NUKTAH KETIGA
Al-Kalimat · hlm. 234
اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُون۪ى يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ
Karena keindahan ciptaan di alam ini ada secara tersaksikan dan bersifat pasti, maka sudah tentu risalah Ahmad صلى الله عليه وسلم mesti tetap terbukti dengan kepastian setingkat penyaksian. Sebab keindahan seni dan hiasan rupa pada ciptaan-ciptaan yang indah ini menunjukkan bahwa pada ahli seni yang menciptakan mereka terdapat kehendak memperindah yang sungguh-sungguh dan tuntutan menghias yang kuat. Dan kehendak serta tuntutan ini menunjukkan bahwa pada Sang Shâni' terdapat cinta yang luhur dan hasrat yang suci terhadap kesempurnaan-kesempurnaan seni yang Dia tampakkan pada ciptaan-ciptaan-Nya. Dan cinta serta hasrat ini menghendaki untuk lebih terarah dan terpusat pada manusia, individu yang paling bercahaya dan paling sempurna di antara segala ciptaan. Manusia adalah buah berkesadaran dari pohon penciptaan; sedangkan buah adalah bagiannya yang paling menghimpun, paling jauh, yang pandangannya paling menyeluruh dan kesadarannya paling universal. Adapun pribadi yang pandangannya menyeluruh dan kesadarannya universal itu dapat menjadi individu tertinggi dan paling cemerlang, yang menjadi lawan bicara Sang Ahli Seni Dzul-Jamâl dan berjumpa dengan-Nya, serta mencurahkan seluruh kesadaran universalnya dan pandangan menyeluruhnya sepenuhnya untuk penyembahan kepada Sang Shâni', untuk pengaguman seni-Nya, dan untuk kesyukuran atas nikmat-Nya.
Kini tampak dua lauhah, dua lingkaran. Yang satu: sebuah lingkaran rubûbiyah yang amat megah lagi teratur, dan sebuah lauhah seni yang amat halus buatannya lagi bertatahkan permata... Yang lain: sebuah lingkaran ubudiyah yang amat bercahaya lagi semarak berbunga, dan sebuah lauhah tafakkur, pengaguman, kesyukuran, dan iman yang amat luas lagi menghimpun; lingkaran kedua ini bergerak dengan segenap kekuatannya atas nama lingkaran pertama.
Maka dengan sendirinya dapatlah dipahami betapa eratnya hubungan pemimpin lingkaran itu — yang berkhidmah kepada seluruh maksud Sang Shâni' yang mencintai seni — dengan Sang Shâni', dan betapa dicintai serta diterimanya ia dalam pandangan-Nya.
Mungkinkah akal menerima bahwa ahli seni pencipta ciptaan-ciptaan indah ini — yang sedemikian pecinta seni, bahkan pecinta pemberian nikmat sehingga memperhatikan setiap jenis rasa bagi lidah — akan tinggal acuh terhadap ciptaan-Nya yang terindah, yang menghadap kepada-Nya dengan penuh penyembahan, dalam gemuruh pengaguman dan penghargaan yang membuat 'Arsy dan hamparan bumi bergema, dengan senandung kesyukuran dan takbir yang membawa daratan dan lautan kepada jadzbah; bahwa Dia tidak akan berbicara dengannya, tidak akan dengan penuh perhatian menjadikannya rasul, dan tidak menghendaki keadaannya yang indah itu menular pula kepada yang lain? Sekali-kali tidak! Tidak berbicara dengannya dan tidak menjadikannya rasul adalah hal yang mustahil.
اِنَّ الدّ۪ينَ عِنْدَ اللّٰهِ اْلاِسْلاَمُ ❊ مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ وَالَّذ۪ينَ مَعَهُ
[Inilah tangisan-tangisan yang menangis dari sebuah kalbu yang menangis pada waktu fajar, dalam suatu penawanan yang penuh perpisahan dan keterasingan]
Pada dinihari berhembus angin tajali — Bangunlah, wahai mataku, di waktu dinihari! Mohonlah inayah dari haribaan Ilahi. Dinihari adalah tempat tobat para ahli dosa — Bangunlah, wahai kalbuku, di waktu fajar! Bertobatlah, carilah ampunan dari haribaan Ilahi.
سَحَرْ حَشْر۪يسْتْ دَرُو هُشْيَارْ دَرْ تَسْب۪يحْ هَمَه شَىْبَخَوابِ غَفْلَتْ سَرْسَمْ نَفْسَمْ حَتَّى كَىْعُمْرْ عَصْر۪يسْتْ سَفَرْ بَاقَبْرْ م۪ى بَايَدْ زِهَرْ حَىْبِبَرْخ۪يزْ نَمَاز۪ى چُو نِيَاز۪ى گُو بِكُنْ آوَاز۪ى چُونْ نَىْبَگُو يَا رَبْ پَش۪يمَانَمْ خَج۪يلَمْ شَرْمْسَارَمْ اَزْ گُنَاهْ ب۪ى شُمَارَمْ پَر۪يشَانَمْ ذَل۪يلَمْ اَشْكْ بَارَمْ اَزْ حَيَاتْ ب۪ى قَرَارَمْغَر۪يبَمْ ب۪ى كَسَمْ ضَع۪يفَمْ نَاتُوَانَمْ عَل۪يلَمْ عَاجِزَمْ اِخْتِيَارَمْ ب۪ى اِخْتِيَارَمْ َاْلاَمَانْ گُويَمْ عَفُوْ جُويَمْ مَدَدْ خَواهَمْ زِدَرْگَاهَتْ اِلٰه۪ى