Risale-i NurRisalah Buah

Sebuah Ringkasan dari Masalah Kedelapan

Risalah Buah · hlm. 33

Di Masalah Ketujuh, kita tadinya hendak menanyakan kebangkitan dari banyak sudut. Tapi jawaban yang diberikan lewat nama-nama Khalik kami memberi keyakinan yang begitu kuat, sampai tidak menyisakan kebutuhan untuk pertanyaan-pertanyaan lain; maka di sana kita ringkaskan. Sekarang, di masalah ini, akan diringkas satu dari seratus manfaat dan hasil yang dijamin oleh iman akhirat — baik bagi kebahagiaan akhirat maupun bagi kebahagiaan dunia. Bagian yang berkaitan dengan kebahagiaan ukhrawi, penjelasan Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan sudah tidak menyisakan kebutuhan untuk penjelasan lain — kita serahkan hal itu kepadanya; dan bagian penjelasan yang berkaitan dengan kebahagiaan duniawi kita serahkan kepada Risale-i Nur. Di sini, hanya dengan sebuah ringkasan singkat, kita jelaskan tiga-empat dari ratusan hasil yang berkaitan dengan kehidupan pribadi dan kehidupan sosial manusia.

Pertama: Manusia, berbeda dengan binatang-binatang lain, sama seperti ia peduli pada rumahnya, ia juga peduli pada dunia; dan sama seperti ia berhubungan dengan kerabatnya, ia juga punya hubungan yang sungguh-sungguh dan fitri dengan umat manusia. Dan sama seperti ia menginginkan kelangsungan hidupnya yang sementara di dunia, ia juga menginginkan — sampai derajat cinta yang dalam — kelangsungan hidupnya di sebuah negeri yang kekal. Dan sama seperti ia berusaha memenuhi kebutuhan makan perutnya, ia juga secara fitri terpaksa, dan terus berusaha, menyiapkan hidangan dan makanan yang seluas dunia, bahkan yang menjulur sampai ke keabadian, untuk perut akal, hati, ruh, dan kemanusiaannya. Dan ia punya keinginan dan tuntutan sedemikian rupa, sampai tidak ada satu pun selain kebahagiaan abadi yang bisa memuaskannya. Bahkan, seperti diisyaratkan dalam Kalimat Kesepuluh (Onuncu Söz), suatu kali — di masa kecilku — aku bertanya kepada khayalanku: "Apakah kamu mau diberi umur sejuta tahun dan kerajaan dunia, tapi sesudah itu jatuh ke dalam ketiadaan dan kehampaan? Atau kamu mau sebuah keberadaan yang kekal, tapi biasa-biasa saja dan penuh kesusahan?" Aku perhatikan: ia menginginkan yang kedua, lalu menarik napas "Aah!" dari yang pertama. Ia berkata: "Sekalipun di Neraka, aku tetap mau kekal."

Nah, karena daya khayal — yang merupakan salah satu pelayan dari hakikat kemanusiaan — saja tidak dipuaskan oleh kelezatan dunia ini, maka sudah pasti hakikat kemanusiaan yang sangat lengkap itu secara fitri terkait dengan keabadian. Nah, bagi manusia yang — padahal terikat pada keinginan dan cita-cita tak terhitung ini — modalnya hanyalah sebuah kehendak bebas yang amat kecil (juz'i ikhtiyari) dan sebuah kefakiran mutlak; betapa iman akhirat menjadi sebuah khazanah yang kuat, cukup, dan memadai, sebuah sumber kebahagiaan dan kelezatan, sebuah sumber pertolongan, sebuah tempat berpulang, dan sebuah sumber penghibur di hadapan kesedihan dunia yang tak terhitung. Itu sebuah buah dan manfaat sedemikian rupa, sampai-sampai andai seseorang mengorbankan kehidupan dunia di jalan meraihnya pun, itu masih murah.

