Risale-i NurLem'alar

LEM'A KEDUA PULUH EMPAT:

Lem'alar · hlm. 494

195

Ia memuat "Empat Hikmah". Dengan ayat-ayat seperti يَٓا اَيُّهَا النَّبِىُّ قُلْ ِلاَزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَٓاءِ الْمُؤْمِن۪ينَ يُدْن۪ينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَب۪يبِهِنَّ dan seterusnya, Al-Qur'an Yang Maha Bijaksana memerintahkan tabir (tesettür). Adapun terhadap suatu pertanyaan secara tak beragama dari peradaban yang bejat lagi tanpa-mim — yang menentang hukum Al-Qur'an ini dan, karena tidak memandang tabir sebagai fitri, mengatakan "ia adalah suatu perbudakan" — ia menjelaskan dan membuktikan dengan banyak pengalaman dan contoh bahwa hukum Al-Qur'an Yang Maha Bijaksana ini tepat pada tempatnya, bahkan bukanlah perbudakan melainkan tabir itu bersifat fitri; lalu ia membungkam mereka dan memerintahkan tabir secara pasti.

YANG PERTAMA:

Fitrah kaum wanita menuntut tabir. Sebab, karena secara penciptaan mereka lemah dan lembut, dan karena secara fitri mereka memiliki suatu kecenderungan untuk melindungi anak-anak mereka melebihi kehidupan mereka sendiri; maka mereka memiliki suatu kecenderungan fitri untuk memperlihatkan diri secara elok kepada (suami) yang melindunginya, agar tidak menimbulkan kebencian dan tidak terkena tuduhan.. sekaligus bahwa — dari sisi enam dari sepuluh wanita adalah tua atau tidak cantik — mereka tidak ingin memperlihatkan ketidakcantikannya kepada setiap orang.. sekaligus bahwa di antara yang cantik, mereka yang tidak sungkan memperlihatkan dirinya hanyalah satu-dua dari sepuluh, sedangkan yang lain tidak ingin memperlihatkan dirinya karena merasa risih terhadap pandangan orang-orang kotor, penuh syahwat, lagi menjijikkan.. dan ia membungkam peradaban yang bengis dengan suatu jawaban yang teramat indah: bahwa perintah Al-Qur'an Yang Maha Bijaksana untuk bertabir — di samping bersifat fitri — menyelamatkan (wanita) yang lembut lagi lemah itu dari kehinaan lahir dan batin serta dari suatu perbudakan maknawi melalui tabir, agar ia dapat menjadi seorang pendamping abadi.

HIKMAH KEDUA:

Ia memerintahkan tabir secara pasti — sekaligus membungkam perkataan peradaban yang bejat lagi bengis "ia tak fitri dan (merupakan) perbudakan" — (dengan menjelaskan) bahwa cinta yang kuat antara laki-laki dan wanita tidaklah timbul semata-mata dari kebutuhan kehidupan duniawi ini, melainkan agar (mereka) menjadi teman sejati dalam suatu kehidupan abadi; dari sisi bahwa cinta itu berlangsung dan haruslah berlangsung hingga akhir usia, wanita itu — agar tidak terhalang dari persahabatan abadi suaminya yang merupakan teman abadinya — secara pasti dan fitri menuntut tabir.

HIKMAH KETIGA:

Bahwa kebahagiaan keluarga berlangsung dengan suatu kepercayaan timbal balik dan cinta yang tulus antara istri dan suami; bahwa ketiadaan tabir merusak dan mematahkan kepercayaan serta cinta itu; bahwa (karena) hanya satu dari sepuluh wanita yang berpakaian terbuka yang tidak melihat (laki-laki) yang lebih baik daripada suaminya sehingga tidak ingin memperlihatkan diri kepada orang lain; dan (karena) hanya satu dari dua puluh laki-laki yang tidak melihat (wanita) yang lebih cantik daripada istrinya, maka keterbukaan dan pandangan-pandangan hewani mematahkan kepercayaan dan cinta itu; bahkan bahwa penampakan yang hewani, hina, lagi kotor itu mematahkan kepercayaan tersebut bahkan pada orang yang seperti kerabat; dan bahwa penampakan dengan kaki telanjang itu — bahkan kemahraman kerabat pun menjadi tak-mahram; ia membuktikan (semua) itu secara teramat pasti.

HIKMAH KEEMPAT:

Bahwa banyaknya keturunan didambakan dari segala sisi, dan setiap bangsa serta setiap pemerintah mendukungnya; bahkan Rasul Ekrem 'alaihis-salâtu was-salâm bersabda تَنَاكَحُوا تَكَاثَرُوا فَاِنِّى اُبَاه۪ى بِكُمُ اْلاُمَمَ, yakni "Menikahlah kalian. Aku berbangga dengan banyaknya kalian."; bahwa ketiadaan tabir tidaklah memperbanyak pernikahan, melainkan justru sangat menguranginya, karena bahkan seorang pemuda modern yang urakan pun menginginkan pendampingnya sangat terhormat; dan bahwa — karena wanita adalah penjaga internal bagi keluarga, anak, harta, dan segala sesuatu milik laki-laki — pada wanita diperlukan kesetiaan dan kepercayaan; sedangkan ketiadaan tabir, keterbukaan, dan ketiadaan rasa malu — karena mematahkan kesetiaan dan kepercayaan itu — membuat laki-laki menderita siksaan hati nurani, dan (bahwa) keberanian serta kedermawanan (yang berlebihan) pada wanita menciderai kesetiaan dan kepercayaan itu; dan bahwa negeri kita tidak dapat dikiaskan kepada Eropa — seandainya dikiaskan, niscaya akan menjadi sebab bagi lemahnya keturunan dan runtuhnya kekuatan; dan bahwa penduduk kota tidak dapat dikiaskan kepada penduduk desa, karena — sebab penduduk desa disibukkan dengan urusan penghidupan — penduduk kota yang menyibukkan diri dengan seni tidak dapat dikiaskan kepada mereka; ia membuktikan (ini) dan lebih banyak hikmahnya secara teramat pasti.

Rüşdü

SUATU PERBINCANGAN DENGAN GOLONGAN KAUM WANITA YANG MERUPAKAN SAUDARI-SAUDARI AKHIRATKU DARI AHLI IMAN:

199

Suatu surat berharga yang menjelaskan bahwa — karena suatu asas penting Risalah Nur adalah kasih sayang (şefkat), dan karena kaum wanita adalah para pahlawan kasih sayang — secara fitri mereka memiliki keterkaitan dengan Risalah Nur; tetapi bahwa perangai berharga itu disalahgunakan oleh sebagian arus yang buruk.. dan bahwa satu-satunya jalan bagi kebahagiaan duniawi wanita, sebagaimana kebahagiaan ukhrawi mereka, adalah pendidikan agama di dalam lingkup keislaman.