Lem'a Orang-Orang Tua
Lem'alar · hlm. 275
(Menghimpun dua puluh enam pengharapan (rica) dan cahaya penghiburan.)
PERINGATAN:
Alasan mengapa pada awal setiap "pengharapan" aku menuliskan derita maknawiku dengan sangat menyayat dan sampai pada tingkat yang akan menyentuh perasaan kalian adalah: untuk memperlihatkan pengaruh luar biasa dari obat yang datang dari Al-Qur'an Yang Mahabijaksana. Lem'a yang berkaitan dengan orang-orang tua ini, dari tiga empat sisi, tidak dapat mempertahankan keindahan ungkapan.
Pertama:
Karena ia berkaitan dengan perjalanan hidupku, ia ditulis dengan kembali ke masa-masa itu secara khayali dan dalam keadaan tersebut; sehingga ungkapannya tidak dapat mempertahankan keteraturannya.
Kedua:
Karena ia ditulis pada suatu waktu ketika aku merasakan kelelahan yang sangat setelah salat Subuh, sekaligus di bawah keharusan untuk bergegas, maka terjadilah kekacauan dalam ungkapan.
Ketiga:
Karena di sisiku tidak selalu ada orang yang akan menulis, dan juru tulis yang ada di sisiku pun memiliki empat lima tugas yang berkaitan dengan Risale-i Nur, maka karena kami tidak menemukan waktu yang cukup untuk mengoreksinya, ia tetap tidak teratur.
Keempat:
Karena segera setelah penulisannya kami berdua dalam keadaan lelah, tidak dapat memikirkan makna dengan saksama, dan mencukupkan diri dengan koreksi yang sangat dangkal, maka tentu akan terdapat kekurangan dalam gaya ungkapan. Aku memohon kepada para orang tua yang berbudi mulia agar memandang kekurangan-kekurangan dalam ungkapanku dengan pandangan pemakluman; dan hendaklah para orang tua yang penuh berkah — yang tidak dikembalikan oleh rahmat Ilahi dalam keadaan hampa — ketika mereka menengadahkan tangan ke hadirat Ilahi, memasukkan kami pula ke dalam doa-doa mereka.
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّح۪يمِكٓهٰيٰعٓصٓ ❊ ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا ❊ اِذْْ نَادٰى رَبَّهُ نِدَٓاءً خَفِيًّا ❊ قَالَ رَبِّ اِنّ۪ى وَهَنَ الْعَظْمُ مِنّ۪ى وَاشْتَعَلَ الرَّاْسُ شَيْبًا وَلَمْ اَكُنْ بِدُعَٓائِكَ رَبِّ شَقِيًّا
Lem'a ini terdiri atas dua puluh enam pengharapan.
PENGHARAPAN PERTAMA:
Wahai saudara-saudara tua yang terhormat dan saudari-saudari tua yang telah mencapai usia kematangan! Aku pun tua seperti kalian. Dengan keinginan untuk turut menyertakan kalian dalam pengharapan-pengharapan yang sesekali kutemukan pada masa tua serta cahaya penghiburan dalam pengharapan-pengharapan itu, aku akan menuliskan sebagian keadaan yang telah kualami. Cahaya yang kulihat dan pintu-pintu pengharapan yang kujumpai, tentu terlihat dan terbuka sesuai dengan bakat (istidad)-ku yang kurang sempurna dan kacau. Insya Allah, bakat kalian yang jernih dan murni akan membuat cahaya yang kulihat itu lebih berkilau, dan akan memperkuat pengharapan yang kutemukan itu lebih jauh lagi.
Nah, sumber, tambang, dan mata air dari pengharapan-pengharapan dan cahaya-cahaya yang akan datang itu adalah iman.
PENGHARAPAN KEDUA:
Ketika aku memasuki masa tua; pada suatu hari di musim gugur, pada waktu asar, aku memandang dunia dari sebuah gunung yang tinggi. Tiba-tiba suatu keadaan yang sangat mengharukan, menyedihkan, dan dari satu sisi gelap, menyelimutiku. Aku melihat bahwa: aku telah menua, siang pun telah menua, tahun pun telah menua, dan dunia pun telah menua. Karena di tengah ketuaan-ketuaan ini waktu perpisahan dari dunia dan perpisahan dari orang-orang yang kucintai semakin dekat, ketuaan itu mengguncangku dengan hebat. Tiba-tiba rahmat Ilahi tersingkap sedemikian rupa sehingga mengubah kesedihan yang mengharukan dan perpisahan itu menjadi suatu pengharapan yang kuat dan cahaya penghiburan yang cemerlang. Ya, wahai orang-orang tua sepertiku! Rahmat Pencipta kita Yang Maha Penyayang — yang memperkenalkan diri-Nya kepada kita dengan sifat "Ar-Rahman Ar-Rahim" pada seratus tempat dalam Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, yang senantiasa mengirimkan rahmat-Nya untuk menolong makhluk hidup yang memohon belas kasih di permukaan bumi, yang setiap tahun memenuhi musim semi dari alam gaib dengan nikmat dan hadiah yang tak terhingga lalu menyampaikannya kepada kita yang membutuhkan rezeki, dan yang memperlihatkan kilasan rahmat-Nya semakin besar sekadar tingkat kelemahan dan ketidakberdayaan — rahmat-Nya itu merupakan pengharapan terbesar dan cahaya terkuat pada masa tua kita ini. Menemukan rahmat ini adalah dengan bertalian (intisab) kepada Yang Maha Pengasih itu melalui iman, dan menaati-Nya dengan menunaikan kewajiban-kewajiban (fardu).
PENGHARAPAN KETIGA:
Suatu ketika, saat aku terbangun dari tidur malam masa muda dengan pagi masa tua, aku memandang diriku; tubuhku bergerak bagaikan berlari menuruni suatu lereng ke arah kubur. Sebagaimana ucapan Niyazi-i Mısrî: "Setiap hari sebutir batu bangunan umurku jatuh ke tanah, / Sang jiwa terbaring lalai, bangunannya menjadi reruntuhan tanpa ia sadari..." — demikian pula tubuhku yang merupakan rumah bagi ruhku pun setiap hari kian rapuh dengan jatuhnya sebutir batu, dan harapan-harapan serta angan-anganku yang mengikatku kuat dengan dunia mulai terputus. Aku merasakan bahwa waktu perpisahan dari sahabat-sahabatku dan orang-orang yang kucintai yang tak terhingga banyaknya semakin dekat. Aku mencari salep bagi luka maknawi yang sangat dalam dan tampak tak tersembuhkan itu, namun tidak kutemukan. Kembali aku berkata seperti Niyazi-i Mısrî:
"Kalbu mendamba kekekalan, sedang Yang Hak menghendaki fananya negeri tubuhku, / Aku jatuh ke dalam derita tanpa obat — aduhai, Lukman pun tak tahu!"
{(Catatan): Yakni: Sementara kalbuku dengan segenap kekuatannya menginginkan kekekalan, hikmah Ilahi justru menuntut kehancuran jasadku. Aku jatuh ke dalam suatu derita tanpa obat yang bahkan tabib Lukman pun tak menemukan penawarnya.}
Ketika itu, tiba-tiba cahaya dan syafaat Nabi Yang Mahamulia — 'alaihis-salâtu was-salâm — yang merupakan lisan, perumpamaan, cerminan, penyeru, dan wakil dari rahmat Ilahi, serta hadiah hidayah yang beliau bawa untuk umat manusia, menjadi salep dan penawar yang indah bagi luka yang kukira tak tersembuhkan dan tak terhingga itu. Ia mengubah keputusasaanku yang gelap menjadi suatu pengharapan yang bercahaya.
Ya, wahai para orang tua terhormat, lelaki dan perempuan, yang merasakan ketuaannya sepertiku! Kita akan pergi, tiada guna berdusta pada diri sendiri. Dengan menutup mata, mereka tidak akan menahan kita di sini; ada pemberangkatan. Akan tetapi, negeri barzakh yang tampak penuh perpisahan dan gelap bagi kita akibat waham-waham kegelapan yang timbul dari kelalaian dan sebagian dari ahli kesesatan, sesungguhnya adalah tempat berhimpunnya para kekasih. Ia adalah alam perjumpaan dengan seluruh sahabat kita, terutama dengan Kekasih Allah (Habibullah) — 'alaihis-salâtu was-salâm — yang merupakan pemberi syafaat kita. Ya, kita menuju alam yang telah didatangi oleh Sosok Ahmadi — 'alaihis-salâtu was-salâm — yang selama seribu tiga ratus lima puluh tahun, setiap tahunnya menjadi sultan bagi tiga ratus lima puluh juta manusia, pendidik bagi ruh-ruh mereka, guru bagi akal-akal mereka, dan kekasih bagi kalbu-kalbu mereka; yang setiap hari — sesuai rahasia اَلسَّبَبُ كَالْفَاعِلِ — satu kadar yang setara dengan seluruh kebaikan yang dikerjakan segenap umatnya ditambahkan ke dalam lembaran kebaikannya; yang menjadi poros bagi maksud-maksud Ilahi yang luhur di alam semesta ini dan sebab bagi terangkatnya nilai segala yang maujud. Sebagaimana beliau — dengan riwayat sahih dan penyingkapan yang benar — pada saat lahir ke dunia berkata "umatku, umatku," demikian pula di mahsyar, ketika setiap orang berkata "diriku, diriku," beliau justru berkata "umatku, umatku," lalu dengan pengorbanan yang paling suci dan paling tinggi bergegas menolong umatnya dengan syafaatnya. Ke alam yang telah didatangi sosok seperti itulah kita menuju. Dan kita menuju suatu alam yang bercahaya oleh bintang-bintang para ashfiya dan para wali yang tak terhingga di sekeliling matahari itu.
Nah, jalan untuk masuk ke dalam naungan syafaat sosok itu, mengambil manfaat dari cahayanya, dan terlepas dari kegelapan-kegelapan barzakh adalah: mengikuti Sunnah yang Mulia (Sünnet-i Seniyye).
PENGHARAPAN KEEMPAT:
Suatu ketika, karena aku telah menginjak masa tua, kesehatan tubuhku yang melanggengkan kelalaian pun telah rusak. Ketuaan dan penyakit menyerangku secara bersekutu. Dengan memukul-mukul kepalaku, keduanya mengusir tidurku. Tidak pula ada ikatan seperti anak-istri dan harta yang akan mengikatku dengan dunia. Buah dari modal umurku yang kusia-siakan dengan kebodohan masa muda, kulihat semuanya berupa dosa dan kesalahan. Sambil menjerit seperti Niyazi-i Mısrî, aku berkata:
"Tiada perniagaan kulakukan, tunai umurku sia-sia belaka, / Aku tiba di jalan, namun seluruh kafilah telah berangkat tanpa kusadari. / Menangis dan meratap, aku terjatuh di jalan seorang diri lagi asing, / Mata berlinang, dada membara, akal tercengang tanpa sadar."
Ketika itu aku berada di perantauan. Aku merasakan kesedihan yang penuh keputusasaan, penyesalan yang penuh sesal, dan kerinduan yang penuh permohonan pertolongan. Tiba-tiba Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya (Mu'ciz-ül Beyan) datang menolong. Ia membukakan bagiku suatu pintu pengharapan yang begitu kuat dan memberikan cahaya penghiburan yang begitu hakiki, sehingga bahkan keputusasaan yang seratus derajat lebih berat dari keadaanku itu pun dapat ia lenyapkan dan kegelapan-kegelapan itu dapat ia sirnakan.
Ya, wahai para orang tua terhormat, lelaki dan perempuan, yang seperti diriku telah mulai terputus keterikatannya dengan dunia dan tali-tali yang mengikatnya dengan dunia telah hampir putus! Sang Pencipta Pemilik Keagungan yang menciptakan dunia ini bagaikan sebuah kota dan istana yang paling sempurna dan teratur — mungkinkah Dia tidak berbicara dan tidak berjumpa dengan tamu-tamu dan sahabat-sahabat-Nya yang paling penting di kota dan istana itu? Karena Dia membangun istana ini dengan pengetahuan, serta menata dan menghiasinya dengan kehendak dan pilihan; maka tentu, sebagaimana "yang membuat itu mengetahui," demikian pula "yang mengetahui itu berbicara." Karena Dia menjadikan istana ini, kota ini, sebagai tempat singgah dan tempat berniaga yang indah bagi kita; maka tentu akan ada suatu catatan, suatu kitab, yang memperlihatkan hubungan-Nya dengan kita dan kehendak-kehendak-Nya atas kita.
Nah, catatan suci yang paling sempurna itu adalah Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya — yang menjadi mukjizat dari empat puluh sisi, yang setiap saat sedikitnya beredar di lidah seratus juta orang seraya menaburkan cahaya, dan yang pada setiap hurufnya memberikan sekurang-kurangnya sepuluh pahala dan sepuluh kebaikan, terkadang sepuluh ribu, dan terkadang — dengan rahasia Lailatulqadar — tiga puluh ribu kebaikan pada satu hurufnya, serta buah Surga dan cahaya barzakh. Dalam kedudukan ini, tidak ada satu kitab pun di alam semesta yang dapat menyainginya, dan tidak seorang pun dapat menunjukkannya. Karena Al-Qur'an yang ada di tangan kita ini adalah firman dan titah Sang Pencipta Pemilik Keagungan atas langit dan bumi — yang datang dari sisi rububiyah-Nya yang mutlak, dari sisi keagungan uluhiyah-Nya, dan dari sisi rahmat-Nya yang meliputi segala sesuatu — serta merupakan suatu tambang rahmat. Berpeganglah kepadanya. Di dalamnya terdapat obat bagi setiap penyakit, cahaya bagi setiap kegelapan, dan pengharapan bagi setiap keputusasaan.
Nah, kunci bagi khazanah abadi ini adalah iman, penyerahan diri, serta mendengarkannya, menerimanya, dan membacanya.
PENGHARAPAN KELIMA:
Suatu ketika, pada permulaan masa tuaku, dengan keinginan untuk menyendiri, di Bukit Yuşa di kawasan selat (Bosporus) Istanbul, ruhku mencari istirahat dalam kesendirian. Pada suatu hari, di bukit yang tinggi itu, aku memandang ke lingkaran ufuk, ke sekeliling. Dengan peringatan ketuaan, aku melihat suatu lukisan kefanaan dan perpisahan yang sangat menyedihkan dan mengharukan. Dari kedudukan tinggi pada dahan keempat puluh lima — yaitu tahun keempat puluh lima — dari pohon umurku, aku mengedarkan pandangan hingga ke lapisan-lapisan bawah kehidupanku. Aku melihat bahwa di bawah sana, pada setiap dahannya, dalam kurun setiap tahun, terdapat jenazah-jenazah yang tak terhingga banyaknya dari orang-orang yang kucintai, orang-orang yang terkait denganku, dan orang-orang yang kukenal. Dan di tengah kepedihan maknawi yang sangat mengharukan yang timbul dari perpisahan itu, sambil memikirkan sahabat-sahabat yang telah berpisah, aku merintih seperti Fuzuli al-Baghdadi:
"Setiap kali kukenang perjumpaan dengan mereka, aku menangis, / Selama masih ada napas di tubuh keringku, aku akan terus meratap."
Seraya berkata demikian, aku mencari suatu pintu penghiburan, cahaya, dan pengharapan. Tiba-tiba, cahaya iman kepada akhirat datang menolong. Ia memberikan cahaya yang tak pernah padam dan pengharapan yang tak pernah patah.
Ya, wahai saudara-saudara tua dan saudari-saudari tua sepertiku! Karena akhirat itu ada, karena ia kekal, karena ia lebih indah daripada dunia, dan karena Dzat yang menciptakan kita adalah Mahabijaksana sekaligus Maha Penyayang.. maka kita tidak seharusnya mengeluh dan menyesali ketuaan. Sebaliknya, karena ketuaan — dengan mencapai usia kematangan di dalam iman dan ibadah — merupakan tanda pembebastugasan dari tugas kehidupan dan tanda kepergian menuju alam rahmat untuk beristirahat, maka kita seharusnya merasa senang dengannya.
Ya, sebagaimana — dengan nas hadis — seratus dua puluh empat ribu nabi yang merupakan pribadi-pribadi paling istimewa dari jenis manusia, dengan ijmak dan tawatur, sebagian bersandar pada penyaksian (syuhud) dan sebagian pada haqqul-yaqin, secara sepakat telah mengabarkan tentang keberadaan akhirat, tentang bahwa manusia akan digiring ke sana, dan tentang bahwa Pencipta alam semesta ini akan mendatangkan akhirat yang telah Dia janjikan secara pasti; demikian pula seratus dua puluh empat juta wali yang membenarkan kabar yang mereka sampaikan itu — dalam bentuk ilmul-yaqin melalui penyingkapan (kasyf) dan penyaksian — dengan kesaksian mereka atas keberadaan akhirat itu; dan dengan kilasan-kilasan yang diperlihatkan seluruh nama Sang Pembuat Yang Mahabijaksana atas alam semesta ini di dunia — yang secara nyata menuntut adanya suatu alam kekekalan, sehingga sekali lagi menunjukkan keberadaan akhirat; dan dengan kekuasaan azali yang tak terhingga yang setiap musim semi menghidupkan kembali jenazah pepohonan mati yang tak terhitung jumlahnya yang berdiri di permukaan bumi — dengan perintah "Kun Fayakûn" — lalu menjadikannya memperoleh "kebangkitan setelah kematian" (Ba'tsu ba'dal-maut), dan sebagai ratusan ribu contoh kebangkitan dan penyebaran (hasyir dan nasyir) membangkitkan serta menyebarkan tiga ratus ribu jenis dari golongan tumbuhan dan bangsa hewan; dan dengan hikmah abadi yang tanpa perhitungan dan tanpa pemborosan; dan dengan rahmat yang kekal serta pemeliharaan yang senantiasa — yang memberi makan seluruh makhluk bernyawa yang membutuhkan rezeki dengan kasih sayang yang sempurna dan cara yang sangat menakjubkan, serta yang setiap musim semi dalam waktu singkat memperlihatkan aneka perhiasan dan keindahan yang tak terhitung — yang secara nyata mengharuskan adanya keberadaan akhirat; dan dengan isyarat serta petunjuk yang nyata dari kecintaan pada kekekalan yang kuat, tak tergoyahkan, lagi tetap, kerinduan pada keabadian, serta angan-angan pada kelanggengan yang ada dalam diri manusia — yang merupakan buah teristimewa dari alam semesta ini, ciptaan yang paling dicintai Sang Pencipta Alam, dan makhluk yang paling terkait dengan segala yang maujud di alam — mereka membuktikan adanya suatu alam kekal, negeri akhirat, dan negeri kebahagiaan setelah alam fana ini secara begitu pasti, sehingga sebagaimana adanya dunia, mereka mengharuskan penerimaan akan adanya akhirat secara nyata.
{(Catatan): Ya, kemudahan mengabarkan suatu perkara yang positif (sabit) dan sangat sulitnya mengingkari serta menafikannya, tampak dari perumpamaan ini. Yakni: Bila seseorang berkata, "Di atas bola bumi ada sebuah kebun yang sangat menakjubkan yang buah-buahnya berupa konserva susu," lalu yang lain berkata, "Tidak ada." Maka yang membuktikan, cukup dengan menunjukkan tempatnya atau sebagian buahnya, dengan mudah membuktikan dakwaannya. Adapun orang yang mengingkari, untuk membuktikan penafiannya, baru dapat membuktikan dakwaannya bila ia melihat dan memperlihatkan seluruh bola bumi. Demikian pula: mereka yang mengabarkan Surga — sekalipun kita kesampingkan bahwa mereka telah memperlihatkan ratusan ribu tetesan, buah, dan jejaknya — kesaksian dua saksi yang benar sudah cukup untuk menetapkan keberadaannya; sementara orang yang mengingkarinya baru dapat membuktikan pengingkarannya dan memperlihatkan ketiadaannya setelah ia menyaksikan, melihat, dan menyaring alam semesta yang tak terhingga serta zaman abadi yang tak terhingga. Nah, wahai saudara-saudara tua! Pahamilah betapa kuatnya iman kepada akhirat.}
Karena salah satu pelajaran terpenting yang diberikan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana kepada kita adalah "iman kepada akhirat," dan iman itu sedemikian kuatnya, serta di dalam iman itu terdapat pengharapan dan penghiburan yang sedemikian rupa sehingga — seandainya seratus ribu ketuaan menimpa satu orang saja — penghiburan yang datang dari iman ini mampu mengimbanginya. Maka kita, para orang tua, hendaknya berkata "Alhamdulillâhi 'alâ kamâlil-îmân (segala puji bagi Allah atas kesempurnaan iman)" dan bergembira dengan ketuaan kita.
