Risale-i NurLem'alar

Persoalan Kedua dari Sinar Kelima:

Lem'alar · hlm. 436

Sebagaimana kilasan qayyûmiyah yang bertajalli pada alam semesta berada pada titik wâhidiyah dan keagungan (celal), demikian pula pada manusia — yang merupakan pusat, poros, dan buah berkesadaran alam semesta — kilasan qayyûmiyah memiliki penampakan pada titik ahadiyah dan keindahan (cemal). Yakni, sebagaimana alam semesta tegak dengan rahasia qayyûmiyah.. demikian pula dengan manusia — yang merupakan penerima tersempurna Ismul-Qayyûm — alam semesta dalam suatu sisi memperoleh penegakannya; yakni, karena kebanyakan hikmah, kemaslahatan, dan tujuan alam semesta memandang kepada manusia, maka seolah-olah kilasan qayyûmiyah pada manusia adalah suatu tiang bagi alam semesta. Ya, dapat dikatakan bahwa Zat Al-Hayy Al-Qayyûm menghendaki manusia di alam semesta ini dan menciptakan alam semesta untuknya. Sebab, manusia — dengan kemencakupan yang sempurna — memahami dan merasakan seluruh Asma Ilahi. Khususnya dari sisi cita rasa dalam rezeki, ia memahami banyak sekali Asmaul Husna. Padahal para malaikat tidak dapat mengetahuinya dengan cita rasa itu.

Nah, justru kemencakupan manusia yang penting inilah: Zat Al-Hayy Al-Qayyûm — untuk membuat manusia merasakan seluruh Asma-Nya dan mencicipkan seluruh jenis anugerah-Nya — telah memberinya suatu lambung yang begitu berselera, sehingga Dia memenuhi hidangan luas lambung itu dengan aneka makanan yang tak terhingga secara mulia. Selain itu, seperti lambung jasadi ini, Dia pun menjadikan kehidupan sebagai suatu lambung. Bagi lambung kehidupan itu, dengan indra-indra yang berkedudukan sebagai tangan, Dia membentangkan suatu hidangan nikmat yang teramat luas. Adapun kehidupan itu, melalui indra-indranya, dengan segala macam pemanfaatan dari hidangan nikmat itu, melakukan setiap jenis rasa syukur. Dan setelah lambung kehidupan ini, Dia memberikan suatu lambung kemanusiaan, yang lambung itu menuntut rezeki dan nikmat dalam suatu lingkup yang lebih luas daripada kehidupan. Akal, pikiran, dan khayal — yang berkedudukan sebagai tangan lambung itu — memanfaatkan hidangan rahmat itu seluas langit dan bumi, lalu bersyukur. Dan setelah lambung kemanusiaan, untuk membentangkan suatu hidangan nikmat lain yang teramat luas, Dia menjadikan akidah-akidah Islam dan iman sebagai suatu lambung maknawi yang menuntut banyak rezeki, lalu memperluas lingkup hidangan rezekinya hingga ke luar lingkup segala yang mungkin (mümkinat), dan menjadikannya mencakup pula Asma Ilahi; sehingga dengan lambung itu, ia merasakan Ismul-Rahmân dan Ismul-Hakîm dengan suatu cita rasa rezeki yang terbesar. Ia berkata: "Alhamdulillâhi 'alâ Rahmâniyyatihi wa 'alâ Hakîmiyyatihi" (Segala puji bagi Allah atas ke-Rahman-an-Nya dan atas ke-Hakim-an-Nya), dan demikian seterusnya.. dengan lambung maknawi yang besar ini, ia dapat memanfaatkan nikmat Ilahi yang tak terhingga; dan khususnya, cita rasa cinta Ilahi dalam lambung itu memiliki suatu lingkup yang lain lagi.

Nah, adapun hikmah dari Zat Al-Hayy Al-Qayyûm menjadikan manusia sebagai suatu pusat dan poros bagi segenap alam semesta, membentangkan bagi manusia suatu hidangan nikmat seluas alam semesta, menundukkan alam semesta kepada manusia, dan menegakkan alam semesta dalam suatu sisi dengan rahasia qayyûmiyah yang penerimaannya melalui manusia — adalah tiga tugas penting manusia:

Yang pertama:

Menata seluruh jenis nikmat yang tersebar di alam semesta melalui manusia — Dia menatanya bagaikan butir-butir tasbih dengan benang kemanfaatan manusia, mengikatkan ujung-ujung benang nikmat itu ke kepala manusia, dan menjadikan manusia sebagai suatu daftar bagi segenap ragam perbendaharaan rahmat.

