki sebuah mukjizat maknawi: Risale-i Nur menunaikan tugas itu dengan sempurna, telah menang penuh atas propaganda-propaganda dahsyat yang menentangnya dan atas kaum zindiq yang amat keras kepala, telah menghancurkan berkeping-keping tabiat — benteng kesesatan yang paling keras dan kuat — dengan Risalah Tabiat (Tabiat Risalesi), dan di lingkaran cakrawala kelalaian yang paling tebal, mencekik, dan luas serta di tirai-tirai sains yang paling lebar, dengan "Persoalan Keenam" dari Meyve (Buah) di dalam Asâ-yı Musa (Tongkat Musa) serta Hujjah Pertama, Kedua, Ketiga, dan Kedelapannya, telah mencerai-beraikan kelalaian dengan cara yang amat cemerlang dan memperlihatkan cahaya tauhid.