Poin Kedua
Lem'alar · hlm. 339
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلاِنْسَ اِلاَّ لِيَعْبُدُونِ ❊ مَا اُرِيدُ مِنْهُمْ مِنْ رِزْقٍ وَمَا اُرِيدُ اَنْ يُطْعِمُونِ ❊ اِنَّ اللّٰهَ هُوَ الرَّزَّاقُ ذُو الْقُوَّةِ الْمَتِينُ Karena makna lahiriah ayat mulia ini — menurut penjelasan banyak tafsir — tidak memperlihatkan kemukjizatan Qur'ani yang tinggi, ia sering mengganggu benakku. Kami akan menjelaskan secara ringkas tiga segi dari makna-maknanya yang sangat indah dan tinggi yang datang dari limpahan Al-Qur'an.
Pertama:
Allah, dari sudut memuliakan dan menghormati Rasul-Nya, terkadang menisbahkan kepada diri-Nya sebagian keadaan yang dapat berkaitan dengan Rasul-Nya.
Nah, di sini pun: dalam makna "Rasul-Ku tidak meminta dari kalian suatu upah, imbalan, ganjaran, dan pemberian makan sebagai balasan atas tugas kerasulan dan pelayanan penyampaian penghambaan," ayat yang bermakna "Aku menciptakan kalian untuk beribadah; bukan untuk memberi-Ku rezeki dan memberi-Ku makan," semestinya memaksudkan pemberian makan dan rezeki yang berkaitan dengan Rasul Yang Mahamulia — 'alaihis-salâtu was-salâm. Sekiranya tidak, maka ia akan tergolong pemberitahuan atas suatu hal yang sudah sangat jelas diketahui; dan itu tidak sesuai dengan balaghah kemukjizatan Al-Qur'an.
Segi Kedua:
Karena manusia sangat tergandrung pada rezeki, maka agar ia tidak menjadikan dalih bekerja mencari rezeki sebagai waham penghalang penghambaan dan tidak mencari alasan bagi dirinya, ayat mulia berkata: "Kalian diciptakan untuk penghambaan. Hasil penciptaan kalian adalah penghambaan. Bekerja mencari rezeki, dari sudut perintah Ilahi, adalah suatu bentuk penghambaan. Kalian tidak diciptakan untuk menyediakan rezeki makhluk-Ku serta rezeki diri kalian, keluarga kalian, dan hewan-hewan kalian — yang rezekinya telah Aku tanggung — seakan-akan untuk menyiapkan rezeki dan makanan yang berkaitan dengan-Ku. Sebab Aku-lah Sang Maha Pemberi Rezeki (Rezzâk). Aku-lah yang memberikan rezeki hamba-hamba-Ku yang menjadi tanggungan kalian. Janganlah kalian menjadikan hal ini sebagai dalih lalu meninggalkan penghambaan!"
Jika bukan makna ini, maka — karena kemustahilan memberi rezeki dan memberi makan kepada Allah sudah jelas dan diketahui — ia akan tergolong pemberitahuan atas hal yang sudah diketahui. Dalam ilmu balaghah terdapat suatu kaidah yang telah baku: Jika makna suatu ucapan sudah diketahui dan jelas, maka bukan makna itu yang dimaksud, melainkan suatu konsekuensi atau suatu pengiringnya yang dimaksud. Sebagai contoh, jika engkau berkata kepada seseorang: "Engkau seorang hafiz." Itu tergolong memberitahukan kepadanya hal yang sudah ia ketahui. Artinya, makna yang dimaksud adalah: "Aku mengetahui bahwa engkau seorang hafiz." Karena ia tidak mengetahui bahwa aku mengetahuinya, maka aku memberitahukannya kepadanya.
Nah, berdasarkan kaidah ini, makna yang menjadi kiasan dari penafian pemberian rezeki dan pemberian makan kepada Allah dalam ayat itu adalah: "Kalian tidak diciptakan untuk menyampaikan rezeki kepada makhluk-Ku yang menjadi milik-Ku dan yang rezekinya telah Aku jamin. Melainkan tugas kalian yang sesungguhnya adalah penghambaan. Berupaya mencari rezeki sesuai perintah-Ku pun adalah suatu bentuk ibadah."
Segi Ketiga:
Sebagaimana dalam Surah Al-Ikhlas, karena makna lahiriah لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُولَدْ sudah diketahui dan jelas, maka suatu konsekuensi dari makna itulah yang dimaksud. Yakni, dalam makna "Mereka yang memiliki ibu dan anak tidak dapat menjadi tuhan," dan dengan maksud menafikan ketuhanan Hazrat Isa ('alaihis-salâm), Uzair ('alaihis-salâm), para malaikat, bintang-bintang, serta sesembahan-sesembahan yang tidak hak, — sebagaimana Allah menetapkan لَمْ يَلِدْ وَ لَمْ يُولَدْ dengan sangat jelas dan diketahui dalam makna azali dan abadi, persis seperti itu, dalam contoh kita ini pun, dalam makna "Segala sesuatu yang memiliki kemampuan diberi rezeki dan diberi makan tidak dapat menjadi tuhan dan sesembahan," ayat yang bermakna "Sesembahan kalian, Sang Maha Pemberi Rezeki Pemilik Keagungan, tidak meminta rezeki dari kalian untuk diri-Nya, dan kalian tidak diciptakan untuk memberi-Nya makan"; artinya adalah bahwa segala yang maujud yang membutuhkan rezeki dan diberi makan tidak layak untuk disembah.
