Risale-i NurLem'alar

Poin Kedua Puluh Delapan dari Lem'a Kedua Puluh Delapan

Lem'alar · hlm. 355

Suatu poin penting dari ayat-ayat seperti بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِلاَ يَسَّمَّعُونَ اِلَى اْلَمَـَلاِ اْلاَعْلٰى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ ❊ دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ ❊ اِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ ❊ وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَٓاءَ الدُّنْيَا بِمَصَاب۪يحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاط۪ينِ akan dijelaskan berkenaan dengan suatu kritik ahli kesesatan. Yakni:

Ini adalah jawaban ringkas atas sebuah pertanyaan yang sangat penting yang terdiri atas tiga bagian, berkenaan dengan ayat-ayat yang telah disebutkan — yang menerangkan bahwa, agar tidak menimbulkan keraguan terhadap wahyu pada permulaan turunnya wahyu, pengintaian tetap para mata-mata jin dan setan — yang mencuri dengar berita-berita langit lalu membawa berita-berita gaib dan menyampaikannya kepada para pemberi kabar gaib seperti dukun, materialis, dan sebagian pemanggil arwah — pada masa itu lebih banyak dirajam dan dicegah dengan bintang-bintang (meteor).

Pertanyaan:

Dari ayat-ayat semacam ini dipahami bahwa untuk memperoleh kabar tentang suatu peristiwa gaib yang parsial dan terkadang bersifat pribadi, para setan mata-mata menyusup ke negeri langit yang berjarak sangat jauh; dan seolah-olah peristiwa parsial itu dibicarakan di setiap penjuru negeri yang sangat luas itu, sehingga setan mana pun, yang menyusup ke tempat mana pun, akan mendengar dan membawa kabar itu secara setengah-setengah — makna semacam ini tidak diterima oleh akal dan hikmah. Dan dengan nas ayat, sebagian pengemban risalah dan pemilik karamah mengambil buah-buah Surga yang berada di atas langit seolah mengambilnya dari suatu tempat yang dekat. Terkadang mereka menyaksikan Surga dari dekat — ini adalah suatu persoalan yang berada di antara puncak kejauhan dan puncak kedekatan, yang tak dapat diterima akal abad ini? Dan bahwa suatu keadaan parsial dari seorang pribadi yang parsial menjadi bahan pembicaraan Mele-i A'lâ (Himpunan Tertinggi) di negeri langit yang universal dan luas, tidak sesuai dengan hikmah pengelolaan alam semesta yang sangat bijaksana? Padahal ketiga persoalan ini pun terhitung sebagai hakikat-hakikat keislaman?

Jawaban: Pertama:

Dalam sebuah risalah bernama Kelimat Kelima Belas, dengan "tujuh tangga" — yakni tujuh pendahuluan yang pasti — pengangkatan dan pengusiran para setan mata-mata dari langit dengan bintang-bintang, yang diungkapkan oleh ayat وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَٓاءَ الدُّنْيَا بِمَصَاب۪يحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاط۪ينِ, telah dibuktikan dengan cara sedemikian rupa sehingga meyakinkan, membungkam, dan membuat menerima bahkan kaum materialis yang paling keras kepala.

Kedua:

Untuk mendekatkan tiga hakikat keislaman yang disangka jauh itu kepada benak-benak yang pendek, kami akan mengisyaratkannya dengan sebuah perumpamaan. Misalnya: Seandainya dinas kemiliteran suatu pemerintahan berada di timur negeri, dinas peradilan di baratnya, dinas pendidikan di utaranya, dinas keilmuan di selatannya, dan dinas kepamongprajaan di tengahnya; lalu — dengan telepon nirkabel dan telegraf — setiap dinas dapat melihat dan memperoleh kabar tentang keadaan-keadaan yang berkaitan dengannya secara sangat teratur; maka hampir-hampir seluruh negeri itu, sementara ia adalah dinas peradilan, ia juga adalah dinas kemiliteran; dan sebagaimana ia adalah dinas kepamongprajaan, ia juga menjadi dinas keilmuan.

