Risale-i NurLampiran Kastamonu

بِاسْمِه۪ سُبْحَانَهُ ❊ اَلسَّلاَمُ عَلَيْكُمْ

Lampiran Kastamonu · hlm. 34

Wahai saudara-saudaraku yang penuh pengorbanan! Aku akan berbicara empat-lima patah kata dengan kalian:

Yang Pertama: Dengan semangat dan kegembiraan yang diberikan surat kalian kali ini, aku berkata: setelah melihat kesetiaan, kesungguhan, keteguhan, dan ketabahan kalian yang penuh dalam khidmah Al-Qur'an, dengan ketenangan hati yang sempurna aku menerima kematian dan ajal, seraya berkata "Di belakangku ada kalian, itu sudah cukup" — aku siap berpamitan dari dunia dengan kegembiraan.

Yang Kedua: Penyalinan bersih pertama (tebyiz) Âyet-ül Kübra di sini, persis setahun kemudian, punya keselarasan (tevafuk) atas nama Âyet-ül Kübra, seperti penyalinan bersih pertama di sana. Karena kecocokan dua keselarasan itu adalah sebuah keadaan yang mustahil disandarkan pada kebetulan, ia sungguh menerangi dan membenarkan tanda tangan gaib pada keselarasan tiga puluh tiga kalimat tauhid yang ditulis dengan pena seorang yang penanya laksana Zülfikar (pedang Sayyidina Ali). .........

Yang Keempat: Sudah tiga tahun aku diisolasi dari segala sesuatu di sini. Karena berada di bawah tekanan yang tak tertahankan, aku tak bisa berkirim surat dengan kalian. Di sini berkuasa sebuah kecurigaan (evham) yang tiada tara. Sebisa mungkin, janganlah kalian katakan bahwa Eşrat-üs Saat (Tanda-tanda Kiamat) dikirim dari sini. Sebaliknya, katakanlah: "Ini salah satu karyanya, sampai ke tangan kami dari tempat lain."