Risale-i NurAl-Kalimat

NUKTAH PERTAMA

Al-Kalimat · hlm. 230

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ

لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذ۪ينَ يَفْرَحُونَ بِمَٓا اَتَوْا وَيُحِبُّونَ اَنْ يُحْمَدُوا بِمَا لَمْ يَفْعَلُوا فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ اَل۪يمٌ

Sebuah tamparan pengajaran bagi nafsu ammârahku:

Wahai nafsuku yang dungu — yang tergila-gila pada kebanggaan, yang terjangkiti ketagihan kemasyhuran, yang gandrung pada pujian, yang tiada bandingnya dalam memandang diri sendiri! Jika sebutir biji kecil yang menjadi asal pohon tin yang menghasilkan ribuan buah, dan sebatang ranting hitam kering anggur yang padanya bergantung seratus tandan, boleh mengaku bahwa seluruh buah dan tandan itu adalah kepandaian mereka sendiri, dan bahwa orang-orang yang mengambil manfaat darinya wajib memuji serta menghormati ranting dan biji itu — jika itu sebuah dakwaan yang benar — maka engkau pun barangkali punya hak untuk berbangga dan bermegah atas nikmat-nikmat yang dimuatkan padamu. Padahal engkau senantiasa berhak atas celaan. Sebab engkau tidak seperti biji dan ranting itu. Karena engkau memiliki sebuah juz' ikhtiyârî, engkau mengurangi nilai nikmat-nikmat itu dengan kebanggaanmu, merusaknya dengan kemegahanmu, membatalkannya dengan kekufuranmu akan nikmat, dan merampasnya dengan mengaku-aku memilikinya. Tugasmu bukanlah berbangga, melainkan bersyukur. Yang layak bagimu bukanlah kemasyhuran, melainkan tawadhu dan rasa malu. Hakmu bukanlah pujian, melainkan istighfar dan penyesalan. Kesempurnaanmu bukan pada memandang dirimu sendiri, melainkan pada memandang Allah.

Benar; engkau, di dalam tubuhku, menyerupai tabiat di alam. Kalian berdua diciptakan untuk menerima kebaikan dan menjadi tempat kembalinya keburukan. Yakni, kalian bukanlah pelaku dan sumber, melainkan pihak yang dikenai dan wadah. Kalian hanya punya satu pengaruh: yaitu menjadi sebab keburukan, karena kalian tidak menerima dengan cara yang baik kebaikan yang datang dari Kebaikan Mutlak. Kalian pun diciptakan sebagai tirai-tirai, agar keburukan-keburukan lahiriah yang keindahannya tak terlihat disandarkan kepada kalian, sehingga kalian menjadi sarana penyucian Dzât Ilahi Yang Mahasuci. Padahal kalian telah mengenakan rupa yang sepenuhnya berlawanan dengan tugas fitrah kalian. Sementara karena ketiadaan kemampuan, kalian mengubah kebaikan menjadi keburukan, kalian seakan-akan berserikat dengan Khâliq kalian. Berarti pemuja nafsu dan pemuja tabiat itu teramat bodoh, teramat zalim.

Dan jangan berkata: "Aku adalah mazhhar (tempat tampaknya tajali). Yang menjadi mazhhar bagi keindahan akan menjadi indah." Sebab, karena keindahan itu tidak menjelma menetap padamu secara tamatstsul, engkau bukanlah mazhhar, melainkan hanya mamarr (tempat lalu).

Dan jangan pula berkata: "Di antara khalayak, akulah yang terpilih. Buah-buah ini diperlihatkan melaluiku. Berarti aku punya suatu keistimewaan." Tidak, hâsyâ! Justru semua itu diberikan kepadamu lebih dahulu daripada semua orang, karena engkau lebih bangkrut, lebih membutuhkan, dan lebih menderita daripada semua orang; karena itulah ia diserahkan ke tanganmu paling awal.

{(Hâsyiyah): Sungguh, dalam perdebatan ini aku pun sangat mengagumi cara Said Baru membungkam dan mendiamkan nafsunya sampai sebegini rupa, dan aku berkata: "Seribu kali Bârakallâh."}