Said Nursî
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِاَوْ هُمْ قَٓائِلُونَ
Ini ditulis berkenaan dengan pertanyaan Re'fet karena penasaran akan makna kata قَٓائِلُونَ dalam ayat yang mulia اَوْ هُمْ قَٓائِلُونَ, dan karena kemalasan (rehavet) yang timbul akibat ia tidur setelah salat Subuh di penjara seperti yang lain, agar penanya yang bagaikan berlian tidak jatuh ke dalam kemalasan. Tidur ada tiga macam:
Pertama:
Yaitu ghailûlah, yaitu tidur setelah fajar hingga berakhirnya waktu makruh. Karena tidur ini — menurut hadis — menjadi sebab bagi berkurangnya rezeki dan hilangnya keberkahan, maka ia menyalahi sunnah. Sebab waktu yang paling tepat untuk menyiapkan pendahuluan bagi upaya mencari rezeki adalah waktu yang sejuk. Setelah waktu ini berlalu, timbullah kemalasan. Telah terbukti melalui banyak pengalaman bahwa ia merugikan upaya hari itu dan dengan demikian merugikan rezeki, serta menjadi sebab bagi hilangnya keberkahan.
Kedua:
Yaitu failûlah, yaitu tidur setelah salat Asar hingga Magrib. Tidur ini menunjukkan suatu pengurangan materi pada umur — yakni karena, dari sisi kepeningan yang timbul dari tidur, umur hari itu mengambil bentuk yang bercampur tidur, setengah tidur, dan sangat singkat; dan dari sisi maknawi pula, karena hasil materi dan maknawi kehidupan hari itu kebanyakan termanifestasi setelah Asar, maka melewatkan waktu itu dengan tidur berkedudukan sebagai tidak melihat hasil itu, sehingga seakan-akan ia tidak menjalani hari itu.
Ketiga:
Yaitu qailûlah, dan tidur ini adalah sunnah yang mulia. Ia berlangsung dari waktu duha hingga sedikit setelah tengah hari. Di samping tidur ini menjadi sunnah karena menjadi sebab bagi ibadah malam (qiyamullail), karena ia merupakan penghentian pekerjaan pada waktu panas yang terik yang disebut waktu zuhur di Jazirah Arab — suatu adat kaum dan lingkungan — maka hal itu semakin menguatkan sunnah yang mulia itu. Tidur ini menjadi sumber bagi pertambahan umur sekaligus rezeki. Sebab tidur qailûlah setengah jam setara dengan tidur malam dua jam. Artinya, ia menambahkan satu setengah jam pada umurnya setiap hari. Dan ia menyelamatkan satu setengah jam pula dari tangan tidur yang merupakan saudara kematian, lalu menghidupkannya dan menambahkannya ke waktu bekerja untuk mencari rezeki.
Said Nursî
"Ini pun indah"
Aku melihat dari kejauhan suatu poin halus yang tersingkap ketika kalimat اَلْفُ اَلْفِ صَلاَةٍ وَ اَلْفُ اَلْفِ سَلاَمٍ عَلَيْكَ يَا رَسُولَ اللّٰهِ dibaca dalam tasbih setelah salat. Aku tak dapat menangkap keseluruhannya, tetapi aku akan menyebutkan satu dua kalimatnya sebagai isyarat.
