Lem'a Ketiga
Lem'alar · hlm. 30
ayat Surah Al-Fath ini memiliki banyak sisi kemukjizatan. Dari sepuluh sisi kemukjizatan menyeluruh Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya (Mu'jizul-Bayân), sisi pemberitaan tentang yang gaib tampak melalui tujuh-delapan sisi pada ketiga ayat ini.
PERTAMA:
لَقَدْ صَدَقَ اللّٰهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا dan seterusnya. Ia memberitakan dengan pasti tentang penaklukan Mekah sebelum terjadinya. Dua tahun kemudian ia terjadi persis seperti yang diberitakan.
KEDUA:
فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذٰلِكَ فَتْحًا قَر۪يبًا menyatakan bahwa: Perjanjian Hudaibiyah, walaupun secara lahiriah tampak merugikan Islam dan kaum Quraisy tampak sedikit unggul, secara maknawi akan berkedudukan sebagai suatu kemenangan (fath) maknawi yang besar dan akan menjadi kunci bagi penaklukan-penaklukan berikutnya — demikian ia memberitakan. Pada kenyataannya, dengan Perjanjian Hudaibiyah, walaupun pedang materiil untuk sementara disarungkan, namun pedang intan Al-Qur'an Al-Hakim yang laksana kilat justru terhunus; ia menaklukkan kalbu dan akal. Dengan perantaraan perdamaian, mereka saling berbaur. Keindahan-keindahan Islam dan cahaya-cahaya Al-Qur'an merobek tabir kedegilan dan fanatisme kesukuan, lalu memberlakukan hukumnya. Misalnya: tokoh-tokoh yang tak sudi menerima kekalahan — seperti Khalid bin Walid, seorang jenius perang, dan Amr bin Ash, seorang jenius politik — ditaklukkan oleh pedang Al-Qur'an yang menampakkan manifestasinya melalui Perjanjian Hudaibiyah, lalu setelah menyerahkan diri kepada Islam dengan penuh ketundukan di Madinah al-Munawwarah, Hazrat Khalid pun berubah menjadi sebuah “Saifullah” (Pedang Allah) dan menjadi salah satu pedang penaklukan Islam.
SEBUAH PERTANYAAN PENTING:
Apakah hikmah kekalahan para Sahabat Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم — Kebanggaan seluruh alam dan Kekasih Rabb seluruh alam — terhadap kaum musyrik di akhir Perang Uhud dan di awal Perang Hunain?
JAWABAN:
Karena di kalangan kaum musyrik pada masa itu terdapat banyak tokoh — seperti Hazrat Khalid — yang di masa depan akan menjadi tandingan bagi para Sahabat besar yang saat itu berada di barisan Sahabat, maka demi tidak sepenuhnya mematahkan kehormatan mereka dari sudut pandang masa depan mereka yang mulia lagi terhormat, hikmah Ilahi memberikan kepada mereka di masa lampau semacam ganjaran yang disegerakan atas kebaikan-kebaikan mereka di masa depan, sehingga tidak sepenuhnya mematahkan kehormatan mereka. Artinya, para Sahabat di masa lampau kalah terhadap para Sahabat di masa depan — agar para Sahabat masa depan itu masuk ke dalam Islam bukan karena takut pada kilau pedang, melainkan karena kerinduan pada kilau hakikat, dan agar keberanian fitri mereka tidak banyak menanggung kehinaan.
KETIGA:
Dengan penegasan لاَ تَخَافُونَ ia memberitakan bahwa: “Kalian akan bertawaf mengelilingi Ka'bah dalam keamanan yang mutlak.” Padahal kaum badui di Jazirah Arab kebanyakan memusuhi, dan sekeliling Mekah serta sebagian besar kabilah Quraisy pun memusuhi; namun dengan pemberitaan bahwa dalam waktu dekat kalian akan bertawaf mengelilingi Ka'bah tanpa merasakan sedikit pun ketakutan, ia menunjukkan dan memberitakan bahwa Jazirah Arab akan tunduk, seluruh Quraisy akan masuk Islam, dan keamanan yang sempurna akan ditegakkan. Persis seperti yang diberitakan, ia pun terjadi.
