Hakikat kedua:
Lem'alar · hlm. 330
Diperingatkan bahwa: sebagai ganti perlakuan buruk dari segelintir orang yang tertipu — yang dengan menghina, dengan waham mengganggu keamanan, bermaksud menghina kami dan mematahkan simpati umum — terdapat tepuk tangan penuh penghargaan dari para ahli hakikat yang tak terhingga dan dari generasi mendatang. Ya, terhadap upaya dahsyat anarkisme di balik tabir komunisme untuk merusak keamanan umum, Risale-i Nur dan murid-muridnya, dengan kekuatan iman tahkiki, menghentikan dan mematahkan pengrusakan yang mengerikan itu di setiap penjuru tanah air ini. Mereka berupaya menjamin keamanan dan ketertiban, sehingga dari murid-murid Nur yang sangat banyak jumlahnya dan berada di setiap penjuru negeri, selama dua puluh tahun ini tiga empat pengadilan terkait dan kepolisian sepuluh provinsi tidak menemukan dan tidak mencatat satu pun kejadian mereka mengenai gangguan keamanan. Dan sebagian kepolisian yang berperikeadilan dari tiga provinsi berkata: "Murid-murid Nur adalah suatu kepolisian maknawi. Mereka menolong kami dalam menjaga ketertiban. Dengan iman tahkiki; mereka meninggalkan seorang penjaga larangan di dalam kepala setiap orang yang membaca Nur, dan berupaya menjamin keamanan."
Salah satu contohnya adalah Penjara Denizli. Dengan masuknya Nur dan Risalah Buah (Meyve Risalesi) yang ditulis untuk para tahanan itu ke sana, dalam kurun tiga empat bulan lebih dari dua ratus tahanan itu memperoleh perbaikan keadaan yang begitu luar biasa taat dan religius sehingga; seorang lelaki yang telah membunuh tiga empat orang, enggan membunuh kutu-kutu kayu. Ia mulai menjadi suatu anggota yang benar-benar penuh belas kasih, tak berbahaya, dan bermanfaat bagi tanah air. Bahkan para pejabat resmi memandang keadaan ini dengan takjub dan penghargaan. Dan bahkan sebelum menerima vonis, sebagian pemuda berkata: "Jika para Nurcu tetap di penjara, kami akan membuat diri kami dihukum dan berupaya menerima hukuman; agar kami mengambil pelajaran dari mereka dan menjadi seperti mereka. Dengan pelajaran mereka, kami akan memperbaiki diri kami." Nah, mereka yang menuduh murid-murid Nur yang berhakikat semacam ini dengan tuduhan mengganggu keamanan, pasti dan dengan cara yang sangat buruk telah tertipu atau ditipu, atau — dengan sengaja atau tanpa sengaja — atas nama anarkisme telah memperdaya pemerintah dan berupaya menindas kami dengan berbagai siksaan.
Kami berkata terhadap mereka: Karena kematian tidak dapat dimatikan, kubur tidak dapat ditutup, dan di tempat singgah dunia para pengembara dengan sangat cepat dan tergesa-gesa — kafilah demi kafilah, satu di belakang yang lain — masuk ke balik tanah lalu lenyap; maka tentu dalam waktu yang sangat dekat kita akan berpisah satu sama lain. Kalian akan melihat balasan atas kezaliman kalian dengan cara yang dahsyat. Setidaknya, kalian akan naik ke tiang gantungan eksekusi abadi dari kematian — yang bagi orang-orang beriman yang terzalimi merupakan surat pembebastugasan. Kenikmatan-kenikmatan fana yang kalian peroleh di dunia dengan waham kekekalan, akan berubah menjadi penderitaan-penderitaan yang kekal dan menyakitkan.