Aku melihat bahwa: alam malam bagaikan sebuah persinggahan dunia yang baru terbuka. Pada salat Isya aku memasuki alam itu. Karena pembentangan khayalan yang luar biasa dan karena keterikatan hakikat kemanusiaan dengan seluruh dunia, aku melihat dunia yang besar itu bagaikan sebuah persinggahan pada malam itu. Makhluk-makhluk hidup dan manusia mengecil sedemikian rupa, mengecil hingga tak terlihat. Hanya satu pribadi maknawi Muhammadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) — yang meramaikan, mengakrabkan, dan menyinari persinggahan itu — yang kusaksikan secara khayali. Sebagaimana seorang lelaki, ketika memasuki sebuah persinggahan baru, memberi salam kepada orang-orang di persinggahan itu, aku pun mendapati di dalam diriku bergejolak suatu keinginan untuk berkata, "Ribuan salam
{(Catatan): Rahmat yang datang kepada Sosok Ahmadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) menghadap ke kebutuhan segenap umat pada zaman yang abadi. Karena itu, salawat yang tak terhingga adalah pada tempatnya. Bayangkanlah: seandainya seseorang memasuki sebuah rumah yang besar seperti dunia, yang gelap oleh kelalaian, penuh keliaran, dan lengang; betapa besar kengerian, keliaran, dan kepanikan yang ia rasakan; lalu tiba-tiba seorang Ajudan Yang Mahamulia (Yaver-i Ekrem) yang akrab, ramah, kekasih, dan dicintai muncul di depan seraya menerangi rumah itu, dan memperkenalkan Sang Pemilik rumah itu Yang Maha Penyayang lagi Mahamulia dengan setiap barang di rumah itu — kiaskanlah betapa besar kegembiraan, keakraban, suka, cahaya, dan kelegaan yang ia berikan. Hargailah nilai dan kelezatan salawat kepada Sosok Kerasulan!}
kepadamu, wahai Rasulullah!" — demikian keinginan itu bergejolak di dalam diriku. Seakan-akan aku memberi salam sebanyak jumlah seluruh manusia dan jin, yakni dengan salam itu aku mengungkapkan pembaruan baiat kepadamu, penerimaan atas jabatanmu, ketaatan pada undang-undang yang engkau bawa, penyerahan diri pada perintah-perintahmu, serta bahwa engkau akan selamat dari gangguan kami; aku membuat bagian-bagian duniaku — yakni segenap jin dan manusia yang merupakan makhluk berkesadaran — berbicara, lalu kupersembahkan atas nama masing-masing mereka sebuah salam dengan makna-makna yang telah disebutkan. Dan karena — dengan cahaya dan hadiah yang beliau bawa — sebagaimana beliau menerangi duniaku ini, beliau pun menerangi dunia-dunia setiap orang di dunia ini dan memberi mereka nikmat, maka sebagai suatu balasan penuh syukur atas hadiahnya itu, aku berkata: "Semoga ribuan salawat turun kepadamu!" Yakni, aku merasakan secara khayali maknanya: "Kami tidak mampu membalas kebaikanmu ini, melainkan kami menyatakan rasa terima kasih kami dengan memohon agar rahmat-rahmat yang datang dari khazanah rahmat Pencipta kami — sebanyak jumlah penghuni langit — turun kepadamu."
Sosok Ahmadi (shallallâhu 'alaihi wa sallam) itu, dari sisi penghambaannya — berdasarkan keterarahannya dari makhluk kepada Al-Haqq — meminta salawat yang bermakna rahmat. Dari sisi kerasulannya — dari kedudukannya sebagai utusan dari Al-Haqq kepada makhluk — meminta salam. Sebagaimana beliau layak menerima salam sebanyak jumlah jin dan manusia, dan kami mempersembahkan pembaruan baiat umum sebanyak jumlah jin dan manusia. Demikian pula, beliau layak menerima satu salawat atas nama masing-masing dari khazanah rahmat, sebanyak jumlah penghuni langit. Sebab dengan cahaya yang beliau bawa, tampaklah kesempurnaan setiap sesuatu, termanifestasilah nilai setiap yang maujud, tersaksikanlah tugas Rabbani setiap makhluk, dan memancarlah maksud-maksud Ilahi pada setiap ciptaan. Karena itu, setiap sesuatu — sebagaimana dengan lisan keadaan, seandainya ia pun memiliki lisan ucapan — pasti akan berkata "As-salâtu was-salâmu 'alaika yâ Rasûlallâh," maka kami atas nama mereka semua secara maknawi mengucapkan "Alfu alfi salâtin wa alfu alfi salâmin 'alaika yâ Rasûlallâhi bi-'adadil-jinni wal-insi wa bi-'adadil-malaki wan-nujûm (sejuta salawat dan sejuta salam atasmu, wahai Rasulullah, sebanyak jumlah jin dan manusia serta sebanyak jumlah malaikat dan bintang-bintang)." فَيَكْف۪يكَ اَنَّ اللّٰهَ صَلّٰى بِنَفْسِهِ وَ اَمْلاَكَهُ صَلَّتْ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَتْ
Said Nursî
Saudaraku yang mulia!
Engkau meminta sedikit penjelasan mengenai wahdatul-wujud. Mengenai persoalan ini, dalam salah satu Lem'a dari Surat Ketiga Puluh Satu, terdapat suatu jawaban yang sangat kuat dan terperinci terhadap pemikiran Hazrat Muhyiddin dalam persoalan ini. Untuk saat ini, kami hanya berkata demikian:
Mengajarkan persoalan wahdatul-wujud ini kepada manusia sekarang memberikan kerugian yang serius. Sebagaimana perumpamaan dan gambaran, jika berpindah dari tangan kaum khusus (havas) ke tangan orang awam dan dari tangan ilmu ke tangan kejahilan, ia akan dianggap sebagai hakikat.
