Saudara-saudaraku yang mulia, setia, penuh kesetiaan, dan teguh!
Lampiran Kastamonu · hlm. 31
Ratusan ribu syukur dan puji bagi Cenab-ı Hak; Dia telah mengumpulkan dan mengikat orang-orang yang setia, sungguh-sungguh, dan aktif seperti kalian di sekitar Risale-i Nur; Dia menggerakkan pena-pena kalian yang kuat dan bercahaya dalam khidmah iman dan Al-Qur'an.
Saudara-saudaraku! Kali ini kiriman kalian membuatku begitu senang dan berterima kasih, sampai-sampai tiap-tiap halamannya tampak setara dengan sebuah hadiah berharga dan sepucuk surat yang indah. Ia menghapus kesedihan dan kegundahanku, lalu memenuhi hatiku dengan kegembiraan dan sukacita. Semoga Cenab-ı Erhamürrâhimîn (Allah Yang Paling Penyayang di antara para penyayang) memberi rahmat kepada kalian sebanyak jumlah hurufnya, dan ridha kepada kalian.
Saudaraku Hâfız Ali! Suatu masa di Barla, ketika berdoa pada malam Jumat, dua kali aku mendengar dengan jelas suara âminmu. Aku menoleh ke belakang. Aku berkata, "Kapan Hâfız Ali datang?" Mereka berkata, "Ia tidak ada di sini." Sekarang, dari peristiwa itu, aku bisa berkata: terdengarnya âmin-mu atas doaku dari jarak tiga-empat jam perjalanan, dan sampainya tulisan-tulisan yang setara dengan sebuah âmin yang kuat dan berpengaruh — atas seruan dan doaku yang lemah di sini — ke pertolonganku dari jarak tiga puluh hari perjalanan, adalah sebuah tevafuk yang sangat penuh makna.
Sabri yang setia! Ketika aku melihat cap persaudaraanku pada tubuhmu (di kakimu), dengan sebuah firasat sebelum-kejadian terlintas di hatiku: orang ini, pada suatu saat yang penting, akan menjalin persaudaraan yang sangat penting denganku. Dan engkau berhasil, engkau melakukannya. Semoga Allah ridha kepadamu selama-lamanya.
Kepada Abdülmecid aku telah mengabarkan Sinar Kelima (Beşinci Şua), tapi tak ada jawaban. Barangkali mereka diam karena kehati-hatian, maka aku tidak mengirimnya. Kalian, berkirim suratlah lebih dulu, baru kemudian bisa mengirimkannya. Kalau kalian mengirimkan Hastalar Risalesi (Risalah Orang Sakit) kepadaku, akan lebih baik bila İhtiyarlar Risalesi (Risalah Para Lansia) juga ikut. Ribuan salam untuk saudara-saudaraku yang setia, yang menitipkan salam dalam surat kalian.
Beberapa hari ini, dalam sebuah percakapan maknawi, aku menyimak sebuah tanya-jawab. Akan kusampaikan ringkasannya yang singkat kepada kalian:
Seseorang berkata: Penghimpunan kekuatan (tahşidat) yang besar dan perlengkapan (techizat) yang menyeluruh dari Risale-i Nur untuk iman dan tauhid kian bertambah. Padahal seperseratusnya saja sudah cukup untuk membungkam orang tak beragama yang paling keras kepala, mengapa ia masih melakukan penghimpunan baru dengan semangat sebesar ini?
Kepadanya dijawab: "Risale-i Nur bukan sekadar memperbaiki sebuah kerusakan kecil, sebuah rumah mungil; melainkan ia memperbaiki sebuah kerusakan yang menyeluruh, sebuah benteng yang melingkupi seluruh Islam, yang batu-batunya sebesar gunung. Dan ia bukan sekadar berupaya memperbaiki sebuah hati pribadi dan sebuah nurani khusus; melainkan ia berupaya — dengan mukjizat Al-Qur'an — mengobati luka-luka yang lebar itu dengan obat-obat Al-Qur'an dan iman: yaitu hati umum (kalb-i umumî) dan pikiran umum (efkâr-ı âmme) yang terluka dahsyat oleh alat-alat perusak yang disiapkan dan ditumpuk sejak seribu tahun; dan nurani umum (vicdan-ı umumî) yang mulai rusak akibat hancurnya dasar-dasar, arus-arus, dan syiar-syiar Islam yang menjadi sandaran orang banyak, khususnya kaum awam mukmin. Tentu, untuk luka dan kerusakan yang menyeluruh dan dahsyat semacam itu, mesti ada hujah-hujah dan perlengkapan setingkat hakkalyakin dan sekuat gunung, serta obat-obat teruji yang berkhasiat seperti seribu penawar, dan obat-obat yang tak terhingga; sehingga di zaman ini Risale-i Nur — yang keluar dari kemukjizatan maknawi Kur'an-ı Mu'ciz-ül Beyan (Al-Qur'an yang penjelasannya mukjizat) — selain menjalankan tugas itu, juga menjadi sumber kemajuan dan penyingkapan pada tingkatan iman yang tak terhingga." Demikianlah berlangsung sebuah percakapan yang panjang. Aku pun menyimaknya sepenuhnya, dan bersyukur tak terhingga. Kupersingkat saja.
