OBAT KEDUA PULUH LIMA:
Risalah Orang-Orang Sakit · hlm. 22
Wahai saudara-saudara yang sakit! Jika kalian menginginkan suatu penawar suci yang sangat bermanfaat, menjadi obat bagi setiap penyakit, dan benar-benar nikmat, kembangkanlah iman kalian. Yakni, dengan tobat dan istighfar, serta dengan salat dan ibadah, gunakanlah iman yang merupakan penawar suci itu beserta obat yang berasal dari iman. Ya, karena kecintaan dan keterikatan pada dunia, seolah-olah orang yang lalai memiliki suatu tubuh maknawi yang besar dan sakit seperti dunia. Sedangkan iman, telah kami buktikan secara pasti dalam banyak risalah, bahwa ia seketika memberikan kesembuhan kepada tubuh maknawi itu — yang penuh luka dan memar akibat pukulan kefanaan dan perpisahan seperti dunia — menyelamatkannya dari luka-luka, dan memberikan kesembuhan yang hakiki.
Agar tidak membuat kepala kalian pening, aku mempersingkatnya. Adapun obat iman menampakkan pengaruhnya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban (fardu) sedapat mungkin. Kelalaian, foya-foya, hawa nafsu, dan hiburan-hiburan yang tidak disyariatkan menghalangi pengaruh penawar itu. Karena penyakit menghilangkan kelalaian, memutus selera, dan menghalangi seseorang menuju kesenangan yang tidak disyariatkan, maka manfaatkanlah ia. Gunakanlah — melalui tobat dan istighfar, doa dan permohonan — obat-obat suci dan cahaya-cahaya dari iman yang hakiki. Semoga Allah memberikan kesembuhan kepada kalian, dan menjadikan penyakit-penyakit kalian sebagai penghapus dosa (kaffaratudz-dzunub). Amin, amin, amin...
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذ۪ى هَدٰينَا لِهٰذَا وَمَا كُنَّا لِنَهْتَدِىَ لَوْلآَ اَنْ هَدٰينَا اللّٰهُ لَقَدْ جَٓاءَتْ رُسُلُ رَبِّنَا بِالْحَقِّسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُاَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ طِبِّ الْقُلُوبِ وَ دَوَٓائِهَا وَ عَافِيَةِ اْلاَبْدَانِ وَ شِفَٓائِهَا وَ نُورِ اْلاَبْصَارِ وَ ضِيَٓائِهَا وَ عَلٰٓى اٰلِهِ وَ صَحْبِهِ وَ سَلِّمْ وَهُوَ لِكُلِّ دَٓاءٍ دَوَٓاءٌ Artinya: "Kitab ini adalah penawar bagi setiap penyakit." Termasuk tawafuk (kesesuaian halus) bahwa: pada naskah yang ditulis Re'fet Bey dengan sangat cepat dari draf pertama, bersama sebuah naskah lain yang ditulis Hüsrev, tanpa sengaja dan tanpa dipikirkan sama sekali, kami menghitung huruf-huruf alif yang muncul di awal baris; ternyata jumlahnya tepat bertawafuk dengan kalimat وَهُوَ لِكُلِّ دَٓاءٍ دَوَٓاءٌ ini.
{(Catatan-1): Dua huruf alif dari peringatan yang ditulis belakangan tidak dapat dimasukkan ke dalam perhitungan ini, sehingga tidak disertakan.}
Selain itu, ia juga bertawafuk dengan nama penulis risalah ini, yaitu Said, dengan selisih satu saja.{(Catatan-2): Karena dalam Keramat Alawiyah dan Gausiyah terdapat sebuah alif yang diletakkan pada akhir kata "Said" untuk seruan (nida), sehingga menjadi "Saidâ"; barangkali alif yang berlebih satu ini merujuk pada alif tersebut. Re'fet, Hüsrev}Hanya saja, satu alif pada tulisan yang berkaitan dengan judul risalah tidak dimasukkan ke dalam perhitungan.
Sungguh mengherankan bahwa: naskah yang ditulis Süleyman Rüşdü — tanpa sedikit pun terlintas atau terpikir tentang alif — memuat 114 huruf alif, bertawafuk dengan bilangan 114 surah Al-Qur'an yang mengandung 114 kesembuhan suci; dan sekaligus, dari sisi bahwa lam bertasydid pada وَهُوَ لِكُلِّ دَٓاءٍ دَوَٓاءٌ dihitung sebagai satu, ia bertawafuk secara tepat dengan 114 hurufnya.
Lampiran (Zeyl) Lem'a Kedua Puluh Lima
Karena ia merupakan Surat Ketujuh Belas dan telah dimasukkan ke dalam Kumpulan Al-Maktubat (Mektubat), maka ia tidak disertakan di sini.