Pembahasan Kedua
Panduan Pemuda · hlm. 117
Terdiri dari Lima Nuktah (poin penjelasan yang halus) yang menjadi penopang bagi kebahagiaan dan kesengsaraan manusia.
[Karena manusia diciptakan dalam sebaik-baik bentuk (ahsen-i takvim) dan diberi kapasitas yang amat menghimpun; ia dilemparkan ke sebuah arena ujian di mana ia bisa naik dan bisa jatuh ke kedudukan-kedudukan, tingkatan-tingkatan, derajat-derajat tinggi, dan derajat-derajat rendah yang terjajar dari serendah-rendah tempat sampai setinggi-tinggi tempat, dari bumi sampai Arasy, dari partikel sampai matahari; dan dua jalan yang menuju kemerosotan dan kenaikan tak terhingga telah terbuka di hadapannya — ia dikirim ke dunia ini sebagai sebuah mukjizat kekuasaan, hasil penciptaan, dan keajaiban seni.] Nah, rahasia kenaikan dan kemerosotan manusia yang mengerikan ini akan kami jelaskan dalam "Lima Nuktah."
Nuktah Pertama: Manusia membutuhkan dan terkait dengan sebagian besar jenis alam semesta. Kebutuhannya tersebar ke segala penjuru alam, hasratnya terjulur sampai ke keabadian... Seperti ia menginginkan sekuntum bunga, ia juga menginginkan satu musim semi penuh. Seperti ia menghasratkan sebuah taman, ia juga menghasratkan surga yang abadi. Seperti ia rindu melihat seorang sahabatnya, ia juga rindu melihat Yang Mahaindah lagi Mahaagung (Al-Cemil-i Zülcelal). Seperti halnya untuk mengunjungi seorang yang dicintainya yang tinggal di sebuah persinggahan lain ia perlu membuka pintu persinggahan itu; begitu pula, untuk mengunjungi sembilan puluh sembilan persen kekasihnya yang telah berpindah ke alam barzakh dan untuk terlepas dari perpisahan abadi, ia membutuhkan perlindungan ke pintu seorang Al-Kadîr-i Mutlak yang akan menutup pintu dunia yang mahabesar, membuka pintu akhirat yang merupakan sebuah perhimpunan menakjubkan, mengangkat dunia, lalu mendirikan dan meletakkan akhirat di tempatnya.
Nah, yang bisa menjadi Sesembahan sejati bagi manusia dalam keadaan seperti ini, hanyalah seorang Al-Kadîr-i Zülcelal (Mahakuasa Yang Mahaagung), Ar-Rahîm-i Zülcemal (Maha Penyayang Yang Mahaindah), Al-Hakîm-i Zülkemal (Mahabijaksana Yang Mahasempurna): yang kendali segala sesuatu ada di tangan-Nya, perbendaharaan segala sesuatu ada di sisi-Nya, yang menyaksikan di sisi segala sesuatu, yang hadir di setiap tempat, yang tersucikan dari tempat, terbebas dari ketidakberdayaan, mahasuci dari cela, lagi mahatinggi dari kekurangan. Sebab yang bisa menganugerahkan kebutuhan-kebutuhan manusia yang tak terhingga, hanyalah Pemilik kekuasaan yang tak terhingga dan ilmu yang meliputi. Kalau begitu, yang layak disembah hanyalah Dia.
Nah, wahai manusia! Kalau kamu hanya menjadi hamba bagi-Nya, kamu meraih sebuah kedudukan di atas seluruh makhluk. Kalau kamu enggan beribadah, kamu menjadi hamba yang hina bagi makhluk-makhluk yang tak berdaya. Kalau kamu bersandar pada keakuan dan kekuasaanmu, lalu meninggalkan tawakal dan doa, lalu menyimpang ke kesombongan dan klaim; maka di sisi kebaikan dan penciptaan, kamu jatuh lebih rendah daripada lebah dan semut, lebih lemah daripada laba-laba dan lalat. Sedangkan di sisi keburukan dan perusakan, kamu menjadi lebih berat daripada gunung, lebih membahayakan daripada wabah.
Ya, wahai manusia! Pada dirimu ada dua sisi: yang satu adalah sisi penciptaan, keberadaan, kebaikan, hal positif, dan perbuatan. Yang lain adalah sisi perusakan, ketiadaan, keburukan, peniadaan, dan pasifitas. Dari sisi yang pertama: kamu lebih rendah daripada lebah dan burung pipit.. lebih lemah daripada lalat dan laba-laba. Dari sisi yang kedua: kamu melampaui gunung, bumi, dan langit. Kamu mengangkat sebuah beban yang mereka hindari dan yang di hadapannya mereka menampakkan ketidakberdayaan. Kamu mengambil sebuah lingkaran yang lebih luas, lebih besar daripada mereka. Sebab ketika kamu berbuat baik dan mencipta, kamu hanya bisa berbuat baik dan mencipta sebatas kemampuanmu, sejauh tanganmu sampai, setingkat kekuatanmu menjangkau. Tapi kalau kamu berbuat buruk dan merusak, saat itu keburukanmu melampaui batas dan perusakanmu menyebar.
Misalnya: kekufuran adalah sebuah keburukan, sebuah perusakan, sebuah penolakan untuk membenarkan. Tapi satu dosa itu mengandung penghinaan terhadap seluruh alam semesta, perendahan terhadap seluruh nama Ilahi, dan penistaan terhadap seluruh kemanusiaan. Sebab wujud-wujud ini punya sebuah kedudukan yang tinggi dan sebuah tugas yang penting. Karena mereka adalah surat-surat dari Tuhan, cermin-cermin dari Yang Mahasuci, dan petugas-petugas Ilahi. Sedangkan kekufuran menjatuhkan mereka dari kedudukan sebagai cermin, sebagai pengemban tugas, dan sebagai pengandung makna, ke derajat rendah sebagai mainan kesia-siaan dan kebetulan, ke materi-materi fana yang cepat rusak dan berubah oleh perusakan kelenyapan dan perpisahan, dan ke tingkat ketidakberartian, ketidakberhargaan, dan kenolan; begitu pula ia, dengan mengingkari, merendahkan nama-nama Ilahi yang ukiran, kilau, dan keindahannya tampak di seluruh alam semesta dan di cermin-cermin wujud. Dan apa yang disebut kemanusiaan — yaitu sebuah kasidah berirama hikmah yang mengumumkan dengan indah kilau seluruh nama suci Ilahi, dan sebuah mukjizat kekuasaan yang nyata laksana benih yang menghimpun perangkat sebuah pohon yang kekal, dan seorang pemegang derajat kekhalifahan di bumi yang — dengan memikul amanah terbesar — mengungguli bumi, langit, dan gunung, serta meraih keutamaan atas para malaikat — kekufuran melemparkan semua itu ke sebuah derajat rendah yang lebih hina, lebih lemah, lebih tak berdaya, lebih fakir daripada hewan fana yang paling hina lagi sirna. Dan ia menurunkannya ke derajat sebuah lukisan murahan yang tak bermakna, kacau-balau, lagi cepat rusak.
Kesimpulannya: nafsu ammarah bisa melakukan kejahatan tak terhingga di sisi perusakan dan keburukan, tapi kemampuannya di sisi penciptaan dan kebaikan amat sedikit lagi kecil. Ya, ia merobohkan sebuah rumah dalam satu hari, tapi tidak bisa membangunnya dalam seratus hari. Tapi kalau ia meninggalkan keakuannya, meminta kebaikan dan keberadaan dari taufik Ilahi, melepaskan diri dari keburukan, perusakan, dan bersandar pada nafsu, lalu beristigfar dan menjadi hamba sepenuhnya; saat itu ia meraih rahasia: يُبَدِّلُ اللّٰهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ
Potensi keburukan yang tak terhingga padanya berubah menjadi potensi kebaikan yang tak terhingga. Ia memperoleh nilai sebaik-baik bentuk (ahsen-i takvim), lalu naik ke setinggi-tinggi tempat.
Nah, wahai manusia yang lalai! Lihatlah karunia dan kemurahan Allah جل جلاله Yang Mahaagung! Padahal sudah adil seandainya satu keburukan dicatat seribu, dan satu kebaikan dicatat satu atau bahkan tidak dicatat sama sekali; namun Dia mencatat satu keburukan sebagai satu, dan satu kebaikan sebagai sepuluh, kadang tujuh puluh, kadang tujuh ratus, kadang tujuh ribu. Dan pahamilah dari poin ini: masuk ke neraka yang mengerikan itu adalah balasan amal, ia adalah keadilan itu sendiri. Tapi masuk ke surga adalah semata-mata karunia.
Nuktah Kedua: Pada manusia ada dua wajah. Yang satu, dari sisi keakuan, memandang ke kehidupan dunia ini. Yang lain, dari sisi ibadah, memandang ke kehidupan abadi. Dari sisi wajah yang pertama, ia adalah makhluk malang sedemikian rupa: modalnya hanyalah sekeping kehendak bebas yang amat kecil — laksana sehelai rambut — dari kehendak; sebuah usaha yang lemah dari kekuasaan; sebuah nyala yang cepat padam dari kehidupan; sepenggal waktu yang cepat berlalu dari umur; dan sebuah tubuh kecil yang cepat membusuk dari keberadaan. Bersama keadaan itu, ia berada sebagai seorang individu yang halus lagi lemah dari sekian tak terhitung anggota dari aneka jenis tak terhingga yang terhampar di lapisan-lapisan alam semesta.
Dari sisi wajah yang kedua, dan khususnya dari sisi ketidakberdayaan dan kefakiran yang menghadap ke ibadah, ia punya keluasan yang amat besar. Ia punya kepentingan yang amat besar. Sebab Al-Fâtır-ı Hakîm (Sang Maha Pencipta lagi Mahabijaksana) telah menanamkan ke dalam hakikat maknawi manusia sebuah ketidakberdayaan yang tak terhingga besarnya dan sebuah kefakiran yang tak terhitung besarnya. Supaya ia menjadi sebuah cermin luas yang menghimpun tajalli tak terhingga dari sebuah Zat yang kekuasaan-Nya tak terhingga (Al-Kadîr-i Rahîm) dan kekayaan-Nya tak terhingga (Ganiyy-i Kerim).