Tugas Keduanya:

Menjadi lawan bicara yang paling sempurna bagi firman Zat Al-Hayy Al-Qayyûm — dari sisi kemencakupan manusia — menjadi seorang penyeru (dellâl) yang bersuara paling nyaring dengan menghargai dan memuji seni-seni-Nya yang menakjubkan, serta bersyukur, memuji, dan menyanjung atas segenap jenis nikmat-Nya dan aneka anugerah-Nya yang tak terhingga dengan segala jenis rasa syukur yang penuh kesadaran.

Tugas Ketiganya:

Menjadi cermin bagi Zat Al-Hayy Al-Qayyûm, keadaan-keadaan-Nya, dan sifat-sifat-Nya yang meliputi, melalui kehidupannya dari tiga sisi.

Sisi Pertama:

Yaitu manusia merasakan kekuasaan mutlak Penciptanya dan tingkatan-tingkatannya melalui kelemahan mutlaknya sendiri; dan (merasakan) tingkatan-tingkatan kekuasaan melalui derajat-derajat kelemahan. Dan memahami rahmat-Nya serta derajat-derajat rahmat-Nya melalui kefakiran mutlaknya, dan memahami kekuatan-Nya melalui kelemahannya. Dan demikian seterusnya.. menjadi cermin yang bersifat pengukur bagi sifat-sifat kesempurnaan Penciptanya melalui sifat-sifatnya yang serba kurang. Sebagaimana kegelapan malam menjadi cermin yang sempurna untuk memperlihatkan lampu-lampu listrik — mengingat cahaya bersinar lebih terang pada malam hari — demikian pula manusia, dengan sifat-sifatnya yang serba kurang seperti itu, menjadi cermin bagi kesempurnaan-kesempurnaan Ilahi.

Sisi Kedua:

Manusia, dengan iradah parsialnya, ilmunya yang sedikit, kekuasaannya yang kecil, kepemilikan lahiriahnya, dan pembangunan rumahnya, memahami dan menjadi cermin bagi kepemilikan, seni, iradah, kekuasaan, dan ilmu Sang Tukang alam semesta ini sebanding dengan kebesaran alam semesta.

Adapun cermin pada Sisi Ketiga memiliki dua wajah:

Yang pertama, memperlihatkan pada dirinya ukiran-ukiran Asma Ilahi yang beragam. Seolah-olah manusia, dengan kemencakupannya, berkedudukan sebagai suatu daftar isi kecil dan miniatur alam semesta, memperlihatkan ukiran-ukiran segenap Asma.

Wajah keduanya, menjadi cermin bagi keadaan-keadaan Ilahi. Yakni, sebagaimana ia mengisyaratkan kepada kehidupan Zat Al-Hayy Al-Qayyûm melalui kehidupannya sendiri, demikian pula melalui perantaraan indra-indra seperti pendengaran dan penglihatan yang tersingkap dalam kehidupannya, ia menjadi cermin bagi sifat-sifat Zat Al-Hayy Al-Qayyûm seperti pendengaran dan penglihatan, dan memberitahukannya. Selain itu, melalui perantaraan indra, makna, dan perasaan kehidupan yang teramat halus — yang terdapat dalam kehidupan manusia, yang tidak tersingkap, yang bergolak dalam bentuk perasaan dan kepekaan, dan yang ada dalam jumlah yang banyak — ia menjadi cermin bagi keadaan-keadaan suci Zat Al-Hayy Al-Qayyûm. Misalnya: di dalam kepekaan itu, dengan makna-makna seperti mencintai, merasa bangga, merasa senang, merasa gembira, dan merasa lega — dengan syarat bahwa hal itu layak dan sesuai bagi kesucian dan kemandirian mutlak Zat Yang Maha Suci — ia menjadi cermin bagi keadaan-keadaan dari jenis itu.