Buah keduanya, sebuah manfaat yang menyangkut kehidupan pribadi: sebuah hasil yang sangat penting, yang dijelaskan di Masalah Ketiga dan yang ada sebagai catatan kaki di Panduan Pemuda. Ya, kekhawatiran paling penting yang setiap saat dipikirkan setiap manusia adalah perihal masuknya ia ke rumah eksekusi mati itu, seperti sahabat-sahabat dan kerabatnya yang sudah masuk ke kuburan. Manusia malang yang rela mengorbankan ruhnya demi seorang sahabat saja; ketika ia membayangkan ribuan, bahkan jutaan, miliaran sahabatnya dihukum mati dalam sebuah perpisahan abadi — lalu sebuah derita yang lebih pahit daripada azab Neraka tampak kepadanya, hanya dari ujung pikiran itu — datanglah iman akhirat, membukakan matanya, lalu menyingkap tabir. Ia berkata: "Lihatlah." Ia pun melihat dengan iman itu. Ia meraih sebuah kelezatan ruhani yang mengabarkan kelezatan Surga — dengan menyaksikan sahabat-sahabatnya itu dalam keadaan terlepas dari kematian dan pembusukan yang abadi, dan sedang menunggunya pula dengan penuh suka cita di sebuah alam yang bercahaya. Karena hasil ini sudah dijelaskan dengan bukti-bukti di Risale-i Nur, kita ringkaskan saja.

Sebuah manfaat ketiga yang berkaitan dengan kehidupan pribadi: keunggulan dan derajat manusia di atas makhluk-makhluk hidup yang lain adalah karena watak-wataknya yang tinggi, potensi-potensinya yang lengkap, ibadahnya yang menyeluruh, dan lingkaran-lingkaran keberadaannya yang luas. Padahal manusia itu mengambil watak-watak seperti pengorbanan, cinta, persaudaraan, dan kemanusiaan dengan ukuran waktu sekarang — sebuah waktu pendek yang terjepit di tengah masa lalu dan masa depan yang tiada, mati, dan gelap. Misalnya, ia mencintai dan melayani ayahnya, saudaranya, istrinya, bangsanya, dan tanah airnya — yang dulu tidak ia kenal dan sesudah berpisah pun tidak akan pernah bisa ia lihat lagi. Dan ia sangat jarang berhasil mencapai kesetiaan dan keikhlasan yang utuh; sebanding dengan itu, kesempurnaan dan watak-wataknya pun mengecil. Justru di saat ia hampir jatuh ke keadaan — bukan menjadi yang paling tinggi di antara binatang, tapi malah terbalik, menjadi yang paling malang dan paling rendah dari sisi akal — iman akhirat datang menolong. Iman akhirat mengubah waktunya yang sempit bagai kubur menjadi sebuah waktu yang sangat luas, yang mencakup masa lalu dan masa depan. Dan ia menunjukkan sebuah lingkaran keberadaan yang seluas dunia, bahkan dari azali sampai abadi. Ia mencintai, menghormati, mengasihi, dan menolong ayahnya — lewat hubungan kebapakan yang tetap ada bahkan di negeri kebahagiaan dan di alam arwah; dan saudaranya — dengan memikirkan persaudaraan mereka yang berlangsung sampai ke keabadian; dan istrinya — karena ia tahu bahwa istrinya adalah teman hidup yang paling indah bahkan di Surga. Dan ia tidak menjadikan pelayanan-pelayanan penting untuk hubungan-hubungan di dalam lingkaran hidup dan keberadaan yang besar dan luas itu sebagai alat bagi urusan-urusan dunia yang tak berharga, bagi maksud-maksud kecilnya, dan bagi kepentingan-kepentingannya. Dengan berhasil mencapai kesetiaan yang sungguh-sungguh dan keikhlasan yang tulus, kesempurnaan dan sifat-sifat baiknya pun mulai menanjak, sebanding dengan itu — sesuai derajatnya. Kemanusiaannya pun meninggi. Manusia yang dalam kelezatan hidup tidak menyamai burung pipit itu pun menjadi — di atas semua binatang — tamu alam semesta yang paling terpilih dan paling berbahagia, dan hamba Sahib-i Kâinat (Sang Pemilik Alam Semesta) yang paling dicintai dan paling diterima. Hasil ini pun sudah dijelaskan dengan bukti-bukti di Risale-i Nur, maka kita ringkaskan saja.

