LEM'A KETUJUH BELAS:
Lem'alar · hlm. 475
113
Ia terdiri dari "Lima Belas Nota" yang berasal dari Zühre.
NOTA PERTAMA:
Dengan memperlihatkan hakikat hal-hal yang terbenam (âfil) dan berlebih (nâfil) — yang menjangkiti nafsu kemanusiaan — pada tingkatan-tingkatan alam, ia memutus ikatan hati (dengannya) dan mengarahkan wajahnya kepada kekekalan dan akhirat.
NOTA KEDUA:
Ia memerintahkan kerendahan hati (tawaduk) yang merupakan suatu prinsip Al-Qur'an, dan melarang kesombongan.
NOTA KETIGA:
Dengan rahasia كُلُّ اٰتٍ قَر۪يبٌ; dengan menyingkap hakikat kematian melalui suatu perumpamaan yang indah lagi sesuai dengan hakikat, ia memutus angan-angan panjang dan penderitaan. Ia menyerahkan segenap urusan kepada Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Maha Kekal, Maha Abadi, dan Yang di tangan-Nya segala kebaikan (Biyadihil-Khair).
NOTA KEEMPAT:
Dengan dikembalikannya dan diperbaruinya kebanyakan benda secara sama persis dalam pergantian musim dan abad — yang merupakan suatu hukum kebiasaan Allah (âdatullah) yang tetap — ia membuktikan secara pasti bahwa manusia, yang merupakan buah tersempurna dari pohon alam semesta, akan dikembalikan secara sama persis pada musim kebangkitan terbesar.
NOTA KELIMA:
Ia menyingkap dan memperlihatkan — dengan cara menimbangnya dengan petunjuk Al-Qur'an — wajah dalam, cadar di wajah, dan hakikat serupa-Neraka dari peradaban yang sakit (medeniyet-i sakîme) yang menuju kepada ketiadaan agama, yang merupakan musibah terbesar dari abad bencana dan kebinasaan ini. Dengan membuat ahli iman sangat menjauh dari kecenderungan kepadanya, dan dengan mendiagnosis suatu wabah menular, ia meminumkan penawar zamzam dari apotek Al-Qur'an.
NOTA KEENAM:
Ia adalah suatu iksir bercahaya yang teruji, yang — dengan suatu perumpamaan yang sesuai dengan hak dan hakikat — memotong dari akarnya keraguan-keraguan dan sikap acuh terhadap agama yang timbul dari salah satu tipu daya dan muslihat terbesar nafsu dan setan, yaitu memperlihatkan banyaknya orang-orang kafir dan kesepakatan mereka dalam mengingkari sebagian hakikat keimanan dalam bentuk waswas; serta menumbuhkan pohon iman yang merupakan Tûbâ Surga (pohon Tûbâ di Surga).
NOTA KETUJUH:
Dengan membunuh — dengan pedang berlian Al-Qur'an — para penjaja semangat palsu yang merupakan mikrob berbahaya bagi kehidupan sosial keislaman, yang menggiring ahli iman kepada ambisi-ambisi duniawi yang penuh kezaliman lagi kegelapan yang disangka kebahagiaan dalam kemajuan-kemajuan asing; ia membawa ke rumah sakit Al-Qur'an Yang Maha Bijaksana dan mengobati ahli iman yang menghadap kepada kemurtadan atau yang turun ke tingkat kefasikan.
NOTA KEDELAPAN:
Dengan menafsirkan suatu rahasia dari وَسِعَتْ رَحْمَتُهُ كُلَّ شَيْءٍ, suatu hakikat dari وَ اِنْ مِنْ شَيْءٍ اِلاَّ يُسَبِّحُ بِحَمْدِه۪, suatu prinsip dari اِنَّمَٓا اَمْرُهُٓ اِذَٓا اَرَادَ شَيْئًا اَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُونُ, dan suatu poin dari فَسُبْحَانَ الَّذ۪ى بِيَدِه۪ مَلَكُوتُ كُلِّ شَيْءٍ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُونَ — dengan membuktikan dan menjelaskan bahwa segala sesuatu di alam semesta, dari atom hingga matahari, dibebani suatu tugas, dan segenap usaha serta geraknya berlangsung dengan hukum takdir; dan bahwa Allah Ta'ala, dari kesempurnaan kemuliaan-Nya, menyisipkan suatu kelezatan di dalam khidmat sebagai pahala — dengan memperingatkan dan mengancam bahwa manusia, yang merupakan makhluk tersempurna, pemimpin makhluk hidup, dan khalifah di bumi, jika bermalas-malasan lalu terjatuh dalam kelalaian, niscaya akan lebih beku daripada benda mati dan lebih tak berdarah daripada lalat dan belalang; ia menggiring manusia kepada tugas-tugas fitri mereka dan membuktikan uluhiyah yang mutlak.