Ya, manusia mirip sebuah benih. Seperti halnya kepada benih itu diberikan — dari kekuasaan — perangkat-perangkat maknawi yang penting, dan — dari takdir — sebuah program yang halus lagi berharga. Supaya ia bekerja di bawah tanah, lalu keluar dari alam yang sempit itu, lalu masuk ke alam udara yang luas, lalu memohon kepada Penciptanya lewat lisan kapasitas agar menjadi sebuah pohon, lalu menemukan sebuah kesempurnaan yang layak baginya. Kalau benih itu — karena keburukan tabiatnya — membelanjakan perangkat maknawi yang diberikan kepadanya untuk menarik beberapa zat yang membahayakan di bawah tanah; maka di tempat sempit itu, dalam waktu singkat, ia akan membusuk dan lapuk tanpa faedah. Tapi kalau benih itu menggunakan perangkat maknawinya dengan baik, dengan mematuhi perintah penciptaan dari فَالِقُ الْحَبِّ وَالنَّوَى maka ia akan keluar dari alam sempit itu, menjadi sebuah pohon besar yang berbuah; sehingga hakikatnya yang kecil lagi parsial dan ruh maknawinya akan mengambil rupa sebuah hakikat besar yang menyeluruh. Nah, persis seperti itu: ke dalam hakikat manusia telah dititipkan — dari kekuasaan — perangkat-perangkat yang penting, dan — dari takdir — program-program yang berharga. Kalau manusia, di alam bumi yang sempit ini, di bawah tanah kehidupan dunia, membelanjakan perangkat maknawinya untuk hawa nafsu; maka — seperti benih yang rusak — demi sebuah kenikmatan kecil, dalam umur yang singkat, di tempat yang sempit, dan dalam keadaan yang menyesakkan, ia akan membusuk dan lapuk, lalu memikulkan tanggung jawab maknawi ke ruhnya yang celaka, lalu berpindah pergi dari dunia ini.
Tapi kalau ia mendidik benih kapasitas itu dengan air keislaman, dengan cahaya iman, di bawah tanah ibadah, lalu mematuhi perintah-perintah Al-Qur'an dan mengarahkan perangkat maknawinya ke tujuan-tujuannya yang sejati; maka sudah pasti ia akan menumbuhkan dahan dan ranting di alam misal dan barzakh, dan akan menjadi sebuah benih berharga yang menghimpun perangkat sebuah pohon kekal dan sebuah hakikat abadi — yang akan menjadi penopang bagi kesempurnaan dan nikmat tak terhingga di alam akhirat dan surga — serta menjadi sebuah mesin yang berkilau dan sebuah buah yang penuh berkah lagi bercahaya dari pohon alam semesta ini.
Ya, kemajuan sejati adalah: kalbu, sir (rahasia batin), ruh, akal, bahkan khayal dan daya-daya lain yang diberikan kepada manusia — dengan memalingkan wajah-wajahnya ke kehidupan abadi — masing-masing sibuk dengan sebuah tugas ibadah khusus yang layak baginya. Sedangkan apa yang dianggap kemajuan oleh ahli kesesatan — yaitu masuk ke seluruh seluk-beluk kehidupan dunia, dan demi mengecap segala macam kenikmatannya, bahkan yang paling rendah, lalu menundukkan seluruh lathifahnya, kalbunya, dan akalnya kepada nafsu ammarah serta menjadikannya pembantu — itu bukan kemajuan, melainkan kemerosotan. Hakikat ini kulihat dalam sebuah kejadian khayal, dalam sebuah perumpamaan seperti ini:
Aku memasuki sebuah kota besar. Aku melihat ada istana-istana besar di kota itu. Aku memandang pintu sebagian istana: ada sebuah daya pikat yang amat meriah, yang menarik perhatian bagaikan sebuah teater yang gemerlap, yang menghibur semua orang. Aku perhatikan: tuan istana itu datang ke pintu, bermain dengan anjing dan membantu permainannya. Para perempuan berbincang-bincang manis dengan pemuda-pemuda asing. Gadis-gadis yang sudah dewasa pun mengatur permainan anak-anak. Dan penjaga pintu mengambil sikap bagaikan seorang aktor yang seakan memimpin mereka. Saat itu aku paham bahwa bagian dalam istana besar itu kosong melompong. Seluruh tugas yang halus terbengkalai. Akhlak mereka telah merosot, sehingga di pintu mereka mengambil rupa seperti ini.
Lalu aku berlalu, dan bertemu dengan sebuah istana besar lagi. Aku melihat: di pintu ada seekor anjing setia yang menelungkup, seorang penjaga pintu yang kasar, keras, lagi tenang, dan sebuah keadaan yang suram. Aku penasaran. Kenapa yang itu begitu? Yang ini begini? Aku masuk ke dalam. Aku melihat: bagian dalamnya sangat meriah... Lapis demi lapis bertingkat, para penghuni istana sibuk dengan tugas-tugas halus yang berbeda-beda. Orang-orang di lapis pertama mengurus pengelolaan dan pengaturan istana. Di lapis di atasnya, gadis-gadis dan anak-anak belajar pelajaran. Lebih atas lagi, para perempuan sibuk dengan seni-seni yang amat lembut dan ukiran-ukiran yang indah. Dan di paling atas, kulihat sang tuan sibuk dengan tugas-tugas yang khas baginya lagi tinggi — berkomunikasi dengan raja demi menjamin ketenangan rakyat serta demi kesempurnaan dan kemajuan dirinya sendiri. Karena aku tidak tampak oleh mereka, mereka tidak berkata "Dilarang," sehingga aku bisa berkeliling. Lalu aku keluar dan memandang. Di segala penjuru kota itu ada dua macam istana ini. Aku bertanya, mereka berkata: "Istana yang pintunya meriah dan dalamnya kosong itu adalah milik para pembesar orang kafir dan ahli kesesatan. Yang lain adalah milik para tokoh muslim yang terhormat." Lalu di sebuah sudut aku bertemu sebuah istana. Di atasnya kulihat nama "Said." Aku penasaran. Kuperhatikan lebih lanjut, dan rasanya seakan-akan aku melihat rupaku sendiri di atasnya. Karena keheranan yang amat sangat, aku berteriak, lalu aku sadar dan tersadar.
Nah, akan kutafsirkan kejadian khayal itu untukmu. Semoga Allah جل جلاله menjadikannya kebaikan. Nah, kota itu adalah kehidupan sosial umat manusia dan kota peradaban manusia. Tiap-tiap istana itu adalah seorang manusia. Para penghuni istana itu adalah lathifah-lathifah (perangkat halus batin) pada manusia seperti mata, telinga, kalbu, sir, ruh, akal — serta hal-hal seperti nafsu, hawa, daya syahwat, dan daya amarah. Pada tiap manusia, tiap lathifah punya tugas ibadah tersendiri. Punya kenikmatan dan derita tersendiri. Nafsu dan hawa, daya syahwat dan amarah, mereka laksana seorang penjaga pintu dan seekor anjing. Nah, menundukkan lathifah-lathifah yang tinggi itu kepada nafsu dan hawa, serta membuatnya melupakan tugas aslinya, sudah pasti adalah kemerosotan, bukan kemajuan. Sisi-sisi yang lain bisa kamu tafsirkan sendiri.
Nuktah Ketiga: Manusia, dari sisi perbuatan dan amal serta dari sisi usaha material, adalah seekor hewan yang lemah, sebuah makhluk yang tak berdaya. Lingkaran kuasa dan kepemilikannya di sisi itu sedemikian sempit, sampai-sampai ia hanya bisa menjangkau apa yang bisa diraih dengan mengulurkan tangannya. Bahkan hewan-hewan jinak yang menyerahkan kendalinya ke tangan manusia, mereka telah mengambil sebagian dari kelemahan, ketidakberdayaan, dan kemalasan manusia; sehingga ketika dibandingkan dengan padanannya yang liar, tampak perbedaan yang besar (seperti kambing dan sapi jinak dibanding kambing dan sapi liar). Tapi manusia itu, dari sisi penerimaan, doa, dan permintaan, adalah seorang musafir yang mulia di penginapan dunia ini. Dan ia bertamu kepada seorang Yang Mahamulia (Al-Kerim) yang telah membukakan untuknya perbendaharaan rahmat yang tak terhingga, dan menundukkan untuknya ciptaan-ciptaan-Nya yang indah lagi tak terhitung serta para pelayan-Nya. Dan untuk rekreasi, tontonan, dan manfaat sang musafir itu, Dia telah membuka dan menyiapkan sebuah lingkaran yang sedemikian besar, sampai-sampai jari-jari lingkaran itu — yakni dari pusat sampai ke garis tepinya — seluas sejauh yang bisa ditangkap mata, bahkan sejauh yang bisa dijangkau khayal.
Nah, kalau manusia bersandar pada keakuannya, lalu menjadikan kehidupan dunia sebagai tujuan angan-angannya, lalu bekerja demi sejumlah kenikmatan sementara di tengah kesusahan mencari nafkah; maka ia tenggelam dan binasa di dalam sebuah lingkaran yang amat sempit. Seluruh perangkat, alat, dan lathifah yang diberikan kepadanya akan mengadu tentangnya dan bersaksi melawannya di hari kebangkitan. Dan mereka akan menjadi penggugatnya. Tapi kalau ia mengetahui dirinya sebagai tamu, lalu membelanjakan modal umurnya dalam lingkaran izin Zat Yang Mahamulia tempat ia bertamu; maka ia bekerja dengan indah demi sebuah kehidupan abadi yang panjang, di dalam sebuah lingkaran yang luas, lalu bernapas dan beristirahat. Lalu, ia bisa pergi sampai ke setinggi-tinggi tempat. Dan seluruh perangkat dan alat yang diberikan kepada manusia ini akan rida kepadanya, lalu bersaksi mendukungnya di akhirat. Ya, seluruh perangkat menakjubkan yang diberikan kepada manusia itu bukan untuk kehidupan dunia yang tak berarti ini; melainkan untuk sebuah kehidupan kekal yang amat penting. Sebab kalau kita bandingkan manusia dengan hewan, kita melihat: manusia, dari sisi perangkat dan alat, amat kaya. Ia seratus derajat lebih banyak daripada hewan. Tapi dalam kenikmatan kehidupan dunia dan dalam cara hidup kebinatangan, ia jatuh seratus derajat lebih rendah. Sebab pada setiap kenikmatan yang ia rasakan, ada bekas sebuah derita. Derita masa lalu, ketakutan masa depan, dan derita lenyapnya tiap kenikmatan, semuanya merusak kesenangannya dan meninggalkan bekas pada kenikmatannya. Tapi hewan tidak begitu. Ia merasakan kenikmatan tanpa derita, kesenangan tanpa duka. Derita masa lalu tidak melukainya, ketakutan masa depan tidak menggentarkannya. Ia hidup dengan tenang, tidur, lalu bersyukur kepada Penciptanya.
