ISYARAT KETIGA:
Lem'alar · hlm. 487
Ia adalah jawaban atas dua pertanyaan.
Yang pertama: Ahli Filsafat, atas nama zindik, berkata: "Seorang yang berada di negeri kami wajib tunduk kepada undang-undang Republik. Padahal engkau, meski tanpa jabatan, ingin meraih perhatian orang banyak." — terhadap perkataan mereka, ia memberikan suatu jawaban yang membungkam, yang menyingkap kepura-puraan mereka dan memperlihatkan siapa mereka sebenarnya.
Pertanyaan Kedua: terhadap perkataan mereka: "Meraih perhatian manusia dan kedudukan umum adalah khusus bagi para pejabat kami; karena engkau seorang yang tanpa jabatan, kami tidak merelakan perhatian manusia dan kedudukan umum bagi kalian?" — (jawabannya): Seandainya manusia hanyalah terdiri dari sebuah tubuh, tinggal di dunia secara kekal tak mati, pintu kubur tertutup, dan kematian dimatikan; maka pada saat itu tugas-tugas hanyalah khusus bagi militer materiil dan para pegawai pemerintahan. Padahal, mengingkari suatu tugas maknawi yang teramat penting lagi menyangkut segenap manusia semacam ini, hanya dapat terjadi dengan mendustakan dan mengingkari kesaksian tiga puluh ribu saksi yang setiap hari menandatangani dan membenarkan dakwaan "Al-mautu haqq" (kematian itu benar) dengan cap jenazah mereka. Karena mengingkari dan mendustakan itu mustahil; maka ia menjelaskan dan membuktikan — dengan satu-dua perumpamaan yang indah lagi penting — bahwa ada banyak tugas maknawi yang bersandar pada kebutuhan-kebutuhan maknawi yang mendesak.
Dalam penutup risalah ini, dengan menganjurkan kepada ahli iman agar tidak tertipu oleh kepekaan dan tipu daya mereka — seraya berkata: "Pada setiap urusan ahli dunia yang penuh keakuan terdapat kepekaan sedemikian rupa sehingga, seandainya mereka memiliki kesadaran, itu akan menjadi suatu tindakan setaraf kejeniusan." — ia memberitahukan bahwa keadaan mereka ini adalah suatu istidraj.
Küçük Ali