Risale-i NurPanduan Pemuda

(Diletakkan di sini karena kesesuaian tempatnya)

Panduan Pemuda · hlm. 97

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Tentang enam rahasia dari ribuan rahasia بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ.

PERINGATAN: Sebuah cahaya yang berkilau dari sisi rahmat pada Basmalah tampak dari kejauhan kepada akalku yang redup. Aku ingin mencatatnya dalam bentuk not untuk diriku sendiri. Dan aku ingin memburu serta menangkap cahaya itu dengan memutar sebuah lingkaran di sekelilingnya lewat sekitar dua puluh sampai tiga puluh rahasia. Tapi sayang sekali, untuk sekarang aku belum sepenuhnya berhasil mewujudkan keinginanku itu. Dari dua puluh-tiga puluh, ia turun menjadi lima-enam.

Ketika aku berkata "Wahai manusia!" yang kumaksud adalah nafsuku sendiri. Walaupun pelajaran ini khusus untuk nafsuku sendiri, dengan niat bahwa ia mungkin bisa menjadi sumber manfaat bagi pribadi-pribadi yang secara ruhani terkait denganku dan yang nafsunya lebih terjaga (sadar) daripada nafsuku — aku serahkan ia, sebagai Kedudukan Kedua dari Kilatan Keempat Belas, kepada pertimbangan saudara-saudaraku yang teliti. Pelajaran ini lebih menghadap ke kalbu daripada ke akal, lebih memandang ke citarasa (zauk) daripada ke dalil.

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ قَالَتْ يَا اَيُّهَا اْلَمَلَؤُا اِنِّى اُلْقِىَ اِلَىَّ كِتَابٌ كَرِيمٌ اِنَّهُ مِنْ سُلَيْمٰنَ وَ اِنَّهُ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ

Di kedudukan ini akan disebutkan beberapa rahasia.

RAHASIA PERTAMA: Aku melihat salah satu kilau "Bismillahirrahmanirrahîm" begini: pada wajah alam semesta, pada wajah bumi, dan pada wajah manusia, terdapat tiga stempel rububiyah (sikke-i rububiyet) yang masing-masing memperlihatkan contoh satu sama lain di dalam yang lain.

Pertama: stempel terbesar uluhiyah yang tampak dari sikap saling menolong, saling menopang, saling merangkul, dan saling menyahut dalam keseluruhan susunan alam semesta; dan "Bismillah" menunjuk kepadanya.

Kedua: stempel terbesar rahmaniyah yang tampak dari keserupaan, keselarasan, keteraturan, keterpaduan, kelembutan, dan kasih sayang dalam pengaturan, pendidikan, dan pengurusan tumbuhan serta hewan di wajah bumi; dan "Bismillahirrahman" menunjuk kepadanya.

Lalu: stempel tertinggi rahîmiyah yang tampak dari kelembutan-kelembutan belas kasih, kehalusan-kehalusan kasih sayang, dan pancaran-pancaran rahmat Ilahi pada wajah hakikat manusia yang menghimpun banyak hal; dan kata "Ar-Rahîm" dalam "Bismillahirrahmanirrahîm" menunjuk kepadanya.

Artinya, "Bismillahirrahmanirrahîm" adalah gelar suci dari tiga stempel keesaan (sikke-i ehadiyet) yang membentuk satu baris bercahaya di lembaran alam. Ia adalah seutas tali yang kuat dan sebuah garis yang berkilau. Yakni "Bismillahirrahmanirrahîm," dengan turun dari atas, ujungnya bersandar pada manusia — yang merupakan buah alam semesta dan salinan mungil dari alam. Ia mengikat bumi ke Arasy. Ia menjadi sebuah jalan bagi manusia untuk naik ke Arasy.

