Risale-i NurLem'alar

POIN KELIMA:

Lem'alar · hlm. 525

329 Merupakan sebuah poin dari ayat agung فَانْظُرْ اِلٰٓى اٰثَارِ رَحْمَتِ اللّٰهِ كَيْفَ يُحْيِى اْلاَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا اِنَّ ذٰلِكَ لَمُحْيِى الْمَوْتٰى وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ dan ayat agung اَللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ الْحَىُّ الْقَيُّومُ لاَ تَاْخُذُهُ سِنَةٌ وَلاَ نَوْمٌ, serta sebuah kilasan dari Ismul-A'zam "Al-Hayy", yang ditunjukkan secara ringkas dalam "Lima Simbol".

Simbol Pertama:

Terhadap pertanyaan "Apakah kehidupan itu? Apa hakikat dan tugasnya?" — yang termasuk kilasan teragung Ismul-Hayy dan Ismul-Muhyî — telah diberikan jawaban dan definisi secara begitu indah, dalam bentuk daftar isi, pada dua puluh sembilan tingkatan, di dalam dua halaman, sehingga: alangkah menakjubkan penjelasan ini, alangkah fasih gaya pemaparannya, dan alangkah menakjubkan ungkapan-ungkapannya, yang belum pernah terlihat bandingannya. Manusia terpikat oleh keindahan hakikat-hakikat ini; menggigit jarinya karena takjub; tak terbayangkan lagi definisi yang melebihinya; ia pun tenggelam dalam tafakur di tengah kekaguman dan pujian.

Simbol Kedua:

Pada karakteristik kedua puluh tiga dari dua puluh sembilan karakteristik kehidupan, ia menjelaskan rahasia bahwa kedua sisi kehidupan sama-sama jernih dan berkilau, dan bahwa sebab-sebab lahiriah tidak dijadikan tabir bagi pengelolaan qudrat Rabbani yang berlangsung di dalamnya.

Simbol Ketiga:

Sebagaimana buah hasil alam semesta adalah kehidupan, demikian pula syukur dan ibadah — yang merupakan buah hasil kehidupan — adalah sebab penciptaan dan buah yang dimaksudkan dari alam semesta. Oleh karena itu, ia memberitahukan bahwa As-Sâni' (Sang Pencipta) Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri (Al-Hayy Al-Qayyûm) — sebagai balasan atas pengenalan dan penumbuhan cinta terhadap diri-Nya kepada para makhluk hidup melalui nikmat-nikmat-Nya yang tak terhingga — menghendaki ucapan syukur dari para makhluk hidup, menghendaki mereka mencintai-Nya sebagai balasan atas cinta-Nya, dan menghendaki mereka memuji serta menyanjung karya-karya seni-Nya yang berharga; dan bahwa kehidupan setiap makhluk hidup berada secara langsung, tanpa perantara, dalam genggaman qudrat Zat Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri Sendiri.

Simbol Keempat:

Ia mengajarkan dan menjelaskan — dengan cara yang begitu lembut — bahwa kehidupan itu memandang dan membuktikan enam rukun iman, yaitu rukun-rukun اٰمَنْتُ بِاللّٰهِ وَ مَلٰٓئِكَتِه۪ وَ كُتُبِه۪ وَ رُسُلِه۪ وَ بِالْيَوْمِ اْلاٰخِرِ وَ بِالْقَدَرِ, sedemikian rupa sehingga balaghah ungkapan itu membuat manusia terkagum-kagum.

Simbol Kelima:

Ia menjelaskan — dengan cara yang amat manis dan penuh keindahan — apa yang disebutkan pada karakteristik keenam belas dari Simbol Pertama: bahwa kehidupan, ketika masuk ke dalam sesuatu, menjadikan tubuh itu berkedudukan sebagai sebuah alam; jika ia bagian, ia diberi kemenyeluruhan bagaikan keseluruhan, dan jika ia parsial, ia diberi kemenyeluruhan bagaikan yang universal. Dan pada penutupnya, ia menerangkan bahwa Ismul-A'zam itu berbeda-beda bagi sebagian para wali.