Sinar Pertama:
Lem'alar · hlm. 420
Pencipta Yang Maha Agung dari alam semesta ini adalah Al-Qayyûm. Yakni, Dia berdiri dengan sendiri-Nya (bizatihi), kekal, dan abadi. Segala sesuatu tegak dengan-Nya, berlangsung, tetap dalam wujud, dan memperoleh kekekalan. Seandainya nisbah qayyûmiyah itu terputus dari alam semesta walau sesaat saja, niscaya alam semesta akan musnah. Selain itu, bersama qayyûmiyah Zat Yang Maha Agung itu, sebagaimana Dia berfirman dalam Al-Qur'an Yang Maha Agung: لَيْسَ كَمِثْلِه۪ شَيْءٌ. Yakni, tiada tara bagi-Nya, baik pada Zat-Nya, sifat-sifat-Nya, maupun perbuatan-perbuatan-Nya; tiada yang serupa, tiada yang menyerupai, dan tiada sekutu bagi-Nya. Ya, mustahil ada tandingan, padanan, sekutu, dan keserupaan bagi suatu Zat Yang Maha Suci yang menggenggam segenap alam semesta dengan segala keadaan dan sifatnya dalam genggaman rububiyah-Nya, lalu mengatur, mengelola, dan mendidiknya dengan kesempurnaan keteraturan laksana sebuah rumah dan sebuah istana. Ya, suatu Zat yang bagi-Nya penciptaan bintang-bintang semudah atom-atom.. dan yang bagi kekuasaan-Nya sesuatu yang terbesar sama tunduknya seperti sesuatu yang terkecil.. dan yang padanya tiada sesuatu menghalangi sesuatu, tiada perbuatan menghalangi perbuatan.. dan yang di hadapan pandangan-Nya individu-individu yang tak terhingga hadir bagaikan satu individu.. dan yang mendengar segala suara sekaligus.. dan yang mampu memenuhi keperluan semua yang tak terhingga sekaligus.. dan yang — dengan kesaksian segenap keteraturan dan keseimbangan pada yang maujud di alam semesta — tiada sesuatu, tiada satu keadaan pun, yang berada di luar lingkup kehendak dan iradah-Nya.. dan yang — meski tidak berada di suatu tempat pun — hadir di setiap tempat dan setiap ruang dengan kekuasaan dan ilmu-Nya.. dan yang — meski segala sesuatu teramat jauh dari-Nya — Dia justru dapat teramat dekat kepada segala sesuatu; suatu Zat Al-Hayy Al-Qayyûm Yang Maha Agung yang pastilah tiada tandingan, tara, sekutu, wazir, lawan, dan bandingan-Nya dari sisi mana pun, dan mustahil hal itu ada. Keadaan-keadaan suci-Nya hanya dapat dipandang dalam bentuk perumpamaan dan pemisalan. Seluruh perumpamaan dan penyerupaan dalam Risalah Nur adalah dari jenis perumpamaan dan pemisalan ini.
Nah, sebagian dari manusia ahli kesesatan telah menyandarkan sebagian karya Zat Yang Maha Agung itu kepada tabiat (alam) — yaitu mereka yang, dengan menyangka sebagian kilasan yang bertajalli pada lembar-lembar alam semesta dan pada tingkatan-tingkatan yang maujud, sebagai Zat Yang Maha Suci itu sendiri, memberikan hukum-hukum uluhiyah kepada sebagian makhluk-Nya — padahal Zat Yang Maha Suci itu tiada tara, Wâjibul-Wujûd, tersucikan dari materi dan dari ruang, mustahil terbagi dan terpecah dari segala sisi, mustahil berubah dan berganti, serta di luar kemungkinan untuk butuh dan lemah. Padahal, di berbagai tempat dalam Risalah Nur telah dibuktikan dengan dalil-dalil yang pasti bahwa: Tabiat adalah seni Ilahi, ia bukanlah Pembuat.. ia adalah tulisan Rabbani, ia bukanlah penulis.. ia adalah ukiran, ia tak mungkin pengukir.. ia adalah buku catatan, ia bukanlah juru catat.. ia adalah hukum, ia bukanlah kekuasaan.. ia adalah penggaris (mistar), ia bukanlah sumber (masdar).. ia adalah penerima yang pasif, ia menjadi objek yang terpengaruhi; ia bukanlah pelaku.. ia adalah tatanan, ia tak mungkin penata.. ia adalah syariat fitri, ia tak mungkin pembuat syariat (şâri').