KEEMPAT:
هُوَ الَّذ۪ٓى اَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدٰى وَ د۪ينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدّ۪ينِ كُلِّه۪ Dengan kepastian yang sempurna ia memberitakan bahwa: “Agama yang dibawa Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم akan mengungguli seluruh agama.” Padahal pada masa itu, sementara agama Nasrani, Yahudi, dan Majusi yang masing-masing memiliki ratusan juta pengikut, serta agama-agama resmi negara-negara adidaya penakluk dunia seperti kerajaan Roma, Cina, dan Persia yang masing-masing memiliki ratusan juta rakyat — sedangkan Muhammad al-Arabi صلى الله عليه وسلم berada dalam keadaan belum sepenuhnya mampu mengungguli kabilahnya sendiri yang kecil — ia memberitakan bahwa agama yang dibawanya akan mengungguli seluruh agama dan menang atas seluruh negara. Dan ia memberitakannya dengan sangat jelas lagi pasti. Masa depan telah membenarkan pemberitaan gaib itu dengan terbentangnya pedang Islam dari Samudra Timur hingga Samudra Barat.
KELIMA:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللّٰهِ وَالَّذ۪ينَ مَعَهُٓ اَشِدَّٓاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَٓاءُ بَيْنَهُمْ تَرٰيهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا dan seterusnya. Awal ayat ini, dengan memberitakan tabiat-tabiat luhur dan keistimewaan-keistimewaan mulia yang menjadi sebab keunggulan para Sahabat di antara umat manusia setelah para nabi — melalui makna sarih (jelas)-nya mengungkapkan sifat-sifat istimewa yang berbeda-beda yang akan disandang oleh tingkatan-tingkatan Sahabat di masa depan; dan melalui makna isyarinya, menurut para ahli tahkik, ia mengisyaratkan kepada Khulafa Rasyidin yang akan menggantikan kedudukan beliau setelah wafatnya Nabi, dengan urutan kekhalifahan, sekaligus memberitakan sifat-sifat khusus yang menjadi ciri paling masyhur dari masing-masing mereka. Yakni demikian:
Sebagaimana وَالَّذ۪ينَ مَعَهُٓ menunjuk kepada Hazrat Abu Bakar ash-Shiddiq yang masyhur lagi istimewa karena kebersamaan yang khusus dan persahabatan yang khas, serta karena wafat paling awal lalu kembali masuk ke dalam kebersamaan beliau; demikian pula اَشِدَّٓاءُ عَلَى الْكُفَّارِ menunjuk kepada Hazrat Umar yang di masa depan akan menggetarkan negara-negara dunia dengan penaklukannya dan menunjukkan ketegasan bagai halilintar terhadap orang-orang zalim dengan keadilannya. Dan sebagaimana رُحَمَٓاءُ بَيْنَهُمْ memberitakan tentang Hazrat Utsman yang — tatkala sedang dipersiapkan terjadinya suatu fitnah terpenting — karena kesempurnaan kasih dan sayangnya, agar tidak tertumpah darah di antara kaum muslimin, mengorbankan ruhnya dan menyerahkan dirinya, lebih memilih syahid secara terzalimi saat sedang membaca Al-Qur'an; demikian pula تَرٰيهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلاً مِنَ اللّٰهِ وَ رِضْوَانًا memberitakan tentang keadaan Hazrat Ali (r.a.) di masa depan — yang masuk ke dalam kekuasaan dan kekhalifahan dengan kelayakan dan kepahlawanan yang sempurna, namun memilih kezuhudan, ibadah, kefakiran, dan kesederhanaan yang sempurna, serta yang ketekunan dan kebanyakan rukuk-sujudnya dibenarkan oleh semua orang — bahwa ia tidak bertanggung jawab atas peperangan di tengah fitnah-fitnah itu, dan bahwa niat serta tujuannya adalah karunia Ilahi.
