Risale-i NurLampiran Kastamonu

Tanda Pertama:

Lampiran Kastamonu · hlm. 18

Para ahli kasyaf dan tahkik telah memutuskan, dan berkata, bahwa iman tahkiki — semakin ia mendekat dari ilmelyakin (keyakinan lewat ilmu) menuju hakkalyakin (keyakinan lewat pengalaman langsung) — semakin tak bisa tercabut lagi. Mereka berkata: pada saat sekarat, setan dengan was-wasnya hanya bisa memberi keraguan pada akal dan menjatuhkan ke dalam kebimbangan. Sedangkan iman tahkiki jenis ini tidak berhenti hanya pada akal. Bahkan ia menjalar dan berakar ke hati, ke ruh, ke sir, dan ke latifah-latifah (indra batin) sedemikian rupa, sehingga tangan setan tak sampai ke tempat-tempat itu; iman orang-orang seperti itu terjaga dari kelenyapan. Salah satu jalan yang menjadi sarana untuk sampai ke iman tahkiki ini adalah mencapai hakikat melalui kewalian yang sempurna (velayet-i kâmile), melalui kasyaf dan syuhud (penyaksian). Jalan ini khusus bagi yang paling khusus dari kalangan khusus (ehass-ı havass); inilah iman syuhudi.

Jalan Kedua:

Yaitu membenarkan hakikat-hakikat iman dari sisi iman kepada yang gaib (iman-ı bilgayb), dengan feyiz rahasia wahyu, dengan cara yang bersifat burhani dan Qur'ani, melalui perpaduan akal dan hati, dengan sebuah kekuatan setingkat hakkalyakin, dengan sebuah ilmelyakin yang sampai ke derajat keniscayaan dan kejelasan (badahat). Murid-murid khusus melihat bahwa jalan kedua ini adalah dasar, sari, fondasi, ruh, dan hakikat Risalet-ün Nur. Orang lain pun, kalau memandang dengan adil, akan melihat bahwa Risalet-ün Nur menunjukkan jalan-jalan yang bertentangan dengan hakikat-hakikat iman sebagai sesuatu yang tidak mungkin, mustahil, dan mumtani' (mustahil terjadi).