Risale-i NurLem'alar

Isyarat Ketujuh:

Lem'alar · hlm. 524

Seraya menjelaskan bahwa kerasulan Muhammad 'alaihis-salâtu was-salâm — yang mengajarkan, membuktikan, dan memaklumkan tauhid hakiki dengan seluruh tingkatannya dalam bentuk yang paling sempurna — adalah tetap (tsabit) sekokoh kepastian tauhid itu sendiri; ia menyebutkan tiga di antara sekian banyak dalil yang menjadi saksi atas derajat urgensi dan keluhuran kepribadian maknawi Muhammad 'alaihis-salâtu was-salâm.

Pertama: Dengan rahasia اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ, oleh karena satu misal dari kebaikan-kebaikan yang dikerjakan seluruh umatnya di segala zaman turut tercatat dalam buku catatan kebaikannya, dan khususnya oleh karena diterimanya secara pasti doa shalawat yang dipanjatkan seluruh umat pada setiap harinya; dengan merenungkan maqam dan martabat yang dituntut oleh doa-doa yang tak terhingga itu, dapat dipahami betapa kepribadian maknawi Muhammad صلى الله عليه وسلم bagaikan sebuah matahari di tengah alam semesta..

Kedua: Oleh karena mahiyah Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم adalah sumber, benih, kehidupan, dan poros bagi pohon terbesar (syajarah kubra) alam Islam, maka — seraya merenungkan kemajuan ruhaninya yang timbul dari penghayatan dan pelaksanaannya yang paling awal, dengan segenap maknanya, atas kalimat-kalimat suci, tasbih-tasbih, dan ibadah-ibadah yang membentuk nilai-nilai maknawi alam Islam melalui potensi dan perangkatnya yang luar biasa — ia menerangkan betapa tingginya kewalian (wilayah) ubudiyah Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم, yang naik hingga ke derajat habibiyah (kekasih), dibandingkan seluruh kewalian yang lain. Ia memberitahukan sejauh mana Zat itu صلى الله عليه وسلم telah maju dalam tingkatan-tingkatan kesempurnaan yang tiada berbatas dan berkesudahan.

Ketiga: Oleh karena Zat Al-Fard Yang Maha Indah menjadikan Zat Muhammad 'alaihis-salâtu was-salâm sebagai lawan bicara-Nya (mukhatab) atas nama seluruh jenis manusia, bahkan atas nama seluruh alam semesta; niscaya Dia menjadikannya tempat kenampakan limpahan karunia-Nya yang tak terhingga dalam kesempurnaan yang tak terhingga pula. Dan ia mengajarkan bahwa kepribadian maknawi Muhammad 'alaihis-salâtu was-salâm adalah matahari maknawi alam semesta, ayat terbesar dari Al-Quran Al-Kabîr yang disebut alam semesta ini, serta sebuah cermin bagi Furqan Teragung itu, bagi Ismul-A'zam, dan bagi kilasan teragung Ismul-Fard.