Poin Kedua
Panduan Pemuda · hlm. 24
Seperti hilangnya kenikmatan adalah penderitaan, begitu juga hilangnya penderitaan adalah kenikmatan. Ya, kalau setiap orang memikirkan hari-harinya yang penuh kenikmatan dan kesenangan di masa lalu; ia akan merasakan penderitaan batin berupa sesal dan rindu, lalu berkata: "Aduh, sayang sekali," dan kalau ia mengingat hari-harinya yang penuh musibah dan penderitaan di masa lalu; ia justru merasakan sebuah kenikmatan batin karena hari-hari itu sudah berlalu, lalu berkata: "Alhamdulillah, syukur, bencana itu sudah pergi dengan meninggalkan pahalanya." Ia pun bernapas dengan lega. Artinya, satu jam penderitaan yang sementara meninggalkan sebuah kenikmatan batin di dalam ruh, sedangkan satu jam yang penuh kenikmatan justru sebaliknya meninggalkan penderitaan. Selama hakikatnya memang begini, dan selama jam-jam musibah yang lalu beserta penderitaannya sudah tiada dan lenyap, sementara hari-hari bencana yang akan datang sekarang masih tiada dan belum ada — padahal dari yang tiada tidak ada penderitaan, dan dari yang belum ada tidak datang penderitaan — maka misalnya, gara-gara kemungkinan lapar dan haus beberapa hari lagi, lalu hari ini dengan niat itu seseorang terus-menerus makan roti dan minum air, betapa gilanya itu. Persis seperti itu pula, memikirkan sekarang jam-jam penderitaan yang lalu dan yang akan datang — yang sebenarnya sudah sirna, sudah tiada, dan sudah lenyap — lalu menunjukkan ketidaksabaran, dan sambil membiarkan nafsu sendiri yang penuh kekurangan justru mengeluh kepada Allah جل جلاله dengan berkata "Aduh, aduh" — itu adalah kegilaan. Kalau seseorang tidak mencerai-beraikan kekuatan sabarnya ke kanan dan ke kiri — yakni ke masa lalu dan masa depan — melainkan menahannya untuk menghadapi jam dan hari yang sekarang, kekuatan itu sudah benar-benar cukup. Kesempitan pun turun dari sepuluh menjadi satu. Bahkan — semoga ini tidak terhitung sebagai keluhan — ketika di Madrasah Yusufiyah yang ketiga ini (Medrese-i Yusufiye, sebutan untuk penjara), dalam beberapa hari, aku ditimpa musibah lahir dan batin yang penuh kesempitan dan penyakit yang belum pernah kualami seumur hidup, terutama saat keputusasaan serta kesempitan kalbu dan ruh yang muncul karena terhalang dari khidmat kepada Nur sedang menghimpitku, pertolongan Ilahi menunjukkan hakikat yang telah disebut tadi kepadaku. Maka aku pun rida dengan penyakitku yang penuh kesempitan dan dengan penjaraku. Sebab, bagi orang malang yang sudah berada di pintu kubur sepertiku, menjadikan satu jam yang bisa saja berlalu dalam kelalaian menjadi sepuluh jam ibadah adalah keuntungan besar — begitulah aku bersyukur.