PENGHARAPAN KEENAM:
Suatu ketika, dalam suatu penawanan yang menyakitkan, karena merasa asing dari manusia, aku menyendiri di puncak Gunung Çam (Çam Dağı) di dataran tinggi Barla. Dalam kesendirian itu aku mencari suatu cahaya. Pada suatu malam, aku berada di sebuah bilik kecil beratap terbuka di atas sebatang pohon cemara yang tinggi di puncak bukit yang tinggi itu. Ketuaan mengingatkanku akan tiga empat keterasingan (gurbet) yang berlapis-lapis satu sama lain. Sebagaimana dijelaskan dalam Surat Keenam; pada malam yang sunyi dan senyap itu, hanya suara sendu yang datang dari desir dan gemerisik dedaunan pepohonan, menyentuh perasaanku, ketuaanku, dan keterasinganku dengan amat dalam. Ketuaan mengingatkanku dan membisikkan ke telinga kalbuku: sebagaimana siang telah berubah menjadi kubur yang hitam ini dan dunia telah mengenakan kain kafan hitamnya, demikian pula siang umurmu akan berubah menjadi malam, siang dunia akan berubah menjadi malam barzakh, dan musim panas kehidupan pun akan berubah menjadi malam musim dingin kematian. Nafsuku dengan terpaksa berkata: Ya, sebagaimana aku terasing dari tanah airku, karena aku terpisah dari orang-orang yang kucintai yang telah tiada dalam umurku selama lima puluh tahun ini dan tertinggal di belakang mereka sambil menangisi mereka, maka ini adalah keterasingan yang lebih menyedihkan dan menyakitkan daripada keterasingan dari tanah air. Dan aku semakin mendekati suatu keterasingan yang lebih menyedihkan dan menyakitkan daripada keterasingan sendu dalam keadaan malam ini dan keadaan gunung yang penuh keasingan ini; ketuaan mengabarkan kepadaku bahwa waktu perpisahan dari seluruh dunia sekaligus semakin dekat. Dari keadaan keterasingan di dalam keterasingan dan kesedihan di dalam kesedihan ini, aku mencari suatu pengharapan, suatu cahaya. Tiba-tiba iman kepada Allah datang menolong. Ia memberikan keakraban sedemikian rupa sehingga, seandainya keliaran berlipat yang kualami itu berlipat ganda seribu kali pun, penghiburan itu tetap akan mencukupi.
Ya, wahai para orang tua, lelaki dan perempuan! Karena kita memiliki Pencipta Yang Maha Penyayang, maka tidak ada keterasingan bagi kita. Karena Dia ada, maka segala sesuatu ada bagi kita. Karena Dia ada, maka para malaikat-Nya pun ada. Kalau begitu, dunia ini tidaklah kosong. Gunung-gunung yang lengang dan padang-padang yang kosong penuh dengan hamba-hamba Allah. Selain hamba-hamba-Nya yang berkesadaran, dengan cahaya-Nya dan atas nama-Nya, batu maupun pohon pun beralih menjadi sahabat yang ramah; dengan lisan keadaan (lisanul-hal) mereka dapat berbicara dengan kita dan menghibur kita. Ya, dalil-dalil dan saksi-saksi yang bersaksi atas keberadaan-Nya sebanyak jumlah maujud di alam semesta ini dan sebanyak jumlah huruf kitab besar alam ini, serta yang memperlihatkan rahmat-Nya sebanyak jumlah perangkat, makanan, dan nikmat yang dapat menjadi sumber kasih sayang, rahmat, dan pemeliharaan bagi makhluk bernyawa — semua itu menunjukkan kepada kita hadirat Pencipta kita, Pembuat kita, dan Pelindung kita Yang Maha Penyayang, Mahamulia, Maha Akrab (Enîs), lagi Maha Pengasih (Wadûd). Di hadirat itu, pemberi syafaat yang paling diterima adalah ketidakberdayaan dan kelemahan. Dan waktu yang tepat bagi ketidakberdayaan dan kelemahan adalah masa tua. Maka terhadap ketuaan — yang merupakan pemberi syafaat yang diterima di hadirat semacam itu — kita tidak seharusnya kesal, melainkan mencintainya.
PENGHARAPAN KETUJUH:
Suatu ketika, pada permulaan masa tuaku, pada saat tawa-tawa Said Lama berubah menjadi tangisan-tangisan Said Baru, para ahli dunia di Ankara mengira aku masih Said Lama lalu memanggilku ke sana; maka aku pun pergi. Pada akhir musim gugur, aku menaiki puncak benteng Ankara yang telah jauh lebih tua, lebih rapuh, dan lebih usang daripada diriku. Benteng itu tampak bagiku bagaikan peristiwa-peristiwa sejarah yang telah membatu. Musim tua dalam tahun itu, ketuaanku, ketuaan benteng, ketuaan umat manusia, ketuaan Negara Utsmani yang mulia, wafatnya kesultanan Khilafah, dan ketuaan dunia — semua itu, dalam suatu keadaan yang sangat menyedihkan, mengharukan, dan penuh perpisahan, membuatku memandang — dan aku pun memandang — dari benteng yang tinggi itu ke lembah-lembah masa lampau dan ke gunung-gunung masa depan. Di tengah empat-lima kegelapan ketuaan yang berlapis-lapis meliputiku, karena aku merasakan keadaan ruhani yang paling kelam di Ankara,
{(Catatan): Ketika itu keadaan ruhani ini datang ke kalbu dalam bentuk suatu munajat berbahasa Persia, lalu kutuliskan. Ia telah dicetak dalam Risalah Hubâb di Ankara.}
aku mencari suatu cahaya, suatu penghiburan, suatu pengharapan.
Ketika aku mencari penghiburan dengan memandang ke kanan, yaitu ke masa lampau; masa lampau tampak bagiku bagaikan kuburan raksasa (mezar-ı ekber) bagi ayahku, para leluhurku, dan jenisku; sebagai ganti penghiburan ia justru memberikan kengerian. Aku memandang ke masa depan yang berada di sisi kiriku sambil mencari obat. Aku melihat bahwa ia tampak bagaikan kubur yang besar dan gelap bagi diriku, orang-orang seperti diriku, dan generasi mendatang; sebagai ganti keakraban ia justru memberikan kedahsyatan. Karena merasa ngeri dari kanan dan kiri, aku memandang ke hari kiniku. Bagi pandanganku yang lalai dan bercorak sejarah itu, hari kini tampak bagaikan sebuah keranda yang mengangkut jenazah tubuhku yang setengah sekarat dan menanggung derita dalam gerakan megap-megap. Kemudian, ketika dari sisi ini pun aku berputus asa, aku mengangkat kepalaku dan memandang ke pucuk pohon umurku. Aku melihat bahwa pohon itu hanya memiliki satu buah, dan itu adalah jenazahku; ia berdiri di atas pohon itu, memandangku. Karena merasa ngeri dari sisi itu pun, aku menundukkan kepalaku dan memandang ke bawah pohon umur itu, ke akarnya. Aku melihat bahwa tanah yang di bawah itu — tanah tulang-belulangku bercampur dengan tanah asal penciptaanku — terinjak-injak di bawah kaki dalam keadaan bercampur baur. Itu pun bukan obat, bahkan menambahkan derita atas deritaku. Kemudian dengan terpaksa aku memandang ke belakangku. Aku melihat bahwa dunia yang tak berdasar dan fana ini bergulir pergi di lembah-lembah kehampaan dan dalam kegelapan ketiadaan. Ketika aku mencari salep bagi deritaku, ia justru menambahkan racun. Karena dari sisi itu pun aku tidak melihat kebaikan, aku memandang ke depanku; kukirimkan pandanganku ke muka. Aku melihat bahwa pintu kubur tampak terbuka tepat di atas jalanku, menganga mulutnya memandangku. Di belakangnya, jalan raya yang menuju ke arah keabadian dan kafilah-kafilah yang berjalan di jalan itu tampak sayup-sayup dari kejauhan.
Dan terhadap kedahsyatan yang datang dari enam arah ini, tiada sesuatu pun di tanganku yang dapat menjadi titik sandaran dan senjata pembelaan bagiku selain suatu kehendak parsial (juz'-i ihtiyari) yang kecil. Kehendak parsial itu — yang merupakan satu-satunya senjata insani terhadap musuh yang tak terhingga dan hal-hal berbahaya yang tak terhitung itu — karena ia kurang sempurna, pendek, tak berdaya, dan tak mampu mencipta, maka tiada yang dapat ia lakukan selain "usaha" (kasb). Ia tidak dapat menembus masa lampau untuk membungkam kesedihan-kesedihan yang datang kepadaku darinya, dan tidak pula dapat menembus masa depan untuk mencegah ketakutan-ketakutan yang datang darinya. Aku melihat bahwa ia tidak berfaedah bagi angan-angan dan penderitaanku yang berkaitan dengan masa lampau dan masa depan.
Pada saat aku menggelepar di tengah kedahsyatan, keliaran, kegelapan, dan keputusasaan yang datang dari enam arah ini, tiba-tiba cahaya-cahaya iman yang berkilau di langit Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya datang menolong. Ia menerangi dan menyinari enam arah itu sedemikian rupa sehingga, seandainya keliaran dan kegelapan yang kulihat itu berlipat seratus kali pun, cahaya itu tetap cukup dan memadai terhadapnya. Ia mengubah seluruh kedahsyatan itu satu per satu menjadi penghiburan, dan keliaran itu satu per satu menjadi keakraban. Yakni:
Iman merobek rupa kuburan raksasa dari masa lampau yang penuh keliaran itu, dan memperlihatkan — dengan 'ainul-yaqin dan haqqul-yaqin — bahwa ia sesungguhnya adalah majelis bercahaya yang penuh keakraban dan tempat berhimpunnya para kekasih. Iman juga memperlihatkan — dengan ilmul-yaqin — bahwa masa depan yang bagi pandangan lalai tampak sebagai kubur raksasa, sesungguhnya adalah majelis jamuan Rahmani di istana-istana kebahagiaan yang menawan. Iman juga memecahkan rupa keranda dari masa kini yang bagi pandangan lalai tampak dalam keadaan sebuah keranda, dan memperlihatkan — secara nyata disaksikan — bahwa hari kini sesungguhnya adalah kedai perniagaan ukhrawi dan tempat singgah Rahmani yang gemerlap. Iman juga memperlihatkan — dengan ilmul-yaqin — bahwa satu-satunya buah di pucuk pohon umur, yang bagi pandangan lalai tampak berupa jenazah, sesungguhnya bukanlah jenazah; melainkan ruhku — yang memperoleh kehidupan abadi dan dicalonkan bagi kebahagiaan abadi — keluar dari sarangnya yang usang untuk mengembara di bintang-bintang. Iman juga memperlihatkan — dengan rahasia iman — bahwa tulang-belulangku beserta tanah asal penciptaanku bukanlah tulang-belulang yang lenyap tak berarti di bawah kaki; melainkan tanah itu adalah pintu rahmat dan sehelai tabir dari aula Surga. Iman juga memperlihatkan — dengan rahasia Al-Qur'an — keadaan dunia yang bagi pandangan lalai bergulir di belakangku dalam kehampaan dan kegelapan ketiadaan; bahwa dunia yang bergulir dalam kegelapan lahiriah itu sesungguhnya adalah sebagian surat-surat Samadani dan lembaran-lembaran ukiran Subhani yang telah menyelesaikan tugasnya, telah menyampaikan maknanya, dan telah meninggalkan hasil-hasilnya di alam wujud sebagai ganti dirinya. Ia memberitahukan — dengan ilmul-yaqin — apa hakikat dunia itu sesungguhnya. Iman juga memperlihatkan — dengan cahaya Al-Qur'an — bahwa kubur yang di depan sana membuka matanya memandangku, serta jalan raya yang menuju keabadian di belakang kubur itu; bahwa kubur itu bukanlah pintu sumur yang gelap, melainkan pintu alam cahaya.
Dan karena iman memperlihatkan — sampai pada tingkat yang memberikan keyakinan penuh — bahwa jalan itu bukanlah jalan menuju kehampaan dan negeri ketiadaan, melainkan jalan menuju wujud, negeri cahaya, dan kebahagiaan abadi, maka ia menjadi obat sekaligus salep bagi derita-deritaku.
Iman juga, sebagai ganti kehendak parsial kecil yang hanya memiliki daya usaha (kasb) yang amat sedikit di tangannya, memberikan ke tangan kehendak parsial itu suatu surat kuasa (vesika) untuk bersandar pada kekuasaan yang tak terhingga dan bertalian pada rahmat yang tak terhingga terhadap musuh dan kegelapan yang tak terbatas itu.. bahkan barangkali iman itu sendiri menjadi surat kuasa di tangan kehendak parsial itu. Senjata insani yang berupa kehendak parsial itu, memang pada dirinya pendek, tak berdaya, lagi kurang. Akan tetapi, sebagaimana seorang prajurit, ketika menggunakan kekuatan kecilnya atas nama negara, mengerjakan hal-hal yang ribuan derajat melampaui kekuatannya; demikian pula, dengan rahasia iman, kehendak parsial yang kecil itu, jika digunakan atas nama Allah di jalan-Nya, bahkan dapat memenangkan Surga seluas perjalanan lima ratus tahun. Iman juga mengambil kendali kehendak parsial — yang tak dapat menembus masa lampau dan masa depan — dari tangan tubuh, lalu menyerahkannya kepada kalbu dan ruh. Karena lingkaran kehidupan ruh dan kalbu tidak terbatas pada masa kini sebagaimana tubuh — sebab bertahun-tahun dari masa lampau dan bertahun-tahun dari masa depan termasuk ke dalam lingkaran kehidupannya — maka kehendak parsial itu keluar dari keparsialan dan memperoleh keuniversalan (kulliyet). Sebagaimana ia dapat memasuki lembah-lembah terdalam masa lampau dengan kekuatan iman dan menolak kegelapan kesedihan; demikian pula dengan cahaya iman ia mendaki hingga gunung-gunung terjauh masa depan dan melenyapkan ketakutan.
Nah, wahai para orang tua, lelaki dan perempuan, yang menanggung susahnya ketuaan sepertiku! Karena — alhamdulillah — kita adalah orang-orang beriman, karena di dalam iman terdapat khazanah yang sedemikian bercahaya, nikmat, menawan, lagi manis, dan karena ketuaan kita justru semakin mendorong kita ke dalam khazanah ini.. maka sudah tentu kita tidak seharusnya mengeluh atas ketuaan yang beriman, melainkan harus bersyukur ribuan kali.
PENGHARAPAN KEDELAPAN:
Pada suatu masa ketika rambut-rambut putih yang merupakan tanda ketuaan mulai berjatuhan di rambutku, gejolak Perang Umum (Perang Dunia Pertama) yang semakin mempertebal tidur nyenyak masa muda, kekacauan penawananku, dan kemudian — ketika aku datang ke Istanbul — suatu kedudukan kemasyhuran dan kehormatan yang besar; bahkan karena — mulai dari Khalifah, Syaikhul-Islam, dan Panglima Tertinggi, hingga para pelajar madrasah — mereka menunjukkan sambutan hangat dan perhatian yang jauh melampaui kepatutanku, maka kemabukan masa muda dan keadaan ruhani yang ditimbulkan oleh situasi itu telah mempertebal tidur itu sedemikian rupa sehingga aku hampir-hampir memandang dunia ini kekal, dan memandang diriku dalam suatu keadaan ganjil yang seolah melekat pada dunia secara abadi (seakan tak akan mati).
Nah, pada masa itu, pada bulan Ramadan yang mulia, aku pergi ke Masjid Bayezid yang penuh berkah di Istanbul untuk mendengarkan para hafiz yang ikhlas. Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya, dengan seruan samawi-Nya yang tinggi, secara sangat kuat mengumumkan — melalui lisan para hafiz — titah كُلُّ نَفْسٍ ذَٓائِقَةُ الْمَوْتِ yang mengabarkan kefanaan manusia dan kematian setiap makhluk hidup. Ia masuk ke telingaku, menetap hingga ke dalam kalbuku, dan mencabik-cabik lapisan-lapisan kelalaian, tidur, dan kemabukan yang sangat tebal itu berkeping-keping. Aku keluar dari masjid. Dengan pening dari tidur lama yang telah sekian lama menetap di kepalaku, selama beberapa hari aku mendapati diriku bagaikan ada badai di kepalaku, api berasap, dan bagaikan kapal yang kehilangan kompasnya. Setiap kali aku memandang rambutku di cermin, rambut-rambut putih itu berkata kepadaku: "Perhatikanlah!" Nah, dengan peringatan rambut-rambut putih itu, keadaan menjadi jelas. Aku melihat bahwa masa muda — yang sangat kupercayai dan yang kenikmatannya kupuja — mengucapkan selamat tinggal; kehidupan duniawi yang kucintai dan sangat kuperhatikan mulai padam; dan dunia yang sangat kuperhatikan dan hampir kucintai bagaikan kekasih, berkata kepadaku "Selamat jalan," seraya mengingatkan bahwa aku akan pergi dari tempat singgah ini. Ia sendiri pun berkata "Kutitipkan engkau kepada Allah," dan ia pun bersiap untuk pergi. Dalam keuniversalan ayat كُلُّ نَفْسٍ ذَٓائِقَةُ الْمَوْتِ, makna ini tersingkap ke kalbu dari isyarat ayat: "Jenis manusia adalah satu jiwa (nafs), ia akan mati untuk dibangkitkan. Bola bumi pun adalah satu jiwa, ia pun akan mati untuk memasuki suatu rupa yang kekal. Dunia pun adalah satu jiwa, ia pun akan mati untuk memasuki rupa akhirat!"
Nah, dalam keadaan ini aku memandang keadaanku: masa muda yang menjadi sumber kenikmatan pergi, dan ketuaan yang menjadi sumber kesedihan datang menggantikannya. Dan kehidupan yang sangat cemerlang dan bercahaya pergi; kematian yang secara lahiriah gelap dan mengerikan bersiap untuk datang menggantikannya. Dan aku melihat dunia — yang sangat menawan, yang disangka kekal, dan yang menjadi kekasih orang-orang lalai — dengan sangat cepat menuju kefanaan.
Untuk menipu diriku sendiri dan kembali menjerumuskan kepalaku ke dalam kelalaian, aku memandang kenikmatan kedudukan sosial yang kudapati jauh melampaui kepatutanku di Istanbul, namun tiada faedahnya sama sekali. Seluruh sambutan, perhatian, dan penghiburan mereka; hanya dapat mengantar hingga pintu kubur yang dekat denganku, lalu padam di sana. Dan karena aku melihat — di balik tabir berhias kemasyhuran dan kehormatan yang menjadi cita-cita khayali para pemuja ketenaran — suatu riya yang menjijikkan, suatu keangkuhan diri yang dingin, dan suatu kepeningan yang sementara, maka aku memahami bahwa urusan-urusan yang selama ini menipuku ini tidak dapat memberikan penghiburan apa pun, dan di dalamnya tiada cahaya sedikit pun.
Untuk benar-benar terjaga sepenuhnya, guna mendengarkan pelajaran samawi Al-Qur'an, aku kembali mendengarkan para hafiz di Masjid Bayezid. Ketika itu, dari pelajaran samawi itu, aku mendengar kabar-kabar gembira melalui titah-titah suci semisal وَ بَشِّرِ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا dan seterusnya. Dengan limpahan karunia (faidh) yang kuperoleh dari Al-Qur'an, aku tidak mencari penghiburan dari luar; melainkan aku mencari penghiburan, pengharapan, dan cahaya justru di dalam titik-titik yang darinya aku memperoleh kedahsyatan, keliaran, dan keputusasaan. Seratus ribu syukur kepada Allah bahwa: aku menemukan obat justru di dalam derita itu sendiri, menemukan cahaya justru di dalam kegelapan itu sendiri, dan menemukan penghiburan justru di dalam kedahsyatan itu sendiri.