KEENAM:
Penggalan ذٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰيةِ merupakan pemberitaan gaib dari dua sisi.
Sisi Pertama:
Ia memberitakan sifat-sifat para Sahabat yang tercantum dalam Taurat, yang bagi seorang ummi seperti Nabi صلى الله عليه وسلم berkedudukan sebagai perkara gaib. Ya, dalam Taurat — sebagaimana dijelaskan dalam Surat Kesembilan Belas — terdapat penggalan ini tentang para Sahabat Nabi yang akan datang di akhir zaman: “Bendera-bendera kaum kudus bersama mereka.” Yakni, para Sahabatnya adalah ahli ketaatan dan ibadah serta ahli kesalihan dan kewalian, sifat-sifat mana diungkapkan dengan istilah “kaum kudus”, yakni “orang-orang yang disucikan”. Meskipun Taurat mengalami banyak penyimpangan akibat diterjemahkan ke banyak bahasa yang berbeda-beda, namun Surah Al-Fath ini dengan beberapa ayatnya membenarkan hukum مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰيةِ.
Sisi kedua pemberitaan gaib adalah demikian:
Dengan penggalan مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰيةِ ia memberitakan bahwa: “Para Sahabat dan Tabiin akan mencapai suatu derajat dalam ibadah sehingga cahaya nurani dalam ruh mereka akan berkilau di wajah mereka, dan di dahi mereka akan tampak cap-cap semacam khatam kewalian yang lahir dari banyaknya sujud.” Ya, masa depan telah membuktikannya dengan jelas, pasti, lagi cemerlang. Ya, di tengah fitnah-fitnah yang menakjubkan dan hiruk-pikuk politik, banyak sekali tokoh penting — seperti Zainal Abidin yang mengerjakan seribu rakaat salat siang dan malam, dan seperti Thawus al-Yamani yang selama empat puluh tahun menunaikan salat Subuh dengan wudu salat Isya — telah memperlihatkan rahasia مَثَلُهُمْ فِى التَّوْرٰيةِ.
KETUJUH:
Penggalan وَ مَثَلُهُمْ فِى اْلاِنْج۪يلِ كَزَرْعٍ اَخْرَجَ شَطْاَهُ فَاٰزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوٰى عَلٰى سُوقِه۪ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغ۪يظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ merupakan pemberitaan gaib dari dua sisi.
Sisi Pertama:
Ia adalah pemberitaan tentang apa yang diberitakan Injil mengenai para Sahabat, yang bagi Nabi yang ummi berkedudukan sebagai perkara gaib. Ya, dalam Injil, mengenai sifat Nabi yang akan datang di akhir zaman صلى الله عليه وسلم terdapat ayat-ayat seperti مَعَهُ قَض۪يبٌ مِنْ حَد۪يدٍ وَاُمَّتُهُ كَذٰلِكَ. Yakni: akan datang seorang nabi yang bukan tanpa pedang seperti Nabi Isa 'alaihis-salâm, melainkan pemilik pedang, yang ditugasi berjihad, dan para sahabatnya pun akan bersenjata pedang serta ditugasi berjihad. Pemilik tongkat besi itu akan menjadi pemimpin alam. Karena di suatu tempat dalam Injil dikatakan: “Aku pergi, agar datang pemimpin alam.” Yakni: Pemimpin alam sedang datang. Artinya, dari kedua penggalan Injil ini dipahami bahwa: para Sahabat, walaupun pada mulanya tampak sedikit dan lemah, namun laksana benih yang tumbuh berkembang, meninggi, menebal, dan menguat, pada saat mereka membuat kaum kafir menelan dan tercekik oleh kemarahan mereka sendiri, dengan pedang-pedang mereka akan menundukkan umat manusia kepada mereka, dan membuktikan bahwa pemimpin mereka, sang Nabi صلى الله عليه وسلم, adalah pemimpin alam. Persis seperti itulah makna ayat Surah Al-Fath ini.
