Risale-i NurLem'alar

Persoalan Kelima

Lem'alar · hlm. 480

dengan membuktikan melalui suatu perumpamaan yang indah bahwa memberikan suatu hasil atau kehormatan yang lahir dari usaha suatu jamaah kepada pemimpin atau ustaz jamaah itu adalah suatu kezaliman, baik terhadap jamaah maupun terhadap ustaz dan pemimpin itu.. dan bahwa ustaz — yang merupakan pemantul, sarana, dan perantara bagi cahaya dan limpahan karunia Allah Ta'ala — tidak boleh dianggap sebagai sumber, yang berkuasa, dan mata air; ia membuka jendela kepada hakikat keadaan dan memperlihatkannya.

NOTA KEEMPAT BELAS:

Ia adalah empat simbol kecil mengenai tauhid.

Simbol Pertama: dengan mengarahkan pandangan manusia yang berpandangan sempit, berpikiran cupet, berakal tanpa pertimbangan, lagi penyembah sebab kepada dalil-dalil wahdaniyah Ilahi, ia mengucapkan "Lâ ilâhe illallâhu wahdahu lâ syarîka lah" di atas suatu perumpamaan yang indah, dan membuktikan tauhid.

Simbol Kedua: dengan menafsirkan suatu rahasia dari يَا بَاق۪ٓى اَنْتَ الْبَاق۪ى, ia memperlihatkan cinta hakiki dan Sesembahan Yang Sebenar-benarnya (Mabûd-u Bilhakk) kepada manusia yang terjangkiti cinta majazi (aşk-ı mecazî).

Simbol Ketiga: ia adalah suatu ujung kecil dari suatu hakikat besar yang — dengan memperingatkan dan mengancam — menggiring manusia kepada kewaspadaan, karena bakat-bakat dan lathîfah-lathîfah kemanusiaan yang diciptakan pada kedudukan yang tinggi, yang dicalonkan bagi kehidupan kekal dan pemandangan-pemandangan abadi, terkadang menjadi tawanan hawa nafsu yang merupakan ketiadaan di dalam ketiadaan.

Simbol Keempat: dengan menyelamatkan ruh dan hati dari angan-angan panjang dan penderitaan masa lalu serta masa depan melalui suatu perumpamaan yang indah, ia menyerahkannya kepada perbendaharaan kalimat suci "Lâ ilâhe illallâh" yang menyembuhkan lagi menganugerahkan rahmat.

NOTA KELIMA BELAS:

Ia adalah "Tiga Persoalan".

Yang pertama: dengan ayat فَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَرَهُ ❊ وَمَنْ يَعْمَلْ مِثْقَالَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَرَهُ yang mengisyaratkan tajalli tersempurna dari Ismul-Hafîz, ia membuktikan secara pasti — dan memperlihatkan contohnya secara kasat mata kepada manusia yang memandang jauh terjadinya kebangkitan sebagai akibat sebagian sebab — bahwa: sebagaimana Al-Hafîz Yang Maha Agung memelihara benih-benih yang Dia ciptakan dan Dia tanam dengan ilmu azali-Nya di ladang Bola Bumi — meski benih-benih itu tak berdaya, tak terhingga lemah, dan kecil di dalam tanah yang pekat dan di hadapan dinginnya yang menyengat — lalu benih-benih itu datang pada kebangkitan musim semi seolah-olah datang dari suatu alam lain, dengan mematuhi perintah-perintah penciptaan; demikian pula perbuatan, jejak, perkataan, kebaikan, dan keburukan manusia — yang merupakan pengemban amanat terbesar, khalifah bumi, dan buah alam semesta — akan dipelihara dan dihadirkan ke medan perhitungan pada pagi kebangkitan.

Hâfız Ali