Artinya, manusia yang diciptakan dalam rupa sebaik-baik bentuk, kalau ia memusatkan pikirannya hanya pada kehidupan dunia; padahal ia seratus derajat lebih tinggi modalnya daripada hewan, ia justru jatuh seratus derajat lebih rendah daripada seekor hewan seperti burung pipit. Di tempat lain aku pernah menjelaskan hakikat ini dengan sebuah perumpamaan. Karena ada kesesuaian, aku mengulang lagi perumpamaan itu. Begini:
Seorang lelaki memberi seorang pelayannya sepuluh keping emas seraya memerintahkan: "Buatkan satu setel pakaian dari kain tertentu." Kepada yang kedua, ia memberi seribu keping emas, lalu menaruh ke saku pelayan itu sebuah catatan yang berisi beberapa hal tertulis, lalu mengirimnya ke sebuah pasar. Pelayan pertama, dengan sepuluh keping emas, membeli sebuah pakaian sempurna dari kain bermutu tinggi. Pelayan kedua, karena berlaku gila, hanya menengok pelayan pertama, dan tanpa membaca catatan rincian yang ditaruh di sakunya, ia menyerahkan seribu keping emas kepada seorang pedagang lalu meminta satu setel pakaian. Pedagang yang tak tahu diri itu pun memberinya satu setel pakaian dari kain yang paling lapuk. Pelayan celaka itu datang ke hadapan tuannya, lalu menerima hukuman pendidikan yang keras dan menanggung azab yang dahsyat. Nah, orang yang punya kesadaran sekecil apa pun akan paham bahwa seribu keping emas yang diberikan kepada pelayan kedua itu bukan untuk membeli satu setel pakaian. Melainkan untuk sebuah perniagaan yang penting.
Persis seperti itu: perangkat-perangkat maknawi dan lathifah-lathifah manusia, yang tiap-tiapnya seratus derajat lebih berkembang dibanding hewan. Misalnya: mata manusia yang membedakan seluruh tingkatan keindahan, indra perasa lidah manusia yang membedakan seluruh aneka cita rasa khas makanan, akal manusia yang menembus seluruh seluk-beluk hakikat, dan kalbu manusia yang merindukan seluruh jenis kesempurnaan — perangkat dan alat-alat semacam itu di mana? Dan alat-alat hewan yang amat sederhana, yang cuma berkembang satu-dua tingkat, di mana? Hanya ada perbedaan sekian: hewan berkembang lebih banyak dalam sebuah amal yang khas baginya (sebuah perangkat khusus yang hanya ada pada hewan itu). Tapi perkembangan itu bersifat khusus.
Kekayaan manusia dari sisi perangkat itu disebabkan rahasia ini: karena akal dan pikiran, kepekaan dan perasaan manusia berkembang dan meluas jauh lebih banyak. Dan karena banyaknya kebutuhan, lahirlah beraneka ragam perasaan. Dan kepekaannya menjadi sangat beragam. Dan karena fitrahnya yang menghimpun banyak hal, ia menjadi penopang bagi hasrat-hasrat yang menghadap ke banyak sekali tujuan; dan karena ia punya banyak sekali tugas fitri, alat dan perangkatnya pun meluas lebih banyak. Dan karena ia diciptakan dalam sebuah fitrah yang siap bagi seluruh jenis ibadah, ia diberi sebuah kapasitas yang menghimpun benih-benih seluruh kesempurnaan. Nah, kekayaan perangkat dan banyaknya modal sampai sedemikian rupa, sudah pasti tidak diberikan untuk meraih kehidupan dunia yang tak berarti lagi sementara ini. Melainkan, tugas asli manusia semacam itu adalah: menunaikan tugas-tugasnya yang menghadap ke tujuan-tujuan tak terhingga, lalu mengumumkan ketidakberdayaan, kefakiran, dan kekurangannya dalam rupa ibadah; menyaksikan dan bersaksi atas tasbih seluruh wujud dengan pandangan menyeluruh; melihat pertolongan-pertolongan Ar-Rahmani di tengah nikmat lalu bersyukur; dan menonton mukjizat kekuasaan Tuhan pada ciptaan-ciptaan lalu merenung dengan pandangan penuh ibrah.
Wahai manusia pemuja dunia, pecinta kehidupan dunia, lagi lalai dari rahasia sebaik-baik bentuk! Said Lama pernah melihat hakikat kehidupan dunia ini dalam sebuah kejadian khayal. Dengarkanlah kejadian perumpamaan yang telah mengubahnya menjadi Said Baru ini:
Aku melihat: aku seorang musafir. Aku menuju sebuah jalan yang panjang. Yakni aku sedang dikirim. Zat yang menjadi tuanku memberiku — secara bertahap, sedikit demi sedikit — dari enam puluh keping emas yang Dia khususkan untukku. Aku pun membelanjakannya, lalu tiba di sebuah penginapan yang amat menghibur. Di penginapan itu, dalam satu malam, aku membelanjakan sepuluh keping emas untuk judi dan semacamnya, untuk hiburan, dan untuk jalan kegila-gilaan mengejar ketenaran. Pagi harinya tidak ada uang sepeser pun tersisa di tanganku. Aku tidak bisa berniaga. Aku tidak bisa membeli bekal untuk tempat yang akan kutuju. Yang tersisa di tanganku dari uang itu hanyalah derita, dosa-dosa, serta luka, memar, dan duka yang lahir dari hiburan-hiburan itu. Tiba-tiba, ketika aku dalam keadaan sedih itu, muncullah seorang lelaki di situ. Ia berkata kepadaku: "Kamu telah menyia-nyiakan seluruh modalmu. Kamu pun pantas ditampar. Dan ke tempat yang kamu tuju, kamu akan pergi dalam keadaan bangkrut dengan tangan kosong. Tapi kalau kamu punya akal, pintu tobat masih terbuka. Setelah ini, dari lima belas keping emas yang masih tersisa yang akan diberikan kepadamu, setiap kali sampai ke tanganmu, simpanlah separuhnya untuk berjaga-jaga. Yakni, belilah beberapa hal yang akan kamu perlukan di tempat yang kamu tuju." Kulihat nafsuku tidak mau. "Sepertiganya saja," katanya. Nafsuku pun tidak menaatinya. Lalu ia berkata seperempatnya. Kulihat nafsuku tidak bisa meninggalkan kebiasaan yang sudah mencandunya. Lelaki itu pun memalingkan wajahnya dengan marah lalu pergi.
Tiba-tiba keadaan itu berubah. Kulihat: aku berada di dalam sebuah kereta api yang melaju dengan kecepatan seakan jatuh meluncur di dalam sebuah terowongan. Aku panik. Tapi apa daya, tidak ada tempat untuk melarikan diri ke mana pun. Anehnya, di kedua sisi kereta api itu tampak bunga-bunga yang amat memikat dan buah-buah yang lezat. Aku pun, seperti pemula yang tak berakal, memandanginya lalu mengulurkan tanganku. Aku berusaha memetik bunga-bunga itu dan mengambil buah-buah itu. Tapi bunga-bunga dan buah-buah itu berduri-duri; saat kusentuh, ia menusuk tanganku, membuatnya berdarah. Dan karena kereta api terus berjalan lalu berpisah dariku, ia mencabik-cabik tanganku. Semua itu menjadi amat mahal bagiku. Tiba-tiba seorang petugas di kereta api itu berkata: "Berilah lima kurus, akan kuberikan kepadamu bunga dan buah itu sebanyak yang kamu mau. Sebagai ganti lima kurus, kamu malah rugi seratus kurus karena tanganmu tercabik. Lagi pula, ada hukumannya; kamu tidak boleh memetik tanpa izin." Tiba-tiba, karena tertekan, aku menjulurkan kepalaku dan memandang ke depan, bertanya-tanya kapan terowongan ini berakhir. Kulihat: alih-alih pintu terowongan, yang tampak adalah banyak lubang. Dari kereta api yang panjang itu, orang-orang dilemparkan ke lubang-lubang itu. Aku melihat sebuah lubang tepat di hadapanku. Di kedua sisinya tertancap dua batu nisan. Dengan penasaran aku perhatikan. Kulihat di batu nisan itu tertulis nama "Said" dengan huruf-huruf besar. Karena sesal dan herannya, aku berkata: "Aduh!" Tiba-tiba aku mendengar suara lelaki yang menasihatiku di pintu penginapan tadi. Ia berkata: "Sudah sadarkah kamu?" Aku berkata: "Ya, sudah, tapi tidak ada kekuatan lagi, tidak ada jalan." Ia berkata: "Bertobatlah, bertawakallah." Aku berkata: "Sudah kulakukan!"
Aku tersadar... Said Lama telah lenyap. Aku melihat diriku sebagai Said Baru.
Nah, kejadian khayal itu — semoga Allah جل جلاله menjadikannya kebaikan — satu-dua bagiannya akan kutafsirkan, sisi-sisi yang lain tafsirkan sendiri. Perjalanan itu adalah sebuah perjalanan menuju sisi keabadian yang tak berkesudahan — yang melewati alam arwah, rahim ibu, masa muda, masa tua, kubur, alam barzakh, hari kebangkitan, dan jembatan (sirat). Enam puluh keping emas itu adalah umur enam puluh tahun; ketika aku melihat kejadian ini, aku memperkirakan usiaku empat puluh lima tahun. Aku tidak punya bukti tertulis, tapi seorang murid ikhlas Al-Qur'an Yang Mahabijaksana membimbingku untuk membelanjakan separuh dari lima belas yang tersisa demi akhirat. Penginapan itu, bagiku, ternyata Istanbul. Kereta api itu adalah waktu. Tiap tahun adalah satu gerbong. Terowongan itu adalah kehidupan dunia. Bunga-bunga dan buah-buah berduri itu adalah kenikmatan-kenikmatan yang tidak halal dan hiburan-hiburan yang diharamkan; yang — saat disentuh — derita karena membayangkan kelenyapannya membuat kalbu berdarah. Saat berpisah, ia mencabik-cabik. Ia pun menimpakan hukuman. Petugas kereta api itu telah berkata: "Berilah lima kurus, akan kuberikan kepadamu sebanyak yang kamu mau." Tafsirnya adalah: kesenangan dan kenikmatan yang diperoleh manusia lewat usaha halalnya di lingkaran yang halal sudah cukup bagi kegembiraannya. Ia tidak menyisakan kebutuhan untuk masuk ke wilayah yang haram. Bagian-bagian yang lain bisa kamu tafsirkan sendiri...