Sisi Kedua:
Penggalan ini memberitakan bahwa: para Sahabat, walaupun karena sedikit dan lemahnya menerima Perjanjian Hudaibiyah, niscaya dalam waktu yang tidak lama kemudian dengan cepat akan memperoleh suatu perkembangan, kemegahan, dan kekuatan sedemikian rupa sehingga — dibandingkan dengan bulir-bulir umat manusia yang ditanam dengan tangan kudrat di ladang muka bumi, yang pada masa itu karena kelalaian mereka pendek, tak berkekuatan, cacat, lagi tak berkah — mereka akan berkembang biak dan memperoleh kekuatan dalam rupa yang teramat tinggi, kuat, berbuah, lagi berkah, serta akan meninggalkan pemerintahan-pemerintahan yang megah dalam kemarahan yang lahir dari kedengkian, hasad, dan kecemburuan. Ya, masa depan telah memperlihatkan pemberitaan gaib ini dengan sangat cemerlang.
Dalam pemberitaan ini terdapat satu isyarat tersembunyi lagi: tatkala memuji para Sahabat dengan sifat-sifat penting, padahal secara maqam semestinya ada janji ganjaran yang terbesar, ia justru mengisyaratkan dengan kata مَغْفِرَةً bahwa: di masa depan akan terjadi kekurangan-kekurangan penting di kalangan Sahabat melalui perantaraan fitnah. Karena ampunan (magfirah) menunjukkan adanya kekurangan. Dan pada masa itu, di mata para Sahabat, tujuan terpenting dan anugerah tertinggi adalah “ampunan”, dan ganjaran terbesar adalah tidak menghukum dengan memberi maaf. Sebagaimana kata مَغْفِرَةً memperlihatkan isyarat halus ini, demikian pula ia berkaitan dengan kalimat لِيَغْفِرَلَكَ اللّٰهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَاَخَّرَ di awal Surah. Awal Surah bukanlah ampunan dari dosa-dosa hakiki — karena ada kemaksuman, tidak ada dosa — melainkan dengan suatu makna yang layak bagi maqam kenabian, ia menambahkan satu kehalusan lagi pada isyarat itu, dengan mengabarkan kabar gembira ampunan kepada Nabi di awal Surah dan ampunan kepada para Sahabat di akhirnya.
Nah, dari sepuluh sisi kemukjizatan ketiga ayat di akhir Surah Al-Fath tersebut, kami hanya membahas tujuh sisi dari sekian banyak sisi pemberitaan gaib saja. Mengenai kehendak parsial dan takdir, di akhir Kelimat Kedua Puluh Enam telah diisyaratkan suatu kilau kemukjizatan yang penting pada susunan huruf-huruf ayat terakhir ini. Ayat terakhir ini, sebagaimana dengan kalimat-kalimatnya menatap para Sahabat, dengan penegasan-penegasannya pun menatap keadaan para Sahabat. Dan sebagaimana dengan lafal-lafalnya mengungkapkan sifat-sifat para Sahabat, dengan huruf-hurufnya serta dengan bilangan pengulangan huruf-huruf dalam ayat itu pun mengisyaratkan kepada tokoh-tokoh yang berada di tingkatan-tingkatan Sahabat yang masyhur seperti Ahli Badar, Uhud, Hunain, Suffah, dan Ridwan; dan dari sisi tawafuk — yang merupakan salah satu jenis dan kunci ilmu cifir — serta dengan hitungan Ebced, ia mengungkapkan lebih banyak lagi rahasia.
سُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
Sehubungan dengan pemberitaan gaib yang diberikan oleh ayat di akhir Surah Al-Fath melalui makna isyarinya; karena ayat berikut memberikan kabar yang sama dengan makna isyari yang sama, maka hal itu akan dibahas sedikit.
