Risale-i NurLem'alar

MUKADIMAH:

Lem'alar · hlm. 489

Ia menjelaskan tiga dari kata-kata yang paling penting yang keluar dari mulut manusia, yang menyiratkan ketiadaan agama, dan yang digunakan ahli iman tanpa mereka sadari.

Kata Pertama: "Awjadat-hul-Asbâb", yakni sebab-sebab alam yang menciptakan.

Kata Kedua: "Tasyakkala Binafsihi", yakni terjadi dengan sendirinya.

Kata Ketiga: "Iqtadhat-hut-Tabî'ah", yakni tabiat (alam) menuntut lalu membuat.

Dengan menutup sepenuhnya tiga jalan yang dibuka oleh tiga kata yang dahsyat ini — melalui sembilan kemustahilan dari tiga kemustahilan pada masing-masingnya yang mengandung sekurang-kurangnya sembilan puluh kemustahilan — ia membuktikan, dengan perumpamaan-perumpamaan yang hakiki lagi halus, bahwa melalui jalan keempat, yaitu "Jalan Wahdaniyah" (Tarîk-i Vahdaniyet), segenap yang maujud terwujud dengan kekuasaan Yang Maha Kuasa lagi Maha Agung.

KATA PERTAMA:

"Awjadat-hul-Asbâb". Ia menyebutkan tiga dari sekian banyak kemustahilan terbentuknya segala benda melalui berkumpulnya sebab-sebab alam.

Yang pertama: ia menjelaskan kemustahilan yang tak terhingga dari keyakinan yang menisbahkan keberadaan segala benda kepada sebab-sebab — yang diperlihatkan dengan perumpamaan: "Seandainya penciptaan makhluk hidup apa pun tidak dinisbahkan kepada Al-Wâhid Al-Ahad, melainkan dituntut dari sebab-sebab; (maka itu bagaikan) materi-materi di dalam toples-toples yang ada di sebuah apotek besar, karena suatu kebetulan yang aneh atau karena angin yang bertiup menabrak dan menjungkirkan toples-toples itu, mengalir dan berkumpul di satu tempat."

Kemustahilan Kedua: seandainya dikatakan bahwa pembuatan seekor lalat dari antara yang maujud tidak dinisbahkan kepada Wâjibul-Wujûd, melainkan sebab-sebab alam yang membuatnya; maka untuk menempatkan setiap atom lalat ini — yang berkaitan dengan kebanyakan alam semesta — pada mata, telinga, hati, dan tubuhnya, haruslah rukun-rukun alam, unsur-unsur, dan tabiat dipekerjakan bagaikan seorang tukang, baik pada lahir maupun batin lalat itu. Kemustahilan ini mempermalukan kaum Sofis pun di dalam mazhab mereka yang bodoh.

Kemustahilan Ketiga: dengan kaidah "Jika suatu yang esa memiliki kesatuan, maka bagaimanapun juga ia bersumber dari satu tangan", ia memperlihatkan kemustahilan menerima ratusan kemustahilan sekaligus, dan betapa jauhnya dari akal — sampai membuat keledai pun tertawa di dalam kekeledaiannya — bila suatu yang maujud yang memiliki keteraturan sempurna, timbangan yang teliti, dan kehidupan yang mencakup ini, seandainya tidak diterima sebagai suatu karya buatan Al-Wâhid Al-Ahad; melainkan diterima keberadaannya sebagai dibuat di antara tangan-tangan pengaduk sebab-sebab yang beku, bodoh, buta, tuli, tanpa kesadaran, lagi kalut yang tak terhingga, dan sebagai memiliki suatu kehidupan yang teramat sempurna, teramat teliti, lagi mencakup di dalam jalan-jalan kemungkinan yang tak berpenghujung.

KATA KEDUA:

"Tasyakkala Binafsihi", yakni terbentuk dengan sendirinya. Ia menyebutkan tiga kemustahilan sebagai contoh dari sekian banyak kemustahilan yang memperlihatkan batilnya kemustahilan ini.

