Risale-i NurLem'alar

LEM'A KEDUA PULUH ENAM:

Lem'alar · hlm. 505

222 — كٓهٰيٰعٓصٓ ❊ ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَبْدَهُ زَكَرِيَّا ❊ اِذْ نَادٰى رَبَّهُ نِدَٓاءً خَفِيًّا ❊ قَالَ رَبِّ اِنّ۪ى وَهَنَ الْعَظْمُ مِنّ۪ى وَاشْتَعَلَ الرَّاْسُ شَيْبًا وَلَمْ اَكُنْ بِدُعَٓائِكَ رَبِّ شَقِيًّا Lem'a Kedua Puluh Enam adalah "Dua Puluh Enam Pengharapan".

PENGHARAPAN PERTAMA:

Suatu pengharapan yang berharga lagi ringkas yang menjelaskan bahwa asal, cahaya, sinar, sumber, tambang, dan mata air segala sesuatu adalah iman; dan bahwa sebelum segala sesuatu, haruslah berusaha meraih cahaya yang suci, tersucikan, lagi tertinggi itu.

PENGHARAPAN KEDUA:

Suatu hakikat yang memancarkan cahaya, yang menggembirakan bahwa orang-orang lanjut usia — yang pada hakikatnya berkedudukan sebagai kanak-kanak — dengan iman, pertautan, dan ketaatan kepada Pencipta Yang Maha Penyayang di usia tua, akan menjadi penerima nama "Ar-Rahmân Ar-Rahîm" sebagaimana kanak-kanak.

PENGHARAPAN KETIGA:

Ia menjelaskan bahwa dalam penggiringan menuju alam barzakh dan pergolakan ukhrawi yang mau tak mau ditimpakan kepada jenis manusia, keselamatan dan kelepasan akan diperoleh dengan mengikuti Sunnah yang Mulia dari Nabi kita Yang Mulia, Habibullah 'alaihis-salâtu was-salâm — pemimpin dua dunia, penghulu para nabi, dan lambang rahmat serta belas kasih Ilahi.

PENGHARAPAN KEEMPAT:

Ia memperlihatkan suatu pintu pengharapan yang teramat kuat dengan mewartakan kabar gembira bahwa orang-orang tua — laki-laki dan perempuan — yang mulai terputus keterkaitannya dari dunia, yang memikirkan pintu kubur yang mereka dekati, akan berbahagia di alam abadi jika mereka mendengarkan dengan cahaya iman Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya — yang menerangi dan menyinari alam-alam yang secara lahiriah tampak gelap itu dengan cahayanya, yang membuat manusia meraih sepuluh pahala dan kebaikan untuk satu huruf, terkadang seratus, dan terkadang seribu pahala dan kebaikan, dan yang merupakan kunci perbendaharaan rahmat — lalu menaati perintah-perintahnya dan menjauhi larangan-larangannya.

PENGHARAPAN KELIMA:

Karena penghiburan iman kepada akhirat — yang memperlihatkan pengaruhnya secara parsial-universal pada setiap individu dan setiap pribadi — memberikan suatu pengharapan dan penghiburan yang lebih besar lagi kuat kepada orang-orang tua; maka ia menganjurkan agar (kita) mengetahui usia tua sebagai suatu bahtera Rabbani yang aman, mencintainya, rida (dengannya), serta bersyukur dan memuji Allah Ta'ala.

PENGHARAPAN KEENAM:

Sebagaimana — dengan cahaya iman — tingkatan-tingkatan alam semesta serta segala yang maujud dan makhluk bumi bersaksi kepada Pencipta Yang Maha Penyayang bagaikan teman-teman yang ramah, lalu menghilangkan keterasingan, keliaran, dan kegelapan; demikian pula, karena — pada saat perpisahan dari hal-hal yang menyertai kehidupan di usia tua — akan terlihat, melalui teropong ketakberdayaan dan kelemahan (yang merupakan pemberi syafaat yang paling diterima) dan melalui mata ketuaan, para saksi sebanyak huruf kitab alam serta dalil-dalil rahmat sebanyak perangkat, makanan, dan nikmat makhluk-makhluk berruh yang menjadi sarana kasih sayang, rahmat, dan inayah; maka ia memperlihatkan jalan pengharapan dengan mencintai usia tua, bukan kesal darinya.