RAHASIA KEDUA: Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat, agar tidak menenggelamkan akal di dalam wahidiyah (keesaan yang menyeluruh) yang tampak pada makhluk yang amat banyak tak terhingga, selalu memperlihatkan kilau ehadiyah (keesaan yang menyendiri pada tiap satuan) di dalam wahidiyah itu. Yakni, misalnya: seperti halnya matahari meliputi benda yang tak terhingga dengan cahayanya. Karena untuk merenungkan zat matahari pada keseluruhan cahayanya dibutuhkan bayangan yang amat luas dan pandangan yang meliputi; maka agar zat matahari tidak terlupakan, ia memperlihatkan zat matahari itu pada setiap benda berkilau lewat perantaraan pantulannya; dan setiap benda berkilau — sesuai kapasitasnya — memperlihatkan, bersama kilau zat matahari, sifat-sifatnya seperti cahaya dan panasnya; dan seperti halnya setiap benda berkilau memperlihatkan matahari dengan seluruh sifatnya sesuai kapasitasnya; begitu pula tiap-tiap dari keadaan matahari — seperti cahaya, panas, dan tujuh warna dalam cahayanya — juga meliputi seluruh benda yang ada di hadapannya.

Begitu pula: وَلِلّٰهِ الْمَثَلُ اْلاَعْلَى — semoga tidak ada kesalahan dalam perumpamaan — sebagaimana ehadiyah dan samadiyah Ilahi punya satu kilau dengan seluruh nama-Nya pada tiap-tiap benda, khususnya pada makhluk hidup, khususnya pada cermin hakikat manusia; begitu pula, dari sisi wahdah (kesatuan) dan wahidiyah, tiap-tiap nama yang berkaitan dengan wujud-wujud meliputi seluruh wujud. Nah, agar akal tidak tenggelam di dalam wahidiyah dan agar kalbu tidak melupakan Zat Yang Mahasuci, Al-Qur'an selalu menyodorkan ke pandangan Stempel Keesaan (Sikke-i Ehadiyet) yang ada di dalam wahidiyah; dan yang memperlihatkan tiga simpul penting dari stempel itu adalah "Bismillahirrahmanirrahîm."

RAHASIA KETIGA: Yang meramaikan alam semesta yang tak terhingga ini, lewat penyaksian nyata, adalah rahmat. Dan yang menerangi wujud-wujud yang gelap ini, secara gamblang, juga rahmat. Dan yang mendidik makhluk yang berguling-guling di tengah kebutuhan yang tak terhingga ini, secara gamblang, juga rahmat. Dan seperti halnya sebuah pohon dengan seluruh susunannya menghadap ke buahnya, yang membuat seluruh alam semesta menghadap ke manusia, yang membuat segala penjuru memandang kepadanya, dan yang membuat segala sesuatu bergegas menolongnya — secara gamblang — adalah rahmat. Dan yang memenuhi, menerangi, dan meramaikan angkasa yang tak terhingga serta alam yang kosong dan lengang ini, lewat penyaksian nyata, adalah rahmat. Dan yang menjadikan manusia fana ini calon keabadian, dan menjadikannya lawan bicara serta sahabat bagi sebuah Zat yang azali lagi abadi, secara gamblang, adalah rahmat.

Wahai manusia! Selama rahmat adalah sebuah hakikat tercinta yang sedemikian kuat, memikat, mengasihani, lagi penuh pertolongan; ucapkanlah "Bismillahirrahmanirrahîm," berpeganglah pada hakikat itu, lepaskanlah dirimu dari keterasingan mutlak dan dari derita kebutuhan yang tak terhingga, dekatkanlah dirimu ke takhta Raja azali dan abadi itu, dan jadilah — lewat kasih sayang, syafaat, dan pancaran-pancaran rahmat itu — lawan bicara, kekasih, lagi sahabat bagi Sang Raja!