Sayang sekali, musuh-musuh munafik kami yang tersembunyi ingin — dengan menamai hakikat keislaman yang diperoleh dan dijaga dengan darah dan pedang para syuhada bangsa religius ini yang berkedudukan sebagai ratusan juta wali serta para gazi pahlawan, terkadang dengan nama "tarekat," dan dengan memperlihatkan mazhab tarekat yang hanya merupakan satu berkas cahaya dari matahari itu seolah matahari itu sendiri, lalu memperdaya sebagian pejabat pemerintah yang lalai — mendorong orang melawan kami dengan memberikan nama "pengikut tarekat" dan "pembentuk perkumpulan politik" kepada murid-murid Nur yang bekerja secara berpengaruh untuk hakikat Qur'ani dan hakikat-hakikat imani. Kami berkata kepada mereka dan kepada orang-orang yang mendengarkan mereka untuk memusuhi kami, sebagaimana telah kami katakan di pengadilan yang adil di Denizli:
"Kepada suatu hakikat suci yang untuknya ratusan juta kepala telah dikorbankan, biarlah kepala kami pun dikorbankan. Sekalipun kalian menjadikan dunia sebagai api di atas kepala kami, kepala-kepala yang telah dikorbankan untuk hakikat Qur'ani tidak akan menyerahkan senjata kepada kezindikan dan tidak akan meninggalkan tugas sucinya, insya Allah!"
Nah, dengan penghiburan-penghiburan suci yang datang menolong dari iman dan Al-Qur'an terhadap rasa sakit dan keputusasaan yang datang dari petualangan masa tuaku, aku tidak akan menukar satu tahun paling penuh kesempitan dari masa tuaku ini dengan sepuluh tahun paling penuh kelegaan dari masa mudaku. Khususnya karena setiap jam orang yang menunaikan salat fardu dan bertobat di penjara berkedudukan sebagai sepuluh jam ibadah, dan karena dalam penyakit dan kezaliman pun setiap hari yang fana — dari sisi pahala — memberikan umur kekal selama sepuluh hari, maka betapa hal itu merupakan sumber syukur bagi seorang lelaki sepertiku yang menanti gilirannya di pintu kubur; aku mengetahuinya dari peringatan maknawi itu. Aku berkata: "Syukur yang tak terhingga bagi Tuhanku"; aku bergembira dengan ketuaanku dan rida dengan penjaraku. Sebab umur tidak berhenti, ia berlalu dengan cepat. Jika ia berlalu dengan kenikmatan dan kelegaan, karena hilangnya kenikmatan adalah penderitaan, maka ia — dengan penyesalan, ketiadaan syukur, dan kelalaian — meninggalkan beberapa dosa di tempatnya, lalu berlalu menjadi fana. Jika ia berlalu dengan penjara dan kesukaran, karena hilangnya penderitaan adalah suatu kenikmatan maknawi, dan karena ia terhitung sebagai suatu bentuk ibadah, maka dari satu sisi ia tetap kekal dan memberikan suatu umur kekal dengan buah-buahnya yang baik. Ia menjadi penghapus dosa bagi dosa-dosa yang lampau dan kesalahan-kesalahan yang menyebabkan penjara, dan membersihkannya. Dari sudut pandang ini, para tahanan yang menunaikan fardu hendaknya bersyukur di dalam kesabaran.
PENGHARAPAN KEENAM BELAS:
Suatu ketika pada masa tua, aku keluar dari Penjara Eskişehir — setelah menjalani hukuman satu tahun. Mereka mengasingkanku ke Kastamonu. Mereka menjadikanku tamu di kantor polisi selama dua tiga bulan. Dapat dipahami betapa besar azab yang ditanggung seorang penyendiri sepertiku — yang merasa sesak untuk berjumpa bahkan dengan sahabat-sahabatnya yang setia dan yang tak tahan terhadap penggantian pakaiannya — di tempat-tempat semacam ini. Nah, ketika aku dalam keputusasaan ini, tiba-tiba pemeliharaan Ilahi datang menolong ketuaanku. Komisaris di kantor polisi itu, bersama para polisi, beralih menjadi sahabat yang setia. Sebagaimana mereka tidak pernah sekali pun memperingatkanku untuk mengenakan topi di kepalaku; mereka pun — bagaikan para pelayanku — membawaku berjalan-jalan di sekeliling kota kapan pun aku inginkan. Kemudian, di seberang kantor polisi itu, aku memasuki Madrasah Nuriah Kastamonu, dan mulai menulis Nur. Murid-murid Nur yang pahlawan seperti Feyzi, Emin, Hilmi, Sadık, Nazif, dan Salahaddin, terus datang ke madrasah itu untuk penyebaran dan penggandaan Nur.