{(Catatan): Sebagaimana dua malaikat yang — berkenaan dengan rahasia perumpamaan — dinamai Tsaur (Lembu) dan Hût (Ikan), oleh orang awam dianggap sebagai seekor lembu besar dan seekor ikan besar.}
Demikian pula, hakikat-hakikat yang luhur seperti persoalan wahdatul-wujud, jika masuk ke tangan orang-orang lalai dan orang awam yang tenggelam dalam sebab-sebab, ia akan dianggap sebagai tabiat (alam) dan memberikan tiga kerugian penting:
Pertama:
Sementara mazhab wahdatul-wujud adalah seakan-akan mengingkari alam semesta demi kepentingan Allah, ketika ia masuk ke tangan orang awam — khususnya ketika masuk ke pikiran-pikiran orang awam yang lalai yang tercemari pemikiran materialis — ia berbelok ke jalan pengingkaran ketuhanan demi kepentingan alam semesta dan materi.
Kedua:
Mazhab wahdatul-wujud menolak rububiyah segala selain Allah (masiwa) dengan sedemikian kerasnya sehingga ia mengingkari masiwa dan menghapus dualitas. Sementara ia berarti tidak memandang keberadaan mandiri bukan hanya nafsu-nafsu amarah, melainkan setiap sesuatu, pada masa ini — dengan serbuan pemikiran naturalisme (tabiat), dengan penggembungan nafsu amarah oleh keangkuhan dan keakuan, serta dengan sedikit melupakan akhirat dan Sang Pencipta — mengajarkan wahdatul-wujud kepada manusia yang sebagian nafsu amarahnya menjadi firaun-firaun kecil, yang hampir-hampir memiliki potensi menjadikan nafsunya sebagai sesembahan, akan memanjakan nafsu amarah — na'ûdzu billâh — sedemikian rupa sehingga ia tak terkendali.
Ketiga:
Ia menjadi sebab bagi berbagai bayangan yang tidak sesuai dengan kewajiban keberadaan (wujûb-u wujûd) serta kesucian dan ketersuciannya Dzat Pemilik Keagungan — yang mahasuci, tersucikan, terbebas, dan mahatinggi dari perubahan, pergantian, pembagian, dan penempatan ruang — dan menjadi sumber bagi pengajaran-pengajaran yang batil. Ya, orang yang membicarakan wahdatul-wujud; dengan pikiran naik dari bumi ke bintang Tsurayya, meninggalkan alam semesta di belakangnya dan menancapkan pandangannya ke 'Arasy Yang Mahatinggi, secara tenggelam (istighraq) dapat menganggap alam semesta sebagai tiada dan melihat segala sesuatu secara langsung dari Yang Maha Esa lagi Tunggal (Wâhid-i Ahad) dengan kekuatan iman. Sekiranya tidak, maka orang yang berdiri di belakang alam semesta lalu memandang alam semesta, yang melihat sebab-sebab di hadapannya, dan yang memandang dari bumi, tentu memiliki kemungkinan tenggelam di dalam sebab-sebab dan terjatuh ke rawa naturalisme. Orang yang dengan pikirannya naik ke 'Arasy, dapat berkata seperti Jalaluddin Rumi: "Bukalah telingamu! Kata-kata yang engkau dengar dari setiap orang, dapat engkau dengar dari Allah bagaikan fonograf-fonograf fitri." Sekiranya tidak, jika engkau berkata kepada seorang yang tidak dapat naik setinggi ini seperti Jalaluddin dan tidak melihat segala yang maujud dari bumi hingga 'Arasy dalam bentuk cermin, "Pasanglah telinga, engkau akan mendengar Kalâmullah dari setiap orang," maka ia akan terjerat dalam bayangan-bayangan batil yang menyalahi hakikat, seakan-akan secara maknawi jatuh dari 'Arasy ke bumi!..