SEBUAH PELENGKAP
وَلَهَدَيْنَاهُمْ صِرَاطًا مُسْتَق۪يمًا وَمَنْ يُطِعِ اللّٰهَ وَ الرَّسُولَ فَاُولٰٓئِكَ مَعَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيّ۪ينَ وَ الصِّدّ۪يق۪ينَ وَ الشُّهَدَٓاءِ وَ الصَّالِح۪ينَ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَف۪يقًا
Dalam penjelasan ayat ini, dari ribuan nuktahnya kami akan mengisyaratkan “Dua Nuktah”.
NUKTAH PERTAMA:
Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya, sebagaimana mengungkapkan hakikat-hakikat melalui makna-makna dan makna sarihnya, demikian pula mengungkapkan banyak makna isyari melalui gaya bahasa dan susunannya. Setiap ayat memiliki banyak lapis makna. Karena Al-Qur'an datang dari ilmu yang meliputi segala sesuatu, maka seluruh maknanya dapat menjadi yang dimaksud. Ia tidak terbatas pada satu-dua makna sebagaimana ucapan-ucapan yang lahir dari pikiran parsial dan kehendak pribadi manusia. Nah, berdasarkan rahasia inilah para ahli tafsir telah menjelaskan tak terhingga hakikat dari ayat-ayat Al-Qur'an. Masih ada lebih banyak lagi hakikat yang belum dijelaskan para mufasir. Dan terutama pada huruf-hurufnya, serta pada isyarat-isyaratnya selain makna sarih, terdapat banyak ilmu penting.
NUKTAH KEDUA:
Nah, ayat mulia ini, dengan ungkapan مِنَ النَّبِيّ۪ينَ وَ الصِّدّ۪يق۪ينَ وَ الشُّهَدَٓاءِ وَ الصَّالِح۪ينَ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَف۪يقًا, selain mengungkapkan bahwa ahli jalan yang lurus dan tempat tertuju nikmat-nikmat Ilahi yang hakiki adalah golongan para nabi, kafilah para shiddiq, jamaah para syuhada, kelompok orang-orang saleh, dan beragam Tabiin di antara umat manusia — sekaligus, setelah secara khusus memperlihatkan yang paling sempurna dari kelima golongan itu di dalam alam keislaman, lalu dengan menyebut para imam dan pemuka kelima golongan itu beserta sifat-sifat masyhur mereka, ia menunjuk dan mengungkapkan mereka; dan dengan suatu kilau kemukjizatan berupa pemberitaan gaib, ia menentukan dari satu sisi keadaan para pemimpin golongan-golongan itu di masa depan. Ya, sebagaimana مِنَ النَّبِيّ۪ينَ secara sarih menatap Nabi صلى الله عليه وسلم, demikian pula dengan penggalan وَالصِّدّ۪يق۪ينَ menatap Abu Bakar ash-Shiddiq. Sekaligus ia mengisyaratkan bahwa ia yang kedua setelah Nabi صلى الله عليه وسلم, bahwa ia yang paling awal menggantikan tempat beliau, dan bahwa nama “Shiddiq” akan menjadi gelar khusus baginya di kalangan umat serta akan tampak sebagai yang terdepan di antara para shiddiq; dan dengan kata وَالشُّهَدَٓاءِ ia mengungkapkan ketiga tokoh — Hazrat Umar, Hazrat Utsman, dan Hazrat Ali, semoga Allah meridai mereka semua — secara bersamaan. Sekaligus ia mengisyaratkan dan mengungkapkan secara gaib bahwa ketiganya setelah ash-Shiddiq akan memperoleh kekhalifahan kenabian, bahwa ketiganya akan syahid, dan bahwa keutamaan syahid mereka pun akan ditambahkan pada keutamaan-keutamaan mereka yang lain. Dengan kata وَالصَّالِح۪ينَ ia mengisyaratkan kepada tokoh-tokoh istimewa seperti Ahli Suffah, Badar, dan Ridwan, lalu dengan kalimat وَ حَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَف۪يقًا melalui makna sarihnya mendorong untuk mengikuti mereka dan memperlihatkan keindahan ketundukan pada golongan Tabiin; dan melalui makna isyarinya — sebagai yang kelima dari Khulafa yang empat, serta untuk memperlihatkan nilai yang agung dari kekhalifahan Hazrat Hasan (r.a.) yang membenarkan hukum hadis mulia اِنَّ الْخِلاَفَةَ بَعْد۪ى ثَلاَثُونَ سَنَةً meskipun masa kekhalifahannya singkat — ia menunjuk kepada Hazrat Hasan (r.a.).