NOTA KESEMBILAN:
Karena Allah Ta'ala, dengan kesempurnaan kemuliaan-Nya, menyisipkan sesuatu yang terbesar di dalam sesuatu yang terkecil; ia memperlihatkan bahwa Dia menampakkan kebajikan dan kesempurnaan di alam semesta pada para Nabi yang mengemban hakikat jenis manusia, yang merupakan buah dan benih pohon alam semesta; dan sebagaimana orang yang bertaut kepada para Nabi akan naik kepada kebajikan dan kesempurnaan, cahaya dan sukacita, demikian pula dari sisi penghambaan, suara "Allâhu Akbar" yang keluar dari mulut manusia — makhluk kecil sebesar atom — dari sisi kemencakupannya dan pertautan itu, berlaku sebagai suatu "Allâhu Akbar" besar dari Bola Bumi; dengan suatu penjelasan haqqul-yaqîn, ia menampakkan secara nyata kebahagiaan hak dan keindahan kesempurnaan iman.. serta membuktikan secara pasti bahwa kesesatan, keburukan, dan kerugian berada pada pihak yang menentang agama.
NOTA KESEPULUH:
Mencapai dan memandang cahaya makrifat Allah Ta'ala, serta melihat tanda-tanda bukti dan dalil pada cermin-cermin ayat dan saksi, ada tiga macam.. sebagian bagaikan air; bagian kedua bagaikan udara; bagian ketiga bagaikan cahaya.. ia menjelaskan pengertian pendekatan (kepada Allah) dan jurang-jurang penjauhan.
NOTA KESEBELAS:
Ia memperlihatkan hikmah kasih sayang dan belas kasih dalam ungkapan Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, sekaligus kefitrian dalam kefasihan dan kelancaran uslub Al-Qur'an.
NOTA KEDUA BELAS:
Dengan mematuhi sabda mulia مُوتُوا قَبْلَ اَنْ تَمُوتُوا, dengan rahasia كُلُّ اٰتٍ قَر۪يبٌ, ia memperlihatkan hakikat kematian dan kubur, lalu menarik kendali nafsu ammarah yang membangkang. Selain itu, ia adalah suatu prinsip hakikat yang menjelaskan bahwa — dalam usia yang pendek dan kehidupan yang sementara, di abad yang mengherankan ini — amal yang paling bermanfaat, khidmat yang paling diterima, dan pahala yang paling berkelanjutan bagi kebahagiaan abadi adalah "bekerja dalam ilmu-ilmu keimanan dengan cara para murid Risalah Nur yang menjadi sarana penguatan iman"; serta yang memperingatkan ahli ilmu dan ahli pena.
NOTA KETIGA BELAS:
Ia adalah "Lima Persoalan" yang telah menjadi sumber kekeliruan.
Yang pertama: dengan rahasia اِنَّكَ لاَ تَهْد۪ى مَنْ اَحْبَبْتَ وَلٰكِنَّ اللّٰهَ يَهْد۪ى مَنْ يَشَٓاءُ, suatu persoalan yang diperlukan setiap orang, yang menjelaskan bahwa orang-orang yang bekerja dan berjihad di jalan kebenaran hendaklah hanya memikirkan tugasnya sendiri dan tidak mencampuri tugas Allah Ta'ala; serta yang, dengan membedakan (tugas) terhadap orang-orang yang — karena hebatnya ketamakan — mengelirukan tugas penghambaan dan kepegawaian dengan kedudukan memerintah dan disembah, memperlihatkan kedudukan (yang sebenarnya) kepada manusia yang melampaui batasnya.