Sebuah manfaat keempat, yang menyangkut kehidupan sosial manusia: ringkasan hasil itu — yang dijelaskan di Cahaya Kesembilan (Dokuzuncu Şuâ) dari Risale-i Nur — begini:

Anak-anak, yang membentuk seperempat dari umat manusia, hanya bisa hidup secara manusiawi dan bisa memikul potensi-potensi kemanusiaan dengan iman akhirat. Kalau tidak, di tengah kekhawatiran yang pedih, mereka akan hidup dengan mainan kekanak-kanakan dan kehidupan yang tak keruan, demi menidurkan dan melupakan diri. Sebab setiap saat, dengan matinya anak-anak lain di sekitarnya seperti dirinya, terjadilah pengaruh sedemikian rupa pada otaknya yang halus, pada hatinya yang lemah yang memikul keinginan-keinginan panjang untuk masa depan, dan pada ruhnya yang tak tahan banting — sampai-sampai kehidupan dan akal justru menjadi alat siksa dan azab bagi si malang itu. Nah, di saat seperti itu, dengan pelajaran iman akhirat, di tempat kekhawatiran-kekhawatiran yang dulu ia sembunyikan dari dirinya sendiri di balik mainan agar tak terlihat, kini ia merasakan sebuah suka cita dan kelapangan, lalu berkata: "Adikku atau temanku ini sudah mati, ia menjadi seekor burung Surga. Ia bersenang-senang dan berjalan-jalan lebih enak daripada kita. Dan ibuku sudah mati, tapi ia pergi menuju rahmat Ilahi; nanti ia akan memangku dan menyayangiku lagi di Surga, dan aku pun akan melihat ibundaku yang penuh kasih itu." Dengan begitu, ia bisa hidup dengan cara yang layak bagi kemanusiaan.

Dan orang-orang tua, yang membentuk seperempat dari manusia; menghadapi padamnya kehidupan mereka dalam waktu dekat, masuknya mereka ke tanah, dan tertutupnya dunia mereka yang indah dan menyenangkan, mereka hanya dan hanya bisa menemukan penghiburan dalam iman akhirat. Kalau tidak, para ayah terhormat yang penyayang dan para ibu penuh kasih yang rela berkorban itu akan menanggung sebuah jeritan ruh dan gejolak hati sedemikian rupa, sampai dunia menjadi penjara yang penuh putus asa bagi mereka dan kehidupan menjadi azab yang penuh siksa. Tapi iman akhirat berkata kepada mereka: "Janganlah kalian risau. Kalian punya sebuah masa muda yang kekal, yang akan datang. Dan sebuah kehidupan yang cemerlang serta umur yang tak terhingga sedang menunggu kalian. Dan kalian akan berjumpa dengan penuh suka cita dengan anak-anak dan kerabat yang kalian tinggalkan. Dan semua kebaikan yang kalian lakukan telah dijaga; kalian akan melihat ganjarannya." Dengan begitu, iman akhirat memberi mereka penghiburan dan kelapangan sedemikian rupa, sampai andai seratus ketuaan sekaligus menimpa kepala masing-masing mereka pun, itu tidak akan membuat mereka putus asa.

