NUKTAH KEDUA
Al-Kalimat · hlm. 231
اَحْسَنَ كُلَّ شَيْءٍ خَلَقَهُ
Nuktah ini menjelaskan satu rahasia ayat di atas. Yaitu:
Pada segala sesuatu — bahkan pada hal-hal yang tampak paling buruk — terdapat satu segi keindahan yang hakiki. Benar; segala sesuatu di alam, setiap peristiwa, adakalanya indah pada dirinya sendiri — itu disebut husn bidz-dzât — atau indah dari segi hasil-hasilnya — itu disebut husn bil-ghair. Ada sebagian peristiwa yang secara lahiriah buruk dan kacau, namun di balik tirai lahiriah itu terdapat keindahan-keindahan dan keteraturan-keteraturan yang amat cemerlang. Di antaranya:
Pada musim semi, di balik tirai hujan badai dan tanah berlumpur, tersimpan senyuman bunga-bunga yang tak terhingga indahnya dan tumbuh-tumbuhan yang teratur; dan penghancuran kasar musim gugur, di balik tirai-tirai perpisahan yang pilu, adalah — sambil membebastugaskan dari tugas kehidupan hewan-hewan mungil nan lembut, para sahabat bunga-bunga yang manja, demi melindungi mereka dari tekanan dan siksaan peristiwa-peristiwa musim dingin yang merupakan mazhhar tajali-tajali jalâliyah Subhâniyah — penyiapan tempat bagi musim semi baru yang lembut, segar, dan indah di balik tirai musim dingin itu. Di balik tirai peristiwa-peristiwa seperti badai, gempa, dan wabah, tersembunyi mekarnya sangat banyak bunga maknawi. Banyak biji istidad yang tinggal tak bertunas dan tak berkembang laksana benih-benih, justru karena peristiwa-peristiwa yang tampak buruk secara lahiriah itu, bertunas dan menjadi indah. Seakan-akan segala pergolakan dan perubahan menyeluruh itu masing-masing adalah sebuah hujan maknawi. Akan tetapi manusia, karena memuja yang lahiriah sekaligus mementingkan dirinya sendiri, memandang yang lahir lalu memvonisnya buruk. Dari segi sifat mementingkan diri, ia menimbang hanya dengan hasil yang memandang dirinya sendiri, lalu memvonisnya sebagai keburukan. Padahal jika tujuan segala sesuatu yang berkenaan dengan manusia itu satu, maka yang berkenaan dengan asma Shâni'-nya ada ribuan.
Misalnya: rumput-rumput dan pohon-pohon berduri, yang termasuk mukjizat-mukjizat besar kudrat Sang Fâthir, ia anggap berbahaya dan tak bermakna. Padahal mereka adalah para pahlawan bersenjata lengkap dari kalangan rumput dan pepohonan. Misalnya: dikuasakannya burung alap-alap atas burung-burung pipit secara lahiriah tampak tak sesuai dengan rahmat. Padahal istidad burung pipit justru berkembang melalui penguasaan itu. Misalnya: salju mereka anggap teramat dingin dan hambar. Padahal di balik tirainya yang dingin dan hambar itu terdapat tujuan-tujuan yang begitu hangat dan hasil-hasil manis laksana gula, yang tak terlukiskan. Lagi pula manusia, di samping sifat mementingkan diri dan pemujaannya pada yang lahiriah, menimbang segala sesuatu dengan wajahnya yang memandang dirinya sendiri, sehingga banyak hal yang merupakan adab semata ia sangka berlawanan dengan adab. Misalnya, organ reproduksi manusia: dalam pandangan manusia, pembicaraan tentangnya mendatangkan rasa malu. Namun tirai rasa malu itu hanya ada pada wajah yang memandang manusia. Adapun wajah-wajah yang memandang penciptaan, ciptaan, dan tujuan-tujuan fitrah adalah tirai-tirai yang, bila dipandang dengan pandangan hikmah, merupakan adab itu sendiri; rasa malu sama sekali tidak menyentuhnya.
Demikianlah, sebagian ungkapan Al-Qur'an Al-Hakîm — sumber segala adab — mengikuti wajah-wajah dan tirai-tirai ini. Sebagaimana di balik wajah-wajah lahiriah makhluk-makhluk dan peristiwa-peristiwa yang tampak buruk bagi kita terdapat wajah-wajah indah yang memandang kepada ciptaan dan penciptaannya yang amat indah lagi penuh hikmah — wajah-wajah yang memandang kepada Shâni'-nya; dan ada banyak tirai indah yang menyimpan hikmah-hikmah; dan ada sangat banyak ketidakteraturan serta kekacauan lahiriah yang sesungguhnya merupakan sebuah tulisan qudsi yang sangat teratur.