Mereka memperlihatkan dengan cara yang lebih cemerlang lagi diskusi ilmiah berharga yang dahulu kulewatkan bersama murid-murid lamaku pada masa muda. Kemudian musuh-musuh tersembunyi kami menimbulkan waham pada sebagian pejabat serta sebagian ulama dan syekh yang penuh keakuan (egoisme) untuk memusuhi kami. Mereka menjadi sebab bagi berkumpulnya kami — murid-murid Nur yang datang dari lima enam provinsi — di Penjara Denizli, di Madrasah Yusufiah itu. Perincian Pengharapan Keenam Belas ini adalah surat-surat kecil yang kukirim dari Kastamonu dan masuk ke dalam Lâhika (Lampiran), serta yang secara diam-diam kukirim kepada saudara-saudaraku di Penjara Denizli, dan Risalah Pembelaan di pengadilannya; yang memperlihatkan hakikat pengharapan ini dengan cemerlang. Dengan menyerahkan perinciannya kepada Lâhika dan kepada pembelaanku, kami akan mengisyaratkannya secara sangat ringkas.
Aku menyembunyikan kumpulan-kumpulan yang rahasia dan penting, khususnya risalah-risalah mengenai Sufyan dan mengenai karamah-karamah Nur, di bawah batu bara dan kayu bakar; agar risalah-risalah itu diterbitkan setelah kematianku atau setelah para pemimpin di puncak mendengarkan hakikat dan menyadarkan akal mereka — sementara aku berdiam dengan tenang demikian, tiba-tiba para petugas penggeledah dan wakil jaksa penuntut menggerebek tempat tinggalku. Mereka mengeluarkan risalah-risalah yang rahasia dan penting itu dari bawah kayu bakar. Dan mereka menahanku serta mengirimku ke penjara Isparta dalam keadaan kesehatanku terganggu. Ketika aku sangat menderita dan sangat sedih karena kerugian yang menimpa Nur itu, suatu pemeliharaan Ilahi datang menolong kami. Para penguasa pemerintahan — yang sangat membutuhkan untuk membaca risalah-risalah penting yang tersembunyi itu — mulai membacanya dengan penuh rasa ingin tahu dan saksama, sehingga kantor-kantor resmi yang besar hampir-hampir beralih menjadi suatu Ruang Belajar Nuriah. Dengan pikiran mengkritik, mereka justru mulai menghargai. Bahkan di Denizli, tanpa sepengetahuan kami sama sekali, sangat banyak orang — baik resmi maupun tidak resmi — membaca Âyet-ül Kübra yang tercetak secara luar biasa di balik tabir, dan menguatkan iman mereka. Mereka meniadakan musibah penjara kami.
Kemudian mereka membawa kami ke Penjara Denizli. Mereka memasukkanku ke sebuah bangsal yang berbau busuk, lembap, dan dingin dalam isolasi mutlak. Ketika aku menggelepar di tengah ketuaan, penyakit, banyak penderitaan yang datang kepadaku dari kesukaran sahabat-sahabatku yang tak berdosa akibat diriku, serta banyak penyesalan dan kesempitan yang datang dari penghentian dan penyitaan Nur, tiba-tiba pemeliharaan Rabbani datang menolong. Tiba-tiba, dengan mengubah penjara yang besar itu menjadi suatu Ruang Belajar Nuriah dan membuktikan bahwa ia adalah suatu Madrasah Yusufiah ('alaihis-salâm), Nur mulai tersebar dengan pena-pena berlian para pahlawan Madrasah Zahra. Bahkan di tengah syarat-syarat yang berat itu, pahlawan Nur menulis lebih dari dua puluh salinan dari Risalah Buah dan Pembelaan dalam kurun tiga empat bulan. Mereka memulai berbagai keberhasilan, baik di penjara maupun di luar. Dia mengubah kerugian kami dalam musibah itu menjadi manfaat-manfaat yang besar, dan kesempitan-kesempitan kami menjadi berbagai kegembiraan. Dia kembali memperlihatkan rahasia عَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ.