Para pemuda, yang membentuk sepertiga dari umat manusia; para pemuda yang hawa nafsunya sedang bergejolak, yang kalah oleh perasaan, yang berani-berani, yang tak setiap saat memakai akalnya — kalau mereka kehilangan iman akhirat dan tidak teringat pada azab Neraka; maka dalam kehidupan sosial, harta dan kehormatan orang-orang baik, serta ketenangan dan martabat orang-orang lemah dan tua, tinggal dalam bahaya. Demi kelezatan semenit, kadang seorang pemuda menghancurkan kebahagiaan sebuah rumah yang bahagia, lalu menanggung azab empat-lima tahun di penjara seperti ini, dan berubah menjadi seekor binatang buas. Kalau iman akhirat datang menolongnya, ia cepat memakai akalnya. Ia berkata: "Memang mata-mata pemerintah tidak melihatku dan aku bisa bersembunyi dari mereka; tapi para malaikat dari seorang Padişah-ı Zülcelal (Sang Raja Pemilik Keagungan) — yang punya sebuah penjara seperti Neraka — melihatku dan mencatat keburukan-keburukanku. Aku tidak dibiarkan lepas begitu saja; aku seorang musafir yang punya tugas. Aku pun nanti akan menjadi tua dan lemah seperti mereka." Dengan begitu, ia mulai merasakan sebuah kasih dan hormat kepada orang-orang yang tadinya hendak ia serang secara zalim. Karena makna ini pun sudah dijelaskan dengan burhan-burhan di Risale-i Nur, kita ringkaskan saja.

Dan sebagian penting dari umat manusia — orang-orang sakit, orang-orang teraniaya, orang-orang yang tertimpa musibah seperti kita, orang-orang fakir, dan para tahanan yang mendapat hukuman berat; kalau iman akhirat tidak datang menolong mereka, maka: kematian yang selalu terbayang di depan mata lewat peringatan penyakit; pengkhianatan sombong dari orang zalim yang tak bisa mereka balas dan yang darinya tak bisa mereka selamatkan kehormatan; keputusasaan pedih yang datang karena kehilangan harta dan anak secara sia-sia dalam musibah-musibah besar; dan kesusahan penuh keluh karena menanggung azab penjara lima-sepuluh tahun seperti ini hanya gara-gara kesenangan satu-dua menit atau satu-dua jam — sudah pasti semua itu mengubah dunia menjadi penjara dan kehidupan menjadi azab penuh siksa bagi orang-orang malang itu. Tapi kalau iman akhirat datang menolong mereka, seketika mereka bisa bernapas; kesusahan, keputusasaan, kekhawatiran, dan amarah dendam mereka — sesuai derajat imannya — sebagiannya, dan kadang seluruhnya, lenyap.

Bahkan aku bisa berkata: dalam pemenjaraan kami yang tanpa sebab ini dan dalam musibah kami yang mengerikan ini, andai iman akhirat tidak menolong, bertahan sehari saja akan terasa seberat kematian, dan akan mendorong kami untuk mengundurkan diri dari kehidupan. Tapi syukur tak terhingga: aku juga menanggung derita yang datang dari musibah ini pada saudara-saudaraku yang amat banyak, yang kucintai seperti nyawaku sendiri; dan aku menanggung penyesalan atas hilangnya dan tangisnya ribuan risalah Risale-i Nur serta kitab-kitabku yang berhias, indah, dan sangat berharga — yang kucintai seperti mataku sendiri; dan padahal sejak dulu aku tak sanggup menahan sedikit saja pengkhianatan dan penindasan — aku pastikan kepada kalian dengan sumpah bahwa: cahaya dan kekuatan iman kepada akhirat memberiku sebuah kesabaran, ketahanan, penghiburan, dan keteguhan sedemikian rupa — bahkan sebuah semangat yang penuh perjuangan untuk meraih ganjaran yang lebih besar dalam sebuah pelajaran ujian yang menguntungkan — sampai-sampai, seperti kukatakan di awal risalah ini, aku menganggap diriku berada di sebuah madrasah yang indah dan penuh kebaikan, yang layak menyandang nama Madrasah Yusufiyah. Andai bukan karena penyakit yang sesekali datang dan sifat mudah tersinggung yang lahir dari ketuaan, aku akan lebih banyak belajar untuk pelajaran-pelajaranku dengan sempurna dan dengan hati yang tenang. Apa pun itu.. berkaitan dengan bagian ini aku sedikit keluar dari pokok bahasan, harap maklum.