Nuktah Keempat: Manusia, di dalam alam semesta ini, mirip seorang anak yang amat halus lagi lembut. Pada kelemahannya ada sebuah kekuatan besar, dan pada ketidakberdayaannya ada sebuah kekuasaan besar. Sebab justru dengan kekuatan kelemahan itu dan kekuasaan ketidakberdayaan itulah wujud-wujud ini tunduk kepadanya. Kalau manusia memahami kelemahannya, lalu berdoa lewat ucapan, keadaan, dan sikap, serta mengetahui ketidakberdayaannya lalu meminta pertolongan; maka — sambil menunaikan syukur atas penundukan itu — ia akan berhasil meraih apa yang diminta dan tujuan-tujuannya akan tunduk kepadanya sedemikian rupa, sampai-sampai dengan kekuasaan dirinya sendiri ia tidak akan bisa meraih sepersepuluh dari sepersepuluhnya. Hanya saja, kadang ia secara keliru menisbatkan sebuah hasil yang diraih lewat doa lisan keadaan kepada kekuasaannya sendiri. Misalnya: kekuatan dalam kelemahan anak ayam membuat induk ayam berani menyerang singa. Anak singa yang baru lahir menundukkan singa yang buas lagi lapar itu kepada dirinya, lalu membiarkannya tetap lapar sementara ia sendiri kenyang. Nah, inilah yang patut diperhatikan: sebuah kekuatan dalam kelemahan, dan sebuah kilau rahmat yang layak ditonton...
Seperti halnya seorang anak manja meraih apa yang diinginkannya lewat tangisannya, atau permintaannya, atau keadaannya yang sedih; dan orang-orang kuat pun tunduk kepadanya sedemikian rupa, sampai-sampai dengan kekuatan kecilnya ia tidak akan bisa meraih satu pun dari seribu keinginan itu sekalipun seribu kali ia coba. Artinya, kelemahan dan ketidakberdayaan — karena keduanya membangkitkan kasih sayang dan perlindungan baginya — membuatnya menundukkan para pahlawan kepada dirinya cuma dengan jari kecilnya. Nah, kalau anak semacam itu, dengan mengingkari kasih sayang itu dan menuduh perlindungan itu, lalu dengan kesombongan yang bodoh berkata "Aku menundukkan mereka dengan kekuatanku," sudah pasti ia akan kena tampar.
Nah, manusia pun, kalau dalam rupa kekufuran nikmat — dengan cara yang mengingkari rahmat Penciptanya dan menuduh hikmah-Nya — berkata seperti Karun: اِنَّمَا اُوتِيتُهُ عَلَى عِلْمٍ yakni: "Aku memperolehnya dengan ilmuku sendiri, dengan kekuasaanku sendiri" — sudah pasti ia menjadikan dirinya pantas mendapat tamparan azab. Artinya, kerajaan kemanusiaan, kemajuan manusia, dan kesempurnaan peradaban yang tersaksikan ini — bukan diraih lewat penaklukan, bukan lewat kemenangan, bukan lewat pertarungan; melainkan: segala sesuatu ditundukkan kepadanya demi kelemahannya, ia ditolong demi ketidakberdayaannya, ia dianugerahi demi kefakirannya, ia diilhami demi kebodohannya, ia dimuliakan demi kebutuhannya. Dan sebab kerajaan itu bukanlah kekuatan dan kekuasaan ilmu, melainkan kasih sayang dan belas kasih Tuhan, serta rahmat dan hikmah Ilahi — yang telah menundukkan segala sesuatu kepadanya. Ya, kepada manusia yang bisa dikalahkan oleh serangga seperti kalajengking yang buta dan ular yang tak berkaki, yang membuatnya memakai sutra dari seekor ulat kecil dan memakan madu dari seekor serangga berbisa — itu bukan kekuasaannya, melainkan penundukan dari Tuhan dan kemuliaan dari Ar-Rahman, yang merupakan buah dari kelemahannya.
Wahai manusia! Selama hakikatnya begini; tinggalkanlah kesombongan dan keakuan. Di hadapan pintu Uluhiyah, umumkanlah ketidakberdayaan dan kelemahanmu lewat lisan permohonan pertolongan; umumkanlah kefakiran dan kebutuhanmu lewat lisan kerendahan hati dan doa; dan tunjukkanlah bahwa kamu seorang hamba. Lalu ucapkanlah حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَكِيلُ, lalu naiklah.
Dan jangan berkata: "Aku ini bukan apa-apa; apa pentingnya aku, sampai alam semesta ini ditundukkan kepadaku secara sengaja oleh seorang Al-Hakîm-i Mutlak (Mahabijaksana Mutlak), dan sebuah syukur menyeluruh dituntut dariku?" Sebab kamu memang, dari sisi nafsu dan rupamu, laksana bukan apa-apa. Tapi dari sisi tugas dan kedudukan, kamu laksana: seorang penonton yang jeli atas alam semesta yang megah ini, seorang lisan-penutur yang fasih bagi wujud-wujud yang penuh hikmah ini, seorang penelaah yang paham atas kitab alam ini, seorang pengawas yang takjub atas makhluk-makhluk yang bertasbih ini, dan seorang mandor yang terhormat atas ciptaan-ciptaan yang beribadah ini.
Ya, wahai manusia! Kamu, dari sisi jasmanimu yang seperti tumbuhan dan dari sisi nafsu kebinatanganmu, adalah sebuah bagian yang kecil, sebuah satuan yang hina, sebuah makhluk yang fakir, seekor hewan yang lemah — yang terombang-ambing di tengah gelombang seluruh wujud yang mengalir lagi mengerikan. Tapi dengan menyempurnakan diri lewat pendidikan keislaman — yang bercahaya oleh cahaya iman yang mengandung sinar cinta Ilahi — maka dari sisi kemanusiaan: kamu adalah seorang raja di dalam kehambaan, seorang yang menyeluruh di dalam keparsialan, sebuah alam di dalam kekecilan, dan seorang pengawas yang — di dalam kehinaan — kedudukannya sedemikian besar dan lingkaran pengawasannya sedemikian luas, sampai kamu bisa berkata: "Rabb-ı Rahîm-ku (Tuhanku Yang Maha Penyayang) menjadikan dunia sebagai sebuah rumah bagiku. Dia menjadikan bulan dan matahari sebagai sebuah lampu bagi rumahku itu; musim semi sebagai seikat mawar; musim panas sebagai sebuah hidangan nikmat; dan hewan sebagai pelayan bagiku. Dan tumbuh-tumbuhan Dia jadikan perabotan berhias bagi rumahku itu."
Kesimpulan pembicaraan: Kalau kamu mendengarkan nafsu dan setan, kamu jatuh ke serendah-rendah tempat. Kalau kamu mendengarkan Al-Haqq dan Al-Qur'an, kamu naik ke setinggi-tinggi tempat, lalu menjadi sebuah kalender alam semesta yang indah.
Nuktah Kelima: Manusia dikirim ke dunia ini sebagai seorang petugas dan tamu, dan kepadanya diberikan kapasitas yang amat penting. Dan sesuai kapasitas-kapasitas itu, kepadanya dititipkan tugas-tugas yang penting. Dan untuk membuat manusia bekerja demi tujuan dan tugas-tugas itu, diberikanlah dorongan-dorongan yang kuat dan ancaman-ancaman yang dahsyat. Dasar-dasar tugas kemanusiaan dan ibadah yang telah kami jelaskan di tempat lain, di sini akan kami ringkas. Supaya rahasia "sebaik-baik bentuk" dipahami.
Nah, manusia, setelah datang ke alam semesta ini, punya ibadah "dengan dua sisi": Satu sisi: sebuah ibadah dan perenungan dalam rupa "tidak hadir" (gaib, seakan dari kejauhan). Yang lain: sebuah ibadah dan munajat dalam rupa "hadir," dalam bentuk berbicara langsung.
Wajah pertama adalah: dengan penuh ketaatan membenarkan kerajaan rububiyah yang tampak di alam semesta, lalu mengawasi kesempurnaan dan keindahannya dengan penuh ketakjuban. Lalu, menjadi penyeru dan pengumum dengan memperlihatkan karya-karya seni indah — yang tidak lain adalah ukiran-ukiran nama suci Ilahi — kepada pandangan penuh ibrah satu sama lain. Lalu, menimbang permata-permata nama-nama Tuhan — yang tiap-tiapnya laksana sebuah perbendaharaan maknawi yang tersembunyi — dengan timbangan pemahaman, lalu memberinya nilai dengan penuh penghargaan lewat kepekaan-nilai kalbu. Lalu, merenung dengan penuh ketakjuban dengan menelaah lembaran-lembaran wujud — yang laksana surat-surat dari pena kekuasaan — yaitu lembaran-lembaran bumi dan langit. Lalu, dengan menonton hiasan-hiasan dan seni-seni lembut pada wujud-wujud ini secara penuh kekaguman, mencintai makrifat (pengenalan) Sang Maha Pencipta lagi Mahaindah mereka, dan merindukan untuk hadir ke hadapan Sang Maha Pencipta lagi Mahasempurna mereka serta meraih sapaan-Nya.
Wajah Kedua adalah kedudukan kehadiran dan seruan langsung: ia berpindah dari karya ke Sang Pembuat karya, lalu melihat: seorang Maha Pencipta Yang Mahaagung ingin memperkenalkan dan memberitahukan diri-Nya lewat mukjizat-mukjizat seni-Nya. Maka ia pun membalasnya dengan iman dan makrifat. Lalu ia melihat: seorang Rabb-ı Rahîm (Tuhan Yang Maha Penyayang) ingin membuat diri-Nya dicintai lewat buah-buah indah rahmat-Nya. Maka ia pun membuat dirinya dicintai oleh-Nya dengan memusatkan cinta hanya kepada-Nya dan mengkhususkan ibadah hanya untuk-Nya. Lalu ia melihat: seorang Al-Mün'im-i Kerim (Pemberi Nikmat Yang Mahamulia) memelihara dirinya dengan nikmat-nikmat lezat, baik material maupun maknawi. Maka ia pun membalasnya — dengan perbuatannya, keadaannya, ucapannya, bahkan kalau bisa dengan seluruh kepekaan dan perangkatnya — dengan syukur, pujian, dan sanjungan. Lalu ia melihat: seorang Al-Celil-i Cemil (Yang Mahaagung lagi Mahaindah) menampakkan kebesaran, kesempurnaan, keagungan, dan keindahan-Nya di cermin-cermin wujud ini, lalu menarik perhatian. Maka ia pun membalasnya dengan mengucapkan "Allahu Akbar, Subhanallah," lalu bersujud dalam kerendahan-diri dengan penuh ketakjuban dan cinta. Lalu ia melihat: seorang Ganiyy-i Mutlak (Mahakaya Mutlak) memperlihatkan kekayaan dan perbendaharaan-Nya yang tak terhingga di dalam sebuah kemurahan yang mutlak. Maka ia pun membalasnya dengan meminta dan memohon, dalam pengagungan dan sanjungan, dengan penuh kesadaran akan kebutuhan dirinya. Lalu ia melihat: Sang Maha Pencipta Yang Mahaagung itu telah menjadikan permukaan bumi laksana sebuah pameran. Dia memamerkan seluruh karya seni antik-Nya di sana. Maka ia pun membalasnya: dengan mengucapkan "Masya Allah جل جلاله" sebagai penghargaan, "Barakallah" sebagai pujian, "Subhanallah" sebagai ketakjuban, dan "Allahu Akbar" sebagai kekaguman. Lalu ia melihat: seorang Al-Vâhid-i Ehad (Yang Maha Esa lagi Mahatunggal), di istana alam semesta ini, dengan stempel-stempel-Nya yang tak tertiru, cap-cap khusus-Nya, tanda-tangan agung khusus-Nya, dan titah-titah khas-Nya, membubuhkan cap kesatuan pada seluruh wujud dan mengukir ayat-ayat tauhid. Dan di seluruh penjuru ufuk alam, Dia menancapkan bendera keesaan dan mengumumkan rububiyah-Nya. Maka ia pun membalasnya: dengan pembenaran, iman, pengesaan (tauhid), keyakinan, kesaksian, dan ibadah.