قُلِ اللّٰهُ ثُمَّ ذَرْهُمْ فِى خَوْضِهِمْ يَلْعَبُونَ ❊ مَا للِتُّرَابِ وَ لِرَبِّ اْلاَرْبَابِسُبْحَانَ مَنْ تَقَدَّسَ عَنِ اْلاَشْبَاهِ ذَاتُهُ وَتَنَزَّهَتْ عَنْ مُشَابَهَةِ اْلاَمْثَالِ صِفَاتُهُ وَشَهِدَ عَلٰى رُبُوبِيَّتِهِ اٰيَاتُهُ جَلَّ جَلاَلُهُ وَلآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ
Said Nursî
Jawaban atas Sebuah Pertanyaan
Waktuku tidak memungkinkan untuk menimbang pemikiran Mustafa Sabri dan Musa Bigiyef. Aku hanya berkata sebatas ini: "Yang satu berlebih-lebihan (ifrat), yang lain terlalu mengurangi (tafrit)." Mustafa Sabri, dalam pembelaannya, memang lebih benar dibandingkan Musa Bigiyef; namun ia keliru dalam merendahkan seorang tokoh seperti Muhyiddin yang merupakan salah satu mukjizat ilmu-ilmu keislaman. Ya, Muhyiddin sendiri adalah seorang pemberi petunjuk (hâdî) dan diterima. Akan tetapi, dalam setiap kitabnya ia tidak selalu dapat menjadi pemberi petunjuk dan pembimbing. Karena dalam hakikat-hakikat ia sering berjalan tanpa timbangan, ia menyalahi kaidah-kaidah Ahlus-Sunnah. Dan sebagian ucapannya secara lahiriah mengungkapkan kesesatan, tetapi ia sendiri terbebas dari kesesatan. Terkadang suatu ucapan tampak sebagai kekafiran, tetapi pemiliknya tidak dapat disebut kafir. Mustafa Sabri tidak memperhatikan poin-poin ini. Dari sisi fanatisme terhadap kaidah-kaidah Ahlus-Sunnah, ia terlalu mengurangi (tafrit) pada beberapa poin. Adapun Musa Bigiyef, dengan pemikirannya yang sangat berpihak pada pembaruan (teceddüd) dan menyesuaikan diri dengan kemodernan, berjalan dengan sangat keliru. Ia menyelewengkan sebagian hakikat keislaman dengan takwil-takwil yang keliru. Karena ia menempatkan seorang yang tertolak seperti Abul-'Alâ al-Ma'arri di atas para muhaqqiq (ulama peneliti), dan karena keberpihakannya yang berlebihan pada persoalan-persoalan Muhyiddin yang menyalahi Ahlus-Sunnah yang sesuai dengan pemikirannya, ia berlebih-lebihan (ifrat) secara berlebihan. قَالَ مُحْيِى الدّ۪ينِ: تَحْرُمُ مُطَالَعَةُ كُتُبِنَا عَلٰى مَنْ لَيْسَ مِنَّا yakni: "Siapa yang bukan dari golongan kami dan tidak mengetahui kedudukan kami, janganlah ia membaca kitab-kitab kami, karena ia akan merugi." Ya, pada masa ini, membaca kitab-kitab Muhyiddin, khususnya persoalan-persoalannya mengenai wahdatul-wujud, adalah merugikan.
Said Nursî
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِ Aku menjelaskan suatu keadaan yang tersingkap di hadapan pandangan khayalanku ketika aku memandang dari jendela penjara pada suatu malam hari raya yang sangat gemerlap, melalui lensa kecemasan akan masa depan dan pandangan jauh ke akibat (akhir), terhadap tawa-tawa jenis manusia yang seharusnya ditangisi.
Sebagaimana di bioskop tampak keadaan kehidupan orang-orang yang di zaman dahulu terbaring di pemakaman, aku seakan-akan melihat jenazah-jenazah bergerak dari orang-orang yang dalam masa depan yang dekat akan menjadi penghuni pemakaman. Aku menangisi orang-orang yang tertawa itu. Tiba-tiba datanglah suatu perasaan ngeri dan iba. Aku kembali ke akalku, lalu bertanya kepada hakikat: "Khayalan apakah ini?" Hakikat berkata:
Lima puluh tahun kemudian, dari orang-orang malang yang tertawa dan bersenang-senang dengan penuh kegembiraan ini, lima dari setiap lima puluh akan menjadi seperti orang-orang tua berusia tujuh puluh tahun yang punggungnya membungkuk; dan empat puluh lima akan telah membusuk di pemakaman. Wajah-wajah yang indah itu, tawa-tawa yang penuh kegembiraan itu, akan telah berubah menjadi kebalikannya. Dengan kaidah كُلُّ اٰتٍ قَر۪يبٌ; karena melihat hal-hal yang akan datang dalam waktu dekat seolah telah datang adalah suatu hakikat sampai taraf tertentu; maka tentu apa yang engkau lihat bukanlah khayalan. Karena tawa-tawa dunia yang penuh kelalaian adalah tabir bagi keadaan-keadaan pahit yang seharusnya ditangisi semacam ini, dan bersifat sementara serta terpapar kefanaan; maka tentu yang akan membuat kalbu manusia malang yang mendamba keabadian dan ruhnya yang tergandrung pada cinta kekekalan tertawa dan bergembira, adalah hiburan-hiburan dalam lingkup yang disyariatkan yang penuh syukur, penuh kehadiran hati, tanpa kelalaian, dan tak berdosa; serta kegembiraan-kegembiraan yang tetap kekal dari sisi pahala. Karena itulah, agar kelalaian tidak menguasai dan agar seseorang tidak menyimpang ke lingkup yang tidak disyariatkan pada hari-hari raya, dalam riwayat-riwayat terdapat anjuran yang sangat besar untuk berzikir kepada Allah dan bersyukur. Agar; pada hari-hari raya seseorang mengubah nikmat kegembiraan dan suka itu menjadi syukur, lalu melanggengkan dan menambah nikmat itu. Sebab syukur menambah nikmat dan mengusir kelalaian.
Said Nursî
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِاِنَّ النَّفْسَ َلاَمَّارَةٌ بِالسُّوءِ
Artinya:{(Catatan): Bagian ini pun bermanfaat bagi setiap orang.} Ini adalah suatu poin dari ayat "Nafsu senantiasa mendorong kepada hal-hal yang buruk," sekaligus dari hadis اَعْدٰى عَدُوِّكَ نَفْسُكَ الَّتِى بَيْنَ جَنْبَيْكَ yang maknanya yang mulia: "Musuhmu yang paling merugikan adalah nafsumu."
