Risale-i NurRisalah Orang-Orang Sakit

OBAT KEENAM:

Risalah Orang-Orang Sakit · hlm. 5

Wahai orang sakit yang mengeluh dari kepedihan! Aku bertanya kepadamu; pikirkanlah umurmu yang lalu dan ingatlah hari-hari kesenangan yang lezat serta waktu-waktu bala dan kepedihan dalam umur itu. Bagaimanapun juga engkau akan berkata entah “oh” entah “ah.” Yakni, entah kalbu atau lidahmu akan berkata “alhamdulillah, syukur,” entah “aduh betapa sedihnya, aduh betapa menyesal.” Perhatikanlah, yang membuatmu berkata “oh, alhamdulillah, syukur” adalah pemikiran tentang kepedihan dan musibah yang telah berlalu di atas kepalamu, yang menggali suatu kelezatan maknawi sehingga; kalbumu bersyukur. Karena lenyapnya kepedihan adalah kelezatan. Kepedihan dan musibah itu, dengan lenyapnya, telah meninggalkan suatu warisan kelezatan di ruh, sehingga jika digali dengan pemikiran, suatu kelezatan mengalir dari ruh, syukur-syukur menetes. Yang membuatmu berkata “aduh betapa menyesal, aduh betapa sedih” adalah keadaan-keadaan lezat lagi menyenangkan yang engkau lalui di masa lampau, yang dengan lenyapnya, telah meninggalkan suatu kepedihan abadi sebagai warisan di ruhmu, sehingga kapan saja engkau memikirkannya, kepedihan itu kembali tergali, menetes penyesalan dan kesedihan. Karena kelezatan tak halal sehari kadang membuat orang merasakan kepedihan maknawi setahun. Dan kepedihan yang datang dengan penyakit sehari yang sementara memiliki — bersama kelezatan maknawi pahala banyak hari — suatu kelezatan maknawi yang datang dari kelepasan dan keselamatan pada lenyapnya. Pikirkanlah hasil penyakitmu yang sementara ini sekarang dan pahala di sisi dalamnya, katakanlah “Ini pun akan berlalu, kawan!”, dan bersyukurlah sebagai ganti mengeluh.