Nah, dengan ibadah dan perenungan semacam inilah ia menjadi manusia sejati, ia memperlihatkan bahwa ia berada dalam sebaik-baik bentuk. Dengan keberkahan iman, ia menjadi seorang khalifah bumi yang amanah, yang layak memikul amanah.
Wahai manusia lalai yang diciptakan dalam sebaik-baik bentuk, namun dengan pilihan buruknya pergi ke arah serendah-rendah tempat! Dengarkanlah aku. Aku pun, seperti kamu, dahulu memandang dunia indah dan menyenangkan dalam kelalaian akibat mabuk masa muda; lalu pada saat aku tersadar dari mabuk masa muda itu di pagi masa tua, betapa kulihat buruknya wajah dunia yang tidak menghadap ke akhirat — yang tadinya kusangka indah — dan betapa indahnya wajah hakiki yang menghadap ke akhirat. Pandanglah dan lihatlah sendiri dua lembaran hakikat yang tertulis pada Kedudukan Kedua dari Kalimat Ketujuh Belas (Onyedinci Söz) di dalam buku ini:
Lembaran Pertama: menggambarkan hakikat dunia ahli kelalaian — yang dahulu kulihat seperti ahli kesesatan, namun tanpa mabuk, lewat tirai kelalaian.
Lembaran Kedua: mengisyaratkan hakikat dunia ahli hidayah dan ahli kehadiran. Sebagaimana ia ditulis dahulu, aku biarkan dalam bentuk itu. Ia mirip syair, tapi sebenarnya bukan syair.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ
رَبِّ اشْرَحْ لِى صَدْرِى وَيَسِّرْ لِى اَمْرِى وَاحْلُلْ عُقْدَةً مِنْ لِسَانِى يَفْقَهُوا قَوْلِى
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى الذَّاتِ الْمُحَمَّدِيَّةِ اللَّطِيفَةِ اْلاَحَدِيَّةِ شَمْسِ سَمَاءِ اْلاَسْرَارِ وَ مَظْهَرِ اْلاَنْوَارِ وَ مَرْكَزِ مَدَارِ الْجَلاَلِ وَ قُطْبِ فَلَكِ الْجَمَالِ اَللّٰهُمَّ بِسِرِّهِ لَدَيْكَ وَ بِسَيْرِهِ اِلَيْكَ اٰمِنْ خَوْفِى وَ اَقِلْ عُثْرَتِى وَ اَذْهِبْ حُزْنِى وَ حِرْصِى وَ كُنْ لِى وَ خُذْنِى اِلَيْكَ مِنِّى وَ ارْزُقْنِى الْفَنَاءَ عَنِّى وَ لاَ تَجْعَلْنِى مَفْتُونًا بِنَفْسِى مَحْجُوبًا بِحِسِّى وَاكْشِفْ لِى عَنْ كُلِّ سِرٍّ مَكْتُومٍ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ وَارْحَمْنِى وَارْحَمْ رُفَقَائِى وَ ارْحَمْ اَهْلِ اْلاِيمَانِ وَ الْقُرْاٰنِ اٰمِينَ يَا اَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ وَ يَا اَكْرَمَ اْلاَكْرَمِينَ وَ اٰخِرُ دَعْوَيهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
* * *
* kurus dan lira: satuan mata uang Utsmani; 1 lira = 100 kurus. Di sini Üstad memakainya untuk menggambarkan selisih nilai (5 kurus vs 5 lira, lalu sejuta), bukan harga sebenarnya.
Sebuah konferensi yang dibacakan di Universitas Ankara
Konferensi yang bisa kususun berkat pelajaran Risale-i Nur dan berkat himmah Üstadku yang mulia lagi berharga, Bedîüzzaman, ini adalah sebuah perbincangan yang manis lagi menyenangkan tentang Risale-i Nur. Ia bukanlah untuk mengungkapkan nilai dan pentingnya Risale-i Nur; aku tidak punya keberanian untuk itu. Sebab aku adalah murid Risale-i Nur yang paling pemula, paling tak berdaya. Wawasanku tidak cukup untuk menjelaskan nilai sebuah mahakarya yang telah meraih ketenaran di antara bangsa-bangsa. Kehormatan besar ini khusus bagi para pembaca Risale-i Nur yang tercerahkan, berpemahaman, lagi penuh penghargaan.
Sampai aku berjumpa dengan Risale-i Nur, belum pernah kubaca satu tulisan pun di media cetak dan buku-buku kita yang menjelaskan nilai Al-Qur'an Al-Karim. Belakangan aku paham: Al-Qur'an Al-Karim ternyata — sudah lebih dari setengah abad — lebih dihargai oleh para tokoh besar bangsa asing daripada oleh para sastrawan yang lahir di tengah kita. Di Gedung Putih, Amerika, Al-Qur'an Al-Hakîm — yang merupakan matahari bagi seluruh dunia dan alam semesta — ternyata diletakkan di kedudukan tinggi yang layak baginya, di antara kain-kain sutra hijau. Para penemu, filsuf, psikolog, sosiolog, dan pakar pendidikan membaca karya-karya yang ditulis dengan menjadikan Al-Qur'an Al-Karim sebagai dasar; tokoh-tokoh itu, dengan pengetahuan yang mereka peroleh dari kitab suci ini, menulis karya-karya lalu meraih ketenaran berskala dunia. Dan ternyata mereka berkhidmat bagi kemanusiaan dan bangsa-bangsa mereka. Di Swedia, Norwegia, dan Finlandia, mereka membentuk sebuah tim yang terdiri dari ilmuwan-ilmuwan terbesar; bertahun-tahun mereka mencari sebuah kitab penyelamat yang bisa menjamin keselamatan kaum muda; akhirnya mereka sampai pada kesimpulan bahwa membacakan Al-Qur'an Al-Karim adalah satu-satunya jalan untuk menanamkan akhlak tertinggi kepada kaum muda dan menjadikan mereka ilmuwan yang berpikiran terbuka lagi lurus di dunia.
Orang asing yang menghargai Islam dan Al-Qur'an banyak; masih mungkin diberikan banyak contoh lain.
Nah, kalau orang-orang yang bukan muslim saja menghargai dan memetik manfaat dari nilai Kitab Islam, apakah kaum muda muslim Turki yang sadar bisa berdiam lebih lama lagi? Sama sekali tidak bisa berdiam, dan tidak bisa tidur.
Allah جل جلاله Yang Mahaagung, Sesembahan kita Yang Mahamulia, telah menghadirkan — di abad kedua puluh pun — sebuah perbendaharaan ilmu hakikat yang akan menjawab dengan sempurna kebutuhan-kebutuhan kaum muda kita yang paling tinggi lagi paling suci. Nah, perbendaharaan ilmu yang kaya ini adalah Risale-i Nur, sebuah tafsir Al-Qur'an Al-Karim yang hakiki lagi cemerlang. Karya-karya ini memancar dari Al-Qur'an Al-Hakîm dan ditulis dalam lingkaran dasar-dasarnya. Yang menyusun karya ini adalah Bedîüzzaman. Seluruh ilmuwan sejati sepakat membenarkan bahwa penyusun agung Risale-i Nur ini adalah sosok yang layak disebut "Bedîüzzaman" (Keajaiban Zaman). Mereka membenarkan dengan penghargaan dan pujian bahwa karya-karya Risale-i Nur adalah sebuah tafsir Al-Qur'an yang akan menyelamatkan bangsa dan kaum muda dari pusaran kesesatan dan penyimpangan. Walau begitu, bisa dikatakan bahwa hari ini belum semua orang sepenuhnya mengenal penyusun mahakarya sebesar ini.
Ya, teman-teman, ternyata di tengah kita, selama lima belas sampai dua puluh tahun, kaum komunis dan arus-arus musuh agama telah banyak bekerja. Alih-alih memperkenalkan para jenius kita semacam ini, mereka justru menjelek-jelekkannya dengan berbagai macam tuduhan; dan untuk berhasil dalam hal itu, mereka berusaha memanfaatkan segala peluang; mereka mengerahkan seluruh upaya untuk menampakkan ilmuwan kita yang sejati lagi pejuang sebagai sosok buruk di mata bangsa. Bahwa keadaan yang tragis ini memang begitu, telah kita pahami berkat mulai berkembangnya demokrasi di negeri kita pada tahun-tahun ini. Ternyata kita telah tertipu dan ditipu. Setelah mengetahui hakikat-hakikat ini, kita pun bisa mengeluarkan dari kepala kita segala bisikan rekaan dan propaganda dusta yang selama ini ditujukan kepada kita tentang para ulama kita. Kita hapus kesan-kesan negatif kita; kita berpegang pada kitab suci kita, Al-Qur'an — yang dimanfaatkan oleh orang-orang tercerahkan sejati — dan kita mulai tercerahkan dengan hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman dari Risale-i Nur, sebuah tafsir tinggi Al-Qur'an Al-Hakîm di abad ini.
Ya, sebagaimana kaum muda hari ini tidak mengenal karya-karya dan nilai sejati para tokoh besar jenius kita yang masing-masing merupakan matahari Islam — seperti Syaikh Abdul Qadir al-Jilani, Imam Al-Ghazali, dan Maulana Jalaluddin Rumi — begitu pula mereka belum bisa sepenuhnya mengenal seorang penafsir Al-Qur'an yang tiada bandingnya seperti Bedîüzzaman Said Nursî. Pada dasarnya, dengan sejumlah maksud sengaja dari musuh-musuh agama, baik yang tersembunyi maupun yang terang-terangan, tidak diberi peluang baginya untuk dikenal. Tapi orang-orang yang lewat upaya pribadinya mengetahui bahwa seorang penafsir besar dan seorang jenius Islam semacam ini ternyata ada juga di abad ini, langsung memahami nilai Bedîüzzaman yang historis lagi mendunia, dan mereka begitu bersemangat untuk memetik manfaat dari karya-karyanya.
