LEM'A KEDUA PULUH SATU:
Lem'alar · hlm. 484
159 — Ia menafsirkan ayat-ayat وَلاَ تَنَازَعُوا فَتَفْشَلُوا وَتَذْهَبَ ر۪يحُكُمْ ❊ وَ قُومُوا لِلّٰهِ قَانِت۪ينَ ❊ قَدْ اَفْلَحَ مَنْ زَكّٰيهَا ❊ وَ قَدْ خَابَ مَنْ دَسّٰيهَا ❊ وَلاَ تَشْتَرُوا بِاٰيَات۪ى ثَمَنًا قَل۪يلاً. Suatu risalah yang teramat berharga yang memberitahukan bahwa keikhlasan adalah asas yang paling penting dalam setiap amal kebaikan, khususnya dalam khidmat-khidmat ukhrawi. Risalah ini, pertama-tama dengan berbicara kepada para khadim Al-Qur'an di masa yang dahsyat ini, berkata: "Di hadapan musuh-musuh yang dahsyat, di bawah tekanan yang keras, di tengah kesesatan-kesesatan yang dahsyat dan bid'ah-bid'ah yang menyerbu, padahal kalian teramat sedikit, teramat lemah, fakir, dan tak berkekuatan; suatu tugas keimanan dan khidmat Al-Qur'an yang teramat berat, teramat besar, umum, lagi suci — semata-mata sebagai suatu anugerah Ilahi — telah diletakkan di atas pundak kalian oleh Allah Ta'ala. Kalau begitu, kalian harus mengetahui bahwa kalian lebih daripada siapa pun berkewajiban dan terbebani untuk meraih keikhlasan dan menanamkan rahasia-rahasianya dalam diri kalian. Dan kalian harus lari dengan keras dari sebab-sebab yang menghilangkan keikhlasan." — dan ia menjelaskan empat prinsip untuk meraih keikhlasan.
Prinsip pertama:
Ia berkata: "Kalian harus menjadikan keridaan Ilahi secara langsung sebagai tujuan."
Prinsip kedua:
Ia berkata: kalian harus menjadi bagaikan roda-roda sebuah pabrik yang bekerja dengan suatu solidaritas hakiki — tanpa persaingan, tanpa penindasan, tanpa iri hati, tanpa kemalasan — dengan mengarahkan aktivitas mereka kepada tujuan umum. Dan ia memerintahkan agar kalian berpegang dengan tulus kepada keikhlasan, persatuan, dan solidaritas, karena kalian ditugaskan berkhidmat di sebuah bahtera Rabbani yang menghasilkan kebahagiaan abadi dan yang membawa umat Muhammadiyah صلى الله عليه وسلم ke pantai keselamatan di dunia dan akhirat.
Prinsip ketiga:
Ia menjelaskan suatu rahasia penting keikhlasan dengan beberapa contoh; serta menjelaskan sisi bahwa para pahlawan suci nan menakjubkan seperti Imam Ali radhiyallâhu 'anh dan Syah Geylani radhiyallâhu 'anh senantiasa hadir sebagai ustaz di hadapan para murid Nur dan sebagai penolong di belakang mereka.
Prinsip keempat:
Ia menegakkan rahasia "tefani" di antara saudara-saudara, yakni asas "saudara fana dalam saudaranya". Dan ia memberitahukan bahwa suatu sarana yang menguatkan keikhlasan adalah "ikatan (mengingat) kematian" (rabıta-i mevt), dan bahwa sebab-sebab yang menciderainya adalah perangai-perangai tercela seperti "riya dan angan-angan panjang". Sebab kedua untuk meraih keikhlasan adalah senantiasa memikirkan bahwa (diri) berada di hadirat Ilahi. Dengan demikian, ia menjelaskan cara terbebas dari riya, sekaligus bahwa dalam keikhlasan yang diraih terdapat banyak tingkatan.
Setelah itu, dengan menjelaskan bahwa yang pertama dari tiga penghalang di antara sebab-sebab yang merusak keikhlasan adalah "manfaat-manfaat materiil"; bahwa dalam kerja sama pada amal-amal ukhrawi terdapat manfaat yang teramat besar; dan bahwa keuntungan ukhrawi ini tidaklah seperti keuntungan para sekutu duniawi, melainkan — tanpa terbagi dan terpecah, tanpa kekurangan, dengan karunia Ilahi — satu misal dari total pahala yang terkumpul akan masuk secara sama persis ke dalam buku amal setiap individu yang berserikat; ia menganjurkan agar perniagaan ini tidak dilewatkan karena persaingan dan ketiadaan keikhlasan. Penghalang kedua: ia dengan sungguh-sungguh memerintahkan untuk lari dengan keras dari "perhatian orang banyak" (teveccüh-ü âmme) — yang merusak keikhlasan, merupakan penyakit rohani yang paling penting, dan membuka jalan bagi syirik tersembunyi (şirk-i hafî) — serta agar tidak memberikan perhatian kepada penyakit-penyakit semacam ini. Dan pada penghalang ketiga, dengan membahas bahwa keikhlasan akan rusak oleh kerugian-kerugian yang datang karena ketakutan dan ketamakan; karena penjelasan yang memadai mengenai hal ini telah diberikan dalam Hücûmât-ı Sitte, maka ia diserahkan kepada risalah berharga itu — suatu risalah mubarak yang manis, halus, teramat luhur, tiada tara, dan diperlukan setiap orang, yang ditutup demikian.
Hüsrev
SUATU SURAT KHUSUS UNTUK SEBAGIAN SAUDARAKU:
167
Suatu surat berharga yang memberitahukan pentingnya mengikuti Sunnah yang Mulia di masa serbuan bid'ah, dan bahwa menulis Risalah Nur adalah "lima jenis ibadah".