Pertama-tama aku memandang wajah kematian — yang menakutkan setiap orang dan diwahamkan sebagai hal yang paling mengerikan.. dengan cahaya Al-Qur'an aku melihat bahwa: meskipun cadar kematian itu gelap, hitam, dan buruk, namun bagi seorang mukmin wajah aslinya bercahaya dan indah — demikianlah kulihat. Dan dalam banyak risalah kami telah membuktikan hakikat ini secara pasti. Sebagaimana telah kami jelaskan dalam banyak risalah seperti Kelimat Kedelapan dan Surat Kedua Puluh; kematian bukanlah eksekusi, bukan perpisahan, melainkan pendahuluan dan permulaan bagi kehidupan abadi, suatu istirahat dari beban tugas kehidupan, suatu pembebastugasan, dan suatu perpindahan tempat. Ia adalah perjumpaan dengan kafilah para kekasih yang telah berpindah ke alam barzakh. Dan demikianlah, dengan hakikat-hakikat semacam ini, aku melihat wajah kematian yang indah dan sejati. Bukan dengan rasa takut, melainkan dari satu sisi dengan penuh kerinduan aku memandang wajah kematian. Aku memahami salah satu rahasia "rabithah kematian" menurut ahli tarekat.
Kemudian aku memandang masa mudaku yang telah berlalu — yang membuat setiap orang menangis dengan kepergiannya, yang membuat setiap orang terpesona dan merindukannya, dan yang berlalu dengan dosa dan kelalaian; di dalam kain berhiasnya yang indah (pakaiannya) itu, aku melihat suatu wajah yang sangat buruk, mabuk, lagi pening. Seandainya aku tidak mengetahui hakikatnya, maka sebagai ganti membuatku mabuk dan tertawa selama beberapa tahun, ia akan membuatku menangis walau aku tinggal seratus tahun di dunia. Sebagaimana salah seorang dari mereka pernah berkata sambil menangis: لَيْتَ الشَّبَابَ يَعُودُ يَوْمًا فَاُخْبِرَهُ بِمَا فَعَلَ الْمَش۪يبُ Yakni: "Andai masa mudaku kembali sehari saja, niscaya akan kuadukan dan kukatakan kepadanya betapa banyak keadaan menyedihkan yang ditimpakan ketuaan atas diriku." Ya, para orang tua yang tidak mengetahui hakikat masa muda seperti orang ini, memikirkan masa muda mereka lalu menangis dengan penyesalan dan kerinduan. Padahal masa muda, jika berada pada orang-orang mukmin yang berkalbu peka, hadir hati, berakal sehat, dan kalbunya pada tempatnya, dan jika digunakan untuk ibadah, kebaikan, dan perniagaan ukhrawi; maka ia adalah sarana perniagaan yang paling kuat dan wahana kebaikan yang indah lagi manis. Dan masa muda itu, bagi mereka yang mengetahui tugas keagamaannya dan tidak menyalahgunakannya; adalah suatu nikmat Ilahi yang berharga lagi menyenangkan. Jika keistiqamahan, kesucian diri ('iffah), dan ketakwaan tidak menyertainya, maka ia memiliki banyak bahaya. Dengan keliaran-keliarannya, ia merusak kebahagiaan abadi dan kehidupan ukhrawinya, bahkan menghancurkan kehidupan duniawinya pula. Bahkan sebagai ganti satu dua tahun kenikmatan masa muda, ia menanggung kesusahan dan kepedihan selama bertahun-tahun di masa tua. Karena pada kebanyakan manusia masa muda berakibat merugikan, maka kita para orang tua hendaknya bersyukur kepada Allah bahwa kita telah terlepas dari bahaya dan kerugian masa muda. Sebagaimana segala sesuatu, tentu kenikmatan masa muda pun akan berlalu. Jika ia telah digunakan untuk ibadah dan kebaikan; maka buah-buah masa muda itu tetap kekal di tempatnya, dan menjadi sarana untuk memperoleh suatu masa muda dalam kehidupan abadi.
Kemudian aku memandang dunia yang dicintai dan digandrungi kebanyakan manusia. Dengan cahaya Al-Qur'an aku melihat bahwa ada tiga dunia universal yang berlapis satu sama lain. Yang pertama menghadap ke nama-nama Ilahi, dan merupakan cerminnya. Wajah keduanya menghadap ke akhirat, dan merupakan ladangnya. Wajah ketiganya menghadap ke ahli dunia, dan merupakan tempat permainan orang-orang yang lalai. Selain itu, setiap orang memiliki sebuah dunia yang besar di dunia ini. Seakan-akan dunia-dunia sebanyak jumlah manusia saling berlapis satu sama lain. Akan tetapi, tiang dunia pribadi setiap orang adalah kehidupannya sendiri. Kapan pun tubuhnya patah, dunianya runtuh menimpa kepalanya; kiamatnya pun terjadi. Karena orang-orang yang lalai tidak mengetahui keadaan dunia pribadi mereka yang akan runtuh secepat itu, mereka menyangkanya kekal seperti dunia umum lalu menyembahnya. Aku pun memiliki sebuah dunia pribadi yang runtuh dan rusak dengan cepat seperti dunia orang lain. Aku memikirkan: apa faedah dunia pribadiku ini dengan umurku yang sesingkat ini? Dengan cahaya Al-Qur'an aku melihat bahwa: baik bagiku maupun bagi setiap orang, dunia ini bersifat sebuah tempat perniagaan yang sementara, sebuah tempat singgah yang setiap hari terisi dan terkosongkan, sebuah pasar yang didirikan di tepi jalan untuk jual-beli orang-orang yang datang dan pergi, sebuah catatan Sang Pelukis Azali yang senantiasa diperbarui (yang Dia tulis dan hapus dengan hikmah), sepucuk surat berhias emas pada setiap musim semi, sebait kasidah bersajak pada setiap musim panas, cermin-cermin yang menyegarkan dan memperlihatkan kilasan nama-nama Sang Pencipta Pemilik Keagungan, sebuah kebun pembibitan bagi akhirat, sebuah pot bunga rahmat Ilahi, dan sebuah bengkel sementara yang khusus untuk menumbuhkan lukisan-lukisan yang akan diperlihatkan di alam kekekalan. Aku bersyukur seratus ribu kali kepada Sang Pencipta Pemilik Keagungan yang menciptakan dunia ini dalam rupa demikian. Dan aku memahami bahwa: sementara kecintaan telah diberikan kepada jenis manusia untuk wajah-wajah batin dunia yang indah yang menghadap ke akhirat dan ke nama-nama Ilahi, mereka justru menyalahgunakan kecintaan itu dan mencurahkannya untuk wajah dunia yang fana, buruk, merugikan, dan penuh kelalaian; sehingga mereka menjadi manifestasi rahasia hadis mulia حُبُّ الدُّنْيَا رَاْسُ كُلِّ خَط۪يئَةٍ.
Nah, wahai para orang tua, lelaki dan perempuan! Dengan cahaya Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, dengan peringatan ketuaanku, dan dengan iman yang membuka mataku, aku telah melihat hakikat ini dan telah membuktikannya dengan dalil-dalil yang pasti dalam banyak risalah. Aku menemukan bagi diriku suatu penghiburan yang sejati, suatu pengharapan yang kuat, dan suatu cahaya yang cemerlang. Dan aku merasa senang dengan ketuaanku serta bergembira atas kepergian masa muda. Maka janganlah kalian menangis, dan bersyukurlah. Karena iman itu ada dan hakikatnya demikian; biarlah orang-orang yang lalai menangis, biarlah ahli kesesatan menangis.
PENGHARAPAN KESEMBILAN:
Dalam Perang Umum, sebagai tawanan, aku berada di provinsi Kostroma yang sangat jauh, di timur laut Rusia. Di sana terdapat sebuah masjid kecil milik orang-orang Tatar, di tepi Sungai Volga yang termasyhur. Aku merasa sesak di antara teman-temanku, para perwira tawanan di sana. Aku menginginkan kesendirian; namun aku tidak dapat berjalan-jalan di luar tanpa izin. Perkampungan Tatar, dengan jaminan, menerimaku ke masjid kecil di tepi Sungai Volga itu. Aku tidur seorang diri di masjid itu. Musim semi pun telah dekat. Pada malam-malam yang sangat panjang di benua utara itu, aku sering terjaga. Pada malam-malam yang gelap itu dan dalam keterasingan yang gelap, gemericik sendu Sungai Volga, rintik hujan yang mengharukan, dan hembusan angin yang penuh perpisahan, membangunkanku untuk sementara dari tidur kelalaian yang dalam. Memang aku belum menganggap diriku tua, tetapi siapa pun yang menyaksikan Perang Umum adalah orang tua. Seakan-akan menjadi manifestasi rahasia يَوْمًا يَجْعَلُ الْوِلْدَانَ ش۪يبًا, hari-hari itu adalah hari-hari yang — karena menjadikan anak-anak beruban — membuatku, sementara aku berusia empat puluh tahun, mendapati diriku dalam keadaan seorang berusia delapan puluh tahun.
Di tengah malam panjang yang gelap itu, keterasingan yang sendu, dan keadaan yang menyedihkan itu, datanglah keputusasaan terhadap kehidupan dan tanah air. Aku memandang ketidakberdayaanku dan kesendirianku, dan harapanku pun terputus. Ketika aku dalam keadaan itu, pertolongan datang dari Al-Qur'an Yang Mahabijaksana; lidahku mengucapkan حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ, dan kalbuku pun sambil menangis mengucapkan: غَر۪يبَمْ ب۪ى كَسَمْ ضَع۪يفَمْ نَاتُوَانَمْ َاْلاَمَانْ گُويَمْ عَفُوْ جُويَمْ مَدَدْ خَواهَمْ زِدَرْگَاهَتْ اِلٰه۪ى Ruhku pun, sambil memikirkan sahabat-sahabat lama di tanah airku dan membayangkan kematianku dalam keterasingan itu, berkata seperti Niyazi-i Mısrî:
"Melampaui duka dunia, membentangkan sayap menuju ketiadaan, / Terbang penuh rindu di setiap saat, kupanggil: sahabat, wahai sahabat!"
demikianlah ia mencari para sahabat. Bagaimanapun juga... Pada malam keterasingan yang panjang, penuh kesedihan, keharuan, dan perpisahan itu, kelemahan dan ketidakberdayaanku menjadi pemberi syafaat dan wasilah yang begitu besar di hadirat Ilahi, sehingga hingga kini pun aku tercengang. Sebab beberapa hari kemudian, dengan cara yang sama sekali di luar dugaan, aku melarikan diri seorang diri — sementara aku tidak menguasai bahasa Rusia — dari jarak yang bila ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu setahun. Dengan pemeliharaan Ilahi yang datang berdasarkan kelemahan dan ketidakberdayaanku, aku selamat dengan cara yang menakjubkan. Aku singgah hingga ke Warsawa dan Austria lalu sampai ke Istanbul; dan selamat dengan begitu mudah dalam cara demikian sungguh sangat menakjubkan. Dengan banyak kemudahan yang tidak berhasil diraih oleh orang-orang paling berani dan paling cerdik yang menguasai bahasa Rusia, aku menyelesaikan perjalanan pelarian yang panjang itu. Akan tetapi, keadaan malam yang telah disebutkan di masjid di tepi Sungai Volga itu membuatku mengambil keputusan ini: bahwa aku akan menghabiskan sisa umurku di gua-gua. Sudah cukup berbaur dengan kehidupan sosial manusia ini. Karena pada akhirnya aku akan pergi ke kubur seorang diri; maka untuk membiasakan diri dengan kesendirian, sejak sekarang aku akan memilih kesendirian — demikian kataku. Akan tetapi, sayang sekali, para sahabat yang tulus dan banyak di Istanbul, kehidupan duniawi Istanbul yang gemerlap, khususnya hal-hal tanpa hasil seperti kemasyhuran dan kehormatan yang tercurah kepadaku jauh melampaui kepatutanku, membuatku melupakan keputusan itu untuk sementara. Seakan-akan malam keterasingan itu adalah kehitaman yang bercahaya di mata hidupku. Sedangkan siang Istanbul yang putih gemerlap adalah keputihan tanpa cahaya bagi mata hidupku itu, sehingga ia tidak dapat melihat ke depan dan kembali tertidur.. hingga dua tahun kemudian Gaus Geylani, dengan kitab Futûhul-Gaib, kembali membuka mataku.
Nah, wahai para orang tua, lelaki dan perempuan! Ketahuilah bahwa: kelemahan dan ketidakberdayaan pada masa tua merupakan wasilah bagi tertariknya rahmat dan pemeliharaan Ilahi. Sebagaimana aku saksikan pada diriku sendiri melalui banyak peristiwa, kilasan rahmat di permukaan bumi pun memperlihatkan hakikat ini dengan cara yang sangat nyata. Sebab makhluk hewan yang paling tak berdaya dan paling lemah adalah anak-anaknya. Padahal yang memperoleh kilasan rahmat yang paling manis dan paling indah, juga mereka. Ketidakberdayaan seekor anak burung di sarang di pucuk pohon; mempekerjakan induknya — sebagai kilasan rahmat — bagaikan seorang prajurit yang paling patuh. Sang induk berkeliling, membawakan rezekinya. Kapan pun anak itu melupakan ketidakberdayaannya karena sayapnya telah menguat, induknya berkata kepadanya "Pergilah engkau mencari rezekimu sendiri," dan tidak lagi mempedulikannya.
Nah, rahasia rahmat ini, sebagaimana berlaku atas anak-anak hewan, berlaku pula atas para orang tua yang dari sisi kelemahan dan ketidakberdayaan berkedudukan seperti anak-anak itu. Ada pengalaman-pengalaman yang memberiku keyakinan yang pasti bahwa: sebagaimana — berdasarkan ketidakberdayaan anak-anak — rezeki mereka dikirimkan dan dialirkan oleh rahmat dengan cara yang menakjubkan dari keran-keran (puting) susu.. demikian pula, rezeki para orang tua beriman yang telah memperoleh kesucian pun dikirimkan dalam bentuk keberkahan. Bahwa tiang keberkahan sebuah rumah adalah para orang tua di rumah itu; dan bahwa yang menjaga sebuah rumah dari berbagai bala adalah para orang tua yang tak berdosa, lelaki dan perempuan, yang punggungnya telah bungkuk di dalamnya —
{(Catatan): Bunyi lengkap hadis: وَلَوْلاَ الْبَهَٓائِمُ الرُّتَّعُ وَالصُّبْيَانُ الرُّضَّعُ dan seterusnya — atau sebagaimana beliau sabdakan (au kamâ qâl) —}
— dengan menyabdakan وَ لَوْلاَ الشُّيُوخُ الرُّكَّعُ لَصُبَّ عَلَيْكُمُ الْبَلآَءُ صَبًّا yang merupakan sepenggal hadis mulia, yakni: "Sekiranya bukan karena para orang tua kalian yang punggungnya membungkuk dalam rukuk, niscaya bala akan ditumpahkan atas kalian bagaikan air bah," beliau membuktikan hakikat ini.
Nah, karena kelemahan dan ketidakberdayaan pada masa tua sedemikian menjadi sumber tertariknya rahmat Ilahi; dan karena Al-Qur'an Yang Mahabijaksana — dengan ayat اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَٓا اَوْ كِلاَهُمَا فَلاَ تَقُلْ لَهُمَٓا اُفٍّ وَلاَ تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلاً كَر۪يمًا ❊ وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَان۪ى صَغ۪يرًا — dengan cara yang sangat mukjizat dari lima sisi mengajak anak-anak kepada penghormatan dan kasih sayang terhadap ayah dan ibu yang telah tua; dan karena agama Islam memerintahkan penghormatan dan belas kasih terhadap para orang tua; dan karena fitrah kemanusiaan menuntut penghormatan dan belas kasih terhadap para orang tua.. maka tentu kita para orang tua, sebagai ganti kenikmatan materi yang sementara yang timbul dari selera masa muda, memperoleh rahmat dan penghormatan yang maknawi, tetap, lagi penting — yang datang dari pemeliharaan Ilahi dan dari kelembutan jenis — serta kenikmatan-kenikmatan ruhani yang lahir dari rahmat dan penghormatan itu. Kalau begitu, kita tidak seharusnya menukar ketuaan kita ini dengan seratus masa muda. Ya, aku sendiri meyakinkan kalian bahwa: "Seandainya sepuluh tahun masa muda Said Lama diberikan kepadaku, aku tidak akan menukarnya dengan satu tahun ketuaan Said Baru sekarang." Aku rida dengan ketuaanku, dan kalian pun hendaknya rida.
PENGHARAPAN KESEPULUH:
Suatu ketika, setelah aku kembali dari penawanan, di Istanbul selama satu dua tahun kelalaian kembali menguasaiku. Ketika suasana politik telah mengangkat pandanganku dari nafsuku dan mencerai-beraikannya ke cakrawala, pada suatu hari aku duduk di sebuah tempat tinggi yang menghadap lembah di pemakaman Eyüp Sultan di Istanbul. Aku memandang cakrawala di sekeliling Istanbul. Tiba-tiba, aku melihat bahwa dunia pribadiku sedang wafat; datanglah kepadaku suatu keadaan khayali seolah dari sebagian sisi ruh sedang ditarik keluar. Aku berkata: "Barangkali tulisan-tulisan pada batu-batu nisan di pemakaman inikah yang memberiku khayalan semacam ini," lalu kutarik pandanganku. Aku memandang — bukan ke kejauhan, melainkan — ke pemakaman itu, dan diperingatkan ke kalbuku: "Di dalam pemakaman yang di sekelilingmu ini terdapat seratus Istanbul. Sebab seratus kali Istanbul telah dikosongkan ke sini. Engkau tidak dapat terlepas dan menjadi pengecualian dari ketetapan Sang Penguasa Yang Mahakuasa yang telah mengosongkan seluruh penduduk Istanbul ke sini; engkau pun akan pergi." Aku keluar dari pemakaman, dan dengan khayalan yang dahsyat ini, sebagaimana sering kali aku masuk ke sebuah bilik kecil di serambi (mahfil) Masjid Sultan Eyüp, kali ini pun aku masuk. Aku berpikir: Aku adalah tamu dalam tiga sisi; sebagaimana aku adalah tamu di bilik kecil ini, aku pun tamu di Istanbul, dan tamu pula di dunia. Seorang tamu hendaknya memikirkan perjalanannya. Sebagaimana aku akan keluar dari bilik ini, suatu hari aku pun akan keluar dari Istanbul, dan pada hari yang lain aku akan keluar dari dunia.
