Risale-i NurLem'alar

Persoalan Pertamanya:

Lem'alar · hlm. 434

Jika kita ingin melihat kilasan teragung Ismul-Qayyûm, kita menjadikan khayal kita dua teropong yang akan menyaksikan seluruh alam semesta — yang satu memperlihatkan benda-benda yang terjauh, dan yang lain memperlihatkan atom-atom yang terkecil — lalu kita memandang dengan teropong pertama, dan kita melihat bahwa: dengan kilasan Ismul-Qayyûm, jutaan bola dan bintang yang seribu kali lebih besar daripada Bola Bumi, tanpa tiang, di dalam materi eter yang lebih halus daripada udara, sebagiannya dihentikan dan sebagiannya dijalankan untuk suatu tugas. Kemudian kita memandang dengan teropong kedua — yang merupakan mikroskop khayal itu — dengan cara yang akan memperlihatkan atom-atom kecil. Dengan rahasia qayyûmiyah itu, atom-atom penyusun tubuh setiap makhluk hidup di bumi mengambil suatu posisi yang teratur bagaikan bintang-bintang, bergerak, dan menjalankan berbagai tugas. Khususnya, kita melihat massa-massa kecil yang tersusun dari atom-atom yang mereka istilahkan "sel darah merah dan putih" (küreyvat-ı hamra ve beyza) di dalam darah makhluk hidup, bergerak bagaikan bintang-bintang beredar dengan dua gerak teratur bagaikan Mevlevi (berputar).

Suatu ikhtisar dari segala ikhtisar:

{(Catatan): Ini adalah suatu ikhtisar yang teramat singkat dari enam nama suci yang menjadi dasar dan pokok bahasan enam risalah kecil Lem'a Ketiga Puluh serta yang mengemban rahasia Ismul-A'zam.} Untuk memandang cahaya suci yang dibentuk oleh enam nama Ismul-A'zam yang berbaur bagaikan tujuh warna dalam cahaya, tepatlah untuk menyebutkan suatu ikhtisar. Yakni sebagai berikut:

Pandanglah di balik kilasan teragung Ismul-Qayyûm ini — yang menghentikan segenap yang maujud di alam semesta demikian, serta memberi kekekalan dan penegakan: kilasan teragung Ismul-Hayy telah menyalakan seluruh yang maujud hidup itu dengan kilasannya, menyinari alam semesta, dan menyepuh seluruh yang maujud hidup dengan kilasannya. Kini pandanglah: di balik Ismul-Hayy, kilasan teragung Ismul-Fard memasukkan seluruh alam semesta dengan segenap jenis dan bagiannya ke dalam suatu kesatuan; membubuhkan pada dahi segala sesuatu suatu meterai kesatuan; membubuhkan pada wajah segala sesuatu suatu stempel ahadiyah; dan membuat kilasannya diumumkan dengan lidah-lidah yang tak berpenghujung lagi tak terhingga. Kini pandanglah di balik Ismul-Fard kepada kilasan teragung Ismul-Hakam: bahwa ia — dari bintang-bintang hingga atom-atom — telah memasukkan setiap yang maujud yang kita saksikan dengan dua teropong khayal itu, baik parsial maupun universal, dari lingkaran terbesar hingga lingkaran terkecil, secara layak dan sesuai bagi masing-masingnya, ke dalam suatu tatanan yang berbuah, suatu keteraturan yang penuh hikmah, dan suatu keserasian yang berhasil; ia telah menghiasi dan menyepuh segenap yang maujud. Kemudian pandanglah di balik kilasan teragung Ismul-Hakam: bahwa dengan kilasan teragung Ismul-'Adl (sebagaimana dijelaskan dalam Poin Kedua), Dia mengelola seluruh alam semesta beserta segala yang maujud di dalam aktivitas abadi dengan timbangan, ukuran, dan takaran yang begitu menakjubkan, sehingga seandainya salah satu benda samawi kehilangan keseimbangannya selama satu detik saja — yakni keluar dari bawah kilasan Ismul-'Adl — niscaya akan menyebabkan kekacauan di antara bintang-bintang dan meletusnya suatu kiamat. Nah, dari lingkaran terbesar segenap yang maujud — mulai dari zona besar (mıntıka-i kübra) yang disebut Kehkeşan, yaitu Bimasakti — hingga lingkaran gerak sel darah merah dan putih di dalam darah, setiap lingkarannya, setiap yang maujudnya, dengan suatu bentuk dan posisi yang terpotong menurut suatu timbangan dan ukuran yang teliti — dari ujung ke ujung, mulai dari pasukan bintang hingga pasukan atom — memperlihatkan bahwa segenap yang maujud menaati titah-titah yang datang dari perintah "Kun Fayakûn" dengan kepatuhan yang sempurna. Kini pandanglah di balik kilasan teragung Ismul-'Adl (sebagaimana dijelaskan dalam Poin Pertama) kepada kilasan teragung Ismul-Quddûs: bahwa ia menjadikan dan memperlihatkan segenap yang maujud di alam semesta begitu bersih, suci, jernih, indah, terhias, lagi bening, sehingga ia telah memberikan kepada segenap alam semesta dan segenap yang maujud bentuk cermin-cermin indah yang layak bagi keindahan zati Al-Jamîl Al-Mutlak yang tak terhingga dan sesuai bagi Asmaul Husna-Nya yang teramat indah.

Kesimpulannya: enam nama dan enam nur Ismul-A'zam ini telah menyelimuti alam semesta dan segala yang maujud di dalam tabir-tabir bersepuh yang terdapat dalam aneka warna indah, beragam ukiran, dan bermacam-macam hiasan.