PENGHARAPAN KETUJUH:

Suatu pengharapan yang penuh perjuangan, yang — dengan meruntuhkan dari enam sisi bangunan waham yang secara bodoh memberikan hiasan kekal kepada dunia yang fana, yang terlihat di ibu kota pemerintahan — mencerai-beraikan kegelapan dahsyat yang datang dari kesesatan dengan cahaya Al-Qur'an dan rahasia iman, lalu mengeluarkan orang-orang tua malang yang tertimpa musibah dari lembah-lembah waham dan keraguan, dan mengantarkan mereka ke pantai keselamatan dan rahmat Ar-Rahman.

PENGHARAPAN KEDELAPAN:

Sebagaimana Allah Ta'ala — dengan kesempurnaan kemuliaan-Nya serta kelembutan dan kasih sayang-Nya yang tak berpenghujung — untuk menyelamatkan jenis manusia yang Dia ciptakan bagi suatu kehidupan yang abadi dari kelupaan mutlak, telah memberitakan kematian setiap jiwa dengan firman suci كُلُّ نَفْسٍ ذَٓائِقَةُ الْمَوْتِ dalam Al-Qur'an Yang Maha Agung; demikian pula, dengan memutihnya rambut — yang merupakan suatu tanda dan pewarta kabar gembira kematian itu serta teman dan guru tetap manusia — ia membangunkan manusia (yang telah bersiap untuk menundukkan kepala, yang senantiasa cenderung kepada kelalaian dan terjangkiti kefanaan) dari tidur kelalaian dengan rahasia iman dan cahaya Al-Qur'an, lalu memberikan suatu prinsip pengharapan yang kuat ke tangannya.

PENGHARAPAN KESEMBILAN:

Sebagaimana usia tua — yang secara nyata mencicipi ketakberdayaan dan kelemahan, dan yang dari sisi perasaan berkedudukan sebagai anak-anak dan balita — menjadi sarana bagi tertariknya rahmat dan inayah Ilahi; demikian pula, dengan rida terhadap usia tua — yang, dengan perintah Al-Qur'an dan isyarat Nabi صلى الله عليه وسلم, mengumpulkan anak-anak kecil di sekelilingnya dengan penghormatan, belas kasih, dan kasih sayang bagaikan prajurit-prajurit yang siap perintah, dan dengan demikian menjadi penerima perhatian Pencipta Yang Maha Mulia sekaligus menjadi sarana bagi khidmat dan pertolongan manusia — ia membuka pintu pengharapan.

PENGHARAPAN KESEPULUH:

Suatu pengharapan yang kuat yang menggembirakan, mewartakan kabar gembira, dan memberi sukacita bahwa usia tua yang beriman adalah suatu nikmat Ilahi yang besar — dan terkadang (memberi) kedudukan yang tinggi seperti derajat para wali melalui perjalanan spiritual (seyr u suluk); sebab, dengan cahaya Al-Qur'an Yang Maha Bijaksana, sebagaimana kematian yang merupakan hakikat dan kenyataan lebih dipilih dan dicintai daripada kehidupan; demikian pula, melalui mata ketuaan yang beriman disaksikan secara yakin bahwa orang-orang mati yang berada di Alam Barzakh — yang pastilah tamu-tamu sementara di dunia — lebih layak untuk dijadikan kawan dan akrab daripada orang-orang (hidup) yang juga akan pergi ke sana.

PENGHARAPAN KESEBELAS:

Dengan peringatan rambut putih yang merupakan penyeru usia tua yang tak pernah diam — (memperlihatkan) bahwa tubuh yang disangka abadi ternyata dicalonkan bagi suatu alam lain dan bersifat fana, dan dengan pukulan orang-orang tak setia yang disangka setia, terlihat bahwa semua yang terkait (dengan dunia) tidak layak bagi keterikatan hati — sebagai hasil pencarian suatu tempat berlindung dan suatu sandaran, firman suci "Lâ ilâhe illâ Hû" yang keluar dari lisan Al-Qur'an Yang Maha Bijaksana datang menolong; dan dengan satu-dua perumpamaan yang sesuai hakikat — yang memperlihatkan ketiadaan (nilai) sebab-sebab di alam semesta dan rawa tabiat yang menyesatkan jalan abad ini serta bahwa (semua) itu adalah suatu waham kufur yang tak berdasar — ia membuktikan keharusan wujud suatu Yang Maha Kuasa Yang Azali, yang dari atom hingga matahari, dari falak hingga malaikat, dari lalat hingga ikan besar, dari khayal hingga kehidupan, (semuanya) berada dalam genggaman pengaturan-Nya dan peliputan ilmu-Nya; lalu menganugerahkan suatu pintu pengharapan yang kuat yang menjadi sarana bagi cahaya iman.