Nah, dalam keadaan ini, suatu kesedihan dan duka yang sangat mengharukan, penuh perpisahan, lagi menyakitkan menyelimuti kalbu dan kepalaku. Sebab aku tidak hanya kehilangan satu dua sahabat; sebagaimana perpisahan dari ribuan sahabat yang kucintai di Istanbul, aku pun akan berpisah dari Istanbul yang sangat kucintai. Sebagaimana perpisahan dari ratusan ribu sahabatku di dunia, aku pun akan berpisah dari dunia yang indah yang sangat kucintai dan kugandrungi — sambil memikirkan itu, aku kembali pergi ke tempat tinggi di pemakaman itu. Karena aku sesekali pergi ke bioskop — untuk mengambil pelajaran (ibrah) — maka sebagaimana bioskop pada saat itu, dengan menghadirkan bayang-bayang masa lampau ke masa kini, memperlihatkan orang-orang yang telah mati dalam keadaan berjalan berdiri; demikian pula ketika itu aku melihat orang-orang yang kulihat sebagai jenazah-jenazah yang berjalan berdiri. Aku berkata kepada khayalanku: "Karena sebagian dari mereka yang berada di pemakaman ini tampak seolah berjalan-jalan di bioskop; maka pandanglah orang-orang yang pasti akan masuk ke pemakaman ini di masa depan seolah mereka telah masuk; mereka pun jenazah, sedang berjalan-jalan." Tiba-tiba, dengan cahaya Al-Qur'an Yang Mahabijaksana dan dengan bimbingan Hazrat Gaus A'zam Syekh Geylani, keadaan yang menyedihkan itu berubah menjadi keadaan yang penuh suka dan gembira. Yakni:
Terhadap keadaan yang menyedihkan itu, cahaya yang datang dari Al-Qur'an memperingatkan demikian: Dahulu, dalam keterasinganmu di Kostroma di timur laut, engkau memiliki satu dua sahabat perwira tawanan. Engkau tahu bahwa para sahabat ini pasti akan pergi ke Istanbul. Seandainya seseorang berkata kepadamu: "Apakah engkau akan pergi ke Istanbul, atau tinggal di sini?" Tentu, jika engkau memiliki akal sedikit saja, engkau akan menerima kepergian ke Istanbul dengan senang dan gembira. Sebab sembilan ratus sembilan puluh sembilan dari seribu sahabatmu berada di Istanbul. Di sini hanya tersisa satu dua orang, dan mereka pun akan pergi ke sana. Bagimu, pergi ke Istanbul bukanlah perpisahan yang menyedihkan, bukan pula perpisahan yang menyakitkan. Lagipula engkau telah datang, bukankah engkau senang? Engkau telah terlepas dari malam-malam yang sangat gelap dan panjang serta musim dingin badai yang sangat dingin di negeri musuh itu. Engkau telah datang ke Istanbul yang indah (bagaikan surga dunia) ini. Demikian pula persis; sejak kecilmu hingga usiamu sekarang, sembilan puluh sembilan persen dari orang-orang yang kaucintai telah berpindah ke pemakaman yang memberimu kedahsyatan itu. Engkau memiliki satu dua sahabat yang tersisa di dunia ini, dan mereka pun akan pergi ke sana. Kematianmu di dunia bukanlah perpisahan, melainkan perjumpaan (visal); ia adalah pertemuan dengan para kekasih itu. Diperingatkan bahwa mereka, yakni ruh-ruh yang kekal itu, telah meninggalkan sarang-sarang usang mereka di bawah tanah, dan sebagian mengembara di bintang-bintang, sebagian lagi di tingkatan-tingkatan alam barzakh.
Ya, Al-Qur'an dan iman telah membuktikan hakikat ini secara begitu pasti sehingga — selama seseorang tidak sama sekali tak berkalbu dan tak berruh, atau selama kesesatan belum mencekik kalbunya — ia semestinya beriman seolah menyaksikannya. Sebab Sang Pembuat Yang Mahamulia lagi Maha Penyayang — yang menghiasi dunia ini dengan aneka kelembutan dan karunia yang tak terhingga, yang memperlihatkan rububiyah-Nya secara pemurah dan penuh kasih, serta yang memelihara bahkan hal-hal parsial yang paling tak berarti seperti biji-bijian — tentu dan secara nyata tidak akan mengeksekusi, melenyapkan, dan menyia-nyiakan manusia — ciptaan-Nya yang paling sempurna, paling menyeluruh, paling penting, dan paling Dia cintai di antara segala ciptaan-Nya — tanpa belas kasih dan tanpa akibat sebagaimana yang tampak secara lahiriah. Melainkan bagaikan biji-bijian yang ditaburkan seorang petani ke tanah, untuk memberikan bulir dalam suatu kehidupan lain, Sang Pencipta Yang Maha Penyayang melemparkan ciptaan-Nya yang tercinta itu untuk sementara ke bawah tanah yang merupakan pintu rahmat.
{(Catatan): Hakikat ini telah dibuktikan — sepasti dua kali dua sama dengan empat — dalam risalah-risalah lain, khususnya dalam Kelimat Kesepuluh dan Kelimat Kedua Puluh Sembilan.}
Nah, setelah menerima peringatan Qur'ani ini, pemakaman itu menjadi lebih akrab bagiku daripada Istanbul. Menyepi dan mengasingkan diri terasa lebih menyenangkan bagiku daripada berbincang dan bergaul. Aku pun menemukan bagi diriku sebuah tempat menyepi (khalwat) di Sarıyer di kawasan selat Bosporus. Sebagaimana Gaus A'zam (r.a.) dengan Futûhul-Gaib menjadi guru, tabib, dan mursyid bagiku; demikian pula Imam Rabbani (r.a.) dengan Al-Maktubât menjadi sahabat karib, penyayang, dan guru bagiku. Ketika itu, karena aku telah memasuki masa tua, telah menarik diri dari kenikmatan peradaban, dan telah melepaskan diri dari kehidupan sosial, aku merasa sangat senang. Aku bersyukur kepada Allah.
Nah, wahai orang-orang yang telah memasuki masa tua sepertiku dan yang dengan peringatan ketuaan banyak mengingat kematian! Dengan cahaya pelajaran iman yang diberikan Al-Qur'an, kita hendaknya memandang ketuaan, kematian, dan penyakit dengan baik, bahkan dari satu sisi mencintainya. Karena pada kita terdapat suatu nikmat yang tak terhingga berharganya seperti iman; maka ketuaan pun menyenangkan, penyakit pun menyenangkan, dan kematian pun menyenangkan. Jika ada sesuatu yang tidak menyenangkan; maka itu adalah dosa, foya-foya, bidah-bidah, dan kesesatan.
PENGHARAPAN KESEBELAS:
Setelah kembali dari penawanan, kami tinggal bersama di sebuah vila di puncak Bukit Çamlıca di Istanbul, bersama keponakanku almarhum Abdurrahman. Kehidupanku ini, dari sisi kehidupan duniawi, dapat dianggap sebagai kehidupan yang paling berbahagia bagi orang-orang seperti kami. Sebab aku telah terlepas dari penawanan, dan di Dârul-Hikmah terdapat keberhasilan dalam menyebarkan ilmu dengan cara yang paling tinggi yang sesuai dengan profesi keilmuanku. Kedudukan dan kehormatan yang tercurah kepadaku jauh melampaui kepatutanku. Dari segi lokasi, aku tinggal di Çamlıca yang merupakan tempat terindah di Istanbul. Selain itu, segala sesuatuku sempurna. Keponakanku almarhum Abdurrahman yang sangat cerdas dan penuh pengorbanan — yang sekaligus seorang murid, pelayan, juru tulis, dan anak maknawiku — berada bersamaku. Ketika aku menganggap diriku paling berbahagia di dunia melebihi siapa pun, aku memandang ke cermin; kulihat rambut-rambut putih di rambut dan janggutku. Tiba-tiba, kesadaran ruhani yang kualami di masjid di Kostroma dalam penawanan itu kembali bermula.
Sebagai buah dari kesadaran itu, aku mulai menyelidiki keadaan-keadaan dan sebab-sebab yang secara kalbu kuterikat padanya dan yang kusangka sebagai sumber kebahagiaan duniawi. Yang mana pun yang kuselidiki, aku melihat bahwa ia rapuh, tidak layak untuk diikat hati, dan menipu. Pada masa itu, pada seorang temanku yang kusangka paling setia, aku melihat suatu ketidaksetiaan yang tak terduga dan suatu pengkhianatan yang tak terbayangkan. Datanglah rasa ngeri terhadap kehidupan duniawi. Aku berkata kepada kalbuku: "Apakah aku telah tertipu sepenuhnya? Aku melihat bahwa: banyak orang memandang dengan iri kepada keadaan kita yang — dari sudut hakikat — justru patut dikasihani. Apakah semua orang ini telah menjadi gila, ataukah kini akulah yang menjadi gila, sehingga aku memandang orang-orang pemuja dunia ini sebagai orang gila?" Bagaimanapun juga... Aku, dari sisi kesadaran kuat yang diberikan ketuaan, pertama-tama melihat kefanaan hal-hal fana yang paling kuperhatikan. Aku pun memandang diriku, dan mendapatinya dalam puncak ketidakberdayaan. Ketika itu, ruhku — yang menginginkan kekekalan dan yang karena waham kekekalan tergandrung pada hal-hal fana — dengan segenap kekuatannya berkata: "Karena aku fana secara jasmani, kebaikan apa yang dapat datang kepadaku dari hal-hal fana ini? Karena aku tak berdaya, apa yang dapat kuharapkan dari yang tak berdaya ini? Aku memerlukan Sang Mahakekal nan Abadi (Bâqî Sermedî) dan Sang Mahakuasa nan Azali (Qadîr Azalî) yang akan menemukan penawar bagi deritaku." Seraya berkata demikian, aku mulai mencari.
Ketika itu, sebelum segala sesuatu, aku merujuk pada ilmu yang telah lama kupelajari, dan mulai mencari suatu penghiburan, suatu pengharapan. Sayang sekali, hingga masa itu aku telah memenuhi benakku dengan ilmu-ilmu filsafat bersama ilmu-ilmu keislaman, dan secara sangat keliru menyangka ilmu-ilmu filsafat itu sebagai tambang kesempurnaan dan sumber pencerahan. Padahal persoalan-persoalan filsafat itu telah amat mengotori ruhku dan menjadi penghalang bagi kemajuan-kemajuan maknawiku. Tiba-tiba, dengan rahmat dan kemurahan Allah, hikmah suci yang terdapat dalam Al-Qur'an Yang Mahabijaksana datang menolong. Sebagaimana telah dijelaskan dalam banyak risalah; ia mencuci dan membersihkan kotoran-kotoran persoalan filsafat itu. Sebagai contoh: kegelapan-kegelapan ruhani yang datang dari sains filsafat menenggelamkan ruhku ke dalam alam semesta. Ke arah mana pun aku memandang, aku mencari cahaya; namun aku tidak menemukan cahaya dalam persoalan-persoalan itu, dan aku tidak dapat bernapas. Hingga tauhid yang datang dari Al-Qur'an Yang Mahabijaksana dan diajarkan dengan kalimat "Lâ ilâha illâ Hû," sebagai cahaya yang sangat cemerlang, menyirnakan seluruh kegelapan itu; aku pun bernapas dengan lega. Akan tetapi, nafsu dan setan, dengan bersandar pada pelajaran yang mereka ambil dari ahli kesesatan dan ahli filsafat, menyerang akal dan kalbu. Perdebatan batin (munâzarah nafsiyah) dalam serangan ini — segala puji bagi Allah — berakhir dengan kemenangan kalbu. Sebagian dari perdebatan itu telah ditulis dalam banyak risalah. Dengan mencukupkan diri padanya, di sini — untuk memperlihatkan satu dari seribu kemenangan kalbu — aku akan menjelaskan satu dalil saja dari ribuan dalil. Agar ia melakukan pembersihan pada ruh sebagian orang tua yang pada masa mudanya telah mengotori ruhnya, menyakiti kalbunya, dan memanjakan nafsunya dengan persoalan-persoalan yang sebagian sesat dan sebagian sia-sia di bawah nama filsafat asing atau sains peradaban. Agar ia terlepas dari keburukan setan dan nafsu dalam hal tauhid. Yakni:
Atas nama perwakilan ilmu-ilmu filsafat, nafsuku berkata: Sebab-sebab di alam semesta ini memiliki campur tangan atas segala yang maujud ini melalui tabiatnya. Segala sesuatu bergantung pada suatu sebab. Buah harus diminta dari pohon, biji-bijian dari tanah. Apa artinya meminta bahkan hal yang paling parsial dan paling kecil kepada Allah serta memohon kepada Allah?
Ketika itu, dengan cahaya Al-Qur'an, rahasia tauhid tersingkap dalam bentuk berikut. Kalbuku berkata kepada nafsuku yang berfilsafat itu: "Hal yang paling parsial dan paling kecil, sebagaimana hal yang paling besar, secara langsung datang dari kekuasaan Pencipta seluruh alam semesta ini dan keluar dari khazanah-Nya. Tidak mungkin dengan cara lain. Adapun sebab-sebab hanyalah sehelai tabir. Sebab makhluk yang kita sangka paling tak berarti dan paling kecil, terkadang dari sisi seni dan penciptaan justru lebih besar daripada yang paling besar. Lalat, meskipun dari sisi seni tidak melampaui ayam, ia pun tidak tertinggal darinya. Kalau begitu, besar dan kecil tidak boleh dibedakan. Entah seluruhnya dibagi-bagikan kepada sebab-sebab materi, atau seluruhnya sekaligus diserahkan kepada satu Dzat. Sebagaimana kemungkinan pertama mustahil, maka kemungkinan ini wajib lagi pasti.
Sebab jika diserahkan kepada satu Dzat, yakni kepada Sang Mahakuasa nan Azali; karena ilmu-Nya — yang keberadaannya terbukti secara pasti melalui keteraturan dan hikmah segala yang maujud — meliputi segala sesuatu.. dan karena dalam ilmu-Nya kadar segala sesuatu telah tertentukan.. dan karena secara nyata disaksikan bahwa setiap saat, dari ketiadaan, dengan kemudahan yang tak terhingga, muncullah ciptaan-ciptaan yang penuh seni tak terhingga.. dan karena Sang Mahakuasa lagi Maha Mengetahui itu — sebagaimana telah kami jelaskan dengan dalil-dalil yang tak terhingga kuatnya dalam banyak risalah, dan khususnya telah dibuktikan pada akhir Surat Kedua Puluh dan Lem'a Kedua Puluh Tiga — memiliki kekuasaan tak terhingga untuk mengadakan apa pun juga dengan perintah "Kun Fayakûn" bagaikan menyalakan korek api; maka tentu, kemudahan dan keringanan luar biasa yang disaksikan secara nyata itu berasal dari cakupan ilmu dan keagungan kekuasaan itu.
Sebagai contoh, sebagaimana sebuah kitab yang ditulis dengan tinta berbahan kimia yang tak terlihat oleh mata, bila dioleskan padanya suatu bahan kimia khusus untuk menampakkan tulisan itu; maka kitab besar itu seketika menampakkan wujudnya kepada setiap mata dan membuat dirinya terbaca. Demikian pula persis; dalam ilmu Sang Mahakuasa nan Azali yang meliputi segala sesuatu, rupa khusus setiap sesuatu tertentukan dengan suatu kadar yang tertentu. Sang Mahakuasa Mutlak, dengan perintah "Kun Fayakûn," dengan kekuasaan-Nya yang tak terhingga dan kehendak-Nya yang berdaya laksana, — bagaikan bahan kimia yang dioleskan pada tulisan itu — dengan sangat mudah dan ringan mengoleskan kekuatan-Nya, yang merupakan kilasan kekuasaan, pada hakikat ilmiah itu, lalu memberikan wujud lahiriah kepada sesuatu itu; menampakkannya kepada mata, dan membuat ukiran-ukiran hikmahnya terbaca.
Jika segala sesuatu tidak sekaligus diserahkan kepada Sang Mahakuasa nan Azali lagi Maha Mengetahui segala sesuatu itu; maka wujud sesuatu yang paling kecil seperti lalat pun harus dikumpulkan dari sebagian besar jenis dunia dengan suatu timbangan khusus, sekaligus hal itu baru dapat terjadi bila zarah-zarah yang bekerja dalam wujud lalat kecil itu mengetahui rahasia penciptaan lalat itu dan kesempurnaan seninya dengan segala seluk-beluknya. Sebab sebab-sebab alami dan sebab-sebab materi, secara nyata dan dengan kesepakatan seluruh orang berakal, tidak dapat mengadakan dari ketiadaan. Kalau begitu, seandainya mereka mengadakan, tentu mereka harus mengumpulkan. Karena harus mengumpulkan, maka makhluk hidup apa pun juga — di dalamnya terdapat contoh-contoh dari sebagian besar unsur dan jenis. Ia seakan-akan bagaikan ringkasan dan benih alam semesta. Maka tentu dalam keadaan itu, sebutir benih harus disaring dengan saringan halus dari seluruh pohon, dan seekor makhluk hidup dari seluruh permukaan bumi, lalu ditimbang dengan timbangan yang paling peka dan dikumpulkan. Dan karena sebab-sebab alami itu jahil (tak berilmu) dan mati (jamid); ia tidak memiliki ilmu untuk menentukan suatu rancangan, daftar, model, dan program, lalu — sesuai dengan itu — melebur dan menuangkan zarah-zarah yang datang ke cetakan maknawi; agar tidak tercerai-berai dan tidak merusak keteraturannya. Padahal karena bentuk dan susunan segala sesuatu dapat berada dalam corak yang tak terhingga, maka menahan zarah-zarah unsur yang mengalir bagaikan air bah dalam satu bentuk dan kadar tunggal — di antara bentuk dan kadar yang tak terhingga dan tak terhitung — agar tidak tercerai-berai, secara teratur, tanpa ukuran, tanpa cetakan, dalam keadaan bertumpuk-tumpuk satu di atas yang lain, dan memberikan wujud yang teratur kepada makhluk hidup; tampak betapa jauhnya hal itu dari kemungkinan, dari kebolehjadian, dan dari akal. Tentu, siapa pun yang di kalbunya tiada kebutaan, ia akan melihatnya.
Ya, berdasarkan hakikat ini, dengan rahasia ayat agung اِنَّ الَّذ۪ينَ تَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللّٰهِ لَنْ يَخْلُقُوا ذُبَابًا وَلَوِ اجْتَمَعُوا لَهُ ini
{(Catatan): Yakni: seluruh hal yang kalian seru dan sembah selain Allah, sekiranya berkumpul, mereka tidak akan mampu menciptakan seekor lalat pun.}
sekiranya seluruh sebab materi berkumpul, dan sekiranya mereka pun memiliki kehendak, mereka tidak akan mampu mengumpulkan wujud seekor lalat pun beserta perangkat wujud itu dengan timbangan khusus. Sekiranya pun mereka mengumpulkannya, mereka tidak akan mampu menahannya dalam kadar tertentu wujud itu. Sekiranya pun mereka menahannya, mereka tidak akan mampu mempekerjakan secara teratur zarah-zarah yang senantiasa diperbarui dan yang datang bekerja pada wujud itu. Kalau begitu; secara nyata, sebab-sebab tidak dapat menjadi pemilik atas segala sesuatu ini. Artinya, pemilik sejatinya adalah selain mereka.
Ya, mereka memiliki pemilik sejati sedemikian rupa sehingga; dengan rahasia ayat مَا خَلْقُكُمْ وَلاَ بَعْثُكُمْ اِلاَّ كَنَفْسٍ وَاحِدَةٍ, Dia membuat seluruh makhluk hidup di permukaan bumi semudah menghidupkan seekor lalat. Dia mengadakan satu musim semi semudah satu kuntum bunga. Sebab Dia tidak perlu mengumpulkan. Karena Dia memiliki perintah "Kun Fayakûn," dan karena pada setiap musim semi — selain materi unsur dari maujud-maujud musim semi yang tak terhingga — Dia mengadakan sifat, keadaan, dan bentuknya yang tak terhingga dari ketiadaan, dan karena dalam ilmu-Nya rancangan, model, daftar, dan program segala sesuatu telah tertentukan, serta karena seluruh zarah bergerak dalam lingkup ilmu dan kekuasaan-Nya, maka Dia mengadakan segala sesuatu dengan kemudahan yang tak terkira bagaikan menyalakan korek api. Dan tiada sesuatu pun yang keliru dalam gerakannya walau sezarah. Sebagaimana planet-planet merupakan bala tentara-Nya yang patuh, zarah-zarah pun beralih menjadi bala tentara-Nya yang teratur.
Karena mereka bergerak dengan bersandar pada kekuasaan azali itu dan bekerja dengan kaidah ilmu azali itu; maka karya-karya itu muncul sesuai dengan kekuasaan itu. Bukannya karya-karya itu mengecil hanya karena memandang kepada wujud-wujud kecil dan tak berarti itu. Dengan kekuatan pertaliannya pada kekuasaan itu, seekor lalat membinasakan seorang Namrud. Seekor semut menghancurkan istana Firaun. Sebutir benih cemara yang kecil bagaikan zarah, memikul beban sebatang pohon cemara yang besar bagaikan gunung di atas pundaknya. Sebagaimana kami telah membuktikan hakikat ini dalam banyak risalah, sebagaimana seorang prajurit — dari sisi pertaliannya pada raja melalui surat kemiliteran — memperoleh karya-karya seperti menawan seorang syah, seratus ribu kali melampaui kekuatannya sendiri. Demikian pula segala sesuatu, dengan pertaliannya pada kekuasaan azali itu, dapat memperoleh mukjizat-mukjizat seni yang seratus ribu kali melampaui sebab-sebab alami.