Kemudian, pada saat kritik-kritik keras dari panel ahli pertama terhadap kami — yang berdasarkan berita acara yang keliru dan dangkal — dan penerbitan sebuah maklumat menentang kami bersama serangan dahsyat Menteri Pendidikan, bahkan pada saat — menurut sebagian kabar — diupayakan hukuman mati bagi sebagian dari kami, suatu pemeliharaan Rabbani datang menolong kami. Sementara pada mulanya kami menanti kritik-kritik keras dari panel ahli Ankara, yang datang justru laporan-laporan mereka yang penuh penghargaan; bahkan sekalipun mereka menemukan lima sepuluh kekeliruan dalam lima peti Risalah Nur, di pengadilan kami membuktikan bahwa poin-poin yang mereka sebut sebagai kekeliruan dan kesalahan itu justru merupakan hakikat itu sendiri, dan bahwa dalam perkara-perkara yang mereka sebut keliru dan salah itu justru merekalah yang keliru; demikian pula kami memperlihatkan lima sepuluh kekeliruan dan kesalahan dalam laporan mereka yang lima lembar itu. Dan Risalah Buah dan Pembelaan yang kami kirimkan ke tujuh instansi, serta seluruh risalah Nur yang dikirim ke Kementerian Peradilan, khususnya sebagai balasan atas tamparan-tamparan menyentuh dan keras dari risalah-risalah rahasia — sementara kami menanti perintah-perintah keras yang mengancam — datang justru secara sangat lembut, bahkan penuh penghiburan bagaikan surat yang dikirim Perdana Menteri kepada kami; ketiadaan gangguan mereka dengan cara perdamaian membuktikan secara pasti bahwa: hakikat-hakikat Risale-i Nur, dengan karamah pemeliharaan Ilahi, telah mengalahkan mereka dan membuat dirinya terbaca oleh mereka secara membimbing, menjadikan kalangan-kalangan yang luas itu sebagai suatu ruang belajar, menyelamatkan iman banyak orang yang ragu dan bingung, serta memberikan kelegaan dan manfaat maknawi yang seratus derajat lebih besar daripada kesempitan-kesempitan kami.
Kemudian musuh-musuh tersembunyi meracuniku, dan pahlawan syahid Nur, almarhum Hâfız Ali, pergi ke rumah sakit sebagai gantiku dan mengembara ke alam barzakh menggantikan tempatku, yang membuat kami menangis penuh keputusasaan. Sebelum musibah ini, di gunung Kastamonu aku berteriak berulang kali: "Saudara-saudaraku! Janganlah kalian melemparkan daging kepada kuda dan rumput kepada singa." Yakni, janganlah kalian memberikan setiap risalah kepada setiap orang; agar kami tidak diserang. Hâfız Ali (rahimahullâh) yang berada tujuh hari perjalanan jauhnya jika ditempuh dengan berjalan kaki, pada saat yang sama menulis kepadaku seolah mendengar melalui telepon maknawinya: "Ya, Ustadku, salah satu karamah Risale-i Nur adalah bahwa ia tidak melemparkan daging kepada kuda dan rumput kepada singa. Bahkan ia melemparkan rumput kepada kuda dan daging kepada singa, sehingga singa itu memberikan Risalah Ikhlas kepada sang ulama." Tujuh hari kemudian kami menerima suratnya, lalu kami menghitung; ternyata pada saat yang sama, ketika aku berteriak di gunung, ia pun sedang menuliskan kata-kata yang ganjil itu dalam suratnya.
Nah, ketika kami tertekan oleh wafatnya pahlawan maknawi Nur semacam ini, oleh upaya orang-orang munafik tersembunyi untuk menghukum kami dengan tipu daya menentang kami, serta oleh kecemasan akan pemaksaan dengan perintah resmi agar aku pun pergi ke rumah sakit karena penyakit keracunanku, tiba-tiba pemeliharaan Ilahi datang menolong.