PENGHARAPAN KEDUA BELAS:

Atas wafatnya Abdurrahman — rahimahullâh — dengan rahasia ayat suci كُلُّ شَيْءٍ هَالِكٌ اِلاَّ وَجْهَهُ لَهُ الْحُكْمُ وَاِلَيْهِ تُرْجَعُونَ, dengan hakikat "Yâ Bâqî Antal-Bâqî" "Yâ Bâqî Antal-Bâqî", dan dengan penghiburan ayat فَاِنْ تَوَلَّوْا فَقُلْ حَسْبِىَ اللّٰهُ لآَ اِلٰهَ اِلاَّ هُوَ عَلَيْهِ تَوَكَّلْتُ وَهُوَ رَبُّ الْعَرْشِ الْعَظ۪يمِ: seandainya perhatian Al-Bâqî Yang Maha Agung, Yang Kekal-Abadi Yang Maha Sempurna, dan Ar-Rahîm Yang Maha Indah — yang satu kilasan inayah-Nya menggantikan seluruh dunia dan satu kilasan cahaya-Nya menghilangkan seluruh kegelapan — itu kekal, maka itu sudah memadai. Suatu pengharapan yang bagaikan listrik, yang — dengan memperlihatkan melalui suatu hakikat nyata bahwa mereka yang pergi telah pergi ke kerajaan-Nya yang kekal, dan bahwa Dia telah dan akan mengirim gantinya ke tempat mereka — mengarahkan wajah orang-orang tua yang kebanyakan tertimpa perpisahan dan kerinduan kepada Al-Bâqî Yang Maha Agung, mengubah kegelapan menjadi cahaya, dan menganugerahkan cahaya iman kepada hati-hati.

PENGHARAPAN KETIGA BELAS:

Dalam Perang Umum (Dunia I), ketika kota Van menjadi reruntuhan karena diserbu dan dibakar Rusia, kebanyakan penduduknya lenyap karena kesyahidan dan pengungsian, dan Madrasah Horhor hancur binasa; ketika Benteng Van — yang berdiri di puncak Horhor dan merupakan sebuah batu utuh — tampak sebagai batu nisan bagi segenap madrasah yang telah ditutup dan binasa di negeri ini; ketika (Ustaz kami) berada di puncak Benteng Van dalam keputusasaan dan duka yang hebat, tersingkaplah hakikat ayat Al-Qur'an yang mukjizat penjelasannya سَبَّحَ لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ وَهُوَ الْعَز۪يزُ الْحَك۪يمُ ❊ لَهُ مُلْكُ السَّمٰوَاتِ وَ اْلاَرْضِ يُحْي۪ى وَ يُم۪يتُ وَ هُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَد۪يرٌ; lalu — dengan menyelamatkannya dari keadaan-keadaan yang mengharukan, membakar hati, lagi dahsyat itu, mengarahkan pandangan kepada cakrawala dan ayat-ayat alam semesta, dan — sebagai ganti terhapusnya sebuah surat buatan yang ditulis oleh tangan manusia yang (hanyalah) tamu — menghadiahkan dan membacakan kitab alam semesta yang besar, yang tak terhapus dan tak pudar, yang pada setiap hurufnya tertulis sebuah kitab dari Sang Pengukir Azali — menghilangkan (dukanya); dan kemudian, dengan menjadikan Isparta sebagai madrasah sebagai ganti Madrasah Horhor, serta memberikan lebih banyak murid dan sahabat sebagai ganti murid dan sahabat yang berpisah — (ia adalah) suatu pengharapan berharga yang menganjurkan agar orang-orang tua beriman yang mendekat ke hadirat suatu Rabb Yang Maha Penyayang yang memperlihatkan rahasia hikmah, rahmat, dan kasih sayang-Nya, dan yang menjadi hamba-hamba yang diterima di hadirat itu, tidak berduka dan berputus asa karena keadaan-keadaan dunia yang menakutkan; dan yang menganjurkan (agar kita mengungkapkan) kelezatan lidah kita dengan pujian dan syukur yang tak berpenghujung, serta semangat ruh kita dengan penghambaan dan ketaatan, kepada suatu Muhsin Yang Maha Mulia yang menganugerahkan iman yang suci itu dan Islam yang teguh.