Yang pertama: karena setiap yang maujud bukanlah materi yang sederhana, dan bukan pula beku serta tak berubah; dan karena — di samping merupakan suatu mesin yang teramat mengagumkan dan sebuah istana yang teramat menakjubkan yang tersusun dari atom-atom — ia diperlengkapi dengan indra lahir dan batin, maka ia memiliki keterkaitan dengan alam semesta. Nah, seandainya setiap yang maujud tidak dinisbahkan kepada Pencipta Segala Sesuatu, melainkan dikatakan "terbentuk dengan sendirinya"; maka ia menjelaskan dan membuktikan bahwa (pandangan itu) terjatuh ke tengah-tengah khurafat dan kegilaan yang terbesar, seperti memberikan kepada setiap atom setiap yang maujud ilmu dan kesadaran sebanyak ribuan Plato sebagai ganti satu Plato.

Yang kedua: padahal setiap yang maujud, khususnya individu manusia, adalah suatu istana berkubah ribuan yang tersusun satu di dalam yang lain, dan setiap kubahnya adalah suatu karya seni menakjubkan nan aneh berukiran ajaib yang terbentuk dengan bersatunya ribuan atom; seandainya dikatakan "Karya-karya buatan ini bukanlah karya seni suatu Pembuat Yang Esa, melainkan terbentuk dengan sendirinya", maka muncullah kemustahilan sebanyak atom-atom penyusun tubuh yang tak terhingga lagi tak terbatas; sehingga ia mendudukkan para pemilik ideologi ini pada puncak kebodohan dan menuduh mereka dengan kedunguan.

Kemustahilan Ketiga: seandainya setiap karya buatan yang merupakan ciptaan Sang Pembuat Yang Maha Agung bukanlah suatu surat dari pena takdir azali, lalu dikatakan "sebab-sebab alam yang menciptakan"; maka pada saat itu, sebab-sebab itu — mulai dari sel-sel di tubuh karya buatan itu — memerlukan cetakan-cetakan tabiat, pena-pena besi, dan huruf-huruf sebanyak ribuan susunan, bahkan banyak pabrik untuk mencetak huruf-huruf besi, pena-pena, dan cetakan-cetakan ini, serta — untuk pembangunan pabrik-pabrik ini — juga memerlukan keberadaan pabrik-pabrik (lain). Dan demikianlah mata rantai ini akan terus berlanjut. Ia berkata: mereka yang menerima pemikiran yang menghasilkan kemustahilan-kemustahilan tak berhingga ini, hendaklah sadar dari tamparan yang mereka terima dari hakikat ini, lalu meninggalkan pemikiran mereka.

KATA KETIGA:

"Iqtadhat-hut-Tabî'ah", yakni tabiat menuntut. Dari sekian banyak kemustahilan pemikiran menyesatkan yang menyimpangkan ini, tiga kemustahilannya —

Yang pertama adalah sebagai berikut: seandainya seni penciptaan yang penuh ilmu, penuh pandangan, lagi penuh hikmah — yang merupakan pena takdir dan kekuasaan Matahari Azali — tidak dinisbahkan kepada Zat Yang Maha Agung itu, melainkan dinisbahkan kepada suatu tabiat yang buta, tuli, tak berakal, lagi tak berpikir; maka tabiat itu, untuk membuat karya-karya buatan ini, entah harus menyediakan mesin dan percetakan maknawi yang tak terhingga pada setiap sesuatu, atau harus menyisipkan pada setiap sesuatu suatu kekuasaan dan hikmah yang mampu menciptakan dan mengelola alam semesta. Ini berarti harus menerima di dalam setiap yang maujud suatu tabiat atau suatu kekuatan — bahkan seakan-akan suatu tuhan — yang mengemban suatu kekuasaan dan iradah yang tak terhingga serta suatu ilmu dan hikmah yang tak berpenghujung; dan ini memperlihatkan bahwa itu adalah kemustahilan yang paling batil di alam semesta dan bentuk khurafat yang paling dusta, serta bahwa mereka yang memberikan nama "tabiat" kepada tajalli sifat-sifat suci Pencipta Alam Semesta, adalah seratus derajat lebih rendah daripada hewan.