Selain itu, sebagaimana manusia — dengan kehidupannya yang mencakup — adalah suatu alat ukur makrifat bagi sifat dan keadaan Zat Yang Maha Agung, suatu daftar isi bagi kilasan Asma-Nya, dan sebuah cermin yang berkesadaran..

dan demikian seterusnya, ia menjadi cermin bagi Zat Al-Hayy Al-Qayyûm dari banyak sisi. Demikian pula: manusia adalah suatu satuan pembanding (vâhid-i kıyasî), suatu daftar isi, suatu alat ukur, dan suatu timbangan bagi hakikat-hakikat alam semesta ini. Misalnya: suatu dalil keberadaan yang teramat pasti dan suatu contoh Lauhul-Mahfuz di alam semesta adalah daya ingat (kuvve-i hâfıza) pada manusia; dan suatu dalil serta contoh yang pasti bagi keberadaan alam mitsal (âlem-i misal) adalah daya khayal (kuvve-i hayaliye) {(Catatan): Ya, sebagaimana unsur-unsur manusia memberitakan tentang unsur-unsur alam semesta; tulang-tulangnya tentang batu dan karang; rambutnya tentang tumbuhan dan pepohonan; dan darah yang mengalir dalam tubuhnya serta air yang berbeda-beda yang mengalir dari mata, telinga, hidung, dan mulutnya, memberitakan tentang mata air dan air mineral bumi — menunjukkan dan mengisyaratkan kepadanya. Persis demikian pula; ruh manusia memberitakan tentang alam ruh, daya ingatnya tentang Lauhul-Mahfuz, dan daya khayalnya tentang alam mitsal.. dan demikian seterusnya, setiap perangkatnya memberitakan tentang suatu alam. Dan mereka menjadi saksi yang pasti atas keberadaan alam-alam itu.} dan suatu dalil keberadaan serta contoh makhluk-makhluk ruhani di alam semesta adalah daya-daya (kuvve) dan lathîfah-lathîfah (latife) pada manusia, dan demikian seterusnya... Manusia, dalam suatu ukuran kecil, dapat memperlihatkan hakikat-hakikat keimanan di alam semesta hingga taraf penyaksian (syuhud).

Nah, manusia memiliki khidmat-khidmat yang sangat penting seperti tugas-tugas yang telah disebutkan. Ia adalah cermin bagi Keindahan Yang Kekal, penyeru sekaligus penerima (dellâl-ı mazhar) bagi Kesempurnaan Yang Abadi, dan makhluk yang membutuhkan lagi bersyukur (muhtâc-ı müteşekkir) bagi Rahmat Yang Abadi. Selama keindahan, kesempurnaan, dan rahmat itu kekal lagi abadi; niscaya manusia — yang merupakan cermin yang merindukan Keindahan Yang Kekal itu, penyeru yang mencintai Kesempurnaan Yang Abadi itu, dan makhluk yang membutuhkan lagi bersyukur bagi Rahmat Yang Abadi itu — untuk tetap kekal, akan memasuki suatu negeri kekekalan, akan pergi menuju keabadian untuk menyertai yang kekal itu, dan haruslah menyertai keindahan abadi, kesempurnaan abadi, dan rahmat yang tetap itu di sepanjang keabadian (ebed-ül âbâd).

Sebab, suatu keindahan yang abadi tidak akan rida dengan seorang perindu yang fana dan seorang sahabat yang sirna. Sebab, keindahan — karena mencintai dirinya sendiri — menuntut cinta sebagai balasan atas cintanya. Adapun kesirnaan dan kefanaan mengubah dan membalikkan cinta itu menjadi permusuhan. Seandainya manusia tidak pergi menuju keabadian dan tetap kekal, niscaya sebagai ganti cinta yang mendasar terhadap keindahan abadi dalam fitrahnya, akan muncul permusuhan. Sebagaimana dijelaskan dalam catatan Kelimat Kesepuluh: Suatu ketika, seorang wanita cantik dunia mengeluarkan seorang pencintanya dari hadapannya. Cinta pada laki-laki itu seketika berubah menjadi permusuhan, dan ia berkata: "Cih!.. Betapa buruknya" — untuk menghibur dirinya, ia berpaling dengan kesal dari kecantikan wanita itu dan mengingkari kecantikannya. Ya, sebagaimana manusia memusuhi sesuatu yang tidak diketahuinya, demikian pula ia mencari-cari kekurangan secara penuh permusuhan pada hal-hal yang tak terjangkau tangannya atau tak dapat digenggamnya, seolah-olah ingin memusuhinya.