Dengan doa-doa ikhlas saudara-saudaraku yang penuh berkah, bahaya racun itu berlalu; dan — dengan tanda-tanda yang kuat bahwa syahid almarhum itu sibuk dengan Nur di kuburnya dan menjawab malaikat penanya dengan Nur — serta dengan pelayanan yang berpengaruh di balik tabir dari Pahlawan Denizli Hasan Feyzi (rahimahullâh) dan sahabat-sahabatnya yang akan bekerja untuk Nur menggantikannya dan dalam sistemnya, serta dengan berpihaknya musuh-musuh kami pun pada kebebasan kami dari penjara dari sisi bahwa para tahanan seketika menjadi baik dengan Nur; dan dengan murid-murid Nur yang bagaikan Ashabul-Kahfi mengubah tempat siksaan yang penuh kesempitan itu menjadi gua-gua Ashabul-Kahfi dan gua-gua para ahli riyadhah zaman dahulu, serta dengan upaya mereka menyebarkan dan menulis Nur dengan kalbu yang tenang — semua itu membuktikan bahwa pemeliharaan Rabbani telah datang menolong kami.
Dan terlintas di kalbuku: Karena para mujtahid agung seperti Imam A'zam pernah menjalani penjara, dan seorang mujahid terbesar seperti Imam Ahmad bin Hanbal telah diberikan banyak azab di penjara karena satu persoalan Al-Qur'an saja. Dan tanpa mengeluh, dengan kesabaran yang sempurna, ia berteguh dan tidak berdiam dalam persoalan-persoalan itu. Dan sangat banyak imam dan ulama besar, sekalipun diberikan azab yang jauh lebih banyak daripada kalian, mereka bersyukur di dalam kesabaran yang sempurna dan tidak tergoyahkan. Maka tentu, sekalipun kalian memperoleh pahala dan keuntungan yang sangat besar untuk berbagai hakikat Al-Qur'an, adalah utang kalian untuk berterima kasih ribuan kali atas sedikitnya kesukaran yang kalian tanggung. Ya, aku akan menjelaskan secara ringkas suatu kilasan keadilan takdir Ilahi di tengah kezaliman manusia, dan suatu kilasan pemeliharaan Rabbani di tengah kesempitan-kesempitan yang dahsyat dalam masa tuaku:
Ketika aku berusia dua puluhan tahun, aku sering berkata: "Seperti para peninggal dunia (târik-üd dünya) di zaman dahulu yang menarik diri ke gua-gua, pada akhir umurku aku pun akan menarik diri ke sebuah gua, sebuah gunung, dan keluar dari kehidupan sosial manusia." Dan dalam Perang Umum yang lampau, dalam penawananku di timur laut, aku telah memutuskan: "Setelah ini aku akan menghabiskan umurku di gua-gua. Aku akan melepaskan diri dari kehidupan politik dan sosial. Sudah cukup berbaur." — ketika aku berkata demikian, pemeliharaan Rabbani sekaligus keadilan takdiri pun memancar. Dengan cara yang jauh lebih baik daripada keputusan dan keinginanku, sebagai belas kasih terhadap masa tuaku, Dia mengubah gua-gua yang kubayangkan itu menjadi penjara-penjara, tempat-tempat menyendiri, tempat-tempat siksaan dalam kesendirian, dan tempat-tempat tinggal isolasi mutlak. Dia memberikan "Madrasah-Madrasah Yusufiah" yang jauh melampaui gua-gua para ahli riyadhah dan para penyendiri di gunung-gunung, serta tempat-tempat isolasi agar kami tidak menyia-nyiakan waktu kami. Dia memberikan faedah ukhrawi gua, sekaligus pelayanan penuh perjuangan bagi hakikat-hakikat imani dan Qur'ani. Bahkan aku telah berniat bahwa; setelah pembebasan sahabat-sahabatku, aku akan menunjukkan suatu pelanggaran dan tetap tinggal di penjara. Agar orang-orang lajang seperti Hüsrev dan Feyzi tinggal di sisiku, dan agar dengan suatu dalih aku tidak berjumpa dengan orang-orang serta tidak menghabiskan waktuku dengan perbincangan yang tak perlu, kepura-puraan, dan keangkuhan diri, aku akan berada di bangsal isolasi. Akan tetapi, takdir Ilahi dan bagian kami mendorong kami ke tempat siksaan yang lain. Dengan rahasia اَلْخَيْرُ فِى مَا اخْتَارَهُ اللّٰهُ ❊ عَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ, sebagai belas kasih terhadap masa tuaku dan untuk membuatku bekerja lebih banyak dalam pelayanan iman, di luar pilihan dan pengaturan kami, suatu tugas diberikan di Madrasah Yusufiah ketiga ini.
