Risale-i NurLem'alar

POIN KEDUA PULUH DELAPAN DARI LEM'A KEDUA PULUH DELAPAN:

Lem'alar · hlm. 515

280 — Sebagaimana dipahami dari ayat yang mulia لاَ يَسَّمَّعُونَ اِلَى اْلَمَـَلاِ اْلاَعْلٰى وَيُقْذَفُونَ مِنْ كُلِّ جَانِبٍ ❊ دُحُورًا وَلَهُمْ عَذَابٌ وَاصِبٌ ❊ اِلاَّ مَنْ خَطِفَ الْخَطْفَةَ فَاَتْبَعَهُ شِهَابٌ ثَاقِبٌ ❊ وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَٓاءَ الدُّنْيَا بِمَصَاب۪يحَ وَجَعَلْنَاهَا رُجُومًا لِلشَّيَاط۪ينِ: Bagaimana secara akal dan hikmah dapat diterima bahwa — untuk memperoleh kabar tentang peristiwa-peristiwa gaib yang parsial dan terkadang pribadi — setan-setan mata-mata diselundupkan ke negeri langit yang jaraknya teramat jauh, dan seolah-olah pembicaraan tentang peristiwa parsial itu ada di setiap penjuru negeri yang teramat luas itu, setan mana pun, di tempat mana pun ia diselundupkan, mendengar dan membawa kabar itu secara setengah-setengah? Selain itu, menurut ayat yang mulia, sebagian nabi dan wali mengambil buah-buah Surga yang berada di atas langit seolah-olah mengambilnya dari suatu tempat yang dekat. Dan terkadang mereka menyaksikan Surga dari dekat. Bagaimana suatu hal yang teramat jauh menjadi teramat dekat dapat termuat dalam akal abad ini? Selain itu, bagaimana suatu keadaan parsial dari seorang pribadi parsial menjadi bahan pembicaraan di Mala-i A'lâ (Perhimpunan Tertinggi) di negeri langit yang universal lagi luas, dapat sesuai dengan hikmah yang teramat bijaksana dalam pengelolaan alam semesta? — ia mengandung jawaban-jawaban yang teramat ilmiah, akli, lagi meyakinkan terhadap pertanyaan berkepala tiga ini.