Dan misalnya: terkadang terjadi bahwa berbagai negara dan pemerintahan yang memiliki ibu kota yang berbeda-beda, dari sisi jajahan, atau dari sisi hak istimewa, atau berkenaan dengan perdagangan, memiliki kekuasaan yang berbeda-beda di satu negeri saja. Sementara rakyat dan bangsanya satu, setiap pemerintahan — dari sisi hak istimewanya — berhubungan dengan rakyat itu. Urusan-urusan pemerintahan-pemerintahan yang sangat berjauhan satu sama lain itu saling bersentuhan. Di setiap rumah mereka saling mendekat, dan pada setiap orang mereka memiliki keikutsertaan. Persoalan-persoalan parsialnya terlihat di suatu lingkup parsial pada titik-titik persentuhan. Sekiranya tidak, setiap persoalan parsial tidak diambil dari lingkup universal; akan tetapi, ketika persoalan-persoalan parsial itu dibicarakan, karena ia langsung berjalan dengan undang-undang lingkup universal, ia diungkapkan seolah-olah diambil dari lingkup universal dan dalam bentuk suatu persoalan yang telah menjadi bahan pembicaraan di lingkup itu.

Nah, seperti dua perumpamaan ini, sementara negeri langit — dari sisi ibu kota dan pusatnya — sangat jauh, sebagaimana ia memiliki telepon-telepon maknawi yang terulur ke kalbu-kalbu manusia di negeri Bumi, alam langit tidak hanya menghadap ke alam jasmani; melainkan karena ia mengandung alam ruh dan alam malakut, dari satu sisi ia meliputi alam kasat mata (alam syahadah) di balik tabir. Dan Surga yang termasuk alam kekekalan dan negeri kekekalan pun, bersama kejauhannya yang tak terhingga, lingkup pengelolaannya itu — di balik tabir kasat mata — terulur dan terhampar secara bercahaya di setiap penjuru. Dengan hikmah dan kekuasaan Sang Pembuat Yang Mahabijaksana lagi Pemilik Keagungan, sebagaimana pusat-pusat indra yang Dia tempatkan di kepala manusia berbeda-beda, namun masing-masing menguasai seluruh tubuh dan jasad itu serta dapat memasukkannya ke dalam lingkup pengelolaannya.

Demikian pula; alam semesta yang merupakan manusia terbesar (insan-ı ekber) ini pun, bagaikan lingkaran-lingkaran yang saling bertumpang tindih dan berlapis satu sama lain, mengandung ribuan alam. Keadaan dan peristiwa yang berlangsung di dalamnya menjadi objek pandangan dari sisi keuniversalan, keparsialan, kekhususan, dan keagungannya; yakni bagian-bagian parsial itu terlihat di tempat-tempat yang parsial dan dekat, sedangkan yang universal dan agung terlihat di kedudukan-kedudukan yang universal dan besar. Akan tetapi, terkadang suatu peristiwa parsial dan khusus menguasai suatu alam yang besar. Di sudut mana pun didengarkan, peristiwa itu terdengar. Dan terkadang pengerahan besar-besaran dilakukan bukan terhadap kekuatan musuh, melainkan untuk menampakkan keagungan. Misalnya: karena peristiwa Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) dan peristiwa suci wahyu Al-Qur'an merupakan peristiwa yang paling penting di seluruh negeri langit, bahkan di setiap sudut negeri itu, maka sebagai suatu isyarat Rabbani untuk mengumumkan derajat keagungan wahyu Qur'ani, kegemerlapan kesultanannya, dan derajat kebenarannya yang tak dapat dimasuki keraguan dari sisi mana pun — dengan memperlihatkan dan mengungkapkan bahwa para penjaga berbaris di menara-menara langit yang mahabesar yang sangat jauh dan sangat tinggi, lalu melontarkan ketapel dari bintang-bintang untuk mengusir dan menolak para setan mata-mata — pada masa dan abad itu lebih banyak bintang yang dijatuhkan dan dilontarkan. Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya pun menerjemahkan dan mengumumkan pengumuman kauniah (penciptaan) itu, dan mengisyaratkan kepada isyarat samawi itu. Ya, membuat para setan mata-mata — yang dapat diterbangkan hanya dengan tiupan seorang malaikat — berhadapan dengan para malaikat melalui suatu isyarat samawi yang agung semacam ini, tentu adalah untuk memperlihatkan keagungan kesultanan wahyu Qur'ani itu.