Yang kedua: seandainya segenap yang maujud yang teramat teratur, seimbang, lagi penuh hikmah ini tidak dikatakan sebagai ciptaan suatu Zat Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana tak terhingga, melainkan dinisbahkan kepada tabiat; maka pada saat itu, tabiat haruslah menempatkan mesin dan percetakan yang berbeda-beda sebanyak miliaran di dalam sepotong tanah yang merupakan asal dan tempat tinggal tumbuhan serta yang menjalankan tugas sebagai pot bagi tumbuhan; agar tanah itu dapat menjadi asal dan tempat tinggal bagi segala jenis tumbuhan dan dapat memberikan segala jenis kebutuhan yang diperlukan bagi kehidupan mereka dalam kadar-kadar tertentu. Nah, dengan memandang kekeledaian para pengemban ideologi yang menghasilkan khurafat dan kemustahilan tak terhingga ini, seraya meludahi wajah mereka, (ia) berkata: telah diberikan suatu jawaban yang hakiki lagi teramat masuk akal terhadap pertanyaan tentang bagaimana kemustahilan-kemustahilan yang berat, sulit, lagi mengagumkan ini berubah menjadi keberadaan yang mudah.

Yang ketiga: ia memiliki dua contoh.

Yang pertama: suatu hakikat yang dijelaskan dengan contoh seorang liar yang memasuki sebuah istana yang teramat sempurna lagi terhias yang didirikan di sebuah padang yang kosong. Yakni: ke dalam istana alam ini — yang lebih teratur, lebih sempurna, dan setiap penjurunya dipenuhi mukjizat hikmah daripada istana itu — masuklah kaum naturalis (tabiiyyun) liar yang mengingkari uluhiyah. Dengan tidak memikirkan bahwa yang maujud yang mereka lihat adalah karya seni Zat Wâjibul-Wujûd yang berada di luar lingkup segala yang mungkin; mereka dengan keliru memberikan nama "Tabiat" kepada himpunan hukum-hukum kebiasaan Allah (âdatullah) — yang berada di dalam lingkup segala yang mungkin dan yang berkedudukan sebagai suatu buku catatan bagi hukum-hukum pelaksanaan kekuasaan Ilahi yang berganti dan berubah — dan kepada hukum-hukum Ilahi yang merupakan suatu daftar isi seni Rabbani; lalu dengan membebankan penciptaan segala benda kepadanya, mereka masuk ke suatu jalan batil yang bodoh sedemikian rupa, sehingga di puncak kebodohan mereka menyematkan lencana kebodohan terbesar di dada mereka dengan tangan mereka sendiri.

Contoh kedua dari Kemustahilan Ketiga: suatu hakikat kedua yang diumpamakan dengan contoh seorang liar yang memasuki sebuah markas tentara yang teramat megah dan sebuah masjid yang teramat besar. Ke dalam alam semesta ini — yang merupakan sebuah markas megah dan sebuah masjid besar bagi pasukan tak terhingga dari Sultan Yang Azali lagi Abadi — masuklah para pengingkar yang berpikiran tabiat. Mereka melihat bahwa segenap yang maujud sedang bertugas dalam pekerjaan. Karena mereka berpaling dari Zat Yang Maha Suci dari Sang Pembuat Yang Maha Agung, mereka menganggap kekuatan — yang merupakan suatu kilasan Rabbani dari Pencipta Yang Maha Agung — sebagai suatu yang berkuasa secara mandiri, dan di samping membayangkan hukum-hukum maknawi-Nya sebagai materi-materi materiil, mereka memberikan penciptaan ke tangan hukum-hukum itu lalu memberinya nama "Tabiat"; sehingga dengan menisbahkan segenap yang maujud luar biasa yang mereka lihat kepada tabiat, mereka mengumumkan bahwa mereka adalah yang paling liar di antara orang-orang liar.

