Saudara-saudaraku yang mulia, yang benar-benar setia!
Lampiran Kastamonu · hlm. 11
Sumber penghibur dan kegembiraanku di dunia ini adalah kalian. Seandainya tak ada kalian, aku takkan sanggup menahan siksaan empat tahun ini. Keteguhan dan ketabahan kalian memberiku pula kesabaran dan ketahanan yang kuat. Empat poin yang tiba-tiba terlintas:
Yang Pertama:
Saudara-saudaraku, gempa bumi ini, dalam keyakinanku, adalah sebuah mukjizat Al-Qur'an seperti Şakk-ı Kamer (terbelahnya bulan). Ia masuk ke dalam keadaan yang memaksa bahkan orang yang paling membangkang sekalipun untuk membenarkannya.
Yang Kedua:
Sejak zaman dahulu, tidak ada satu jamaah pun yang — sambil mengerjakan begitu banyak pekerjaan di jalan hak dan hakikat seperti para murid Risale-i Nur — selamat dengan kesusahan sesedikit ini. Orang-orang yang mengerjakan sepersepuluh dari khidmah kita telah menanggung sepuluh kali lipat dari kesusahan kita. Artinya, kita berada dalam keadaan yang selalu membuat kita bersyukur dan berkata "Elhamdülillah".
Yang Ketiga:
Aku telah menelaah risalah-risalah yang dikirimkan. Sebagian hakikat kulihat berulang. Ia diulang demi kesesuaian maqam. Tanpa keinginan, bahkan mungkin tanpa kehendakku, kenapa ia jadi begini — aku merasa terganggu oleh lupa (nisyan) yang menimpa daya hafalanku. Tiba-tiba, dengan sebuah peringatan (ihtar) yang keras, dikatakan kepadaku: "Lihatlah ke akhir Kalimat Kesembilan Belas (Ondokuzuncu Söz)!" Kulihat: hikmah-hikmah yang sangat indah dari pengulangan-pengulangan dalam Mukjizat Al-Qur'an pada Risalet-i Ahmediye صلى الله عليه وسلم itu telah tampak sepenuhnya di dalam Risalet-ün Nur yang merupakan tafsir lengkapnya. Pengulangan-pengulangan itu, demi hikmah-hikmah tersebut, ternyata benar-benar pada tempatnya, sesuai, dan diperlukan.
Baik Lütfü, Abdurrahman, maupun Küçük Ali — yang berkedudukan seperti Hâfız Ali — atas nama kalian juga telah meminta tafsir dan terjemahan Kilatan Arab Kedua Puluh Sembilan (Yirmidokuzuncu Lem'a-i Arabiye). Sekarang aku tak punya waktu untuk menyibukkan diri dengannya, keadaanku pun tak mengizinkan. Insya Allah kelak murid Risalet-ün Nur yang lain akan menunaikan tugas itu. Lagi pula Surat Kedua Puluh (Yirminci Mektub) dan Kalimat Ketiga Puluh Dua (Otuzikinci Söz) sampai batas tertentu menjelaskan Kilatan (Lem'a) itu. Hazret-i Ali (radhiyallahu 'anhu) dua kali — dengan rahasia تُقَادُ سِرَاجُ النُّورِ سِرًّا — memberi isyarat akan bersinarnya ia secara tersembunyi di balik tirai, dan itu menggiring serta memerintahkan kita untuk berhati-hati.
Untuk sebuah masalah, dengan sebuah isyarat (remz) yang amat singkat, aku serahkan pemahamannya kepada kecerdasan kalian.
Pertanyaan: Mengapa gemetarnya bumi karena takut dan kemarahannya tidak menimpa Rusia, dan hanya...?
Jawaban: Sebab, penghinaan lewat kekafiran terhadap sebuah agama yang telah dinasakh dan diselewengkan (tahrif) itu lain perkaranya. Sedangkan penghinaan terhadap sebuah agama yang hak dan abadi — itulah yang membuat bumi gemetar dan murka.
Kalian meminta Kedudukan-kedudukan (Makamat) dari Mukadimah tentang Kebangkitan (Mukaddeme-i Haşriye). Selain keadaanku sekarang sama sekali tak mengizinkannya, karena hakikat-hakikat dan burhan-burhan yang telah ditulis tentang kebangkitan (haşir) sudah benar-benar mencukupi kebutuhan bagi umumnya orang, aku tidak dipaksa secara maknawi untuk menuliskannya dengan cepat. Ia sedikit ditunda dan tidak dipercepat. Lagi pula, di sini aku berada di bawah berbagai batasan. اَلصَّبْرُ مِفْتَاحُ الْفَرَجِ وَ السُّرُورِ