Ya, teman-teman! Dengan keyakinan yang pasti lagi sempurna kita bisa berkata: karya yang akan mengantarkan manusia di abad ini kepada kebahagiaan, yang akan meyakinkan mereka secara akal dan kalbu, hanyalah Risale-i Nur. Penilaian ini adalah penilaian pasti dari orang-orang tercerahkan yang membaca Risalah-risalah Nur. Dan ketepatan keyakinan ini diperlihatkan dengan jelas oleh kekuatan ilmiah dan orisinalitas dalam Risale-i Nur.
Teman-teman!
Sebagaimana dunia dan akhirat orang yang berpegang pada Al-Qur'an Al-Karim menjadi makmur, begitu pula orang yang membaca dan mengamalkan Risale-i Nur — sebuah tafsir cemerlangnya — akan meraih kebahagiaan sejati. Iman para pemuda yang membaca karya-karya imani ini akan menguat, masa depan mereka akan bersinar; mereka akan menjadi pemilik ilmu dan makrifat. Mereka akan menonjol sebagai pemuda berakhlak tinggi yang bermanfaat — bagi tanah air, bagi bangsa, maupun bagi ayah dan ibu mereka. Mereka akan meraih kebahagiaan menjadi hamba Allah جل جلاله yang ikhlas dan umat Nabi yang sejati.
Mengenai teman-teman kita yang menanyakan informasi tentang Risale-i Nur: untuk bisa memperoleh sebuah gambaran dalam hal ini, tidak perlu mengambil penjelasan dari mana pun. Bacalah sendiri karya-karya yang melimpah berkah ini, berusahalah memahaminya dan mengenalnya dengan kesungguhan dan upaya pribadimu sendiri. Masukilah sendiri perbendaharaan ilmu dan makrifat itu. Nah, barulah saat itu kamu akan benar-benar memperoleh informasi yang kamu inginkan.
Ya, semakin kamu membaca Risale-i Nur, cahaya Al-Qur'an akan memenuhi batinmu, hakikat-hakikat Qur'ani itu akan menerangi akal dan kalbumu serta akan mengembangkan dan menguatkan imanmu. Semakin kamu membaca Risalah-risalah Nur, sebuah limpahan berkah Ilahi akan menyelimuti alam ruh dan maknawimu. Dalam hidup, pintu-pintu untuk bisa hidup dalam ketenangan besar dan kesejahteraan kebahagiaan akan terbuka bagimu. Dari karya-karya ini kamu akan belajar bahwa dunia adalah sebuah ladang akhirat dan bahwa kamu datang ke dunia fana ini untuk meraih sebuah kehidupan abadi; dan dari sisi iman ini, kamu akan merasakan bahwa dunia lebih nikmat daripada surga. Nah, dengan semangat dan cinta maknawi yang tak terhingga semacam ini, kamu akan mencintai dunia — bukan demi kehidupan yang fana ini, melainkan demi meraih sebuah kehidupan abadi dan sebuah kebahagiaan yang kekal.
Dan kamu akan semakin memahami bahwa menunaikan salat dan ibadah adalah sebuah kenikmatan yang besar lagi suci. Dalam salat, kamu akan mulai merasakan sebuah kenikmatan Ilahi yang sedemikian dalam dari berdiri di hadapan Rabb-i Rahîm kita, Allah جل جلاله kita; sampai-sampai hari-harimu yang berlalu tanpa salat akan terasa penuh derita dan kesusahan, dan saat-saat paling gembira lagi paling bahagiamu akan kamu temukan dalam ibadah dan ketaatan kepada Allah جل جلاله.
Teman-teman!
Risale-i Nur adalah sebuah karya ilhami yang — untuk menyelamatkan kaum muslim abad kedua puluh dan seluruh manusia dari kegelapan pikiran yang pekat dan jalan-jalan kesesatan yang mengerikan — ditulis bukan dengan kehendak penyusunnya sendiri, melainkan sebagai sebuah anugerah Ilahi. Nah, kalau kamu bisa membaca dengan saksama sebuah karya semacam ini — yang pengaruhnya pada manusia amat besar — secara terus-menerus, dengan tenang, dan dengan mempelajari makna kosakatanya; maka kamu pun, seperti banyak murid Nur yang bekerja siang dan malam, akan meraih ketenangan dan kebahagiaan yang besar. Dan kamu akan menjadi pribadi yang amat gesit lagi aktif. Kamu akan bergetar oleh kelezatan Ilahi karena bisa membaca karya-karya suci itu berhari-hari. Demi bisa menyibukkan diri dengan karya-karya semacam ini yang nilainya tak tertakar, kamu tidak akan menyia-nyiakan walau lima menit pun. Dan kamu akan menghargai waktu-waktumu dengan nilai yang besar untuk selalu membawa Risalah Nur di saku dan tasmu, untuk membacanya, selalu membacanya. Kamu akan terbakar oleh cinta membaca Risalah Nur, oleh gelora membaca Risalah Nur, oleh kebutuhan membaca Risalah Nur.
Ya, teman-teman! Risale-i Nur adalah sebuah karya yang sedemikian memikat: semakin kamu memahami kesucian dan keagungan berkhidmat kepada Al-Qur'an dan iman lewat Risale-i Nur; seandainya pun — selagi kamu di dunia — kamu diundang ke surga, kamu tidak akan mau meninggalkan tugas yang sesuci ini dan kebahagiaan yang setinggi ini lalu pergi sekarang. Dari sisi iman dan demi tujuan berkhidmat pada perjuangan menyelamatkan iman, kamu akan merasakan bahwa dunia laksana sebuah surga maknawi.
Orang-orang yang bekerja untuk Risale-i Nur telah memiliki sebuah pengorbanan dan kerelaan demi khidmat kepada iman dan Islam yang sedemikian rupa, sampai-sampai maksud-maksud rendah lagi murahan yang disebut kepentingan pribadi tidak menemukan tempat dan tidak bisa bertahan pada diri mereka. Sebab maksud paling utama dan tujuan terbesar pada para murid Nur adalah: rida Ilahi. Segala syukur tak terhingga bagi Allah جل جلاله; teman-teman kita yang sadar, berharga, lagi penuh pengorbanan — yang telah mengetahui bahwa bekerja untuk Risale-i Nur adalah khidmat kepada kitab suci kita, Al-Qur'an Yang Mahaagung — telah melampaui jutaan. Hakikat ini, yang tampak amat jelas bagi orang-orang yang akalnya sehat, tidak bisa diingkari oleh satu orang pun. Dalam kegiatan-kegiatan Risale-i Nur — yang merupakan sebuah kerja karena Allah جل جلاله — ada orang-orang yang, dengan cinta dan semangat Ilahi serta dengan kasih kalbu dan ruh, mengorbankan bahkan tidur malam mereka.
Lihatlah! Ada murid-murid Nur sejati yang berkhidmat kepada Risale-i Nur sedemikian rupa, sampai-sampai kalau kepada salah seorang dari mereka dikatakan: "Salinlah kitab-kitab ini sebagai ganti Risale-i Nur, lalu akan kami berikan kepadamu kekayaan miliarder Amerika, Ford," tanpa mengangkat ujung penanya pun dari baris-baris Risale-i Nur, murid yang berbahagia itu akan menjawab begini:
"Sekalipun kalian berikan dunia beserta kekayaan dan kerajaannya, aku tidak akan menerimanya. Sebab Allah جل جلاله Yang Mahaagung, lewat menelaah dan berkhidmat pada Risale-i Nur, akan memberi kami sebuah perbendaharaan kekal yang tak akan habis. Apakah kekayaan duniawi kalian itu akan membuatku bahagia? Itu meragukan. Tapi tidak ada keraguan sedikit pun bahwa kami akan meraih kebahagiaan sejati dengan kekayaan kekal yang akan dianugerahkan Tuhan kami."
Saudara-saudaraku yang berharga!
Para pemuda yang agak terlambat dalam memahami nilai tinggi Risale-i Nur atau dalam mendengar dan mengenalnya, berkata begini dengan hati yang pedih: "Masa mudaku yang berharga, yang terlambat sadar ini, tidak akan kusia-siakan dengan hal-hal yang fana lagi sementara. Hanya dan hanya akan kuwakafkan untuk khidmat-khidmat di jalan menaati perintah Allahku tercinta dan Nabiku tercinta, demi berkhidmat kepada Al-Qur'an dan iman. Hanya dengan begitulah, di masa mudaku yang sementara ini aku akan meraih sebuah masa muda yang kekal."
Melihat keterikatan sebesar ini kepada Risale-i Nur, jangan sampai disangka bahwa keterkaitan kami dengan dunia terputus. Sebaliknya, sisi ini justru menonjol lewat garis perilaku kami: kalau kami lajang, kami mengerjakan pekerjaan kami; kalau kami pelajar, kami mengerjakan pelajaran kami; kalau kami pegawai, kami menunaikan tugas kami; kalau kami pedagang, kami menjalankan perniagaan kami. Sebanyak apa pun kesibukan duniawi kami, seketat apa pun pelajaran dan ujian kami, kami tetap menemukan dan bisa menemukan waktu untuk bekerja dan berkhidmat pada Risale-i Nur; kami menyisihkan dan bisa menyisihkan waktu. Sebab, seperti halnya setiap hari ada kebutuhan akan roti, air, dan udara. Persis seperti itu pula, bahkan lebih daripada itu, setiap hari kami butuh mengambil makanan maknawi kami dari hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman.
Ya, kesibukan kami dengan Risale-i Nur memberi kami kekuatan dan gairah dengan melipatgandakan keberhasilan dalam pekerjaan dan pelajaran kami. Ia membangkitkan dalam diri kami pemikiran untuk bekerja di dunia demi agama. Ia membuat kami memahami nilai waktu; dengan mengingatkan kalbu dan akal kami secara berkesan bahwa lembaran-lembaran kalender tidak akan kembali, ia memberi kami semangat dan tekad untuk menghargai waktu kami yang merupakan modal umur. Ia menyelamatkan kami dari membunuh waktu pada jam-jam kerja dengan hal-hal yang sia-sia di sana-sini, atau dengan hal-hal yang kami sangka perlu padahal sebenarnya tak berfaedah bagi kami. Bahkan di waktu-waktu istirahat pun, dengan menumbuhkan kecintaan untuk bekerja demi hakikat-hakikat iman, ia membuat kami mengecap kenikmatan beraktivitas yang ditanamkan rahmat Ilahi ke dalam gerak; sehingga ia menuntun kami di jalan meraih sebuah kehidupan kekal dalam umur yang fana.
Saudara-saudaraku yang berharga!