Hâfız Mustafa

rahimahullâhu rahmatan wâsi'atan

PENGHARAPAN KEEMPAT BELAS:

Ketika ahli dunia mengasingkan Ustaz kami dari segala sesuatu, dan pada suatu waktu ia berada dalam lima jenis keterasingan; ketika ia melihat bahwa suatu cinta akan kekekalan yang teramat kuat, suatu cinta akan wujud yang hebat, suatu kerinduan akan kehidupan yang besar, suatu ketakberdayaan yang tak terhingga, dan suatu kefakiran yang tak berpenghujung menguasai dirinya, lalu ia menundukkan kepala dalam keputusasaan; Ayat Hasbiyah حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ datang menolongnya seraya berkata "Bacalah aku dengan saksama".. maka ia membacanya lima ratus kali sehari, dan setiap kali membacanya, dari cahaya-cahaya yang teramat berharga ayat ini, sembilan tingkatan Hasbiyah tersingkap bukan hanya dengan 'ilmul-yaqîn, melainkan dengan 'ainul-yaqîn...

Tingkatan Cahaya Hasbiyah Pertama:

Ia mengungkapkan bahwa: pada saat cinta akan kekekalan dalam dirinya melekat pada suatu bayangan dalam hakikat suatu kilasan dari suatu nama Zat Yang Maha Agung lagi Maha Indah, Pemilik kesempurnaan mutlak, ayat حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ datang lalu mengangkat tabir.. dan ia merasakan bahwa kelezatan dan kebahagiaan akan kekekalan dalam dirinya terdapat — dalam bentuk yang lebih sempurna — dalam kekekalan Al-Bâqî Yang Maha Sempurna serta dalam pembenaran dan iman kepada-Nya; dan ia memperoleh kenikmatan haqqul-yaqîn.

Tingkatan Cahaya Hasbiyah Kedua:

Ketika Ustaz kami berada dalam usia tua, keterasingan, kesebatangkaraan, dan pengasingan, dan ketika ahli dunia menyerangnya dengan tipu daya dan mata-mata mereka, ia berseru kepada hatinya: "Pasukan-pasukan menyerang seorang lelaki tunggal yang tangannya terikat, lemah, lagi sakit. Tidak adakah suatu titik sandaran bagiku?" — lalu ketika ia merujuk kepada ayat حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ, ayat ini memberinya suatu pelajaran maknawi: "Dengan sertifikat pertautan keimanan, engkau bertaut kepada suatu Sultan Yang Maha Kuasa sedemikian rupa sehingga engkau dapat bersandar kepada Pemilik suatu kekuasaan dan kekuatan tak terhingga, yang pasukan tumbuhan dan hewan yang tersusun dari empat ratus ribu bangsa berada di bawah perintah-Nya dan dalam genggaman pengaturan-Nya." — dan ia mengungkapkan bahwa dengan pelajaran itu, ia merasakan suatu kekuatan keimanan yang mampu menantang bukan hanya musuh-musuh sekarang, melainkan seluruh dunia; dan bahwa dengan segenap ruhnya ia mengucapkan حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ.

Tingkatan Cahaya Hasbiyah Ketiga:

Ketika ia memikirkan bahwa ia dicalonkan bagi suatu kebahagiaan tetap di suatu dunia abadi dan negeri kekal, tetapi bahwa terwujudnya tujuan khayal, sasaran ruh, dan hasil fitrah ini hanya dapat terjadi dengan kekuasaan tak terhingga suatu Yang Maha Kuasa Yang Mutlak yang mengetahui dan mencatat segenap gerak dan segala sesuatu makhluk; ia menginginkan suatu penjelasan yang memberikan ketenteraman kepada hatinya, dan ketika ia kembali merujuk kepada ayat itu, ayat itu memerintahkannya: pada حَسْبُنَا, perhatikanlah نَا; dan (lihatlah) siapa yang bersamamu mengucapkan حَسْبُنَا dengan lisan keadaan dan lisan ucapan; maka ia mengungkapkan bahwa ia melihat segenap tumbuhan dan hewan menyebut makna حَسْبُنَا اللّٰهُ وَنِعْمَ الْوَك۪يلُ dengan lisan keadaan, dan bagaimana ia menyaksikan kebesaran serta keagungan kekuasaan (Allah) pada segenap yang maujud.

