LEM'A KEDUA PULUH:
Lem'alar · hlm. 483
148 — Dengan ayat yang mulia اِنَّٓا اَنْزَلْنَٓا اِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ dan seterusnya.., serta sesuai hadis syarif هَلَكَ النَّاسُ اِلاَّ الْعَالِمُونَ وَهَلَكَ الْعَالِمُونَ اِلاَّ الْعَامِلُونَ وَهَلَكَ الْعَامِلُونَ اِلاَّ الْمُخْلِصُونَ وَالْمُخْلِصُونَ عَلٰى خَطَرٍ عَظ۪يمٍ, ia menafsirkan dan menjelaskan rahasia bahwa keikhlasan adalah asas yang paling penting dalam Islam, melalui "Lima Butir" dari sekian tak terhingga poinnya.
BUTIR PERTAMA:
Terhadap pertanyaan yang teramat penting, teramat dahsyat, dan yang sungguh membuat ahli kebenaran dan ahli semangat menangis darah ini — "Padahal ahli dunia, ahli kelalaian, ahli kesesatan, dan ahli kemunafikan bersatu tanpa persaingan, mengapa ahli kebenaran dan ahli hidayah berselisih dengan penuh persaingan?" — telah diberikan jawaban dengan tujuh sebab dari sekian banyak sebab. Yakni sebagai berikut:
Ia menjelaskan dan menguraikan dengan uslub yang begitu luhur dan ungkapan yang penuh hakikat bahwa: perselisihan ahli kebenaran dan ahli hidayah bukanlah karena mereka tak berhakikat lagi hina, bukan karena mereka tak bersemangat, rendah, dan berpandangan pendek dengan tidak memikirkan akibat, dan bukan karena mereka pencemburu lagi rakus terhadap dunia.. sebagaimana pula persatuan yang kuat dari ahli kelalaian dan ahli kesesatan bukanlah karena mereka berhakikat dan memikirkan akibat serta berpandangan tinggi; sehingga (muncul pertanyaan): "Fasubhânallah, karena sebab-sebabnya tidak diketahui, bagaimana bisa Islam yang luhur ini — yang setiap saat memiliki tiga ratus lima puluh juta rakyat yang rela berkorban — menjadi tawanan di tangan tiga-empat pemerintah Barat (firenk) yang keseluruhannya tidak melebihi seratus lima puluh juta dan yang sangat takut akan kematian? Bahkan mereka dihukum dengan suatu perbudakan sedemikian rupa sehingga — Allah! Allah! — pada setiap kesempatan dilakukan kekejian-kekejian yang begitu dahsyat; siksaan-siksaan yang membuat kezaliman Inkuisisi tampak sebagai rahmat telah diterapkan kepada ahli Islam yang malang; sebagai ganti air mata, darah terus-menerus dialirkan dari urat-urat nadi mereka; sebagai balasan atas hukuman satu pukulan tongkat, leher-leher ahli semangat dipenggal oleh tangan para penindas yang bengis, lalu dicampakkan; sebagian dari para pencinta semangat Muslim yang malang itu digantung di tiang gantungan, hidup mereka diakhiri, dan dipertontonkan tanpa belas kasih di ufuk-ufuk dunia.. kehidupan duniawi mereka dicabik-cabik, kehidupan ukhrawi mereka diciderai; sedangkan sebagian, kedua kehidupan dan kebahagiaan mereka dimusnahkan sekaligus... Mengapa?" — jawaban atas pertanyaan yang akan muncul ini dapat dipahami dari hasil penjelasan yang diberikan Butir Pertama dari risalah ini, yang bernilai setara dengan perbendaharaan berlian.
Nah, ketika kaum Muslim yang malang ini berjalan di jalan hak dan hakikat, keikhlasan mereka terciderai karena mereka terjatuh dalam kekeliruan dan kesalahan, persaingan masuk di antara mereka, dan sebagai ganti persatuan serta kesatuan di antara mereka, masuklah perpecahan dan perselisihan.. akibatnya, keadaan-keadaan ini tidak diobati, dan penyakit-penyakit ini meluas; ahli kesesatan yang melihat keadaan-keadaan ini menganggap perselisihan dan perpecahan ahli Islam ini sebagai ganimah (rampasan), lalu menyerang alam Islam dengan tipu daya, menawan ahli Islam yang malang di bawah suatu perbudakan yang teramat dahsyat, dan berupaya untuk memusnahkannya. Nah, sebab-sebab dari keadaan-keadaan yang membuat tiga ratus lima puluh juta ahli Islam merintih-rintih di bawah rantai-rantai — setiap hari, setiap jam, setiap saat, sejak berabad-abad — telah dijelaskan secara sangat penuh hakikat dengan Butir Pertama dari risalah ini. Akan tetapi, sayang sekali! Zaman dan tempat tidaklah mendukung, sehingga dari lima butir hanya satu butir yang ditulis; yang lain ditunda dan tidak ditulis.
Hüsrev