Dan rumah setiap manusia adalah sebuah dunia kecil baginya, bahkan sebuah surga kecil. Kalau iman akhirat tidak berkuasa atas kebahagiaan rumah itu, maka para anggota keluarga itu — masing-masing sesuai derajat kasih, cinta, dan kepeduliannya — akan menanggung kekhawatiran dan azab yang pedih. Surga itu pun berubah menjadi neraka. Atau, dengan hiburan sesaat dan foya-foya, ia menidurkan dan membius akalnya. (Seperti burung unta yang melihat pemburu, tapi tak bisa lari, tak bisa terbang. Ia menyusupkan kepalanya ke pasir, agar ia tak terlihat.) Ia menyusupkan kepalanya ke dalam kelalaian, agar kematian, kelenyapan, dan perpisahan tak melihatnya. Ia mencari sebuah cara yang gila dan sesaat, semacam mematikan rasa. Sebab misalnya: seorang ibu yang mengorbankan ruhnya demi anaknya akan bergetar setiap kali melihat anak itu terancam bahaya. Dan anak-anak yang tak bisa menyelamatkan ayah dan saudaranya dari bencana yang tak henti-henti akan merasakan sebuah kesedihan dan ketakutan yang terus-menerus. Dengan menganalogikan kepada hal ini, dalam kehidupan dunia yang penuh gejolak dan tak menentu ini, kehidupan keluarga yang disangka bahagia itu kehilangan kebahagiaannya dari banyak sisi; dan hubungan serta kekerabatan dalam kehidupan yang sangat pendek pun tak memberi kesetiaan yang sejati, keikhlasan yang tulus, pelayanan yang tanpa pamrih, dan cinta. Akhlak pun mengecil sebanding dengan itu, bahkan runtuh. Tapi kalau iman akhirat masuk ke rumah itu, seketika ia akan meneranginya; hubungan, kasih, kekerabatan, dan cinta di antara mereka — bukan dengan ukuran waktu yang sangat pendek, tapi dengan ukuran berlanjutnya hubungan-hubungan itu bahkan dalam kebahagiaan abadi di negeri akhirat — sehingga akhlak meninggi: mereka saling menghormati dengan tulus, mencintai, mengasihi, setia, dan seolah tak memandang kekurangan satu sama lain. Kebahagiaan kemanusiaan yang sejati mulai berkembang di rumah itu. Makna ini pun sudah dijelaskan dengan bukti-bukti di Risale-i Nur, maka kita ringkaskan saja.

Dan setiap kota adalah sebuah rumah yang luas bagi penduduknya. Kalau iman akhirat tidak berkuasa atas para anggota keluarga besar itu; maka menggantikan dasar-dasar akhlak yang indah — keikhlasan, ketulusan, keutamaan, semangat pengabdian, pengorbanan, rida Ilahi, dan pahala ukhrawi — muncullah pamrih, kepentingan pribadi, kepalsuan, mementingkan diri sendiri, kepura-puraan, riya, suap, dan tipu daya. Di balik ketertiban dan kemanusiaan yang tampak di permukaan, berkuasalah makna-makna anarki dan kebuasan; kehidupan kota itu pun teracuni. Anak-anak mulai jadi tak keruan, para pemuda jadi pemabuk, orang-orang kuat jadi zalim, dan orang-orang tua mulai menangis.