Ya, mengumpulkan aneka jenis alam semesta di sekeliling manusia dalam lingkaran hikmah, lalu membuatnya bergegas memenuhi seluruh kebutuhannya dengan keteraturan dan inayah (pertolongan khusus Ilahi) yang sempurna — secara gamblang — adalah salah satu dari dua keadaan: Entah tiap-tiap jenis alam semesta dengan sendirinya mengenal manusia, menaatinya, dan bergegas menolongnya — padahal ini seratus derajat jauh dari akal, dan ia melahirkan banyak kemustahilan. Sebab, pada makhluk yang amat tak berdaya seperti manusia, mestilah ada kekuasaan seorang Raja Mutlak yang paling kuat. — Atau pertolongan ini terjadi lewat ilmu seorang Al-Kadîr-i Mutlak (Mahakuasa Mutlak) di balik tirai alam semesta ini. Artinya, bukan aneka jenis alam semesta yang mengenal manusia; melainkan ia adalah bukti-bukti dari pengetahuan dan pengenalan sebuah Zat yang mengetahui, mengenal, lagi mengasihi manusia.

Wahai manusia! Sadarlah, gunakan akalmu! Mungkinkah Zat Yang Mahaagung — yang membuat seluruh jenis makhluk mengulurkan tangan pertolongannya menghadap kepadamu, dan yang membuat mereka berkata "Labbaik (Aku penuhi)!" atas kebutuhan-kebutuhanmu — tidak mengetahuimu, tidak mengenalmu, tidak melihatmu? Selama Dia mengetahuimu, Dia memberitahukan lewat rahmat-Nya bahwa Dia mengetahuimu. Maka kamu pun, kenalilah Dia, dan beritahukanlah lewat penghormatan bahwa kamu mengenal-Nya; dan pahamilah secara pasti: menundukkan alam semesta yang mahabesar bagi sebuah makhluk kecil yang amat lemah, amat tak berdaya, amat fakir, lagi fana sepertimu, lalu mengirimnya untuk menolongmu — sudah pasti itu adalah hakikat rahmat yang mengandung hikmah, inayah, ilmu, dan kekuasaan. Sudah pasti rahmat semacam ini menuntut darimu sebuah syukur yang menyeluruh lagi murni, dan sebuah penghormatan yang sungguh-sungguh lagi jernih. Maka ucapkanlah "Bismillahirrahmanirrahîm" yang merupakan penerjemah dan gelar dari syukur murni dan penghormatan jernih itu. Jadikanlah ia sarana untuk sampainya rahmat itu, dan jadikanlah ia pemberi syafaat di hadapan pintu Ar-Rahman.

Ya, keberadaan dan terwujudnya rahmat itu sejelas matahari. Sebab, seperti halnya sebuah ukiran yang terpusat lahir dari keteraturan dan susunan benang-benang pakan dan lungsi yang datang dari segala penjuru; begitu pula: benang-benang pakan bercahaya yang terjulur dari kilau seribu satu nama Ilahi di lingkaran terbesar alam semesta ini, menenun — di wajah alam semesta, di dalam sebuah stempel Rahmat — sebuah cap rahîmiyah dan sebuah ukiran kasih sayang; dan ia merajut sebuah cap inayah sedemikian rupa, sampai-sampai ia memperlihatkan dirinya kepada akal lebih berkilau daripada matahari.

Ya, Ar-Rahman Pemilik Keindahan (Ar-Rahman-ı Zülcemal) itu — yang menata matahari dan bulan, unsur-unsur dan barang-barang tambang, tumbuhan dan hewan dengan pancaran seribu satu nama itu bagaikan benang-benang pakan sebuah ukiran teragung; yang menjadikan semuanya pelayan kehidupan; yang memperlihatkan kasih sayang-Nya lewat kasih sayang seluruh induk — baik dari tumbuhan maupun hewan — yang amat manis lagi penuh pengorbanan; yang menundukkan makhluk-makhluk hidup bagi kehidupan manusia; yang lewat itu memperlihatkan sebuah ukiran teragung yang amat indah lagi manis dari rububiyah Ilahi serta memperlihatkan pentingnya manusia; dan yang menampakkan rahmat-Nya yang paling berkilau — sudah pasti, di hadapan kemahacukupan mutlak-Nya sendiri, telah menjadikan rahmat-Nya sebagai pemberi syafaat yang diterima bagi makhluk hidup dan manusia yang berada dalam kebutuhan mutlak.