Berkaitan dengan peristiwa ini, kusampaikan pula sebuah kejadian yang terlintas di benakku beberapa hari ini:
Ketika di akhir tasbihat usai salat aku berzikir kalimat tauhid (kelime-i tevhid) tiga puluh tiga kali, tiba-tiba terlintas di hatiku: dalam hadis mulia disebutkan "Kadang satu jam tafakur setara dengan ibadah satu tahun" — di dalam Risale-i Nur ada jam itu; berusahalah, temukan jam itu — demikian diingatkan. Hampir tanpa kehendak, sebuah perbincangan penuh tafakur — yang diringkas dari dua Risalah Âyet-i Kübra, yang merupakan dua tafsir dari ayat-ül kübra (ayat terbesar) Al-Qur'an — berlangsung tepat satu jam. Kuperhatikan: ia tersusun dari ringkasan sebuah rahasia indah yang terpilih dari ringkasan Kedudukan Pertama (Birinci Makam) Risalah Âyet-ül Kübra yang kukirim kepada kalian, dan dari frasa-frasa yang bercahaya dan manis yang disarikan dari Kilatan Arab Kedua Puluh Sembilan (Yirmidokuzuncu Lem'a-i Arabiye). Aku pun mulai membacanya setiap hari dengan tafakur, dengan kenikmatan yang sempurna.
Beberapa hari kemudian terlintas di benakku: selama Risale-i Nur adalah seorang mursyid (pembimbing) zaman ini, ia bisa menjadi sebuah vird-i ekber (wirid terbesar) bagi murid-muridnya — maka kutuangkan ke dalam tulisan. Dan aku telah berniat membuat sebuah Hizb-i A'zam-ı Kur'anî (Hizib Teragung dari Al-Qur'an), dengan menandai lebih dari seribu ayat Al-Qur'an — yang menjadi sumber-sumber dan tambang-tambang khusus bagi semua risalah — sebelumnya di Al-Qur'anku sendiri. Sekarang, hizib teragung dan wirid terbesar ini — agar dibaca oleh para pengikut Risale-i Nur pada hari-hari yang diberkahi (eyyam-ı mübareke) tertentu — kalian berhak suatu saat menerimanya pula. Insya Allah beberapa waktu lagi ia akan dikirimkan kepada kalian. Untuk menerjemahkan sebagian katanya dan menjelaskan sebagian catatannya, kalau aku menemukan waktu, akan kutulis sesuatu seperti haşiye yang amat singkat.
Ribuan salam dengan rindu dan kerinduan kepada seluruh saudaraku dan semua sahabatku dalam khidmah Al-Qur'an.
Yang membutuhkan doa kalian, Said Nursî
* okka: satuan timbangan Utsmani, kira-kira 1,28 kg.
Saudara-saudaraku yang mulia! Padahal kalian berhak menerima sepucuk surat panjang dariku setiap hari, sayang sekali sepucuk surat yang kutulis untuk kukirim kepada kalian sejak tiga tahun lalu sampai sekarang masih menunggu, tersimpan di saku mantel lamaku. Berarti Risale-i Nur telah memberi kengerian yang besar kepada orang-orang tak beragama dari ahli dunia, sampai-sampai mereka melakukan tekanan-tekanan ini padahal aku tak mencampuri urusan dunia mereka. Sudahlah, apa pun itu... Kepada saudara-saudaraku yang teguh dan sungguh-sungguh, yang tak pernah bisa kulupakan, khususnya kepada orang-orang setia nan jujur di Barla — tanah airku yang kedua — kusampaikan banyak salam dan doa.
Yang memikirkan kalian dengan ribuan rindu dan kerinduan, yang mengingat kalian dalam doa barangkali seratus kali setiap dua puluh empat jam, dan yang membutuhkan doa kalian, Said Nursî