Kesimpulannya; wujud segala sesuatu yang pada puncaknya penuh seni sekaligus penuh kemudahan memperlihatkan bahwa ia adalah karya Sang Mahakuasa nan Azali yang memiliki ilmu yang meliputi segala sesuatu. Sekiranya tidak, maka di tengah seratus ribu kemustahilan, bukannya muncul ke wujud, melainkan ia akan keluar dari lingkup kemungkinan dan masuk ke lingkup kemustahilan (imtinâ'), keluar dari rupa yang mungkin dan masuk ke hakikat yang mustahil (mumtani'), dan tiada sesuatu pun yang akan muncul ke wujud; bahkan kemunculannya ke wujud akan menjadi mustahil.
Nah, dengan dalil yang sangat halus, sangat kuat, sangat dalam, sekaligus sangat nyata ini, nafsuku — yang merupakan murid sementara setan serta wakil ahli kesesatan dan ahli filsafat — pun terdiam. Dan segala puji bagi Allah, ia benar-benar sampai kepada iman. Dan ia berkata: Ya, aku memerlukan Pencipta dan Tuhan sedemikian rupa sehingga Dia mengetahui lintasan kalbuku yang paling kecil dan permohonanku yang paling tersembunyi, dan sebagaimana Dia memenuhi kebutuhan ruhku yang paling rahasia, demikian pula — untuk memberiku kebahagiaan abadi — Dia akan mengubah dunia yang besar ini menjadi akhirat, mengangkat dunia ini dan mendirikan akhirat sebagai gantinya, mengadakan langit sebagaimana Dia menciptakan lalat, dan — sebagaimana Dia memancangkan Matahari sebagai sebuah mata di wajah langit — Dia pun menempatkan sebuah zarah di biji mataku; Dia haruslah memiliki kekuasaan semacam itu. Sekiranya tidak, maka yang tidak mampu menciptakan lalat tidak akan mampu campur tangan dalam lintasan kalbuku, tidak akan mampu mendengar permohonan ruhku.. yang tidak menciptakan langit tidak akan mampu memberiku kebahagiaan abadi. Kalau begitu, Tuhanku adalah Dzat yang; memperbaiki lintasan kalbuku, dan sebagaimana Dia memenuhi angkasa dengan awan dalam satu jam lalu mengosongkannya, Dia mengubah dunia menjadi akhirat, membangun Surga, dan membukakan pintunya bagiku; seraya berkata: "Ayo masuklah!"
Nah, wahai saudara-saudara tuaku yang — akibat kemalangan seperti nafsuku — telah mencurahkan sebagian umurnya untuk filsafat tanpa cahaya dan sains asing! Pahamilah dari titah suci "Lâ ilâha illâ Hû" yang senantiasa disebut dalam lisan Al-Qur'an, betapa kuat, betapa hakiki, dan betapa suci sebuah rukun imani yang tak tergoyahkan, tak ternoda, dan tak berubah dari sisi mana pun — betapa ia menyirnakan seluruh kegelapan maknawi dan menyembuhkan luka-luka maknawi.
Pencantuman kisah panjang ini di antara pintu-pintu pengharapan masa tuaku, hampir-hampir bukanlah atas kehendakku. Aku tidak menginginkannya, bahkan aku enggan karena khawatir ia akan membosankan. Akan tetapi, aku dapat mengatakan bahwa ia dituliskan kepadaku (bukan olehku). (Bagaimanapun juga, aku kembali ke pokok bahasan.)
Akibat rambut-rambut putih di rambut dan janggutku serta ketidaksetiaan seorang yang dahulu setia, datanglah kepadaku rasa benci terhadap kenikmatan kehidupan duniawi Istanbul yang gemerlap, yang secara lahiriah manis dan berhias itu.
Nafsu mencari kenikmatan-kenikmatan maknawi sebagai ganti kenikmatan yang dahulu memesonanya. Pada masa tua yang bagi pandangan orang-orang lalai tampak dingin, berat, dan tidak menyenangkan ini, ia menginginkan suatu penghiburan, suatu cahaya. Segala puji bagi Allah, seratus ribu syukur kepada-Nya, sebagaimana aku menemukan kenikmatan-kenikmatan imani yang sejati, tetap, dan manis di dalam "Lâ ilâha illâ Hû" dan di dalam cahaya tauhid, sebagai ganti seluruh kenikmatan duniawi yang tak hakiki, tak berasa, dan tak berakibat baik itu.. aku pun melihat masa tua — yang bagi pandangan orang-orang lalai tampak dingin dan berat — dengan cahaya tauhid itu menjadi sangat ringan, hangat, dan bercahaya. Wahai para orang tua, lelaki dan perempuan! Karena pada kalian ada iman, dan karena ada salat serta permohonan yang menyinari dan menyingkapkan iman; maka kalian dapat memandang ketuaan kalian dengan pandangan sebagai suatu masa muda yang abadi. Sebab dengannya kalian dapat memenangkan suatu masa muda yang abadi. Adapun ketuaan yang benar-benar dingin, berat, buruk, gelap, dan menyakitkan; adalah ketuaan ahli kesesatan, bahkan barangkali juga masa muda mereka. Mereka yang seharusnya menangis, mereka yang seharusnya berkata "wâ-asafâ, wâ-hasratâ (aduhai penyesalan, aduhai kerinduan)." Adapun kalian, wahai para orang tua terhormat yang beriman! Kalian hendaknya berkata "Alhamdulillâhi 'alâ kulli hâl (segala puji bagi Allah dalam segala keadaan)" dan bersyukur dengan gembira.
PENGHARAPAN KEDUA BELAS:
Suatu ketika, di distrik Barla di provinsi Isparta, di bawah nama pengasingan, dalam suatu penawanan yang penuh siksaan, di sebuah desa yang sunyi dan sebatang kara, dalam keadaan dilarang bergaul dan berkomunikasi, ketika aku berada dalam keadaan yang sangat berantakan di tengah penyakit, ketuaan, dan keterasingan sekaligus; Allah, dari kesempurnaan belas kasih-Nya, telah menganugerahkan kepadaku suatu cahaya yang menjadi sumber penghiburan berkenaan dengan poin-poin halus dan rahasia-rahasia Al-Qur'an Yang Mahabijaksana. Dengannya aku berusaha melupakan keadaanku yang pahit, menyakitkan, dan menyedihkan itu. Aku dapat melupakan tanah airku, sahabat-sahabatku, dan kerabatku. Akan tetapi, aduhai kerinduan, ada satu orang yang tak dapat kulupakan. Ia adalah almarhum Abdurrahman — yang sekaligus keponakanku, anak maknawiku, muridku yang paling penuh pengorbanan, dan sahabatku yang paling berani. Ia telah berpisah dariku enam tujuh tahun sebelumnya. Ia tidak mengetahui tempatku agar dapat bergegas menolong dan menghiburku, dan aku pun tidak mengetahui keadaannya agar dapat berkomunikasi dan berbagi keluh kesah dengannya. Pada masa keadaan ketuaanku ini; aku memerlukan seseorang yang penuh pengorbanan dan setia semacam itu.
Kemudian, tiba-tiba seseorang memberiku sebuah surat. Aku membuka surat itu dan melihat bahwa: itu adalah sebuah surat yang memperlihatkan hakikat Abdurrahman dengan sepenuhnya, dan sebagian dari surat itu telah dicantumkan di antara paragraf-paragraf Surat Kedua Puluh Tujuh dengan cara yang memperlihatkan tiga karamah yang nyata. Surat itu telah membuatku menangis banyak, dan hingga kini pun membuatku menangis. Almarhum Abdurrahman, dengan surat itu secara sangat sungguh-sungguh dan tulus; menyatakan bahwa ia telah membenci kenikmatan-kenikmatan dunia, dan bahwa maksud terbesarnya adalah menyusulku dan — sebagaimana dahulu aku merawatnya di masa kecilnya — ia pun melayaniku di masa tuaku. Dan juga membantuku dengan penanya yang cakap dalam penyebaran rahasia-rahasia Qur'ani yang merupakan tugas sejatiku di dunia. Bahkan dalam suratnya ia menulis: "Kirimkanlah kepadaku dua puluh tiga puluh risalah, akan kutulis dan kusuruh tuliskan dua puluh tiga puluh salinan dari masing-masingnya."
Surat itu memberiku suatu harapan yang kuat terhadap dunia. Karena aku telah menemukan seorang murid yang berani semacam itu — yang memiliki kecerdasan setingkat kejeniusan dan yang akan melayaniku dengan kesetiaan dan ikatan yang jauh melampaui anak kandung sejati — maka aku melupakan penawanan yang penuh siksaan itu, kesebatangkaraan itu, keterasingan itu, dan ketuaan itu. Sebelum surat itu, sebuah salinan Kelimat Kesepuluh yang telah kucetak mengenai iman kepada akhirat telah sampai ke tangannya. Seakan-akan risalah itu adalah penawar baginya yang; menyembuhkan seluruh luka maknawi yang ia terima selama enam tujuh tahun. Ia menulis surat itu kepadaku seolah sedang menanti ajalnya dengan iman yang sangat kuat dan cemerlang.
Satu dua bulan kemudian, ketika aku sedang membayangkan untuk kembali menjalani kehidupan duniawi yang berbahagia melalui Abdurrahman, "aduhai kerinduan" — tiba-tiba aku menerima kabar kematiannya. Kabar ini mengguncangku sedemikian rupa sehingga selama lima tahun aku masih berada di bawah pengaruhnya. Penawanan penuh siksaan, kesendirian, keterasingan, ketuaan, dan penyakit yang kualami ketika itu; memberiku suatu perpisahan, keharuan, dan kesedihan yang sepuluh kali lipat melampaui semua itu. Aku berkata bahwa dengan wafatnya almarhumah ibuku, separuh dunia pribadiku telah wafat bersama wafatnya. Dan dengan wafatnya Abdurrahman, aku melihat bahwa separuh dunia lainku yang tersisa pun telah wafat. Keterikatanku dengan dunia terputus sama sekali. Sebab seandainya ia tetap tinggal di dunia; ia dapat menjadi sumber yang kuat bagi tugas ukhrawiku di dunia dan penerus terbaik yang akan sepenuhnya menggantikan tempatku setelahku, sekaligus sumber penghiburan yang paling penuh pengorbanan dan seorang sahabat bagiku di dunia ini.. dan ia akan menjadi muridku yang paling cerdas, seorang lawan bicara, serta pemilik dan penjaga yang paling tepercaya bagi bagian-bagian Risale-i Nur.
Ya, dari sisi kemanusiaan, kehilangan semacam ini sangat membakar hati bagi orang-orang sepertiku, ia membakar. Memang secara lahiriah aku berusaha bersabar, tetapi di dalam ruhku ada badai yang dahsyat. Seandainya penghiburan yang datang dari cahaya Al-Qur'an tidak sesekali menenangkanku, tidak akan mungkin bagiku untuk bertahan. Ketika itu aku pergi seorang diri berjalan-jalan ke lembah-lembah dan gunung-gunung Barla. Ketika aku duduk di tempat-tempat sepi, dan lukisan-lukisan kehidupan berbahagia yang dahulu kulewatkan bersama murid-murid setiaku seperti Abdurrahman melintas di khayalanku bagaikan bioskop, kecepatan kepedihan yang ditimbulkan ketuaan dan keterasingan itu meruntuhkan daya tahanku. Tiba-tiba rahasia ayat suci كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُونَ tersingkap. Ia membuatku mengucapkan "Yâ Bâqî Antal-Bâqî! Yâ Bâqî Antal-Bâqî! (Wahai Yang Mahakekal, Engkaulah Yang Mahakekal!)" dan dengannya memberikan penghiburan yang sejati. Ya, di lembah yang sepi itu, dalam keadaan yang menyedihkan itu, dengan rahasia ayat suci ini, sebagaimana diisyaratkan dalam Risalah Mirkâtus-Sunnah, aku melihat diriku berada di hadapan tiga jenazah besar:
Pertama: Aku melihat diriku sebagai sebuah batu nisan di atas kubur lima puluh lima Said yang telah mati hingga usiaku lima puluh lima tahun dan telah dikuburkan sepanjang usia hidupku.
Jenazah kedua: Aku melihat diriku dalam rupa seekor makhluk hidup kecil bagaikan semut, yang berjalan di wajah abad ini — yang berkedudukan sebagai batu nisan di kepala jenazah besar itu, yakni sesama jenis dan jenisku yang telah wafat sejak zaman Adam ('alaihis-salâm) dan dikuburkan di kubur masa lampau.
Adapun jenazah ketiga; terwujud di hadapan khayalanku bahwa — dengan wafatnya suatu dunia yang berpindah setiap tahun di permukaan bumi bagaikan manusia — dunia besar pun akan wafat dengan rahasia ayat ini.
Nah, ayat mulia ini — yang akan sepenuhnya menerangi makna yang dahsyat yang datang dari kesedihan atas wafatnya Abdurrahman, serta akan memberikan penghiburan sejati dan cahaya yang tak padam — datang menolong dengan makna isyaratnya. فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِىَ اللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِ Ya, ayat ini memberitahukan bahwa: Karena Allah ada, maka Dia adalah pengganti bagi segala sesuatu. Karena Dia kekal, maka tentu Dia mencukupi. Satu kilasan pemeliharaan-Nya menggantikan seluruh dunia. Dan satu kilasan cahaya-Nya memberikan kehidupan maknawi kepada tiga jenazah besar yang telah disebutkan. Ia memperlihatkan bahwa mereka bukanlah jenazah, melainkan telah menyelesaikan tugas-tugas mereka dan telah pergi ke alam-alam lain. Karena penjelasan rahasia ini telah berlalu dalam Lem'a Ketiga, maka dengan mencukupkan diri padanya, di sini aku hanya berkata bahwa: dua kali "Yâ Bâqî Antal-Bâqî! Yâ Bâqî Antal-Bâqî!" yang memperlihatkan makna ayat كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ dan seterusnya... telah menyelamatkanku dari keadaan yang sangat menyakitkan dan menyedihkan itu. Yakni:
Ketika pertama kali aku mengucapkan "Yâ Bâqî Antal-Bâqî," suatu pengobatan bagaikan operasi bedah bermula di dalam luka-luka maknawi yang tak terhingga yang lahir dari kefanaan dunia dan para kekasih yang tak terhingga banyaknya yang kuterikat padanya seperti Abdurrahman di dunia, serta dari terputusnya ikatan-ikatanku.
Ketika kedua kali, kalimat "Yâ Bâqî Antal-Bâqî" menjadi salep sekaligus penawar bagi seluruh luka maknawi yang tak terhingga itu. Yakni: Engkau Mahakekal; biarlah yang pergi berlalu, Engkau mencukupi. Karena Engkau Mahakekal, satu kilasan rahmat-Mu mencukupi sebagai ganti segala sesuatu yang fana. Karena Engkau ada, maka bagi manusia yang mengetahui pertaliannya pada keberadaan-Mu dengan iman dan yang bergerak sesuai pertalian itu dengan rahasia keislaman, segala sesuatu ada. Dengan memikirkan bahwa kefanaan dan kesirnaan, kematian dan ketiadaan hanyalah sehelai tabir dan suatu pembaruan; bahwa ia berkedudukan sebagai pengembaraan di persinggahan-persinggahan yang berbeda — maka keadaan ruhani yang membakar hati, penuh perpisahan, menyedihkan, menyakitkan, gelap, dan dahsyat itu sepenuhnya berubah menjadi suatu keadaan yang penuh suka, gembira, nikmat, bercahaya, menawan, dan akrab. Lidahku dan kalbuku, bahkan dengan lisan keadaan seluruh zarah wujudku mengucapkan "Alhamdulillâh."
Nah, satu dari seribu bagian kilasan rahmat itu adalah ini: Aku kembali ke Barla dari lembah yang menjadi tempat kesedihanku itu dan dari keadaan yang membangkitkan kesedihan itu. Aku melihat bahwa seorang pemuda bernama Mustafa dari Kuleönü telah datang untuk menanyakan kepadaku beberapa persoalan mengenai wudu dan salat yang berkaitan dengan ilmu hal. Ketika itu, meskipun aku tidak menerima tamu, ruhku seakan-akan dengan firasat sebelum kejadian (hiss-i qablal-wuqû') membaca — dalam ruh pemuda itu — keikhlasan dalam ruhnya dan pelayanan berharga yang akan ia berikan kepada Risale-i Nur di masa depan,{(Catatan-1): Nah, adik Mustafa itu, yaitu Ali Kecil, dengan penanya yang indah dan sehat telah menulis lebih dari tujuh ratus Risalah Nur, sehingga sepenuhnya secara nyata menjadi seorang Abdurrahman, dan ia pun mendidik banyak Abdurrahman lainnya.} maka aku tidak menolaknya kembali, aku menerimanya.
{(Catatan-2): Sesungguhnya, ia memperlihatkan bahwa dirinya bukan hanya layak untuk diterima (kabul), melainkan layak untuk disambut sekaligus layak akan masa depan (istiqbâl). — Sebuah peristiwa yang membenarkan penilaian Ustadku tentang kelayakan Mustafa, murid pertama Risale-i Nur, akan masa depan: Sehari sebelum arafah Iduladha, Ustadku hendak pergi berjalan-jalan. Ketika beliau mengutusku untuk membawa kuda, aku berkata kepada Ustadku: "Engkau jangan turun ke bawah, aku akan menutup pintu dari belakang dan keluar dari gudang kayu." Ustadku berkata: "Tidak"; "Keluarlah engkau dari pintu," seraya beliau turun ke bawah. Setelah aku keluar dari pintu, beliau memalang pintu dari belakang. Aku pergi, dan beliau sendiri naik ke atas. Kemudian beliau berbaring. Beberapa saat kemudian Mustafa dari Kuleönü datang bersama Hacı Osman. Ustadku tidak menerima siapa pun dan tidak akan menerima. Terlebih lagi ketika itu beliau sama sekali tidak menerima dua orang bersamaan di dekatnya, melainkan menolak mereka kembali. Padahal saudara kita yang dibicarakan dalam kedudukan ini, Mustafa dari Kuleönü, ketika datang bersama Hacı Osman, pintu itu seakan-akan dengan lisan keadaan berkata kepadanya: "Ustadmu tidak akan menerimamu, tetapi aku akan terbuka untukmu," lalu pintu yang telah dipalang dari belakang itu terbuka dengan sendirinya bagi Mustafa. Artinya, sebagaimana masa depan telah memperlihatkan kebenaran ucapan Ustadku tentang dirinya, "Mustafa layak akan masa depan," maka pintu itu pun menjadi saksi atas hal ini. Hüsrev. — Ya, apa yang ditulis Hüsrev itu benar, aku membenarkannya. Pintu itu telah menyambut (istiqbâl) sekaligus menerima (kabul) Mustafa yang penuh berkah ini sebagai gantiku. Said Nursî}
Kemudian menjadi jelas bahwa, sebagai ganti Abdurrahman — yang akan sepenuhnya menunaikan tugas seorang pewaris sejati dalam pelayanan Risale-i Nur dan sebagai penerus terbaik setelahku — Allah telah mengirimkan Mustafa kepadaku sebagai contoh; bahwa: "Aku telah mengambil satu Abdurrahman darimu, dan sebagai gantinya Aku akan memberikan kepadamu tiga puluh Abdurrahman seperti Mustafa yang engkau lihat ini dalam tugas keagamaan itu — sebagai murid, keponakan, anak maknawi, saudara, sekaligus sahabat yang penuh pengorbanan." Ya, segala puji bagi Allah, Dia telah memberikan tiga puluh Abdurrahman. Ketika itu aku berkata: Wahai kalbuku yang menangis! Karena engkau telah melihat contoh ini dan dengannya luka maknawi yang paling penting telah disembuhkan; maka semestinya timbul keyakinan padamu bahwa seluruh luka lain yang menyedihkanmu pun akan disembuhkan.
Nah, wahai saudara-saudara tua, lelaki dan perempuan, yang seperti diriku kehilangan anak atau kerabat yang sangat dicintai pada masa tua, dan yang di atas beban berat ketuaan yang membebani punggungnya juga memikul duka-duka berat yang datang dari perpisahan! Kalian telah memahami keadaanku yang jauh lebih berat daripada keadaan kalian; karena sebuah ayat mulia semacam ini telah mengobati dan menyembuhkannya; maka tentu di dalam apotek suci Al-Qur'an Yang Mahabijaksana terdapat obat-obat yang akan menyembuhkan seluruh derita kalian.