Tingkatan Cahaya Hasbiyah Keempat:

Ia mengungkapkan bahwa: ketika ia berada dalam suatu kekhawatiran yang menyakitkan bahwa wujudnya sendiri — bahkan wujud segenap makhluk — sedang menuju ketiadaan, ia kembali merujuk kepada Ayat Hasbiyah ini, dan ketika ia memandang dengan teropong iman; ia menjelaskan bahwa kematian bukanlah perpisahan melainkan pertemuan, suatu perpindahan tempat, dan bermalainya suatu buah yang kekal.

Tingkatan Cahaya Hasbiyah Kelima:

Terhadap kepedihan cepatnya padam kehidupan, dengan pertolongan yang ia peroleh dari Ayat Hasbiyah, ia berkata: ia menjelaskan bahwa kehidupan memperoleh kekekalan selama ia memandang kepada Zat Al-Hayy Al-Qayyûm dan selama iman menjadi kehidupan dan ruh bagi kehidupan; dan karena (kehidupan) memberikan buah-buah yang kekal, maka tidak (perlu) dipandang pendek atau panjangnya usia.

Mereka yang tidak mati atau yang ingin hidup, mereka yang menghasratkan pemahaman akan hakikat dan makna kehidupan, hendaklah memandang empat persoalan dari tingkatan ini dalam Sinar Keempat, dan hendaklah mereka hidup.

Tingkatan Cahaya Hasbiyah Keenam:

Ketika ia melihat bahwa kesirnaan dan kefanaan yang senantiasa menghancurkan, serta kematian dan ketiadaan yang terus-menerus memisahkan, secara dahsyat menyiksa dunia yang indah ini dan makhluk-makhluk yang indah ini, mencabik-cabiknya, dan merusak keindahan-keindahannya; pada saat cinta majazi dalam fitrahnya bergolak dan memberontak dengan hebat terhadap keadaan ini, untuk menemukan suatu sarana penghiburan, ia merujuk kepada Ayat Hasbiyah ini; dan atas (ayat) yang berkata "Bacalah aku dan pandanglah maknaku dengan saksama!", ia menjelaskan bahwa ia masuk ke observatorium ayat اَللّٰهُ نُورُ السَّمٰوَاتِ وَاْلاَرْضِ dalam Surah An-Nur, dan dengan teropong iman memandang lapisan-lapisan yang terjauh dari Ayat Hasbiyah ini; dan ia menyebutkan rahasia-rahasia yang ia lihat dengan teropong itu. Ia menjelaskan bahwa karya-karya buatan yang indah ini, makhluk-makhluk yang manis ini, dan segala yang maujud yang elok ini menjadi cermin bagi keindahan suci Al-Jamîl Yang Maha Agung dan bagi keindahan-keindahan abadi Asmaul Husna-Nya yang tak terhingga indahnya; dan bahwa hal ini dijelaskan dengan dalil-dalil yang teramat kuat dalam bagian-bagian Risalah Nur.

PENGHARAPAN KELIMA BELAS:

Pengharapan ini (menjelaskan bahwa) setelah penjara Denizli, atas tersebarnya Nur melalui pencetakan dengan penggandaan, orang-orang munafik musuh tersembunyi yang tak tahan (melihat) kemenangan Nur; dengan berbagai tipu daya dan fitnah, dengan memutarbalikkan pemerintah agar menentang, menyita Risalah-Risalah Nur; dan sebagai hasil penyelidikannya, alih-alih mengkritik dan memperlihatkan permusuhan, ia justru menaklukkan hati para pegawai yang menyelidiki, sehingga membuat mereka menghargai alih-alih mengkritik.. dan bahwa peristiwa ini menjadi sebab bagi meluasnya ruang-ruang belajar Nur.. dan bahwa beberapa waktu kemudian, musuh-musuh agama yang tersembunyi, dengan dalih-dalih yang teramat hina, menahan Ustaz kami pada hari-hari yang paling menyengat di musim dingin yang membeku; lalu memenjarakannya di sebuah bangsal yang besar, teramat dingin, tanpa tungku; dan bahwa di penjara ini, dengan inayah Ilahi, suatu hakikat tersingkap, sehingga ia bersyukur ribuan kali atas tersebar dan menangnya Nur di dalam dan di luar penjara; dan atas diperingatkannya ruhnya: "Karena kezaliman mereka, engkau meraih pahala, sekaligus (kemampuan) mengekalkan jam-jammu yang fana, kelezatan-kelezatan maknawi, serta pelaksanaan tugas ilmiah dan keagamaan dengan keikhlasan." — ia berdoa dengan segenap kekuatannya seraya berkata "Alhamdulillah". Di akhir pengharapan ini, ia (menjelaskan) bahwa para murid Risalah Nur, dengan kekuatan iman tahkiki, menghentikan anarkisme di setiap penjuru tanah air ini, dan menjaga keamanan serta ketertiban umum.. dan bahwa selama dua puluh tahun, tiada satu pun dari para murid Nur di setiap penjuru negeri yang memiliki peristiwa (pelanggaran) mengenai perusakan keamanan.. dan bahkan pengakuan sebagian petugas polisi yang berkeinsafan: "Para murid Nur adalah suatu polisi maknawi, mereka membantu kami dalam menjaga ketertiban, mereka menaruh seorang penjaga (larangan) di kepala setiap orang yang membaca Nur dengan iman tahkiki, mereka berupaya menjamin keamanan.".. dan ia menjelaskan bahwa — terhadap mereka yang ingin membendung cahaya Al-Qur'an dan iman dengan berbagai tuduhan dan fitnah — Ustaz kami berkata: "Bagi suatu hakikat suci yang untuknya seratus juta kepala telah dikorbankan, biarlah kepala kami pun dikorbankan. Sekalipun kalian menjadikan dunia sebagai api di atas kepala kami, kepala-kepala yang dikorbankan bagi hakikat Al-Qur'an tidak akan menyerahkan senjata kepada zindik dan tidak akan meninggalkan tugas suci, insya Allah!"