Selama — dengan kesaksian segenap alam semesta — Sang Kekasih Hakiki (Mahbûb-u Hakikî) dan Al-Jamîl Al-Mutlak mencintakan diri-Nya kepada manusia dengan segenap Asmaul Husna-Nya yang indah, dan menghendaki manusia mencintai-Nya; niscaya dan bagaimanapun juga, Dia tidak akan memberikan suatu permusuhan fitri kepada manusia — yang merupakan kekasih dan habib-Nya — lalu membuatnya kesal terhadap-Nya secara mendalam.. dan Dia tidak akan menaruh ke dalam ruh manusia suatu permusuhan tersembunyi yang sama sekali bertentangan dengan fitrah manusia — makhluk paling istimewa yang Dia ciptakan secara fitri sebagai yang paling menawan, penuh cinta, lagi (diciptakan) untuk beribadah. Sebab, manusia hanya dapat mengobati luka mendalam yang lahir dari perpisahan abadi dengan suatu Keindahan Mutlak yang dicintainya dan yang dihargainya — dengan memusuhi-Nya, kesal terhadap-Nya, dan mengingkari-Nya. Nah, permusuhan orang-orang kafir terhadap Allah berasal dari titik ini. Kalau begitu, bagaimanapun juga Keindahan Azali itu — agar dapat bersama manusia yang merupakan cermin perindu-Nya dalam perjalanan di sepanjang keabadian — pasti akan menjadikan manusia penerima suatu kehidupan kekal di suatu negeri kekekalan.

Ya, selama manusia diciptakan secara fitri dalam keadaan merindukan dan mencintai suatu Keindahan Yang Kekal.. dan selama suatu keindahan yang kekal tidak dapat rida dengan seorang perindu yang sirna.. dan selama manusia menenangkan dirinya — untuk menemukan hiburan dari kesedihan dan penderitaan yang datang dari suatu tujuan yang tak diketahui, tak terjangkau, atau tak dapat digenggamnya — dengan mencari-cari kekurangan tujuan itu, bahkan dengan memusuhinya secara tersembunyi.. dan selama alam semesta ini diciptakan untuk manusia, sedangkan manusia diciptakan untuk makrifat dan cinta Ilahi.. dan selama Pencipta alam semesta ini kekal dengan Asma-Nya.. dan selama kilasan-kilasan Asma-Nya akan senantiasa tetap, kekal, dan abadi; niscaya dan bagaimanapun juga manusia akan pergi menuju suatu negeri kekekalan dan akan menjadi penerima suatu kehidupan yang kekal. Dan Muhammad Al-'Arabî 'alaihis-salâtu was-salâm — pembimbing teragung dan manusia tersempurna yang memberitahukan nilai, tugas, dan kesempurnaan manusia — dengan memperlihatkan pada dirinya dan pada agamanya, dalam bentuk yang tersempurna, seluruh kesempurnaan dan tugas yang telah kami jelaskan mengenai manusia, memperlihatkan bahwa: sebagaimana alam semesta diciptakan untuk manusia dan yang dimaksud lagi terpilih dari alam semesta adalah manusia; demikian pula yang paling dimaksud, terpilih yang paling berharga, dan cermin Al-Ahad As-Samad yang paling cemerlang dari manusia, pastilah Ahmad-Muhammad. عَلَيْهِ وَ عَلٰٓى اٰلِهِ الصَّلاَةُ و السَّلاَمُ بِعَدَدِ حَسَنَاتِ اُمَّتِهِ يَٓا اَللّٰهُ يَا رَحْمٰنُ يَا رَح۪يمُ يَا فَرْدُ يَا حَىُّ يَا قَيُّومُ يَا حَكَمُ يَا عَدْلُ يَا قُدُّوسُنَسْئَلُكَ بِحَقِّ فُرْقَانِكَ الْحَك۪يمِ وَ بِحُرْمَةِ حَب۪يبِكَ اْلاَكْرَمِ وَ بِحَقِّ اَسْمَٓائِكَ الْحُسْنٰى وَ بِحُرْمَةِ اِسْمِكَ اْلاَعْظَمِ اِحْفَظْنَا مِنْ شَرِّ النَّفْسِ وَ الشَّيْطَانِ وَ مِنْ شَرِّ الْجِنِّ وَ اْلاِنْسَانِ اٰم۪ينَسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