Andaikata — sebagai pengandaian yang mustahil — makhluk hidup terkecil diserahkan kepada tabiat, lalu dikatakan "buatlah ini"; maka sebagaimana telah dibuktikan dengan dalil-dalil yang pasti di banyak tempat dalam Risalah Nur, haruslah tersedia cetakan-cetakan, bahkan mesin-mesin, sebanyak jumlah anggota tubuh dan perangkat makhluk hidup kecil itu; supaya tabiat dapat mengerjakan pekerjaan tersebut.
Selain itu, sebagian ahli kesesatan yang disebut kaum materialis — karena mereka merasakan suatu kilasan teragung dari daya cipta Ilahi dan kekuasaan Rabbani di dalam perubahan-perubahan teratur pada atom-atom, tetapi tidak mengetahui dari mana kilasan itu datang, dan tidak dapat memahami dari mana kekuatan umum yang datang dari kilasan kekuasaan samadani itu dikendalikan — mulai menyangka materi dan energi sebagai azali, lalu menyandarkan jejak-jejak Ilahi kepada atom-atom dan gerakannya. Fasubhânallah! Mungkinkah pada manusia terdapat kebodohan tak terhingga sampai taraf ini — sehingga perbuatan-perbuatan dan karya-karya yang dikerjakan oleh suatu Zat yang, meski tersucikan dari ruang, berada dalam keadaan sedemikian rupa hingga melihat, mengetahui, dan mengatur segala sesuatu dalam penciptaan setiap sesuatu di setiap tempat — mereka berikan kepada atom-atom yang beku, buta, tanpa kesadaran, tanpa kehendak, tanpa timbangan, dan terombang-ambing di dalam badai kebetulan, beserta gerakannya? Betapa itu suatu pemikiran yang bodoh dan penuh khurafat, seharusnya diketahui oleh siapa saja yang memiliki akal walau sebesar atom. Ya, orang-orang ini, karena melepaskan kesatuan mutlak, terjatuh ke dalam kejamakan mutlak yang tak terhingga dan tak berpenghujung; yakni, karena tidak menerima satu Tuhan, mereka terpaksa menerima tuhan-tuhan yang tak terhingga banyaknya. Yakni, karena mereka tidak dapat memuatkan ke dalam akal mereka yang rusak itu keazalian dan kepenciptaan (hâlıkıyet) yang merupakan sifat khusus dan keharusan zati dari satu Zat Yang Maha Suci; maka menurut mazhab mereka, mereka terpaksa menerima keazalian, bahkan keuluhiyahan, atom-atom beku yang tak terhingga lagi tak berpenghujung itu...
Nah, datanglah engkau, pandanglah tingkat kebodohan yang tak berpenghujung ini! Ya, adapun kilasan pada atom-atom itu telah menjadikan golongan atom, dengan daya, kekuasaan, dan perintah Wâjibul-Wujûd, laksana sebuah pasukan yang teratur lagi megah. Seandainya perintah dan kekuatan Sang Panglima Agung itu ditarik kembali selama satu detik saja, niscaya golongan yang teramat banyak, beku, lagi tanpa kesadaran itu akan menjadi laksana gerombolan tak berkesatuan; bahkan mereka akan musnah sama sekali.