Orang yang mengagumi dan mencintai nafsunya sendiri — dengan syarat ia memiliki nafsu amarah yang belum disucikan — tidak mencintai orang lain. Sekalipun secara lahiriah ia mencintai, ia tidak dapat mencintai secara tulus; melainkan ia mencintai kemanfaatan dan kelezatan yang ada padanya. Ia senantiasa berupaya agar dirinya dikagumi dan dicintai, dan tidak mengaitkan kekurangan kepada nafsunya; melainkan bagaikan seorang pengacara, ia membela dan membersihkan dirinya. Dengan berbagai kelebih-lebihan, bahkan dengan kebohongan, ia memuji dan menyucikan nafsunya sehingga hampir-hampir mengkuduskannya, dan — sekadar derajatnya — ia menerima suatu tamparan dari ayat مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهُ هَوٰيهُ. Adapun pujiannya terhadap diri dan upayanya agar dicintai, justru dengan reaksi berlawanan menarik kebencian, dan membuat dirinya dipandang dingin. Dan dalam amal ukhrawi ia kehilangan keikhlasan dan mencampurkannya dengan riya. Karena kalah oleh perasaan dan hawa nafsu yang tidak melihat akibat, tidak memikirkan hasil, dan tergandrung pada kelezatan sesaat; dengan fatwa perasaan yang telah tersesat jalannya, ia berbaring setahun di penjara demi kelezatan satu jam. Karena keangkuhan atau dendam satu menit, ia menerima hukuman sepuluh tahun. Bagaikan seorang anak yang menuruti hawa nafsu, yang menjual Juz Amma yang ia pelajari demi sebutir permen; ia menjadikan kebaikan-kebaikannya yang bernilai berlian sebagai perantara bagi kelezatan-kelezatan dan keakuan yang berkedudukan sebagai pecahan-pecahan kaca tak berarti — untuk membelai perasaannya, untuk menyenangkan hawa nafsunya, dan untuk memuaskan seleranya — sehingga ia merugi dalam urusan-urusan yang sesungguhnya menguntungkan. اَللّٰهُمَّ احْفَظْنَا مِنْ شَرِّ النَّفْسِ وَالشَّيْطَانِ وَمِنْ شَرِّ الْجِنِّ وَاْلاِنْسَانِ
PERTANYAAN:
Bagaimana bisa dianggap adil, penjara dalam waktu yang tak terhingga di Neraka sebagai balasan atas kekafiran dalam waktu yang singkat?
JAWABAN:
Sementara — dengan perhitungan setahun tiga ratus enam puluh lima hari — hukum keadilan menuntut bahwa pembunuhan dalam satu menit [berbalas] penjara tujuh juta delapan ratus delapan puluh empat ribu menit; maka karena kekafiran satu menit berkedudukan sebagai seribu pembunuhan, seorang lelaki yang menghabiskan dua puluh tahun umurnya dalam kekafiran dan mati dalam kekafiran, menurut hukum keadilan manusia layak menerima penjara lima puluh tujuh triliun dua ratus satu miliar dua ratus juta tahun. Tentu, dari sini dapat dipahami sisi kesesuaian خَالِد۪ينَ ف۪يهَٓا اَبَدًا dengan keadilan Ilahi.
Rahasia hubungan dua bilangan yang sangat berjauhan satu sama lain adalah ini: Karena pembunuhan dan kekafiran merupakan penghancuran dan pelanggaran, ia memberikan pengaruh kepada selain diri. Pembunuhan dalam satu menit, sekurang-kurangnya menurut kebiasaan lahiriah, merampas lima belas tahun kehidupan orang yang terbunuh, dan sebagai gantinya ia masuk penjara. Karena kekafiran satu menit adalah pengingkaran terhadap seribu satu nama Ilahi, pelecehan terhadap ukiran-ukiran-Nya, pelanggaran terhadap hak-hak alam semesta, pengingkaran terhadap kesempurnaan-kesempurnaannya, pendustaan terhadap dalil-dalil ketauhidan yang tak terhingga, serta penolakan terhadap kesaksian-kesaksiannya.. maka ia melemparkan si kafir ke tempat yang serendah-rendahnya (asfalus-sâfilîn) lebih dari ribuan tahun, dan memenjarakannya dalam خَالِد۪ينَ.
Said Nursî
Sebuah tawafuk halus yang bermakna
Pada pasal ke-163 yang dengannya mereka menuduh murid-murid Risale-i Nur dan menuntut hukuman bagi mereka, jumlah 163 anggota parlemen dari 200 anggota parlemen yang mengusulkan pemberian seratus lima puluh ribu lira kepada madrasah penulis Risale-i Nur bertawafuk (bersesuaian angka); dan secara maknawi tawafuk itu berkata: Tanda tangan penuh penghargaan dari 163 anggota parlemen Pemerintah Republik membatalkan hukum pasal undang-undang ke-163 dalam kaitannya dengan dirinya.