Jika kalian merujuk kepadanya dengan iman dan menggunakan obat-obat itu dengan ibadah, maka beban berat ketuaan dan duka yang ada di punggung dan kepala kalian akan menjadi sangat ringan.
Adapun rahasia panjangnya penulisan bahasan ini adalah pertimbangan untuk membuat orang lebih banyak memanjatkan doa rahmat bagi almarhum Abdurrahman. Semoga ia tidak membuat kalian bosan. Dan maksudku memperlihatkan kepada kalian luka-lukaku yang paling pilu — yang barangkali akan lebih menyakiti kalian — dan yang paling dahsyat, yang menimbulkan kebencian dan kengerian, dengan cara yang sangat tidak menyenangkan dan menyakitkan, adalah: untuk memperlihatkan betapa luar biasanya obat dan betapa cemerlangnya cahaya dari penawar suci Al-Qur'an Yang Mahabijaksana.
PENGHARAPAN KETIGA BELAS:
{(Catatan): Suatu tawafuk yang halus bahwa peristiwa madrasah yang dibicarakan Pengharapan Ketiga Belas ini terjadi tiga belas tahun yang lalu.}
Karena dalam pengharapan ini aku akan membicarakan suatu lukisan penting dari perjalanan hidupku, ia pasti akan agak panjang. Aku berharap kalian tidak bosan dan tidak tersinggung. Dalam Perang Umum, setelah aku terlepas dari penawanan Rusia, pelayanan keagamaan di Dârul-Hikmah selama dua tiga tahun menahanku di Istanbul. Kemudian, dengan bimbingan Al-Qur'an Yang Mahabijaksana, dengan himmah Gaus A'zam, dan dengan kesadaran ketuaan, datanglah kejemuan terhadap kehidupan peradaban di Istanbul dan kebencian terhadap kehidupan sosial yang gemerlap. Perasaan rindu tanah air yang disebut "dâüssıla (rindu kampung halaman)" mendorongku ke tanah airku. Dengan berkata, "Karena aku akan mati, biarlah aku mati di tanah airku," aku pergi ke Van. Sebelum segala sesuatu, aku pergi menziarahi madrasahku yang disebut Horhor di Van. Aku melihat bahwa; sebagaimana rumah-rumah lain di Van, orang-orang Armenia telah membakarnya pula dalam invasi Rusia. Benteng Van yang termasyhur, yang terdiri atas satu bongkah batu utuh bagaikan gunung. Madrasahku berada tepat di bawahnya dan menempel padanya. Bayangan murid-muridku yang benar-benar sahabat, saudara, dan karib di madrasah itu — tujuh delapan tahun sebelum aku meninggalkannya — datang ke hadapan mataku. Sebagian dari sahabat-sahabatku yang penuh pengorbanan itu telah wafat sebagai syahid sejati, dan sebagian lainnya sebagai syahid maknawi karena musibah itu.
Aku tak dapat menahan diri dari menangis, dan aku menaiki puncak benteng yang menghadap ke madrasah — setinggi dua menara di atas madrasah — lalu duduk. Aku pergi secara khayali ke masa tujuh delapan tahun yang lalu. Karena khayalanku kuat, ia membawaku berkeliling cukup lama di masa itu. Tiada seorang pun di sekitar yang dapat memalingkanku dari khayalan itu dan menariku dari masa itu. Sebab aku seorang diri. Selama tujuh delapan tahun, setiap kali aku membuka mata, aku melihat perubahan seakan-akan telah berlalu waktu satu abad. Aku melihat bahwa kawasan dalam kota di kaki benteng di sekeliling madrasahku telah dibakar dan dihancurkan seluruhnya dari atas hingga bawah. Dari apa yang dahulu kulihat kepada apa yang kini kulihat, aku memandang dengan pandangan yang sedemikian sendu, seolah-olah aku datang ke dunia dua ratus tahun kemudian. Aku bersahabat dan berkarib dengan sebagian besar penghuni rumah-rumah itu. Sebagian besar mereka — semoga Allah merahmati mereka — telah wafat dalam pengungsian dan berantakan di perantauan. Dan selain perkampungan Armenia, aku melihat rumah-rumah seluruh kaum muslimin Van telah dihancurkan. Kalbuku pedih dari kedalaman yang paling dalam. Ia sedemikian menyentuh keharuanku sehingga seandainya aku memiliki ribuan mata, semuanya akan menangis bersama.
Aku kembali dari perantauan ke tanah airku; aku menyangka telah terlepas dari keterasingan. "Wâ-asafâ (aduhai penyesalan)," aku justru melihat keterasingan yang paling dahsyat di tanah airku. Seperti Abdurrahman yang telah dibicarakan dalam Pengharapan Kedua Belas, aku melihat ratusan murid dan sahabatku yang sangat terikat dengan ruhku berada di kubur, dan tempat-tempat para kekasih itu menjadi reruntuhan. Sejak lama ada sepenggal ucapan seseorang yang tersimpan dalam ingatanku, namun aku tidak dapat melihat maknanya secara utuh.. di hadapan lukisan yang menyedihkan itu, aku melihat makna utuhnya. Ucapan itu adalah: لَوْلاَ مُفَارَقَةُ اْلاَحْبَابِ مَا وَجَدَتْ لَهَا الْمَنَايَا اِلٰٓى اَرْوَاحِنَا سُبُلاً yakni: "Sekiranya tiada perpisahan dari para sahabat, niscaya kematian tidak akan menemukan jalan menuju ruh-ruh kita untuk datang dan mengambilnya." Artinya, yang paling mematikan manusia adalah perpisahan dari para kekasih. Ya, tiada sesuatu pun yang membakar hati dan membuatku menangis sebagaimana keadaan itu. Seandainya pertolongan tidak datang dari Al-Qur'an dan dari iman; maka duka, kepedihan, dan kesedihan itu akan memberikan pengaruh yang seakan menerbangkan ruhku.
Sejak dahulu para penyair dalam syair-syair mereka menangisi reruntuhan persinggahan tempat mereka dahulu berjumpa dengan para kekasih, yang telah runtuh seiring berlalunya waktu. Aku pun melihat dengan mataku sendiri lukisan yang paling penuh perpisahan dari hal ini. Dengan kesedihan seorang yang mendatangi tempat tinggal sahabat-sahabat yang sangat dicintainya dua ratus tahun kemudian; baik ruhku maupun kalbuku membantu mataku, dan mereka pun menangis. Ketika itu, tahap-tahap manis kehidupanku yang kulewatkan dengan mengajar bersama murid-muridku yang berharga dalam kehidupan yang paling manis selama hampir dua puluh tahun — pada masa ketika tempat-tempat yang kini telah menjadi reruntuhan di hadapan mataku itu dahulu berada dalam keadaan yang sangat makmur, ramai, gembira, dan penuh suka — hidup kembali dan tampak satu per satu bagaikan lukisan bioskop, lalu wafat dan berlalu; khayalan itu berlangsung cukup lama di hadapan mataku.
Ketika itu aku sangat heran terhadap keadaan ahli dunia. Bagaimana mereka menipu diri mereka sendiri? Sebab keadaan itu secara nyata memperlihatkan bahwa dunia benar-benar fana, dan bahwa manusia pun adalah tamu di dalamnya. Aku melihat dengan mataku betapa benarnya ucapan ahli hakikat yang senantiasa berkata, "Dunia itu zalim, penuh tipu daya, dan fana; janganlah kalian tertipu." Dan aku sendiri pun melihat bahwa sebagaimana manusia terikat dengan tubuh dan rumahnya; demikian pula ia terikat dengan kotanya, negerinya, bahkan dunianya. Sebab sementara aku — dari sisi tubuhku — menangis dengan kedua mataku karena keharuan ketuaan, aku ingin menangis dengan sepuluh mata karena bukan hanya ketuaan madrasahku, melainkan wafatnya. Dan dengan setengah matinya tanah airku yang manis itu, aku memerlukan seratus mata untuk menangis. Dalam riwayat hadis disebutkan bahwa; setiap pagi seorang malaikat menyeru: لِدُوا لِلْمَوْتِ وَابْنُوا لِلْخَرَابِ yakni ia berkata, "Kalian dilahirkan dan datang ke dunia untuk mati, dan kalian membangun bangunan-bangunan untuk hancur." Nah, hakikat ini kudengar bukan dengan telingaku, melainkan dengan mataku.
Ya, betapa keadaanku ketika itu telah membuatku menangis; selama sepuluh tahun, setiap kali khayalanku mendatangi keadaan itu, ia kembali menangis. Ya, runtuhnya persinggahan-persinggahan di puncak benteng tua yang telah berumur ribuan tahun itu, menuanya kota di bawahnya sebanyak delapan ratus tahun dalam kurun delapan tahun, dan wafatnya madrasahku yang sangat hidup dan menjadi tempat berhimpunnya para kekasih di bawah benteng — sebagai isyarat kepada keagungan maknawi jenazahnya yang menunjukkan wafatnya seluruh madrasah di segenap Negara Utsmani — maka batu utuh benteng Van yang besar itu telah menjadi sebuah batu nisan baginya. Seakan-akan murid-muridku almarhum yang berada bersamaku di madrasah itu delapan tahun yang lalu, menangis bersamaku di kubur-kubur mereka. Bahkan dinding-dinding reruntuhan kota itu dan batu-batunya yang berserakan menangis bersamaku, dan aku melihat mereka seakan sedang menangis.
Ketika itu aku memahami bahwa aku tidak akan sanggup menanggung keterasingan di tanah airku ini; aku berpikir, aku harus pergi ke kubur ke samping mereka, atau menarik diri ke sebuah gua di gunung dan menanti ajalku di sana. Aku berkata: Karena di dunia ada perpisahan-perpisahan yang tak tertanggungkan, yang mematahkan kesabaran, meruntuhkan daya tahan, dan membakar hati semacam ini. Maka tentu kematian lebih utama daripada kehidupan. Keadaan kehidupan yang berat ini bukanlah termasuk derita yang dapat ditanggung. Ketika itu aku mengedarkan pandangan ke enam arah yang disebut "jihât-i sittah (enam penjuru)," dan kulihat semuanya gelap. Kelalaian yang datang dari kepedihan yang dahsyat itu memperlihatkan dunia kepadaku dalam rupa yang menakutkan, kosong, lengang, dan akan runtuh menimpa kepalaku. Adapun ruhku, ketika sedang mencari suatu titik sandaran terhadap bala-bala yang tak terhingga yang mengambil posisi sebagai musuh, ketika sedang mencari suatu titik permohonan pertolongan yang akan memuaskan hasrat-hasrat tak terhingga yang membentang hingga keabadian dalam ruh, dan ketika sedang menanti penghiburan terhadap kesedihan dan duka yang datang dari perpisahan yang tak terhingga, dari kehancuran, dan dari kematian, — tiba-tiba hakikat ayat Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya, سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ ❊ لَهُ مُلْكُ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ, memancar. Ia menyelamatkanku dari khayalan yang mengharukan, penuh perpisahan, dahsyat, dan menyedihkan itu, dan membuka mataku.
Aku melihat bahwa buah-buah di pucuk pepohonan yang berbuah memandangku dengan cara tersenyum; mereka berkata, "Perhatikanlah kami pula, janganlah engkau hanya terus memandang reruntuhan." Hakikat ayat mulia ini memperingatkan demikian: Mengapa terhapusnya sebuah surat buatan (sun'î) — yang ditulis oleh tangan manusia yang menjadi tamu di lembaran padang Van dan yang mengambil rupa sebuah kota — karena terjatuh ke dalam bala air bah yang dahsyat yang disebut invasi Rusia, sedemikian menyedihkanmu? Pandanglah Sang Pelukis Azali, yang merupakan Pemilik Sejati, pemilik dan Tuhan segala sesuatu; bahwa surat-surat-Nya di lembaran Van ini kembali terus ditulis dengan segala kegemerlapan, dalam keadaan yang engkau lihat pada masa lampau. Tangisanmu karena tempat-tempat itu tinggal kosong, runtuh, dan lengang, berpangkal dari kelalaian terhadap Pemilik Sejatinya, dari tidak membayangkan manusia sebagai tamu, dan dari kekeliruan mewahamkan diri sebagai pemilik.
Akan tetapi, dari kekeliruan itu dan dari keadaan yang membakar itu, terbukalah sebuah pintu hakikat. Dan nafsu pun bersiap untuk menerima hakikat itu sepenuhnya. Ya, sebagaimana sepotong besi dimasukkan ke dalam api; agar ia melunak dan dapat diberi bentuk yang indah dan bermanfaat. Demikian pula keadaan yang membangkitkan kesedihan dan keadaan yang dahsyat itu menjadi api, dan melunakkan nafsuku. Al-Qur'an Yang Mukjizat Penjelasannya, dengan hakikat ayat yang telah disebutkan, memperlihatkan sepenuhnya limpahan hakikat-hakikat imani kepada nafsu itu, dan membuatnya menerima. Ya, segala puji bagi Allah, hakikat ayat ini, dengan limpahan iman (sebagaimana telah kami buktikan secara pasti dalam risalah-risalah seperti Surat Kedua Puluh), memberikan kepada ruh dan kalbu suatu titik sandaran yang tersingkap sekadar kekuatan iman setiap orang; ia memberikan dari iman kepada Allah suatu kekuatan yang mampu menghadapi musibah-musibah yang seratus kali lipat lebih menakutkan dan merugikan daripada kedahsyatan keadaan itu. Dan ia memperingatkan demikian: Segala sesuatu tunduk kepada perintah Pemilik Sejati negeri ini yang merupakan Penciptamu, kendali segala sesuatu berada di tangan-Nya, dan pertalianmu kepada-Nya sudah mencukupi.
Setelah aku bersandar dan mengenal Penciptaku itu, segala sesuatu yang mengambil rupa musuh meninggalkan permusuhannya; keadaan-keadaan menyedihkan yang membuatku menangis mulai menggembirakanku. Dan sebagaimana telah kami buktikan dengan dalil-dalil yang pasti dalam banyak risalah, terhadap hasrat-hasrat yang tak terhingga itu, dengan cahaya yang datang dari iman kepada akhirat, ia memberikan suatu titik permohonan pertolongan sedemikian rupa sehingga; ia memberikan suatu titik permohonan pertolongan yang mampu mencukupi bukan hanya hasrat dan ikatanku pada para kekasih duniawi yang kecil, sementara, dan singkat, melainkan pula hasrat-hasratku yang tak terhingga panjangnya di keabadian yang kekal, di alam kekekalan, dan di kebahagiaan abadi. Sebab, siapa yang bersandar dengan iman pada rahmat Ar-Rahman Ar-Rahim — yang, dengan satu kilasan rahmat-Nya, di permukaan bumi ini yang merupakan salah satu persinggahan dunia yang merupakan tempat singgah sementara ini, untuk menggembirakan para tamu-Nya selama satu dua jam, menganugerahkan pada setiap musim semi nikmat-nikmat-Nya yang penuh seni dan manis yang tak terhitung di hidangan musim semi lalu memberikannya kepada para tamu itu bagaikan sarapan, kemudian menyiapkan bagi hamba-hamba-Nya delapan Surga yang kekal di tempat tinggal abadi mereka, memenuhinya dengan aneka nikmat yang tak terhingga dalam waktu yang tak terhingga — dan yang mengetahui pertaliannya kepada-Nya, tentu akan menemukan suatu titik permohonan pertolongan sedemikian rupa sehingga; derajatnya yang paling rendah pun memberikan pertolongan dan melanggengkan hasrat-hasrat abadi yang tak terhingga.
Dan dengan hakikat ayat itu, cahaya yang datang dari sinar iman memancar dengan cara yang begitu cemerlang sehingga; ia menerangi enam penjuru yang gelap itu bagaikan siang. Sebab ia menerangi keadaan tertinggal di belakang murid dan sahabatku di madrasah dan kota ini seraya menangis, demikian: Alam yang didatangi para kekasih itu tidaklah gelap, mereka hanya berpindah tempat; kalian akan berjumpa lagi — demikian ia memperingatkan. Ia menghentikan tangisan sepenuhnya. Dan ia memahamkan bahwa aku akan menemukan orang-orang yang akan menggantikan tempat mereka dan menyerupai mereka di dunia. Ya, segala puji bagi Allah, Dia telah menghidupkan kembali madrasah Van yang telah wafat itu dengan madrasah Isparta, dan menghidupkan kembali secara maknawi para kekasih di sana pula dengan murid-murid dan kekasih-kekasih yang lebih banyak dan lebih berharga. Dan Dia memberitahukan bahwa; dunia tidaklah kosong dan lengang, dan bahwa aku telah keliru membayangkan rupa suatu negeri yang telah runtuh; melainkan Pemilik Sejati, dengan tuntutan hikmah-Nya, mengganti lukisan manusia buatan itu dan memperbarui surat-Nya. Sebagaimana setiap kali sebagian buah sebatang pohon dipetik, buah-buah lain datang menggantikannya; demikian pula kefanaan dan perpisahan ini dalam jenis manusia adalah suatu pembaruan, suatu penyegaran.
Dari sudut iman, ia bukanlah kesedihan menyakitkan yang datang dari ketiadaan para kekasih, melainkan suatu pembaruan yang memberikan kesedihan yang lezat — yang datang dari perpisahan untuk berjumpa kembali di suatu tempat lain yang indah. Dan ia menerangi wajah gelap yang tampak pada segala yang maujud di alam semesta, dari keadaan yang dahsyat itu. Ketika itu aku ingin bersyukur atas keadaan itu, lalu datanglah ungkapan berbahasa Arab berikut; ia menggambarkan hakikat itu dengan tepat. Aku berkata demikian: اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نُورِ اْلا۪يمَانِ الْمُصَوِّرِ مَا يُتَوَهَّمُ اَجَانِبَ اَعْدَٓاءً اَمْوَاتًا مُوَحِّش۪ينَ اَيْتَامًا بَاك۪ينَ ؛ اَوِدَّٓاءَ اِخْوَانًا اَحْيَٓاءً مُونِس۪ينَ مُرَخَّص۪ينَ مَسْرُور۪ينَ ذَاكِر۪ينَ مُسَبِّح۪ينَ
Yakni: "Dengan kelalaian yang datang dari pengaruh keadaan yang dahsyat itu, lukisan yang menakutkan ini — yang diperlihatkan kepada nafsuku yang lalai melalui waham, dalam rupa sebagian segala yang maujud di alam semesta sebagai musuh dan orang asing{(Catatan): Yakni seperti gempa, badai, topan, wabah, dan api.}, sebagian sebagai jenazah-jenazah yang mengerikan, dan sebagian lain sebagai anak-anak yatim yang menangis karena sebatang kara — aku melihatnya dengan 'ainul-yaqin melalui cahaya iman bahwa: mereka yang tampak sebagai orang asing dan musuh itu sesungguhnya adalah sahabat-sahabat dan saudara-saudara. Dan jenazah-jenazah yang mengerikan itu; sebagian adalah yang hidup dan akrab, dan sebagian adalah yang telah dibebastugaskan dari tugas. Dan karena aku melihat dengan cahaya iman bahwa jerit tangis anak-anak yatim itu sesungguhnya adalah gemericik zikir dan tasbih, maka aku memanjatkan pujian yang tak terhingga kepada Sang Pencipta Pemilik Keagungan yang telah memberikan kepadaku iman — sumber nikmat-nikmat yang tak terhingga itu. Dan dari sudut pandang bahwa merupakan hakku untuk menggunakan — dengan bayangan dan niatku — seluruh yang maujud di dunia pribadiku yang besarnya seukuran dunia ini di dalam pujian dan tasbih kepada Ilahi, maka bersama lisan keadaan setiap dari segala yang maujud itu dan keseluruhannya, kami mengucapkan 'Alhamdulillâhi 'alâ nûril-îmân (segala puji bagi Allah atas cahaya iman).'" — begitulah maknanya.
