Risale-i NurPanduan Pemuda

Poin Kelima

Panduan Pemuda · hlm. 114

Seperti halnya iman menuntut doa sebagai sebuah sarana yang pasti, dan fitrah manusia pun menginginkannya dengan kuat; begitu pula Allah جل جلاله Yang Mahaagung berfirman — dengan makna "Kalau bukan karena doa kalian, apa pentingnya kalian?": قُلْ مَا يَعْبَؤُا بِكُمْ رَبِّى لَوْلاَ دُعَاؤُكُمْ

Dan Dia memerintahkan: اُدْعُونِى اَسْتَجِبْ لَكُمْ

Kalau kamu berkata: "Kami sudah berkali-kali berdoa, tapi tidak dikabulkan. Padahal, ayat itu bersifat umum.. ia menyatakan bahwa setiap doa ada jawabannya."

Jawaban: Menjawab itu satu hal, mengabulkan itu hal lain. Untuk setiap doa ada jawaban; tapi mengabulkan, serta memberikan persis apa yang diminta, itu tunduk pada hikmah Allah جل جلاله Yang Mahaagung. Misalnya: seorang anak yang sakit memanggil: "Wahai Dokter! Lihatlah aku." Dokter berkata: "Labbaik (Aku penuhi)".. lalu menjawab: "Apa yang kamu mau?" Anak itu berkata: "Berikan obat ini kepadaku." Dokter pun — entah memberikan persis apa yang diminta, entah memberikan yang lebih baik daripada itu demi kemaslahatannya, entah sama sekali tidak memberikannya karena ia tahu obat itu berbahaya bagi penyakitnya. Nah, karena Allah جل جلاله Yang Mahaagung, Sang Mahabijaksana Mutlak, hadir lagi menyaksikan, Dia menjawab doa hamba. Dia mengubah kengerian keterasingan dan kesendirian menjadi keakraban, lewat kehadiran dan jawaban-Nya. Tapi bukan dengan tuntutan manusia yang memuja hawa nafsu dan menuruti keinginan, melainkan sesuai tuntutan hikmah Tuhan — Dia entah memberikan apa yang diminta, entah yang lebih utama, entah sama sekali tidak memberikannya.

Dan doa adalah sebuah ibadah. Sedangkan ibadah, buah-buahnya bersifat ukhrawi. Sedangkan tujuan-tujuan duniawi, ia adalah waktu-waktu bagi jenis doa dan ibadah itu. Tujuan-tujuan itu bukanlah maksud akhirnya. Misalnya: salat dan doa minta hujan (salat istisqa) adalah sebuah ibadah. Ketiadaan hujan adalah waktu bagi ibadah itu. Bukan berarti ibadah dan doa itu untuk mendatangkan hujan. Kalau ia dilakukan semata-mata dengan niat itu; doa dan ibadah itu, karena tidak ikhlas, tidak layak untuk dikabulkan. Seperti halnya terbenamnya matahari adalah waktu salat magrib. Dan gerhana matahari serta bulan adalah waktu bagi dua ibadah khusus yang disebut salat kusuf dan khusuf (salat gerhana). Yakni, karena tertutupnya ayat-ayat bercahaya berupa siang dan malam menjadi penopang bagi pengumuman sebuah keagungan Ilahi, maka Allah جل جلاله Yang Mahaagung mengundang hamba-hamba-Nya ke semacam ibadah pada waktu itu. Bukan berarti salat itu untuk membuka kembali gerhana bulan dan matahari (yang kapan tersingkapnya dan berapa lama berlangsungnya sudah ditentukan lewat perhitungan ahli astronomi). Persis seperti itu pula: ketiadaan hujan adalah waktu salat minta hujan. Dan menyerbunya bencana serta menguasainya hal-hal yang membahayakan adalah waktu-waktu khusus bagi sebagian doa; di waktu-waktu itu manusia menyadari ketidakberdayaannya, lalu berlindung ke pintu Al-Kadîr-i Mutlak dengan doa dan permohonan. Kalau doa sudah banyak dipanjatkan namun bencana tidak juga tersingkir, tidak boleh dikatakan: "Doa tidak dikabulkan." Melainkan harus dikatakan: "Waktu doanya belum usai." Kalau Allah جل جلاله Yang Mahaagung, dengan karunia dan kemurahan-Nya, mengangkat bencana itu; itulah cahaya di atas cahaya.. saat itu waktu doa berakhir, ia pun usai. Artinya, doa adalah sebuah rahasia ibadah.