PENGHARAPAN KEENAM BELAS:

Suatu pengharapan penting yang (menjelaskan bahwa): padahal kumpulan-kumpulan yang rahasia lagi penting — khususnya risalah-risalah mengenai Sufyan dan mengenai karamah-karamah Nur — disimpan agar diterbitkan ketika waktunya tiba.. dalam suatu penggeledahan, risalah-risalah itu dikeluarkan dari tempat penyimpanannya, dan Ustaz kami dalam keadaan sakit ditahan lalu dibawa ke penjara.. dan ketika Ustaz kami merasa pedih dan bersedih atas kerugian yang menimpa Nur, tiba-tiba inayah Ilahi datang menolong, sehingga instansi-instansi resmi yang membaca risalah-risalah rahasia itu berubah menjadi bagaikan suatu ruang belajar Nur dan menyambut risalah-risalah itu dengan penghargaan; dan lagi, ketika (ia) berada dalam kepedihan dan kesedihan di penjara Denizli karena usia tua, penyakit, dan kesulitan yang menimpa para sahabat yang tak berdosa, tiba-tiba inayah Rabbani datang, mengubah penjara menjadi suatu ruang belajar Nur, dan — dengan membuktikan bahwa (penjara itu) adalah suatu Madrasah Yusufiyah 'alaihis-salâm — Nur mulai tersebar dengan pena-pena berlian para pahlawan Madrasatuz-Zahra.. dan (menjelaskan) bagaimana musuh-musuh tersembunyi meracuni Ustaz kami.. dan atas — sebagai gantinya — almarhum Hâfız Ali yang berkelana ke alam Barzakh sebagai seorang syahid; ketika mereka semua berada dalam keadaan pedih dan sedih, tiba-tiba lagi inayah Ilahi datang menolong, (sehingga) bahaya racun berlalu dari Ustaz kami, dan almarhum syahid itu — dengan sibuk dengan Nur di kubur — menjawab para malaikat penanya (di kubur) dengan Nur.. dan masuknya Pahlawan Denizli, Hasan Feyzi — rahimahullâh — beserta sahabat-sahabatnya ke dalam khidmat sebagai gantinya.. dan (menjelaskan) bahwa — setelah mengungkapkan bahwa inayah Rabbani datang dengan banyak tanda seperti diperbaikinya para tahanan dengan Nur — sebagai balasan atas hasratnya di masa muda untuk menghabiskan akhir usianya di gua; gua-gua ini diubah menjadi penjara-penjara, tempat-tempat pengasingan, tempat-tempat tirakat, dan sel-sel pengasingan mutlak, lalu (Allah) membuatnya berkhidmat secara penuh perjuangan kepada hakikat-hakikat Al-Qur'an dan iman sebagai madrasah-madrasah Yusufiyah.. dan ia menjelaskan bahwa di penjara-penjara yang penuh tirakat itu terdapat tiga hikmah dan tiga faedah penting bagi khidmat Nur.