Wahai manusia, kalau kamu memang manusia, ucapkanlah "Bismillahirrahmanirrahîm." Temukanlah pemberi syafaat itu!

Ya, yang mendidik dan mengurus empat ratus ribu golongan tumbuhan dan hewan yang berbeda-beda di bumi — tanpa melupakan satu pun, tanpa mengacaukan satu pun, tepat pada waktunya, dengan keteraturan sempurna, dengan hikmah dan inayah — dan yang meletakkan cap keesaan (hâtem-i ehadiyet) pada wajah bumi; secara gamblang, bahkan lewat penyaksian nyata, adalah rahmat. Dan keberadaan rahmat itu sama pastinya dengan keberadaan wujud-wujud di wajah bumi ini, dan bukti terwujudnya pun sebanyak wujud-wujud itu. Ya, seperti halnya di permukaan bumi terdapat sebuah cap rahmat dan stempel keesaan, begitu pula pada wajah hakikat maknawi manusia terdapat sebuah stempel rahmat yang tidak lebih rendah daripada stempel kasih sayang di wajah bumi dan stempel teragung rahmat di wajah alam semesta. Hampir-hampir ia punya sebuah kehimpunan (jami'iyah) yang laksana sebuah titik fokus dari kilau seribu satu nama.

Wahai manusia! Mungkinkah Zat yang memberimu wajah ini, yang meletakkan cap rahmat dan cap keesaan semacam itu pada wajahmu, akan membiarkanmu terlantar; tidak memberimu nilai; tidak memperhatikan gerak-gerikmu; menjadikan seluruh alam semesta yang menghadap kepadamu sebagai kesia-siaan; menjadikan pohon penciptaan sebagai pohon tak berarti yang buahnya busuk lagi rusak?! Dan mungkinkah Dia membuat orang mengingkari rahmat-Nya yang sejelas matahari dan hikmah-Nya yang tampak seperti cahaya — yang tidak menerima keraguan dari sisi mana pun dan tidak punya kekurangan dengan cara apa pun? Sungguh mustahil (hâsyâ)!

Wahai manusia! Ketahuilah: untuk mencapai Arasy rahmat itu, ada sebuah mi'raj. Mi'raj itu adalah "Bismillahirrahmanirrahîm." Dan kalau kamu ingin memahami betapa pentingnya mi'raj ini, pandanglah awal seratus empat belas surat Al-Qur'an yang penjelasannya penuh mukjizat, awal seluruh kitab yang penuh berkah, dan permulaan semua pekerjaan yang penuh berkah. Dan bukti yang paling pasti atas keagungan kedudukan Basmalah adalah ini: para mujtahid besar seperti Imam Syafi'i (semoga Allah جل جلاله meridainya) berkata: "Basmalah, padahal ia satu ayat saja, namun ia turun seratus empat belas kali di dalam Al-Qur'an."

RAHASIA KEEMPAT: Tajalli wahidiyah di tengah kebanyakan yang tak terhingga tidak cukup bagi setiap orang untuk mengucapkan seruan اِيَّاكَ نَعْبُدُ. Pikiran berserak. Untuk merenungkan Zat Yang Maha Esa (Zât-ı Ehadiyet) di balik kesatuan dalam keseluruhannya lalu mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَ اِيَّاكَ نَسْتَعِينُ, dibutuhkan sebuah kalbu seluas bola bumi. Dan berdasarkan rahasia ini, seperti halnya Al-Qur'an memperlihatkan stempel keesaan secara nyata pada satuan-satuan kecil, ia pun — untuk memperlihatkan stempel keesaan pada tiap-tiap jenis dan untuk membuat orang merenungkan Zat Yang Maha Esa — memperlihatkan sebuah stempel keesaan di dalam cap rahmaniyah; supaya setiap orang, di setiap tingkatan, tanpa susah-payah bisa mengucapkan اِيَّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِينُ lalu menghadap dengan menyeru langsung kepada Zat Yang Mahasuci.

Nah, justru untuk mengungkapkan rahasia yang agung inilah Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, ketika berbicara tentang lingkaran teragung alam semesta — misalnya tentang penciptaan langit dan bumi — tiba-tiba berbicara tentang sebuah lingkaran terkecil dan satuan terhalus; supaya ia memperlihatkan cap keesaan secara nyata. Misalnya: di dalam pembicaraan tentang penciptaan langit dan bumi, Ia membuka pembicaraan tentang penciptaan manusia, tentang suara manusia, serta tentang kehalusan-kehalusan nikmat dan hikmah pada wajahnya; supaya pikiran tidak berserak, kalbu tidak tenggelam, dan ruh menemukan Sesembahannya secara langsung. Misalnya: وَمِنْ اٰيَاتِهِ خَلْقُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَاخْتِلاَفُ اَلْسِنَتِكُمْ وَ اَلْوَانِكُمْ

Ayat ini memperlihatkan hakikat yang disebutkan tadi dengan cara yang penuh mukjizat. Ya, stempel-stempel kesatuan pada makhluk yang tak terhingga dan pada kebanyakan yang tak berkesudahan — seperti lingkaran-lingkaran yang saling bersarang — punya aneka jenis dan tingkatan, dari yang terbesar sampai stempel yang terkecil. Tapi kesatuan itu, betapapun adanya, tetaplah sebuah kesatuan di dalam kebanyakan. Ia belum sepenuhnya menjamin seruan yang sejati. Karena itu, di balik kesatuan mestilah ada stempel keesaan. Supaya ia tidak mengingatkan kembali pada kebanyakan. Supaya ia membuka jalan bagi kalbu langsung menuju Zat Yang Mahasuci. Dan untuk mengalihkan pandangan ke stempel keesaan serta menarik hati-hati, Dia telah meletakkan di atas stempel keesaan itu stempel rahmat dan cap rahîmiyah — yang merupakan sebuah ukiran yang amat memikat, sebuah cahaya yang amat berkilau, sebuah kemanisan yang amat menawan, sebuah keindahan yang amat elok, dan sebuah hakikat yang amat kuat. Ya, kekuatan rahmat itulah yang menarik pandangan makhluk berkesadaran, menariknya kepada dirinya, lalu menyampaikannya ke stempel keesaan, lalu membuatnya merenungkan Zat Yang Maha Esa, lalu menjadikannya meraih seruan sejati dalam اِيّاكَ نَعْبُدُ وَاِيَّاكَ نَسْتَعِينُ.

Nah, karena "Bismillahirrahmanirrahîm" adalah daftar isi surah Al-Fatihah dan ringkasan padat dari Al-Qur'an, ia pun menjadi gelar dan penerjemah dari rahasia agung yang disebutkan tadi. Orang yang menggenggam gelar ini bisa berkelana di tingkatan-tingkatan rahmat. Dan orang yang membuat penerjemah ini berbicara akan mempelajari rahasia-rahasia rahmat serta melihat cahaya-cahaya rahîmiyah dan kasih sayang.

RAHASIA KELIMA: Diriwayatkan dalam sebuah hadis mulia: اِنَّ اللّٰهَ خَلَقَ اْلاِنْسَانَ عَلَى صُورَةِ الرَّحْمٰنِ — ev kemâ kāl (atau sebagaimana yang beliau sabdakan).

Sebagian ahli tarekat menafsirkan hadis ini dengan cara aneh yang tidak sesuai dengan akidah keimanan. Bahkan sebagian dari mereka, para ahli isyk (pecinta), memandang wajah maknawi manusia dengan pandangan sebagai "suatu rupa Ar-Rahman." Karena pada kebanyakan ahli tarekat ada sekr (mabuk ruhani), dan pada kebanyakan ahli isyk ada istigrak (tenggelam) dan kekacauan, maka dalam pemahaman mereka yang menyalahi hakikat, boleh jadi mereka dimaafkan (uzur). Tapi orang yang berakal sehat, secara pikiran, tidak bisa menerima makna-makna mereka yang bertentangan dengan dasar akidah. Kalau ia menerimanya, ia berbuat salah.