Dengan menganalogikan kepada ini, sebuah negeri pun adalah sebuah rumah, dan tanah air pun adalah rumah sebuah keluarga nasional. Kalau iman akhirat berkuasa atas rumah-rumah yang luas ini, seketika akan mulai berkembang dalam kehidupan itu: hormat yang tulus, kasih yang sungguh-sungguh, cinta tanpa suap, tolong-menolong, pelayanan dan pergaulan tanpa tipu, kebaikan dan keutamaan tanpa riya, serta kebesaran dan keunggulan tanpa keakuan. Kepada anak-anak ia berkata: "Ada Surga, tinggalkan sikap tak keruan." Dengan pelajaran Al-Qur'an, ia memberi ketenangan. Kepada para pemuda ia berkata: "Ada Neraka, tinggalkan mabuk-mabukan." Ia mengembalikan akal mereka. Kepada orang zalim ia berkata: "Ada azab yang keras, kamu akan ditampar." Ia menundukkan kepalanya kepada keadilan. Kepada orang-orang tua ia berkata: "Sebuah kebahagiaan ukhrawi yang jauh lebih tinggi dan kekal daripada semua kebahagiaan yang sudah lepas dari tanganmu, dan sebuah masa muda yang baru dan abadi, sedang menunggumu. Berusahalah meraihnya." Ia mengubah tangisnya menjadi tawa. Dengan menganalogikan kepada mereka, pada setiap golongan — yang kecil maupun yang menyeluruh — iman akhirat menampakkan pengaruhnya yang indah, lalu meneranginya. Wahai para sosiolog dan ahli etika yang peduli pada kehidupan sosial umat manusia, semoga telinga kalian berdenging! Nah, kalau lima-enam contoh dari ribuan manfaat iman akhirat yang kita isyaratkan ini dianalogikan dengan yang lainnya, akan dipahami dengan pasti bahwa: sumber kebahagiaan dua alam dan dua kehidupan hanyalah iman.

Di Kalimat Kedua Puluh Delapan (Yirmisekizinci Söz) dan risalah-risalah lain dalam Risale-i Nur, sudah diberikan jawaban-jawaban yang kuat terhadap keraguan-keraguan lemah tentang sisi kejasmanian kebangkitan. Dengan mencukupkan diri pada jawaban-jawaban itu, di sini kita hanya berkata dengan sebuah isyarat singkat:

Cermin yang paling lengkap menghimpun nama-nama Ilahi ada pada sisi jasmani (keberadaan yang berjasad). Dan pusat yang paling kaya dan paling aktif dari maksud-maksud Ilahi dalam penciptaan alam semesta ada pada jasmani. Dan macam serta warna-warni yang paling banyak dari karunia-karunia Rabbani ada pada jasmani. Dan benih-benih yang paling banyak dari doa dan syukur manusia kepada Khalik-nya, lewat lisan kebutuhannya, juga ada pada jasmani. Dan benih-benih yang paling beragam dari alam maknawi dan ruhani juga ada pada jasmani. Dengan menganalogikan kepada ini, karena ratusan hakikat menyeluruh terpusat pada jasmani, maka Al-Hâlık-ı Hakîm — demi memperbanyak jasmani di muka bumi dan menjadikannya tempat tampaknya hakikat-hakikat yang disebut tadi — dengan sebuah aktivitas yang begitu cepat dan dahsyat, memakaikan keberadaan kepada makhluk-makhluk secara rombongan demi rombongan, lalu mengirimnya ke pameran itu. Sesudah itu Dia memulangkan mereka, lalu mengirim yang lain. Dia terus-menerus menjalankan pabrik alam semesta. Dia menenun hasil-hasil jasmani, lalu menjadikan bumi seperti sebuah kebun pembibitan bagi akhirat dan Surga. Bahkan, demi menyenangkan perut jasmani manusia, Dia mendengar dengan penuh perhatian doa perut itu tentang kelangsungan hidupnya — yang diucapkan lewat lisan keadaannya — lalu mengabulkannya dan menjawabnya secara nyata, dengan menyiapkan bagi jasmani makanan-makanan yang penuh seni dan nikmat-nikmat yang sangat berharga, dalam ratusan ribu cara dan ribuan macam kelezatan yang tak terhitung dan tak terbilang. Semua ini, sejelas-jelasnya dan tanpa ragu, menunjukkan bahwa: kelezatan Surga yang paling banyak dan paling beragam di negeri akhirat itu bersifat jasmani. Dan nikmat-nikmat kebahagiaan abadi yang paling penting, yang diinginkan dan diakrabi setiap orang, bersifat jasmani.