Dan kenikmatan-kenikmatan hidup yang merosot menjadi nihil akibat keadaan dahsyat yang penuh kelalaian itu, angan-angan yang sepenuhnya surut dan mengering, serta nikmat-nikmat dan kelezatan-kelezatan milik pribadiku yang terhimpit dalam lingkaran yang paling sempit — bahkan yang lenyap — tiba-tiba (sebagaimana telah kami buktikan secara pasti dalam risalah-risalah lain) dengan cahaya iman meluaskan lingkaran sempit di sekeliling kalbu itu sedemikian rupa sehingga ia memuat alam semesta ke dalamnya, dan sebagai ganti nikmat-nikmat yang telah mengering dan kehilangan kelezatannya di kebun Horhor itu, ia menjadikan negeri dunia dan negeri akhirat masing-masing berupa hidangan nikmat dan nampan rahmat. Karena ia memperlihatkan setiap dari seratus — bukan sepuluh — perangkat kemanusiaan seperti mata, telinga, dan kalbu, dalam rupa sebuah tangan yang sangat panjang, terulur ke dua hidangan Rahmani itu sekadar derajat setiap mukmin, dengan cara yang akan mengumpulkan nikmat-nikmat dari setiap sisinya; maka untuk mengungkapkan hakikat yang luhur ini sekaligus untuk bersyukur atas nikmat yang tak terhingga itu, ketika itu aku berkata demikian:
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ عَلٰى نُورِ اْلا۪يمَانِ الْمُصَوِّرِ للِدَّارَيْنِ مَمْلُوؤَتَيْنِ مِنَ النِّعْمَةِ وَ الرَّحْمَةِ لِكُلِّ مُؤْمِنٍ حَقًّا يَسْتَف۪يدُ مِنْهُمَا بِحَوَاسِّهِ الْكَث۪يرَةِ الْمُنْكَشِفَةِ بِاِذْنِ خَالِقِهِ
Yakni: "Sebagai balasan atas nikmat cahaya iman — yang, dalam keadaan telah memenuhi dunia dan akhirat dengan nikmat dan rahmat, menjamin dan memperlihatkan pemanfaatan dua hidangan yang mahabesar itu dengan tangan-tangan seluruh indra orang-orang mukmin sejati yang telah tersingkap dan terbentang dengan cahaya iman dan keislaman — kepada Penciptaku yang telah memberikan iman itu kepadaku, sekiranya aku mampu, akan kupersembahkan pujian dan syukur sepenuh dunia dan akhirat dengan seluruh zarah wujudku." — begitulah maknanya. Karena iman menimbulkan pengaruh-pengaruh yang agung ini di alam ini; maka tentu di negeri kekekalan ia akan memiliki buah dan limpahan sedemikian rupa sehingga akal di dunia ini tidak dapat meliputi dan menggambarkannya.
Nah, wahai para orang tua, lelaki dan perempuan, yang seperti diriku menanggung pahitnya perpisahan dari banyak sahabat berkenaan dengan ketuaan! Sekalipun orang yang paling tua di antara kalian secara lahiriah lebih tua daripada diriku, secara maknawi aku memperkirakan diriku lebih tua daripada mereka. Sebab karena dalam fitrahku terdapat kelembutan jenis dan perasaan iba yang berlebih, dan karena selain penderitaanku sendiri aku juga menanggung penderitaan ribuan saudaraku dengan rahasia kasih sayang itu, maka aku tua seakan-akan telah hidup ratusan tahun. Dan sebanyak apa pun bala perpisahan yang telah kalian tanggung, kalian tidak terpapar bala itu sebanyak diriku. Sebab aku tidak memiliki anak lelaki sehingga aku hanya memikirkan anakku. Rasa iba dan kasih sayang yang berlebih dan fitri pada diriku ini, membuatku merasakan — dengan rahasia kasih sayang itu — suatu keharuan dan penderitaan bahkan terhadap penderitaan ribuan anak kaum muslimin, bahkan hewan-hewan yang tak berdosa. Aku tidak memiliki sebuah rumah pribadi sehingga aku memusatkan pikiranku hanya padanya; melainkan, dari sudut semangat keislaman, aku terikat dengan negeri ini, bahkan dengan benua dunia Islam, bagaikan rumahku sendiri. Dan aku menderita karena penderitaan saudara-saudara seagamaku di dua rumah besar itu, dan bersedih karena perpisahan dengan mereka!..
Nah, terhadap seluruh kepedihan yang datang dari ketuaanku dan dari bala-bala perpisahan, cahaya iman benar-benar mencukupi bagiku; ia memberikan pengharapan yang tak terpatahkan, harapan yang tak terputus, cahaya yang tak padam, dan penghiburan yang tak berkesudahan. Tentu, terhadap kegelapan, kelalaian, kepedihan, dan penderitaan yang datang dari ketuaan bagi kalian; iman mencukupi dan memadai. Ketuaan yang sesungguhnya paling gelap, paling tanpa cahaya, dan tanpa penghiburan, serta perpisahan yang paling menyakitkan dan mengerikan, adalah ketuaan dan perpisahan ahli kesesatan dan ahli foya-foya. Untuk merasakan kenikmatan iman yang memberikan pengharapan, cahaya, dan penghiburan itu, serta merasakan pengaruhnya, adalah dengan mengambil suatu sikap penuh kesadaran dan penuh penghambaan yang layak bagi ketuaan dan sesuai dengan keislaman. Bukan dengan berusaha menyerupai kaum muda dan menjerumuskan kepala ke dalam kelalaian mereka yang mabuk lalu melupakan ketuaannya. Renungkanlah hadis yang bermakna خَيْرُ شَبَابِكُمْ مَنْ تَشَبَّهَ بِكُهُولِكُمْ وَشَرُّ كُهُولِكُمْ مَنْ تَشَبَّهَ بِشَبَابِكُمْ — atau sebagaimana beliau sabdakan (au kamâ qâl) —. Yakni: "Yang terbaik dari kaum muda kalian adalah mereka yang menyerupai para orang tua dalam ketenangan dan dalam menjauhi foya-foya. Dan yang terburuk dari para orang tua kalian adalah mereka yang menyerupai kaum muda dalam foya-foya dan dalam menjerumuskan kepala ke dalam kelalaian."
Wahai saudara-saudaraku para orang tua, lelaki dan perempuan! Dalam hadis mulia disebutkan bahwa: "Ketika seorang mukmin tua berusia enam puluh tujuh puluh tahun mengangkat tangannya ke hadirat Ilahi seraya berdoa, rahmat Ilahi merasa malu untuk mengembalikan tangannya dalam keadaan hampa." Karena rahmat menghormati kalian sedemikian rupa.. maka hormatilah pula penghormatan rahmat ini dengan penghambaan kalian.
PENGHARAPAN KEEMPAT BELAS:
Ringkasan permulaan Ayat Cahaya Hasbiah (Âyet-i Nûriye-i Hasbiye) yang merupakan Sinar Keempat berkata demikian: Suatu ketika, karena para ahli dunia mengucilkanku dari segala sesuatu, aku terjatuh ke dalam lima macam keterasingan. Dengan kelalaian yang datang dari kesempitan, tanpa memandang cahaya-cahaya Risale-i Nur yang memberikan penghiburan dan pertolongan, aku memandang langsung ke kalbuku dan mencari ruhku. Aku melihat bahwa: suatu cinta yang sangat kuat akan kekekalan, suatu kecintaan yang dahsyat akan keberadaan, suatu kerinduan yang besar akan kehidupan, suatu ketidakberdayaan yang tak terhingga, dan suatu kefakiran yang tak berkesudahan, berkuasa dalam diriku. Padahal suatu kefanaan yang mengerikan memadamkan kekekalan itu. Dalam keadaanku itu, aku berkata sebagaimana ucapan seorang penyair yang berhati terbakar: "Kalbu mendamba kekekalan, sedang Yang Hak menghendaki fananya negeri tubuhku, / Aku jatuh ke dalam derita tanpa obat — aduhai, Lukman pun tak tahu!"
Dengan penuh keputusasaan aku menundukkan kepalaku; tiba-tiba حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ datang menolongku, seraya berkata, "Bacalah aku dengan saksama!" Maka aku pun membacanya lima ratus kali sehari. Setiap kali kubaca, dari cahaya-cahayanya yang sangat berharga, tersingkaplah bagiku sembilan tingkatan hasbiah — bukan hanya dengan ilmul-yaqin, melainkan dengan 'ainul-yaqin.
Tingkatan Cahaya Hasbiah Pertama:
Cintaku akan kekekalan; bukanlah tertuju pada kekekalanku sendiri, melainkan karena dalam hakikatku terdapat sehelai bayangan dari sebuah kilasan salah satu nama Dzat Pemilik Kesempurnaan dan Keagungan — Pemilik kesempurnaan mutlak yang dicintai tanpa sebab dan pada diri-Nya sendiri — maka kecintaan fitri dalam fitrahku, yang tertuju kepada keberadaan, kesempurnaan, dan kekekalan Sang Mahasempurna Mutlak itu, telah tersesat jalannya akibat kelalaian, melekat pada bayangan, dan jatuh cinta pada kekekalan cermin. حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ datang, menyingkap tabir. Aku melihat, merasakan, dan menikmati dengan haqqul-yaqin bahwa: kelezatan dan kebahagiaan kekekalanku, sama persis dan dalam bentuk yang lebih sempurna, terdapat dalam pembenaran, iman, dan keyakinanku akan kekekalan Sang Mahakekal Pemilik Kesempurnaan dan akan bahwa Dia adalah Tuhan dan Sesembahanku. Dalil-dalilnya telah dijelaskan dalam Risalah Hasbiah melalui dua belas gemericik yang sangat dalam dan halus serta kesadaran-kesadaran iman yang akan membuat orang-orang berperasaan tercengang.
Tingkatan Cahaya Hasbiah Kedua:
Bersama ketidakberdayaanku yang tak terhingga dalam fitrahku, di tengah ketuaan, keterasingan, kesebatangkaraan, dan pengucilanku; pada saat para ahli dunia menyerangku dengan tipu daya dan mata-mata mereka, aku berkata kepada kalbuku: "Bala tentara menyerang seorang lelaki yang terikat tangannya, lemah, dan sakit. Tiadakah bagiku suatu titik sandaran?" — lalu aku merujuk kepada ayat حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ. Ayat itu memberitahukanku bahwa: Dengan surat kuasa pertalian imani, engkau bertalian kepada Sang Mahakuasa Mutlak, suatu Sultan sedemikian rupa sehingga; di permukaan bumi pada setiap musim semi, di samping memberikan seluruh perangkat bala tentara tumbuhan dan hewan yang terdiri atas empat ratus ribu bangsa dengan keteraturan yang sempurna, Dia — dengan manusia sebagai yang terdepan — menyediakan seluruh perbekalan bala tentara hewan yang mahabesar, bukan seperti sari-sari daging, gula, dan makanan lain yang ditemukan manusia beradab pada masa-masa terakhir, melainkan Dia meletakkannya ke dalam sari-sari Rahmani yang seratus derajat lebih sempurna daripada sari-sari peradaban itu — yang disebut biji dan benih — dari setiap jenis seluruh makanan; dan Dia pun membungkus sari-sari itu di dalam resep-resep takdiri mengenai cara memasak dan mengembangkannya, lalu meletakkannya ke dalam kotak-kotak kecil untuk penjagaan, dan menitipkannya. Pengadaan kotak-kotak kecil itu terjadi dari pabrik "kâf-nûn" yang terdapat dalam perintah "Kun" dengan begitu cepat, mudah, dan banyak; sehingga Al-Qur'an berkata: "Sang Pencipta memerintah, maka ia pun terwujud." Karena engkau — dengan surat pertalian imani — dapat menemukan suatu titik sandaran semacam ini, maka engkau dapat bersandar pada kekuatan dan kekuasaan yang tak terhingga.
Setiap kali aku mengambil pelajaranku ini dari ayat itu, aku menemukan suatu kekuatan maknawi sedemikian rupa sehingga; seraya merasakan suatu kekuatan imani yang mampu menantang bukan hanya musuh-musuhku sekarang, melainkan seluruh dunia, aku pun berkata dengan segenap ruhku حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ.
Tingkatan Cahaya Hasbiah Ketiga:
Pada saat iman mengilhamkan kepadaku — ketika aku mendapati keterikatanku dengan dunia telah terputus akibat tekanan keterasingan, penyakit, dan kezaliman itu — bahwa aku dicalonkan bagi suatu kebahagiaan yang kekal di suatu dunia yang abadi dan negeri yang kekal; aku pun meninggalkan "aduh! aduh!" yang meneteskan kerinduan, lalu berkata "oh! oh!" yang memperlihatkan keceriaan. Akan tetapi, terwujudnya cita-cita khayali, tujuan ruh, dan hasil fitrah ini, hanya dapat terjadi dengan kekuasaan tak terhingga dari Sang Mahakuasa Mutlak — yang mengetahui dan mencatat seluruh gerak dan diam, keadaan, dan amal seluruh makhluk-Nya, secara ucapan dan perbuatan, yang menjadikan jenis manusia yang kecil dan tak berdaya secara mutlak ini sebagai sahabat dan lawan bicara-Nya, serta memberinya suatu kedudukan di atas seluruh makhluk — dan dengan pemberian pemeliharaan serta perhatian yang tak berkesudahan kepada manusia; sementara aku memikirkan hal itu, dalam dua poin ini, yakni mengenai aktivitas suatu kekuasaan semacam itu dan mengenai kepentingan hakiki manusia yang secara lahiriah tak berarti ini, aku menginginkan suatu penjelasan yang memberikan penyingkapan iman dan ketenteraman kalbu. Kembali aku merujuk kepada ayat itu. Ayat itu berkata: "Perhatikanlah نَا yang ada pada حَسْبُنَا, dan dengarkanlah, siapa saja yang mengucapkan حَسْبُنَا bersamamu dengan lisan keadaan dan lisan ucapan!" — demikian ia memerintahkan.
Tiba-tiba aku melihat bahwa: burung-burung yang tak terhingga, lalat-lalat yang bagaikan burung-burung kecil, hewan-hewan yang tak terhitung, tumbuh-tumbuhan yang tak berkesudahan, dan pepohonan yang tak terbatas pun — sepertiku — dengan lisan keadaan menyebut makna حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ dan menghadirkannya ke ingatan setiap orang, bahwa; mereka memiliki suatu wakil yang menjamin seluruh syarat kehidupan mereka sedemikian rupa sehingga — dari telur-telur yang serupa satu sama lain dan yang materinya satu, dari tetes-tetes yang bagaikan serupa satu sama lain, dari butir-butir yang bagaikan sama satu sama lain, dan dari benih-benih yang mirip satu sama lain — Dia menciptakan dan membuat ratusan ribu ragam burung, ratusan ribu corak hewan, ratusan ribu jenis tumbuhan, dan ratusan ribu golongan pohon, dengan cara yang tanpa kesalahan, tanpa cacat, tanpa kekeliruan, berhias, seimbang, teratur, dan berbeda-beda satu sama lain dengan ciri pembeda masing-masing, di hadapan mata kita, khususnya pada setiap musim semi, dengan sangat banyak, sangat mudah, dalam suatu lingkup yang sangat luas, dan dengan jumlah yang sangat banyak; di dalam keagungan dan kebesaran suatu kekuasaan semacam itu, Dia memperlihatkan kepada kita keesaan (wahdaniyah) dan keahadan-Nya melalui kebersamaan, keserupaan, serta pembuatannya yang saling berlapis dan dalam satu corak; dan aku memahami bahwa Dia memberitahukan tak mungkinnya campur tangan dan penyertaan dalam suatu perbuatan rububiyah dan suatu pengelolaan penciptaan yang menampakkan mukjizat yang tak terhingga semacam ini.
Mereka yang ingin memahami identitas pribadiku dan hakikat kemanusiaanku seperti setiap mukmin, dan yang ingin menjadi sepertiku, hendaklah memandang kepada tafsir "ene" — yakni nafsuku — yang terdapat dalam kejamakan نَا pada حَسْبُنَا. Apakah gerangan wujudku — yang tampak tak berarti, hina, dan fakir — sebagaimana wujud setiap mukmin, apakah gerangan kehidupan, apakah gerangan kemanusiaan, apakah gerangan keislaman, apakah gerangan iman tahkiki, apakah gerangan makrifatullah, dan bagaimana seharusnya kecintaan itu? Hendaklah mereka memahami dan mengambil pelajaran darinya!..
Tingkatan Cahaya Hasbiah Keempat:
Suatu ketika, gangguan-gangguan yang mengguncang tubuhku seperti ketuaan, keterasingan, penyakit, dan kekalahan, bertepatan dengan suatu masa kelalaianku dan memberikan suatu kecemasan yang menyakitkan bahwa tubuhku — yang sangat kuperhatikan dan kupuja — bahkan tubuh segenap makhluk, "sedang menuju ketiadaan"; ketika itu kembali aku merujuk kepada Ayat Hasbiah ini. Ia berkata: "Perhatikanlah maknaku dan pandanglah dengan teropong iman!" Maka aku pun memandang dan melihat dengan mata iman bahwa: tubuhku yang sekecil zarah ini — sebagaimana tubuh setiap mukmin — merupakan cermin bagi suatu wujud yang tak terhingga, suatu wasilah untuk memperoleh wujud-wujud yang tak terhingga melalui pembentangan yang tak berkesudahan, dan suatu kata hikmah yang membuahkan berbagai wujud yang kekal dan lebih berharga daripada dirinya; dan aku mengetahui dengan ilmul-yaqin bahwa — dari sisi keterkaitan (mensubiyet) — hidupnya sesaat pun sama berharganya dengan suatu wujud yang abadi. Sebab, dengan kesadaran iman, dengan memahami bahwa tubuhku ini adalah karya, seni, dan kilasan Sang Wajibul-Wujud, aku terlepas dari waham yang liar, dari perpisahan yang tak terhingga, dan dari penderitaan perpisahan dan pemisahan yang tak terhingga; dan aku mengetahui bahwa terhadap segenap yang maujud yang kucintai — yang dengannya aku menjalin hubungan melalui ikatan-ikatan persaudaraan sebanyak jumlah perbuatan dan nama-nama Ilahi yang berkaitan dengan segala yang maujud, khususnya makhluk bernyawa — terdapat suatu perjumpaan yang kekal di dalam suatu perpisahan yang sementara. Nah, dengan iman dan dengan pertalian dalam iman, sebagaimana setiap mukmin, tubuhku ini pun memperoleh cahaya-cahaya tanpa perpisahan dari wujud-wujud yang tak terhingga; sekalipun ia sendiri pergi, karena mereka tetap tertinggal, ia merasa senang seakan-akan ia sendiri tetap tinggal.
Kesimpulannya: Kematian bukanlah perpisahan, melainkan perjumpaan, perpindahan tempat, dan pemberian bulir bagi suatu buah yang kekal.
Tingkatan Cahaya Hasbiah Kelima:
Kembali suatu ketika, hidupku terguncang oleh syarat-syarat yang sangat berat, dan hal itu mengalihkan perhatianku ke umur dan kehidupan. Aku melihat bahwa: umurku berlalu dengan berlari, telah mendekati akhirat. Hidupku pun di bawah tekanan telah hampir padam. Padahal — dengan pikiran yang penuh derita — aku berpikir bahwa tugas-tugas penting kehidupan, keistimewaan-keistimewaannya yang besar, dan faedah-faedahnya yang berharga, yang telah dijelaskan dalam risalah mengenai nama "al-Hayy," layak bukan untuk padam secepat ini, melainkan untuk hidup panjang. Kembali aku merujuk kepada ayat حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ yang merupakan guruku. Ia berkata: "Pandanglah kehidupan menurut Sang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri (Hayy-u Qayyûm) yang memberimu kehidupan!" Maka aku pun memandang, dan melihat bahwa: jika sisi kehidupanku yang menghadap kepadaku bernilai satu, maka sisinya yang menghadap kepada Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri bernilai seratus; dan jika hasilnya yang menjadi milikku bernilai satu, maka yang menjadi milik Penciptaku bernilai seribu. Kalau begitu, hidupnya sesaat dalam lingkup keridaan Ilahi sudah mencukupi, ia tidak memerlukan waktu yang panjang.
Hakikat ini dijelaskan melalui empat persoalan. Mereka yang tidak mati, atau yang ingin menjadi hidup, hendaklah mencari hakikat kehidupan, kenyataannya, dan hak-hak sejatinya di dalam empat persoalan itu, menemukannya, dan hidup!..