Ya, seperti halnya Zat Ilahi Yang Mahasuci — yang mengatur seluruh alam semesta dengan teratur bagaikan sebuah istana atau sebuah rumah, yang memutar dan menggerakkan bintang-bintang dengan penuh hikmah dan mudah bagaikan partikel-partikel, dan yang mempekerjakan partikel-partikel bagaikan petugas yang teratur — tidak punya sekutu, tandingan, lawan, maupun setara; sesuai rahasia: لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ — Dia pun tidak mungkin punya rupa, semisal, perumpamaan, maupun keserupaan. Tapi, sesuai rahasia: وَلَهُ الْمَثَلُ اْلاَعْلَى فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ — lewat permisalan dan perumpamaan, orang memandang ke syuunat (keadaan-keadaan-Nya yang mulia), sifat, dan nama-nama-Nya. Artinya, permisalan dan perumpamaan itu ada dari sudut pandang syuunat. Salah satu dari sekian banyak maksud hadis mulia yang disebutkan tadi adalah ini: manusia berada dalam sebuah rupa yang memperlihatkan nama Ar-Rahman secara sempurna. Ya, seperti yang telah kami jelaskan tadi: seperti halnya pada wajah alam semesta tampak nama Ar-Rahman yang muncul dari pancaran seribu satu nama; dan seperti halnya pada wajah permukaan bumi diperlihatkan nama Ar-Rahman yang muncul dengan kilau tak terhingga dari rububiyah mutlak Ilahi; begitu pula, pada rupa manusia yang menghimpun banyak hal, dalam ukuran kecil — seperti wajah bumi dan wajah alam semesta — ia memperlihatkan kilau paling sempurna dari nama Ar-Rahman itu.

Dan ia juga sebuah isyarat bahwa: penampakan-penampakan seperti makhluk hidup dan manusia — yang merupakan bukti dan cermin bagi Zat Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang — penunjukannya kepada Zat Yang Wajib Ada itu sedemikian pasti, jelas, lagi nyata; sampai-sampai, seperti halnya untuk mengisyaratkan tingkat kilau dan kejelasan penunjukan sebuah cermin berkilau yang menangkap citra dan pantulan matahari, lalu dikatakan "Cermin itu adalah matahari"; begitu pula, untuk mengisyaratkan kejelasan penunjukan dan kesempurnaan kesesuaian, telah dan terus dikatakan "Pada manusia ada suatu rupa Ar-Rahman." Dan bagian yang moderat dari ahli Wahdat al-Wujud mengucapkan "Lâ Mevcûde illâ Hû" berdasarkan rahasia ini, sebagai sebuah gelar bagi kejelasan penunjukan ini dan kesempurnaan kesesuaian ini.

اَللّٰهُمَّ يَا رَحْمٰنُ يَا رَحِيمُ بِحَقِّ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ اِرْحَمْنَا كَمَا يَلِيقُ بِرَحِيمِيَّتِكَ وَ فَهِّمْنَا اَسْرَارَ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ كَمَا يَلِيقُ بِرَحْمَانِيَّتِكَ اٰمِينَ

RAHASIA KEENAM: Wahai manusia malang yang berguling-guling di tengah ketidakberdayaan yang tak terhingga dan kefakiran yang tak berkesudahan! Pahamilah betapa rahmat adalah sebuah sarana yang berharga dan pemberi syafaat yang diterima, lewat hal ini: rahmat itu adalah sarana menuju seorang Raja Yang Mahaagung (As-Sultan-ı Zülcelal) sedemikian rupa, sampai-sampai bintang-bintang bersama partikel-partikel berkhidmat bersama-sama di dalam pasukan-Nya dengan keteraturan dan ketaatan yang sempurna. Dan Zat Yang Mahaagung itu, Raja azali dan abadi itu, punya kemahacukupan pada zat-Nya, dan Dia berada dalam kemahacukupan mutlak. Dia adalah Yang Mahakaya secara mutlak (Ganiyy-i Alel-ıtlak), yang sama sekali tidak membutuhkan alam semesta dan wujud-wujud dari sisi mana pun. Dan seluruh alam semesta berada di bawah perintah dan pengaturan-Nya, di bawah kewibawaan dan keagungan-Nya, dalam puncak ketaatan, dan dalam ketundukan rendah hati di hadapan keagungan-Nya.