Sedangkan ibadah, ia harus murni karena Allah جل جلاله (li-wajhillâh). Hendaknya orang hanya menampakkan ketidakberdayaannya, lalu berlindung kepada-Nya dengan doa. Jangan ikut campur dalam rububiyah-Nya. Hendaknya pengaturan diserahkan kepada-Nya. Hendaknya ia bersandar pada hikmah-Nya. Jangan menuduh rahmat-Nya. Ya, sesungguhnya — sebagaimana ditetapkan oleh penjelasan ayat-ayat yang terang: seperti halnya seluruh wujud, tiap-tiapnya melakukan tasbih tersendiri, ibadah tersendiri, dan sujud tersendiri; begitu pula, segala yang naik dari seluruh alam semesta menuju pintu Ilahi adalah sebuah doa. Entah lewat lisan kapasitas (istidad). (Seperti doa seluruh tumbuhan; tiap-tiapnya, lewat lisan kapasitasnya, memohon sebuah rupa dari Yang Maha Melimpah Mutlak (Feyyaz-ı Mutlak), dan meminta agar menjadi tempat tampaknya nama-nama-Nya secara tersingkap.) Entah lewat lisan kebutuhan fitri. (Yaitu doa seluruh makhluk hidup untuk kebutuhan-kebutuhan pokok yang berada di luar kemampuan mereka; tiap-tiapnya, lewat lisan kebutuhan fitri itu, meminta dari Yang Maha Pemurah Mutlak (Cevvad-ı Mutlak) sejumlah tuntutan yang laksana semacam rezeki untuk melangsungkan hidup mereka.) Entah ia sebuah doa lewat lisan keterdesakan: yaitu setiap makhluk berjiwa yang terdesak; ia berdoa dengan perlindungan yang pasti, ia berlindung kepada seorang pelindung yang tak dikenalnya, bahkan ia menghadap kepada Rabb-ı Rahîm-nya. Tiga jenis doa ini, kalau tidak ada penghalang, selalu dikabulkan.

Jenis keempat — yang paling terkenal — adalah doa kita. Ini pun dua bagian: yang satu, lewat perbuatan dan keadaan; yang lain, lewat kalbu dan ucapan. Misalnya: berusaha pada sebab-sebab adalah sebuah doa lewat perbuatan. Berkumpulnya sebab-sebab itu bukan untuk menciptakan akibat, melainkan untuk mengambil sebuah posisi yang diridai guna meminta akibat itu dari Allah جل جلاله Yang Mahaagung lewat lisan keadaan. Bahkan membajak sawah adalah mengetuk pintu perbendaharaan rahmat. Jenis doa lewat perbuatan ini, karena ia menghadap ke nama dan gelar Yang Maha Pemurah Mutlak, dikabulkannya merupakan mayoritas mutlak. Bagian kedua: berdoa dengan lisan dan kalbu. Yaitu meminta sejumlah tuntutan yang tangannya tidak sampai. Sisinya yang paling penting, tujuannya yang paling indah, buahnya yang paling manis adalah ini: "Orang yang berdoa memahami bahwa: ada Seseorang; Dia mendengar bisikan-bisikan kalbunya, tangan-Nya sampai ke segala sesuatu, Dia bisa memenuhi setiap hasratnya, Dia mengasihani ketidakberdayaannya, dan Dia menolong kefakirannya."

Nah, wahai manusia yang tak berdaya, wahai manusia yang fakir! Jangan lepaskan dari tanganmu sebuah sarana seperti doa — yang merupakan kunci perbendaharaan rahmat dan penopang sebuah kekuatan yang tak akan habis; berpeganglah padanya, naiklah ke puncak tertinggi kemanusiaan. Seperti seorang raja, masukkanlah doa seluruh alam semesta ke dalam doamu. Seperti seorang hamba yang menyeluruh dan wakil yang umum, ucapkanlah اِيَّاكَ نَسْتَعِينُ. Jadilah sebuah kalender alam semesta yang indah.

* * *