Tanda Kedua:
Lampiran Kastamonu · hlm. 19
Bagi husnul khatimah (akhir yang baik) para murid Risalet-ün Nur yang setia dan bagi diraihnya iman yang sempurna, dipanjatkan doa-doa yang sedemikian banyak, diterima, dan tulus, sampai-sampai akal tak bisa membayangkan kemungkinan bahwa tak satu pun dari doa-doa itu dikabulkan.
Misalnya:
Seorang pelayan (khadim) dan satu orang murid Risalet-ün Nur, dalam dua puluh empat jam, di antara seratus kali doa yang ia panjatkan untuk para murid Risalet-ün Nur — demi husnul khatimah mereka dan demi mereka meraih kebahagiaan abadi — setidaknya dua puluh-tiga puluh kali memanjatkan doa yang sama untuk keselamatan iman mereka, untuk husnul khatimah mereka secara khusus, dan untuk masuknya mereka ke kubur dengan membawa iman — dan itu ia lakukan dalam syarat-syarat yang paling menjadi sebab diterimanya doa.
Lagi pula, total doa para murid Risalet-ün Nur — yang dengan lisan yang tulus dan polos saling mendoakan keselamatan iman dalam perkara iman, yang di zaman ini paling banyak diserang dari segala penjuru — berada pada kekuatan sedemikian rupa, sehingga rahmat dan hikmah tak mengizinkan penolakannya. Andaikata secara keseluruhan ditolak, lalu satu saja di antaranya diterima, itu pun tetap cukup bagi masing-masing untuk masuk ke kubur dengan keselamatan iman. Sebab tiap-tiap doa tertuju pada umum (semua).