ISYARAT KEDUA:
Lem'alar · hlm. 486
Terhadap pertanyaan-pertanyaan yang secara mengkritik dan bertanya-tanya dilontarkan oleh peradaban tanpa-mim (mimsiz medeniyet), seperti: "Mengapa engkau kesal kepada kami dan tidak menghadap kepada kami? Padahal kami memiliki prinsip. Sebagai tuntutan abad ini, kami memiliki prinsip-prinsip khusus. Penerapannya tidak engkau terima bagi dirimu dan bagi ahli iman. Padahal di era Republik-Republik ini ada prinsip untuk menghapus penindasan dan penguasaan sewenang-wenang. Padahal perjalanan hidupmu memperlihatkan bahwa engkau — di bawah tabir kekiaian dan penyendirian — menarik perhatian dan bekerja melawan rezim pemerintah. Keadaanmu ini khusus bagi kaum borjuis. Bagi kami, menerapkan prinsip-prinsip sosialisme dan bolshevisme dengan kebangkitan lapisan awam, itu berguna bagi kepentingan kami. Menerima keadilan murni di bawah penindasan dan penguasaan sewenang-wenang lapisan istimewa yang bertentangan dengan prinsip-prinsip kami dan yang disebut borjuis, terasa berat." — terhadap pertanyaan-pertanyaan semacam itu:
Dengan prinsip:
"Tak mungkin membinasakan kebenaran dengan kezaliman dan penindasan;
Cobalah cabut kalbu dari kemanusiaan, jika engkau berkuasa."
ia memberikan jawaban yang teramat indah dengan memperlihatkan: bahwa Allah Ta'ala, dengan karunia dan kemuliaan-Nya, telah menganugerahkan keutamaan memahami ilmu-ilmu keimanan dan Al-Qur'an; bahwa mereka yang berupaya menghapus anugerah ini adalah setan-setan dalam rupa manusia; bahwa — dengan beberapa contoh penting — perlakuan di luar hukum ini adalah perbuatan kaum ilhad dan sebagian orang munafik, dan bahwa Pemerintah Republik tidak mengizinkan perlakuan yang tidak memperoleh persetujuan pemerintah mana pun dan individu mana pun ini; serta bahwa bukan hanya penulis Risalah Nur, seandainya jenis manusia memahaminya, niscaya ia akan kesal dan unsur-unsur (alam) pun murka.