Kesimpulannya:
Sebagaimana ayat terakhir Surah Al-Fath menatap Khulafa yang empat, demikian pula ayat ini — sebagai penguat, dari jenis pemberitaan gaib — menatap keadaan mereka di masa depan dengan cara mengisyaratkannya sebagian. Nah, kilau-kilau kemukjizatan dari jenis pemberitaan gaib, yang merupakan salah satu macam kemukjizatan Al-Qur'an, begitu banyak terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur'an sehingga tak dapat dihitung. Pembatasan yang dilakukan ahli lahiriah pada empat puluh atau lima puluh ayat itu hanyalah dari pandangan lahiriah. Pada hakikatnya, ia melampaui seribu. Terkadang pada satu ayat terdapat pemberitaan gaib dengan empat-lima sisi.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَاسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ
SEBUAH PENJELASAN KEDUA BAGI PELENGKAP INI
{Karena saudara-saudaraku memandang keduanya bermanfaat, mereka mencatat kedua penjelasan sekaligus; jika tidak, satu saja sudah cukup.}
Ayat ini — yang menguatkan isyarat gaib di akhir Surah Al-Fath, sekaligus menjelaskan siapa yang dimaksud dengan ahli jalan yang lurus dalam Al-Fatihah yang mulia dan siapa yang dimaksud dalam ayat صِرَاطَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ, sekaligus memperlihatkan sebuah kafilah para sahabat perjalanan yang paling nurani, akrab, berlimpah, lagi memikat di sepanjang jalan keabadian yang teramat panjang, serta secara mukjizat mendorong ahli iman dan pemilik kesadaran untuk dengan kuat bergabung dan menyertai kafilah itu dalam ketundukan — yaitu ayat فَاُولٰٓئِكَ مَعَ الَّذ۪ينَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيّ۪ينَ وَ الصِّدّ۪يق۪ينَ وَ الشُّهَدَٓاءِ وَ الصَّالِح۪ينَ وَ حَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَف۪يقًا, sebagaimana ayat terakhir Surah Al-Fath, dengan makna-makna isyari dan ramzi selain makna yang dimaksud (yang dalam Ilmu Balagah diistilahkan “ma'âridul-kalâm” dan “mustatba'âtut-tarâkib”), mengisyaratkan kepada Khulafa yang empat dan kepada khalifah kelima, Hazrat Hasan (r.a.). Ia memberitakan beberapa perkara gaib dari beberapa sisi. Yakni demikian:
Sebagaimana ayat ini melalui makna sarihnya mengungkapkan bahwa ahli jalan yang lurus yang menjadi tempat tertuju nikmat-nikmat Ilahi yang tinggi di antara umat manusia — yaitu kafilah para nabi, golongan para shiddiq, jamaah para syuhada, beragam orang saleh, dan kelompok Tabiin — adalah “muhsinin”; demikian pula ia memberitakan secara gaib bahwa di dalam alam keislaman terdapat yang paling sempurna dan paling utama dari golongan-golongan itu, yaitu: golongan pewaris para nabi yang bersambung dari rahasia pewarisan kenabian Nabi Akhir Zaman, kafilah para shiddiq yang bersambung dari tambang keshiddiqan ash-Shiddiq al-Akbar, kafilah para syuhada yang terikat dengan derajat syahid ketiga khalifah, jamaah orang-orang saleh yang terikat dengan rahasia وَ الَّذ۪ينَ اٰمَنُوا وَ عَمِلُوا الصَّالِحَاتِ, dan kelompok Tabiin yang meneladani rahasia اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللّٰهَ فَاتَّبِعُون۪ى يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ serta berjalan dalam kesertaan para Sahabat dan Khulafa Rasyidin. Demikian pula, dengan kata وَالصِّدّ۪يق۪ينَ pada sisi makna isyari, ia memberitakan tentang Hazrat Abu Bakar ash-Shiddiq yang akan menggantikan kedudukan Rasul Ekrem صلى الله عليه وسلم dan menjadi khalifahnya, yang akan masyhur di kalangan umat dengan gelar “Shiddiq”, dan yang akan menjadi pemimpin kafilah para shiddiq. Dengan kata وَالشُّهَدَٓاءِ ia memberitakan syahidnya tiga dari Khulafa Rasyidin — dan setelah ash-Shiddiq, tiga syahid akan menjadi khalifah. Karena “syuhada” adalah bentuk jamak, dan jamak paling sedikit adalah tiga. Artinya, Hazrat Umar, Hazrat Utsman, dan Hazrat Ali (semoga Allah meridai mereka) akan memegang kepemimpinan Islam setelah ash-Shiddiq dan akan syahid. Pemberitaan gaib yang sama pun terjadi. Dan dengan penegasan وَالصَّالِح۪ينَ ia memberitakan bahwa ahli kesalihan, takwa, dan ibadah — seperti Ahli Suffah yang memperoleh pujian Taurat dalam ketaatan dan ibadah — akan banyak terdapat di masa depan; sekaligus, kalimat وَ حَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَف۪يقًا — dengan memuji ketundukan para Tabiin yang menyertai dan mengikuti para Sahabat dalam ilmu dan amal, serta memperlihatkan keindahan kesertaan keempat kafilah itu di jalan keabadian — sekaligus, meskipun masa kekhalifahan Hazrat Hasan (r.a.) yang hanya beberapa bulan itu singkat, namun dengan hukum اِنَّ الْخِلاَفَةَ بَعْد۪ى ثَلاَثُونَ سَنَةً dan pembenaran pemberitaan gaib kenabian itu, serta dengan membenarkan pemberitaan gaib kenabian yang mukjizat dalam hadis اِنَّ ابْن۪ى حَسَنٌ هٰذَا سَيِّدٌ سَيُصْلِحُ اللّٰهُ بِهِ بَيْنَ فِئَتَيْنِ عَظ۪يمَتَيْنِ — Hazrat Hasan (r.a.) yang menjamin perdamaian dua pasukan besar, dua jamaah agung kaum muslimin, dan menyingkirkan perselisihan dari antara mereka — untuk memperlihatkan pentingnya masa kekhalifahannya yang singkat dan menunjukkan seorang khalifah kelima bagi Khulafa yang empat, melalui makna isyari dari jenis pemberitaan gaib, dan dengan kata وَ حَسُنَ اُولٰٓئِكَ رَف۪يقًا, ia mengisyaratkan kepada nama khalifah kelima dengan suatu rahasia yang dalam Ilmu Balagah diistilahkan “mustatba'âtut-tarâkib”.
Nah, seperti pemberitaan-pemberitaan isyari yang disebutkan itu, masih ada banyak rahasia lagi. Karena tidak masuk ke dalam maksud kita, untuk saat ini pintunya tidak dibuka. Al-Qur'an Al-Hakim memiliki banyak ayat yang masing-masing merupakan pemberitaan gaib dari banyak sisi. Jenis pemberitaan gaib Al-Qur'an semacam ini ada ribuan.
رَبَّنَا لاَ تُؤَاخِذْنَٓا اِنْ نَس۪ينَٓا اَوْ اَخْطَاْنَاسُبْحَانَكَ لاَ عِلْمَ لَنَٓا اِلاَّ مَا عَلَّمْتَنَٓا اِنَّكَ اَنْتَ الْعَل۪يمُ الْحَك۪يمُ