Tidak mungkin mengungkapkan secara penuh nilai tinggi Risale-i Nur. Nilainya sedemikian menyelimuti ruh orang yang membacanya secara tetap dan setia, sedemikian menundukkan dan memikat mereka, sampai-sampai seandainya seluruh musuh agama berkumpul di sekitar salah seorang dari para pengorban itu — yang terus maju di tingkatan iman tahkiki (iman yang diteliti dan dibuktikan) — lalu berusaha membuatnya meninggalkan Risale-i Nur, mereka tetap tidak akan berhasil; dan memang tidak pernah berhasil.
Aku ini, menganggap menjadi pelayan Üstad — yang ditugaskan dan dipekerjakan untuk menyusun Risale-i Nur — sebagai nikmat terbesar. Aku menganggap melakukan pelayanan bagi pelayannya pun sebagai sebuah kehormatan. Mungkin ada orang yang menganggap keterikatan kalbu yang tulus ini berlebihan; tapi sama sekali tidak seharusnya dianggap berlebihan.
Misalnya: kita membaca sebuah karya berharga, lalu di dalam diri kita muncul sedikit-banyak rasa penghargaan terhadap penulisnya. Kita merasa kagum pada karya-karya Molière, Victor Hugo, dan Goethe. Lalu, seberapa besarkah seharusnya derajat keterikatan terhadap sosok seorang jenius Islam yang menafsirkan Al-Qur'an Al-Hakîm — pemandu agama Islam? Kalau karya salah seorang tokoh terkenal itu ditulis di atas kertas, maka Risalah-risalah Nur — tafsir Al-Qur'an karya Bedîüzzaman Said Nursî — sepatutnya diukir di atas lembaran-lembaran emas. Kalau untuk menelaah karya seorang filsuf lurus yang tidak menentang agama orang rela bekerja berjam-jam, maka untuk membaca karya-karya Bedîüzzaman yang mengajarkan kebahagiaan dua dunia, kita patut meninggalkan tidur kita. Ya, kalau untuk sebuah buku duniawi kita membayar lima lira, maka untuk sebuah tafsir Al-Qur'an seperti Risale-i Nur — yang membahagiakan manusia di dunia dan akhirat dan meraih kedudukan serta kehormatan tertinggi — kita rela memberi seratus lira, dan memang kami memberikannya. Kalau perlu, mengorbankan kekayaan kami pun demi penyebarannya adalah hal yang perlu lagi sangat mesti bagi kami, kaum muda yang merupakan cucu para pejuang Islam, teman-teman!...
Kalau begitu, marilah, saudara-saudaraku! Mari kita berlutut berdampingan dalam pelajaran Risalah Nur, bergandengan tangan dalam khidmatnya, berbahu-membahu dalam jihad agama; mari bersama-sama bekerja, bertemu, dan berbincang demi Risalah-risalah Nur — yang sangat kita butuhkan untuk mengambil cahaya dari cahayanya dan mengambil pelajaran dari pelajaran-pelajaran imaninya. Mari kita berlari di jalan Allah جل جلاله, di jalan agama. Dengan mengibarkan bendera perjuangan melawan kaum tak beragama, mari kita korbankan jiwa kita yang manis di medan-medan jihad agama, di lingkungan-lingkungan khidmat iman.
Saudara-saudaraku yang berharga!
Dalam Risale-i Nur terdapat banyak keistimewaan dan ciri khas yang amat unggul. Sifat-sifat istimewa lagi luar biasa itu tidak terlihat pada karya mana pun yang ditulis sampai sekarang. Para ilmuwan sejati yang menghabiskan umurnya dengan membaca, yang lalu membaca Risale-i Nur, menampakkan hakikat ini. Dan tokoh-tokoh yang tahu menghargai lagi unggul itu sampai pada keyakinan bahwa manusia yang hidup di zaman ini, sekaya apa pun ilmunya, tetap butuh membaca Risale-i Nur. Para ulama dan cendekiawan utama yang takut tertimpa penyakit seperti keakuan dan kedengkian ilmiah, langsung berpegang pada Risale-i Nur. Sebagian dari mereka, walau sudah berusia enam puluh-tujuh puluh tahun, tetap berusaha meraih kehormatan dan nikmat menjadi murid Risalah-risalah Nur.
Bedîüzzaman Said Nursî Hazretleri berkata: "Risale-i Nur tidak hanya memberi ilmu seperti kitab-kitab lain; ia juga punya pelajaran maknawi."
Nah, inilah pengaruh pelajaran maknawi itu: ruh dan kalbu, hati nurani dan lathifah-lathifah orang yang membaca Risale-i Nur mengambil bagian dan makanan mereka dari pelajaran yang melimpah berkah itu. Bukankah ini pengaruh kuat pelajaran maknawi itu, sehingga alam maknawi orang yang membaca Risalah-risalah Nur dibasuh dengan cahaya-cahaya Ilahi; dan dengan sebuah daya tarik Ilahi serta sebuah pengaruh Ilahi, mereka menjadi tunduk, terpikat, lagi tertarik pada hakikat-hakikat iman, lalu naik di jalan Allah جل جلاله dan Rasulullah? Para pencinta ilmu iman membaca Risale-i Nur. Para peminat pengetahuan agama membaca Risale-i Nur. Para pencari hakikat membaca Risale-i Nur. Fitrah-fitrah pejuang yang gemar berjuang membaca Risale-i Nur. Bakat-bakat yang ingin mencapai puncak kepahlawanan, keberanian, dan kepatriotan membaca Risale-i Nur. Kaum nasionalis membaca Risale-i Nur. Ahli sains dan seni membaca Risale-i Nur. Para pengagum ilmu positif membaca Risale-i Nur. Ahli tasawuf membaca Risale-i Nur. Para peminat sastra membaca Risale-i Nur. Artinya, setiap lapisan kemanusiaan merasakan dalam ruhnya sebuah kebutuhan besar akan Risale-i Nur dan memetik manfaat darinya.
Teman-teman!
Kemampuan meyakinkan orang yang membaca Risale-i Nur bertambah, akal dan logikanya bekerja dan menemukan kekuatan. Ia memiliki keistimewaan untuk bisa mengungkapkan suatu topik secara meyakinkan, sesuai tingkatannya. Sebab si Nurcu (murid Risale-i Nur) itu tercerahkan dan terlimpahi berkah oleh pelajaran-pelajaran agung sebuah mahakarya yang dari ujung ke ujung bersifat masuk akal, logis, lagi meyakinkan.
Sumber dan dasar peradaban sejati, kehidupan sosial yang tinggi, dan hukum-hukum kemanusiaan adalah Al-Qur'an. Al-Qur'an adalah seorang orator umum yang berbicara kepada seluruh jenis manusia. Dalam Risale-i Nur — sebuah tafsir Al-Qur'an Al-Hakîm yang hakiki, jernih, lagi cemerlang — kamu akan melihat bahwa banyak kebutuhanmu yang kamu cari terpenuhi: kebutuhan imani dan islami, kebutuhan akal dan pikiran, kebutuhan kalbu dan ruh. Kamu akan menyaksikan — dengan perasaan kagum dan syukur yang besar — bahwa sebagian tanda tanya di kepalamu terjawab dengan cara yang amat meyakinkan; dan dengan meyakini bahwa Risale-i Nur adalah sebuah kumpulan hakikat Ilahi yang berbicara kepada dirimu, kamu akan mulai menjalani sebuah kehidupan yang bahagia dalam ketenangan yang tak terhingga. Kamu tidak akan bisa melepaskan diri dari kenikmatan dan kecintaan membaca Risalah Nur itu berkali-kali, bahkan sepanjang hayat.
Wahai teman-temanku yang sadar, yang mengikuti tema Risale-i Nur dengan minat yang besar!
Sekalipun makna Al-Qur'an Al-Karim tidak diketahui, seperti halnya ketika ia dibaca dan didengar, sebuah pengaruh maknawi lagi mendalam tetap timbul di dalam ruh. Sebab firman itu adalah firman Allah جل جلاله. Justru kesucian makna dalam Kalamullah ini dan dalam Islam inilah yang membuat orang Turki menjadi penakluk dunia lewat Islam, menaklukkan benua-benua dan negeri-negeri. Sejak seribu tahun mereka menjadi pengibar panji Islam. Persis seperti itu pula, sekalipun pada awalnya kamu belum bisa sepenuhnya memahami sebagian pembahasan dalam Risale-i Nur — sebuah tafsir tinggi Al-Qur'an di abad ini — pengaruh maknawi dan limpahan berkah maknawinya tetap meresap ke ruh dan kalbumu; ia menguasai alam maknamu, kamu sama sekali tidak akan tinggal tanpa manfaat. Dan kami pun tidak. Dan manusia bukan hanya terdiri dari akal; ia juga memiliki lathifah dan perangkat maknawi seperti kalbu, ruh, sir (rahasia batin), dan hati nurani. Sekalipun akalmu belum bisa menangkap setiap persoalan keimanan dengan semestinya pada bacaan pertama, kalbu dan ruh tetap mengambil bagiannya darinya. Justru pengaruh maknawi Risale-i Nur inilah yang membuat — kalau pada masa penyusunan pertamanya hanya ada delapan-sepuluh murid Nur — sekarang jumlahnya menjadi jutaan; sebagai arus iman terkuat di antara arus-arus pemikiran dunia, ia telah menguasai Anatolia. Ia telah membuat keberadaan dan kekuatannya diakui sampai ke benua Eropa, Amerika, dan Asia; telah membuat musuh-musuh agama gentar lalu menjatuhkan mereka pada kekalahan; telah memberi kehidupan dan gerak kepada iman dan Islam; telah menggetarkan generasi baru; dan dengan mengembangkan fitrah-fitrah pahlawan lagi pejuang, ia telah dan terus membuat mereka berlari di medan-medan jihad islami sampai ke derajat mengorbankan segalanya demi iman. Akhirnya ia telah dan terus meraih penghargaan dan kekaguman luar biasa dari dunia dan alam Islam.
Karena itu, teruslah membaca setiap hari secara tetap. Semakin kamu membaca kumpulan mahakarya ini — yang membuat dirinya dibaca berulang-ulang dengan nikmat dan semangat — pemahamanmu akan semakin bertambah. Satu-satunya jalan untuk memahami adalah: menyendiri bersama Risalah Nur, lalu bertahan dengan kecintaan untuk membacanya berulang-ulang seraya mengerahkan kesungguhan pikiran.
Teman-temanku yang terhormat!