Kira-kira, adakah satu sisi kemungkinan pun bahwa: Al-Kadîr-i Rahîm (Yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang) dan Alîm-i Kerim (Yang Maha Mengetahui lagi Maha Mulia) — yang mengabulkan doa kelangsungan hidup perut biasa ini lewat lisan keadaannya, lalu membuatnya berterima kasih dengan makanan-makanan jasmani yang penuh mukjizat tak terhingga, dan yang setiap saat menjawabnya secara nyata dengan sengaja, tanpa kebetulan — justru tidak mengabulkan doa-doa umum yang tak terhitung dari umat manusia (puncak ciptaan, khalifah bumi, pilihan dan penyembah Khalik itu), lewat perut besar kemanusiaannya, tentang diberikannya kelezatan-kelezatan jasmani yang menyeluruh, tinggi, yang selalu ia inginkan, ia akrabi, dan ia minta secara fitri, di negeri kekekalan; dan justru tidak menjawabnya secara nyata dengan kebangkitan jasmani; dan tidak membuatnya berterima kasih selamanya? Seakan-akan Dia mendengar suara seekor lalat, tapi tidak mendengar suara petir. Dan seakan-akan Dia memperhatikan dengan penuh perhatian perlengkapan seorang prajurit biasa, tapi sama sekali tidak memperhatikan dan tidak mementingkan pasukannya. Ini mustahil dan batil seratus derajat.

Ya, dengan kejelasan yang pasti dari ayat وَ ف۪يهَا مَا تَشْتَه۪يهِ الْاَنْفُسُ وَ تَلَذُّ الْاَعْيُنُ: manusia akan melihat dan merasakan kelezatan-kelezatan jasmani yang paling ia akrabi dan yang contohnya sudah ia cicipi di dunia — dalam bentuk yang layak bagi Surga. Dan ganjaran syukur yang tulus dan ibadah khusus yang dilakukan oleh anggota-anggota tubuh seperti lidah, mata, dan telinga, akan diberikan dengan kelezatan-kelezatan jasmani yang khusus bagi anggota-anggota itu. Al-Qur'an Mu'cizü'l-Beyan menjelaskan kelezatan-kelezatan jasmani itu dengan cara yang begitu terang, sampai-sampai menolak makna zahirnya lewat takwil-takwil lain adalah sesuatu yang di luar kemungkinan.

Nah, buah dan hasil iman akhirat menunjukkan bahwa: seperti halnya hakikat dan kebutuhan perut — salah satu anggota tubuh manusia — dengan pasti menunjukkan adanya makanan; begitu juga: hakikat manusia, kesempurnaannya, kebutuhan-kebutuhan fitrinya, keinginan-keinginan abadinya, serta hakikat dan potensi yang menuntut hasil dan manfaat iman akhirat yang disebut tadi, dengan lebih pasti lagi menunjukkan akhirat, Surga, dan kelezatan jasmani yang kekal, serta bersaksi atas terwujudnya. Dan begitu juga, hakikat kesempurnaan alam semesta ini, ayat-ayat penciptaan-Nya yang sarat makna, dan semua hakikat kemanusiaan yang terkait dengan hakikat-hakikat yang disebut tadi, menunjukkan dan bersaksi atas adanya negeri akhirat, terwujudnya, datangnya kebangkitan, serta terbukanya Surga dan Neraka. Bagian-bagian Risale-i Nur — terutama Kalimat Kesepuluh, Kalimat Kedua Puluh Delapan (Dua Kedudukannya), Kalimat Kedua Puluh Sembilan, Cahaya Kesembilan, dan Risalah Munajat — telah membuktikan hal ini dengan bukti-bukti, secara cemerlang dan tanpa menyisakan keraguan. Dengan menyerahkannya kepada risalah-risalah itu, kita ringkaskan kisah yang panjang ini.

Penjelasan Al-Qur'an tentang Neraka begitu jelas dan terang, sampai tidak menyisakan kebutuhan untuk penjelasan lain. Kita hanya akan menjelaskan dua-tiga poin yang akan menghilangkan satu-dua keraguan lemah — dengan menyerahkan perinciannya kepada Risale-i Nur, dan hanya dengan ringkasan yang sangat singkat.