Dan termasuk tawafuk halus yang bermakna pula bahwa 128 bagian Risale-i Nur membentuk 115 bagian kitab. Mengingat bahwa tanggal permulaan penahanan murid-murid dan penulis Risale-i Nur adalah 27 April 1935, dan tanggal putusan serta vonis pengadilan adalah 19 Agustus 1935 — yaitu berjumlah 115 hari — di samping bertawafuk dengan jumlah kitab Risale-i Nur, ia juga bertawafuk tepat dengan jumlah 115 orang yang disidik dan ditunjukkan sebagai tersangka.. hal itu memperlihatkan bahwa: musibah yang menimpa penulis dan murid-murid Risale-i Nur diatur oleh suatu tangan pemeliharaan.
{(Catatan): Patut diperhatikan bahwa: sebagian penahanan murid-murid Risale-i Nur dimulai pada tanggal 25 April 1935, dan meskipun dalam surat keputusan ditunjukkan 117 orang sebagai tersangka, mengingat nama dua orang berulang, dengan demikian jumlah murid — 117 orang — bertawafuk dengan 117 hari dari penahanan bagian itu hingga tanggal vonis, sehingga menambahkan satu keindahan lagi pada tawafuk-tawafuk sebelumnya.}
Karena pada awal Lem'a ini Imam Ali (r.a.) mengisyaratkan kepada Risale-i Nur, salah seorang saudara kami dengan kerinduan yang menggebu telah menamai Risale-i Nur dengan nama "Elmas Cevher Nur (Cahaya Permata Berlian)" dan menuliskannya berulang-ulang. Dipandang tepat untuk mencantumkannya di akhir Lem'a ini:
Seorang murid yang berada dalam lingkup ketakwaan, sekalipun ia gila, dapatkah gerangan ia berpisah dari cahaya Risale-i Nur dan berlian yang berharga itu? Aku memperkirakan bahwa: jarang ada orang yang mencicipi karamah, keutamaan, dan kelezatan Risale-i Nur serta memetik buah manisnya sebanyak muridmu yang tak berdaya ini. Dan bersama ketidakberdayaanku yang sedemikian rupa, meskipun aku tidak dapat melayani Risale-i Nur, aku berutang syukur atas perhatian yang telah engkau tunjukkan. Oleh karena itu, bukan hanya aku, tidak seorang pun muridmu dapat berpisah dari Risale-i Nur, dari berlian yang penuh berkah itu, dan dari kelezatan itu.
Dengan bersandar pada maafmu: dalam penggeledahan Risale-i Nur kali ini, dua karamah telah muncul secara nyata: Ketika polisi, gendarmerie, dan para sipir melakukan penggeledahan yang dahsyat di dalam penjara, pada saat itu tanpa dilihat siapa pun, putra saudariku yang berusia tujuh delapan tahun memasukkan salinan-salinan Risale-i Nur ke dalam tas sekolahnya lalu membawanya pergi. Penggeledahan berlangsung di kamarku. Anak itu datang ke kamar, dan ketika melihat kepanikan di kamar, ia memasukkan naskah-naskah Risale-i Nur yang tersimpan terpisah di suatu sudut kamar ke dalam tasnya; dan tak seorang pun dari para petugas di dalam menyadarinya, mereka pun tidak berkata apa-apa kepada anak itu. Anak yang penuh pengorbanan itu langsung pergi kepada ibunya. "Aku membawa naskah-naskah Risale-i Nur yang selalu dibacakan pamanku kepada kami. Katanya mereka akan mengambilnya. Aku mengambilnya tanpa sepengetahuan mereka, ketika mereka sedang memeriksa surat dan kitab lain, lalu kumasukkan ke dalam tasku. Simpanlah ini baik-baik di suatu tempat, jagalah. Aku sangat menyukai pembacaan naskah-naskah ini. Pamanku membacakannya kepada kami. Ketika ia membaca, aku memperoleh suatu keadaan yang berbeda." — demikian ia berkata kepada ibunya, lalu kembali ke sekolahnya. Berkat hal ini, Cahaya-Cahaya Permata Berlian itu tidak jatuh ke tangan mereka. Jika ini bukan karamah, lalu apa? Jika ini bukan suatu mukjizat Qur'ani, lalu apa? Gerangan pada karya tulis manakah terdapat keutamaan ini, kelezatan ini, dan Permata Berlian ini, dan dari mulut tokoh manakah selama ini tercurah Cahaya-Cahaya Permata Berlian ini? Aku pun; bukan hanya penjara, demi Cahaya-Cahaya Permata Berlian ini aku menerima dengan senang hati setiap pengorbanan, setiap saat, setiap menit. Setelahku, anakku Emin pun siap mencurahkan seluruh hidupnya di jalan Cahaya-Cahaya Permata Berlian ini.