Nah, rahmat itulah, wahai manusia, yang mengangkatmu ke hadapan Yang Mahatakbutuh secara mutlak (Müstağni-i Alel-ıtlak) dan Raja yang kekal abadi (As-Sultan-ı Sermedî); yang menjadikanmu sahabat-Nya, menjadikanmu lawan bicara-Nya, dan memberimu kedudukan seorang hamba yang dicintai. Tapi, seperti halnya kamu tidak bisa mencapai matahari — kamu amat jauh, tidak bisa mendekat dari sisi mana pun — namun cahaya matahari memberikan pantulan dan kilau matahari ke tanganmu lewat perantaraan cerminmu; begitu pula: kita memang tak terhingga jauhnya dari Zat Yang Mahasuci itu, dari Matahari azali dan abadi itu, dan kita tidak bisa mendekat. Tapi cahaya rahmat-Nya mendekatkan-Nya kepada kita.

Nah, wahai manusia! Orang yang menemukan rahmat ini, ia menemukan sebuah perbendaharaan cahaya yang abadi tak akan habis. Cara menemukan perbendaharaan itu adalah: mengikuti sunnah dan jejak Rasul yang Mulia صلى الله عليه وسلم — yang merupakan contoh dan perwujudan rahmat yang paling berkilau, lisan dan penyeru rahmat itu yang paling fasih, dan yang dinamai di dalam Al-Qur'an dengan gelar Rahmatan lil-'Âlamîn (rahmat bagi seluruh alam). Dan sarana menuju rahmat yang berwujud — yaitu Rahmatan lil-'Âlamîn — itu adalah salawat. Ya, makna salawat adalah rahmat. Dan salawat — yang merupakan doa rahmat bagi rahmat berwujud yang hidup itu — adalah sarana untuk sampainya Rahmatan lil-'Âlamîn itu. Kalau begitu, jadikanlah salawat sebagai saranamu menuju Rahmatan lil-'Âlamîn itu, dan jadikanlah pribadi itu sebagai sarana menuju rahmat Ar-Rahman. Bahwa seluruh umat membaca salawat dengan makna rahmat — dalam jumlah yang tak terhingga banyaknya — atas diri Rahmatan lil-'Âlamîn صلى الله عليه وسلم, itu membuktikan dengan gemilang betapa rahmat adalah sebuah hadiah Ilahi yang berharga dan betapa luas lingkarannya.

Kesimpulannya: seperti halnya berlian paling berharga dari perbendaharaan rahmat dan penjaga pintunya adalah pribadi Ahmadiyah (Nabi Muhammad صلى الله عليه وسلم) , maka kunci paling utamanya adalah "Bismillahirrahmanirrahîm." Dan kunci yang paling mudah adalah salawat.

اَللّٰهُمَّ بِحَقِّ اَسْرَارِ بِسْمِ اللّٰهِ الرَحْمٰنِ الرَّحِيمِ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى مَنْ اَرْسَلْتَهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ كَمَا يَلِيقُ كَمَا يَلِيقُ بِرَحْمَتِكَ وَ بِحُرْمَتِهِ وَ عَلَى اٰلِهِ وَ اَصْحَابِهِ اَجْمَعِينَ وَ ارْحَمْنَا رَحْمَةً تُغْنِينَا بِهَا عَنْ رَحْمَةِ مَنْ سِوَاكَ مِنْ خَلْقِكَ اٰمِينَ