Selain itu, sebagian manusia — seolah-olah melihat lebih jauh — dengan kesesatan yang lebih bodoh lagi, telah menyangka materi "eter" (esîr) sebagai sumber dan pelaku, hanya karena ia menjadi cermin bagi kilasan rububiyah. Padahal eter itu adalah lembar pelaksanaan (sahife-i icraat) Sang Pembuat Yang Maha Agung yang teramat lembut, halus, patuh, lagi tunduk; sarana pengangkut bagi perintah-perintah-Nya; tabir lemah bagi pengaturan-Nya; tinta halus (midad) bagi tulisan-Nya; jubah penciptaan-Nya yang terlembut; ragi bagi karya-karya-Nya; dan ladang bagi biji-bijian-Nya. Kebodohan yang aneh ini meniscayakan kemustahilan-kemustahilan yang tak terhingga. Sebab, materi eter adalah suatu materi yang lebih halus daripada materi atom yang menenggelamkan kaum materialis, namun lebih pekat daripada "daftar isi hayula" yang menjadi tempat terperosoknya para filosof (hukema) kuno; ia beku, tanpa kehendak, dan tanpa kesadaran. Menyandarkan kepada materi ini — yang terbagi dan terpecah secara tak terhingga, serta diperlengkapi dengan sifat dan tugas menghantar (nâkillik) dan menerima pengaruh (infial) — bahkan kepada atom-atomnya yang berkali-kali lipat lebih kecil daripada atom biasa; perbuatan-perbuatan dan karya-karya yang terwujud dengan suatu kehendak dan kekuasaan yang melihat, mengetahui, dan mengatur segala sesuatu pada segala sesuatu — adalah keliru sebanyak jumlah atom eter.
Ya, perbuatan penciptaan yang tampak pada yang maujud memiliki suatu sifat sedemikian rupa sehingga memperlihatkan bahwa ia datang dari suatu kekuasaan dan kehendak yang — pada segala sesuatu, khususnya jika ia makhluk hidup — melihat dan mengetahui kebanyakan benda bahkan segenap alam semesta, serta mengenali dan menjamin hubungan makhluk hidup itu dengan alam semesta; sehingga ia tak mungkin dengan cara apa pun menjadi perbuatan sebab-sebab yang materiil lagi tak meliputi. Ya — dengan rahasia qayyûmiyah — perbuatan penciptaan yang paling parsial sekalipun mengemban suatu rahasia teragung yang menunjukkan bahwa ia secara langsung adalah perbuatan Pencipta segenap alam semesta. Ya, misalnya, suatu perbuatan yang tertuju kepada penciptaan seekor lebah memperlihatkan kekhususannya bagi Pencipta Alam Semesta dari dua sisi.
Yang pertama:
Memperolehnya seluruh sesama lebah itu akan perbuatan yang sama, di seluruh permukaan bumi, pada saat yang sama, memperlihatkan bahwa: perbuatan yang parsial lagi khusus ini adalah salah satu ujung dari suatu perbuatan meliputi yang menyelimuti seluruh permukaan bumi. Kalau begitu; siapa pun pelaku perbuatan besar itu dan pemilik perbuatan itu, maka perbuatan parsial itu pun adalah milik-Nya.
Sisi kedua:
Karena untuk menjadi pelaku perbuatan yang tertuju kepada penciptaan lebah yang hadir ini diperlukan suatu kekuasaan dan kehendak yang teramat besar — sebesar yang mampu menjamin dan mengetahui syarat-syarat kehidupan lebah itu, perangkatnya, dan hubungannya dengan alam semesta — maka Zat yang mengerjakan perbuatan parsial itu hanya dapat mengerjakannya sesempurna itu dengan berlakunya hukum-Nya atas kebanyakan alam semesta.
Artinya, perbuatan yang paling parsial pun memperlihatkan bahwa ia khusus bagi Pencipta Segala Sesuatu dari dua sisi.
Yang paling patut diperhatikan dan paling mengherankan adalah ini: keazalian dan keabadian — yang merupakan sifat paling khusus dan keharusan zati dari Zat Wâjibul-Wujûd, Pemilik "wujûb" (tingkat wujud terkuat), "ketersucian dari materi" (derajat wujud tertetap), "ketersucian dari ruang" (keadaan wujud terjauh dari kefanaan), dan "kesatuan" (sifat wujud terkokoh lagi tersuci dari perubahan dan ketiadaan) — betapa bertentangan dengan hakikat, berlawanan dengan kenyataan, jauh dari akal, dan batilnya bila diberikan kepada hal-hal seperti eter dan atom, yaitu suatu materi jasadi yang tak terhingga banyaknya, yang merupakan tingkat wujud terlemah, derajat terhalus, keadaan yang paling berubah lagi berganti, dan yang paling tersebar di ruang; serta bila keazalian disandarkan kepadanya, ia dibayangkan azali, dan disangka bahwa sebagian jejak Ilahi berasal darinya; semua itu telah diperlihatkan dengan dalil-dalil yang pasti di berbagai bagian Risalah Nur.