Nah, dengan membuktikan karamah kedua Cahaya Permata Berlian ini, aku membuktikan bahwa kerabatku dan anak-anakku — dari usia tiga hingga delapan tahun — akan berkorban demi Cahaya-Cahaya Permata Berlian ini dan akan mengorbankan hidup mereka di jalan ini tanpa berpikir panjang. Sebab ketika aku membaca Cahaya Permata Berlian ini, mereka semua berkumpul di sekelilingku. Aku menyayangi mereka dan memberi masing-masing secangkir teh; lalu aku melanjutkan membaca Cahaya Permata Berlian ini. Mereka semua serentak bertanya, "Ini apa? Tulisan apakah tulisan ini?" Maka aku berkata, "Ini adalah Cahaya Permata Berlian!" lalu aku mulai membacakannya kepada mereka. Ketika membaca Kelimat Kesepuluh, berjam-jam telah berlalu. Anak-anak, karena penasaran, ketika tidak dapat memahami, langsung bertanya kepadaku. Ketika aku menjelaskan Cahaya Permata Berlian ini dengan cara yang dapat mereka pahami, rona wajah anak-anak berubah warna-warni dan menjadi indah. Dan aku, setiap kali memandang wajah anak-anak, melihat pada masing-masing mereka sesosok Said yang bercahaya.
Ketika dalam pertanyaan mereka, mereka bertanya, "Yang mana Cahaya (Nur)? Yang mana Permata (Cevher), dan yang mana Berlian (Elmas)?"; kujawab: "Ya, Cahaya adalah membaca ini. Lihatlah, telah muncul suatu keindahan pada diri kalian." Mereka pun saling memandang wajah satu sama lain, lalu membenarkannya. "Lalu apa Berlian? Yaitu menuliskan kata-kata ini. Ketika itu, yakni ketika kalian menuliskannya, tulisan-tulisan kalian menjadi berharga bagaikan berlian." Mereka membenarkannya. "Lalu apa Permata? Nah, itu adalah iman yang kalian peroleh dari kitab ini." Mereka semua serentak mengucapkan syahadat. Dalam perbincangan ini tiga empat jam telah berlalu, dan aku tidak menyadarinya.
Nah, inilah Cahaya Permata Berlian — demikian kataku. Mereka membenarkannya. Mereka semua serentak memandangku dan berkata, "Siapa yang menulis ini?"
Muridmu yang tak berdaya
Şefik
Mimpi Zekâi
Pagi ini dalam mimpiku, aku berada di tepi sebuah laut yang jernih dan bening yang menyerupai pantai Tophane di Istanbul. Cahaya Matahari — yang kuduga sedang berada pada waktu duha — menimbulkan kilauan-kilauan yang indah di atas lautan yang mahabesar itu.
Aku menghadap ke lautan. Seorang pemuda yang berenang ke pantai dari arah tengah dan selatan laut, menurunkan sebuah bajak dari pundaknya ke pantai. Ketika di sana seluruh saudara kami sedang disambut (setelah pembebasan), menyusuri tepi pantai, dari arah barat datang dua penunggang kuda dengan kecepatan penuh. "Ustad datang!" kata mereka. Kerumunan ini terbelah, dan tanpa berhenti sama sekali, dua tokoh berkuda hitam yang gagah dan berwajah sawo matang itu menjauh ke arah timur. Aku terbangun ketika hendak menyelam ke lautan itu.
Zekâi
Ini adalah balasan terhadap kata-kata yang diucapkan secara berpihak dan menyaingi Risale-i Nur.
Jika maksudmu memuji diri sendiri dengan bangga, / Kalian hanyalah satelit bintang Risale-i Nur yang paling redup. / Jangan sekali-kali menyangkanya planet, saudaraku; milik Risale-i Nur / bukan Bumi, bahkan Matahari pun adalah satelitnya. / Sebentar lagi Risale-i Nur akan bersinar di alam ini, / ia tak padam, hanya tersembunyi, karena ia cahaya di atas cahaya (nûrun 'alâ nûr). / Suatu cahaya yang merupakan lautan hakikat dan hidayah yang murni; / bacalah مَنْ اَصْحَابُ الصِّرَاطِ السَّوِىِّ وَ مَنِ اهْتَدٰى. / Tiada keluhan terhadap Al-Haqq, maksudnya hanyalah penuturan; / ketika aku berjalan di atas syariat, diketahui oleh Al-Haqq / bahwa aku pun telah berkhidmat kepada Risale-i Nur. / Risale-i Nur, yang kepadanya Ali al-Murtada dan Gaus A'zam / telah mengisyaratkan dalam Celcelutiye dan sebagian kasidah. / Risale-i Nur, tali pegangan yang paling kokoh yang tak terputus (urwatul-wutsqa); / karena aku telah berpegang teguh padanya, ia hidayah dan hakikat itu sendiri. / Mereka menempatkan kami di tempat Yusuf 'alaihis-salâm pernah berdiam; / dan Hazrat Ustad pun bersama kami.
Halil İbrahim