Adapun penjelasan Qur'ani yang penuh keagungan dan pengerahan samawi yang mahabesar ini; bukanlah untuk mengungkapkan bahwa para jin dan setan memiliki suatu kekuatan dan pembelaan yang akan mendorong mereka untuk berhadapan dan membela diri terhadap penghuni langit; melainkan untuk mengisyaratkan bahwa di sepanjang jalan panjang dari kalbu Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) hingga alam langit, hingga 'Arasy Yang Mahaagung, tidak ada campur tangan jin dan setan di tempat mana pun — yakni bahwa wahyu Qur'ani adalah suatu hakikat yang menjadi bahan pembicaraan seluruh malaikat di langit yang mahabesar, sehingga untuk menyentuhnya sedikit saja, para setan terpaksa naik hingga ke langit, namun tidak berhasil dalam apa pun dan dirajam — dengan hal itu ia mengisyaratkan bahwa; wahyu yang datang ke kalbu Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam), Jibril yang datang ke hadirat Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam), dan hakikat-hakikat gaib yang tampak pada pandangan Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) adalah kukuh dan lurus, tak dapat dimasuki keraguan dari sisi mana pun — demikian Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya mengabarkan secara mukjizat.

Adapun terlihatnya Surga di tempat-tempat yang paling dekat dan terkadang diambilnya buah darinya — bersama kejauhannya dan meskipun ia termasuk alam kekekalan; sebagaimana dipahami dengan rahasia dua perumpamaan sebelumnya, alam fana dan alam kasat mata ini adalah sehelai tabir bagi alam gaib dan negeri kekekalan. Sebagaimana pusat terbesar Surga — meskipun berada di kejauhan — mungkin terlihat di setiap penjuru melalui perantaraan cermin alam mitsal (alam perumpamaan); demikian pula, melalui perantaraan iman pada tingkat haqqul-yaqin, Surga dapat memiliki — semoga tidak ada kesalahan dalam perumpamaan — semacam jajahan dan lingkup di alam fana ini, dan dapat terjadi komunikasi dengan ruh-ruh yang tinggi melalui telepon kalbu, serta hadiah-hadiahnya dapat datang.

Adapun sibuknya suatu lingkup universal dengan suatu peristiwa parsial yang bersifat pribadi — yakni bahwa untuk membawa berita-berita gaib kepada para dukun, para setan naik hingga ke langit lalu menguping dan membawa berita-berita yang keliru secara setengah-setengah — suatu hakikat dari ungkapan-ungkapan dalam tafsir-tafsir semestinya demikian: Bukanlah pergi hingga ke ibu kota negeri langit untuk mengambil berita parsial itu. Melainkan negeri langit — yang cakupannya juga meliputi angkasa udara — memiliki beberapa lokasi yang berkedudukan sebagai — tiada kesalahan dalam perumpamaan — pos-pos penjagaan, yang pada lokasi-lokasi itu terjadi hubungan dengan negeri Bumi; untuk peristiwa-peristiwa parsial, mereka mencuri dengar dari kedudukan-kedudukan parsial itu. Bahkan kalbu insani pun adalah salah satu dari kedudukan-kedudukan itu, yang pada lokasi itu malaikat ilham dan setan khusus saling berhadapan.

Adapun hakikat-hakikat imani dan Qur'ani serta peristiwa-peristiwa Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam), betapa pun parsialnya, berkedudukan sebagai peristiwa penting yang paling besar dan paling universal, menjadi bahan pembicaraan di setiap sudut — di 'Arasy Yang Mahaagung yang merupakan lingkup yang paling universal dan di lingkup langit — seakan-akan disiarkan dalam lembaran-lembaran maknawi takdir alam semesta (semoga tidak ada kesalahan dalam perumpamaan); di samping penjelasan ini, adapun sepanjang jalan dari kalbu Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) hingga sampai ke lingkup 'Arasy, karena tidak ada kemungkinan campur tangan dari sisi mana pun, dengan mengungkapkan bahwa tiada jalan bagi para setan selain menguping langit — ini adalah pengumuman dan pemperlihatan secara sangat fasih bahkan secara mukjizat, betapa tinggi derajat kebenaran wahyu Qur'ani dan kenabian Ahmadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam), dan bahwa tak mungkin bagi pertentangan, kekeliruan, dan tipu daya untuk mendekatinya dari sisi mana pun. سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ

Said Nursî