Ya, dalam pengubahan gua-gua khusus bagi masa mudaku — yang tak memiliki musuh kuat dan tersembunyi — menjadi tempat-tempat tinggal isolasi terpencil di penjara oleh pemeliharaan Ilahi sebagai belas kasih terhadap masa tuaku, terdapat tiga hikmah dan tiga faedah penting bagi pelayanan Nuriah:
Hikmah dan faedah pertama:
Berkumpulnya murid-murid Nur pada masa ini; secara tak berbahaya, terjadi di Madrasah Yusufiah. Sedangkan saling berjumpa dan berbincang di luar akan mahal dan mencurigakan. Bahkan untuk berjumpa denganku, sebagian orang datang dengan mengeluarkan empat puluh lima puluh lira, lalu pulang kembali entah setelah berjumpa dua puluh menit atau tanpa berjumpa sama sekali. Untuk melihat sebagian saudaraku dari dekat, aku menerima kesukaran penjara dengan senang hati. Artinya, penjara bagi kami adalah suatu nikmat, suatu rahmat.
Hikmah dan faedah kedua:
Pada masa ini, pelayanan iman dengan Nur terjadi melalui pengumuman di setiap penjuru dan dengan menarik perhatian orang-orang yang membutuhkan. Nah, dengan penjara kami, perhatian tertarik kepada Nur, dan ia berkedudukan sebagai suatu pengumuman. Orang-orang yang paling keras kepala atau paling membutuhkan menemukannya, menyelamatkan imannya, keras kepalanya pun patah, terlepas dari bahaya, dan ruang belajar Nur pun meluas.
Hikmah dan faedah ketiga:
Murid-murid Nur yang masuk penjara, di samping mengambil pelajaran dari keadaan, perangai, keikhlasan, dan pengorbanan satu sama lain, tidak lagi mencari kepentingan-kepentingan duniawi dalam pelayanan Nur. Ya, karena di Madrasah Yusufiah — dengan banyak tanda — mereka melihat dengan mata kepala mereka sendiri faedah-faedah materi dan maknawi, hasil-hasil yang indah, serta pelayanan yang luas dan ikhlas kepada iman, yang sepuluh — bahkan seratus — kali lipat dari setiap kesempitan dan kesukaran, maka mereka berhasil mencapai keikhlasan yang sempurna, dan tidak lagi merendahkan diri kepada kepentingan-kepentingan yang parsial dan pribadi.
Tempat-tempat siksaan ini memiliki suatu keindahan yang khusus bagiku dan suatu keadaan yang menyedihkan namun manis. Yakni:
Aku melihat keadaan yang sama persis dengan madrasah lama yang kulihat di negeri kami pada masa muda. Sebab di provinsi-provinsi timur, menurut adat lama, jatah makanan sebagian murid madrasah datang dari luar. Dan sebagian madrasah memasak di dalamnya. Dan dari beberapa sisi lagi mereka menyerupai tempat siksaan ini. Aku pun, di tengah suatu kerinduan yang lezat, setiap kali memandang ke sini, pergi secara khayali ke masa muda lama dan masa yang manis itu, dan melupakan keadaan-keadaan ketuaan.
Lampiran (Zeyl) Lem'a Kedua Puluh Enam
Karena ia merupakan Surat Kedua Puluh Satu dan telah dimasukkan ke dalam Kumpulan Al-Maktubat, maka ia tidak disertakan di sini.