Nah, dengan pembagian akli; karena tidak ada jalan lain selain empat jalan bagi terwujudnya suatu yang maujud, maka — dengan tertutupnya jalan-jalan (lain) ini oleh sembilan kemustahilan yang meniscayakan kemustahilan yang tak terhingga lagi tak terhitung — secara nyata lagi niscaya, jalan keempat, yaitu jalan kesatuan (vahdet), tetap teguh secara pasti. Dan ia memperlihatkan bahwa keberadaan setiap yang maujud keluar langsung dari tangan kekuasaan Zat Wâjibul-Wujûd, dan bahwa langit serta bumi berada dalam genggaman kekuasaan-Nya. Setelah memperlihatkan wajah dalam dari jalan-jalan yang ditempuh — namun tak terlihat — oleh para penyembah sebab dan para penyimpang kepada tabiat, dan setelah suatu penjelasan yang teramat terperinci, teramat manis, lagi teramat halus yang mengajak mereka kepada keinsafan dan membuat mereka meninggalkan mazhab mereka; terhadap yang pertama dari dua pertanyaan meragukan yang diajukan, (ia menjawab) dengan tuntutan "hukum-hukum penolakan campur tangan dan pencegahan persekutuan"; dan terhadap yang kedua, ia menyambut dengan jawaban-jawaban yang teramat indah yang menjelaskan bahwa Pencipta Yang Maha Agung tidak merelakan — bahkan tidak mengizinkan — ibadah makhluk, khususnya syukur dan penghambaan manusia, diberikan kepada selain-Nya; (sebab hal itu) merupakan suatu cara yang mengubah hasil penciptaan dan buah alam semesta menjadi kesia-siaan yang sama sekali bertentangan dengan hikmah-Nya, serta yang akan membuat hikmah rububiyah-Nya diingkari.

Dalam penutupnya, dari tiga pertanyaan menarik dari seorang yang meninggalkan pemikiran kufur tabiat dan datang kepada iman:

Yang pertama: "Apa sebab orang-orang yang meninggalkan salat karena kemalasan mereka diancam dengan suatu azab seperti Neraka?"

Yang kedua: "Apa rahasia dan hikmah dari kemelimpahan yang teramat sangat yang terlihat oleh mata dan bentuk teratur dalam penciptaan segala benda, serta kemudahan dan kegampangan yang teramat sangat di jalan kesatuan, dan kemudahan yang diperlihatkan secara teramat sangat oleh nas Al-Qur'an melalui ayat-ayat seperti مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ ❊ وَمَٓا اَمْرُ السَّاعَةِ اِلاَّ كَلَمْحِ الْبَصَرِ اَوْ هُوَ اَقْرَبُ?"

Yang ketiga: terhadap perkataannya: "Bagaimana perkataan para filosof yang mengatakan bahwa dijalankannya pabrik alam semesta adalah hasil dari suatu penyusunan dan penguraian, dan bahwa sebagaimana tiada sesuatu pun dimusnahkan dari ketiadaan, demikian pula tiada sesuatu pun diciptakan dari ketiadaan?" — terdapat jawaban-jawaban yang teramat penuh hakikat lagi tepat, dengan dalil-dalil akli yang ia paparkan secara teramat cermat, teramat dalam, teramat tinggi, teramat luas, teramat meyakinkan, lagi membungkam; yang menyelamatkan para penyembah sebab dan orang-orang yang tenggelam di rawa tabiat, serta mempermalukan orang-orang yang masih berada di mazhab itu.

Hüseyin