Ringkasannya adalah ini: Kehidupan, selama ia menghadap kepada Dzat Yang Mahahidup lagi Maha Berdiri Sendiri, dan selama iman menjadi kehidupan dan ruh bagi kehidupan, ia memperoleh kekekalan, membuahkan buah-buah yang kekal, dan meninggi sedemikian rupa sehingga ia mengambil kilasan keabadian; sehingga tidak lagi dipandang pendek dan panjangnya umur.
Tingkatan Cahaya Hasbiah Keenam:
Pada suatu masa ketika — di tengah peristiwa-peristiwa akhir zaman yang mengabarkan kehancuran dunia pada saat perpisahan umum — ketuaan yang mengingatkanku akan perpisahan pribadiku, serta perasaan-perasaan pemujaan keindahan, kecintaan pada kecantikan, dan kegandrungan pada kesempurnaan dalam fitrahku, tersingkap dengan suatu kepekaan yang luar biasa pada akhir umurku; dengan kesadaran dan kepedihan yang luar biasa aku melihat bahwa kefanaan dan kesirnaan yang senantiasa menghancurkan, serta kematian dan ketiadaan yang terus-menerus memisahkan, sedang menyiksa dunia yang indah dan makhluk-makhluk yang indah ini dengan cara yang dahsyat, mencabik-cabiknya dan merusak keindahan-keindahannya. Pada saat cinta majazi (aşk-ı mecâzî) dalam fitrahku bergejolak dan memberontak dengan dahsyat terhadap keadaan ini, untuk menemukan suatu sumber penghiburan, kembali aku merujuk kepada Ayat Hasbiah ini. Ia berkata: "Bacalah aku dan pandanglah maknaku dengan saksama!"
Maka aku pun memasuki observatorium ayat اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ dan seterusnya... dalam Surah An-Nûr, lalu dengan teropong iman aku memandang lapisan-lapisan terjauh Ayat Hasbiah ini, dan dengan mikroskop kesadaran iman aku memandang rahasia-rahasianya yang paling halus, dan kulihat: Sebagaimana cermin-cermin, kaca-kaca, benda-benda bening, bahkan gelembung-gelembung; memperlihatkan keindahan cahaya Matahari yang tersembunyi dan beraneka ragam, serta keindahan-keindahan yang bermacam-macam dari tujuh warna cahaya itu yang disebut "spektrum tujuh warna (elvân-ı sab'a)"; dan dengan pembaruan, gerak, kemampuan yang berbeda-beda, serta pembiasan-pembiasannya, mereka menyegarkan keindahan-keindahan itu; dan dengan pembiasan-pembiasannya, mereka menampakkan dengan indah keindahan-keindahan tersembunyi dari Matahari, cahayanya, dan tujuh warnanya. Demikian pula persis: untuk menjadi cermin bagi keindahan suci Sang Mahaindah Pemilik Keagungan — yang merupakan Matahari Azali dan Abadi — dan bagi keindahan-keindahan abadi dari nama-nama-Nya yang terindah dan tak berkesudahan, serta agar kilasan-kilasan-Nya senantiasa diperbarui, maka ciptaan-ciptaan yang indah ini, makhluk-makhluk yang manis ini, dan segala yang maujud yang penuh keindahan ini, datang dan pergi tanpa henti; dalil-dalil yang sangat kuat bahwa keindahan dan kecantikan yang tampak pada mereka bukanlah milik mereka sendiri, melainkan merupakan isyarat, tanda, kilau, dan kilasan dari suatu keindahan abadi lagi suci yang ingin termanifestasi, dan dari suatu kecantikan yang murni lagi tersucikan yang senantiasa memancar dan ingin tampak — telah dijelaskan secara terperinci dalam Risale-i Nur. Di sini tiga dari dalil-dalil itu disebutkan secara ringkas dengan cara yang sangat masuk akal — demikian ia memulai penjelasannya.
Setiap pemilik selera yang sehat yang melihat risalah ini, di samping tercengang, mendapati perlunya berupaya bukan hanya untuk kemanfaatan diri mereka sendiri, melainkan juga untuk kemanfaatan orang lain. Khususnya pada dalil kedua dijelaskan lima poin. Siapa yang akalnya tidak rapuh dan kalbunya tidak rusak, pasti akan berkata dengan penghargaan, pujian, dan pembenaran "Masya Allah, Fatabârakallâh"; dan ia akan memahami serta membenarkan bahwa ia adalah suatu mukjizat menakjubkan yang akan mengangkat wujudnya yang tampak fakir dan hina.
PENGHARAPAN KELIMA BELAS:
{(Catatan): Karena masa penulisan Nur telah berakhir tiga tahun yang lalu, maka Pengharapan Kelima Belas ini ditulis untuk menjadi sumber bagi penyempurnaan — penulisan — Lem'a Orang-Orang Tua oleh seorang Nurcu di masa depan.}
Suatu ketika, karena aku diwajibkan bermukim di Emirdağ dan seorang diri di sebuah tempat tinggal bagaikan dalam suatu penjara isolasi, serta karena mereka menyiksaku dengan pengawasan dan pemaksaan yang sangat berat bagiku, aku jemu terhadap kehidupan dan menyesali kepergianku dari penjara. Dengan sepenuh jiwa dan ragaku, aku mendambakan Penjara Denizli dan ingin masuk ke kubur. Dan ketika aku memutuskan untuk masuk entah ke penjara atau ke kubur seraya berkata, "Penjara dan kubur lebih utama daripada gaya hidup semacam ini," pemeliharaan Ilahi datang menolong; Dia memberikan mesin penggandaan (teksir) yang baru muncul ke tangan murid-murid Madrasah Zahra yang pena-pena mereka adalah mesin penggandaan. Tiba-tiba, setiap dari kumpulan-kumpulan Nur yang berharga muncul lima ratus salinan dengan satu pena. Bermulanya berbagai keberhasilan (futûhât) itu membuatku mencintai kehidupan yang penuh kesempitan itu, dan membuatku berkata "Syukur yang tak terhingga."
Beberapa saat kemudian, musuh-musuh tersembunyi Risale-i Nur tidak tahan menyaksikan keberhasilan-keberhasilan Nur. Mereka menggerakkan pemerintah melawan kami. Kembali kehidupan mulai terasa berat bagiku. Tiba-tiba pemeliharaan Rabbani memancar. Para pejabat terkait yang paling membutuhkan Nur, karena tugas mereka, menelaah Risalah Nur yang disita itu dengan penuh rasa ingin tahu dan saksama. Akan tetapi, Nur menjadikan kalbu mereka berpihak kepadanya. Dengan mulainya mereka menghargai sebagai ganti mengkritik, Ruang Belajar Nur meluas dengan pesat; ia memberikan manfaat yang seratus derajat lebih besar daripada kerugian materi kami, dan meniadakan kepanikan kami yang penuh kesempitan.
Kemudian, orang-orang munafik musuh tersembunyi mengalihkan perhatian pemerintah ke pribadiku. Mereka mengingatkan kembali kehidupan politikku yang lampau. Mereka menimbulkan waham pada peradilan, dinas pendidikan, kepolisian, dan kementerian dalam negeri. Dengan arus partai-partai dan dengan hasutan kaum anarkis di balik tabir kaum komunis, waham itu meluas. Mereka mulai menekan dan menahan kami, serta menyita risalah-risalah yang jatuh ke tangan mereka. Kegiatan murid-murid Nur pun terhenti. Dengan maksud menjatuhkan pribadiku, sebagian pejabat resmi melontarkan tuduhan-tuduhan yang tidak akan dipercayai siapa pun. Mereka berupaya menyebarkan fitnah-fitnah yang sangat ganjil. Namun mereka tidak dapat meyakinkan siapa pun.
Kemudian, dengan dalih-dalih yang sangat remeh, mereka menahanku pada hari-hari terdingin di puncak musim dingin, dan memenjarakanku dalam isolasi mutlak di sebuah bangsal yang besar, sangat dingin, dan tanpa tungku selama dua hari. Sementara di kamar kecilku aku menyalakan tungku beberapa kali sehari dan senantiasa ada api di anglo-ku, aku pun hampir tak sanggup bertahan karena kelemahan dan penyakitku. Kini, dalam keadaan ini, sementara aku menggelepar dalam demam akibat dingin serta dalam kesempitan dan kemarahan yang dahsyat, dengan suatu pemeliharaan Ilahi suatu hakikat tersingkap dalam kalbuku.
Secara maknawi: "Engkau telah menamai penjara dengan nama Madrasah Yusufiah; dan hasil-hasil seperti kelegaan yang seribu derajat lebih besar daripada kesempitan kalian di Denizli, keuntungan maknawi, pemanfaatan para tahanan di sana dari Nur, serta keberhasilan Nur di kalangan-kalangan besar, telah membuat kalian bersyukur ribuan kali sebagai ganti mengeluh, dan menjadikan setiap jam penjara dan kesempitan kalian berkedudukan sebagai sepuluh jam ibadah; ia telah mengekalkan jam-jam yang fana itu. Insya Allah, pemanfaatan dan penghiburan yang diperoleh para korban musibah di Madrasah Yusufiah Ketiga ini dari Nur, akan menghangatkan kesempitanmu yang dingin dan berat ini dan mengubahnya menjadi berbagai kegembiraan; dan orang-orang yang engkau marahi itu, jika mereka telah tertipu, maka mereka menzalimimu tanpa mengetahui. Mereka tidak layak dimarahi. Jika mereka menyakiti dan menyiksamu dengan sengaja, dengan niat buruk, dan atas nama kesesatan, maka dalam waktu yang sangat dekat mereka akan masuk ke penjara isolasi kubur melalui eksekusi abadi kematian, dan akan menanggung azab yang penuh kesempitan secara terus-menerus. Karena kezaliman mereka, engkau justru memperoleh pahala, pengekalan jam-jammu yang fana, kenikmatan-kenikmatan maknawi, serta penunaian tugas keilmuan dan keagamaan dengan ikhlas!" — demikian diperingatkan ke ruhku. Maka aku pun dengan segenap kekuatanku berkata "Alhamdulillâh." Dengan urat kemanusiaan aku mengasihani orang-orang zalim itu. Aku berdoa: "Wahai Tuhanku! Perbaikilah mereka!"
Dalam peristiwa baru ini, sebagaimana telah kutulis kepada Kementerian Dalam Negeri dalam keteranganku, orang-orang zalim yang melakukan pelanggaran hukum atas nama hukum — sebagaimana merekalah yang sesungguhnya bersalah — mencari-cari dalih yang dari sepuluh sisi menyalahi hukum; dengan fitnah dan rekayasa mereka yang membuat para pendengar tertawa dan membuat para pencinta kebenaran menangis, mereka memperlihatkan kepada orang-orang yang berperikeadilan bahwa: mereka tidak menemukan kemungkinan untuk mengusik Risale-i Nur dan murid-muridnya dari sisi hukum dan kebenaran, sehingga mereka berpaling kepada kegilaan.
Sebagai contoh:
Para pejabat yang memata-matai kami selama sebulan, karena tidak menemukan sesuatu untuk dijadikan dalih, menulis sebuah nota berbunyi: "Pelayan Said telah membeli rakı (arak) dari sebuah kedai dan membawakannya kepadanya." Karena tidak menemukan seorang pun untuk menandatangani nota itu, kemudian mereka menangkap seorang lelaki liar dan mabuk, dan dengan nada mengancam berkata, "Kemari, tanda tanganilah ini!" Ia pun berkata: "Tobat, seribu tobat, siapa yang bisa menandatangani kebohongan aneh ini?" Ia memaksa mereka merobek nota itu.
Contoh kedua:
Seseorang yang tidak kukenal dan hingga kini pun tidak kukenal, telah memberikan kudanya untuk membawaku berjalan-jalan, dan aku pun — karena penyakitku, dengan maksud menghirup udara — pada kebanyakan hari di musim panas berjalan-jalan satu dua jam. Aku telah berjanji untuk memberikan buku senilai lima puluh lira kepada pemilik kuda dan kereta itu. Agar kaidahku tidak rusak dan agar aku tidak berada di bawah utang budi. Adakah gerangan kemungkinan kerugian sedikit pun dalam urusan ini? Padahal, "Kuda itu milik siapa?" — sebanyak lima puluh kali gubernur, para pegawai peradilan, kepolisian, dan polisi menanyakannya kepada kami. Seolah-olah itu adalah suatu peristiwa politik besar dan suatu kejadian yang menyangkut ketertiban umum. Bahkan, agar pertanyaan-pertanyaan tak bermakna ini berhenti, dua orang karena kepedulian — yang satu berkata "Kuda itu milikku" dan yang lain "Kereta itu milikku" — maka keduanya pun ditahan bersamaku. Dengan mengiaskan pada contoh-contoh ini, kami menjadi penonton banyak mainan kanak-kanak, lalu menangis sambil tertawa, dan kami memahami bahwa: mereka yang mengusik Risale-i Nur dan murid-muridnya akan menjadi bahan tertawaan.
Sebuah percakapan yang menarik dari contoh-contoh itu:
Karena pada surat penahananku tertulis sebab berupa tuduhan mengganggu keamanan, maka sebelum aku melihat nota itu, aku berkata kepada jaksa penuntut: "Aku telah mengumpatmu tadi malam." Kepada seorang polisi yang mengajakku bicara atas nama kepala keamanan, aku berkata: "Jika aku tidak melayani keamanan umum di negeri ini sebanyak seribu jaksa dan seribu kepala keamanan — tiga kali — semoga Allah membinasakanku!"
Kemudian, pada saat ini, dalam dingin ini, pada suatu masa ketika aku paling membutuhkan istirahat, tidak kedinginan, dan tidak memikirkan dunia, datanglah kekesalan dan kemarahan yang luar biasa terhadap orang-orang yang mendorongku — dengan cara yang menunjukkan niat buruk dan kesengajaan — kepada pengasingan, pengucilan, penahanan, dan penekanan yang melampaui daya tahan ini. Suatu pemeliharaan datang menolong. Secara maknawi diperingatkan ke kalbu bahwa:
"Dalam kezaliman yang ditimpakan manusia kepadamu, terdapat suatu bagian besar dari takdir Ilahi yang merupakan keadilan itu sendiri, dan di penjara ini ada rezeki yang akan engkau makan. Rezeki itu telah memanggilmu ke sini. Terhadapnya perlu dibalas dengan keridaan dan penyerahan diri. Hikmah dan rahmat Rabbani pun memiliki suatu bagian besar, yaitu menyinari para penghuni penjara ini, memberi mereka penghiburan, dan memberi kalian pahala. Terhadap bagian ini, perlu bersyukur ribuan kali di dalam kesabaran. Dan nafsumu dengan kekurangan-kekurangannya yang tidak engkau ketahui pun memiliki suatu bagian di dalamnya. Terhadap bagian itu, dengan istighfar dan tobat, engkau harus berkata kepada nafsumu: "Engkau memang layak menerima tamparan ini." Dan dari sisi bahwa musuh-musuh tersembunyi — dengan tipu daya mereka — telah memperdaya sebagian pejabat yang mudah tertipu dan penuh waham lalu mendorong mereka kepada kezaliman itu, mereka pun memiliki suatu bagian. Terhadap itu, tamparan-tamparan maknawi yang dahsyat yang telah ditimpakan Risale-i Nur kepada orang-orang munafik itu telah sepenuhnya membalaskan dendammu dari mereka. Itu sudah cukup bagi mereka. Bagian yang paling akhir adalah para pejabat resmi yang secara nyata menjadi perantara. Terhadap bagian ini, demi pemanfaatan mereka dari sisi iman yang — mau tidak mau, tanpa diragukan — mereka peroleh dalam pandangan mereka pada Nur dengan niat mengkritik, maka dengan kaidah وَالْكَاظِم۪ينَ الْغَيْظَ وَالْعَاف۪ينَ عَنِ النَّاسِ; memaafkan mereka adalah suatu keluhuran budi."
Maka aku pun, dengan kelegaan dan syukur yang sempurna dari peringatan yang penuh hakikat ini, memutuskan untuk tinggal di Madrasah Yusufiah yang baru ini, bahkan untuk menolong orang-orang yang memusuhiku, memutuskan untuk melakukan suatu pelanggaran tak berbahaya yang mengharuskan hukuman bagi diriku.
Dan bagi seorang lelaki sepertiku yang berusia tujuh puluh lima tahun, tanpa keterikatan, dan yang dari sahabat-sahabat yang dicintainya di dunia hanya tersisa lima orang yang hidup dari tujuh puluh, sementara tujuh puluh ribu salinan Nur yang akan menunaikan tugas cahayanya tetap kekal dan beredar dengan bebas. Dan bagi seorang lelaki sepertiku yang memiliki saudara-saudara dan pewaris-pewaris yang akan melakukan pelayanan iman dengan ribuan lidah sebagai ganti satu lidah, kubur seratus derajat lebih baik daripada penjara ini. Dan penjara ini pun seratus derajat lebih nyaman dan lebih bermanfaat daripada kebebasan di luarnya yang berada di bawah pemaksaan-pemaksaan tanpa kemerdekaan. Sebab, sebagai ganti menanggung pemaksaan ratusan pejabat terkait seorang diri di luar, di penjara — bersama ratusan tahanan — seseorang hanya terpaksa menanggung pemaksaan ringan dari satu dua orang seperti direktur dan kepala sipir, yang berdasarkan kemaslahatan. Sebagai gantinya, di penjara ia memperoleh penghargaan dan penghiburan yang penuh persaudaraan dari banyak sahabat. Dan karena kasih sayang keislaman dan fitrah kemanusiaan yang timbul untuk mengasihani para orang tua dalam keadaan ini mengubah kesukaran penjara menjadi rahmat, maka aku rida dengan penjara.
Ketika aku datang ke persidangan ketiga ini, karena aku kesulitan berdiri akibat kelemahan, ketuaan, dan penyakit, aku duduk di sebuah bangku di luar pintu pengadilan. Tiba-tiba seorang hakim datang, marah, dan berkata dengan nada menghina, "Mengapa ia tidak menunggu sambil berdiri?" Maka aku pun, dari sisi ketuaan, marah terhadap ketiadaan belas kasih ini. Tiba-tiba aku melihat; banyak sekali kaum muslimin, dengan kasih sayang dan persaudaraan yang sempurna, memandang penuh belas kasih dan berkumpul di sekeliling kami, tak dapat dibubarkan. Tiba-tiba "dua hakikat" diperingatkan:
Pertama:
Musuh-musuh tersembunyi kami — musuhku dan musuh Nur — dengan pikiran bahwa keberhasilan Nur akan terbendung dengan mematahkan simpati umum terhadapku (padahal aku tidak menginginkannya), telah memperdaya sebagian pejabat resmi yang mudah tertipu, dan dengan maksud menjatuhkan pribadiku di mata bangsa, mendorong kepada perlakuan yang menghina semacam ini. Terhadap ini, pemeliharaan Ilahi — sebagai suatu penghormatan atas pelayanan iman Nur — [berkata]: sebagai ganti penghinaan satu orang itu, pandanglah seratus orang ini! Dengan menghargai pelayanan kalian, dengan penuh kasih sayang, iba, dan perhatian, mereka menyambut dan mengantar kalian. Bahkan pada hari kedua, ketika aku menjawab pertanyaan-pertanyaan jaksa di ruang penyidik, sekitar seribu orang berkumpul dengan penuh perhatian menghadap jendela-jendela pengadilan di halaman pemerintahan, dan mereka tampak seakan-akan dengan keadaan mereka mengungkapkan dengan lisan keadaan, "Janganlah kalian menyusahkan mereka!" Para polisi tidak dapat membubarkan mereka. Diperingatkan ke kalbuku bahwa: orang-orang ini, pada abad yang berbahaya ini, menginginkan suatu penghiburan yang sempurna, suatu cahaya yang tak terpadamkan, suatu iman yang kuat, dan suatu kabar gembira yang benar tentang kebahagiaan yang kekal, dan mereka mencarinya secara fitri; dan karena mereka telah mendengar bahwa apa yang mereka cari terdapat dalam Risalah Nur, maka mereka menunjukkan perhatian yang jauh melampaui kepatutanku kepada pribadiku yang tak berarti, karena sedikit pelayananku kepada iman.