Gaya bahasa Risale-i Nur adalah gaya yang memikat, tiada bandingnya, lagi tak bisa dibandingkan dengan gaya mana pun. Bedîüzzaman Said Nursî, selain seorang penafsir Al-Qur'an, juga merupakan sastrawan terbesar di abad kita dan seorang ahli balaghah (ilmu keindahan bahasa) yang kuat. Tapi ia bukan termasuk sastrawan yang menghargai pamer dan kemegahan lafal. Sebaliknya, ia adalah seorang penyusun yang paling mengutamakan dan menghargai makna, yang tidak mengorbankan makna demi lafal, yang tidak memotong tubuh demi pakaian. Ia memiliki sebuah gaya penuturan yang khas baginya, amat berkesan, lagi amat memikat. Karena itu, dalam Risalah-risalah Nur, hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman dijelaskan dan dibuktikan dengan cara yang paling jernih dan paling sempurna, paling memikat dan paling berkesan.
Risale-i Nur adalah perbendaharaan hakikat-hakikat yang menghimpun banyak makna dan kata-kata yang padat; ia sebuah mahakarya yang mengandung makna seukuran satu halaman dalam satu kalimat, seukuran sepuluh halaman dalam satu halaman, seukuran satu kitab dalam satu risalah, dan yang memiliki ciri khas cevamiü'l-kelim (kata-kata ringkas yang menghimpun banyak makna). Karena itulah: pelajaran-pelajarannya amat berkesan dan amat menembus. Para ahli mengetahui bahwa: dalam persoalan-persoalan keimanan, perincian yang berlebihan bisa mempersulit kesan dan pemahaman sebuah pelajaran. Sering kali tidak dapat diraih hasil yang berfaedah dalam membuat pelajaran-pelajaran itu meyakinkan dan memuaskan. Berdasarkan hakikat ini, khususnya menyampaikan hakikat-hakikat keimanan secara ringkas (mücmel) menjadi lebih berkesan, lebih berhasil, dan lebih mudah dipahami; dan memang demikianlah adanya. Bersandar pada prinsip ini, Risale-i Nur tidak tenggelam dalam perincian dan detail. Ia menjadikan metode untuk tidak mencerai-beraikan pikiran dengan detail sebagai dasar.
Wahai teman-temanku yang merindukan ilmu iman!
Bedîüzzaman Said Nursî, di akhir Risalah Ikhlas (İhlas Risalesi), memberi kami sebuah kabar gembira yang amat besar. Kami berkeyakinan bahwa bisa menyuguhkan sebuah kemudahan yang sedemikian ajaib kepada manusia belum pernah terlihat pada penyusun mana pun sampai abad kita.
Ia berkata: "Siapa yang membaca risalah-risalah ini selama satu tahun dengan memahaminya dan menerimanya, ia bisa menjadi seorang ulama hakiki di zaman ini." Ya, sains sedang maju dengan seluruh kecepatannya. Dan naik dalam ranah maknawi pun sejajar dengan itu. Kita hidup di sebuah zaman di mana perjalanan satu jam di ranah material dipangkas menjadi satu detik. Sedangkan ranah maknawi lebih cepat lagi lebih luas. Ilmu hakikat yang dahulu bisa diraih dalam setengah abad, sekarang bisa diperoleh dalam waktu singkat. Bahkan mungkin buah dan hasil yang sama timbul dalam waktu yang lebih singkat lagi. Setiap manusia yang berakal sehat, terlebih setiap muslim, yang mendengar adanya sebuah pengetahuan islami dan sebuah hasil imani yang sedemikian selamat dan mudah diraih — yang dengan rahmat dan kemurahan-Nya dianugerahkan Allah جل جلاله Yang Mahaagung kepada kaum muslim dan manusia abad ini — bagaimana mungkin ia tertinggal dari bekerja untuk Risalah-risalah Nur dengan kesetiaan dan kecintaan yang besar agar memiliki kekayaan yang melimpah ini?
Wahai teman-temanku yang penuh semangat!
Aku yakin kamu akan bekerja dengan seluruh himmah dan keberadaanmu untuk secepatnya membaca kumpulan karya yang sedemikian bernilai, sedemikian berharga ini, dan untuk setiap hari mengambil makanan imani dan islamimu darinya; aku berharap kamu menjadi demikian. Sebab masa muda berlalu... Umur lewat... Waktu-waktu tak kembali.
Ya, kami tidak mengharapkan bantuan dari guru-guru kami, dan tidak pula mengharapkan dorongan dari ayah dan ibu kami; dan kami memang tidak akan mengharapkannya. Kami hanya berada dalam keharusan dan keteguhan untuk mendidik diri kami sendiri dengan pertolongan Allah جل جلاله. Insya Allah جل جلاله, dengan bekerja secara tekun dan setia, kami pasti akan naik. Sampai kami mencapai puncak tingkatan-tingkatan iman dan Islam. Kami akan menerangi kalbu kami dengan cahaya Al-Qur'an, dan kepala kami dengan ilmu iman. Kami akan menggerakkan kalbu dan akal kami. Kami akan berjalan dan maju bersama Risalah-risalah Nur di jalan menjadi hamba Allah جل جلاله yang khusus lagi ikhlas namun pejuang, dan umat Rasulullah yang ikhlas, penuh pengorbanan, lagi pemberani.
Mengenai belajar tulisan lama (huruf Arab-Utsmani yang tak lekang) dari Risale-i Nur:
Keuntungan kami dalam menulis Risalah-risalah Nur yang beraksara Al-Qur'an amatlah besar. Kami mempelajari tulisan lama itu dalam waktu singkat. Sambil menulis, kami pun memperoleh pengetahuan. Karena dengan memperbanyak bagian-bagian Risale-i Nur kami berkhidmat kepada iman dan Al-Qur'an, kami memperoleh keuntungan-keuntungan maknawi yang amat besar. Dan pengetahuan yang diperoleh lewat menulis lebih kokoh tertanam dalam ingatan. Karena itu, sampai sekarang ribuan pemuda telah dan terus mempelajari aksara Al-Qur'an dengan menulis Risale-i Nur.
Saudara-saudaraku yang berharga!
Akan kusampaikan lagi kepada kalian beberapa dari sekian banyak keistimewaan dan ciri khas Risale-i Nur: Kekuatan ilmiah luar biasa dalam Risale-i Nur mengubah iman taklidi (iman ikut-ikutan) menjadi iman tahkiki (iman yang diteliti dan dibuktikan); ia menuntun manusia menuju menjadi seorang muslim yang teguh lagi kuat, seorang mukmin sempurna yang mengamalkan ilmunya. Ia membuat orang membenci dan meninggalkan kenikmatan-kenikmatan yang sial lagi kotor. Ia mendorong ke perbuatan-perbuatan yang akan memberi kenikmatan dan kelezatan paling tinggi lagi paling bersih, yang abadi lagi kekal. Ia membuat manusia mencintai kehidupan. Ia menyelamatkan dari sikap pesimis lalu memberi sebuah optimisme yang berlandaskan iman. Ia menjadikan orang-orang lamban dan malas menjadi gesit; sebuah pengembaraan ruhani pun berkuasa di alam batin manusia. Ia membangkitkan hasrat untuk menjadi manusia — bukan yang biasa-biasa saja, melainkan yang paling maju lagi paling tinggi. Ia menyingkirkan akhlak-akhlak buruk seperti kesombongan dan keangkuhan. Ia memuliakan manusia dengan keutamaan-keutamaan seperti kerendahan hati, kerendahan-diri, dan kewibawaan. Ia mendamaikan pihak-pihak yang bermusuhan. Ia mengajarkan pelajaran untuk membalas keburukan bukan dengan keburukan, melainkan dengan kebaikan. Ia menjaga para pemuda yang bersih lagi santun seperti kalian dari bencana jatuh menjadi tak berakhlak akibat kebiasaan-kebiasaan buruk sebuah lingkungan yang buruk.
Nah, karena inilah: seorang murid Nur sejati yang membaca Risale-i Nur dengan setia dan tekun, walau berada di antara orang-orang yang akhlaknya rendah, ia tetap menjauh dari mereka tanpa merusak akhlaknya, lalu menyelamatkan dirinya.
Dan untuk meninggikan akhlak dan adabnya, ia memasuki perjuangan melawan nafsu. Dengan pengetahuan dan kekuatan imani yang diperolehnya dari Risale-i Nur, ia pun berhasil. Dan ia tidak menyerahkan dirinya kepada masyarakat dan orang-orang yang rusak itu; sebaliknya, dengan menyebarkan Risale-i Nur, ia memiliki kesungguhan untuk meyakinkan dan memperbaiki masyarakat yang rusak itu — yang rusak akibat melemahnya dasar-dasar keimanan. Bagaikan seorang pembaru yang dilengkapi dengan dasar-dasar sosial yang tinggi, ia mencatat kemajuan-kemajuan dalam tujuan dan prinsipnya. Dalam menjalankan dan menancapkan perjuangannya, ia hampir-hampir mulai berlari dari kemenangan ke kemenangan.
Ya, teman-teman! Hari ini ada sebuah sumber hakikat yang mengandung faktor dan tatanan paling mendasar lagi paling berkesan, yang akan menyelesaikan dan menyembuhkan derita serta luka-luka sosial kita. Dan itu adalah Risale-i Nur.
Dia jugalah yang menata tata surya (manzume-i şemsiye).
3- Untuk menciptakan satu partikel saja, dibutuhkan sebuah kekuasaan tak terhingga yang sanggup menciptakan seluruh alam semesta. Sebab setiap huruf dari kitab besar alam semesta ini, terlebih setiap huruf yang berjiwa, memiliki sebuah wajah yang menghadap dan sebuah mata yang menatap ke setiap kalimat.
4- Alam (tabiat) adalah sebuah percetakan-perumpamaan, bukan sang pencetak (matbaa, bukan tâbi'). Ia ukiran, bukan sang pengukir (nakış, bukan nakkaş). Ia penerima yang pasif, bukan pelaku (kabil, bukan fâil). Ia garis-acuan (mistar), bukan sumber (masdar). Ia tatanan, bukan penata (nizam, bukan nâzım). Ia hukum, bukan kekuasaan (kanun, bukan kudret). Ia syariat kehendak — yakni kumpulan aturan yang berlaku atas kehendak Ilahi dan bersifat konseptual (şeriat-ı iradiye) — bukan sebuah hakikat yang berwujud nyata lagi berdiri sendiri di luar (hakikat-ı hariciye).
5- Seperti halnya hukum-hukum yang tetap, kekal, lagi fitri; ruh pun datang dari alam perintah (âlem-i emir), dari sifat kehendak; dan kekuasaan telah mengenakan kepadanya sebuah wujud yang terindra. Dan Ia menjadikan sebuah aliran halus (seyyale-i latife) sebagai cangkang bagi permata (ruh) itu.
Dan demikianlah, masih ada ribuan kata-kata mutiara (vecize).
اَلْبَاقِى هُوَ الْبَاقِى
Dr. Mustafa Hilmi Ramazanoğlu